Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 30


__ADS_3

Pagi ini matahari sangat cerah, Rubel bangun dari tempat tidurnya, di lihat jam dinding telah menunjukkan jam 8 pagi.


"Astagfirullah." Dia kaget matahari begitu cepat beranjak dia tidak menyangka tidurnya telah melampaui batas dari hari-hari biasanya. terdengar suara kursi roda nyai nya berjalan ke arah kamar itu.


" Rubel udah bangun?" tanya Nyai nya.


" Nyai kenapa Rubel tidak dibangunkan sholat subuh?" tanya Rubel pada nyai nya.


" Maafin nyai yah sayang, Rumah ini begitu luas nyai ingin sekali membangunkan Rubel tapi subuh tadi badan Nyai terasa sangat lelah." ujar Nyai nya mengeluh.


" Gak apa-apa nyai.. ini salah Rubel sendiri, padahal tadi sudah terdengar sayup-sayup suara azan Subuh tapi mata Rubel sangat susah untuk dibuka dan akhirnya kebablasan tidur lagi." ucapnya menjelaskan.


Rubel segera meraih kursi roda nyai nya, pagi ini dia mengajak nyai nya berkeliling rumah itu. rasa penasaran mengusik hatinya tentang Rumah Megah itu.


" Nyai ada lihat Ana?" tanya Rubel pada Nyai.


" Ana bantuin bibi masak di dapur." jawab nyai . mereka pun berjalan menyusuri setiap jengkal rumah itu, tibalah mereka melihat sebuah Ruangan terbuka, Rubel mendorong nyai nya masuk ke ruangan itu.


Mereka terkesima melihat sebuah foto besar terpampang di ruangan itu. seorang laki-laki tampan didampingi seorang wanita cantik dan ketiga anaknya. Rubel melihat foto gadis perempuan itu wajahnya mirip sekali dengan Hana.


" Nyai foto gadis itu mirip sekali dengan Ana yah." ujarnya pada nyai.


" Iya, ini pasti foto ibu nya Ana si wati." Jawab Nyai nya.


Rubel mengangguk, dia melihat ke sekeliling ruangan itu. banyak barang-barang antik dan mewah. jam bandul kikuk, sofa biedermeir, meja marmer antik, dan guci teko cupu Raja Naga, Rubel merasakan sedang berada di Zaman Dinasti. pikirannya melayang jauh, menghayal Dia dan Hana berpakaian jubah seperti Kaisar dan Selir. Rubel tersenyum sendiri. Nyai yang melihatnya segera membuyarkan lamunannya.


" No, kok senyum-senyum sendiri?" tanya nyai padanya.


" Ino cuma menghayal Ino dan ana pakai baju jubah seperti Kaisar dan syelir." ujarnya menerangkan.


" Macam-macam aja." ujar nyai nya.


" Kalo seandainya ino dan ana menikah dengan pakaian itu pasti keren." timpalnya lagi.


Nyai nya hanya ber dehem dia tidak mengira cucunya menghayal begitu jauh. tiba-tiba suara Hana memanggil.


"Nyai, Ino dimana?"


"Udah waktunya sarapan." teriak Hana pada mereka berdua.


Rumah itu memang sangat luas karena barang-barang dirumah itu tidak banyak suara Hana terdengar bergema di rumah itu. mereka pun segera keruang makan.


Hana duduk setelah semua sarapan di sajikan oleh bibi. ada nasi putih, dadar telor, sambal tempe dan kerupuk. mereka bertiga pun sarapan.


"Nyai ponsel Rubel masih di rumah Om Purnawan." Ujarnya pada nyai.


"Coba kamu minta tolong Haikal untuk mengambilnya." usul nyai padanya.


" Ngomong-ngomong Haikal kok gak nampak batang hidungnya?" ucap Rubel.


" Haikal udah berangkat tadi pagi katanya dia mau meeting dengan manager cabang HK cafe dan restonya." jelas Hana pada Rubel.


" Dia memang luar biasa, di usianya masih muda dia sudah mempunyai usaha yang berkembang sangat pesat." ucap Rubel.


" Yah wajar lah keluarga mereka memang keluarga konglomerat, sudah tentu kesuksesan nya menurun dari orang tuanya." jawab Nyai.


