Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 2


__ADS_3

Dokter Rubel berada dikamarnya, meraih bingkai foto diwaktu kecilnya. Dia menyentuh foto itu.


Foto dia berdua dengan Ana (hana kecil). Fikirannya melayang kemasa kecilnya mengenang janjinya pada Ana terakhir sebelum keberangkatannya ke Australia.


"Ana, Ino janji, Ino akan balik lagi ke Indonesia."


"Ino akan tepati janji Ino menikahi Ana."


sambil Mengikatkan karet gelang berwarna merah ketangan Ana.


Waktu itu mereka masih duduk dikelas 3 SD. Rubel terpaksa pergi ke Australia. Selama ini dia tinggal berdua dengan Nyainya. Ibunya datang dari Australia untuk menjemput Rubel dan Nyainya.


Rubel menatap sedih karena dia merasakan Ana akan sendiri tanpa nya, walaupun teman-temannya banyak tapi mereka lebih suka berkelompok.


Lamunan itu buyar saat Ponsel nya berdering, panggilan darurat dari Rumah Sakit Z.


Dia meletakkan foto itu dan bergumam.


"Ino, akan jemput Ana. Ino kangen sama Ana." Dan bergegas pergi ke Rumah Sakit.


Seperti biasanya seorang Dokter harus selalu tepat waktu untuk menangani pasiennya walaupun dalam keadaan terlelap. " Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran. itulah janji Seorang Dokter, kenangnya.


" Alhamdulillah.." Ucapnya, Sambil meluruskan badannya.


Pekerjaannya selesai, dia baru saja membedah pasien Traumatologi akibat kecelakaan berat. Tubuhnya sangat lelah, 3 jam diruangan operasi membuatnya ingin sekali beristirahat.


Dia kembali keruangannya.. Mengambil bantal dibawah meja dan menaruhnya di sofa, kemudia pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Rubel Membaringkan tubuhnya disofa, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Saat melihat wajah Hana. Dia merasakan sesuatu yang sangat dia rindukan, tapi dia bingung. rasa itu..


"Sepertinya wajah itu tak asing."


"Apakah dia teman ku waktu SD? Gumannya sembari menutup matanya dan terlelap.


Waktu menunjukkan Jam 5 pagi alarm Ponselnya berbunyi. Walaupun dia sangat lelah kewajibannya sebagai umat muslim harus Dia kerjakan.


Bergegas ia mengambil wudhu dan berjalan ke arah Mushola didekat Rumah Sakit. Setelah selesai Sholat. Dia beranjak pulang. dia harus bersiap-siap menggantikan pakaian nya dengan pakaian yang bersih.


Karena pagi ini dia akan Berada Diruangannya hingga jam 11 siang, menunggu pasien-pasien nya yang akan konsultasi.


Sesampainya dirumah, Dia langsung ke kamar Nyainya, menemui Nyainya.


" Nyai, sudah makan?" Tanya Rubel pada Nyai."


" Kita makan sama-sama yuk."


" Ino udah belikan nasi uduk kesukaan Nyai." Ujarnya.


Nyai mengangguk pelan. Rubel memegang kursi roda Nyai, dan mendorongnya keruang makan. Tak lupa juga dia menawari Bibi untuk ikut makan, Bibi hanya mengangguk.


" Bibi, bawa kedapur dulu yah Den."


" Bibi harus nyuci piring dulu." Ujarnya pada Rubel.


" Iya Bi bawa aja."


Tiba-tiba Dia teringat dengan Hana.


" Nyai sepertinya Hana tidak akan masuk." Ujarnya pada Nyai.


" Ya udah gak apa apa sayang. Nyai gak masalah, kan ada Bibi. Biar Hana beristirahat dulu sampai dia pulih benar."


" Apa, Sebaiknya Hana tidak Usaha bekerja lagi yah Nyai." ujarnya lembut.


" Kenapa?" Tanya Nyai bingung.


