Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 67


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu setelah pernikahan Haikal dan Mila, hari ini keberangkatan Rubel, Hana, Mama Melisa, Lia dan Dainan. kebetulan masa liburan Lia dan Dainan sudah habis, dan mereka harus segera kembali ke Sydney apalagi Dainan seorang dokter.


Pagi ini ibu terlihat sangat sibuk, ibu ingin sekali memberikan banyak cemilan yang ibu buat sendiri untuk di bawa oleh Mama Melisa.


setelah semua selesai ibu segera memberikan makanan itu untuk Mama Melisa.


" Waduh Mbak kok repot-repot?" tanya Mama Melisa pada ibu.


" Gak apa-apa, sekali-kali mumpung Mbak masih di sini kalo nanti udah balik ke Sydney Kapan lagi saya masakin Mbak." ucap Ibu menimpali.


" Ah, jadi keenakan dimasak terus." ucap Mama sambil tersenyum.


" Ah mbak bisa aja, namanya juga tamu."


" Satu dua hari yah masih tamu kalo udah lebih yah harus tahu diri juga." jawab mama tak enak sambil tertawa. Ibu ikut tertawa, Rubel dan Hana telah bersiap. begitu juga Lia dan Dainan. tiba-tiba pagi itu, Ibu Maemunah datang membawa sedikit makanan ringan untuk dibawa pulang oleh Mama Melisa.


" Bu, ini dari kami." ucap Ibu Maemunah kepada Mama.


" Apa ini?" tanya Mama heran.


" Ada sedikit Oleh-oleh Bu, yah memang tidak banyak." ucap ibu Maemunah malu-malu.


" Alhamdulillah, Ibu Maemunah kok repot-repot, tapi makasih yah." ucap Mama dengan sumringah sambil menerima bungkusan yang di kasih Ibu Maemunah.


Hana merasa sangat khawatir dia mondar-mandir kan kursi rodanya membuat Rubel bingung kelakuan istrinya.


" Kenapa sayang?" tanya Rubel.


" Kalo Ana pergi, Gimana jalannya kan gak mungkin naik kursi roda, terus duduk nya gimana, terus....."


" Kok terus-terus sih nanti nabrak loh." goda Rubel.


" Gak lucu ah, orang lagi serius juga."


" Ino lebih dari serius malahan 2 rius lagi.


" Ino !!! teriak Hana kesal di goda suaminya terus. Rubel berlari saat Hana mencoba mengayuh kursi roda nya dengan cepat ke arah Rubel.


" Rubel jangan gitu kasihan Hana." ucap Mama mengingatkan.


" Rubel cuma bercanda ma." jawab Rubel.


Namun Hana terlihat bersemangat, dia seperti lupa bahwa kondisi nya belum sehat. Hana pun menghamburkan pelukan pada Rubel disela-sela canda tawa mereka Hana menyelipkan cubitan kecil membuat Rubel meringis kesakitan.


" Sakit." ucap Rubel manja.


" Tangan Ana gatel, udah lama gak cubit Ino." ucapnya seraya meledek Rubel. kali ini Rubel menerima ledekan itu dengan pasrah, dia pun mengelus lembut kepala Hana, dia tidak ingin mengulang kejadian naas yang menimpa Hana karena sikap cueknya membalas Hana hanya karena cubitan kecil itu.


Terdengar suara mobil berhenti di halaman Rumah, bibi bergegas menyambut tamunya.


" Eh ada Bapak-bapak dan Ibu-ibu." ucap bibi sambil tersenyum ramah.


" Eh Bibi - bibi." Goda Haikal pada Bibi.


" Ah Aden, bibi kan sendiri jadi gak usah di ulang-ulang panggil Bibi nya." Ucap Bibi malu.


" Terrus kenapa panggil Bapak-bapak Ibu-Ibu yang ada disini."


" Goyang Yook." Sambar bibi cepat sambil nyanyi.


" Buahahahahaha."


Seketika susasa berubah menjadi sangat meriah.


" Bibi ada-ada aja."


" Hehehe." Bibi terkekeh.


Mereka semua masuk, Haikal menggandeng tangan Mila masuk kedalam Rumah. Om Purwanto bersama dengan Tante Lyra, dan Om Purnawan bersama Tante Merry.


" Cek, cek ,cek, ehem-ehem." Hana berdecak, sambil menyindir Haikal yang terlihat menggandeng tangan Mila.


" Eh Ratu Nyamuk." ledek Haikal pada Hana.


