
Pagi ini para Emak-Emak sibuk menyiapkan makanan yang akan di bawa ke Mesjid siang nanti. Mila membantu menyiapkan kotak, tisu, dan juga sendok. keakraban itu sangat jarang terjadi. mereka terlihat begitu bahagia.
Hana duduk didekat mereka hendak membantu, tapi Mama melarangnya.
" Jangan dekat-dekat sana duduk sama bapak-bapak." seru Mama. Hana pun beranjak dengan malas. dia mengedipkan matanya pelan-pelan berharap sang mertua mengizinkan dia untuk membantu. tapi Mama malah mentertawainya.
" Comelnya menantuku, orang lain malah bahagia gak dikasih jatah kerja dia malah memelas meminta kerja." ucap Mama dengan tersenyum bahagia.
" Makanya, Mama beruntung punya menantu kaya Hana, udah cantik, baik hati, rajin lagi." puji Rubel panjang membuat Hana tersipu malu.
" Siapa dulu dong suaminya." ucap puji Rubel sendiri.
" Rubel gitu loh." jawab Rubel.
" Sudah-sudah kalian berdua segera geser dari sini kami mau kejar tayang." perintah mama cepat.
" Ish sadis kali Mamak ku." ucap Rubel tiba-tiba.
" Kangen kali lah aku sama Zaena, Lila dan Dion." ucap Hana ikut-ikutan.
" Ehm udah pinter ngomong yah kamu." ledek Rubel pada Hana.
" Hei sudah ku bilang berapa kali kenapa klean tak geser juga apa mau ku geser kuping klean jadi dikepala." ucap Mama ketularan.
Sontak semua orang tertawa, mendengar mereka bertiga.
" Sudah pintar juga lah Mamak awak." ledek Rubel dan segera meraih tangan Hana berjalan menjauh dari para Emak-Emak.
Haikal baru saja keluar dari kamar, dia berjalan ke arah Rubel dan Hana yang sedang duduk santai sambil menonton TV. tiba-tiba Tante Lyra memanggil Haikal.
" Haikal kemari!" panggilnya lembut.
" Ada apa ma?"
" Sini bantuin Emak-Emak biar kerjaan bisa cepat kelar!" serunya cepat.
" Hai Rubel, Hana ayok bantuin biar cepat kelar!!" perintah Haikal dengan Hana dan Rubel.
" Hei jae, kamu yang dipanggil kenapa kami yang disuruh." ledek Rubel pada Haikal.
" Yang punya hajatan kan kamu masak aku yang harus di repotin." ucap Haikal kesal.
" Sayang" panggil Mila lembut.
" Iya cintaku." goda Haikal.
" Apa kamu mau digeser kupingnya dikepala?" tanya Mila pelan tapi membuat Haikal sangat malu.
" Sadis amat sih bini gua." umpatnya kesal.
" Haikal." panggil Tante Lyra kedua kali.
" Iya Mama." jawab Haikal agak serak.
Rubel dan Hana terkekeh geli, melihat Haikal yang berjalan terseok-seok seperti orang lumpuh.
" Bang, jalannya yang bener dong, nanti kakinya pengkor loh." ledek Hana menyeringai.
" Hati-hati kalo ngomong entar anaknya pengkor loh." balas Haikal tak mau kalah.
" Ya Allah bang tega amat sih dirimu, dikasih tahu malah balas nyinyir." ucap Hana sedih. tiba-tiba Hana merasa ucapan Haikal sangat pedas hingga membuat dia sangat sedih.
" Yah dia malah nangis, biasanya Haikal nyinyir dia gak pernah sesedih ini malahan dia sering balas perlakuan Haikal lagi." ucap Haikal heran.
" Mas, orang hamil itu sensitif, kamu juga ngomongnya baik-baik aja kenapa." ucap Mila kesal.
" Duh serba salah deh." umpat Haikal merasa bersalah.
Hana masih bersedih, rupanya bukan hanya karena ucapan Haikal tapi karena film yang dia tonton, hingga Hana terbawa erupsi, eh salah emosi.
waktu menunjukkan jam 12 siang Rubel menjemput, Ustadz yang akan mendo'kan Hana. mereka semua melakukan do'a bersama sambil mengundang beberapa muslim lainnya di sekitar Rumah Mama Melisa.
