
Disebuah Rumah Seseorang sedang memaki-maki, semua peralatan make up yang tertata rapi diatas meja rias itu jadi imbas kemarahannya.
Dia sangat murka keinginan nya untuk menyakiti gadis bernama Ana itu lagi-lagi batal.
“ Dasar preman cemen, cuma melawan Gadis lembek seperti Ana saja tidak bisa.”
Kemudian melempar semua benda kearah mana pun yang Dia inginkan, Kamar yang cantik itu seketika berubah menjadi kapal pecah tanpa nakhoda.
“ Kirana!”
“ Kirana!”
" Buka pintunya nak!!”
“ Jangan menghancurkan apapun dirumah ini, Mama mohon.!!” seperti itulah tingkah kirana jika keinginannya tak tercapai.
“ Tolong buka pintunya Kirana,!” teriak Wanita itu memohon.
" Kamu harus bersikap dewasa. Bermainlah dengan cantik.."
Kirana membuka pintunya, sedikit pun tak ada rasa penyesalan telah memporak- porandakan kamarnya.
Mamanya sangat lelah dengan perlakuan gadis nya itu selalu mengambil sikap yang sangat tidak dewasa.
Sikap dan perilaku tempramen itu telah ada didirinya sejak dia masih kecil, Mama Kirana adalah Istri sirih seorang Pengusaha kaya.
Apapun keinginan Kirana akan dipenuhi oleh sang Papa, tapi ruang lingkup mereka sangat terbatas.
Mereka tidak pernah mempublikasikan kehidupan mereka dengan Orang luar. Ini akan menghancurkan image Papanya.
Kemanjaan membuat Kirana berlaku semena-mena walaupun dengan Mamanya, Wanita yang selalu ada disetiap susah dan senangnya, Wanita yang ikhlas melahirkan, menjaga dan mengurusi semua keperluan Kirana, karena sang papa hanya bisa memberikan materi tapi tidak dengan kasih sayang.
Mama menatap tidak keberdayaannya. Dia meminta pembantunya untuk merapikan kamar itu hingga rapi kembali.
“ Apa maksud Mama bermain cantik?” tanya kirana sangat berang.
“ Jadi, maksud Mama Aku bermain tidak cantik.?”
Mama menatap gadis itu, memeluknya.
“ Jangan memeluk Kirana? Mama, tidak memahami ke inginan Kirana.” ucapnya Dengan intonasi yang ditekan.
“ Hanya Papa yang selalu memahami apa yang Kirana mau.!!!
“Jangan mencoba-coba membela Gadis kampungan yang bernama Ana itu!”
Ancamnya tanpa memperdulikan perasaan Mamanya, Orang yang sangat mencintainya dengan tulus.
Kirana sudah terlalu melampui batas. Mama mengurut dadanya, dia tidak tahu harus mengadu kepada siapa.
Jika dia mengatakan semua kepada Papa Kirana, bukan solusi yang di dapat tapi sebuah masalah baru. Gadis yang bernama Ana itu akan segera dilenyapkan dari kehidupan Rubel.
Dikediaman Rubel.
“ Kamu bermalam disini, Aku khawatir para penjahat-penjahat itu akan berbuat nekat padamu.”
“ Tapi dok, Hana sudah beberapa hari tidak pulang kerumah. Ibu pasti sangat khawatir.” Walaupun Ibu tahu Hana bekerja disini.”
Nyai membuka pintu karena mendengar mereka berbicara.
“ Kok ngobrol diluar, ayook masuk.” ajak Nyai pada mereka.
Malam ini sangat dingin Hana terlihat, sudah beberapa kali menguap. Dia melipat tangannya didepan dada, Rubel memperhatikan Hana tanpa berkedip dia sangat khawatir keadaan Hana. yang masih sering ngedrop ketika tekanan darahnya tidak stabil, dan sekarang timbul masalah baru mengancam kehidupan Hana.
Hana memberikan isyarat pada Rubel. Untuk tidak mengatakan hal apapun kepada Nyai, Dia tidak mau Nyai mengkhawatirkan nya.
Rubel mencubit hidung Hana, yang memohon dengan wajah sangat memelas..
“ Jangan ceritakan apapun sama Nyai yah dok, Hana mohon sama dokter.”
Disaat genting seperti ini dia masih saja memikirkan keadaan Nyai, sedangkan dia sendiri punya masalah yang belum ada solusinya.
“ Ngapain Aku bilang ke Nyai, emangnya Aku bodoh apa?” Tiba-tiba suara Rubel mengeras. Hana terdiam. Tidak menyangka Rubel akan berubah fikirannya dengan seketika.
