Dokter Cool

Dokter Cool
Bab 20


__ADS_3

Hari telah jam 6 pagi.. Hana membangunkan Rubel yang telah melewati sholat subuh nya.


“ino bangun udah jam 6. Buruan sholat subuh, sebentar lagi matahari terbit.” Ujarnya setengah berteriak.


“apa sih aku masih ngantuk.” Ujar Rubel setengah sadar.


“Bangun matahari sudah mau terbit.” Ucap Hana lagi dengan intonasi lebih lembut.


Rubel membelalakkan matanya. Dia trus beranjak masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan segera sholat subuh.


Hana menyiapkan sarapan, hari ini dia masak nasi uduk dengan Laok ala kadarnya sambal telor, sambal ikan teri dan tempe. Setelah selesai masak bibi membantu menghidangkan sarapan di meja makan. Nyai mencium aroma nasi uduk dari dalam kamar. Dia segera keluar kamar menuju meja makan.


“Wah ana tahu aja makanan kesukaan nyai.” Ucap nyai pada Hana. Hana tersenyum.


“kebetulan ana lagi Rajin nyai. Ucapnya pada nyai. Rubel yang mendengar langsung menyambung.


“Jadi kalo lagi malas gak masak-masak?” ujar Rubel dengan mengangkat ke 2 alisnya.


“Ya enggak lah, biasanya kan ibu yang masak. ana Cuma terima beres.” Jawab Hana seenaknya.


“kalo udah nikah masih malas juga?” tanya Rubel pada Hana.


“kalo udah nikah itu udah beda. “jawab Hana.


“Beda apanya?” tanya Rubel lagi.


“kalo udah menikah itu udah kewajiban. Jadi gak boleh malas-malasan kecuali kalo lagi sakit.” Jawab Hana seperti emak-emak.


“Kalo nikahnya 2 minggu lagi gimana?” tanya Rubel spontan.


Hana tertawa mendengar pertanyaan Rubel yang spontan. Nyai dan bibi kaget, karena mereka tahu Rubel jarang bercanda dalam berbicara.


“Ino bercanda.” Ceplos nya.


“Ino gak lagi bercanda sayang..” ucapnya tegas dan menatap Hana tanpa berkedip.


Hana diam, dia bingung menjawab pertanyaan spontan Rubel. Dia merasa belum siap.


“Ayook makan.” Ujar nyai mencairkan suasana. Mereka pun duduk bersama makan dengan lahapnya. Nyai sampai nambah makan.


Sedangkan Hana belum selesai makan sepiring pun. Dia masih kepikiran perkataan Rubel tadi. Dia bingung harus nangis atau bahagia.


setelah semua selesai makan, Hana melangkah kedalam kamar dia hendak merapikan pakaiannya. sudah waktunya dia pulang kerumah. Rubel memperhatikan Hana yang sedang mengeluarkan pakaian di dalam lemari.


dia segera menghampiri Hana.


"Jangan dikeluarin pakaiannya, biar aja di simpan di sini, bukan kah lemari ini juga akan menjadi lemari nya ana." ucap Rubel lembut.


Hana menatap wajah Rubel dengan mata berkaca-kaca, dia bingung harus berbuat apa. Rubel mendekatinya dan memeluk nya erat.


"kok nangis?" tanya Rubel padanya.


"ana gak suka nikah sama ino?" tanya Rubel padanya.


"Ino, kan pernah janji akan menikahi ana. 15 tahun yang lalu sebelum berangkat ke Sydney." ana ingat?" tanya Rubel lembut.


Hana menatap ino, dia tidak tahu harus bilang apa. bibirnya seperti terkunci. Rubel merangkulnya dan mereka duduk di pinggir tempat tidur. Rubel mendekap Hana, mengusap kepala Hana dan mencium rambut Hana yang harum.


Dia memberikan waktu untuk Hana berfikir. Hana merasa sangat nyaman dalam rangkulan Rubel. air mata haru masih mengalir di pipinya, Rubel mengusap air mata itu lembut. Dia memberikan sebuah kotak berwarna merah yang dia simpan di saku celananya.


"apa ini?" tanya Hana bingung.


