
Hari ini hari sabtu. Tentu saja waktu nya berlibur. Tapi Rubel tidak menyangka weekend minggu ini Dia harus menunggu Perawat Nyainya di Rumah Sakit. Waktu menunjukkan jam 7 pagi.
Dilihatnya Ibu telah bangun merapikan Sofa dan Hana masih terlelap tidur di bednya.
“ Ibu, Rubel pulang dulu yah!” pamitnya pada Ibu Hana.
“ Nanti Rubel balik lagi.” terangnya.
“ Iya, dok.” Jawab Ibu.
“ Jangan panggil dokter Bu, panggil aja Rubel.” Dia merasa Tidak enak dengan sebutan itu.
“ Baik, nak Rubel. ” Jawab Ibu. Rubel pun berlalu meninggalkan ruangan Hana.
Rubel telah sampai dirumahnya, seperti biasa kamar Nyai tujuan utamanya pulang. dan menanyakan keadaan Nyainya.
“ Nyai, sehat?” tanya nya perhatian.
“ Alhamdulillah, sayang. Nyai sehat dan baik-baik aja.” Jawab Nyai.
“ Kamu kemana aja? Nyai khawatir. Biasanya selesai praktek Kamu langsung pulang.”
Rubel memeluk Nyai nya dengan sayang.
“ Rubel, bawa Hana kerumah Sakit Nyai.” Ujarnya menerangkan.
“ Terus, bagaimana keadaannya?” tanya Nyai antusias.
“ Kondisinya.” Baik baik aja Nyai Cuma ngedrop. Setelah di infus Hana akan lebih baik.” Ujarnya menenangkan.
Rubel menyembunyikan kondisi Hana. Dia tidak ingin Nyai nya ikut khawatir. Secara Nyai nya begitu perduli walaupun baru mengenal Gadis bernama Hana itu.
Dia menghembuskan nafasnya perlahan. Berharap ada kemudahan untuk kesembuhan Hana. Nyai memandang wajah Rubel begitu heran.
“ Apa kamu baik-baik aja sayang?” tanya Nyai padanya.
“ Sepertinya Kamu sedang merisaukan sesuatu? ” Tanya Nyai lagi.
“ Ah, enggak apa apa Nyai. Mana mungkin Ino merisaukan Perawat KW itu.” ujarnya.
Nyai tersenyum mendengar penjelasan Rubel.
“ Sepertinya Ino lagi Jatuh cinta yah sama Perawat KW itu?” Sindir Nyai nya.
Rubel tersentak dia tidak bermaksud mengatakan sejujurnya. Tidak menyangka jawaban itu seperti bumerang baginya.
" Ah Nyai bisa aja." jawabnya dengan wajah memerah.
**** ****
Di Rumah Sakit, Hana terbangun, dilihatnya jam menunjukkan pukul 10 pagi Dia melihat keseluruh ruangan.
Tak ada siapapun diruangan itu. Baru kemarin Dia masuk keruangan itu, tapi Dia merasa sudah 1 bulan diruangan itu.
Sangat jenuh. Diambilnya remote TV dan menghidupkan nya. Tiba-tiba Ibu datang membawakan bungkusan pakaian dan handuk.
“ Ibu dari mana?” tanyanya.
“ Dari, pos satpam Sayang.” Jawab Ibu menerangkan.
“ Tadi Ayah menitipkan bungkusan handuk dan pakaian ini." jawab Ibu sambil menyodorkan bungkusan itu ke pada Hana.
“ Ayah belum bisa menjengukmu, hari ini ada kerjaan yg harus diselesaikan.” Ujar Ibu menjelaskan.
Hana mengerti jika Ayah nya tidak bekerja, maka hari ini mereka tidak akan dapat uang. Dan otomatis Ibu tidak akan bisa belanja untuk makan sehari-hari.