" Tapi Ayah dan Ibu Ana bukan keluarga konglomerat." potong Hana pada Nyai dan Rubel.


" Ya karena Ibu dan Ayah Hana lebih memilih jadi orang yang luar biasa bukan konglomerat hartanya tapi konglomerat hatinya."


Hana tersenyum Nyai benar Ibu dan Ayah Hana memang bukan lah keluarga konglomerat harta, tapi mereka sangat - sangat baik hatinya.


Terdengar suara mobil berhenti di halaman Rumah itu. bibi bergegas membukakan pintu. dia mempersilakan tamunya untuk masuk. seorang laki-laki dan 2 orang perempuan masuk kedalam.


Hana dan Rubel bergegas menemui tamunya. Hana bingung dia tidak tahu siapa mereka.


" Om Purnawan, maaf kami tidak menyambut Om." ucap Rubel kepada tamu nya yang tidak lain adalah Om nya Hana.


Hana memandang laki-laki itu sangat lama, wajah nya hampir mirip dengan om Purwanto tapi tubuhnya tidak terlalu tinggi seperti om Purwanto.


Sedikit ragu-ragu dia mencoba untuk menyalami Om nya. salam itu di sambut dengan hangat oleh Om Purnawan.


" Kamu Hana?" tanya om Purwanto.


" Iya om." jawab Hana terbata. ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Abang Ibu nya.


" Sini nak." pintanya pada Hana dan memeluknya dengan lembut. ada sepasang mata sedang menatap Hana dengan sinis dia tidak suka Papanya memeluk Hana.


" Ini Tante Merry istri Om." ujarnya memperkenalkan istrinya kepada Hana. Tante pun memeluk Hana.


" Maria kenalkan ini Hana, dia sepupu kamu anaknya Tante Purwati." ucap Om Purnawan kepada Maria. Hana mengulurkan tangannya tapi Maria menepis salam itu. Hana menarik tangannya. sambil menelan Saliva nya.


" Maria, jangan begitu Hana itu saudara sepupumu." ucapnya pada maria. Maria membuang muka ke arah lain.

__ADS_1


" Maafin Maria yah sayang. Maria emang begitu ini karena om terlalu memanjakan nya." ucap Om Purnawan.


" Om dan tante silahkan duduk dulu, ucap Hana sedikit ragu-ragu dan malu."


" Maaf yah om, Hana seperti tuan rumah tapi rumah ini bukan punya Hana." ujarnya pada om Purnawan.


" Jangan begitu, Rumah ini adalah hak nya Ibu mu, berarti Rumah Hana juga." jelasnya pada Hana.


Nyai mendorong pelan kursi roda ke ruang tamu. dan segera menemui tamu nya Hana.


" Om, Tante ini Nyai nya Rubel." Ujar Rubel kepada Om Purnawan.


Om Purnawan, dan istrinya pun bangun kemudian menyalami Nyai.


Nyai berusaha, ramah walaupun sebenarnya dia sangat sedih melihat orang yang telah menyakiti cucunya ada di hadapannya.


" Ibu mu kemana nak?" tanya om Purnawan kepada Hana.


" Oh Ibu pulang ke kerumah Om. tapi nanti juga kesini. karena kami disini tidak lama mungkin besok kami semua akan pulang kerumah semuanya." ucap Hana menjelaskan.


" Tapi Rumah ini kan Rumah nya Hana?" ucap om Purnawan.


" Kami cuma numpang sama om Purwanto om." ucap Hana pelan.


" Rumah ini bukan rumah om, tapi Rumah keluarga om." Tiba-tiba om Purwanto beserta kedua istrinya dan kirana muncul.


Kirana memasang wajah kecutnya ke arah Hana. Kirana memang belum tahu apa yang telah terjadi, sehingga dia masih menyimpan dendam kepada Hana.


" Hana kenalin ini Tante lyra istri pertama om dan ini Tante Virna istri kedua Om Mamanya Kirana." ucapnya memperkenalkan istri-istrinya kepada Hana.


Hana pun menyambut mereka dengan senang, satu persatu disalaminya. Kirana memasang wajah juteknya.


"Kirana, kenalkan ini Hana..."


