
" Buka mulut mu nona jutek, mumpung rasa iba ku berkadar tinggi, kalo tidak aku tidak akan punya waktu untuk menyuapi mu!" ucap Alan ketus.
" Wah, merepotkan den Alan, aku bisa sendiri." tolak Mia halus.
" Anggap saja ini sebagai dispensasi karena kamu adalah anak asisten rumah tanggaku jika tidak aku akan membiarkan kamu kelaparan." ucap Alan lagi.
" Ternyata den Alan tidak seseram ucapan nya ." sindir Mia pelan membuat wajah Alan memerah.
" Jangan banyak omong, habiskan makanan mu karena sebentar lagi nampan ini akan di ambil kembali oleh OB yang tadi." Ucapnya kesal.
Mia menghabiskan makanan yang disuap Alan, sedangkan Alan tidak berani sedikitpun melihat wajah Mia. tak berapa lama OB tadi kembali mengambil nampan yang sudah Alan taruh di atas meja pasien.
Alan beristirahat sejenak setelah sekembalinya dari makan siang di kantin, karena kurang beristirahat tadi malam, Mia hanya memandangi Alan dari tempat tidurnya. sedikit pun tak ada suara dan wajah Alan membuat Mia terkagum-kagum.
Waktu menunjukkan Jam 4 sore seorang dokter muda masuk keruangan Mia. dia melakukan Visit dokter setelah bergantian sift dengan dokter jaga tadi pagi.
" Selamat sore, nona Mia bagaimana keadaan mu?" tanya dokter itu penuh perhatian. Alan bangun dari tidur nya karena merasa terganggu dengan suara dokter itu.
" Duh siapa lagi sih?" gerutu nya kesal.
Dokter itu menggaruk kepalanya, baru kali ini dia melihat penjaga pasien yang sangat keterlaluan karena sudah berani menggerutu padanya.
" Maaf tuan, saya dokter jaga yang menggantikan dokter Anwar, nama saya Danny." ucap nya memperkenalkan diri.
" Huft kepedean siapa juga yang bertanya nama mu!" ucap Alan dengan nada kesal.
Dokter Danny terlihat canggung, baru kali ini dia berhadapan dengan orang yang sangat ketus bicaranya.
" Maaf dok, den---." ucap Mia.
" Untuk apa meminta maaf dengan dokter ini, perkataan aku kan benar, aku tidak bertanya soal namanya, aku hanya bilang siapa lagi yang mengganggu istirahat ku." ucap Alan menyela perkataan Mia.
Tiba-tiba Rubel dan Hana datang secara tidak sengaja mereka sudah mendengar drama yang di mainkan oleh sang adik.
" Maaf dokter Danny, adik saya kurang beristirahat jadi sedikit uring-uringan." ucap Rubel mencoba mencairkan suasana.
" Eh, dokter Rubel dan Mbak Hana, enggak apa-apa saya seharunya yang minta maaf karena telah mengganggu istirahat nya adik dokter Rubel."
" Panggil Direktur Rubel jangan panggil dokter, enggak sopan." sela Alan lagi.
" Eh, maaf Pak Direktur-----."
" Jangan Panggil Pak Direktur, saya tidak setua itu, lagi pula lebih senang kamu memanggil saya dengan panggilan dokter, lebih akrab dan tidak ada yang membatasi."
Rubel dan Hana saling pandang, mereka benar-benar bingung dengan ucapan Alan, seperti ada hal lain yang membuat dia begitu kesal. karena selama ini mereka berdua sangat tahu pribadi Alan sangat sopan dan hormat dengan Pak Hamid. begitu juga dengan semua keluarga Hana. Dokter Danny tersenyum-senyum dia benar-benar bingung akan perbedaan antar kakak beradik itu.
" Sepertinya ada bau-bau cuka deh Ino." ucap Hana pada Rubel.
" Cuka apel apa cuka masak?" Tanya Rubel terus menyambung ucapan Hana.
Alan segera berlalu, perkataan kedua kakaknya membuat dia semakin kesal. Rubel dan Hana hanya tertawa kecil mereka merasa Alan memang tidak bisa menyembunyikan perasaan nya. Danny memeriksa Mia dengan telaten, setelah itu dia berpamitan dengan Rubel dan Hana.
