Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 48


__ADS_3

Tiba lah mereka berdua dirumah, bibi yang melihat segera mengambil belanjaan.


" Ngeborong den???" ledek bibi spontan.


Rubel tersenyum, Dia dan Hana lupa membelikan baju untuk Bibi yang selama ini begitu tulus mengabdi untuk nya. seharunya mereka ingat orang-orang dirumah juga punya hak untuk diperhatikan.


" Aduh, maaf yah Bi, Rubel sama Hana buru-buru lain waktu kita belanja buat Bibi, Nyai, Ibu dan juga Ayah." ucap Rubel merasa bersalah.


" Ah den Rubel dikit aja baper, Bibi mah udah biasa. kan biasa nya juga den Rubel sering beliin baju buat Bibi." kenangnya.


" Gak baper Bi cuma miris." tiba-tiba Haikal muncul dan mengganggu mereka.


" Emang dasar Jae..." ucap Hana tiba-tiba.


" Jae???" tanya Haikal bingung.


" Iya Jae, datang tak dijemput pulang tak di antar." ceplos Hana balik.


" Bushet nih Mak lam........, emang nya aku Jaelangkung apa." gerutu Haikal kesal.


" kamu juga sebut-sebut Hana Maklam... emangnya Hana Maklampir....." ucap nya membalas Haikal yang duluan kesal.


" Impas dong." ucap Haikal bahagia. dan segera berlari. Hana hanya melengos kan wajah nya. dia begitu kesal dengan sepupunya yang jahil itu. tapi bagaimana pun mereka adalah satu keluarga.


" Tunggu aja balasan Hana." ucap Hana kesal.


Hana hendak ke kamarnya, tapi Nyai memanggil nya.


" Hana.... udah makan sayang???" tanya nyai. dan Hana pun mendekat.


" Belum Nyai, Hana ganti baju dulu yah." ucap Hana lembut dan bergegas ke kamar. Rubel mengikuti Hana. mereka berdua berganti pakaian. Hana mengambil baju daster kesayangan nya tapi Rubel menahannya dengan lembut.


" Sayang.... pake ini yah." ucap Rubel menunjukkan pada baju gamis kaos dan juga jilbab. Hana meraihnya dan segera memakainya. dia begitu patuh apa yang dikatakan Rubel.


" Duh cantiiiiiiknya cinta Ino." pujinya pada Hana. Hana tersipu malu karena dari sejak siang Rubel terus memujinya.


" Namanya juga ciptaan Allah yah cantik, kalo ciptaan manusia yah robot." ledek Hana terkekeh. Rubel ikut tertawa dan mencubit pelan hidung Hana.


" Kamu terlihat lebih cantik dan sehat sayang... "


" Mungkin karena kita sering bahagia yah.." ucap Hana polos. Rubel menyadari ucapan Hana ada benarnya.


" Tentu saja orang yang bahagia, akan selalu sehat, dan awet muda."


" Ino janji akan berusaha membuat Hana terus tersenyum, dan Ino yakin dengan perlahan Hana akan sembuh." ucapnya begitu optimis.


" Kita makan Yook!!! perutnya udah nyanyi dari tadi." ajak Rubel. Hana mencubit perut Rubel.


" Makan aja yang dipikirin. coba diet." ledek Hana sambil menunjukkan perut Rubel sudah mulai membulat.


Rubel tersenyum, selama ini dia sudah jarang ke tempat fitnes.


" Ana gak suka yah, nanti Ino bikin keren lagi." ucapnya menggoda. Hana tersipu, Rubel emang terlihat keren dengan perut nya yang mirip roti sobek.


Rubel menggandeng tangan Hana dan mereka keluar kamar.


Haikal memandang Hana lama.


" Pantesan dia belanja banyak emang bikin orang keki. cantiiiik bener." goda Haikal.


" Hus!!!! ." ucap Papa Haikal yang tiba-tiba muncul.


" Aduh kebangetan deh Papa udah kaya Haikal aja. mirip si Jae." ledeknya pada sang Papa.


" Jae??? tanya Papa nya bingung.


" Benar-benar yah kamu kal Papa mu dibilang Jaelangkung..." ledek Hana pada Haikal.


Om Purwanto memukul kepala Haikal dengan tangannya.


