
Setelah mengambil mobil, di Cafe nya Irfan, mereka segera pulang. setibanya di Rumah Rubel menggenggam tangan Hana, dan segera masuk kedalam Rumah. terlihat Mama yang tertunduk lesu menunggu kepulangan mereka duduk di sofa ruang tamu.
" Ma, kenapa?" tanya Rubel.
" Kalian dari mana?" tanya mama sedih.
" Maaf ma, semalam ponselnya lowbat." ucap Hana menyembunyikan yang sudah terjadi.
" Syukurlah, mama sangat khawatir takut-takut terjadi sesuatu dengan kalian berdua."
" Tidak ma, kami gak apa-apa." ucap Rubel berusaha menenangkan Mama.
" Ya sudah berganti lah pakaian setelah itu kita sarapan, bibi telah menyiapkan bubur ayam untuk kalian berdua. terang Mama.
" Iya ma, makasih yah ma." ucap Hana, dan segera memeluk sang mertua dengan erat.
Rubel dan Hana segera masuk kedalam kamar. Hana tak sanggup menyimpan semuanya dari Mama. dia memeluk Rubel melepaskan segala gundahnya.
" Jangan nangis lagi yah sayang, enggak baik untuk kandungan kamu." ucap Rubel mengingatkan. Hana mengangguk pelan.
selepas mandi mereka berdua segera menemui sang mama dimeja makan.
" Bel, semalem KaK Tasya menelpon katanya di Rumah Sakit tempat dia bekerja sedang membutuhkan dokter bedah." ucap Mama memberi tahu.
Rubel melihat Hana, menunggu Hana merespon ucapan mama barusan.
" Terserah Ino, ana yakin Ino juga rindu dengan keadaan Rumah sakit." ucap Hana bijak.
" Bukan itu yang Ino Risaukan, kita kemari karena Visa turis dan itu adalah kendala utama buat Ino untuk bisa bekerja di sini." ucap Rubel menjelaskan.
" Ma, kami akan segera kembali ke tanah air. merepotkan jika harus mengurus segala sesuatu nya disini. apalagi pernikahan Ino dan Hana belum genap 1 tahun jika tidak kita bisa mengurus ke departemen transmigrasi untuk membuat Visa Partner.
" Apa tidak seharusnya ditunda dulu, apalagi Kondisi Hana sedang hamil muda." ucap Mama mengingatkan.
" Ma semuanya kami serahkan sama Allah, dan do'a Mama adalah yang terpenting untuk kami berdua.
" Tentu sayang, Mama akan selalu mendo'akan kebahagiaan anak-anak dan cucu Mama." ucap Mama terharu.
" Besok Rubel dan Hana akan kembali ketanah air, mudah-mudahan kandungan Hana kuat." ucap Rubel pada sang Mama.
" Mudah-mudahan kamu gak apa-apa yah nak." ucap Mama sambil memeluk Hana erat.
🍁🍁🍁
Pagi ini Rubel dan Hana sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kembali ketanah air, tekad mereka sudah bulat apalagi, kejadian kemarin membuat Hana sangat trauma.
Sebelum berangkat ke Bandara Mama terus memeluk Hana seakan tidak ingin membiarkan Hana pulang dalam keadaan hamil muda.
" Mama hanya bisa berdo'a agar kalian dan cucu Mama selamat sampai tanah air." ucap Mama lirih.
" Terimakasih ma, insyaallah do'a ibu tidak ada pembatas nya, mudah-mudahan kami semua selamat Sampai tujuan.
" Aamiin."
" Assalamu'alaikum." ucap Hana dan melambaikan tangan ke arah Mama. mama terus berdiri hingga bayang Rubel dan Hana tertutup oleh pintu kaca pembatas.
" Kamu siap?" tanya Rubel pada Hana.
" Iya sayang, insya Allah mudah-mudahan kita bisa segera sampai tanpa ada hambatan.
Hana dan Rubel duduk berdampingan kebetulan kursi mereka persis di dekat jendela. sungguh pemandangan yang sangat indah diluar kaca pesawat. tiba-tiba seseorang mengalami serangan jantung duduk tepat dibelakang mereka. seorang laki-laki muda berteriak meminta tolong, karena sang Papa sakit. Rubel segera bangun dan meminta para Pramugari untuk memberikan alat bantu seadanya.