" Udah kenal sebelum papa kenal Kirana udah duluan kenal." ucapnya.


" Apakah kamu tahu siapa Hana?" tanya papanya.


" Calon istrinya Rubel." ucapnya cepat.


" Makanya kalo Papa lagi ngomong jangan dipotong." ucap Papanya. seketika wajah Kirana memerah. Papanya selalu saja membela Hana, membuat Kirana semakin menunjukkan ketidak sukaan nya pada Hana.


" Gak apa-apa om Hana dan Kirana memang sudah lama kenal." jawab Hana membela Kirana.


" Kirana, Hana anaknya Tante Purwati adik bungsu Papa." ucap Papanya sangat jelas.


" Siapa?" tanya Kirana kurang jelas.


" Sepupu mu." ucap papanya.


" Sepupu?" tanya Kirana tak percaya.


" Kok bisa?" tanya nya tak percaya.


" Iya bisa, Ibunya Hana adik bungsu Papa, jadi Hana sepupunya Kirana dan Haikal juga Maria." jelas papanya.


" Maria siapa?" tanya dia bingung, karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan keluarga besar papyanya.


" Maria anaknya om Purnawan Abang nya Papa." ucapnya.


Om Purnawan bangun dia mendekati keponakannya.yang selama ini di rahasiakan oleh adiknya Purwanto.


Om Purnawan, mengulurkan tangannya kepada Kirana. Kirana membalas salamnya.


" Maria kenalin ini Kirana." ujar om Purwanto kepada Maria. kirana mengulurkan tangannya, tapi tangannya segera ditepis oleh Maria.


" Busyet." ucap Kirana pelan.


Rubel dan Hana seperti menemukan lawan untuk Kirana, mereka saling pandang, dan memberikan kode tersendiri melihat Maria menepis tangan Kirana.


Barulah Kirana menampakkan wajah ramahnya kepada Hana karena dia merasa tersisihkan oleh perlakuan Maria padanya. secara dia hanya anak dari istri muda Papanya.


Om Purnawan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. dan menyerahkan sebuah ponsel kepada Rubel.


" Makasih om." ucap Rubel pada om Purnawan. jangan berterimakasih ini milikmu yang sempat Om sita." ucapnya pada Rubel


Tiba-tiba bibi muncul dengan membawa teh manis untuk tamunya.


" Permisi Tuan - Tuan dan Nyonya - Nyonya, minumannya agak terlambat maklum tangan Bibi cuma dua." ucapnya menghibur.


" Kalo tangan bibi banyak, kaya Dewi Kwan Im dong." ucap Rubel menyela.


" Den Rubel bisa aja, tapi kan enak kalo jadi Dewi Kwan Im kerjaan bibi bisa cepet kelar, apalagi Rumah ini guede banget." ucapnya membela diri.

__ADS_1


" Hush." Nyai memberi kode agar Bibi bisa diam. Bibi pun hanya tersipu.


" Maaf yah Tuan Bibi kebablasan. maklum orang kampung, ini pertama kalinya Bibi berada di rumah Segede Istana. jadi yah agak-agak norak." jawab Bibi polos.


" Ah Bibi bisa aja." ucap om Purnawan dan Om Purwanto serempak. mereka pun tertawa mendengar kepolosan sang Bibi.


" Kok ada mbak Ana?" tanya Bibi pada Kirana.


" Nama nya Kirana bi, dia sepupu Hana." jawab Hana menjelaskan.


" Sepupu?" tanya bibi bingung.


" Iya, ibu Hana adiknya Papa kirana jadi Hana dan Kirana sepupu an." ucap Hana pada Bibi.


" Aduh maaf yah Tuan maklum Bibi kepolosan jadi nya kepoan. Bibi pamit kebelakang yah Tuan." ucap Bibi dan berlalu meninggalkan semua nya.


Bibi berlalu dengan segera, takut Nyai akan memarahi nya karena mulutnya sangat sulit di kontrol kalo sudah ngomong.


" Ngomong-ngomong kapan kalian akan menikah?" tanya om Purwanto kepada Rubel dan Hana.


" Sebenarnya kami berencana seminggu setelah lamaran kemarin. tapi masih banyak yang harus dipersiapkan." ucap Rubel menjelaskan.


