Dokter Cool

Dokter Cool
Bab 23


__ADS_3

Lila segera memeriksa Hana, tekanan darahnya hanya 70/40 mmHg. kondisi Hana harus segera dibawa kerumah sakit tidak bisa hanya di rawat dirumah.


Rubel tanpa berpikir lama menggendong Hana keluar masuk ke mobilnya, diko telah bersiap di dalam mobil untuk menyetir.. dan Rubel meminta Haikal untuk menyelesaikan makanannya dan mengantarkan nyai dan bibi pulang. ibu dan ayah hendak ikut tapi rubel meminta mereka untuk tetap dirumah, kemudian Diko dan Rubel pergi kerumah sakit, sedangkan Dion dan Lila menyusul mereka dari belakang. suasana suka cita itu berubah menjadi suasana panik.


"Maafin Ino yah sayang, Ino lupa bahwa kondisi Hana tidak baik-baik saja." sambil memeluk Hana sangat era.


Tibalah mereka dirumah sakit. orang-orang pada heran melihat Rubel dengan pakaian kemeja menggendong seorang perempuan yang mengenakan baju semi kebaya. dia meminta perawat-perawat dan dokter jaga untuk mengurus Hana.


"tolong siapin kamar VIP yang biasa Hana menginap." pintanya pada salah seorang dari mereka.


"Dok ruang VIP dan VVIP full." jawabnya cepat.


"Trus?" tanya Rubel tak percaya.


" yang tersedia hanya ruang kelas III. jawab nya cepat.


Rubel sungguh tak percaya, bukan dia tidak mau Hana di ruangan itu, tapi ruangan itu tidak bisa privasi, dan lagi ramainya pasien membuat Rubel sedikit risih, jika harus mengunjungi Hana. tak berapa lama Dion dan Lila tiba. menyodorkan tas jinjing pada rubel.


"ini dari ibunya Hana, ada baju Hana dan juga baju mu kami ambil di kotak seserahan balasan dari keluarga Hana.


Rubel meraih tas itu, dia segera minta tolong sama Lila untuk mencarikan sebuah kamar untuk Hana.


"memangnya ruang VIP dan VVIP tidak ada yang kosong?" tanya Lila tak percaya. karena tidak ada sejarah nya rumah sakit itu ruang VVIP dan VIP penuh.


"Kata mereka full." sambil menunjukkan ke arah perawat dan dokter jaga.


Lila berfikir keras, dia tahu Rubel tidak ingin di ruangan kelas III. tapi tidak ada jalan lain.


"bagaimana sambil menunggu ruang VIP kosong kita ambil dulu ruang itu." ujar Lila mencoba memberi solusi.


"lama?" tanya Rubel cepat.


"belum tahu, jika ada yang keluar hari ini maka Hana bisa segera kita pindahkan." ujarnya menjelaskan.


Rubel menghela nafas panjang, walaupun berat dia harus menerimanya dengan lapang dada. Hana telah masuk keruangan itu, di ruangan yang berjumlah lebih 6 orang yang telah mengisi ruangan kelas 3 itu, Rubel hapal betul ruangan itu hanya di sekat dengan tirai kain, ruangan yang ramai dengan pengunjung nya walau telah dibatasi masih saja para pengunjung ini datang dengan tanpa bisa di atur.


kamar mandi yang tersedia hanya satu terbayangkan olehnya akan antrean berjam-jam. dan semerbaknya bau pasien dan pengunjung yang menggunakan minyak angin, minyak wangi berbaur jadi satu. dia tidak jijik dengan mereka tapi ruangan ini terlalu terbuka untuknya dan Hana.


para pasien yang mengenalinya, menyapa rubel dengan sopan.


dia menyambut dengan baik sapaan itu, dia tidak ingin menyinggung perasaan pasiennya. dan bersikap biasa saja.


"maaf yah ibu-ibu saya tutup dulu tirainya." ucapnya pada mereka.


"iya dok gak apa-apa."jawab mereka mengerti.


Lila dan Mila datang mereka hendak menggantikan pakaian Hana.


"kok masih disini." tanya Lila pada rubel dengan suara agak ditekan.