" Aku dokter, berikan ruang untuk korban agar bisa segera kita berikan pertolongan!" seru Rubel pada semua yang ada di dekat mereka. dan para Pramugari segara membantu untuk memberikan ruang agar Rubel bisa segera menolong korban.
Setelah melakukan kompresi hingga 30 kali dengan kecepatan 100-120 kali permenit,dia membuka jalan nafas dengan bantuan nafas 2 menit sampai 5 kali pengulangan, Alhamdulillah korban kembali merespon,dan pun memberikan pemulihan.
" Alhamdulillah, makasih dok sudah membantu Papa saya." ucap seorang laki-laki muda usianya sekitar 20 tahun.
Rubel melihat kewajah korban, ada perasaan sedih menelusup sukmanya, betapa tidak sejak dua puluh tahun lalu, dia harus berpisah dengan orang yang sangat dia sayangi hanya karena orang itu lebih memilih wanita lain selain Mamanya. laki-laki itu mulai sadar, untunglah di dalam pesawat tersedia oksigen portabel dan untuk saat ini bisa digunakan oleh korban. Rubel merasa sangat bersalah karena telah membantu laki-laki itu.
Rubel bergegas ke toilet, melepaskan semua rasa sakit yang begitu menyayat hati nya.
" Kenapa Aku harus ketemu dengan Papa lagi?" ucap nya begitu lirih.
" Dan kenapa tangan ini yang harus menolongnya, Ya Rabbi apa yang sedang kau rencanakan untuk ku, kenapa kau pertemukan aku lagi dengan laki-laki yang sudah menyakiti Mamaku, aku berharap tidak bertemu dengannya lagi, Papa Joe adalah papa yang terbaik yang aku punya." Ucap Rubel begitu sedih. seseorang mengetuk pintu.
" Sayang, apa yang sudah terjadi kenapa kamu bersedih, ada apa sayang?" tanya Hana dari luar pintu toilet. Rubel segera membuka pintu dan memeluk Hana, bagaimana pun Hana harus tahu siapa laki-laki yang sudah di tolongnya itu.
" Dia Papa ku sayang, Papa yang tega meninggalkan kami bertiga demi wanita lain." ucap Rubel begitu lirih.
" Sudah-sudah jangan nangis dong, masa udah mau jadi Papa cengeng gitu." ucap Hana menggoda.
__ADS_1
" Nak, kalo kamu laki-laki kamu gak boleh cengeng kaya Papa yah, kamu harus kuat, tegar dan tahan banting." ucap Hana sambil mengelus perutnya yang masih rata.
" Tentu dong, anak Papa gak boleh jutek kaya Mama juga harus jadi anak yang diam dan penyayang." balas Rubel tak mau kalah.
" Emangnya Papamu nggak jutek apa??" goda Hana tak henti-hentinya.
" Udah Sayang, jangan lama-lama berdirinya nanti kamu pusing." ucap Rubel mengingatkan. dan mereka berdua kembali ke tempat duduk mereka. Rubel memilih untuk tidak melihat kearah belakang, agar dia tidak melihat wajah sang papa yang bersandar lemah di kursi pesawat. waktu terus berjalan mereka pun tiba di tanah air.
Mereka berdua sedang menunggu taxi, di parkiran Bandara Soetta. seseorang laki-laki muda sedang mendorong seseorang laki-laki dengan kursi roda menghampiri mereka.
" Eh dokter, sedang menunggu taxi bagaimana kalo kita pulang bareng kebetulan sebentar lagi kami akan dijemput oleh supir kami." ucapnya.
" Oh tidak Usah kebetulan kami tinggal di Ponorogo Residen pasti sangat jauh dari tempat mu dik." ucap Rubel menolak secara halus.
" Tidak apa-apa kak kebetulan jalan arah kerumah kita melewati perumahan itu juga, kita di daerah Kencana L lewat sekita 2 km. lah." ucap laki-laki itu.
Sang papa tak berhenti melihat kearah Rubel, dia pun mencoba membuka suara, dilepaskan nya oksigen portabel nya. dengan pelan-pelan dia menanyakan nama Rubel.
" Siapa namamu nak?" tanya laki-laki itu penasaran.
" Namaku..." Rubel agak sedikit ragu untuk mengatakan nama yang sebenarnya kepada laki-laki itu. tapi dia juga ingin tahu bagaimana reaksi laki-laki itu jika dia mengatakan nama nya.
