Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 49


__ADS_3

Rubel memandang Hana begitu lekat.


" Sayang apa yang sedang Ana lakukan?" kenapa Ana tidak memberitahukan Ino, mengajak keluarga Ibu Maemunah kemari?" tanya Rubel begitu khawatir.


" Mereka Ana bawa kemari karena rumah mereka sedang di bangun oleh Om Purnawan." jelas Hana agar Rubel mengerti. Hana tau Rubel sangat menghawatirkan dirinya, apalagi dia baru saja mengalami penculikan.


Hana memeluk erat Rubel, kekhawatiran Rubel adalah tanda cinta Rubel pada dirinya. Rubel membalas pelukan itu sangat erat seakan dia tidak ingin kehilangan Hana sedetik pun.


" Tolong jangan lakukan hal apapun tanpa seizin Ino yah sayang!!!."


Hana mengangguk pelan. mengiyakan permintaan Rubel.


" Maafin Ana yah sayang." ucap Hana begitu manja.


" Tentu saja Ino selalu maafin Ana." ucap Rubel, Sambil mencubit hidung Hana.


" Sayang hari ini kita latihan Chikung lagi yah." ucap Rubel mengingatkan. karena sudah beberapa hari sejak kejadian itu Hana sama sekali tidak pernah berlatih lagi.


Rubel dan Hana menghabiskan waktu dikamar, mereka berdua saling bercanda sesekali Rubel mencubit dan menggoda Hana. selesai sholat Ashar mereka berlatih Chikung.


Anak-anak, dan ibu Maemunah dibawa ayah dan Ibu Hana jalan-jalan, mereka membeli pakaian dan juga mukena.


Ke empat anak itu menceritakan bahwa mereka sholat menggunakan jilbab sang ibu yang sudah sangat usang.


Tibalah mereka di sebuah pusat perbelanjaan. anak-anak itu berteriak kegirangan karena selama ini mereka tidak pernah masuk ke tempat seperti itu.


Ibu dan Ayah begitu bahagia bisa melihat anak-anak itu tertawa riang tanpa beban dipundaknya. Ibu Maemunah menangis bahagia. dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan keluarga besar Hana dan Rubel.


" Anak-anak ayook kemari." ucap ibu kepada mereka. Mereka pun menghampiri ibu.


" Pilih mukena yang kalian suka yah."


" Betulkah itu???" ucap si sulung tak percaya.


" Tentu saja sayang, Ibu akan membelikan apapun yang kalian inginkan." ucap ibu dan mengajak mereka berkeliling di tempat mukena.


" Mukenanya , cantik-cantik dan bagus-bagus tapi saya gak berani ambil Bu harganya mahal ." ucap si sulung lirih.


" Hai cantik, jangan bersedih pilihlah mukena yang Kamu suka tidak usah fikirkan harganya yah." ucap ibu menenangkan Lina. Lina terdiam dia bingung memilih mukenanya semuanya cantik dan bagus-bagus.


" Ibu saya mau mukena yang ini." tunjuk si bungsu. ibu pun meraihnya. kemudian si kakak nomor 2 dan nomor 3 memanggil ibu. Mereka terlihat begitu bahagia, hari sudah semakin sore. keranjang troli sudah penuh dengan pakaian dan juga mukena anak-anak. ibu juga membeli beberapa pakaian untuk ibu Maemunah, bibi dan juga nyai. setelah itu Mereka pun pulang kerumah.


*****


Di kediaman Ihsan dan Renzi. Ihsan benar-benar merasa kesal dengan Renzi yang tanpa sepengetahuan dirinya mengantarkan Hana pulang. sudah 2 hari dia tidak pergi ke kantor. kepergian Hana membuat dia sangat terluka. Renzi ingin abangnya bisa menerima itu semua dengan lapang dada. karena tidak seharunya dia mencintai Hana yang sudah bersuami.


Renzi sendiri begitu bimbing, dia ingin sekali bertemu Maria, dia sudah mencoba menghubungi Maria tapi nomor ponsel itu tidak aktif.


Dia meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan Maria sekarang. selama ini mereka hanya bertemu diluar, itu pun di hotel. Rasa Cintanya terlalu besar terhadap Maria membuat dia melupakan kebencian nya terhadap papa Maria.


Awal perjumpaan mereka, adalah sebuah rekayasa Renzi untuk membalas kan dendam kepada Purnawan Agiawan. tanpa disadari tumbuh cinta di hati Renzi, Dia sangat menyesal telah meninggalkan Maria. apalagi Dia mendapatkan info dari anak buahnya bahwa Maria sedang hamil anaknya.