Rubel enggan keluar, dia tidak ingin sedetikpun meninggal Hana yang belum sadar dari pingsannya.


"ayo, buruan aku sama Mila mau gantiin baju Hana biar dia nyaman." terangnya lagi. dengan langkah gontai dia keluar kamar. tidak terbayangkan wajah kucel setengah kesal keluar dari tirai itu disambut wajah-wajah orang diruangan itu.


Rubel sedang berjalan dia mencoba mencari tahu ruangan VIP yang sudah kosong.. tiba-tiba dia tidak sengaja menabrak seseorang yang terburu-buru.


"maaf, mas ." ujarnya pada rubel. ibu itu mengenali wajah rubel.


"dokter?" tanya dia tak percaya karena Rubel tidak menggunakan baju dinas nya.


"eh iya bu, bagaimana dengan anak ibu?" tanya Rubel pada ibu itu. ibu itu orang tua dari anaknya yang Rubel tolong beberapa hari lalu.


"Alhamdulillah dok, sebelumnya saya minta maaf belum mengucapkan terimakasih dengan dokter. berapa hari ini saya cari dokter tapi kata perawat-perawat disini dokter jarang masuk. ujarnya menjelaskan.


Rubel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"iya Bu, saya lagi ada urusan keluarga.jawab Rubel pada ibu itu.


"maaf dok, saya harus keruangan lagi untuk melihat anak saya. jika dokter tidak berkeberatan singgah lah untuk melihat kondisi anak saya. sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas pertolongan dokter, saya tidak bisa membalas semua kebaikan dokter. do'a saya semoga dokter selalu sehat, banyak rezeki, dan dipermudah segala urusan. ucap ibu itu panjang.


"Aamiin, makasih Do'anya Bu." jawab Rubel sambil tersenyum. dia seperti punya semangat untuk bisa terus berbuat baik untuk membantu orang yang tidak mampu.


Rubel kembali keruangan zal dimana Hana dirawat. kali ini orang-orang diruangan itu tidak terlalu sibuk melihatnya. apa lagi waktu telah sangat larut. Rubel mengambil tas kecil yang dibawa oleh Lila. dia menggantikan kemeja nya dengan baju kaos yang ada dalam tas itu. dia melihat merek baju itu, dan memegang bahannya sangat lembut.

__ADS_1


"Dari mana mereka uang?" tanya Rubel dalam hati. karena baju kaos itu sangat bermerek dan terkenal mahal.


"jangan-jangan demi aku mereka berhutang." bathinnya. Rubel merasa khawatir karena dia orang tua Hana berusaha untuk memberikan yang terbaik.


"tapi jangan sampai mereka mengorbankan diri demi kenyamanan ku." ujarnya dalam hati.


Rubel mengganti pakaiannya di dekat tempat tidur Hana. tiba-tiba Hana terbangun dia melihat Rubel sedang membuka bajunya terlihat jelas tubuh yang berotot dan perut yang sixpack. walaupun tubuhnya berotot tapi badan Rubel tidak terlalu lebar. untuk ukuran tubuhnya.


ini pertama kalinya dia melihat tubuh Rubel, dia hanya tersenyum geli, melihat perut rubel yang seperti roti sobek.


Rubel tersadar Hana sedang mentertawainya. dia sengaja mendekati Hana menampakkan perutnya yang seperti roti sobek.


"ana mau?" bisik Rubel padanya.


"enggak, cuma lihat itu jadi pengen makan roti sobek di celup ke susu." jawab Hana polos. ana melihat sekeliling nya yang ditutup tirai, baru dia sadar dia berada diruangan kelas 3.


Rubel hendak mencubit hidung Hana. tapi diurungkan niatnya. dan dia meneruskan memakai baju yang dari tadi dipegangnya.


"ana masih pusing?" tanya Rubel pada Hana.


"iya. ana pengen muntah. tapi takut membangunkan orang lain. ujarnya pelan.


"Ino temenin kekamar mandi yok." Ujarnya pada Hana.


Hana mengangguk pelan. dia coba bangun tapi kepala bagian belakangnya sangat sakit.