“ Bukan itu maksud Hana.” Rubel beranjak ke kamarnya entah mengapa perasaan hatinya tiba-tiba berubah..
" Kenapa aku harus segila ini memikirkan perawat KW itu, tujuan aku pulang ke Indonesia, karena Aku ingin mencari Ana Ku, bukan malah mengasihi Perawat KW itu. Rubel menghempaskan tubuhnya ketempat tidur.
“ Kok jadi jutek, tadi aja perduli, Sekarang malah marah-marah.” Hana menghela nafas panjang. Dia masuk ke kamar Nyai.
“ Nyai Hana pamit dulu yah, Hana sudah berapa hari gak pulang, besok pagi-pagi Hana akan kembali.”
“ Wajah Hana terlihat tidak bersemangat.”
“ Ada apa sayang apa Kamu ada masalah.?” Sambil mengusap wajah Hana.
“ Tidak Nyai Hana hanya ingin pulang.” Ujarnya meyakinkan nyai, walaupun wajah itu telah nampak mendung.
“ Ya sudah Nyai tidak akan menghalangimu.”
“ Nyai panggil ino dulu, untuk mengantarkan mu pulang.”
__ADS_1
“ Jangan Nyai, Hana mohon Hana ingin pulang sendiri.”
Dia menyalami Nyai, dan berlalu pergi..
Suasana di perumahan itu sangat sepi, tentu saja lingkungan itu lingkungan perumahan orang kaya mana mungkin mereka mau menghabiskan waktu untuk duduk diteras Rumah seperti yang dilakukan oleh banyak orang di kampungnya. Hana berjalan ke arah pos satpam hendak menunggu Ojek..
Tapi, lagi-lagi tak ada ojek yang mangkal di simpang perumahan ini. yah tentu saja mana ada orang kaya naik ojek.
Hape Hana bukan hape canggih yang dengan mudah bisa memesan gojek online. Dia bingung harus kemana karena dia belum terbiasa dengan daerah itu, dia terus berjalan banyak mobil berlalu lalang, tiba-tiba sebuah mobil berhenti, seseorang membuka jendela mobil, dan sedang menggodanya.
“ Sendirian aja, dek.? Ikut kita yook nanti abang anterin adek pulang.” Terdengar gelak tawa didalam mobil suara mereka terdengar sangat rame, tiba-tiba nyalinya menciut dia meneruskan langkahnya tanpa memperdulikan orang-orang itu. Tetap berjalan dan terus berdo’a.
Di kediaman Rubel, Rubel keluar kamar ingin mengambil air minum. Tapi matanya tertuju pada kamar tamu, yang terbuka tanpa siapapun didalam kamar.
Dia kedapur mengambil minum dan bertanya pada Bibi.
" Bi Hana kemana? kenapa kamar tamu kosong.”
“ Tadi Mbak Hana berpamitan pulang, Nyai sudah mencegahnya tapi katanya Dia rindu sama Ibunya.” Rubel terbatuk mendengar penjelasan Bibi. Dia ingat Hana sedang dalam masalah besar, sangat berbahaya bila dia berjalan sendiri, malam-malam gini mana ada angkot dan ojek.”
Dia bergegas mengambil kunci mobil. Dan langsung pergi.
“ Kenapa Aku ceroboh sekali.” ucapanku tadi pasti menyakiti perasaannya.
“ Ya Rabbi, maafkan Aku...”
“ Hana kemana Kamu?”
“ Kenapa Kamu bisa semarah ini.”
“ Hana dimana Kamu.” Dalam perjalanan. Dia melihat segerombolan orang sedang mengelilingi seorang Gadis.
"Deg.." tiba-tiba jantungnya berdegup sangat kencang.
Dia menghentikan mobilnya, mengantongi belati kecil disakunya. Dia mencoba mendekati kerumunan itu.
“ Hei, jangan ganggu Gadis itu, dia adalah mangsaku!! pergi Kalian semua dari sini." tiba-tiba suaranya terdengar sangat lantang. Dia mencoba menakuti-nakuti gerombolan itu, dan menyatakan dirinya seorang Mafia.
Hana sudah terlihat sangat pucat, tapi dia tetap bertahan.. Seseorang menarik lengan Hana menempelkan mata pisau dilehernya. Rubel semakin berang dengan mereka.
“ Kamu jangan coba mendekat jika tidak mata pisau ini akan melukai leher nya yang jenjang dan indah ini.”
