
“Apa Kirana bebas?” Tanya Rubel tak percaya.
“Seseorang telah menjaminnya, dan dia menjadi tahanan kota.” Jelas dion.
“Siapa yang telah melakukan semua ini?” tanya Rubel berang.
“Aku belum tahu pasti, tapi pejabat yang berwenang memberikan instruksi padaku untuk segera melepaskan Kirana. Sepertinya seseorang punya peranan penting yang telah menjaminnya. ” Jelas Dion.
“Tapi bagaimana dengan ana??tanya Rubel khawatir.
“Aku akan tetap meminta orang untuk mengawasi Kirana. Dan Aku akan memilih dua orang kepercayaan ku untuk menjaga Hana.”jelas Dion untuk menjawab kekhawatiran Rubel.
“Tolong Dion!!! Aku serahkan semua masalah ini padamu.” Terang Rubel.
“Baiklah, aku akan berusaha sebisa mungkin, untuk kebaikan dan keselamatan Hana.” jawab Dion.
“Makasih yah dion..
“Sip, nanti aku hubungi lagi. Dan Panggilan Pun ditutup.
Rubel memandangi foto Hana di layar ponselnya.
“Maafin ino yah sayang, ini semua karena ino. Seharusnya Ino nggak gegabah seperti ini menerima Kirana untuk membalas sandiwara ana. Seandainya ino tahu akan seperti ini.... Tiba-tiba nyai masuk kedalam ruang kerja Ino..
“Kenapa sayang?” tanya nyai melihat kekhawatiran diwajah Rubel.
Rubel, menghampiri nyarinya. Dan mendorong kursi roda itu di dekat sofa duduknya.
“Ino bingung nyai.” Ucapnya.
“Ada apa sayang ayook ceritakan sama nyai.” Ujar nyai sambil membetulkan kaca matanya.
“Panjang, ceritanya nyai.” Ucap Rubel kemudian rebahan diri di sofa.
“cerita aja siapa tahu nyai bisa bantu.”Jelas nyai sambil mengusap kepala cucu kesayangan nya itu yang terbaring di pinggir sofa.
“Tapi janji nyai gak akan marah sama Ino kan?? Tanya Rubel meyakinkan.
“iya sayang. Cerita aja. Nyai gak akan menyela ino.” Jawab nyai yakin.”
“ luka diwajah ana sebenarnya bukan karena jatuh dari pohon tapi karena seseorang telah melakukan pada ana dengan sangat kejam dan kasar.” ucap Rubel pelan sambil memandangi wajah tua nyai yang penuh kerutan.
“Siapa yang telah berani melakukan itu?” tanya nyai penasaran.
“Nyai ingat tetangga kita yang bernama “Ana”?” tanya Rubel mengingatkan.
“iya, Ada dengan Ana ?” tanya nyai bingung.
Rubel bangun memandangi nyai lekat.
“Gadis itu bernama KIRANA. Dia mengaku bahwa dia adalah Ana teman kecil Ino melalui pesan chat.”ungkapnya pada nyai.
“ehm, nyai mengerti sekarang. Tempo hari dia sering kemari untuk menanyakan tentang Ana pada nyai. Dan sempat meminta nomor ponsel Ino sama nyai.”jelas nyai panjang.
“ dengan motif apa dia melakukan sandiwara itu?”tanya nyai tak mengerti.
“Waktu, Rubel sholat di mushola perumahan. Rubel berdo'a untuk segera dipertemukan dengan ana teman kecil ino, setelah selesai berd'oa seseorang sedang berdiri di belakang pintu musholah, Rubel sangat yakin waktu itu Kirana mendengar semua do’a Ino.” Jelas Ino panjang.
“Trus, maksudnya apa dia bersandiwara? Tanya nyai bingung.
“Dia ingin mendapatkan Ino, dan mencoba mengorek informasi tentang Ana pada nyai.”jelas Rubel pada nyai.