Hana, melihat Chanel TV nya. Rasa bosan Menyergapnya. Dia ingin sekali keluar ruangan melihat suasana dirumah sakit. Tapi kepalanya masih terasa pusing.
“ Bu, Hana pengen keluar.”
" Bosan diruangan ini.”
Ibu hanya menggelengkan kepala tak menyahut.
“ Bu, dorong Hana pake kursi roda itu aja.” Rengeknya seperti anak kecil.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ada Seorang Perawat cowok menghampiri Mereka. Dia bertugas untuk memeriksa tekanan darah Hana.
“ Maaf, Mbak Saya mau memeriksa tekanan darah Mbak.” Jelasnya.
“ Oh iya gak apa apa.” Jawab Hana.
Setelah diperiksa, kondisi Hana ada sedikit peningkatan.
“ 80/90 mmhg.” ujarnya pada Hana.
Dan mencatatnya pada kertas status Hana. Hana mengangguk pelan.
“ Boleh, kah Aku keluar?” Aku bosan di dalam kamar." Ujarnya menerangkan.
Perawat itu mengangguk, mengambilkan kursi roda yang ada dibalik pintu. Ibu coba mencegah Hana. Tapi Perawat itu meminta dirinya untuk menemani Hana.
" Enggak apa-apa, Bu mbak Hana akan Saya temani jalan-jalan."
Sambil Membantu Hana duduk dikursi rodanya dan Mengangkat infusnya menaruh di pangkuan Hana.
Mereka Pun keluar ruangan. Di ruang jaga Perawat itu meminta izin untuk membawa Hana keluar taman sebentar.
Di Sebuah taman.
“ lihat kebunku, Penuh dengan bunga, ada yang merah, dan ada yang putih setiap hari kusiram semua mawar melati semuanya indah.”
Perawat itu tiba-tiba Bernyanyi, dan wajahnya tersipu. Dia mencoba menghibur Pasiennya.
" Maafin aku yah Mbak Hana." ujarnya menghibur.
__ADS_1
Hana tertawa, Dia tidak menyangka akan dihibur seperti itu. Mereka pun tertawa. Bercerita tak tentu arah itu membuat Mereka terlihat akrab dan sesekali diiringi canda dan tawa.
Di ujung pintu masuk kerumah sakit, seseorang memperhatikan keduanya. Cowok ganteng itu tak lain dan tak bukan Si Dokter Cool.
Di tangannya Dia membawa parcel buah. Mata nya sinis melihat pemandangan itu.
“ Dasar perawat KW, masih sempat-sempatnya dia berduan dengan Perawat cowok itu, padahal Dia sendiri sedang sakit.” Ujarnya kesal.
Dia lupa. Disampingnya ada Nyai dan Bibi yang sedang mendorong kursi roda sang Nyai.
Nyai dan Bibi tersenyum-senyum.
Pemandangan itu tidak biasanya. Mereka tidak pernah melihat Rubel seperti orang cemburu.
Nyai berdehem, membuat Rubel Terlihat kikuk.
“ Kenapa, Kamu cemburu?” Sindir nyai sambil tersenyum.
“ Ah, Nyai bisa aja. masa Rubel cemburu sama Perawat KW itu?” Tukasnya mengelak.
Nyai memanggil Hana dari kejauhan.
“ Hana”. karena merasa dirinya dipanggil Hana menoleh ke arah sumber suara.
Perawat cowok itu mendorong Hana ke arah tiga Orang itu.
“ Gimana kabar Kamu sayang?” Tanya Nyai begitu perhatian. Disalami Nyai dan Bibi. Tanpa memperdulikan wajah Rubel.
“ Alhamdulillah Nyai Hana udah mendingan.” dia berpura-pura tidak melihat Rubel dia meminta Perawat cowok itu untuk mengantar nya ke kamar. Dan ke 3 orang itu mengikutinya.
