Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 84


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Rubel dan Hana tidak mengetahui bahwa ibu dan kedua omnya berinisiatif untuk membantu mereka membeli Rumah Sakit Srikandi. mereka melobi keluarga Ibu Risa. siang ini om Purwanto bersama Ibu mendatangi rumah kediaman Keluarga Ibu Risa.


Ibu mengetuk pintu, tidak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu dengan wajah tersenyum dan dengan sopan dia segera mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk, berbeda saat dia menerima Rubel dan Hana ketik pertama kali berkunjung kerumah itu.


ibu dan Om Purwanto pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. ibu mengedarkan matanya ke seluruh Ruangan. tidak berapa lama seorang laki-laki paruh baya dan seorang laki-laki muda tampan berjalan ke arah mereka. ibu dan Om Purwanto tidak berkedip saat melihat wajah laki-laki muda itu. tiba-tiba mereka berdua bersuara bersama.


" Mirip Rubel." ucap Ibu dan Om Purwanto bersamaan.


" Hehehehe, tentu saja mirip mereka berdua adalah saudara." timpal laki-laki paruh baya itu.


" Aduh maaf, maksud bapak?" tanya ibu bingung dengan ucapan laki-laki itu.


" Hehehe santai dulu nanti saya akan ceritakan semuanya sama Ibu dan Bapak." ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya bersalaman, dan dibalas segera oleh ibu dan Om Purwanto.


Kedua laki-laki itu duduk saling berhadapan dengan ibu dan Om Purwanto. mata mereka masih melirik ke arah laki-laki muda itu.


" Saya Alan Hamid Om, tante." ucap Alan pada Om dan ibu.


ibu dan Om Purwanto hanya mengangguk. mereka mengarahkan pandangan nya ke arah laki-laki disampingnya.


" Kamu Hamid kan? saya Purwanto teman almarhumah Risa, kita pernah bertemu beberapa kali sebelum Risa Meninggal.


" Tentu saja saya ingat waktu itu kita pernah bekerja sama untuk tender pemasok, alat kosmetik." jawab pak Hamid.


" Astaga, maaf saya lupa karena itu dulu kurang lebih 10 tahun yah, wah ingatan anda benar-benar sangat hebat. saya sendiri sudah lupa."


" Wajar saja pak Purwanto lupa, itu sudah sangat lama, oh ya ngomong-ngomong ada urusan apa kemari?" tanya pak Hamid bingung.


" Pa mereka yang Alan ceritakan akan membeli Rumah Sakit Srikandi."


" Oh, saya tidak akan menjualnya lagi."


" Kenapa?" tanya ibu penasaran.


" Rumah Sakit itu akan saya limpahkan pada anak kedua saya dari isteri pertama saya." jelas pak Hamid.


" Wah Sayang sekali padahal Rumah Sakit Itu untuk anak dan menantu Saya Rubelino."


" Ehm, kebetulan sekali saya ingin sekali bertemu dari keluarga Rubelino." ucap pak Hamid pelan.


" Bertemu keluarga Rubelino? maksud Bapak bagaimana?"


" Apa kabar Melisa?" tanya pak Hamid mengalihkan pertanyaan Ibu.


" Tunggu dulu Bapak ini siapa? kenapa bisa tahu nama Mamanya Rubelino?"


" Tentu saja saya tahu, dia adalah wanita pertama yang pernah saya nikahkan, dan kami punya dua orang anak Tasya dan Rubelino."


" Oh ternyata anda yang su---." ucap ibu langsung di tahan oleh Om Purwanto.


" Maaf Adik saya tidak bermaksud membahas masa lalu anda." potong om Purwanto.


" Tidak apa-apa, senang bisa berjumpa dengan Keluarga menantu saya." jawabnya pelan.


Ibu tidak menjawabnya lagi, dia bingung harus marah atau menerima baik ayah dari Rubelino sang menantu. ibu tahu pasti bagaimana perjuangan Mama Melisa untuk kedua anaknya. dan dia tahu bagaimana perasaan kecewa dan hancur nya Melisa.


" Ibu sangat baik, sampai-sampai akan membelikan Rumah Sakit Itu untuk Rubel, suatu kehormatan untuk kami atas kebaikan keluarga Hana." ucapnya panjang.