" Ihs Dah Kau ini, ngapa pulak kau panggil awak Ratu nyamuk Hah ??!" ucap Hana sambil meniru gaya Zaena berbicara.


" Hei Sejak kapan Zaena nyasar kemari??" ledek Haikal pada Hana.


Hana mengalah karena dia tidak mungkin membalas perlakuan Haikal dengan cepat.


" Tumben diem??" Haikal masih menguji kesabaran Hana.


" Apa mau Raja lebah yang turun??" tanya Rubel yang tiba-tiba muncul berada di dekat mereka semua.


" Sekarang kamu udah mulai jadi jae yah, mau gantiin posisi aku??!?" ledek Haikal Bangga.


" Gak Cuma jadi Jae tapi mau jadi Jin." ucap Rubel asal.


" Wah-wah asik dong tinggal Bim salabin."


" Iya biar tiap malam gangguin orang malam pertama."


" Enak aja." ucap Haikal kesal.


" Untung aja jauh kalo Deket udah kami gangguin terus." balas Rubel.

__ADS_1


" Maunya??


" Ya iyalah." bela Hana.


" Kompak kali klean." sindir Haikal seperti Zaena.


" Jiah, Ketularan."


" Siapa yang ketularan??" ucap Haikal tak mau kalah.


" Makanya jadi orang baek." ibu ikut-ikutan mengganggu Haikal.


" Ya Ampun, Emak, anak, menantu suka bener main keroyokan.


" Ya iyalah." jawab Ibu Hana dan Rubel bersamaan. tanpa memperdulikan raut wajah Haikal yang memerah. Spontan semua tertawa, Rubel mengeluarkan kopernya ke arah ruang tamu. dia sendiri yang menyiapkan semua keperluan dia dan Hana.


Bibi melihat mereka berdua dengan tatapan sedih.


" Bibi Kenapa?" tanya Hana bingung.


" Bibi sama ibu bakal kesepian." ucap bibi sedih.


" Jangan nangis dunk Bi." ucap Hana melihat mata bibi yang mulai berkaca-kaca.


" Jadi inget Rahimullah Nyai." ucap bibi makin sedih. Hana pun memeluk bibi.


" Kirim do'a, dan surat Alfatih yah Bi." ucap Hana.


" Iya Mbak, makasih.


Semua orang telah berkumpul di ruang tengah. tiba-tiba suara Ponsel Haikal berbunyi. Panggilan dari Mbak Sumiyem.


" Assalamualaikum Mbak Sumiyem." jawab Haikal.


Semua orang terdiam mendengar Haikal menerima telpon dari mbak Sumiyem, Hana mendorong kursi roda nya mendekat ke arah Haikal.


" Mas Haikal, Alhamdulillah anak saya udah lumayan sehat, apa saya bisa bekerja dengan Mas Haikal." ucap mbak Sumiyem dari seberang.


" Oh iya Mbak Alhamdulillah kalo anaknya sudah sehat, saya tunggu Mbak Sumiyem di HK Cafe Resto Jalan Nona blok C No. 007." jawab Haikal bersemangat.


" Baik, Mas nanti siang saya ke HK Cafe dan Resto nya mas." ucap mbak Sumiyem lagi.


" Iya mbak saya tunggu yah." jawab haikal


" Assalamualaikum."


" Wa'alaikum salam." Jawab Haikal dan telpon pun ditutup.


" Alhamdulillah, makasih yah bang Haikal." puji Hana pada Haikal.


" Sama-sama." jawab Haikal. sambil tersenyum hendak mengerjai Hana. tapi akal bulus Haikal sudah ditebak oleh Rubel dengan sigap Rubel menarik kursi roda Hana hingga Haikal hampir saja terjatuh karena dia ingin memeluk Hana.


" Ya ampun, benar-benar pasangan...." ucap Haikal.


" Pasangan apa?" tanya Rubel cepat memotong ucapan Haikal.


" Ah gak jadi deh, mumpung Haikal lagi Baek nih." ucap Haikal menyelamatkan diri.


" Baik kok pamer." ledek Hana.


" Baik salah, jahat salah, ganggu salah, kepo salah." dengus Haikal kesal.


" Jiah marah." ledek Hana. sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Haikal.


" Sudah-sudah kalian ini seperti anak kecil aja, padahal udah pada nikah." ucap ibu kesal melihat ketiga orang itu tidak berhenti adu mulut. Om Purnawan mendekati Rubel dan Hana. memberikan tiket pesawat untuk mereka bertiga. Lia dan Dainan sudah lebih dulu memesan tiket pesawat.


" Makasih Om." ucap Rubel.