“Dia berpura-pura menjadi ana, tapi dia memanggil Ino dengan panggilan Rubel bukan Ino, Ino merasa aneh dan Ino mencoba mencari tahu siapa Ana ini.” Ungkap Rubel pada nyai.
“dan beberapa pesan chat beberapa hari kemudian dengan isinya “jangan percaya pada gadis yang mengaku dirinya ana. Dia bukan ana yang kamu cari. Dia hanya ingin merebutmu dari ana yang asli. Dan satu hal ana kampungan itu hanya ingin hartamu.” Dan Ino yakin pesan chat itu dari orang yang sama yaitu KIRANA.” Jelas Rubel panjang lebar.
“Kenapa dia memukul ana?”tanya nyai masih diliputi penasaran.
“berawal dari makan siang di resto ayam Keprek. Hari itu ana bersama seorang lelaki bernama Haikal mereka hendak makan di resto itu juga. Dan Ino tidak menyangka bisa bertemu dengan ana disitu dan waktu itu juga Ino berjanji akan menemui ana yang mengaku di pesan chat.
Terjadilah adu mulut antara Kirana dengan lelaki itu, dia mengatakan bahwa ana kampungan lelaki itu membela ana. Dan selesai makan mereka langsung pergi, Ino mencoba menyusul mereka waktu itu Ino ingin memukul Haikal laki-laki yang bersama Ana, tapi Ino lupa telah meninggalkan Kirana didalam dan kembali adu mulut Ino dengan Kirana. Dan Kirana melampiaskan kemarahannya kepada Ana.” Cerita Rubel panjang.
“kenapa kalian menyembunyikan semua ini dari nyai?”tanya nyai sedih.
“Ino dan ana menyimpan semua ini agar nyai tidak kepikiran. Yang terpenting saat ini ana sudah lebih baik, nyai harus sehat, jangan kepikiran, dengan masalah ini. biarlah Rubel dan Dion yang mengurusnya.” Ujarnya menenangkan dan memeluk nyai begitu erat.
******
Suara ponsel Rubel berbunyi, dia baru saja menyelesaikan sholatnya. Dia melihat ke layar ponselnya siapa yang telah menghubunginya subuh-subuh begini.
Panggilan dari Australia.
“Halo?” jawab Rubel menerima panggilan itu.
“Ino, ini papa.” Terdengar sayup-sayup suara itu menyebut dirinya papa. Walaupun enggan dia memanggil sebutan itu toh laki-laki yang sedang menelepon nya ini sekarang telah menjadi suami sah mamanya.
“Iya pa ada apa?”tanya Rubel datar.
“Mama sekarang dirawat di Fairfield hospital Sidney, kena serangan jantung.” Jawab papa tirinya itu.
__ADS_1
“apa?” tanya Rubel panik.
“Mama ingin Rubel kemari. Papa sudah meyakinkan mama bahwa Rubel sangat sibuk. Dan kasian nyai jika Rubel kemari pasti akan sangat kesepian.” Ujar nya perhatian.
“Enggak apa-apa pa, nyai sudah ada yang menemani disini.. Rubel akan memberi kabar kerumah sakit dulu, dan mencoba meyakinkan nyai, setelah itu Rubel akan mencari tiket pesawat ke Australia. Ujarnya cepat.
Pagi itu juga Rubel ke kantor Dion. Dengan pikiran yang sudah bercabang.. antara nyai, Hana dan Mama nya. Ini adalah situasi berat yang harus dipilih, bagaimanapun mama adalah orang yang terpenting dalam hidupnya. Orang yang telah melahirkannya dan juga membiayai semua kebutuhan Rubel sejak sekolah hingga kuliah. walaupun Rubel tinggal dengan nyai.
“Hai tumben pagi-pagi udah kemari, kangen yah?” seloroh. Dion menggoda Rubel.