Rubel menaruh parcel buah itu di atas lemari kecil dekat bed Hana. Dia berlalu keluar tanpa berbicara kepada siapapun. Hana tersenyum dia merasa senang telah membuat Rubel seperti orang sedang cemburu.
Nyai dan Bibi tersenyum mereka tahu Hana sedang mengerjai rubel.
“ Maafin Hana yah nyai.” Nyai hanya tersenyum.
“ Nyai, Nyai ingat siapa Hana?” tanya nya penuh harap.
Tiba-tiba, ibu datang dan duduk bersama, menyalami Nyai dan Bibi. Nyai terbelalak, Wajah itu tidak berubah sedikitpun Dia melihat dengan seksama.
Dipeluknya wanita yg ada didepannya.
“ Wati?” tanya Nyai tak percaya.
Karena ibu telah menggunakan kerudung.
“ Iya Mak, Ini Wati.” Jawab Ibu.
Nyai begitu mengenal Ibu, Dia adalah pelanggan setia Ibu . Apapun yg dibuat Ibu selalu enak baginya.. Mereka berpelukan dan menangis haru. Nyai tidak menyangka semua ini, dan tiba-tiba dia bertanya.
“ Apa, ini Ana kecil ku?” tanya Nyai begitu tak percaya. Nyai begitu kenal dengan Hana.
“ Gadis cilik ini dulu selalu datang mengunjungiku, dengan membawa bunga-bunga ditangannya.”
" Dia dan Rubel selalu saja berdua, mengaji, pergi kesekolah, dan sampailah pada hari mereka dipisahkan oleh Ibunya Rubel.” Kenang Nyai begitu lekat.
“ Tapi apa sayang?”
“ Boleh kah Hana meminta sesuatu sama Nyai?” pintanya penuh harap.
“ Ino, jangan tahu tentang Ana?”
“ kenapa, sayang?”
“ Ana, mau Ino berusaha mencari Ana.. Memperjuangkan cinta kami. Dia berjanji akan datang menemui Ana. Ana tidak menyangka akan dipertemukan dengan cara yang berbeda, lagian Ino yang sekarang jutek."
" Gak ada romantis - romantisnya.. Ana gak suka lihat Ino.”
"Walaupun Ino yang sekarang sangat ganteng.” ujarnya jujur.
Tiba tiba Rubel kembali kekamar, Hana tersentak kaget. Dia takut ucapannya di dengar Rubel.
Rubel menatap heran melihat Hana memeluk Nyainya erat. Tiba-tiba dia nyeletuk.
" Ngapain peluk-peluk Nyai orang. Iihat tu darahnya dah naik ke selang infus." menunjuk ke arah selang infus.
" Kenapa kamu bisa ceroboh." Dumelnya kesal.
Hana kembali duduk dikursi rodanya. Rubel meminta Perawat untuk menyuntik karet selang infusnya agar darah bisa lancar kembali..
“ Kamu menangis? Tanyanya heran.”
Hana hanya menggelengkan kepala.
Dia tidak ingin membahas apapun tentang itu. Cukup mereka berempat saja yang tahu. Rubel melihat wajah Ana begitu lekat, dia bingung kenapa mereka semua.
" Apa yang telah mereka sembunyikan dari ku." Gumannya dalam hati.
Ana berusaha naik ke bednya. Ibu sedang keluar membawa Nyai dan Bibi untuk berjalan-jalan diluar.
Rubel tidak menyadari bahwa Tinggal mereka berdua dikamar. Rubel melihat kearah ponselnya membaca, sebuah artikel tentang penyakit Neutropenia. dan terapinya. Dia membaca nya dengan sangat teliti, isi artikel tersebut mengubah pola makan agar nutrisi tubuh terpenuhi, berhenti mengonsumsi obat yang menyebabkan Neutropenia memburuk dan suplemen yang dapat membantu meningkatkan produksi Neutrofil pada sumsum tulang.