" Buk!!! tiba-tiba Ihsan muncul dan memukul Renzi.


" Lu bener-benar ngecewain aku." teriak Ihsan lantang. dia tidak terima Renzi mengantarkan Hana Pulang. sudah dua hari, itu saja yang dia lakukan. sebentar tenang dan sebentar mengamuk lagi.


Renzi tidak membalas perlakuan abangnya, dia sadar kesalahan nya.


" Pukul aku bang!! sampai Abang puas!!!" ucap Renzi pasrah. Ihsan seperti orang yang kesetanan. dia terus memukul adiknya tanpa belas kasih. bibir Renzi pecah, dan berdarah. pilipisnya juga memar. Ihsan berlalu pergi meninggalkan adiknya setelah melihat bibir Renzi berdarah.


Dia benar-benar sangat kesal. tidak menyangka dia bisa Semarah ini, bahkan Renzi begitu pasrah menerima perlakuan kasar nya. Ihsan terduduk lesu di lantai dengan kaki ditekuk di dalam kamarnya. pandangannya kabur karena air matanya terus mendesak keluar.


" Aku benci kamu Hana!!!!! " teriaknya begitu marah. walaupun di dalam hatinya yang terdalam. dialah yang salah mencintai Hana yang tidak mencintai nya.


Seseorang menghampiri nya. Seorang sahabat yang begitu tulus mencintai dia apa adanya tapi karena kecintaan nya terhadap Hana terlalu berlebihan dia mengabaikan cinta yang tulus itu.


Gadis itu bernama Marisa, Seorang gadis cantik perawakan indo bule. tubuhnya ramping, dengan potongan rambut Pixie dan poni yang sangat pendek. penampilannya sangat elegan.

__ADS_1


" Kamu kenapa sahabat ku???" tanya Marisa begitu iba melihat Ihsan yang sangat urak-urakan tak terkontrol.


Marisa berjongkok agar bisa melihat Ihsan dengan jelas. Marisa memeluk Ihsan, Ihsan tidak menolak perlakuan Marisa, saat ini dia begitu membutuhkan seseorang untuk menenangkan hati dan jiwa nya.


" Sudahlah lupakan saja dia, tidak seharusnya kamu menyakiti dirimu seperti itu. Renzi benar dia melakukan itu semua agar kamu tidak terlalu jauh mencintai Hana yang sudah punya suami." ucapnya begitu perhatian.


Dia mengangkat dagu Ihsan dan menatap kedua matanya dengan ketulusan. kali ini Ihsan benar-benar merasa nyaman melihat Marisa begitu memperdulikan dirinya.


Selama ini dia tidak pernah membalas perlakuan baik sahabat nya itu. dia benar-benar merasa bersalah telah menyakiti sahabat nya itu.


" Maafkan aku Marisa." ucap nya begitu lirih. dia membalas pelukan Marisa. baru kali ini Marisa merasakan perlakuan nya di balas oleh Ihsan.


" Gak usah minta maaf, kamu gak pernah salah sama aku." ucap Marisa lembut.


Ihsan memandang Marisa sangat lama, dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan Marisa. Hana yang sudah jelas-jelas tidak mencintai dia, tapi masih saja nama itu terukir di dadanya. pertemuan baru-baru ini membuat Ihsan makin merasa tergila-gila dengan Hana. penculikan yang salah sasaran menjadi angin segar baginya, tapi sang adik mematahkan semangat itu karena dia salah langkah.


" Kamu memang gadis yang sangat cantik Marisa, Tidak hanya wajahmu tapi juga hatimu." ucapnya dengan keyakinan. Marisa tersipu dia merasa Ihsan berbeda dari biasanya. walaupun terkadang perlakukan Ihsan terhadap nya sangat kasar tapi Marisa selalu membantu Ihsan dikala susah dan senangnya.


" Bagaimana dengan Renzi???" tanya Marisa yang tiba-tiba mengingat adiknya Ihsan.


Ihsan bangun dia berjalan ke kamar Renzi di ikuti Marisa. Renzi terduduk lesu di pinggir tempat tidur dengan wajah terluka.


" Kamu kenapa??" tanya Marisa bingung. melihat wajah Renzi yang terluka dan memar.


" Bibi!!!! teriak Ihsan kepada pembantunya.