" Iya, semoga perjalanan nya lancar yah."


" Insyaallah Om, makasih banyak untuk semuanya ibu, ayah, om dan Tante semua."


Om Purwanto, memberikan struk pembayaran booking Hotel mewah di Sydney. Rubel dan Hana terbelalak tidak menyangka mereka akan di hadiah kan menginap di Hotel mewah.


" Wah kok repot-repot sih om, Rubel kan ada Rumah di Sydney." jawab Rubel merasa tak enak.


" Ini hadiah Om untuk kalian berdua." ucap om Purwanto cepat.


" Ya Allah Om, Hana jadi ke enakan." ucap Hana tersipu malu. dan mendorong kursi roda nya mendekat ke arah semua om dan Tante nya. dia memeluk om dan tantenya secara bergantian.


" Enak yah kalian, aku yang pengantin baru kalian yang Honey moon." ucap Haikal kesal.


" Bilang aja iri." ledek Hana pada Haikal.


" Maaf ya, gak baik iri - irian rezeki nya jauh." ucap Haikal membela diri.


" Tuh tahu." ucap Hana cepat.


" Taulah, Haikal kan cuma bercanda mana mungkin Haikal cemburu dan iri sama sepupu sendiri." ucap Haikal dengan percaya diri. sambil menepuk dadanya dengan bangga.


semua orang hanya tersenyum, mereka bertiga emang seperti anak-anak pada umumnya walaupun usia mereka sudah dewasa.


Rubel segera memberikan Hana air minum, obat anti mual dan vitamin sebelum berangkat.


" Sayang minum ini yah." ucap Rubel lembut.

__ADS_1


Hana meraih obat anti mual dan vitaminnya dan kemudian meminumnya.


Mereka semua telah bersiap untuk berangkat ke Bandara, semua orang ikut mengantar kan mereka ke Bandara Soetta.


" Rubel ibu titip Hana yah." ucap ibu pelan, dia tidak ingin Hana merasa sedih.


" Iya Rubel titip Hana yah nak." ucap Ayah.


" iya Bu, Ayah insyaallah Rubel akan jaga Hana." ucap Rubel sambil menyalami Ibu dan Ayah.


" Semoga Hana bisa segera sembuh yah sayang." ucap ibu tetap tegar walau hatinya sangat pilu. sambil memeluk anak semata wayangnya, dan disusul sang ayah. mereka semua pun berpamitan dengan kedua om dan tantenya dan juga Haikal dan Mila.


******


Selama perjalanan tidak ada drama yang menyulitkan Rubel, bahkan para pramugari di pesawat pun membantu mereka untuk bisa masuk dengan nyaman. 7 jam perjalanan hanya di habiskan Hana dengan tidur. wajah nya terlihat sangat lelah. ini adalah perjalanan pertama nya ke luar Negeri tentu saja perjalanan yang tidak biasa dengan kondisinya yang lumpuh. tapi walaupun seperti itu Rubel terus menjaga Hana dan menanyakan apa yang Hana inginkan. tidak berapa lama mereka tiba di Bandara Kingsford Smith Sydney Australia.


Rubel mendorong kursi roda Hana menuju parkiran. Lia dan Dainan memisahkan diri menuju rumah mereka masing-masing. sedangkan Rubel, Hana dan Mama memilih untuk pulang ke Rumah Mama. mereka segera masuk ke taxi yang memang sudah ada di parkiran Bandara. tibalah mereka semua di Rumah.


Papa Joe membuka pintu dia terkejut bahwa Mama pulang tanpa memberi kabar , bersama Hana dan Rubel. sebelumnya Mama pun jarang menelpon Papa Joe selama di Indonesia.


" Aku kangen sama kamu honey." ucapnya begitu rindu dan memeluk Mama Melisa dengan erat. papa Joe terkejut melihat Hana duduk di kursi roda.


" What happened?" tanya Papa Joe bingung. sambil memeluk Rubel dan menyalami Hana. dan dengan segera menyuruh mereka untuk masuk kedalam Rumah.


" Hana jatuh Pa." ucapnya pelan tanpa melihat kearah Rubel.


" Oh, maaf mudah-mudahan kamu bisa segera sembuh." ucapnya berempati.


" Aamiin, terimakasih Pa."


" Ya Sudah kalian berdua beristirahat lah, untung Bibi sudah saya suruh bersihkan kamar Rubel jadi kalian bisa beristirahat langsung." ucapnya begitu perhatian.