Do'a selesai, Mama segera membagikan kotak makanan kepada tamu undangan yang datang. mereka sangat senang, karena sangat jarang ada orang yang mengadakan syukuran dan membagi-bagi kan nasi kotak dengan menu makanan khas Indonesia.
" Thanks Madam Melisa." ucap mereka senang. mereka pun bersalaman dengan para Emak-Emak yang dari tadi pagi sibuk memasak.
" Sama-sama terimakasih juga sudah datang menghadiri syukuran kecil ini." ucap Mama begitu senang.
Kotak nasi yang akan di antar ke mesjid-mesjid sudah di tata rapi di dalam mobil Rubel dan mobil Papa Joe, kebetulan Papa Joe memilih off siang itu agar bisa membantu kelancaran syukuran itu. Om Purwanto, dan Haikal naik mobil Papa Joe. sedangkan Rubel, Ayah dan juga Om Purwanto naik mobil Rubel. mereka semua sangat kompak.
Selesai membagi-bagikan nasi itu mereka sempatkan diri untuk sholat di Mesjid itu. selesai sholat mereka keluar, tiba-tiba Rubel melihat seseorang laki-laki berjubah putih sedang berjalan dengan membungkukkan badannya kearah mereka.
" Apakah masih ada kotak nasi Om?" tanya Rubel pada Om Purnawan.
" Sepertinya sudah habis." ucap om Purnawan cepat.
Rubel diam, dia tidak tahu harus berbuat apa. dia meraih sesuatu didalam saku celananya. melipat kertas itu dan memberikan nya pada laki-laki itu.
" Maaf pak, tolong terima pemberian ini dan do'akan yang terbaik untuk istri saya." ucap Rubel. dengan wajah penuh harap.
" Teruslah berbuat baik, kamu dan isterimu akan selalu dalam lindungan Allah SWT, dan ingatlah sekecil apapun pemberian mu karena ke ikhlasan maka Allah akan menggantikan nya berlipat ganda." ucapnya sangat lembut.
" Terimakasih pak." ucap Rubel tenang. semua segera masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Didalam perjalanan pulang, seseorang menelpon Rubel. Rubel melihat keluar ponselnya tertera nama Antonius. Rubel membiarkan telpon itu berdering tanpa mengangkat nya.
" Kenapa tidak diangkat?" tanya Ayah bingung.
" Antonius yang menelpon Ayah." jawab Rubel lemas.
" Siapa Antonius?"
" Dia orang tua dari Brian yang Rubel tangani kemarin di Rumah Sakit XXX."
" Terus, kenapa kamu tidak menerima panggilannya?"
" Rubel malas ayah karena dia menyukai Hana." ucap Rubel serak.
" Sini ayah angkat." ucap Ayah kesal.
" Hello." sapa ayah.
" Kamu siapa? Tanya Antonius bingung karena suara itu tidak dikenali nya.
" Aku ayah nya Rubel, ada perlu apa kamu?" tanya ayah dengan suara keras.
" Aku perlu bicara dengan Rubel, tolong bilang padanya Anakku Brian sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan Hana." jawabnya menjelaskan.
Rubel terdiam, dia enggan mengatakan iya pada Antonius.
" Tolong katakan pada Hana dan Rubel Brian butuh Hana untuk kesembuhan nya." ucapnya memohon. Rubel memang manusia paling iba. dia tidak bisa membiarkan orang lain sedih. di satu sisi dia kasihan di satu sisi dia sangat kesal.
" Nanti aku sampaikan." jawab Ayah tanpa memberikan keputusan yang pasti. agar Antonius tidak terlalu berharap banyak.
Mereka tiba di Rumah, wajah Rubel tidak bersemangat, hingga mengundang tanya semua penghuni Rumah.
" Kenapa wajah mu nak?" tanya Mama penasaran.
" Rubel gak enak badan ma." jawabnya lemas dan berjalan ke arah kamar. dia melihat Hana baru saja menyelesaikan sholatnya. dihampiri sang istri dan mencium keningnya sangat lama.
" Duh kok jelek sih wajah Ino?" ledek Hana karena wajah Rubel begitu masam.
" Heuh." jawab Rubel pendek.
" Kok gitu jawabnya, biasanya kan gak suka kalo ana yang jawab kek gitu, jangan bilang kalo kamu mulai ngefans yah sama kata-kata mutiara Ana?" goda Hana.