"ana gak sanggup bangun, kepalanya sakit." ucapnya lagi sambil memegang kepala nya.


Rubel menutup cairan infus agar darah tidak naik keselang infus. dia segera menggendong Hana dan membawanya ke kamar mandi. Hana turun dan segera memuntahkan semua nya ke closet kamar mandi.


Rubel menggosok punggung Hana lembut. suara Hana terdengar sangat keras. dia mencoba menutup pintu kamar mandi agar tidak menggangu yang lain. dia menghidupkan air shower untuk membersihkan muntahan itu dan menghidupkan air dalam closet.


"Ino, ana lemes." ujarnya pada Rubel. dia benar-benar sedih melihat kondisi Hana.


"masih mau muntah?" tanya Rubel lagi.


"enggak. ana udah gak sanggup." jawab Hana pelan.


Rubel menggendongn Hana, Hana mengalungkan tangannya di leher rubel dan mereka keluar dari kamar mandi, terkejut mereka orang-orang di dalam ruangan terbangun karena mendengar suara dikamar mandi.


"enggak apa-apa dok. kami maklum namanya juga pengantin baru. mungkin istri dokter udah isi." tiba-tiba seseorang ibu berbicara.


Rubel dan Hana saling menatap. dia hanya membalas senyuman dan masuk kedalam bilik tirainya.


"gimana mau isi, dicium aja takut." bisik Rubel pada Hana.


mereka berdua tersenyum tak berani tertawa takut menyinggung perasaan si ibu. Rubel mengelus kepala Hana. infus yang di tutup telah dipasang kembali ke tiang infus.


"ana tidur yah." pintanya kepada Hana.


"Ino mau kemana?tanya Hana cepat.


"Ino mau cari kamar buat ana." Ujarnya menjelaskan.


"jangan, besok aja yah. Ino istirahat aja diruang Ino. ana gak apa-apa disini kan ada perawat." pintanya agar Rubel beristirahat.


"Ino gak mau ninggalin ana, Ino mau tidur disini temani ana. ujarnya pada Hana.


"tapi jangan macam-macam yah." pinta Hana penuh harap.


"enggak macam-macam cuma 1 macam aja kok." ujar Rubel asal.


dia mengambil kain tebal membentangnya menjadi alas tidur.


"sayang mendingan Ino tidur di ruangan ino dari pada tidur dibawah nanti malah Ino yang sakit. ujar hana khawatir.


"gak papa ana tidur terus yah. pinta nya lembut.


Hana pun mengalah, dia memejamkan matanya. sesekali rubel memandangi wajah hana, wajah nya terlihat khawatir. mungkin karena kondisi tubuhnya sedang tidak baik. ujar Rubel membatin.


Dia mencoba memejamkan matanya tapi dia tidak terbiasa tidur beralaskan kain. dia berbalik ke kanan dan berbalik lagi kekiri. dia melihat Hana terlihat sudah tenang dia mencoba menggosokkan pipi Hana untuk memastikan hana telah tidur nyenyak. tempat tidur Hana memang tidak terlalu besar tapi kalo dia tidur disitu pasti cukup.


pelan-pelan rubel naik ke atas tempat tidur Hana. dia membaringkan tubuhnya disisi kanan Hana. dia mencium rambut Hana dan tertidur.

__ADS_1


beberapa jam kemudian, terdengar sayup-sayup suara azan Subuh. hana terbangun, dia merasakan tubuhnya sangat berat. untuk bergerak. dia membukakan matanya pelan-pelan, dia melihat tangan seseorang sedang memeluknya. barulah dia sadar. Rubel tidur di sampingnya.


dia tidak berani berteriak takut membangunkan pasien yang lain. dia hanya mengosok tangan Rubel dengan pelan.


"sayang bangun udah subuh." ujarnya pelan.


dia hendak memindahkan tangan Rubel tapi tangan itu semakin kuat memeluk nya.


"sayang, bangun ana mau muntah." ucapnya agak keras.


Rubel terkejut dari tidurnya. memaksakan diri untuk membuka matanya.


"sayang ana mau muntah." jawab Hana lagi.