Ibu dan Om Purwanto terdiam, tidak menyangka bahwa pak Hamid sudah mengetahui keadaan Rubel dan Hana sebenarnya. Rubel dan Hana tidak menceritakan soal Rumah Sakit Srikandi adalah milik keluarga Rubel. ibu tahu sepertinya kedua anak dan menantu nya sengaja menutupi itu semua karena mereka tidak ingin membuka luka lama.


" Saya dan Alan berinisiatif akan memberikan ruimah Sakit itu secara cuma-cuma, tapi kami tidak ingin Rubel tahu bahwa Rumah Sakit ini sudah kami limpahkan untuk Rubel dan Hana, untuk itu peran Ibu dan Mas Purwanto sebagai pembeli Rumah Sakit Srikandi menjadi lebih mudah."


" Tapi--.


" Saya ingin menebus kesalahan saya di masa lalu, Alan juga sudah menerima Rubel sebagai abangnya, bahkan dia sendiri yang meminta saya untuk memberikan Rumah Sakit itu untuk Rubel, tapi Rubel tidak boleh tahu jika Rumah Sakit itu untuknya."

__ADS_1


" Kita lihat saja nanti, tapi apa tidak sebaiknya kami membeli saja Rumah Sakit itu agar tidak ada masalah dikemudian hari." ucap ibu merasa tidak yakin yang dikatakan oleh Pak Hamid, bagaimana pun Rumah Sakit itu adalah milik Almarhumah Ibu Risa dan barang tentu yang punya hak adalah Alan bukan Rubel.


Pak Hamid mencoba mencerna maksud Ibu, dia berusaha tidak menyinggung perasaan Ibu Hana dan mencoba meyakinkan Alan agar tetap menjual Rumah Sakit itu agar tidak terjadi kesalah pahaman suatu saat kelak.


" Saya serahkan sama Alan, bagaimanapun dia lah yang berhak atas Rumah Sakit itu." ucap pak Hamid. dan menepuk pundak Alan lembut.


Alan terdiam bagaimana pun mereka punya hak untuk melegalitas Rumah Sakit itu, agar tidak ada masalah dikemudian hari. mengingat bahwa Almarhumah Mamanya mempunyai adik laki-laki yang saat ini sedang buron karena menyalah gunakan uang gaji karyawan Rumah Sakit Srikandi.


" Baiklah, untuk harga Alan tidak bisa mematok harga itu terserah Papa." ucapnya pada pak Hamid.


" Jangan, itu adalah punya mu, hak kamu Papa Tidak punya wewenang apapun, segera berikan keputusan agar Rumah Sakit Bisa segera beroperasi lagi." ucap pak Hamid mengingatkan.


" Alan bingung, lagi pula Rumah Sakit itu sudah lama tidak digunakan, harga yang pernah Alan tawarkan pun tidak ada yang mau karena kondisi peralatan Rumah Sakit yang tidak memadai, sekarang sesuai kebijakan Ibu nya Mbak Hana saja Alan gak mau membuat kesalahan."


Ibu dan Om Purwanto terdiam, mereka berdua lebih bingung untuk menargetkan harga yang sesuai.


" Begini saja, ibu kasih uang muka saja dulu jika Rumah Sakit itu sudah beroperasi dan mulai memberikan pemasukan yang baik, baru bayar sisanya." ucap Alan mencoba bijak.


" Berapa DP nya?" tanya ibu langsung tanpa pikir panjang.


" 750 juta aja Bu sisanya 750 juta lagi nanti."


Ibu dan Om Purwanto terdiam ini adalah harga keluarga untuk sebuah Rumah Sakit besar seperti Rumah Sakit Srikandi. mereka berdua mencoba memahami maksud Alan.


" Baiklah besok kami akan kembali bersama pengacara untuk mengurus surat menyurat, dan sekali lagi kami mau nak Alan memikirkan harga yang pantas untuk Rumah Sakit itu, jangan karena sebuah keterpaksaan, Rumah Sakit itu punya potensi besar dan barang tentu dengan pengelolaan yang baik saya yakin suatu saat kelak Rumah Sakit itu akan kembali menjadi Rumah Sakit yang dibutuhkan orang banyak." Ibu berusaha meyakinkan agar Alan tidak menyesal nantinya.


" Baiklah, Akan Alan fikirkan kembali dengan Papa. besok keputusan nya semua, dan Alan harap besok tidak ada lagi permasalahan untuk harga Rumah Sakit itu sekalipun tak ada perubahan dengan harga nya."