" Sepertinya dia sangat lemah. Ino lihat dia sepertinya tidak akan bisa bekerja. Tubuhnya mudah sekali sakit. Dia tidak bisa berlama-lama di AC.Tekanan darahnya juga rendah. Tapi Ino heran tubuhnya masih sangat kuat, karena teman Ino pernah mengalami darah rendah dan dia langsung mengalami stroke. Dan kemungkinan kemungkinan hal berbahaya bisa terjadi pada penderita darah rendah." Ujarnya menjelaskan.


Nyai terdiam, dia juga merasakan ketidak berdayaannya.


" Tapi, biarkan Dia menemani Nyai, Ino jangan memecatnya. Anggap aja Dia keluarga kita. Ino harus tetap memberikan gaji agar Dia tidak merasa sungkan untuk datang kemari. Jika kita bilang Dia hanya menemani Nyai dan tidak bekerja, pasti hatinya akan sangat sedih." Jelas nyai begitu antusias.


Rubel menelan ludahnya.


" Yah sudah lagian uang itu tidak seberapa, anggap saja hadiah baginya karena bersedia menemani Nyai."


Rubel telah berada di ruang Poli Kliniknya di Rumah Sakit Z. Dia merasakan ada yang aneh Dengan dirinya, Dia bingung perasaan itu.


Tiba-tiba dia teringat dengan Hana. Perasaan nya gelisah tak menentu.


" Ada apa gerangan, apa yang terjadi dengan Hana yah? Gumannya dalam hati.


" Ah, mungkin perasaan ku saja."


Tiba-tiba Asistennya masuk menyerahkan kertas status pasien-pasiennya yang akan konsultasi hari ini.


Dia melayani pasien-pasiennya dengan ramah. Berbeda saat dia berbicara dengan Hana. Hari semakin siang, tidak ada jadwal bedah hari ini, Perasaan yang hadir tadi kembali menyergapnya.


" Ada apa gerangan?" Ujarnya dalam hati. Dan akhirnya dia berusaha mencari tahu. Mengambil kunci mobil dan pergi menuju Rumah Hana.


Di depan Rumah Hana, tampak orang-orang berkerumun seperti semut. Dia segera turun dari mobilnya.


Menyapa para Emak-Emak itu dan mengucapkan salam, para Emak-Emak tersentak kaget, dan merasa heran.


tak biasanya ada orang ke Rumah Hana, apalagi yang datang Seorang cowok ganteng. Mereka pun berbisik bisik.


"Ya ampun gantengnya." Rubel hanya tersenyum, mendengar para Emak-Emak itu berceloteh.


" Hana nya ada?" Tanya rubel kepada Mereka.


" Ada." Jawab Mereka serentak. Mereka pun sontak tertawa. Karena mereka grogi melihat senyum rubel begitu memabukkan.


Ibu Hana yang mendengar keributan segera keluar.


" Eh ada Dokter Rubel.. Silahkan masuk dok". Ujar ibu mempersilahkan.


Para Emak-Emak itu tambah Kagum melihat Rubel.


" Wah rupanya dokter." Tapi kok bisa kerumah Hana yah?


" Apa dokter itu pacarnya Hana." Ujar salah Seorang dari Mereka asal.

__ADS_1


Rubel hanya tersenyum, walau sebenarnya Dia tidak suka di bilang pacarnya Hana. Dia masuk ke Kamarnya Hana. Dia melihat Hana begitu pucat.


" Ibu, apa Hana sudah minum Vitaminnya?" Tanya Rubel kepada Ibunya Hana.


" Baru zat besi aja dok vit B12 nya belum , dari pagi Hana hanya makan nasi sedikit. Dia bilang kepalanya sangat pusing, sampai tidak sanggup melihat."


Rubel memegang nadinya Hana sangat lemah. Ibu keluar kamar hendak mengambil air minum..


" Hana.." Panggil Rubel pelan.


" Iya."


" Kenapa gak diminum obatnya? Jangan manja dong!" Ujarnya sedikit kesal.


" Gak apa-apa Dok.. Ntar juga sembuh."


" Kamu kok bandel sih??" sambil mencubit hidung Hana pelan. Ibu kembali ke kamar dengan membawa segelas air minum.