Entah dari mana keberanian itu datang. Dia hanya terlatih melawan satu orang bukan untuk melawan banyak orang.
Rubel mengambil belatinya berkelahi dengan mereka. 5 lawan 1. Tangannya begitu lincah, memainkan belatinya. Kaki dan tangannya pun bergerak dengan santai, tapi mampu membuat para komplotan itu Terluka dengan sabetan belatinya.
Tinggal seseorang yang menodongkan pisau nya dileher Hana.
Pisau itu menggores leher Hana. Hana merasakan lehernya sangat perih, Rubel melemparkan belatinya. Mengangkat kedua tangannya tanda mengalah.
Di suatu ketika tangan lelaki yang menodongkan pisau sedikit longgar. Hana mencoba sekuat tenaga menarik tangan lelaki itu ke arah depan, dia mencoba membanting laki-laki itu walaupun dia ikut terjatuh, dan bertumpu dengan lututnya.
Laki-laki itu tidak ada persiapan sehingga ia pun jatuh tersungkur. Hana terlihat sangat lemah, dia mencoba lari dari Rubel. Rubel tidak menyangka Hana bisa seberani itu walaupun dirinya sudah sangat lemah.
Rubel mengejarnya, dia bingung melihat Hana menjauhinya.
“ Berhenti, jangan mendekat.” Sambil memegang kepalanya yang pusing. Jangan mengurusi hidupku, aku hanya perawat KW Nyai mu.!!
" Kamu lupa bahwa Aku hanya seorang perawat KW yang telah menyusahkanmu.!!!"
“ Tenang, coba Kamu rileks."
Ujar rubel mencoba menenangkan Hana.
Hana memegang kepalanya, dia merasakan vertigo. Dan hampir jatuh. Rubel menangkapnya, memeluknya..
“ Maafin Aku hana. ”
Hana tak mampu melihat dan dia benar-benar kembali ngedrop.. Rubel menelphone polisi setempat, meminta dion untuk mengurusi semua laporan.
“ Dion tolong selesaikan masalah ini, aku mohon aku harus segera membawa Hana kerumah sakit..."
Tidak berapa lama, Dion dan polisi setempat tiba. Mereka meringkus para komplotan itu. Rubel melajukan mobil ke Rumah Sakit, tanpa melewati prosedur Rumah Sakit lagi, Dia langsung menelphone Lila agar stand by di kamar VIP tempat Ana menginap beberapa minggu lalu.
“ Ada apa dengan Hana?”
Lila melihat goresan luka di leher Hana.
" Keadaan Hana seperti ini tidak boleh terluka karena akan sangat sulit disembuhkan.”
Rubel terdiam, dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal untuk Gadis didepannya. Dia melihat Hana sungguh tak berdaya dan lemah.
“ Maafin Aku Hana.”
Lila menepuk pundak Rubel.
“ Ada apa dengan kalian?” kenapa kalian berdua terlihat sangat kotor.”
Rubel menundukkan kepalanya, penyesalan yang mendalam karena telah membiarkan hati Hana kecewa dengan perlakuannya.
“ Ceritanya panjang.
__ADS_1
“ Yah sudah Aku dan Perawat Anita akan mengurusi Hana, Kamu harus membersihkan tubuhmu, Tolong ambilkan pakaian Hana. Biar anita yang menggantikannya.
Rubel terlihat bengong.
" Gimana aku cari pakaian Hana? di ruanganv Ku hanya ada baju kaos dan celana traning.” ujarnya merasa lucu.
“ Masa iya Hana mengenakan baju dan traning Ku?”
“ Apa, aja yang penting Hana bisa berganti pakaian biar dia merasa nyaman..” jawab Lila, kemudian Lila dan Anita membantu Hana membuka pakaiannya, selagi Rubel mengambil baju kaos dan traningnya.
Sekembalinya, Lila sedang keluar dan anita sedang mengambil perlengkapan infus.. Hana hanya ditutupi dengan selimut hingga dada, dan pundaknya yang halus nampak begitu mulus dan berisi..
Perasaan Rubel sangat tidak menentu. Dia menaruh baju dan traningnya di bibir bed Hana, dan melangkah keluar kamar.
” Biarlah Lila dan Anita yang mengurus Hana.” gumannya dalam hati.
Dia bingung bagaimana mengabari Ibu hana dan Nyai.
Pasti mereka akan sangat mengkhawatirkan Hana.
Dia berjalan keruangannya, dia ingin mandi membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lengket dan gerah. Didalam kamar mandi, rubel menghidupkan air dan dia menaruh hand shower diatas kepalanya. Membersihkan tubuhnya hingga benar2 bersih..