" Jangan malu-malu katakanlah nak." ucapnya mendesak.
" Nama ku Rubelino." ucap Rubel begitu jelas.
" Rubelino? namamu mirip sekali dengan anak laki-laki ku dari isteri pertama ku, kalo dilihat-lihat dari wajahmu usianya kurang lebih sama dengan mu. tetapi mereka tinggal di Kampung A." jelasnya menerangkan.
" Kebetulan namanya sama pak." ucap Rubel berpura-pura tidak tahu.
" Iya mungkin saja." jawabnya sambil manggut-manggut. sang anak mengingatkan sang papa untuk tidak terlalu banyak bicara mengingat kondisinya yang masih belum begitu baik.
" Kak, sekali lagi terimakasih sudah menolong Papaku jika tidak mungkin saat ini papa sudah.." ucapnya terputus.
" Jangan risau, sudah kewajiban kakak sebagai seorang dokter untuk menolong siapapun."
" Oh yah kak, ini kartu nama ku siapa tahu lain waktu kita bisa berjumpa dan saling mengobrol panjang lebar." ucap laki-laki muda itu.
" Alan Hamid." ucap Rubel menyebutkan nama yang ada di kartu nama tersebut.
" Iya dok nama saya Alan Hamid." ucapnya begitu bersemangat.
" Baiklah Alan, panggil saja aku Kak Rubel." ucap Rubel begitu ramah.
" Hahaha, kebetulan saja." ucap Rubel membela diri.
Tak berapa lama sebuah mobil berhenti di dekat mereka, sebuah mobil berwarna putih Merek LX, jika dilihat dari mobil itu mereka hidup sangat mewah. Rubel hanya tersenyum kecil, saat kedua laki-laki itu masuk kedalam mobil.
" Ayo Kak, masuklah mobil ini cukup untuk kota berempat." serunya cepat.
Rubel dan Hana saling pandang, karena mereka ingin segera beristirahat mereka menerima ajakan tersebut dan segera masuk kedalam mobil.
Didalam mobil Alan banyak bicara.
" Oh yah kak, kalian dari Sydney ada Acara apa?" tanya Alan penasaran.
" Kami, baru pulang mengunjungi orang tua kakak, kebetulan mama sejak 20 tahun lalu pindah ke sana." jawab Rubel.
" Oh, kalo boleh tahu kakak bekerja dimana?" tanya Alan.
" Kebetulan saat ini kakak lagi mencari tempat dinas baru karena ditempat lama sudah tidak cocok." ucap Rubel sambil tertawa kecil.
" Memang nya Kakak dokter apa?"
" Kakak dokter Spesialis bedah."
" Ehm begitu yah."
" Kak, jika Kakak tidak keberatan, di Rumah Sakit kami sedang butuh dokter hanya saja kondisi Rumah Sakit tidak begitu produktif dalam kurun waktu 5 tahun ini karena kekurangan tenaga ahli medis, dan kami sekeluarga angkat tangan, karena pemasukan yang anjlok dari Rumah Sakit itu." ucap Alan menjelaskan.
Rubel merasa tertantang untuk menerima pekerjaan itu. dia pun mencoba memberi pertimbangan.
" Akan kakak coba semampu kakak, tapi jika boleh tahu Rumah sakit itu punya siapa?" tanya Rubel penasaran.
" Rumah Sakit itu punya Almarhumah Mama, sebenarnya kami ingin memberikan dukungan dengan menanam kan modal lagi di Rumah Sakit itu tapi sejak Meninggalnya Mama 5 tahun lalu, satu persatu para tim medis meninggalkan Rumah Sakit karena mereka merasakan Rumah Sakit tidak punya fasilitas yang memadai dan karena Papa tidak begitu paham soal Rumah Sakit jadi terbengkalai begitu saja." jelas Alan begitu panjang.
" Tapi jika kondisi nya seperti ini, kami ingin menjual saja Rumah Sakit itu." ucap Alan tanpa pertimbangan.
" Apa, kenapa dijual?" Tanya Rubel heran.
" Sepertinya memang tidak mungkin bertahan dengan kondisi saat ini."
" Kakak, lihat kalian punya banyak uang untuk memberikan modal di Rumah Sakit itu?" ucap Rubel menerka-nerka.
" Kami tidak ingin terus berlarut dalam kesedihan, jika melihat Rumah Sakit itu kami selalu sedih mengingat Almarhumah Mama." ucap Alan menjelaskan.