" Saya mohon izin dulu dok, nanti malam saya akan kembali mengecek nona Mia." ucap Danny begitu sopan.
" Terimakasih dokter Danny jangan sungkan, terimakasih atas bantuannya." Ucap Rubel dan Hana mendekati Mia.
" Bagaimana keadaan mu Mia?" tanya Hana.
" Alhamdulillah non, Mia udah gak apa-apa panasnya juga udah turun." jawab Mia sopan.
" Mia, kamu jangan panggil saya nona, panggil aja Mbak, saya tidak terbiasa di panggil seperti itu."
" I-iya Mbak Hana terimakasih."
" Jangan sungkan begitu, biasa aja kita kan keluarga." jawab Hana lembut. sambil menarik selimut menutupi tubuh Mia.
" Wah jadi merepotkan dokter Rubel dan Mbak Hana." ucap Mia merasa canggung. tiba-tiba Alan kembali dia mengambil kunci mobilnya di atas meja.
" Kak, Alan mau pulang mau tidur karena malam kita akan kembali melakukan acara tahlilan." ucap Alan pelan, dan menyalami Rubel dan hanya melambaikan tangannya pada Hana. Mia benar-benar di buat takjub biasanya orang kaya akan terlihat sombong dan angkuh di depan orang lain, tapi tidak dengan Alan di begitu menjujung tinggi rasa hormat nya kepada Rubel. Diam-diam Mia tersenyum tanpa di sadari nya Alan melirik pandanya. dan berlalu begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun pada Mia.
" Terus siapa yang akan menjaga Mia?" tanya Hana bingung.
" Enggak apa-apa perawat disini kan banyak lagi pula dokter Danny juga cukup bisa di andalkan, dan pastinya Alan juga akan kembali setelah acara tahlilan papa nanti malam." ucap Rubel.
Mia mengangguk pelan tanda setuju, lagi pula dia sudah akrab dengan perawat-perawat di Rumah Sakit RH karena Mia juga bekerja di Rumah Sakit ini sebagai asisten dokter.
" Beneran gak apa-apa Mia?" tanya Hana sedikit ragu.
__ADS_1
" Enggak apa-apa Mbak lagi pula saya sudah sedikit kenal dengan perawat-perawat disini karena saya juga asisten dokter Lisa." ucap Mia menjelaskan.
" Walah, kok ana gak tahu sayang?" tanya Hana pada Rubel.
" Ino lupa." bisik Rubel pelan sambil cengengesan.
" Ya sudah Mia, saya dan Mbak Hana harus pulang kerumah." ucap Rubel sambil menggandeng tangan Hana mereka berdua keluar dari ruangan Mia.
" Duh romantis nya, dokter Rubel begitu sayang sama Mbak Hana, bikin pengen punya cowok." guman Mia pelan. tiba-tiba dia teringat dengan Alan.
" Duh, ngapain juga harus ingat manusia es itu." gerutu nya kesal.
*****
Rubel dan Hana baru saja membuka pintunya tapi, tiba-tiba seseorang datang menutup mata Hana dengan kuat.
" Hei, siapa kamu kenapa kamu menutup mataku?" tanya Hana keras. Rubel menutup kembali pintunya dan melihat ke sekeliling nya. matanya nya pun tertuju pada seorang perempuan dengan tubuh tinggi sedang menutup wajah Hana. gadis itu menggunakan jilbab dan masker jadi tidak mudah dikenali. tiba-tiba beberapa perempuan berjilbab lainnya juga muncul dari arah belakang. Rubel benar-benar penasaran dengan mereka semua.
" Sayang siapa orang yang sudah ngerjain Ana?" tapi Hana dengan nada bingung. perempuan-perempuan itu hanya tertawa kecil tapi suara itu tidak dikenali oleh Hana dan Rubel. karena penasaran Rubel segera melemparkan sesuatu kepada perempuan yang menutup mata Hana.
" Kecoa!!!" teriak Rubel keras.
Alhasil perempuan itu melepaskan tangannya dan melompat ke sana kemari karena jijik dengan kecoa. suara itu sangat familiar sehingga Rubel segera menghentikan kejahilan nya.