"Ino disini aja ana pergi ke kamar mandi sendiri." Hana mencoba bangun perlahan-lahan.


Rubel mencoba bangun dari tidurnya walaupun sebenarnya tubuhnya sangat lelah. dia berusaha kuatkan badannya.


"tunggu sayang Ino temanin yah." dia membangunkan tubuhnya. rubel meraih botol infus, dan perlahan-lahan mereka melangkah kekamar mandi.rubel menutup pintu agar suara Hana tidak membangunkan yang lain. hana hanya mual sedikit.


Hana membasuh mukanya. dan ingin segera balik ketempat tidur.


"sayang tunggu sebentar nanti ana jatuh. ino mau pipis dulu udah gak tahan ana balikkan tubuh dulu. jangan lihat-lihat nanti kepingin." ujarnya asal.


Hana membalikkan tubuhnya menunggu Rubel menyelesaikan misi nya. tak berapa lama Rubel telah mencuci tangannya dan membantu memegang botol infus membopong Hana balik ke tempat tidur.


"sayang Ino sholat dulu yah. nanti Ino balik lagi. ucapnya pelan.


Rubel meninggalkan Hana, bergegas menuju mushola rumah sakit. dan dia pun sholat. selesai sholat dia melihat ke ruangan-ruangan yang kosong. siapa tahu ada ruangan yang VIP yang telah ditinggalkan pasiennya.


Dia masuk ke ruangan VVIP, bertanya kepada perawat jaga.


"apa sudah ada kamar yang kosong?" tanya nya pada salah seorang perawat jaga.


"belum dok." masih ada pasien. ujarnya menjelaskan.


Rubel segera keluar dari ruangan itu.berjalan ke ruangan VIP. dan kembali bertanya di pada perawat di situ.


"apa sudah ada kamar yang kosong?" tanya rubel.


"belum dok, nanti siang ada yang keluar." jelasnya pada Rubel.


"baiklah tolong boking untuk saya." jawab Rubel cepat. tolong segera hubungi saya jika pasien itu sudah keluar kamar.


"baik dok." saya akan segera hubungi dokter. Rubel bergegas keluar berjalan ke arah kantin rumah sakit. memesan susu hangat dan membeli roti sobek. seperti yang diminta Hana tadi malam. dia juga mengambil beberapa keju slices.


Rubel pun balik ke ruangan Hana di Rawat.


"Hana sarapan dulu sama roti yah." sambil menyodorkan roti dan susu hangat yang dibawanya. Hana dia tidak menyangka Rubel membawakan roti dan susu untuknya.


ini memang makanan kesukaannya.


"makasih yah sayang." ucapnya pada Rubel.


Rubel mengangguk kecil, dan dia mengambil keju slices dan menyelipkan pada roti sobek itu. dan memakannya pelan-pelan.


selesai sarapan dia merapikan tempat tidur Hana.


perawat sudah memberikan peringatan agar para penjaga pasien untuk keluar ruangan. dan juga merapikan tempat tidur dan jika ada barang-barang yang tidak perlu segera dipindahkan ke gudang penyimpanan.


Tirai-tirai penyekat telah di ikat agar memudahkan para CS untuk bekerja tidak terkecuali tirai penyekat tempat tidur Hana. Rubel membisikkan sesuatu ketelinga hana.


"sayang, Ino keluar dulu yah kasian para CS ini mau membersihkan ruangan.nanti Ino balik lagi.ujarnya pada Hana dan berlalu keluar ruangan.


pasien-pasien di ruangan itu kagum melihat Rubel. yang ikut keluar seperti penjaga pasien yang lain.


"wah padahal kan dokter bisa aja dia didalam ruangan kan para CS dan perawat itu tidak akan mengusir nya." ucap salah seorang dari mereka.


Hana hanya tersenyum, membalas ucapan itu.


"Mbak hamil anak pertama yah?"tanya salah seorang dari mereka.


hana hendak mengatakan yang sejujurnya, tapi dia tidak ingin mereka berasumsi lain.

__ADS_1


"do'ain aja Bu." ucapnya pelan.


Sambil tetap berusaha tersenyum.


__ADS_2