" Iya den ada apa??" tanya bibi yang datang tergopoh-gopoh.


" Tolong Ambilkan es batu handuk, dan juga alkohol." ucap Ihsan cepat.


Bibi segera mengambil barang yang diminta Ihsan.


" Ini den." ucapnya dan menyodorkan barang tersebut pada Ihsan.


Ihsan segera meraihnya dia segera mengompres adiknya. Renzi diam tanpa bergeming, dia enggan menyapa siapapun saat ini.


" Apa maksud lu bang???" pertanyaan aneh yang terlontar dari mulut Renzi.


" Emang nya kamu gak bisa maafin aku???" tanya Ihsan berat.


" Apa aku gak salah dengar???" tanya Ihsan tak percaya.


" Enggak.... ini benar kamu gak salah dengar" jelas Ihsan.


" ya udahlah gak usah dibahas... aku gak apa-apa." ucap Renzi menerangkan. dia meraih handuk yang dipakai Ihsan untuk mengompres wajah nya.


" makasih bang....makasih sudah bisa menerima apa yang Renzi bilang." ucapnya sangat bahagia. Marisa tersenyum..


" Nah gitu dong Abang adek harus akur, harus baek-baek, jangan berantem hanya gara-gara salah paham."


Ihsan tersenyum, Marisa selalu bijak menyikapi kesalah pahaman antara mereka berdua.


*****


" Brukkkk!!!" Hana terkulai jatuh, dia baru saja menyelesaikan mandinya. entah mengapa tiba-tiba saja kepalanya seperti begitu ringan hingga dia merasakan lemas selemas-lemasnya.


" Ana!!! " teriak Rubel kaget melihat Hana jatuh. dan berlari ke arah Hana. dia segera menggendong Hana dan membawa Hana ketempat tidur. dia melakukan kompresi hingga Hana bangun dari pingsan nya.


Perlahan-lahan Hana membuka matanya. kepalanya masih terasa pusing.


" Alhamdulillah... ". Rubel mengucap syukur. dia segera memeluk Hana sangat erat.


" Sayang kalo emang badan Hana berasa sakit, jangan ke kamar mandi... coba kalo jatuhnya di kamar mandi Ino gak bisa ngebayangin..." ucap Rubel begitu lirih.


" Kalo Ana meninggal gimana?" tanya Hana spontan. Rubel menatap tajam ke arah Hana.


" Jangan ngomong gitu dong sayang. kita harus positif thinking jangan mau kalah dengan penyakit. Ino yakin kita berdua bisa bersama-sama melewati semua ini. Hana pasti sembuh." ucap Rubel memberikan sugesti agar Hana bisa berfikir lebih baik.

__ADS_1


Hana mengangguk lembut, mungkin dia terlalu mudah menyerah.


" Maafin Ana yah sayang.. tidak seharusnya Hana menyerah, impian kita belum lagi tercapai." ucap Hana pelan.


" Kita baru tahap awal berusaha untuk kesembuhan Ana, Ino yakin akan ada ke Ajaiban untuk kita. percayalah Ana pasti sembuh." ucapnya begitu yakin. mulai saat ini Rubel menepis rasa was-was dan ketakutan akan kehilangan Hana. karena semakin dia takut semakin hal-hal buruk datang kepada mereka.


Terdengar suara azan magrib. Rubel hendak mengambil wudhu.


" Ana mau sholat juga.." ucap Hana dan berusaha bangun dari tempat tidur. Rubel menghentikan langkahnya dan mengambil kan Hana baju.


Dia membantu Hana untuk berpakaian, dan membopong Hana ke kamar mandi. setelah Hana selesai berwudhu dia memegang pundak Hana yang telah menggunakan jilbab panjang jadi kulit Hana dan Rubel tidak bersentuhan. Hana duduk di atas sajadahnya dan rubel mengambil wudhu. mereka pun sholat bersama. Hana belum sanggup untuk sholat berdiri dia pun sholat semampunya.


Derai air mata di penghujung do'a. Rubel berdo'a di dalam hatinya. dia memohon diberikan kemudahan untuk kesembuhan sang pujaan hati. selesai itu dia segera menyeka air matanya, agar Hana tidak melihat kesedihan nya.


Rubel membalikkan tubuhnya pada Hana, Hana meraih tangan Rubel dan menciumnya sangat lama. mereka saling adu pandang, perasaan cinta itu tak hanya sebagai penghias bibir belaka. tapi mata dan hati mereka telah terpaud dalam ikatan resmi pernikahan.