" Enggak ada kecoanya, cuma mau mancing aja siapa yang udah ngerjain kita." ucap Rubel dan terkekeh.
" Gila kali kau Rubel, hampir saja jantung awak mau putus, kalo Sampek jantung awak putus, cemana kau mau tanggung jawab." teriak Zaena kesal.
" Zae, kangen kali lah aku." teriak Hana sambil memeluk Zaena dengan erat.
" Hei, berhenti jangan peluk-pelukan lah harus jaga jarak."
" Ish, dah jangan gitulah kita kan juga jaga-jaga jangan Sampek kena Covid lagian kan aku sehat-sehat wal'afiat."
" Eh non, waspada kenapa, kau bisa saja sehat, tapi awak kan tiap hari bergemul dengan begitu banyak pasien bisa saja nularkan penyakit sama kau."
" Mudah-mudahan kita semua selalu dalam lindungan Allah yah Zae." ucap Hana mencairkan suasana.
" Zae lagi, Zae Lagi apa gak ada nama panggilan yang paling cantik selain panggilan Zae, dan Apa kalian akan membiarkan kami berdiri disini terus tanpa mentraktir makanan enak di kantin Rumah Sakit kalian?" tanya Zaena bertubi-tubi.
Mereka duduk berlima, Rubel selalu disamping Hana. tak berapa lama pelayan Rumah Sakit datang dan memberikan buku menu pada mereka.
" Aku mau kebab, porsi jumbo yah!" ucap Zaena cepat.
" Lila gimana?" tanya Hana.
" Sama deh." jawab Lila.
" Dan kamu?" tanya Hana pada teman mereka yang belum Hana ketahui namanya.
" Namanya Vina, dipanggil Vivin." sela Zaena cepat.
" Ehm, Vivin makan apa?" tanya Hana mencoba akrab.
" Saya salad buah aja Mbak Hana."
" Terus minumnya?" tanya Hana lagi.
" Aku, Sprite aja." ucap Zaena nyerocos.
" Woi, nama aja dokter tapi kelakuan mu kaya manusia junk food." celutuk Rubel.
" Ish, ganteng sekali-kali boleh lah." ucap Zaena memelas.
" Gak ada, disini gak ada Sprite." jawab Rubel cepat.
" Terus apa dong yang seger-seger." tanya Zaena. dengan wajah sendu sambil mengedip-ngedip kan matanya ke arah Rubel.
" Minum Tamarin aja yah." ucap Rubel menawarkan.
" Wuih, boleh juga tuh, kau mau Lila?" tanya Zaena pada Lila.
" Boleh dong, jarang-jarang dapat jus asem Jawa." jawab lila.
" Kau apa Vin?" tanya Zaena.
" Aku jeruk nipis dingin aja." jawab Vina.
__ADS_1
" Yah udah, sayang mau apa?" tanya Hana pada Rubel.
" Apa aja, yang Ana makan Ino juga makan yang Ana minum Ino juga minum." jawab Rubel menggoda. membuat Vina memandang sinis pada Rubel dan Hana.
Tanpa Vina sadari, Zaena memperhatikan gerak-gerik Vina dari Awal kemari. Zaena pun berinisiatif untuk melindungi kedua sahabatnya.
" Duh romantis Kalilah klean berdua aku jadi cemburu nih." sindir Zaena secara tidak langsung. alhasil wajah Vina semakin kesal.
" Toilet nya mana?" tanya Vina sedikit terburu-buru karena perasaan nya bercampur aduk. dia benar-benar sangat kesal.
" Dena, antarin dokter Vivin ke Toilet yah." pinta Hana pada salah seorang cs yang kebetulan baru selesai mengepel lantai. di mushola yang tidak jauh dari Kantin.
" Iya Bu, mari dokter saya anterin." ucap Dena sopan.
Vina berjalan dengan terburu-buru, dia segera masuk ke kamar mandi dan membanting pintu dengan keras. Dena terkejut dia tidak menyangka Vina bisa berlaku kasar seperti itu, tidak mencerminkan dirinya seorang dokter.