Dia melihat kearah Hana. Hana terlihat begitu lemas. Wajahnya sangat pucat. Dia menghampiri Hana. Hana memejamkan matanya.
Wajah ini terlihat sangat cantik walau pun pucat. Dia mendekatkan wajahnya. Mendekatkan jarinya dan tangan gemas itu mencubit hidung Hana yang mancung.
“ Au, sakit.” Teriak Hana. Reflek tangannya menutup mulut Hana. Dan Hana menggigitnya.
“ Rasain.” Hana membalas perlakuan Rubel padanya.
Rubel meringis kesakitan, dia malu bergaduh. Ditahannya, dan memejamkan matanya pertanda sakit.
“ Duh, ringisnya pelan." sambil monggosok - gosok tangannya.
" Bisa – bisa rabies ujarnya asal.
__ADS_1
“ Apa?” tanya Hana dengan intonasi ditekan.
" Coba ulangin sekali lagi?!" ujar Hana tak percaya.
“ Rabies.” Ujar nya ulang. Ana ingin marah tapi kepalanya terasa begitu pusing dan sangat mual.
“ Uek.” Dia ingin muntah. Rubel tersadar bahwa Hana akan mengalami ini. Diambilnya pispot yang ada dibawah bed Hana.
“ Muntahin, aja.” Ujarnya perhatian.
Lagi-lagi perasaan aneh itu muncul tanpa di undang.
"Huft, rasa apa sih ini." Bathinnya aneh.
Pintu dibuka oleh Bibi, Nyai mengajak Rubel untuk mengantarkan pulang. Nyai menghampiri Hana. memeluk dan menciumnya sangat erat.
" Nyai pulang ya sayang." pamit Nyai pada Hana.
Rubel melirik semakin aneh.
" Kenapa yah Nyai begitu akrab dengan Perawat KW ini?" tanya nya dalam hati.
Bibi mendorong kursi roda Nyai dan mereka pun keluar.
Rubel membisikkan sesuatu pada Ibu.
" Ibu, Rubel titip Hana yah!" Hana gak boleh ditinggal sendiri.
" Kebersihan Hana harus dijaga."
" Buah-buahan itu harus dicuci bersih terlebih dahulu. baru bisa diberikan kepada Hana, dan satu lagi."
" Jangan biarkan Hana pergi keluar sendiri."
" Apalagi dengan perawat-perawat cowok disini. mereka genit-genit." jelasnya mengingatkan.
Membuat Hana dan Ibu tertawa. Dia pun berlalu.
Tinggal lah mereka berdua. Hana tersenyum melihat tingkah Rubel yang konyol bin aneh. Dokter Cool itu memang membuatnya terhibur.
" Seandainya Rubel tahu. siapa aku, apakah dia masih ingin jutek padaku." batinnya dalam hati. Hana hanyut kedalam lamunannya. mengingat masa kecilnya yang begitu indah.
Ino kecil yang lucu dan romantis.
Mereka selalu berdua, pergi sekolah, pergi mengaji, memetik buah seri, memetik bunga di halaman Rumah Orang tanpa izin, kemudian berlari bersembunyi saat Sang Empunya Rumah keluar. setelah Sang Empunya masuk kembali mereka berlalu pergi dan tertawa.. membawa bunga itu kerumah Nyai dan hal-hal lucu lainnya.
Hana pun terlelap mengenang masa kecilnya.
Ditempat lain didalam mobil. Rubel bersama Nyai dan Bibi.
Tiba-tiba Rubel bersuara.
“ Nyai, Nyai sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan dari Rubel?” tanya Rubel penasaran.
" Tidak ada sayang." Jawab Nyai singkat. Rubel melirik ke arah bibi melihatnya dari kaca.
Wajahnya penuh tanda tanya. Bibi hanya diam mengalihkan pandangannya keluar jendela. Rubel semakin penasaran dengan orang-orang terdekatnya.