“Aku mau minta tolong sama kamu, tolong Carikan aku supir sekaligus bodyguard untuk Hana. Hari ini aku akan berangkat ke sidney.” Jelasnya cepat.
“Begitu pentingkah?? Tanya Dion bingung.
“iya, mama ku masuk rumah sakit di Sidney, beliau kena serangan jantung.. papa tiri ku yang menelpon subuh tadi.
“Oh, maaf aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu.” Jawab Dion bersimpati.
“ gak apa-apa kamu kan sahabat ku.. biasa aja kalo kita saling bercanda.” Ujar Rubel dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya.
“Oklah, Dion aku harus ke rumah sakit, tolong kirimkan bodyguard itu kerumahku nanti siang setelah semua urusan ku dirumah sakit selesai...
“Ok. Siap laksanakan.” Jawab Dion tegas.
Rubel keluar dari kantor Dion, dia masuk kedalam mobil, di raih ponsel nya di box mobil.. dan membuka layar ponselnya mensearch nama Hana.
Dia menelpon Hana.
“Assalamualaikum.” Sapa dari seberang.
“Wa'alaikum salam. Jawab Rubel.
“Sayang sebentar lagi ino jemput ana kerumah.” Jangan lama-lama berdandan gak usah ke kecentilan. Nanti Ino terlambat kerumah sakit.”
“Jiah kok jadi ana yang disemprot sih.” Kalo mau berangkat kerumah sakit kenapa harus bawa-bawa ana. Ino kan bisa pergi sendiri.” Jawab Hana kesal.
“ayo, dong sayang ini bukan saatnya ngambek. Ino butuh ana saat ini. Jadi tolong dandan yang cepet.”Ujar Rubel menenangkan.
“ya udah tutup trus telpon nya ana mau siap-siap.” Jawab ana cepat.
10 menit mobil X silver itu telah berhenti di depan rumah. Rubel turun dari mobil untuk meminta izin pada orang tua Hana. Mulai hari ini Hana akan menemani nyai dirumahnya selama Rubel di Australia.
“Ibu.” sapa Rubel pada ibu yang sudah berdiri di teras rumah.
“iya, nak. Hana nak Rubel udah datang.” Teriak ibu kedalam rumah.
“Nak, Rubel lama?” tanya ibu khawatir.
“paling cepat seminggu. Tapi ibu gak usah khawatir Rubel telah menyewakan seorang supir sekaligus bodyguard untuk Hana dan nyai selama Rubel di Australia. Ibu dan ayah juga boleh menginap di sana jika ibu kangen sama Hana.” Ujar nya meyakinkan ibu.
Hana mendengar semua percakapan ibu dan Rubel.
“kok Ino gak cerita kalo ana akan menginap dirumahnya ino.kan ana belum menyiapkan pakaian-pakaian ana.” Ujarnya dengan kening berkerut.
“Ibu, Rubel bawa Hana yah.” ujar Rubel pamit tanpa menghiraukan wajah Hana yang sedikit kesal.
Hana dan Rubel berpamitan. Hana mencium tangan ibu dan memeluknya.
“jaga diri yah nak.”sambil mengusap kepala Hana.
Mereka melanjutkan perjalanan kerumah sakit.
“ana tunggu diruangan Ino yah, Ino mau ngurus cuti Ino di ruangan kepala rumah sakit. Setelah itu kita ke butik untuk beli baju biar ana ada baju ganti.”
“kenapa harus beli, kan baju ana masih banyak dirumah. Kita ambil dirumah aja.”jawabnya menolak.
“Dengar yah ana sayang.” Tolong biarkan Ino memberikan apa yang Ino mau untuk ana. Dan jangan pernah menolak rezeki gak baik.” Jawabnya menjelaskan dan berlalu pergi keruangan kepala Rumah Sakit.
Setelah semua urusan dirumah sakit selesai. Rubel mengajak Hana makan di HK cafe dan resto. Mereka pun memesan makanan. Tak berapa lama pesanan pun sampai.