"buka aja?" ujarnya pendek.


Hana membuka kotak berwarna merah itu pelan-pelan. dia terbelalak melihat hadiah itu, sebuah kalung emas putih dengan liontin love berwarna pelangi. dia menangis haru.


"kok nangis." tanya Rubel bingung.


"ini kali pertama ana dapat sebuah perhiasan kalung. kalo dulu ana pernah dapat karet gelang." ujarnya sambil mengingat pertama kali Rubel meninggalkannya ke Australia.


Rubel tertawa, dia lupa pernah memberikan ana karet gelang.


"masa sih?" ucapnya tak percaya, ternyata ana mengingat semua masa kecil itu. Rubel tidak menyangka bahwa ana sangat detail mengingat masa lalu mereka.


"udah ah jangan cengeng lagi, setelah ini kita akan resmi menikah, Ino janji akan membelikan perhiasan yang banyak buat ana.


"Gak usah banyak banyak-banyak sekilo cukup." jawabnya Asal.


Rubel terbelalak, dia mencubit hidung ana kuat-kuat. tiba-tiba darah segar mengalir dari hidung Hana. dia lupa gadis itu sangat sensitif tubuhnya.


"ana duduk yang tegak dan arahkan tubuh Hana sedikit kedepan. tutup cupit hidung trus bernafas dari mulut. tunggu sebentar Ino kedapur. ujarnya pada Hana.


Rubel mengambil beberapa es batu, dan mengambil handuk kecil di ruang kerjanya. dan kembali ke kamar dia membalut es itu dengan handuk kecil dan mengompres hidung Hana. dia menatap Hana lekat. sepertinya dia memang di takdir kan untuk merawat cintanya.


"maafin Ino yah." ucapnya pelan. dan terus mengompres hidung Hana. sekitar beberapa menit mimisan itu pun berhenti.


"Sayang hari ini Ino antar Hana pulang yah." ucapnya pada Hana.


"Ino mandi dulu yah, sebentar lagi kita kerumah sakit dulu untuk mengabari orang rumah sakit bahwa Ino udah pulang." ujarnya menjelaskan.


Hana mengangguk pelan. dia tidak jadi mengambil pakaian dalam lemari. dia hanya berpamitan dengan nyai dan bibi..dia berjalan ke luar mencari nyai.. tapi nyai tidak ada di kamarnya. dia berjalan ke arah dapur bibi juga gak ada. akhirnya dia berjalan menuju teras belakang. dilihat nyai dan bibi sedang berlatih cikung dengan Dion. dia menghampiri nyai.

__ADS_1


"Nyai ana mau pulang." ujarnya pelan.


"lah kok buru-buru." tanya nyai padanya.


" Rubel mau kerumah sakit. jadi sekalian nganterin ana." jawabnya menjelaskan.


dia menyalami nyai dan mencium pipi nyai. dan juga bisa nyalami bibi.


"sayang ayo cepat Ino harus kerumah sakit dulu." teriaknya dari dalam.


"ana, dibelakang." jawabnya cepat.


Rubel pun keluar menemui mereka.


"eh, mas Rubel udah balik?" tanya Diko padanya.


"Udah mas semalem." jelasnya pada Diko.


dia melihat ke arah bibi dan nyai yang sedang berdiam diri sambil memejamkan mata.


"nyai dan bibi lagi ngapain?" tanya nya pada nyai dan bibi ."tapi sang nyai dan bibi diam aja.


"Nyai lagi latihan Chikung." Jawab Diko padanya.


"yah udah nyai Ino sama ana pergi dulu yah." ujarnya pada nyai.


".Diko nanti kita ngobrol lagi untuk kerjaan selanjutnya." ujarnya pada Diko. Rubel menggenggam tangan ana dan menggandeng nya menuju garasi mobil, Leo membukakan pintu pagar dan Rubel melajukan mobilnya ke arah jalan raya.


baru seperempat jalan dia teringat sesuatu.


"yah oleh-oleh nya tinggal lagi." ujarnya kesal.


"oleh-oleh?" tanya Hana padanya.


"iya untuk Lila dan Mila juga beberapa teman dokter dan kepala rumah sakit." ujarnya menjelaskan.