" Ngefans?! ucapan pendek gak jelas kek gitu jadi pujaan yah enggak lah." tepis Rubel membela diri.
" Terus siapa yang udah bikin kamu kaya orang lagi putus cinta gitu?" ledek Hana lagi belum puas mengerjai sang suami.
" Kamu?" jawab Rubel kesal.
" Jangan ngaco ah." ucap Hana mengelak. dan memulai memasang wajah jutek.
" Ehem." ganggu Rubel mulai lembut.
" Kamu jangan ngambek dong entar cantiknya ilang." goda Rubel membuat Hana tersenyum.
" Nah gitu dong, kan segar ngeliat nya." ucap Rubel bersemangat.
" Terus wajah Ino kenapa lecek gitu udah kaya kaya kain pel." sindir Hana.
" Tadi Antonius menelpon." jawab Rubel jujur.
" Ada perlu apa dia menelpon Ino lagi?"
" Katanya Brian ingin bertemu dengan mu dan dia memohon untuk kamu segera datang agar Brian bisa segera sembuh." ucap Rubel serak.
" Ah gak mau." ucap Hana lemas.
" Makanya Ino juga kesal."
Mereka berdua terdiam sejenak, disatu sisi mereka sangat kesal di sisi lain mereka kasihan pada Brian.
" Jadi gimana??" tanya Rubel tapi tak ada respon dari Hana.
" Sayang." panggil Rubel lembut.
" Cintaku Farhanah." panggil Rubel panjang membuat Hana tersadar dari lamunannya.
" iya cintaku Rubelino." jawab Hana bersemangat.
" Apa keputusan kamu? tanya Rubel pelan.
" Jangan hari ini yah." tolak Hana.
Rubel mengangguk pelan, karena tidak mungkin memaksakan Hana yang kondisinya tidak stabil, apalagi mood ibu hamil yang sering naik turun.
Rubel merangkul Hana, dia seakan tidak ingin melepaskan Hana sedetikpun. begitu juga Hana. tiba-tiba ponsel Rubel berbunyi lagi-lagi tertulis sebuah nama yang membuat mereka berdua sangat ilfill.
" Ah, apa sih maunya? kemarin aja bilang suruh bawa Hana pergi, sekarang suruh bawa Hana kembali jenguk anaknya lagi." Dumel Rubel kesal.
Hana menarik ponsel Rubel hendak memaki Antonius.
" Hallo." sapa Hana sedikit kasar.
" Hallo Aunty Hana, ini Brian." ucap dari seberang telepon.
__ADS_1
" Eh, iya Brian gimana kabarmu?" tanya Hana canggung. karena yang menelpon dia adalah Brian.
" Aku tidak baik Aunty, aku sangat merindukanmu." ucap Brian memelas dengan manja.
" Kamu istirahat lah karena Aunty sedang tidak enak badan." jawab Hana menolak dengan halus.
Brian mulai menangis, Hana tak tahu harus berbuat apa.
" Ayolah sayang, jangan menangis nanti kamu sakit lagi." ucap Hana mengingatkan.
Brian menangis sesenggukan, membuat Hana mengalah demi kebaikan nya.
" Jangan menangis lagi sayang, sebentar lagi Aunty akan menemui mu." janji Hana membuat Brian seketika terdiam.
" Benarkah?"
" Iya sayang, Aunty akan pergi ke Rumah Sakit menjenguk mu bersama uncle Rubel.
" Baiklah, jangan lama-lama yah Aunty. aku ingin Aunty yang menyuapi aku makan." dan suara telepon ditutup sepihak oleh Brian.
" Aduh gimana sih, kalo dia belum makan kan kita yang repot harus segera ke sana."
" Sudah lah sayang, kita pergi ke sana sekarang, jangan fikirkan apapun kita ke sana hanya untuk mengunjungi Brian." ucap Rubel berusaha berfikir positif.
Mereka berdua segera ke Rumah Sakit,tak berapa lama mereka sampai keruangan dimana Brian di Rawat. Hana menggenggam erat tangan Rubel. mereka masuk bersama-sama.
Antonius sedang membujuk Brian untuk makan, Tapi bocah kecil itu menolak karena dia ingin Hana yang menyuapinya.