" Anak gak tahu diri bilangin Papa Jaelangkung."


" Ampuuuuuun!!!!! ." dan Haikal pun berlari bersembunyi di belakang Tante Purwati.


" Aduh beneran Haikal kalah kalo udah debat sama Maklampir ada aja kelakuan nya buat ngebalas Haikal." ucap Haikal ngos-ngosan.


Hana terkekeh, dia merasa puas menggangu sepupunya itu.


Hari ini Ibu dan bibi masak kari kambing, dendeng kambing, dan sayur kacang panjang tumis teri.


" ibu tahu aja, makanan kesukaan Hana." ucap Hana segera menyendok kan kacang panjang tumis teri nya.

__ADS_1


Hana hanya makan nasi dengan Laok itu. Rubel heran melihat hana.


" Makan juga kari kambing nya." ucap Rubel pada Hana. Hana menggeleng kan kepala.


" Hana gak suka kambing." potong ibu.


" Sayang kambing bagus banget buat penderita darah rendah seperti Hana." ucap Rubel dan mengambil sepotong daging kambing untuk Hana.


" Enggak suka....."


" Harus suka Ino suapin yah..." ucap Rubel begitu perhatian.


" Ya elah manja nya udah tua kali." ledek Haikal.


" Ih bilang aja cemburu..." ledek Hana membalas Haikal.


" Cemburu????" masa cemburu ma sepupu sendiri." ucapnya kesal.


" Bukan cemburu itu, maksudnya iri liatin kita romantis- romantis an ." ledek Hana tak mau kalah.


Haikal ber sungut, dan memulai makannya. dia tidak lagi memperdulikan kedua sejoli itu. karena bagaimanapun memang sudah sepantasnya mereka berdua saling perhatian. dia pun menerawang.


" Kalo aku nikah juga bakal kek gitu kali yah." ucapnya dalam hati.


Hana membantu Bibi mencuci piring di ikuti Rubel. Rubel janji akan selalu membantu Hana jika Hana bekerja di Rumah. ini membuat Haikal semakin takjub dengan keduanya. dia sangat kagum Rubel mau bekerja sama membantu Hana dirumah. Setahunya teman-teman nya paling tidak suka membantu istri mereka dirumah, apalagi diminta bantu oleh istrinya.


" Busyet nih orang, hati nya terbuat dari apa sih??? kebanyakan laki-laki diluar sana gengsi-gengsian untuk membantu istrinya tapi dia malah dengan rela dan senang hati membantu Hana." ucap Haikal pelan dan di dengar Papa nya.


" Iya... papa juga takjub lihat Rubel. mereka memang pasangan yang luar biasa. di usia dia yang masih muda dia lebih dewasa dan bijaksana dalam memperlakukan Hana. mudah - mudahan mereka langgeng sampai tua." ucap om Purwanto bangga.


Rubel dan Hana selesai mencuci piring. mereka berdua langsung masuk kamar.


tak ada lagi kejahilan Haikal untuk menggoda mereka, dia takut karma akan berlaku padanya. dia ingin malam pertamanya nanti tidak ada orang yang jahil dan mengganggunya. seperti yang dia lakukan kepada sepupunya Hana.


Hana mengganti pakaiannya dengan lengerie. dia tahu Rubel sudah sangat ingin berdua dengannya. kerinduan yang membuncah membuat mereka saling membutuhkan. ini adalah hal yang wajar buat pasangan yang sudah menikah.


Tanpa menunggu lama mereka berdua langsung mengerjakan malam panjang yang indah. tak ada kejahilan yang menganggu setiap detik lenguhan yang terucap. yang ada hanya cinta yang terus keluar tanpa jeda. dan akhirnya mereka sampai puncak yang tak terkira.


******


Subuh ini Rubel dan Hana bangun lebih awal, mereka mandi bersama dengan canda dan tawa, kemudian melanjutkan sholat berdua.


Kebahagiaan demi kebahagian membuat mereka selalu ingin bersama. Rubel yang dingin kini lebih bijaksana menghadapi Hana yang terkadang manja.


Pagi itu matahari sangat cerah, kebetulan hari itu Om Purnawan dan Om Purwanto sedang berkunjung kerumahnya.