Ibu tidak mendengar ucapan Rubel. Rubel seperti salah tingkah. Hana hanya menjawab seenaknya.


" Biar bisa ketemu dokter." jawab Hana asal.


Ibu tersenyum, Ibu tahu siapa yang ada didekatnya, Hana Telah bercerita semalam.


Tapi Ibu berpura-pura tidak tahu. Hana meminta Ibu untuk merahasiakan semuanya. Dia ingin memberikan kejutan untuk Rubel.


Tapi dia belum tahu kapan. dokter rubel membantu Hana untuk duduk. Memegang gelas dan memberikan vitamin B12. agar Hana bisa minum vitaminnya. Hana memegang tangan rubel. Dan berbisik pelan.


" Dokter saya tidak kuat." ujarnya lemah dan tak sadarkan diri.


Rubel tersentak Dia menggendong tubuh Hana, memanggil Ibu dan bergegas keluar kamar.


Para Emak-Emak yang ada diluar semakin riuh, saat Rubel keluar dengan menggendong Hana.


" Wah si Hana mimpi apa yah semalem digendong dokter ganteng." Ujar salah Seorang dari Mereka.


Rubel hanya tersenyum. Dia langsung berjalan ke arah mobil. Ibu mengikuti langkahnya, dan duduk dibelakang sambil memegang Hana yg dibaringkan Rubel.


Ibu mengangkat kepala Hana lembut dipangkunya gadis kesayangannya itu. Tak ada rasa panik, dia hanya berharap anaknya baik-Baik saja.


Tibalah mereka Di Rumah Sakit Z, Rubel menggendong Hana masuk ke IGD, tanpa troli bed.


Para Perawat meliriknya kagum. Di satu sisi mereka Sangat kecewa, dokter ganteng yang Cool itu menggendong Seorang Gadis. Mereka bukan membantunya malah saling bergosip.


Rubel hanya diam. Dia tidak menegur mereka karena dia tidak punya wewenang untuk itu. Dokter Lila menyapanya..


" Siapa dia Dok?" Tanya nya penasaran.


Dokter Lila adalah sahabat dokter Rubel. lila kenal siapa Rubel. Dia tidak pernah Melihat Rubel dekat dengan Seorang Perempuan. Rubel hanya tersenyum


"Dia Perawat Nyaiku, tapi bisa dibilang lebih dari Perawat." ujarnya menjelaskan.


Lila masih Tidak Mengerti ucapan Rubel. Dia meminta salah satu Perawat untuk memasangkan infus pada Hana.


" Diagnosa nya apa dok?


" Tekanan darahnya rendah kemarin aku memeriksa nya hanya 70/40 mmhg." ujar Rubel menjelaskan.


"Tadi Dia baru saja minum vitamin B 12. Terang Rubel agar Lila tidak memberikan vitamin lagi kepada Hana.


Hana begitu manis. Kulitnya yang kuning langsat dengan balutan baju yang tertutup membuat Rubel kagum. Perawat yang bertugas bertanya kepada Ibu Tentang data si Pasien agar mereka bisa menulis status Pasiennya.


" Namanya siapa bu?" Tanya perawat pada Ibu Hana.


" Farhana mbak." Jelasnya.


Rubel tersentak. Mendengar nama Farhana. Tiba-Tiba jantungnya berdegup kencang. Tapi dia menepis semua itu.


"Ah mana mungkin, pasti semua hanya kebetulan belaka." Ujarnya membatin.


Hana belum juga sadar. Ibu sedikit khawatir padanya.


" Dok apa Hana baik-baik saja?" Kenapa dia masih belum sadar juga?" Tanya Ibu, Begitu khawatir. Rubel meminta Lila untuk memeriksa keadaan Hana.


Lila meminta Perawat untuk mengambil sempel darah Hana. Perawat pun melakukan tugasnya. Perawat itu membalut lengannya hana dengan pengikat tourniquet dengan lembut, agar memudahkan dia mengambil darah Si Pasien. Dia mencoba mendeteksi letak pembuluh darah vena lalu membersihkan area itu dengan alkohol. Menusukan jarumnya dan menarik spetnya. Setelah selesai dia menutup bekas suntikan itu dengan kain kasa yg telah di bubuhi alkohol dan diplaster. Darah itu dimasukkan kedalam botol khusus lalu di bawa kelab. Lila dan Perawatnya meninggal kan Rubel dan Ibu Hana diruangan.