"kalo kita balik lagi kerumah gimana kan kita jalan belum terlalu jauh?" tanya ana memberikan solusi.


"kamu gak papa kan pulangnya telat?" tanya Rubel padanya.


"enggak." jawab Hana cepat. mereka pun memutar balik menuju rumah, dia membunyikan klakson mobil agar Leo segera membuka pintu pagar.


"Eh mas Rubel kok udah pulang?" tanya leo bingung. sambil membuka pintu pagar. Rubel segera turun dari mobil.


"leo jaga disini yah aku mau kedalam sebentar ada yang ketinggalan." ujarnya pada leo.


"baik mas." jawabnya pada Rubel.


"Wah mas Rubel repot-repot." ujarnya pada Rubel.


"gak apa-apa cuma ada gantungan kunci aja." jelasnya pada Leo.


"makasih mas." balas nya pada Rubel.


tiba-tiba Rubel membuka pintu mobil sebelah Hana duduk.


"ada apa?" tanya Hana bingung.


"kalungnya mana?" tanya Rubel padanya.


"ini." sambil menyodorkan kotak merah yang dari tadi dipegangnya. diraih kotak itu dan mengambil kalung itu dari kotaknya.


"angkat rambutnya." pintanya pada Hana.


Hana menuruti permintaan Rubel. Rubel memakaikan kalung itu dileher jenjangnya. Rubel mengambil kesempatan untuk mencium leher itu.


"Jiah malah dicium. kenapa sih ambil kesempatan dalam kesempitan." ujarnya agak kesal.


"ssssstttttt." ucap Rubel mengingatkan agar Hana pelankan suaranya. takut di dengar oleh Leo.


"ehm, cantiknya calon istri Ino." ucapnya pelan.


"ah gombal." jawab Hana.


Rubel hendak mencium nya lagi tapi Hana langsung menolaknya. mendorong tubuh Rubel pelan.


"stop yah. gak malu apa sama orang." ujar hana sambil melihat kearah sekelilingnya. Rubel pun mundur dan menutup pintu itu. dia pun masuk kedalam mobil. melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tibalah mereka di parkiran mobil Rumah Sakit Z. Rubel membukakan Pintu untuk Hana,dan mereka berjalan beriringan masuk kedalam Rumah Sakit. Rubel menarik lengan Hana dan menggandengnya.


"jangan ah, malu." ucap Hana merasa tidak enak.


"enggak apa-apa sebentar lagi ana juga akan menjadi istri Ino." ujar nya dengan semangat. dia ingin menunjukkan pada orang-orang dirumah sakit bahwa ana adalah orang yang dia cintai.


"jangan nanti para suster itu pada ngegosip." ujar Hana bersisik.


"Emang itu mau nya Ino, jadi gak ada lagi yang berani deketin Ino lagi, karena Ino udah punya calon istri." jawabnya bangga.


Hana tersipu, wajahnya memerah. dia tidak menyangka bahwa secepat ini Rubel memberikan keputusan untuk segera menikahinya. dengan wajah sedikit malu melewati para perawat-perawat yang melihatnya takjub, dan ada pula melihat kearah mereka dengan tatapan kesal.


tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka.

__ADS_1


"woi, sejak kapan nih resminya." tanya Lila kepada mereka berdua.


"barusan." jawab Rubel cepat.


"secepat itu kah?" tanya Lila tak percaya.


"namanya juga Kilat, yah cepat." jawab Rubel asal.


"emangnya paket ." ujar Hana menyela.


Lila tertawa, melihat kedua orang itu seperti kucing dan anjing yang saling menyela.


Rubel memberikan sebuah bingkisan kecil.


"jangan dilihat dari nilainya yah, tapi dari ketulusan aku memberikan nya padamu " ujarnya sambil menggoda.


Hana hanya tersipu, melihat Rubel menggoda sahabatnya.


"ini, untuk Zanna. sambil menyodorkan kotak kecil ke arah Lila.


tiba-tiba terdengar suara orang menangis meraung-raung di ruang IGD, mereka terkejut suara itu sangat keras sehingga mengganggu ketenangan Rumah Sakit. mereka pun keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"tolong anakku!, tolongin anakku! dok tolong anakku dok. cepat dok. dia berteriak begitu histeris. anak laki-laki itu berlumuran darah di kepala nya. perawat dan dokter jaga hanya bisa membantu sebisanya.


