
Hari telah sore, perjalanan yang memakan waktu lama dari rumah sakit ke kediaman Agiawan, membuat Rubel semakin yakin untuk segera pulang kerumahnya di Villa Buana A. Rubel sempat singgah ke pertokoan untuk membeli beberapa macam buah, dan Pizza ukuran jumbo.
Dia membeli itu untuk meluluhkan hati hana, karena tadi pagi dia tidak mengizinkan Hana ikut dengannya kerumah sakit. tak berapa lama tibalah dia dirumah.
telah terparkir beberapa mobil dan 1 buah motor berwarna kuning milik ayahnya Hana.
"Aduh rame lagi." ujarnya sambil melirik ke kursi sebelahnya. dia hanya membeli sedikit buah dan 1 pizza jumbo yang hanya ada 8 potong. dia hendak meninggalkan buah dan pizza itu di mobil tapi nanti keburu dingin.
" yah sudahlah lain kali aku belikan untuk Hana lagi. biar dia bisa puas makan sendiri."
Dia pun masuk membawa buah dan pizza itu kedalam rumah.
"Assalamu'alaikum." salam nya kepada semua orang.
"wa'alaikum salam." jawab mereka.
bibi yang melihat Rubel segera menyambutnya.
"bi tolong buah nya di cuci yah, nanti bawa kemari." ujarnya kepada bibi, dan menaruh Pizza Itu di meja tamu.
"iya den. jawab bibi dan berlalu kebelakang.
"baru pulang?" tanya om Purwanto kepada Rubel.
" iya om." jawabnya pendek.
"kebetulan semua nya ada disini ada yang harus Rubel sampaikan kepada semua nya, soal Hana."
"masalah pernikahan?" tanya om Purnawan.
" bukan om, ini tentang kondisi Hana.
"maksudmu.
"maaf selama ini Rubel merahasiakan dari semuanya. Rubel pikir Rubel bisa mengurus semua nya sendiri untuk penyembuhan Hana, tapi Rubel keliru semakin hari kondisi kesehatan Hana semakin menurun dan Rubel belum menemukan orang yang bersedia menjadi pendonor sumsum tulang belakang untuk Hana.
"apa maksud mu? tanya om Purnawan bingung.
"Hana menderita neutropenia imun om, sakit ini langka dan hampir sama dengan Leukimia."
semua terkejut. mereka tidak menyangka Hana sedang sakit berat.
"ya Allah." ucap ibu lirih.
"maafin Rubel yah Bu."
ibu menatap Rubel lekat.
"ibu mengerti maksud Rubel, tapi alangkah baiknya Rubel juga cerita kan semua nya sama kami, walaupun kondisi ibu dan ayah tidak ada uang. selama ini Rubel sudah berusaha sendirian membiayai perawatan Hana dirumah sakit dan itu bukan biaya yang sedikit."
"gak apa-apa Bu jangan ibu fikirkan."
"yang terpenting saat ini, kita mencari pendonor yang sama gennya dengan Hana." ucap Rubel.
"bagaiman kita mencari nya?" tanya om Purwanto bingung.
"dokter Lila bilang, bisa Saudara kandung, orang tua, keluarga, atau orang lain tanpa hubungan darah, selama dinyatakan cocok dengan pasien." jelas Rubel kepada mereka.
"bagaimana kalau kita semua diperiksa siapa tahu diantara kita ada yang sama gennya dengan Hana nanti bila di antara kita tidak ada yang bisa, barulah kita mencari pendonor dari orang lain.." ujar om Purwanto.
"ide om bagus juga, selesai akad nikah kita segera melanjutkan perencanaan operasi nya Hana." ujar Rubel.
"yah sudah lakukan apapun yang menurut kamu baik. untuk masalah biaya om akan membiayai semua keperluan Hana." ucap Om Purnawan.
"tapi om, masalah biaya biar Rubel .." ucapan Rubel segera dipotong oleh Om purnawan.
"tidak apa-apa lagi pula Hana kan keponakan Om,sudah seharunya om membiayai semua keperluan nya."