Mereka masih menunggu hasil lab dan perubahan Hana. Tiba-tiba hana mengigau memanggil manggil nama Ino.


"Ino"


"Ino jangan pergi."


"Jangan tinggalin aku."


Rubel terkejut bingung bercampur aduk jadi satu. Ibu yang mendengar berpura2 tak mengerti.


" Ino siapa bu?" Tanya Rubel pada ibu.


" Ibu gak tahu dok." Jawab ibu Berpura-pura tak kenal.


Rubel begitu penasaran dengan gadis yang ada didepannya.


" Kenapa seperti kebetulan yah?" Gumannya dalam hati.


" Ibu tidur aja." pintanya pada ibu Hana.


" Nampaknya ibu juga lelah." ujarnya perhatian.


Dia tidak ingin Ibunya Hana jadi ikut-ikutan sakit. Ibu mencoba memejamkan matanya, waktu sudah menunjukkan jam 12 malam.


Rubel merasa mengantuk tapi dia tidak ingin memejamkan matanya sedikitpun. Dilihatnya Ibu Hana telah tertidur. Dipandangi wajah itu dia seakan melihat Seseorang, tapi dia lupa.


Dokter Lila dan Perawat nya mengetuk pintu. Dan langsung masuk keruangan Hana dirawat.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Rubel pada Lila.


Lila bingung menjawabnya, secara orang didepannya adalah dokter, dan dokter terbaik di Rumah Sakit ini.


Lila seperti bimbang ingin memberitahu sahabatnya itu. Lila yakin Pasien itu bukan Perawat biasa. Pasti Seseorang yang begitu penting yang hadir dalam kehidupan Sahabatnya.


Tapi dia adalah dokter dia tidak ingin menutup nutupi keadaan sebenarnya. Mereka duduk di karpet kecil di pinggir tempat tidur Hana. Suaranya dipelankan agar tidak membangunkan Ibunya Hana.

__ADS_1


" Dia menderita Neutropenia Imun ." Ucap Lila pelan.


" Hah, masa?" Tanya Rubel tak percaya.


" Dan jalan satu satunya hanya transplantasi sumsum tulang belakang."


Deg jantung Rubel berdegup sangat kencang. Kenapa dia dihadapkan masalah sebesar ini. Dokter Lila dan Perawat nya keluar.


Rubel merenungi hal ini. Dia merasakan Allah punya rencana memilih dia untuk bertemu Seorang Hana yang kurang mampu. Dia hanya membatin.


" Allah sedang memberikan ujiannya padaku. Sudah seharunya aku membantu penyembuhan gadis itu." Ujarnya dalam hati, dan Dia melihat ke arah Ibu.


Dia berjanji didalam hatinya akan membantu kesembuhan Hana sebisanya. Dia mengingat kata-kata kasar nya kemarin saat hari Mereka pertama jumpa.


" Seharusnya Kamu yang merawat Nyai, bukan Aku yang merawat Mu!!" Kata-kata keras itu Bagaikan do’a yang menghujam tembus ke jantungnya..


" Yah Kamu adalah apa yang Kamu fikirkan."


Sebuah pepatah terlintas dibenaknya.


Rubel melirik ke arah Hana. Dia melihat Gadis itu dengan seksama.


" Kenapa wajah nya mirip Seseorang?" ujarnya.


Diperhatikan wajah Hana


" Ternyata Hana cantik juga." guman nya pelan.


Rubel tidak menyadarinya ucapannya. Hana tersenyum kecil dengan matanya masih tertutup.


Rubel beristirahat sebentar, mencoba menyandarkan diri di dekat bednya Hana.


Hana terbangun dia merasakan sangat haus. Diliriknya Ibu dan Rubel sangat lelah. Dia bingung membangunkan Mereka.


