Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 64


__ADS_3

Hana terlihat sangat lemas, keringat dingin mulai berkucuran di celah jilbab dan cadarnya


" Sayang, kamu sakit?" tanya Rubel, membuat semua mata melihat ke arah Ana.


" Enggak, Ana gak apa-apa kok." jawab Hana berpura-pura baik.


Rubel segera meraih kursi roda Hana.


" Maaf yah om Tante dan semuanya Rubel dan Hana harus ke kamar dulu." ucap Rubel undur diri dan langsung mendorong Hana kedalam kamar.


Sesampainya dikamar, Rubel segera menggendong Hana dan memindahkan ketempat tidur. tangan Hana sudah sangat dingin. Rubel pun melepaskan jilbab dan cadar Hana.


" Sayang, kamu sakit??" tanya Rubel lembut sambil membelai rambut Hana. dan meraih minyak kayu putih hendak menggosok kan ke pada Hana.


" Baunya gak enak, Ana mau muntah." ucap Hana.


" Uek." Hana memuntahkan semua yang dia makan tadi di bajunya. dan wajah Hana terlihat sangat pucat.


" Kita bersihkan dikamar mandi yah." ucap Rubel dan segera menggendong Hana ke kamar mandi.


Hana segera membuka bajunya, Rubel pun sibuk menggodanya. Hana tak perduli dengan godaan Rubel. dia terus melepaskan semua pakaiannya tanpa sisa, kemudian meraih shower dan menghidupkan nya dan menyiramkan tubuhnya yang begitu lengket dengan muntah.


Rubel membantunya menuangkan body wash keseluruh tubuh Hana dan diapun mengganggu Hana bermain-main dengan bagian yang sangat dia suka, dia terus menggoda Hana, tapi Hana hanya diam tak menggubris perlakuan Rubel, dan malah membuat Hana kesal.


" Udah deh Ana lagi gak mau." ucapnya dengan nada kesal.


" Aduh kenapa jadi galak yah." ucap Rubel terus menggoda.


" Gak semangat gak bisa pergi kemana-mana, gak bisa bergerak, gak bisa jalan, gak bisa melakukan hal apapun yang Hana mau." ucapnya begitu panjang.


" Kan ada Ino, semua sudah di atur sama Allah sayang, mungkin inilah hikmahnya Allah kasih untuk kita, dengan kondisi Ana yang sedang sakit Ino harus segera mengundurkan diri dari Rumah Sakit itu, agar Ino bisa mengurus Ana, menjaga Ana, merawat Ana, kalau tidak siapa yang akan memandikan Hana???"


Hana terdiam memikirkan apa yang Rubel katakan.


" Iya juga sih." bathinnya.


" Kok diam?? masih ngambek?"


" Enggak."


" Terus kenapa masih jutek???"


" Pengen istirahat."


" Ya sudah." Rubel meraih handuk yang tergantung di dalam kamar mandi kemudian mengelap tubuh Hana dan melilit kan handuk. Rubel menurunkan Hana di tempat tidur. berusaha memijat tubuh Hana agar lebih sehat, barulah dia mengambil baju ganti dan memakaikannya pada Hana.


Rubel melihat Hana yang terlihat lemah, pikirannya masih bergelayutan soal muntah barusan.


" Apa Ana benar-benar lagi hamil?" tanya Rubel dalam hati. sambil menarik selimut untuk Hana yang terlihat menggigil kedinginan padahal saat itu hari sangat panas.


" Kamu tidur aja yah sayang, Ino keluar dulu, ada yang harus Ino bicarakan dengan om Purnawan dan Om Purwanto." ucap Rubel dan segera berlalu.


Keluarga besar baru saja menyelesaikan makan siangnya. Om Purnawan dan Om Purwanto duduk kembali di ruang tengah bersama Haikal. Rubel menghampiri mereka yang sedang sibuk membicarakan pernikahan Haikal besok. Sedangkan yang yang perempuan bersama Mila,


" Apa Rubel boleh ikut bergabung?" tanya Rubel.


" Oh tentu saja, kemarilah." ucap om Purwanto. Haikal terlihat sangat gusar, entah apa yang membuat nya gelisah.


" Kenapa Kal?" tanya Rubel seakan tahu kegelisahan nya.


" Entahlah, aku sendiri gak tahu."


