
Masih Di kediaman Agiawan, Hana dengan hati-hati membuka bungkusan kado. dia benar-benar kelelahan karena sudah kotak ke empat tapi belum juga ada tanda-tanda kehidupan.
" Serius nih kal, kotak kado nya Segede gaban jangan bilang kalo isinya Segede upil yah." gerutu Hana kesal.
" Eh, masa yang milad marah-marah, seharusnya bersyukur ini kan pemberian jadi harus ikhlas apa yang dikasih." ucap Haikal dengan bangganya.
" Iseng banget sih." gerutu Hana makin kesal. semua wajah ikut muram karena Hana tidak menampakkan wajah bahagia. sedangkan Haikal memasang wajah paling bahagia karena berhasil mengerjai Hana.
" Udah ah capek, Hana Nyerah deh gak mau buka ini kado." ucap Hana mengeluh.
" Ya udah, sini Ino bantuin." ucap Rubel.
" Hehehe super Hero datang!!" seru haikal meledek Rubel.
" Ya iyalah, siapa dulu!" aku nya dengan bangga.
Tapi kali ini Mereka melihat kotak cover dari kadonya.
" Kursi plastik???" tanya Hana tak percaya di ikuti semua keluarga.
" ya iyalah, kan kado apa kamu boleh." ucap Haikal tanpa rasa bersalah.
" Astagfirullah, kok direktur HK Cafe dan resto cuma bisa kasih kursi plastik, malu-maluin aja." ucap Om Purwanto kesal.
" Duh, bukain dong bel jangan dianggurin itu kan pemberian aku yang paling ikhlas." goda Haikal dengan santainya.
Tiba-tiba Hana mendekati Haikal hendak menoyor kepala nya, namun tidak jadi saat Rubel membuka kotak kado itu. isinya membuat semua mata terperanjat.
" Hehehe Haikal Baek deh." ucap Hana tiba-tiba dengan wajah menahan malu.
" ehm apa gak terlalu terburu-buru kasih kado ini?" tanya Rubel ragu.
" Enggak apa-apa sayang do'ain aja sikecil sehat." jawab ibu tenang.
" Gimana Om, apa ada yang sependapat dengan ibu?" tanya Rubel tidak puas.
" Gak apa-apa mudah-mudahan Hana sehat yah." jawab Om Purnawan menyemangati.
" Gimana Om." tanya Rubel pada Om Purwanto.
" Alhamdulillah, kalian berdua harus semangat hingga kondisi Hana bisa sehat hingga sekarang adalah anugerah yang terindah yang Allah kasih buat kalian, jaga Hana terus, buat dia terus bahagia, mudah-mudahan sikecil juga sehat." ucap Om Purwanto bersemangat.
Hana mencium punggung tangan Rubel, membuat Rubel terharu. dia benar-benar merasa sangat bahagia Hana masih bisa bertahan dengan usia kandungan yang hampir memasuki 4 bulan. kondisi Hana yang sudah lumayan baik dari sebelumnya adalah ke ajaiban. vonis penyakit yang menjadi momok hanyalah membuat keadaan semakin buruk.
" Iya, om makasih Haikal." jawab Rubel sambil menepuk pundak Haikal.
" Mudah-mudahan kalian berdua sehat, berjuang sama-sama untuk kesembuhan Hana, dan bisa melahirkan si kecil hingga waktu yang ditentukan dan bisa membesarkan nya."
" Aamiin." ucap semua keluarga.
Suasana bahagia, bercampur haru. sebuah stroller baby yang sangat mewah pemberian Haikal, membuat mereka terharu ternyata dengan ini mereka sadar Hana akan menjadi seorang ibu, dengan kondisi fisik yang tidak sehat, sejak beberapa bulan ini Hana sudah lumayan dibilang sehat. Rubel tak kuasa dia memeluk Hana begitu erat.
Ibu menarik ke empat anak ibu Maemunah. tiba-tiba Zaena berteriak.
" Woi, stop adegan vulgar gak boleh di praktekan di depan bocah-bocah." teriak Zaena.
Rubel hanya tersenyum. padahal Rubel hanya ingin memeluk Hana saja, gak akan berbuat sesuatu yang lebih heboh.