Dia mencoba menyampaikan maksudnya kepada kedua om nya. sang ibu sedang menyiapkan kopi untuk kedua abangnya.


" Om... apa Hana boleh minta tolong.?? tanya Hana agak ragu. takut keinginannya terlalu berlebihan.


" Apa itu??? tanya Om Purnawan ingin tahu.


" Om, Hana ingin buat rumah kecil untuk seorang janda dengan 4 anaknya di jalan Mujahidin lorong paus Deket Hijab Store. rumah yang sederhana tapi layak untuk mereka tempati." ucap Hana antusias. tak berapa lama sang ibu muncul membawakan kopi. dan mendengar ucapan Hana.


" Buat aja nak, ibu ada uang." ucap ibu tanpa pikir panjang. om Purnawan dan Om Purwanto mengangguk tanda setuju.


" Selagi itu untuk Amal sholeh lakukanlah." om akan terus mensuport Hana. Om Purnawan terkesima keponakan nya sangat berhati mulia.


" Untuk masalah Rumah om akan meminta mandor dan anak buah om untuk mengerjakan nya." ucap om Purnawan. kebetulan beliau memang pengusaha properti.


" Kalo om akan beli perlengkapan rumah." sambung om Purwanto cepat.


" Alhamdulillah makasih yah Bu, Om, Hana gak tahu harus bilang apa... "


" Semangat sayang tebar terus kebaikan dimana aja Hana berada. uang ibu juga uang Hana, yah kan bang." ucap ibu sangat bangga.


Hana terharu semua keluarga selalu mensupport apa yang dia suka.


" Kapan akan kita mulai???" tanya om Purnawan begitu bersemangat. sambil menyeruput kopi buatan ibu.


" Kalo udah siap kabari om secepatnya biar barang-barang bisa langsung masuk kerumah." sambung om Purwanto tak kalah bersemangat.


" Kalo hari ini gimana??? tanya Hana terlalu bersemangat."


Mereka semua tertawa, semangat kebaikan Hana terlalu besar dibandingkan memikirkan kondisi dirinya sendiri.


" Tentu saja sayang..." asalkan Hana senang. kami semua akan membantu 24 jam non stop." Hibur om Purwanto agar keponakannya tak kecewa.


" Makasih banyak yah Om." ucap Hana begitu bahagia.


Mereka semua sangat bangga dan juga terharu, kondisi Hana memang terlihat baik-baik saja, tapi mereka tidak pernah tahu bagaimana keadaan Hana sebenarnya.

__ADS_1


" Sehat, terus yah anak ibu." ucap ibu mengelus kepala Hana.


" Kayanya semakin kamu berhijab semakin keluar Aura dermawan nya." sindir om Purwanto pada Hana.


" hehehe bukan hijabnya om, kebetulan momennya lagi pas aja." ucap Hana malu-malu. mereka semua tertawa bahagia.


Tanpa menunggu lama. Om Purnawan langsung menginstruksi mandor dan anak buahnya. ibu langsung mentransfer sejumlah uang yang di totalkan oleh om Purnawan, sedangkan om Purwanto langsung memesan perlengkapan Rumah.


Hana ditemani kedua Om nya segera meluncur kerumah Bu Maemunah.


" Assalamualaikum." sapa Hana pada Ibu Maemunah.


" Waa'laikum salam." jawab Ibu Maemunah dan mempersilahkan tamunya itu masuk kedalam.


" Maaf yah pak, rumahnya sempit.." ucap ibu Maemunah segan.


Om Purnawan dan Om Purwanto bener-benar terkejut. ternyata masih banyak orang yang hidupnya begitu kesusahan.


" Maaf yah, mbak Hana dan bapak-bapak ini ada keperluan apa yah??? tanya ibu Maemunah heran. Dia juga menyuruh ke empat anaknya untuk menyalami Tamunya.


mereka berempat dengan tertib menyalami Tamunya.


" Begini Bu, ini kedua om Hana mereka berdua dan juga ibu Hana berinisiatif untuk membangunkan rumah Ini. Kasihan anak-anak ini mereka juga punya hak untuk hidup lebih baik." ucap Hana tanpa menyinggung perasaan Ibu Maemunah.