" Baiklah, ibu harap Alan dan Pak Hamid bisa mengambil keputusan yang bijak, yang tidak merugikan keluarga besar pak Hamid." ucap ibu dan kemudian dia dan Om Purwanto segera pulang.


*****


Rubel dan Hana baru saja keluar dari rumah, mereka bertemu ibu dan Om Purwanto yang baru saja pulang.


" Ibu dari mana?" tanya Hana bingung.


" Pak Hamid?"


" Iya Pak Hamid temannya Om, kebetulan kita sudah lama tidak bertemu jadi kita ngobrol soal kerjaan." ucap om Purwanto menutupi yang sebenarnya.


Rubel dan Hana mengernyitkan dahinya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibu dan Om nya. tapi mereka tidak ambil pusing. mereka pun segera berpamitan untuk mengetahui nama-nama orang yang Rumah Sakit Z yang sudah di pecat oleh Vierra. Rubel sudah meminta Zaena untuk mengecek nama-nama orang yang sudah tidak bekerja di Rumah Sakit Z. mereka bertemu di luar rumah sakit karena akan sangat berbahaya bagi Rubel dan Hana bila bertemu Zaena di dalam lingkungan Rumah Sakit Z.


Rubel dan Hana memilih Restoran yang tidak jauh dari Rumah Sakit Z, mereka segera memesan makanan tak berapa lama Zaena membawa berkas nama-nama yang sudah keluar dari Rumah Sakit Z.


" Ini bel, kebetulan mereka saat ini belum ada pekerjaan, dan disitu mereka sudah ditinggal nomor ponsel yang bisa kau hubungi." jelas Zaena. sambil menyodorkan kertas kearah Rubel.


" Memang Baek kali kau Na, the best lah pokoknya." ucap Rubel bangga.


" Kalian adalah sahabat ku, aku akan berusaha sebisaku untuk membantu kalian."


" Baru kali ini aku lihat kamu begitu serius, sisanya lebih banyak adegan jenakanya." sindir Rubel. Hana hanya tersenyum dia benar-benar merasa Zaena sangat baik mau membantu mereka.


" Ya sudah apa kau sudah pesan makanan untuk ku, sudah sewajarnya kau pesan kan makanan untuk ku karena perut ku udah lapar." ucap Zaena mulai keluar sifat aslinya.


" Pesan lah sesuka mu."


" Jangan bilang sesukaku nanti ku Abiskan uang kau!" goda Zaena.


" Enggak mungkin kau tega menghabiskan uang ku sedangkan kau sendiri tahu kek mana kondisi aku saat ini."


" Hehehe tenang saja bel, aku tidak akan menguras isi dompet mu cuma menguras perasaan mu padaku." ledek Zaena disusul gelak tawa puas melihat wajah Rubel setengah kesal melihat tingkahnya.


" Gatel kali kau kaya ulat bulu." jawab Rubel kesal.


" Bukan Zaena kalo gak bikin klean kesal sama aku." ucapnya senang.

__ADS_1


" Emang dasar mulut angsa nyosor terus."


" Tak apalah kau bilang angsa, kamu yang jadi pangeran nya." ucap Zaena dan terkekeh.


Hana hanya tertawa, dia juga tak sanggup melihat wajah kesal Rubel dikerjai oleh sahabatnya.


" Ish dah, jangan Apakali lah nanti kau gelisah sendiri habis kau ngerjain aku." ucap Rubel dongkol.


" Sudah-sudah gak usah ribut lagian Zaena cuma mau menghibur kita anggap saja kita lagi nonton Srimulat." ucap Hana menghibur.


" Jangan bilang kau senang Suami Mu di goda ulat bulu ini yah." ucap Rubel sambil menunjuk hidung Zaena.


" Dia kan sahabat kamu, sahabat aku juga lagian kalo memang dia tukang goda kan sudah dari dulu dia ngerebutin kamu, waktu pertama kalian jumpa." kenang Hana.


Akhirnya suasana ricuh kembali terdengar riuh mereka bertiga tertawa, bagaimana tidak pengalaman itu adalah hal yang sangat lucu bagi mereka. wajah Rubel bersemu merah apalagi dia teringat saat dia dan Hana sedang berciuman di taman itu, tanpa mereka sadari ternyata Zaena adalah pemirsa yang diam-diam menshot adegan itu.