" Ya sudah, untuk kado-kado yang lain biar Hana buka di dalam kamar aja sama Rubel." seru Om Purwanto. Rubel dan Hana pergi ke kamar untuk beristirahat kado-kado dibawa oleh bibi ke dalam kamar.
*****
Suasana di Ruang tengah, Zaena, Lila sedang asik mengobrol berdua.
" Silahkan di cicipi makanan nya." ucap ibu pada semua orang. Zaena yang merasa sudah sangat kelaparan duluan memburu makanan itu hingga memenuhi piringnya.
" Kamu kelaparan apa kesambet sih Zae?" tanya Lila bingung akan kelakuan sahabatnya.
" Perbaikan gizi."
" MasyaAllah, udah subur gitu masih butuh perbaikan gizi gak salah tuh." celutuk Haikal.
Mila yang mendengar Haikal mengganggu Zaena, segera melarikan secepatnya sang suami agar acara tidak berantakan.
__ADS_1
" Sayang, jangan bilang kamu cemburu sama Zaena yah?" goda Haikal karena Mila menariknya ke tempat yang jauh dari keramaian.
" Mas Haikal, kamu tuh kebiasaan deh kalo udah gangguin dokter Zaena pasti lupa daratan, jadi biar gak bikin kekacauan aku bawa kamu kemari." Ucap Mila dengan manja.
" Ehm, kamu gak cemburu sama dokter Zaena? tanya Haikal lagi.
" Mas, ngapain cemburuan sama dokter Zaena lagian yang kurang kerjaan tuh kamu, bukan dokter Zaena, kalo pun kamu suka sama dokter Zaena emangnya kamu berani ngelangkahin mayat sahabat kamu sendiri si Dedi?" tanya Mila tak mau kalah.
" Aduh manisnya cintaku, ternyata kamu istri yang paling Baek sedunia, pengertian, penyayang, gak cemburuan, pokoknya perfek deh." goda Haikal panjang.
" Eh, gombal udah kaya rel kereta api panjang banget." ucap Mila kesal dan membiarkan Haikal berdiri di depan pintu Ruang keluarga.
" Sayang tunggu dong, baru aja di puji eh udah main tinggal aja, emang gak pengertian." ucap Haikal.
Mila langsung berbalik badan dia memasang wajah super jutek.
" Aduh, rasa-rasanya ada bau elpiji mau meledak." goda Haikal tak henti-hentinya.
Mila kembali berjalan ke arah Haikal, dia menggandeng Haikal dan mereka kembali ke ruang tengah. Haikal hanya tersenyum melihat Mila berubah fikiran untuk menggandeng tangan nya.
" Kamu emang pandai menarik hati aku." bisik Haikal membuat wajah Mila bersemu merah.
" Udah ah, lagi rame gini." ucap Mila dengan wajah tersipu malu.
" Kamu beneran manis deh kaya kue lapis legit itu." tunjuk Haikal pada kue lapis yang ada di atas meja.
Waktu terus berlalu, malam ini malam yang sangat membahagiakan bagi semua keluarga. semua orang sudah kembali pulang, Rubel dan Hana kelelahan, awalnya Rubel ingin menuntut haknya, tapi Hana terlihat begitu pucat. dia pun menghampiri Hana dan mencium keningnya dengan lembut.
" Sayang, istirahat lah Ino gak mau lihat kamu sakit karena harus melayani Ino."
" Benarkah, ehm makasih yah cinta." ucap Hana sambil memeluk Rubel dengan erat. tak perlu menunggu waktu lama Hana pun terlelap, Rubel menyelimuti Hana sambil memegang perut Hana yang mulai nampak berisi.
" Sehat terus yah jagoan Papa, jadi anak yang baik, penurut, dan bijaksana." ucap Rubel sambil mencium perut Hana. mereka pun tertidur.
******
Azan subuh terdengar sangat dekat, mushola di d Rumah Sakit RH selalu melakukan sholat subuh rutin, bahkan Rubel juga menyiapkan Seorang imam untuk di mushola Rumah Sakit RH.
" Den bangun den, udah subuh." ucap Mia sambil menggoyangkan tubuh Alan.
" Ah, berisik." ucapnya dengan nada kesal dan membalikkan tubuhnya memunggungi Mia.