2 Nasi bakar daging komplit dengan minumnya 2 botol air mineral. Rubel tidak memesan minuman yang dingin atau yang manis-manis untuk menjaga kondisi tubuh tetap baik.
Seseorang memperhatikan mereka di ruangan VIP ruangan ini dibatasi dengan kaca tembus pandang. Karena penasaran laki-laki itu pun keluar.
“Eh, kalian berdua?” tanya laki-laki itu mengejutkan Hana dan Rubel. Mereka berdua melihat kearah suara.
“Haikal.”sapa Hana pada laki-laki itu.
“Maaf udah mengganggu makan kalian.” Bagaimana makanan nya?” tanya Haikal ingin tahu reaksi mereka tentang makanan di cafe dan resto miliknya, dan kebetulan dia mampir untuk makan siang di situ.
“alhamdulillah,enak.” Jawab Hana tanpa melihat ekspresi wajah Rubel yang sedikit cemburu.
Rubel menyelesaikan makanannya, ada hal yang ingin dia sampaikan pada Haikal tapi tanpa diketahui Hana. Rubel memberikan kode pada Haikal.
“Haikal aku pesan 3 bungkus nasi bakarnya untuk orang dirumah. Terangnya sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Haikal.
Rubel mengikuti Haikal ke dapur.
“Alisa tolong buatkan 3 bungkus nasi bakar komplit untuk dokter Rubel bawa pulang.” Perintahnya kepada pegawainya.
__ADS_1
“Aku mau cerita masalah Kirana. Dia sudah bebas.”
“Hah bebas?” tanya Haikal tak percaya.
“Iya seseorang yang berkuasa di kota ini telah menjamin Kirana.”
“haikal, tolong pantau Kirana,aku akan berangkat ke sidney hari ini untuk menemui mamaku yang dirawat karena serangan jantung.” Ujarnya menjelaskan.
Haikal mengangguk pelan..
“Apakah aku boleh jalan dengan Asisten mu Mila?” tiba-tiba Haikal bersuara.
“Tentu saja.” jawab Rubel dengan senang hati, mendengar Haikal ingin mendekati asistennya. Berarti Haikal gak akan mendekati Hana lagi. Ujarnya dalam hati.
“baiklah Haikal, aku dan Hana harus bersiap2 untuk keberangkatan ku. Terimakasih sudah mengambil keputusan untuk mendekati asisten ku. Dia gadis baik dan sangat pengertian. Pasti kalian akan cocok.” Ujarnya dan berlalu mengambil pesanan yang di bawa oleh pegawai Haikal.
Rubel hendak membayar makanan itu.
“Gak usah bayar, lain kali aja.. ucap Haikal dengan wajah sedang bahagia. Tapi Rubel merasa tidak enak.
“Jangan dong bro.” kamu kan juga usaha masa kami digratisin.
“please, kali ini aja kamu gak usah bayar. Anggap ini rezeki yang Allah kasih kekalian, Rezeki jangan ditolak.” Ujar Haikal meyakinkan.
“Ok, terimakasih banyak. Dan aku titip Hana dan juga Mila selama aku pergi.” pinta rubel pada Haikal.
“Ok.” Jangan khawatir aku akan menjaga mereka. Jawab Haikal mantap.
Rubel menghampiri Hana.
“sayang ayok kita belanja.” Ajak rubel pada Hana. Dan keluar dari cafe dan resto itu menuju parkiran.
Rubel mengemudikan mobil dengan santai, dan Mereka berhenti disebuah butik. Di butik itu semua perlengkapan pakaian dari pakaian dalam hingga busana kasual, celana dan rok ada. Rubel duduk di sofa melihat Hana memilih pakaian. Dan dia membisik.
“Jangan lupa ana gak bawa pakaian dalam.”ucapnya pelan.
Hana tersipu mendengar Rubel yang begitu perhatian mengingatkan hingga pakaian dalam.