" Ya Allah pak makasih banyak. ibu tidak tahu harus bilang apa.." ucap ibu Maemunah begitu terharu. dan keempat anak kecil itu tertawa riang.


" Alhamdulillah kita bakal punya Rumah baru kak." ucap si bungsu begitu bahagia.


" Ayok ucapin terimakasih buat Tante Hana dan bapak-bapak itu." ucap ibu Maemunah meminta ke empat anaknya.


" Makasih banyak yah pak, semoga semuanya sehat selalu, makin berlimpah rezeki, dan tercapai semua yang di impi - impikan. Aamiin." Hana dan kedua omnya merasa terharu.


Hana merasakan tubuhnya merinding hingga ke ubun-ubun. setiap dia melakukan sebuah kebaikan selalu saja perasaan itu muncul.


" Ibu dan anak-anak ikut Hana kerumah dulu yah. untuk sementara rumah kalian anak buah Om Purnawan yang bedah." ucap Hana.


Ke empat anak itu menghamburkan pelukannya bergantian kepada Hana.


Hana tertawa, senang rasanya bisa melihat anak-anak ini bahagia.


" Ya Rabbi, sehatkan lah Hamba agar hamba bisa terus membahagiakan mereka." ucap Hana dalam hati.


Mereka semua tiba dirumah, mereka disambut dengan ibu dan nyai. anak-anak ini begitu takjub melihat Rumah Hana yang besar bagai Istana.


" Kak rumahnya kaya istana putri Elsa difilm kartun Frozen yah." celutuk sikeci begitu terkesima.


" Iya mirip di film Frozen yang kita nonton dirumahnya ibu Barbara." ucap sang kakak menyambung ucapan sang adik.


" Aduh maaf yah ibu dan mbak Hana, maklum anak-anak saya gak pernah lihat rumah Segede ini." ucap ibu Maemunah malu-malu.


" Enggak apa-apa Bu. namanya juga anak-anak. Hana juga dulunya tinggal dirumahnya yang sangat kecil dan sempit. ini rumah peninggalan almarhum Opa dan Oma nya Hana. ucap Hana merendah.


" Ah mbak Hana bisa aja." ucap ibu merasa Hana terlalu merendah.


" Iya Bu, kami dulu tinggal dirumah yang sangat kecil dan sempit. " kenang Ibu pada Bu Maemunah.


" Maaf yah Bu, saya gak bermaksud gimana-gimana." ucapnya begitu tak enak hati.


" Gak apa-apa, ayok anak-anak kita ke kamar..." ajak Hana pada Mereka.


Ini membuat mereka semakin berdecak kagum.


" Kamarnya gede bangeeeet..." teriak yang nomor dua.


" Dek kita mimpi apa yah semalem?? tanya sang kakak pada ketiga adiknya.


" Kita gak lagi mimpi kak." ucap adeknya polos. Hana benar-benar merasa senang bisa melihat anak-anak itu bahagia.


Hari sudah siang Rubel sudah tiba dirumah sebelum jam makan siang. dia terkejut melihat ke empat anaknya ibu Maemunah sedang bermain kejar-kejaran dihalaman Rumah.


Dia benar-benar gak menyangka Hana akan memberikan kejutan-kejutan luar biasa untuk nya. anak-anak itu menghampiri Rubel.


" Om Rubel..." panggil mereka dan menyalami Rubel.


Rubel sungguh sangat bahagia rumah mereka yang besar akhirnya bisa terdengar ramai Dengan kehadiran anak-anak nya ibu Maemunah. Dia menggendong si kecil masuk kedalam rumah di ikuti ke tiga kakaknya.


Ibu dan bibi telah menyiapkan makanan yang sangat banyak dan begitu istimewa untuk mereka semua.


" Kalian semua kemari sayang." ajak ibu kepada anak-anak nya ibu Maemunah. Rubel pun menurunkan sikecil dan dia berlari ke arah meja makan Hana pun mengajak ibu Maemunah untuk ikut bergabung bersama.


Rubel menarik lembut tangan Hana dan mengajak Hana ke kamar. dia menanyakan rencana Hana membawa keluarga ibu Maemunah kerumah ini.

__ADS_1


" Hai sahabat Dokter Cool, suport terus Author dengan vote, like, komennya nya banyak. terimakasih 🤗 😍"


__ADS_2