" Den, sholat dulu udah subuh." ucap Mia sekali lagi.
Alan membelalakkan matanya ke seluruh ruangan. dan dia pun berbalik dan terkejut karena dia tertidur satu ranjang dengan Mia.
" Hei, wanita jutek kenapa aku bisa tidur dengan mu?" tanya Alan ketus.
" Den, tadi malam den Alan jagain Mia karena semalam mati lampu." jawab Mia.
Alan memikirkan apa yang terjadi semalam. dia pun bergegas bangun tanpa memperdulikan ucapan Mia, Mia menghela nafas panjang. Mia pun ikut bangun menuju kamar mandi. karena merasa kegerahan dia pun berinisiatif untuk mandi. sebelum dia mandi dia membawa pakaian dan handuk ke dalam kamar mandi, botol infusnya di gantung di standing infus. waktu terus berlalu Alan selesai solat subuh kembali lagi ke Ruangan Mia, tapi Mia tidak ada ditempat tidurnya, Alan pun mencoba mengetuk pintu kamar mandi tapi tidak ada yang menyahut, karena khawatir Alan membuka pintu dengan sedikit dipaksa. ternyata pintu kamar mandi tidak terkunci.
Mia benar-benar terperanjat dengan apa yang di lakukan Alan. begitu pun Alan dia Tidak sengaja melihat Mia yang sedang mandi tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Mia berlari kebelakang pintu bersembunyi dari Alan. Alan yang terpaku segera berbalik dan menutup pintu kembali.
Mia benar-benar sangat malu, dia tidak pernah berfikir akan akan terjadi kejadian itu.
Alan yang merasa bersalah, lebih memilih pergi dari ruangan itu.
Mia, menggunakan pakaiannya dulu setelah itu baru dia berani keluar dari kamar mandi. dia melihat keseluruh ruangan tapi dia tidak melihat Alan. Mia memilih duduk di atas tempat tidur, beberapa lama seorang perawat datang menghampiri.
" Gimana kabar mu Mia?" tanya perawat itu.
" Alhamdulillah aku sudah lumayan sehat, mudah-mudahan dokter sudah bisa memberikan izin aku untuk pulang jadi besok sudah bisa kembali bekerja." jawab Mia bersemangat.
" Kamu sudah diberikan izin cuti sama dokter Rubel hingga kondisi kamu benar-benar pulih, lagi pula sudah ada yang menggantikan pekerjaan mu sementara." jawab perawat itu cepat.
" Ehm, dokter Rubel memang sangat baik. terimakasih yah moi." ucap Mia pada perawat yang notabene seorang gadis berperawakan putih keturunan Tionghoa.
" jam 9 ada visit dokter angga, dia minta oleh dokter Rubel untuk membawamu melakukan ST scan." ucap Amoi.
" ST scan? apakah separah itu kondisi aku?" tanya Mia tak percaya.
" Nurut aja lagi pula dokter Rubel dan Mbak Hana ingin tahu keadaan kamu baik-baik aja."
__ADS_1
" Kenapa mereka begitu perhatian padaku?" tanya Mia bingung.
" loh bukan kah kalian keluarga?" tanya Amoi bingung.
" Ehm, dokter Rubel dan Mbak Hana menutupi kondisi aku yang sebenarnya, apakah mereka malu mengatakan bahwa aku anak asisten rumah tangga nya den Alan?" batin Mia.
" Iya, aku keluarga jauh mereka, tapi mereka begitu memperlakukan aku seperti adik mereka sendiri." ucap Mia sendu. dia benar-benar tidak menyangka bahwa Rubel dan Hana begitu perhatian padanya.
" Makasih yah moi."
" Ya sudah aku balik dulu yah, nanti dokter ganteng itu yang akan visit kamu." goda Amoi.
" Hehehe kayanya dokter kita semua masih muda-muda dan ganteng-ganteng yah." ucap Mia bersemangat.
" Makanya capat sembuh biar bisa curi hari merek buat jadi pacar." goda Amoi dan berlalu meninggalkan Mia.