" Sayang... Ino ingin pernikahan ini hingga akhir hayat, pernikahan bukan hanya sebuah simbol percintaan saja, Ino ingin kita punya anak, membesarkan mereka dengan kasih sayang dan juga menjadi ayah dan suami yang baik buat anak-anak dan kamu." ucap Rubel lembut.


Hana meneteskan air mata, kondisinya memang labil. walaupun terkadang dia tidak perduli dengan sakitnya.


" Maafin Ana yah sayang Ana terlalu naif, Ana hanya memikirkan cinta kita seperti dongeng Cinderella yang berakhir bahagia, Ana lupa bahwa cinta kita punya tujuan membina sebuah keluarga yang bahagia." ucap Hana lirih.


" Walaupun sebuah kematian tidak ada yang tahu setidaknya kita berusaha untuk menjadi yang terbaik sampai waktu itu tiba." ucap Rubel menyemangati.


*****


Tanpa disadari waktu begitu cepat berlalu. dalam seminggu Rumah Ibu Maemunah akhirnya selesai sudah. Om Purwanto meminta anak buahnya untuk mengisi barang-barang dirumah Baru Ibu Maemunah.


Ponsel Hana berbunyi saat dia sedang bermain-main dengan anak-anak ibu Maemunah. tertera di layar ponselnya Om Purwanto. Hana langsung menyambut telpon itu.


" Assalamualaikum." sambut Hana.


" Wa'alaikummussalam" jawab sang Om.


" Ada apa om?" tanya Hana.


" Hana, rumah ibu Mae udah siap nih mereka udah bisa menempati nya." ucap Om memberikan kabar gembira. Hana merasa bahagia bercampur sedih karena Rumah ini akan kembali sepi jika mereka pulang ke Rumah.


" I-iya om.. nanti siang selesai Rubel dari Rumah Sakit, kami semua akan kesana." ucap Hana. dan suara telpon pun di tutup.


Hana menghela nafas panjang, memeluk ke empat anak Ibu Mae dengan sayang.


" Rumah kalian sudah selesai sayang." ucap Hana lirih. matanya mulai berkaca-kaca. tidak dipungkiri kehadiran anak-anak itu menjadi penghibur nya dikala Rubel sedang di Rumah Sakit.


" Tapi... kami gak mau tinggalin Tante Hana." ucap si kecil polos.


Ibu, Nyai dan Ibu Maemunah menghampiri mereka.


" Kalian semua adalah keluarga ibu, jika kalian ingin kemari nanti om Diko atau pun Om Leo akan menjemput kalian semua."


" Betulkah?" tanya si kakak yang selalu antusias.


" Iya sayang, rumah ini juga rumah kedua untuk kalian semua." ucap ibu lembut dan memeluk semuanya. anak-anak itu begitu riangnya.


" Tapi Bu saya gak enak." ucap ibu Mae tiba-tiba.


" Bu Mae gak usah sungkan-sungkan yah nanti saya akan meminta orang untuk membeli Kan ponsel agar kita dengan mudah berkomunikasi. apapun keperluan anak-anak tolong ibu Mae bilang." ucap ibu begitu meyakinkan.


" Mulai besok anak-anak juga sekolah... kak Lina, kak Nana dan Kak Naila akan kembali ke sekolah yang sayang. ucap ibu begitu bersemangat. mereka tidak menyangka mereka masih bisa melanjutkan sekolahnya.


" Ibu.... ibu dan semua keluarga begitu baik sama kami, terimakasih untuk semuanya. kami hanya bisa mendo'kan keluarga ini selalu bahagia. ucap Lina sedih dan menghambur pelukan kepada Ibu Wati ibu nya Hana.


" Jangan sedih yah sayang sudah kewajiban bagi orang yang mampu untuk menyantuni anak yatim, dan memberikan kasih sayang dan juga perhatian untuk kalian." ucap ibu begitu bijak.


Ibu Mae dan anak-anak begitu terharu. banyak pengalaman berharga yang mereka dapatkan di rumah ini, selama ini mereka menganggap orang kaya itu sombong, pelit dan bahkan tidak perduli dengan orang miskin, janda dan anak yatim seperti mereka.


" Hai sahabat Dokter Cool Suport terus karya Author yah, jangan lupa, Vote, like,dan juga komennya, terimakasih 😍🤗"

__ADS_1


__ADS_2