" Aunty." teriak Brian girang melihat Hana dan Rubel datang.
" Iya sayang." Hana dan Rubel menghampiri Brian.
" Peluk Aku Aunty." pinta Brian manja. membuat Hana sedikit malas apalagi Antonius terus melihat Hana tanpa berkedip sedikit pun. Rubel tetap memegang pinggang Hana agar Hana tidak merasakan takut karena Antonius.
" Peluk saja sayang." bisik Rubel pelan pada Hana. Antonius tersenyum dia tidak ingin membuat Hana salah paham padanya. Rubel merasa aneh sikap Antonius seperti sedang bersandiwara. Karena sangat jelas kemarin dia mengancam akan merebut Hana dari nya.
Antonius memberikan piring berisi burger isi beef. Hana meraihnya dan mencoba menyuapi Brian. dan dengan cepat Brian menghabiskan makanannya.
" Wah pintar sekali kamu cepat sembuh yah sayang." ucap Hana senang sambil mengusap lembut wajah Brian, membuat Brian semakin bersemangat.
" Mommy." tiba-tiba Brian memanggil Hana dengan sebutan Mommy.
Rubel dan Hana terkejut, mereka hanya diam. Antonius terlihat sangat senang apalagi Brian mulai menunjukkan perubahan.
" Maaf kan Brian Aunty." ucap Brian memelas.
" Tidak apa-apa sayang, yang terpenting kamu bisa segera sembuh." ucap Hana lembut membuat Brian tersenyum.
Tiba-tiba seseorang datang, membawakan sebuah boneka untuk Brian. dia pun menoleh kearah Rubel dan tersenyum.
" Oh ada dokter Rubel rupanya." ucap Alisha sambil mengulurkan tangannya ke arah Rubel. tapi Rubel segera mengatupkan kedua tangannya. Alisha merasa canggung melihat Rubel tidak membalas nya dengan baik. dia pun memandang sinis pada Hana. namun Hana tidak perduli dengan sikap Alisha. dia tetap memegang tangan Rubel disisi kirinya.
" Aunty Alisha, apakah kamu lupa dengan Brian." celutuk Brian merasa Alisha tidak memperdulikan nya.
" Oh baby sayang ku, ini boneka untuk mu." ucap Alisha mencoba menghibur nya.
" Wow, terimakasih Aunty, Mommy lihat lah boneka ini begitu lucu." ucap Brian tanpa malu-malu, membuat Hana sedikit canggung apalagi Brian mengatakan nya di depan Alisha.
" Mommy?" tanya Alisha tak percaya.
Antonius tersenyum puas, dia merasakan Brian bisa menjadi alasannya untuk mendekati Hana. Alisha menyadarkan Antonius.
" Siapa dia?" tanya Alisha dengan nada ketus.
" Dia---. ucapan Antonius terputus karena Rubel segera menjelaskan siapa Hana.
" Dia isteri ku." jawab Rubel cepat. membuat wajah Antonius seketika memerah karena kesal.
" Aunty Alisha, dia Mommy angkat ku." ucap Brian polos. membuat Antonius semakin kesal. Hana dan Rubel merasa sangat senang, Karena Brian mulai bijak. Alisha ikut kesal karena dia menyukai Rubel saat pertama jumpa di Rumah Sakit itu.
" Aku keluar." ucap Alisha kasar dan meninggalkan mereka semua berjalan keruangannya. Antonius paham betul tingkah adiknya itu. dia mengikuti Alisha.
" Ada apa dengan mu?" tanya Antonius ingin tahu.
" Aku benci melihat mereka begitu akrab." ucap Alisha kesal.
" Apakah kamu menyukai Rubel??" tanya Antonius meyakinkan.
Alisha tersenyum, mendengar abangnya begitu paham apa yang dia fikirkan
" Tenang saja, bersikap lah baik untuk saat ini karena kita akan mendapatkan apa yang kita mau secepatnya." ucap Antonius dengan senyuman liciknya.
" Apa maksud mu?" tanya Alisha bingung dengan rencana Antonius.
" Cukup mainkan peranmu dengan baik!" ucap Antonius pelan. mereka berdua kembali ke kamar. tapi Hana dan Rubel sudah lebih dulu pergi meninggalkan Brian yang sudah terlelap tidur.
"
"
"
" Love u All"
__ADS_1