"Om, tahu kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab, tapi izinkan om menebus semua kesalahan om selama ini kepada kalian semua."
Rubel terdiam, ibu menangis dia merasa sangat sedih.
Hana berjalan dari kamar nya menuju ruang tamu.
"eh ada tamu, maaf yah om Hana ketiduran."
"gak apa-apa sayang sini Hana duduk dengan om.
Hana berjalan mendekati om Purnawan.
om Purnawan mengelus lembut rambut keponakannya.
"Hana sehat?" tanya nya pada hana.
"Sehat om, kenapa semuanya bersedih." tanya Hana bingung.
"gak apa-apa sayang kami terharu rubel bilang akan menikahi hana secepatnya." ucap om purwanto berusaha tenang.
Hana tersipu malu, dia tidak menyangka Rubel menepati janjinya untuk segera menikahi dia secepatnya. semua orang terdiam, tiba-tiba bibi muncul dengan membawa minuman dan buah-buahan yang baru saja di cuci nya.
"minumannya jangan di anggurin yah tuan, langsung diminum mumpung lagi anget." ujar bibi mencairkan suasana. mereka semua tertawa bibi selalu saja membuat suasana diam mencekam berubah menjadi gelak tawa.
__ADS_1
"buah anggur. dong." jawab Haikal cepat.
"iya den emang buah anggur." sambil menunjuk ke arah buah anggur.
sontak semua Yang ada di situ tertawa.
Haikal membuka kotak Pizza.
"Rubel tahu aja kalo aku lagi laper." ucap Haikal.
"Apaan tuh?" tanya Hana polos.
"pizza, emangnya kamu gak pernah makan?" tanya Haikal. Hana menggelengkan kepala.
"ya udah sini cicipin pizzanya." ujar Haikal sambil menyuapi Hana pizza.
Om Purnawan dan Purwanto, tidak menyangka Hana tidak pernah makan Pizza.
selama ini mereka hidup bergelimang harta, apapun yang mereka mau tinggal suruh orang buat beli tapi keponakan mereka hidup pas-pasan sampe gak pernah makan Pizza.
"om, hari ini Rubel nyai dan juga bibi akan kembali ke rumah di Villa Buana A, terimakasih udah menyediakan tempat tinggal yang mewah ini." ucap Rubel pada Om Purwanto.
"Rumah ini sudah om serahkan ke ibu nya Hana. rumah ini adalah peninggalan papa Om, kakek Agiawan. om tidak akan memaksa kalian untuk tinggal, cuma rumah ini terlalu besar jika hanya di tempati oleh Hana,ibu dan ayahnya. " ujar om Purwanto.
Rubel melihat ke arah Nyai, Nyai hanya membalas dengan senyuman.
"iya om, akan Rubel fikirkan lagi." ucapnya pada om Purwanto.
"jadi kapan akad nikahnya?" tanya om Purnawan.
"InsyaAllah Minggu ini om. Rubel akan menghubungi mama dan papa di Sydney. mereka mengatakan akan datang bila Rubel cepat memberi kabar." ujar Rubel menjelaskan.
"wow, keluargamu di Sydney? tanya Om Purwanto.
"iya om sejak Rubel kecil mama dan papa tinggal di Sydney.
"o ya, om juga punya temen di Sydney tapi semenjak om menekuni bisnis jasa importir dari Cina ke Indonesia, om sudah jarang bertemu dengan nya." cerita om Purwanto.
"mudah-mudahan nanti bisa berjumpa lagi om." ucap Rubel. sambil melirik Hana yang sedang memakan Pizza dengan penuh penghayatan.
"Kamu suka pizza nya?" tanya Rubel pada Hana.
" Gak terlalu suka, agak enek." jawab Hana.
"gak usah dipaksa, nanti malah muntah.
"makan buah anggur aja yah." ujar Rubel sambil mengambil buah dan menyuapi hana. Hana mengangguk pelan.
" Makanya jangan kelamaan jomblo jadi nya baper kan." balas Hana pada Haikal.
Tiba-tiba om Purnawan ikut nimbrung.