Alan kembali ke kamar, dia membawakan dua bungkus sarapan pagi. makanan itu terlihat sangat enak baunya membuat Mia menelan Saliva nya. Alan berpura-pura tidak tahu dia masih teringat atas kejadian di kamar mandi tadi. dia menaruh bungkusan itu di atas lemari di samping Mia, sebungkus lagi dia ambil untuk di makan. dia mengambil 2 piring dan menaruh sendok untuk Mia, dan duduk di sofa. Alan tidak menawarkan makanan nya dia terlalu sibuk dengan sarapan nya. Mia terlihat sangat lapar. akhirnya dia berinisiatif berbicara pada Alan.
" Den apakah nasi ini untuk saya?" tanya Mia tanpa ragu.
" heuh." jawab Alan pendek.
" Terimakasih yah den." ucap Mia bersemangat, dan segera meraih piring yang berisi bungkusan sarapan itu.
Karena terburu-buru Mia makanan dengan sangat berantakan. sehingga masih ada nasi yang menempel di pipinya. Alan menyelesaikan makannya. dan membuang bungkusan ketempat sampah dan membawa 2 botol air mineral kembali ke dalam kamar. dan menaruhnya di atas lemari kecil di samping Mia tanpa berkata sepatah katapun.
" Dasar anak kecil makan aja berantakan, ucap Alan sambil menarik nasi yang menempel dengan sedikit paksa sehingga seperti sebuah cubitan yang dirasakan oleh Mia.
Mia meringis, tapi tidak berani mengeluh. dia memelih diam dan menghabiskan makan nya. kemudian menaruh piring dan siaa bungkusan di atas piring di dekat lemari. Alan masih bersikap acuh, sehingga Mia tidak berani berkata apapun pada Alan. Mia bangun dengan mendorong standing infus, sebelahnya dia membawa sisa bungkusan sarapannya. Alan berpura-pura sibuk dan tidak memperhatikan apa yang di kerjakan oleh Mia. setelah di rasa cukup lama dia mulai khawatir karena Mia belum juga balik.
alangkah terkejutnya Alan melihat Mia, asik mengobrol dengan teman perawat nya di ruang informasi.
" Hei, kalian apa tidak ada pekerjaan lain selain bergosip, apa mau gaji kalian aku suruh potong sama dokter Rubel." ucap Alan kesal.
" Maaf, den." jawab Mia pelan. semua orang melihat ke arah Alan yang melipat kedua tangannya dan memasang wajah super serius dan begitu sinis.
Mia berjalan ke arah Alan, sambil menunduk kan kepalanya.
" Jangan, panggilan aku dengan sebutan den lagi didepan teman-teman mu ingat itu." ancam Alan dengan suara kecil.
" Maaf, jadi saya harus panggil apa?" tanya Mia.
" Panggil Abang Alan." ucap nya cepat dan berjalan meninggalkan Mia. Mia berjalan dengan gontai, sesekali melihat kearah teman-teman perawatnya.
" Siapa dia yah, kenapa Mia begitu lemah di depannya." tanya salah seorang perawat.
" Dia adiknya dokter Rubel, dan mereka masih keluarga nya Mia." jelas Amoi.
" Tapi cara ngomongnya jutek banget yah, kaya orang pacaran lagi cemburu." celutuk perawat yang lain.
" Hust, udah deh gak usah buat gosip yang gak bener, nanti kita bisa di pecat sama dokter Rubel." ucap Amoi lagi.
" Eum, padahal lagi asik bergosip." ucap salah seorang dari mereka dengan wajah manyun.
" Apa mau adiknya dokter Rubel suruh balik kemari?" tanya Amoi dengan nada mengancam.
" Eits, jangan dunk entar gak bisa lihat pemandangan super indah disini lagi." ucapnya dengan genit.
" Pemandangan indah?" tanya Amoi bingung.
" Pemandangan Pergan dan Dogan." jawab perawat itu asal.
" Apaan tuh?" tanya Amoi makin bingung.
" Perawat ganteng dan dokter ganteng." jawab perawat itu dengan malu-malu.
Seketika mereka tertawa, mendengar ucapan yang baru saja di ucapkan oleh salah seorang dari mereka. suasana kembali sunyi saat Alan mengeluarkan kepala nya mengintip ke arah mereka.
"
"
" Makasih yah atas dukungan sahabat semua, dukung terus karya Author yah terimakasih 😍🤗"
__ADS_1