" Sial, apa sih mau nya sih Zae itu, lagian apa sih cantiknya si Hana itu, palingan juga muka nya ditutup gitu karena wajahnya cacat, ehm tunggu saja aku akan memberikan kejutan sama kalian." gerutu Vina kesal.
Karena melihat gelagat Vina yang sangat tempramen, Dena segera kembali ketempat Rubel. dia membisikkan sesuatu kepada Hana dan terdengar oleh Zaena.
" Uh, cantik-cantik licik." guman Zaena.
" Kok Licik?" tanya Hana bingung.
" Dia pikir karena mukanya kaya bidadari dari kayangan bisa buat si ganteng awak suka sama dia."
Rubel hanya tersenyum, bagaimana pun Zaena adalah sahabat baik mereka semua. walaupun mulutnya cerewet, dia selalu tau bagaimana menghargai persahabatan nya. tidak dengan gadis yang baru saja mereka kenal.
" Udah-udah, mudah-mudahan si ganteng kau gak kepincut sama bidadari dari kayangan tuh, yah nggak sayang?" goda Hana.
" Kalian yang paling kenal sama aku kan?" tanya Rubel.
" Jaga mata, jaga telinga, jaga hati yah bel." ucap Zaena mengingatkan.
" Tenang, kita lihat aja apa yang mau dia buat, Rubel itu paling gak suka sama gadis genit apalagi sok cantik, kecuali sama kau Zae dia bisa kepincut." sambung Lila membuat mereka semua tertawa, Dena merasa sangat lucu melihat sahabat-sahabat Rubel.
" Ish dah kau Lila, untung bininya Rubel sudah sehatinya sama aku kalo enggak mati lah awak di gorok nya pake parang." gerutu Zaena.
" Udah-udah bidadari udah balik dari kayangan." ucap Dena memberi kode, tak berapa lama makanan pun tiba, pelayanan itu meletakkan makanan sesuai pesanan.
" Ehm, maaf yah jadi bikin kalian menunggu, soalnya tadi toilet nya penuh.
" Gak apa-apa kok." ucap Hana. wajah Vina kembali terlihat tidak suka.
" Maaf Bu, Dena kembali kerja dulu." ucap Dena.
" Dena, duduk dulu bareng kita biarkan bos kau yang bayar." ucap Zaena dengan sengaja. wajah Vina terlihat semakin tidak senang.
" Tapi dok."
" Enggak apa-apa, Ayok Dena ikut gabung sama kita!" ajak Hana.
" Dena mau apa?" tanya Zaena.
" Saya sama kaya dokter aja." ucap Dena malu-malu.
" Ya udah pesen satu lagi yah mas." ucap Zaena pada pelayan itu.
Saat makan semua terlihat tertib, Hanya Vina yang menunjukkan wajah kusam. semakin nampak Vina hanya cantik wajahnya namun hatinya tak rupawan.
" Rubel bagaimana perkembangan Rumah Sakit Kalian?" tanya Lila tiba-tiba.
" Alhamdulillah selama sebulan ini, berjalan sesuai yang di harapkan lagi pula, perawat-perawat yang ada memang berpengalaman di bidangnya. mereka juga sangat mudah berinteraksi dengan para pasien, jadi walaupun pasien tidak di tunggu oleh keluarga mereka bekerja sangat maksimal. dan membuat pasien sangat nyaman bersama mereka. begitu juga dokter-dokter yang kalian rekomendasi kan."
" Siapa dulu kalau bukan cewek cantikmu ini, yah enggak na." Goda Zaena pada Rubel dan Hana.
" Ehm, yah Zaena emang cantik banget." Puji Vina seakan menyanjung Zaena di depan sahabat-sahabatnya.
Rubel semakin mempererat genggaman tangannya pada Hana, kali ini wajah Vina benar-benar terlihat sangat kesal, apalagi Rubel dan Hana saling menyuapi makanan. dan minum dalam gelas yang sama. setelah selesai Rubel dan Hana mengantar sahabat-sahabatnya kembali ke Rumah Sakit.
"
"
"
" Hai, sahabat Dokter Cool terimakasih untuk suport nya, jangan lupa Vote Like dan komennya, mampir juga ke novel ku Manusia Batu Cintaku terimakasih 😍🤗"
__ADS_1