"iya Haikal, kapan? om juga pengen lihat kamu segera menikah."
"Haikal lagi pilih yang setia dan bisa terima Haikal apa adanya om bukan karena ada apanya."
"Haikal trauma om, suka sama cewek ternyata cewek itu adek Haikal sendiri." kenang Haikal.
" Udah gak usah dibahas yang berlalu biar lah berlalu, papa do'akan kamu dapat istri yang baik, setia dan apa adanya, papa tidak akan menuntut kamu untuk mendapatkan istri yang kaya raya, yang terpenting bagi papa akhlaknya baik maka kamu kamu akan bahagia." ujar om Purwanto.
"makasih pa, insyaallah secepatnya haikal perkenalkan gadis itu sama papa."
Rubel melirik ke arah Haikal.
"lampu hijau kal, jangan kelamaan nanti di embat orang." sindir Rubel.
"Yes." Haikal merasa kegirangan dia seperti mendapatkan lotre. karena papa nya tidak lagi melarangnya untuk memilih pasangan yang dia inginkan.
"Duh, jomblower bakal mengakhiri petualangan nya." sindir Hana. mereka semua pun tertawa.
Hari telah sore, Rubel hendak berkemas pulang. om Purwanto dan Om Purnawan telah lebih dulu pulang. barang-barang ibu dan ayah Hana dirumah lama telah dibawa oleh orang sewaan om Purwanto kerumah itu.
"ana ino pulang yah." pamitnya pada Hana.
Hana menatap Rubel sangat lekat, tak terasa air matanya jatuh kepipi. buru-buru dia menyeka air matanya. dia tidak ingin terlalu manja bagaimana pun dia dan Rubel belum menikah tidak baik jika harus tinggal satu rumah, walaupun semua keluarga ada dirumah itu.
"jangan bersedih yah sayang, nyai dan Rubel akan sering kemari, apa lagi kalian akan segera menikah." hibur nyai pada hana.
Hana berusaha tersenyum walaupun dia sangat sedih.
"Tenang Haikal masih disini." hibur Haikal pada hana.
Rubel, nyai dan bibi pun berlalu meninggalkan rumah itu. tinggal ibu, ayah, Hana Haikal, Diko dan leo.
ibu dan ayah merasa bingung, karena selama ini mereka tinggal di rumah yang sangat kecil.
Mereka merasa kesepian Dengan rumah yang besar, dan hanya beberapa orang penghuni.
menjelang makan malam ibu menyiapkan makan, Hana dan ayah saling melirik. ayah merasa canggung bila makan di meja makan. biasanya mereka makan duduk lesehan di atas tikar.
"ayah gak enak duduk di sini lebih enak duduk ditikar." ucap ayah.
__ADS_1
"Bu, bentangkan tikar." pinta ayah pada ibu.
"iya ayah." jawab ibu. Hana pun ikut turun duduk ditikar.
"ibu panggilkan Haikal dulu yah." ujar ibu.
"Bu hana ajak mas Diko dan leo yah Bu biar rame."
sebentar saja ruangan itu sudah rame.
malam ini ibu masak, tahu Sumedang, lalapan dan sambel terasi gak pernah ketinggalan ditambah sayur kangkung.
"makanan Tante selalu bikin mood booster." walaupun laoknya sederhana tapi pingin nambah lagi, nambah lagi." ujar Haikal.
"Haikal bisa aja." ucap ibu.
"Iya Bu, makanannya enak lama-lama kita berdua bisa tambah bulet." sambung Diko.
"Iya kan leo?" tanya Diko pada leo.
"kenapa gak buka restoran aja Tan?" masalah modal nanti akan Haikal bicarakan sama papa dan Om Purnawan. pasti mereka akan setuju." ujar Haikal.
"gak usah, Tante gak mau ngerepotin mereka." ucap ibu menolak.
"gak usah Tante fikirkan, Tante dan Om harus punya bisnis mulai sekarang. untuk managemen kan Om Ghana sangat mengerti.
" Om udah lupa kal, maklum sudah puluhan tahun. udah gak ngerti lagi management usaha." Ujar ayah pada Haikal.