Hana memilih beberapa pakaian santai, baju kasual, dan beberapa baju tidur.dan setengah lusin CD dan BRA.. dia menyembunyikan pakaian dalam itu dengan pakain yang ada ditangannya.
Saat akan membayar di kasir. Rubel tidak sengaja melihat nomor pada BRA yang berada dimeja kasir.
“Wow, nomor X.” Batinnya dalam hati sambil melirik kearah Hana. Dari ujung kepala dan berhenti didada Hana. Hana tanpa sengaja melihat kearah Rubel yang sedang memperhatikan nya.
Hana menutup dadanya dengan tangannya. Rubel yang sadar segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Selesai belanja. Mereka langsung pulang kerumah.
Hana membawa belanjaannya kedalam rumah. Nyai melihat Hana dengan wajah bahagia.
“wah ada yang pulang ngeborong.” Ujar nyai menegur Hana dengan senyuman.
“Nyai, Rubel mau ngomong sama nyai.” Ujar Rubel mengalihkan suasana.
“nyai Rubel akan ke Australia, mama sedang dirawat Fairfield hospital Sidney.” Ujarnya dengan hati-hati.
“Mamamu sakit apa?” tanya nyai khawatir.
“Cuma demam tapi kata papa mama rindu sama Rubel.” Ujarnya menyembunyikan keadaan mama yang sebenarnya pada nyai.
“trus kapan Ino akan berangkat?” Tanya nyai lagi.
“hari ini.” Jawabnya singkat.
Rubel membaca kegelisahan nyai diwajah nyai nya.
“Nyai sayang ino gak lama paling cepat seminggu Ino udah balik. Ana akan menginap disini sampai Ino pulang. Dan Ino juga sudah menyewa supir sekaligus bodyguard untuk menjaga Hana Dan Nyai. Ujarnya menenangkan.
Hana membawa semua belanjaan dan dibantu bibi masuk ke kamar tamu. Dikamar itu ada sebuah lemari kayu jati dengan pintu geser sliding.
Hana membuka lemari itu didalam nya ada pakain kerja Rubel dan tersisa 1 rak kosong dan bisa digunakan Hana untuk mengisi pakaiannya. Dia Lebel harga pada pakaian-pakain itu dan melipatnya. Kemudian menyusun didalam lemari satu persatu.
Tiba-tiba Rubel masuk kedalam kamar, Hana sedikit gugup takut Rubel melakukan hal yang aneh-aneh padanya. Tapi pintu kamar masih dibiarkan terbuka, hati Hana sedikit lega mana mungkin Rubel melakukan hal-hal aneh jika pintu itu masih terbuka. Ujarnya membatin.
“Sayang, dia memeluk Hana lembut dari belakang.” Dugaannya meleset. Hana terlihat canggung.
“Ino jangan macem-macem.” Gak enak dilihat orang. Lagian kita belum menikah pamali pelukan-pelukan kaya orang sudah menikah.
“sebentar aja.” Jawab rubel memohon.
“Dengerin Ino yah. Ino titip nyai,sama bibi, ana gak boleh terlalu lelah, jangan pergi sendiri tanpa siapapun menemani, ino udah menyewa supir sekaligus bodyguard untuk ana.saat ini kondisi ana masih belum stabil bisa saja Kirana berbuat nekad pada ana untuk membalas dendam.”ujarnya begitu perhatian.
Hana membalikkan tubuhnya memberanikan diri menatap Rubel.
“ino jangan khawatir ana kan manusia super.” Jawabnya asal.
Mereka pun tertawa.. Rubel menatap gadis itu lekat dia mencium kening Hana. Tidak ada hal aneh yang dilakukan nya Hana pun merasa tenang dan membalas pelukan itu sangat erat.
terimakasih buat semuanya yang udah mampir ke novel ku, dukung trus novel ku dengan vote, like dan komentar. dukungan kalian buat aku tambah semangat berkarya. terimakasih 😍
__ADS_1