Hana hanya tersenyum, karena dia tidak tahu jelas bagiamana keadaan yang terjadi hari itu. Zaena hanya mengedip-ngedip kan sebelah matanya.


" Ah dasar angsa selalu bikin ulah, coba deh dengerin kalo angsa lagi ribut suaranya bisa terdengar satu kampung." ledek Rubel pada Zaena.


" Heuh payah!!!" keluar Zaena, tak berapa lama pelayan pun tiba sambil menyodorkan buku menu, mereka segera memesan makan siang lima belas menit kemudian, pelayan kembali ke meja dengan membawa pesanan mereka bertiga. waktu terus berjalan selesai makan mereka kembali kerumah, begitu juga Zaena kembali kerumah sakit untuk mengurus beberapa keperluan yang belum selesai.


Rubel dan Hana kembali kerumah, dan segera masuk ke kamar, mereka berdua langsung mengambil wudhu dan melakukan sholat Dzuhur. selesai Sholat mereka berdua berganti pakaian, dan duduk ditempat tidur, Rubel memperhatikan wajah Hana terlihat sangat lelah, Rubel meminta Hana untuk beristirahat, sambil mengelus perut Hana Rubel membuka layar ponsel nya mencoba menghubungi satu persatu nama yang dikasih oleh Zaena tadi Restoran.


Satu-satu sudah diketahui keberadaannya dan mereka bersedia ditempatkan di Rumah Sakit Srikandi, Rubel segera menghubungi Alan untuk kelanjutan pembelian Rumah Sakit Srikandi.


" Assalamu'alaikum." sapa Rubel pada Alan.


" Waa'laikum salam, ada apa Kak?"


" Kakak mau bicara masalah Rumah Sakit, bagaimana kalo kita ketemu." Ajak Rubel pada Alan.


" Baiklah, kapan kita ketemu?"


" Kalau bisa secepatnya." ucap Rubel bersemangat.


" Baiklah bagaimana kalo besok?"


" Apa tidak secepat nya, Kaka sudah sangat lama tidak bekerja perasaan sudah sangat lelah jika harus berdiam diri dirumah." ucap Rubel lemas.


" Kakak tunggu saja, besok kita akan bertemu sekalian membahas masalah Rumah Sakit." balas Alan.


" Ya sudah kakak tunggu kabar baik dari mu."


" Iya kak Insyaallah besok adalah hari yang sangat bahagia untuk kita semua." jawab Alan.


" Mudah-mudahan, yah sudah sampai ketemu besok, Assalammulaikum." tutup Rubel dan dibalas salam oleh Alan.


Rubel meletakkan ponselnya di atas meja rias. dia berbaring menghadap Hana, dengan lembut dia mengelus wajah Hana, mencium keningnya kemudian dia pun ikut terbuai kedalam alam mimpi. Tiba-tiba Hana terbangun karena dia ingin ke kamar mandi, baru saja dia menggerakkan tubuhnya Rubel juga ikut terbangun.


" Mau kemana sayang?" tanya Rubel.


" Mau Melamar mandi udah kebelet pipis." ucap Hana cepat dan berlalu meninggalkan Rubel.


Rubel teringat bagaimana mereka berdua bertemu untuk pertama kali setelah mereka terpisah sangat lama. bagaimana sikap acuh, dan juteknya memperlakukan Hana. sungguh dia tidak menyangka bahwa Hana adalah kekasih kecilnya. dia tersenyum sendiri mengenang pertemuan itu. Hana pelan-pelan memperhatikan nya dan mendekatinya.


" Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Hana mengejutkan Rubel. Rubel segera memeluk Hana hingga tubuh Hana berada diatas tubuhnya.


" Ino teringat saat kamu pertama melamar kerja jadi Perawat Nyai." ucap nya pelan sambil mencium bibir Hana dengan lembut. mereka berdua pun tersenyum mengenang kelakuan mereka saat itu. tanpa disadari kenangan itu membawa mereka menghabiskan waktu ditempat tidur hingga waktu Ashar tiba.


"


"


"

__ADS_1


" Hai jangan lupa Vote Like dan komennya, mampir juga ke Novel Manusia Batu Cintaku yah terimakasih 😍🤗"


__ADS_2