"gak apa-apa gini-gini Tante kan sarjana." ucap ibu sambil tersenyum.
"bagus, itu, nanti Haikal akan belajar banyak sama Tante." ucap Haikal.
"gak kebalik tuh, seharusnya Tante yang belajar dari kamu, usaha mu saja sudah berkembang sangat cepat." jawab ibu Hana.
"kita sama-sama belajar yah gak om." ayah Hana mengangguk setuju.
"Alhamdulillah, semoga membawa keberkahan untuk kita yah Bu." ucap Hana.
"Aamiin semoga di mudahkan."
"Aamiin." semua yang ada disitu ikut meng Aamiin kan.
selesai makan ibu dan Hana membereskan piring makan, dan membawa piring kotor itu ke wastafel dan mencuci piring.
" Hana ibu ingin menunjukkan sesuatu sama hana."
" apa itu Bu ?tanya Hana.
"ikut ibu ke ruang keluarga yah." ajak ibu kepada Hana.
ibu membuka pintu , Hana terpana melihat foto besar yang menghiasi ruangan itu.
"ini foto kakek dan nenek mu. ke
2 laki-laki itu Om Purnawan dan Om Purwanto, dan gadis itu adalah ibu waktu masih gadis." ujar ibu menjelaskan.
"mereka memang sangat mirip yah Bu, cuma beda postur tubuhnya. Om Purnawan lebih pendek dari Om Purwanto. ujar hana.
"iya mereka berdua sangat mirip."jelas ibu.
"Hana masih belum percaya bu dengan semua ini " ucap hana.
"semua seperti mimpi."
"mimpi yang sangat indah yah nak.., ibu tidak menyangka akan dipertemukan lagi dengan keluarga ibu, setelah sekian lama ibu bersembunyi dari mereka. Dan bisa berada disini lagi." kenang ibu panjang.
"Ini semua kehendak Allah Bu, Allah selalu mengabulkan do'a ibu. ujar hana menyemangati ibu.
"iya, kita hanya berencana tapi yang Maha besar telah merancang hidup kita penuh dengan bermacam-macam suka duka ,dan akhirnya Allah bukakan pintu hati mereka yang sudah mengusir ibu dan ayah dari rumah ini. ungkap ibu penuh haru.
"sekarang waktunya kita bersyukur, perbanyak amal saleh. karena kita tidak pernah tahu kehidupan kita, Allah bisa saja dengan mudahnya mengambil semua yang kita punya karena ini adalah titipannya." ujar ayah yang muncul tiba-tiba.
"Iya ayah, terimakasih telah menjadi suami yang hebat dan ayah yang luar biasa bijak untuk kami." ucap ibu sambil memeluk ayah dan Hana sangat erat.
seseorang sedang memperhatikan mereka di depan pintu. dia merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh keluarga Adik papa nya itu. Haikal hendak berlalu tetapi ibu memanggilnya.
"sini kal, jangan diam-diam aja nonton kita, gabung sini biar kita lebih kenal dan tambah akrab." ujar ibu.
"iya Tante." ucap Haikal dan berjalan menghampiri ketiganya.
"Haikal juga gak menyangka Tante, Hana dulu teman sekelas Haikal waktu smp, kami setiap hari berantam persis film Tom and Jerry."
"bahkan Haikal sempat suka sama Hana, gak tahunya hana sepupunya Haikal." kenang haikal. sontak ibu dan ayah tertawa. hanya tersenyum malu melihat sepupunya terlalu jujur.
"kalo sekarang gimana?" apa rasa suka nya masih ada?" sindir ibu.
"sekarang rasa sayang Haikal berubah terhadap Hana, Haikal sayang Hana karena Hana adalah adik Haikal." ungkap Haikal jujur.
"mudah-mudahan keluarga kita bisa bersama selamanya, tidak ada lagi permusuhan, kebencian." ucap ibu penuh harap.
"Aamiin." ucap mereka bersama.
__ADS_1
makasih buat yang udah mampir, dukung author terus yah dengan vote, like, favorit dan komennya yang banyak terimakasih 😍🤗