"maaf Bu, dokter bedah sedang tidak ada ditempat. dan dokter pengganti sedang ada jadwal bedah dirumah sakit lain.


"Ya, Rabbi tolong anakku". teriaknya pilu.


"silahkan ibu mengurus administrasi nya dulu. di kasir jawab dokter jaga itu.


"dok tolong dok, saya gak bawa uang saya benar-benar tidak punya uang saat ini. tapi saya janji setelah saya ada uang saya akan membayar nya, saya akan mengutang kemana pun asal anak saya selamat." ujar nya lirih.


Rubel tak tega mendengar tangisan ibu itu, dia segera menghampiri mereka.


"tolong persiapan kan ruang operasi saya akan segera bekerja. dan untuk administrasi nya silahkan ibu mengurus data anak ibu. dan pembiayaan akan saya tanggung." ujar Rubel jelas.


semua orang tercengang, mendengar ucapan Rubel yang cepat tanggap. mereka terpana dengan apa yang Rubel lakukan. mereka segera bertugas sesuai instruksi Rubel. Hana dan Lila terpanah dengan aksi Rubel itu.


"sayang Rubel bantuin ibu ini dulu yah."ucapnya pelan.


"do'ain yah semoga lancar." pintanya pada Hana.


" iya sayang, lakukanlah tugas Ino, ana akan menunggu. semoga lancar yah.." ujar nya menyemangati Rubel.


Lila mengajak Hana ke kamar Zanna. mereka pun disambut zanna dengan suka cita.


"Ibu peri." ucapnya pada Hana.


sambil menyalami Hana, Lila menyerahkan kotak kecil kepada zanna.


"ini oleh-oleh dari om Rubel buat zanna." jelasnya pada zanna.


"ini apa? tanya zanna penasaran.


"buka aja sayang." pinta Hana pada zanna.


sebuah liontin huruf Z berwarna silver.


"wah, cantiknya.om Rubel emang baik yah Tante Hana. ujarnya pada Hana.


"iya sayang om Rubel sangat baik, walupun terkadang dia sangat cuek dan jutek." jelas Hana panjang.


mereka pun tertawa, ucapan Hana ada benarnya.


Lila menanyakan tentang kedekatan mereka.


Hana tersenyum.


" insyaallah secepatnya kami akan menikah, sepertinya dia tidak ingin menundanya lagi." ujarnya pada Lila.


"benarkah?" tanya Lila tidak percaya.


dia tidak menyangka Rubel yang terkenal dingin,cuek dan jutek akan segera melepas masa lajangnya. dan dia tidak menyangka dengan waktu singkat Rubel dan Hana bisa seakrab itu.


"aku selama ini masih bingung. bagaimana kalian bisa akrab secepat ini?" tanya Lila penasaran.


"ceritanya panjang, tapi yang jelas kita gak instan." jawab Hana jelas.


"instan." maksudnya gimana?" tanya Lila semakin bingung.


"aku dan Rubel adalah teman waktu kecil. sebelum berangkat ke sidney dia pernah berjanji akan segera balik ke Indonesia untuk menikah dengan ku apabila dia telah dewasa. ujar Hana menjelaskan.


"oh, pantesan Rubel selalu bertingkah aneh padahal kalian baru ketemu. ujar Lila.


"awalnya aku menyembunyikan identitas ku dari rubel. tapi kejadian demi kejadian dia lewati saat aku sakit. dia bilang aku sering mengigau dan memanggil-manggil namanya dan ucapan ku sama persis seperti terakhir sebelum dia berangkat ke Sydney.


"aku pikir aku tidak akan bertemu dengannya tapi Allah punya rencana untuk mempertemukan kami dengan cara yang unik." kenang Hana panjang.


zanna dan Lila hanya manggut-manggut tanda mengerti.


hai, jangan lupa vote ,like dan komennya yah, terimakasih 😍🤗

__ADS_1


__ADS_2