" Terimakasih Pa." belum sampai Rubel masuk ke kamar tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi. Mama Melisa dan papa Joe sudah lebih dulu masuk dan berganti pakaian. Bibi bergegas membuka pintu.


" Eh Non Tasya." ucap Bibi takjub. sambil menyalami nona nya yang sudah lama tidak berkunjung.


" Kak Tasya??" tanya Rubel tak percaya dia segera berjalan menuju pintu.


" Hei bocah ingusan." teriak perempuan itu begitu keras. dan menghampiri Rubel sambil mengacak-acak rambutnya.


" Rubel bukan bocah ingusan Kak." ucapnya kesal. sambil merapikan rambutnya


Hana yang mendengar suara perempuan berteriak segera berjalan ke arah luar. dan mendorong perlahan-lahan kursi roda nya kearah pintu.


" Sayang." panggil Hana pada Rubel.


" Iya." jawab Rubel pendek dan tersenyum pada Hana.


" Siapa dia??" tanya Tasya bingung.


*****


Tasya adalah kakak kandung Rubel selama ini dia tinggal di Melbourne, dia jarang berkunjung ketempat mamanya. bisa dihitung satu tahun satu kali itu pun kalo ada hari Raya Idul Fitri. selama ini dia tidak pernah tahu perkembangan apapun tentang keluarga nya, karena kesibukannya Mama Melisa enggan memberitahukan nya soal apapun, termasuk pernikahan Rubel dan Hana yang menikah secara tiba-tiba.


*****


" Sayang kenalin ini Kak Tasya Kakak nya Ino." Ucap Rubel pada Hana.


" Hana." ucap Hana pada Tasya sambil menyalami Kakaknya Rubel dan mencium punggung tangan kakak ipar nya itu.


" Hana??" tanya dia bingung. sambil melirik kearah Rubel berharap ada jawaban dari kebingungan nya.


" Iya isteri Rubel." ucap Rubel cepat membuat wajah Tasya semakin bingung.


" Isteri??" tanya Tasya masih belum percaya apalagi sang Mama tidak pernah bercerita apapun selama ini padanya.


" Kita masuk dulu yok Kak." ajak Rubel. Tasya masih dalam kebingungannya. mereka pun duduk di sofa sambil selonjoran kaki. kecuali Hana dia tetap duduk di kursi roda nya.


Hana tiba-tiba mual dan muntah begitu banyak. Rubel segera bergegas menggendong Hana ke kamar dan masuk ke kamar mandi. bibi yang melihat segera membersihkan muntahan Hana.


Mama dan Papa Joe segera keluar kamar mendengar Hana muntah. Tasya terlihat semakin bingung dengan keadaan Hana. dia pun segera mengintrogasi Mama nya yang baru saja duduk di sofa.


" Ada apa ini Ma??" tanya Tasya bingung.


" Oh iya Hana lagi kurang sehat, mungkin kecapean baru aja kita sampe dari Indonesia." ucap Mama menjelaskan.


Tasya, tidak ambil pusing perkataan mamanya ada benarnya.


" Tapi, mama kok gak kasih kabar tentang pernikahan Rubel, dan ngapain Mama dari Indonesia??" tanya dia benar-benar kesal.


Tiba-tiba Mama nya menangis, dia benar-benar lupa mengabari anak sulungnya tentang meninggal Nyainya. karena pada saat itu dia terburu-buru berangkat ke Indonesia.


" Why, kenapa Mama menangis??"


" Ada apa Papa Joe? Tanya Tasya semakin bingung.


" Maafin Mama nak, karena kamu terlalu sibuk, dan Mama juga berangkat terburu-buru." ucapnya begitu lirih.


" Ada apa Ma??" ucapnya semakin keras. sambil mengguncang tubuh sang Mama.


" Nyai sudah meninggal." ucap Mama pelan dan membuat dia semakin bersedih.


" Astagfirullah." Tasya terkejut dia sungguh tak percaya Mama nya bisa lupa mengabari nya tentang dua Hal.


Dia pun mendo'kan sang Nyai. sambil mengelus lembut pundak sang Mama.

__ADS_1


" Maafin Tasya yah ma." ucapnya ikut bersedih. karena kesibukan Tasya, Tasya tidak pernah mengabari mama dan jarang banget ngunjungin Mama." ucapnya berusaha baik-baik saja, walaupun dia sangat rindu dengan Nyai karena sejak dua tahun lalu Nyai ikut dan tinggal bersama Rubel di Indonesia.


" Maaf ya Author baru bisa update lagi, Jangan lupa vote like dan komennya yang banyak terimakasih 😍🤗."


__ADS_2