Hana mencoba menarik botol air mineral diatas lemari kecil yang berada disebelah Kiri bed nya.


Lagi lagi Rubel terbangun mendengar gesekan kecil di atas tempat tidur.


" Kamu, sudah bangun?" Tanya nya pada Hana.


" Iya, dok maafin Hana sampe bangunin dokter."


" Kenapa kamu tidak membangunkan Aku?


" Kalo kamu jatuh dari tempat tidur bagaimana?" Tanya Rubel ketus..


Hana menghela napas panjang, Rubel sangat berbeda dengan Ino. Dia merasa Rubel bukan lah Ino yang Dia kenal dulu.


Dia diam mematung. Rubel melihat raut wajah Hana yang jutek karena pertanyaannya.


" Kamu cantik deh dengan wajah seperti itu." Bathinnya dalam hati.


Diambil botol air meneral itu dan menyodorkan botol itu kepada Hana. Dia gemes lihat Hana dengan wajah juteknya.


Reflek tangannya mencubit hidung Hana.


" Auuu, sakit." Teriak Hana. Spontan Rubel menutup mulut Hana agar Ibu tidak terbangun karena ulahnya.


" Kamu sih buat Aku kesal." Ujarnya asal.


Hana hanya diam. Dipandangi wajah orang didepannya, wajah yang sangat dirindukannya ingin sekali Dia Memeluk Lelaki didepannya itu.


Tapi di urungkan niatnya. Biarkan Rubel mencarinya, janji Rubel akan datang menemuinya. Dia harus berjuang untuk cinta kami.


" Seberapa besar cinta nya untukku." Batin hana menelangsa. Tiba – tiba hana merasakan Sesuatu yang penuh di ujung perutnya.


" Dok, tolong bangunkan Ibu! Hana mau ke toilet mau pipis." Pintanya pelan.


Rubel Memandangnya sinis.


" Kamu kok jadi anak kok tegaan yah, lihat tuh Ibumu sangat lelah, gitu aja kok manja." Ujar Rubel kesal.


"Jadi Siapa dong yang nemani Hana kekamar mandi" tanya hana penuh harap.


"Aku kan masih lemah, kepala ku aja masih pusing. " Ujarnya beralasan.


Rubel hanya menghela nafas. Diambil infus itu dan Membopong Hana kearah toilet. Pas didepan pintu.


" Dokter jangan masuk yah. Tunggu disini aja!" pintanya lembut. Lagi-lagi Dokter dingin itu menyeletuk.


" Siapa juga yang mau masuk."


" Kamu aja ke ge-eran." ujarnya.


Hana menghela nafasnya pelan.


" Yah sudah jangan menghalangi pintu, Hana mau masuk.." Ucap Hana tak mau mengalah.


Rubel tersadar Dia menutup pintu dengan tubuhnya. Hana menutup pintu. Rubel terlihat gelisah, Dia takut terjadi sesuatu Dengan Hana. Sejutek juteknya dia masih saja memikirkan keselamatan Hana.


"Ah kenapa Aku begitu gelisah. Toh Dia bukan siapa-siapa. Kenapa harus khawatir?"


Hana begitu lama didalam kamar mandi. Dia ingin BAB tapi terasa susah. Rubel mengetuk pintu dan memanggilnya.


" Hei jangan lama-lama ujarnya.


Hana hanya menjawab pendek


" he-eh."


Rubel yang mendengar mendengus kesal.


" Apa eek? Ih jorok. " ujarnya lagi.


Hana hanya diam. BAB nya batal karena yang ditunggu tak jua keluar.


Hana mencuci tangannya dengan shower dan membasuh **** * nya. Setelah itu menarik celanya dan merapikan pakaiannya.


Dia merasa sangat pusing karena terlalu lama duduk di toilet. Hana memanggil Rubel dengan suara kecil.


" Dok, aku pusing." Rubel mendorong pintu kamar mandi, dilihat Hana begitu pucat, tangannya sudah dingin.

__ADS_1


"Kamu sih lama banget. Udh tahu sakit."


Diraihnya pinggang hana dan membopongnya kembali ketempat tidur.


__ADS_2