Maria dan Kirana memasang wajah kesal. Rubel sadar ucapannya membuat kedua gadis itu marah padanya.


" Kalo memang persiapan sudah rampung, insyaallah Rubel akan mengabari om." ucap Rubel pada kedua om nya Hana.


" Jangan sungkan untuk kabari kami, untuk resepsinya Om akan membiayai semuanya." jawab Om Purnawan.


" Rubel jadi gak enak merepotkan om." ucap Rubel pada Om Purnawan.


" Enggak lah, Rubel kan akan menikah dengan Hana otomatis Rubel akan jadi keponakan Om Juga." jawabnya pada Rubel.


Hari semakin siang, Hana bingung mau menawarkan makan siang kepada keluarga yang baru dikenalnya itu, karena mereka hanya masak masakan ala kadarnya.


" Om, Tante makan siang disini yah!" ujarnya pada mereka semua.


" Boleh."


" Tapi masakan nya bukan masakan mewah cuma ada sayur asem, ikan asin, lalapan dan sambel terasi." ucapnya menjelaskan.


" Ikan asin?" tanya om Purnawan.


" Maaf om cuma ada ikan asin, kebetulan Ibu buat ikan asin peda sendiri." jawab Hana.


Dia merasa ada sesuatu yang hendak keluar dari matanya tapi dia berusaha keras untuk tidak menumpahkan nya di hadapan keponakan yang baru saja dia temukan.


Makan siang telah di sajikan Bibi di meja makan, semua keluarga ikut makan, kecuali Maria. dia tidak terbiasa makan-makanan itu, dia terbiasa dengan makanan junk food, Chinese food, dan makanan western.


tapi perutnya sangat lapar.


Hana mencoba mendekati sepupunya itu, membawakan sedikit nasi,sayur asem, lalapan sambel dan ikan asin.


" Mar, cobain yah.." bujuk Hana pada sepupunya itu.


Maria hendak menghindar tapi bau sambel terasi itu menggugah selera makannya.


terlebih dulu dia mencicipi lalapan dan mencocolnya ke sambel terasi. seumur-umur ini pertama kalinya dia makan makanan kampung seperti ini. mood booster nya langsung naik berkali lipat. Papanya bingung melihat Putrinya memakan makanan itu.


" Hana makasih yah, makanan nya enak." ujarnya pelan.


" Kalo mau nambah-nambah aja biar kamu sehat. dan si kecil di dalam sana juga ikutan sehat." ucap Hana begitu perhatian. Maria merasa sungkan. karena dari awal mereka jumpa dia begitu kasar kepada Hana.


" Maafin aku yah, udah bersikap kasar sama kamu." ucap Maria meminta maaf.


" Enggak papa namanya juga baru kenal yah wajar. jadi jangan kepikiran yah." ucap nya menenangkan.


Ada sepasang mata yang memperhatikan kedua sepupu itu, tatapan penuh kebencian, melihat Hana dan Maria begitu akrab.


" Dasar caper." dengus Kirana pelan. ucapan Kirana di dengar oleh Om Purnawan. dia merasakan Kirana sangat iri dengan Hana. dan dia pun mendekat.


" Bersikap lah manis pada saudara mu. agar semua orang juga menyayangi mu."ucap Om Purnawan kepada Kirana dengan suara pelan.


Kirana tersipu dia menyadari ucapannya barusan telah di dengar oleh Abang papanya itu.


" Iya, om Kirana akan coba." ucapnya membela diri.


" Hana, Nyai dan Rubel, kami mau izin pulang. terimakasih untuk jamuan makan siangnya. ini makanan terlezat yang pernah kami makan." ucap om Purwanto.


" Maaf yah om Hana gak bisa menyajikan makanan mewah seperti yang biasa keluarga Om makan. ucap Hana


" Gak usah merendah, makanan ini makan termewah yang bisa bikin mood booster, lihat aja Maria yang tadinya gak mau jadi nambah makan." ucap om Purnawan sembari menunjuk ke arah Maria yang sudah 2 kali nambah makan. Maria tersipu saat namanya di sebut-sebut sang Papa.


" Sahabat Dokter Cool bantu vote like dan komennya yg banyak terimakasih 🤗😍"

__ADS_1


__ADS_2