__ADS_1
" Apakah kamu sudah yakin untuk menjual nya??" tanya Rubel meyakinkan.
" Tentu saja kak, seperti nya hanya itu cara satu-satunya untuk melupakan kesedihan kami."
" Iya kan pa?" tanya Alan pada sang Papa.
Papa hanya mengangguk kan kepalanya, menyetujui perkataan Alan.
Tiba-tiba mobil berhenti di depan pos Perumahan Ponorogo Residen.
" Rumah nya yang mana kak?" tanya Alan.
" Rumahnya sebelah kiri nomor 7 Blok A." ucap Rubel.
" Pak maju lagi pak." pinta Alan pada sang supir.
" Iya den."jawab sang supir dan Kemabli melajukan mobil ke arah depan, tibalah mereka di sebuah Rumah dengan gerbang yang begitu besar.
" Wah Rumahnya besar sekali." ucap Alan begitu terperangah.
" Ini Rumah Mertuanya kakak." jawab Rubel.
" Oh, luar biasa yah." ucapnya masih terkagum-kagum.
" Biasa aja, ini rumah peninggalan kakek, yang diwariskan ke Ibu nya mbak." ucap Hana menjelaskan.
" Ayok singgah dulu." ucap Hana menawarkan.
" Tidak mbak terimakasih lain waktu saja, papa harus segera istirahat." ucapnya menolak.
" Baiklah, tapi lain kali Papa dan Alan harus mampir yah." ucap Hana manawarkan.
Rubel menyenggol Hana yang keceplosan menyebut Papa.
" Eh maaf yah pak, saya terlalu bersemangat sampai-sampai memanggil bapak dengan sebutan Papa."
" Enggak apa-apa nak." ucap Papa pada Hana.
" Alan, Kaka akan segera hubungi Alan secepatnya untuk masalah Rumah Sakit." ucap Rubel.
" Ya sudah kami pamit dulu yah kak." ucap Alan dan menutup pintu mobil ketika Rubel dan Hana sudah turun dari mobil.
Rubel dan Hana segera disambut oleh Diko, dengan terburu-buru Diko segera membuka pintu kecil untuk Hana dan Rubel masuk.
" Wah, ternyata mas Rubel dan Mbak Hana pulang diam-diam." ucapnya pelan.
" Makasih yah Ko, kami mau kasih kejutan untuk ibu."
" Ok."
Rubel dan Hana berjalan pelan-pelan dan masuk kerumah tanpa mengetuk pintu. Hana menutup mata sang Ibu. membuat ibu terheran-heran.
" Siapa ini?" Rubel dan Hana diam saja tidak menjawab pertanyaan sang Ibu. Ayah yang baru saja datang dari arah belakang yang melihat tertawa dan membunyikan suara.
" Meong." ucap Ayah ikut mengerjai Ibu.
" Apaan sih yah, bikin-bikin suara kucing segala." ucap Ibu kesal.
" Udah yah lepasin tangannya."
" Enggak mau, Ayah mau kasih kejutan." jawab Ayah.
" Tapi ngomong-ngomong sejak kapan tangan ayah bisa jadi kecil dan seimut ini yah?" tanya Ibu bingung. tiba-tiba Hana membunyikan suara seperti yang ayah lakukan tadi.
" Meong." ucap Hana.
" Kok ada yah suara kucing selembut dan semanis ini." ucap Ibu masih penasaran. Hana pun melepaskan tangannya dan memberikan kejutan.
" Surprise!!" teriak Hana senang.
" Ya Allah, kamu kok pulang nak? tanya ibu heran.
" Hana sama Rubel gak mau jauh-jauh dari Ibu apalagi cucu Ibu ini." ucap Hana menggoda sambil menunjukkan perutnya.
" Oh Syukurlah, kalian sampai dengan selamat, kalo begitu istirahat lah dulu." ucap Ibu sambil mengelus perut Hana.
Rubel dan Hana menyalami Ayah dan Ibu kemudian masuk kedalam kamar. perjalanan panjang dari Sydney ketanah air membuat mereka sangat lelah, setelah mandi mereka memilih untuk segera tidur.
"
"
"
" Hai sahabat dokter Cool, makasih suportnya, jangan lupa VOTe, Like, dan komennya yang banyak yah, Mampir juga karya baru Author Manusia Batu Cintaku "
__ADS_1