" Biar lebih tenang, pergilah berwudhu." usul Rubel. Karena waktu sholat pun hampir tiba. Haikal mengikuti usulan Rubel. dia segera bangun dan mengambil wudhu. ketiga laki-laki itu pun tersenyum melihat Haikal.


" Kamu memang baik Bel, selalu mengingat pada kebaikan.". ucap Om Purnawan. Dia teringat awal pertama berjumpa dengan Rubel kesalahan dia telah melukai, keponakannya itu. dan karena Rubel juga hatinya kembali ke jalan Allah.


" Om, kenapa kami harus ke Sydney??" tanya Rubel tiba-tiba.


" Hahahaha." tiba-tiba Om Purnawan dan Purwanto tertawa.


" Kok ketawa sih Om??" tanya Rubel semakin bingung.


" Itu hadiah dari kami semua untuk Kalian berdua." ucap Om Purnawan.


" Ibu yang mengusulkan agar kalian untuk bulan madu??" ucap Om Purwanto ikut menimpali.


" Bulan madu??" tanya Rubel tak percaya.

__ADS_1


" Iya bulan madu, bukan kah kalian belum bulan madu." Sambung Om Purnawan cepat.


" Tapi Om, Rubel tidak terfikir ke arah itu dulu Om, apalagi Kondisi Hana yang belum pulih betul." Rubel beralasan.


" Kamu memang orang yang sangat lurus Rubel, seharunya kamu senang karena kami ingin kalian berdua berbulan madu, menikmati masa-masa indah kalian, seandainya kamu masih bekerja di Rumah Sakit itu apakah kamu akan ada kesempatan untuk bisa berbulan madu??" timpal Om Purnawan lagi.


" Rubel sangat senang semua memperhatikan kami berdua, tapi apa tidak sebaiknya kita menunggu Hana hingga pulih betul??" ucap Rubel dan berusaha pada pendiriannya.


Tiba-tiba Ayah, Ibu, dan Mama muncul, ikut bergabung bersama mereka.


" Rubel, ini adalah inisiatif Ayah dan Ibu agar kalian bisa berlibur, dan tidak ada salahnya kalian berdua menghabiskan waktu kalian untuk honeymoon, sekalian kalian mengantarkan Mama pulang." ucap Ayah begitu perhatian.


Rubel terdiam memikirkan perjalanan yang begitu lama di dalam pesawat dengan kondisi Hana yang tidak stabil, apalagi sepertinya Hana memang sedang hamil muda, fikirannya mulai berlari-larian tentang keadaan Hana.


Tapi, Rubel pun tidak ingin mengecewakan keluarga besar nya itu, apalagi mereka pergi sekalian mengantarkan Mamanya pulang.


" Sayang pergilah, kamu kan lebih tahu Rumah Sakit yang terbaik untuk perawatan Hana." ucap ibu membuat Rubel memikirkan kembali agar menerima hadiah dari mereka semua.


Rubel diam memikirkan apa yang ibu katakan, dia seharusnya dari dulu melakukan itu, agar Hana bisa sembuh dari sakitnya. tapi karena kesibukannya dia sendiri tak tahu harus berbuat apa, begitu egoisnya dia tidak pernah memikirkan kesembuhan Hana.


" Baiklah, tapi bagaimana dengan pekerjaan Rubel?" tanya Rubel masih memikirkan pekerjaan nya.


" Tenang saja, Kita akan merekomendasikan kamu di Rumah Sakit Swasta yang penghasilannya sangat fantastis..." ucap Om Purnawan langsung dipotong Rubel.


" Tapi Om, Rubel ingin di Rumah Sakit biasa saja agar Rubel bisa membaktikan diri Rubel untuk masyakarat yang tidak mampu." ucap Rubel yang selalu memikirkan keadaan orang lain.


" Ada sih tapi Rumah Sakit itu sangat jauh dan letaknya sangat terpelosok." ucap Om Purwanto, sambil memegang dagunya yang mulai ditumbuhi janggut.


" Tidak apa-apa Om asalkan Rubel bisa berinteraksi dengan masyarakat dari kalangan bawah." ucap Rubel begitu optimis.


Mereka semua emang tidak habis pikir, Rubel begitu antusias untuk membaktikan dirinya untuk masyarakat banyak. Padahal jika dia mau dia bisa saja bekerja di Rumah Sakit Swasta yang Uangnya bisa sangat Fantastis dan bisa menjamin hidup Rubel dan Hana.