" Apa yang mereka simpan dari ku, kalo Mereka tetap bungkam Aku akan cari tahu sendiri." Gumannya kesal.
Tibalah mereka dirumah. Rubel membantu Nyainya turun, dan Bibi menyiapkan kursi roda. Mereka pun berjalan dengan berdiam diri.
Rubel bingung hal itu tidak biasa baginya. Ah sudahlah, pasti si Perawat KW itu yang telah meracuni pikiran Nyai dan Bibi. Maki nya dalam hati.
Dia berjalan kedalam kamar. Mencoba membersihkan diri karena waktu sebentar lagi magrib. Setelah selesai mandi, dia keluar dari kamarnya, berjalan keluar rumah menuju Mushola.
Azanpun berkumandang, imam pun telah didepan dan mereka pun sholat. Selesai sholat orang-orang bergegas pulang, tapi tidak dengannya. Dia, ingin mengadu semua kegelisahannya sama Allah.
Dia begitu gundah saat orang-orang diam berpura-pura tak mengerti maksud pertanyaannyaa.
Setelah dia berzikir, dia pun berdo’a.
"Ya rabbi, buanglah rasa gelisah ini. Apa yang sebenarnya ingin Engkau tunjukkan pada hamba. Sungguh hamba hanyalah manusia kecil tak berdaya. Hidup dan mati hamba adalah hak Mu. Segala kepunyaanku adalah titipan Mu, Ya Rabbi, mengapa hati ini kian gelisah saat pertemuan dengan gadis bernama Hana itu. Siapa dia? Mengapa dengan dia? Ya Rabbi jodoh dan mautku hanya Engkau yang lebih tahu dari segalanya.
Hanya satu inginku pertemukanlah aku dengan gadis kecilku Ana. Aamiin.
Tak terasa air mata mengalir dipipinya.
Dalam diam seseorang mendengarkan kan do’anya. Seorang Gadis cantik jelita berinisiatif menunggu di depan pintu Mushola.
" Siapa lelaki yang telah berdo’a itu?" Bathinnya penasaran.
Rubel berjalan dan ingin keluar dia melihat gadis itu, dia heran, apa Gadis itu mendengarkan do'anya.
Ada rasa malu menyergapnya. Aduh kenapa harus ada orang yg mendengarkan dia sedang berdo’a. Ujarnya dalam hati.
Dia pun berlalu meninggalkan gadis itu. Gadis itu terpana melihat Rubel.
" Aduh ganteng nya. Ujarnya membathin dan melihat Rubel tanpa berkedip. Dia berusaha memanggil Rubel tapi Rubel telah menjauh.
Aduh keasikan menghayal batal deh kenalannya. umpatnya dalam hati.
" Siapa dia, aku pikir tidak ada lagi laki laki keren kaya dia, udah ganteng, soleh lagi. ujarnya dalam hati dan berlalu meninggalkan Mushola.
Rubel telah sampai dirumahnya, Nyai telah menunggunya di meja makan, walaupun ada sedikit kesal tapi Rubel tidak ingin menunjukkan hal itu pada nyainya, di raihnya tangan dan disalami nyainya.
Wanita itu telah mengurusnya dari Dia masih bayi. wanita tua yang selalu ada saat dia butuhkan. tidak ingin dia menyakiti wanita kesayangannya.
Karena hanya dia yang begitu paham hidup Rubel, ibu nya pergi ke Australia saat dia masih bayi. Ibunya pergi saat konflik rumah tangga dengan ayahnya Rubel kandas. dipeluk wanita itu dicium pipinya.
" Maafin Rubel yah Nyai." ujarnya lembut.
" Maaf kenapa sayang." tanya nyai.
Rubel berpura-pura tak ada masalah.
__ADS_1
" Gak apa-apa Nyai hanya soal tadi." ujarnya menerangkan, dan duduk disamping Nyai untuk makan malam.
Mereka pun makan dengan lahab.