Tidak berapa lama dia pun selesai mandi, meraih handuk di jemuran handuk dan menggosok tubuhnya hingga benar-benar kering dia keluar kamar mandi bergegas mengambil baju dilaci meja kerjanya. Dan mengenakan pada Tubuhnya.
Dia memandang Ponsel nya, dan duduk di sofa.
Siapa duluan yang Harus dia hubungi, ibunya Hana atau Nyainya.
Dia bingung, dari awal Dia menutupi keadaan Hana yang sebenarnya dari Nyai dan keluarga Hana.
" Kenapa seperti buah simalakama? Ucapnya bimbang. Dia merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari sudut matanya.
Tiba-tiba Perawat Anita memanggilnya,
“ Dokter-dokter tolongin Mbak Hana.!! Dokter Lila sedang mengurusi Zanna di ruangannya. Rubel terperanjat, dia bangun dari sofanya dengan melangkah tergesa-gesa.
Kekamar dimana Hana dirawat, Hana nampak pucat dan sesak, Perawat Anita memasang alat bantu oksigen Kepada Hana.
Rubel memandang Hana harap cemas, sakit yang diderita Hana memang membuat hana akan sering lemah, dan sesak. Dia seperti orang kehilangan tenaga melihat kondisi Hana seperti itu, seharusnya seorang dokter akan lebih tabah menghadapi pasien siapapun itu.
“ Hana bangun, maafin Aku, Aku minta maaf, sembuhlah demi Nyai dan keluargamu.”
“Jangan siksa dirimu, Kamu harus kuat bisik Rubel ditelinga Hana.”
" Banyak istighfar.. Jangan berlarut dengan kesedihanmu.”
“ Aku tidak ingin melihatmu seperti ini, bangunlah perawat KW ku, aku ingin kamu bersamaku, menemani Nyai.”
Sayup-sayup hana mendengar suara Rubel. Air Matanya mengalir, Rubel menggenggam tangan Hana. Sedetik pun tak ingin dia beranjak dari sisi Hana.
Pelan-pelan nafas hana berangsur-angsur normal. Dia masih memejamkan matanya.
Rubel tertidur disampingnya, lagi-lagi Hana mengigau.
“ Ino jangan tinggalin Ana ino.!!
“ Ino jangan pergi jangan tinggalin Ana!!!
Rubel terperanjat mendengar nama kecilnya disebut oleh perawat KWnya itu.
Dia teringat saat terakhir dia berangkat ke Australia 15 tahun lalu,
“ Ino, jangan tinggalin Ana Ino!!"
“ Inio, jangan pergi jangan tinggalin Ana!!!”
Dia berjanji akan kembali ke indonesia untuk menjadikan Ana cinderellanya.
Rubel menatap lekat, gadis didepannya. Dia tidak percaya hana di depannya adalah Ana yang dia cari.
“ Kenapa Dia menyembunyikan identitasnya dariku?!"
" Apa dia tidak mencintaiku?!”
Tapi mengapa dia membangun sebuah sandiwara, dia teringat dengan Nyai dan Bibi yang tiba-tiba berubah dan sangat menyangi Hana.
Rubel tertunduk lesu, tapi dia tidak memahami mengapa Hana menyembunyikan identitas dirinya, pantas saja Dia melihat Hana seperti tidak asing.
Dia menyesal apa maksud Hana menyembunyikan identitasnya. Dia terluka Hana telah membohonginya selama ini.. Dia hendak keluar ruangan.
Tapi tiba-tiba Hana sesak nafas lagi. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Dia benar-benar dalam keadaan lemah. Diurungkan Keinginannya pergi. Walaupun hatinya sangat terluka Dia sadar Hana membutuhkan nya saat ini, dia merasa dia sangat egois. Selama ini dia sangat keras dengan Hana.
“ Maafin ino sayang.... " Bisiknya ditelinga Hana.
Dia tak kuasa membendung kerinduannya pada Hana. dia mencium kening Hana.
Dokter Lila terkejut melihat sahabatnya itu. dia berdehem membuyarkan perlakuan istimewa Rubel pada Hana.
" Ehem-ehem yang lagi jatuh cinta." ujarnya menyindir rubel di sambut dengan wajah Rubel yang memerah.
" Terimakasih buat teman-teman yang udah mendukung Novel baruku, masih banyak kekurangan tatanan cerita, dan kurangnya kosakata menarik, mudah-mudahan kedepan bisa lebih baik. terimakasih" 🤗😍
__ADS_1