" Om, Rubel ingin menjual Rumah Rubel yang dia Villa Buana A." ucap Rubel tiba-tiba.


" Hei, kok berfikiran seperti itu?" tanya om Purnawan tidak setuju atas pemikiran Rubel.


" Sebaiknya jangan dijual, dikontrakkan saja agar ada Pemasukan untuk kalian." usul ayah begitu memikirkan keadaan menantunya.


" Iya aku setuju dengan Ghana sebaiknya kamu tidak menjual Rumah itu, bagaimana pun itu adalah aset yang paling berharga dan sangat menguntungkan, jika suatu saat kelak kamu sudah tidak lagi bekerja kalian bisa tinggal sana, sambil menghabiskan masa tua." ucap om Purwanto.


Rubel memang bukan seorang pengusaha, makanya dia tidak pernah terbesit untuk mengontrakkan Rumahnya. padahal hanya dengan mengontrakkan Rumahnya saja dia dan Hana bisa hidup dan makan tanpa harus bersusah payah bekerja.


" Baiklah Om, Rubel percaya kan pada Om Purnawan saja." ucap Rubel dan mulai bersemangat.


" Baiklah Om akan mempromosikan Rumah mu, dan jika nanti ada yang tertarik, Om akan segera mentransferkan uang itu untuk mu."


" Ada Usulan lagi, mudah-mudahan kamu mau menerimanya, Investasi kan uang mu di bidang properti, emas dan juga saham agar kamu bisa mendapatkan Pasive income demi masa depan mu dengan Hana." ucap Om Purnawan begitu bijaksana.


" Ternyata seperti inilah kehidupan para pengusaha di fikirannya hanya bagaimana uang bekerja untuk kita bukan kita bekerja untuk uang." bathinnya bergejolak.


Haikal pun menghampiri setelah melakukan sholatnya.


" Gimana?" tanya Rubel pada Haikal.


" Alhamdulillah udah tenang." ucapnya begitu senang.


" Aku juga dulu seperti mu, gelisah gak menentu, karena gugup untuk hari esok yang sangat sakral." jelas Rubel.


" Iya, aku sangat gugup." ucap Haikal.


" Baiklah sebaiknya kita sholat Dzuhur dulu." Ajak Ayah pada semuanya. kecuali Haikal karena dia sudah lebih dulu sholat.


Mereka pun bergegas bersama-sama melaksanakan sholat. selesai sholat mereka kembali duduk untuk berbicara masalah pernikahan Haikal besok.


Walaupun hanya akad nikah om Purwanto Ingin Pernikahan Haikal sangat indah agar terus bisa dikenang oleh keduanya.


" Pa, dimana kita mengadakan akad nikah Haikal??" tanya Haikal begitu antusias.


" Papa dan Om Purnawan berinisiatif untuk mengadakan akad nikah kalian di Rumah ini, Rumah ini adalah, Rumah bersejarah untuk keluarga Agiawan, Papa ingin anak Papa juga menikah di tempat Papa dan Om Purnawan menikah dulu." jelas om Purwanto.


Tiba-tiba air mata ibu tumpah, hanya dia sendiri yang tidak menikah di Kediaman Agiawan.


" Abang tega." ucap ibu begitu lirih. dia tidak bisa menahan tangisnya lagi.


" Abang lupa dek, jangan bersedih mungkin hanya kamu yang tidak menikah di Rumah ini. tapi Rumah ini adalah saksi pertama pernikahan Hana dan Rubel cucu dari Agiawan dan Hana lah pengganti mu dek." ucapnya pelan sambil mengelus kepala Adiknya yang terbalut jilbab.


" Tapi Pa Haikal tidak mau menginap disini." Ucap Haikal, fikirannya terus berdayung hingga ke Pulau impian.

__ADS_1


" Bilang aja kamu takut digangguin sama lebah." ledek Rubel hingga Haikal terpingkal-pingkal.


" Lebah???" tanya om Purwanto bingung.


" Iya om, Lebah... kalo nyamuk kan kecil dan sekali tabok bisa mati, kalo lebah kan terbangnya bisa tinggi dan bisa menyengat dan efeknya bisa bengkak-bengkak seluruh tubuh." ledek Rubel membuat Haikal tersipu.


" Oooooo"ucap Om Purwanto panjang dan segera melirik Haikal seraya ikut menggoda.


" Makanya Kamu jangan mengganggu Hana dan Rubel, akhirnya kena batunya kan??"


Haikal tersipu malu, wajahnya memerah bak udang rebus.


" Baiklah Om, Rubel mau ke kamar Kasihan Hana." ucap Rubel dan segera berlalu.


Rubel melihat Hana telah tertidur sangat pulas. dia membiarkan Hana tidur dan dia ikut berbaring di sebelah Hana.


Dia merasa sangat senang karena Hana sudah bisa mengingat semuanya kembali walaupun, Hana masih belum bisa menerima kondisi nya.


Rubel mengelus pipi Hana, terlihat sebuah senyuman tersungging indah di bibir Hana. bibir mungil yang mereka itu menggoda Rubel untuk menciumnya. Hana terkejut dan hendak memukul Rubel namun saat dia membuka matanya ternyata Rubel yang menciumnya. diapun berpura-pura tidak perduli dan hanya membiarkan Rubel bermain-main dengan bibirnya.


Rubel mulai berkonsentrasi memainkan tangannya ke arah pakain Hana, lagi-lagi Hana diam tanpa membalasnya.


" Apa boleh Ino minta lebih?"


" Enggak." jawab Hana cepat.


" Dikit aja."


" Enggak." ucap Hana keras.


Tapi Rubel tidak bisa lagi menahan nafsu nya bagaimana pun dia adalah suaminya Hana, sudah sepantasnya dia meminta hak nya.


Hana terdiam, dia melihat Rubel begitu gelisah, dia tahu Rubel sedang menahan gejolak yang ada pada dirinya. Rubel hanya pasrah karena Hana tidak memberikan dia untuk menyentuh nya.


Hana pun mencoba membenamkan wajahnya di dada Rubel, Rubel pun memeluknya dari belakang. dia segera meniup telinga dan leher Hana.


" Maafin Ino yah udah sangat egois." ucapnya pelan namun membuat hati Hana melunak.


" Udah gak usaha di bahas lagi, kasian si EmPi." ucapnya malu-malu.


" Jadi boleh nih??" tanya Rubel meyakinkan.


" Boleh apa?" tanya Hana berpura-pura bodoh.


" si EmPi mau main tembak-tembakan." ucapnya menggoda.


" Siapa bilang boleh, cuma bilang kasihan aja kok sama si EmPi."


Rubel mencubit hidung Hana, dia terus berusaha membuat Hana pasrah dengan perlakuannya. Hana terlihat begitu menikmati perlakuan Rubel namun lagi-lagi Rubel berhenti tiba-tiba saat Hana terlihat meminta lebih, semua ini membuat Hana sedikit kesal.


Rubel puas mengerjai Hana yang sok jual mahal tapi mau.


" Emang enak dikerjain." bathin Rubel terkekeh.


" uhm, kesel-kesel." Bathin Hana kecewa.


Terlihat jelas wajah Hana cemberut karena perlakuan Rubel yang tiba-tiba mengerjai nya.


tapi Rubel mulai Tidak bisa menahan lagi, sesuatu dibawah sana segera meminta lebih, tanpa izin yang punya dia pun menerobos masuk.


" Dasar Jae!!" celutuk Hana kesal.


" Bukan Jae sayang tapi si EmPi." Rubel meledek Hana.


Akhirnya mereka berdua pun menikmati makan siangnya itu dengan bahagia. Hana pun terlihat lebih sehat, walaupun dia tidak bisa bergerak dengan aktif seperti biasanya. mereka melakukannya hingga terdengar Azan Ashar. Rubel terkejut diapun segera mengakhiri santap siangnya itu Hana pun menerima nya dan mereka berdua kelelahan.


Rubel segera beranjak dari tempat tidur, dia pun menggendong Hana untuk mandi. kemudian melanjutkan Sholat Ashar. Hana duduk di kursi rodanya mengikuti gerakan sebisanya. selesai sholat mereka berdua saling tatap.


" Apakah Ana sudah siap untuk bulan madu ke Sydney??" tanya Rubel meyakin kan Hana.


" Apa bisa???" tanya Hana bingung karena pasti akan menyusahkan Rubel untuk mendorong kursi rodanya.


Rubel tersenyum dan meyakinkan akan baik-baik saja.


"


"

__ADS_1


"


" Hai sahabat Dokter Cool jangan lupa Vote like dan komennya yang banyak yah, terimakasih 😍🤗, maaf telat up-nya karena ada pekerjaan yang mendesak semoga semua suka yah."


__ADS_2