
Saat jam makan siang, Rubel sudah sampai dirumah. semua makan dengan tertib kecuali si bungsu. dia enggan makan karena hari ini dia akan pulang kerumahnya. entah apa yang ada dibenak nya. akhirnya hana mendekatinya.
" Kenapa Mira sayang??" tanya Hana dengan lembut. dan dia pun memangku gadis kecil itu.
" Tante, Mira gak mau pulang....." ucapnya lirih.
" Kenapa???"
" Mira gak mau ninggalin Tante Hana... "
" Sayang Tante, nanti kita akan sering ketemu, nanti Om Diko dan Om Leo akan sering menjemput kalian kemari." ucap Hana mencoba menenangkan.
" Gak mau... pokoknya gak mau...."
" Mira gak mau Tante Hana jauh, nanti Mira gak bisa ketemu Tante lagi kaya Mira sama ayah....." ucapnya lirih.
" Duaaaaarrrr " jantung Hana serasa mau lepas. tidak hanya Hana tapi semua yang ada disitu seperti sedang mendengarkan sebuah bom yang baru saja meledak.
Ibu Mae menarik Mira, dan mengajaknya bicara.
" Kenapa sayang??" apa yang Mira bilang untuk Tante Hana barusan??? tanya ibu Mae bingung mengartikan ucapan Mira.
Rubel berjalan ke kamar dia menutup pintu... entah mengapa ucapan Mira seperti mencabik-cabik hatinya. terasa begitu sakit. selama ini dia sudah berusaha untuk berfikir positif tapi ucapan Mira seperti sesuatu yang membuat dia tiba-tiba tak berdaya.
Hana mendekati Mira, dia mencoba berfikiran positif, mungkin itu perasaan Mira, kalo udah jauh pasti susah untuk bertemu.
" Sayang... Mira sayang sama Tante???" Tanya Hana pada Mira. gadis kecil itu mengangguk pelan. Dia menangis dan menghamburkan pelukan.
" Siapa yang bilang kalo Tante gak bisa ketemu sama Mira lagi???" tanya Hana ingin tahu.
Mira terdiam, dia bingung menceritakan nya..
" Tante mimpi itu apa??" tanya Mira begitu polos.
" Itu adalah cerita yang ada di saat kita tidur, dan itu tidak akan jadi nyata. ucap Hana menjelaskan.
" Benarkah?" tanya Mira agak ragu.
" Tentu saja sayang..." ucap hana lembut dan memeluk Mira semakin erat.
" Jadi Tante gak akan ke surga seperti Ayah Mira??" tanya nya lagi.
" Belum sayang, kita semua belum tahu kapan kita akan dikasih tiket untuk ke syurga.
" Emangnya tiket nya bisa dibeli Tante??"
" Tentu saja, membeli nya dengan amal Sholeh, ibadah, sedekah dan satu-satunya yang paling mudah jadi orang baik." ucap Hana menjelaskan.
" Tante Hana udah bisa membeli tiket itu semua kan???." ucap nya kembali bergejolak.
" Amal Sholeh, ibadah, sedekah, dan jadi orang baik." ucap Mira polos.
" Hehehe, hana mencoba tertawa walaupun perkataan Mira membuat jantungnya kembali berdegup kencang."
" Tiket nya gak tahu kapan dikasih sama Allah sayang." ucap Hana berusaha tersenyum.
" Jadi kita gak tahu kapan Allah kasih tiket itu???"
" Itu semua rahasia Allah, kita semua tidak ada yang tahu kapan tiket itu dikasih Allah, bisa aja nanti, besok, atau tahun depan." ucap Hana menjelaskan.
" Kalo kita jahat jadi kita gak akan dapat tiket ke surga kan tante??"
" iya..."
" Kalo gitu jadi jahat aja Tante jadi gak dikasih tiket dulu sama Allah." ucap Mira sangat polos. spontan semua orang tertawa, Rubel mendengar celoteh gadis kecil itu pun ikut tertawa. dia pun menghampiri Mira kecil.
" Kalo jadi jahat dapat tiket nya ke neraka sayang."
" Neraka itu apa??? tanya Mira bingung.
" Neraka itu sekeliling nya adalah bara api yang sangat besar, tidak ada makanan yang enak-enak seperti di surga. tangan kita yang sering mencuri dipotong, lidah kita yang sering berbohong juga di potong, kaki kita yang sering berjalan ketempat yang salah juga di potong. di tempat itu air minumnya , nanah, darah dan....."
Mira bergidik,
" Ih serem...." tapi kenapa orang suka jadi jahat yah om????
" Mira mau jadi apa??
" Mira mau jadi Baek aja om.. biar bisa makan yang enak-enak di surga.
semua orang tertawa, setelah beberapa saat sebelumnya hati dan jiwa mereka di obok - obok oleh ucapan Mira yang sangat polos.
******
Waktu pulang pun tiba. anak-anak terdengar sangat riuh di dalam mobil. Ibu ikut bersama mereka duduk di belakang dengan Ibu Maemunah. tak berapa lama sampai lah mereka di lorong paus. Rubel memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. mereka semua turun dan berlari ke Rumah mereka.
" Woooooow...... MasyaAllah cantik nya." ucap Nana takjub.
Mereka semua sangat terpesona, mulut mereka tak hentinya-hentinya mengucap syukur.
__ADS_1
Di depan Rumah sudah berdiri Om Purnawan dan Om Purwanto. anak-anak langsung menyalami kedua Om itu. dan mereka memanggil dengan panggilan Bapak.
" Bapak!!! Bapak rumahnya Mira di apain kok bisa jadi cantik??
" Disulap dong." goda om Purnawan sambil melemparkan senyuman kepada anak-anak itu.
" Woooow. Pak ajarin Mira sulap dong!! jadi Mira gak usah suruh Ibu kerja lagi jadi buruh cuci di rumah-rumah tetangga, Mira mau sulapin Ibu banyak duitnya." ucapnya begitu polos. semua orang tertawa mendengar celoteh Mira.
" Tenang aja.. sekarang Mira pejamin mata yah!!!" Pinta Om Purnawan.
" Udah belom pak???" tanya Mira tak sabaran.
" Sebentar lagi yah, sekarang masuk ke dalam dulu.. dan Tara!!!" ucap om Purnawan memberikan kejutan.
Mira membelalakkan matanya, dia tidak menyangka didalam rumah ada sebuah mesin cuci.
" Alhamdulillah jadi Ibu gak usah capek-capek lagi keliling buat nyuci baju."
" Sekarang Ibu Mae bisa buka laundry dirumah.." ucap om Purwanto kepada Ibu Mae.
Ibu Mae sangat terharu. semua perlengkapan Laundry sudah tersedia. bahkan ruangan kecil itu terdapat sebuah lemari untuk menyusun pakaian-pakaian yang sudah di packing.
" MasyaAllah. gimana saya ngebalas semua ini sama Bapak dan Ibu semua." ucap Ibu Mae lirih.
" Ibu gak usah mikirin apapun... kita ikhlas bisa memberikan sedikit kebahagian untuk Ibu dan anak-anak Ibu." jawab Om Purnawan menyemangati Ibu Mae.
Hana mendekati Ibu Mae, dan memeluknya.
" Ibu Mae, udah kita anggap keluarga kita sendiri. jadi jangan sungkan-sungkan lagi yah."
Rubel memberi kan sebuah tas yang berisi ponsel, tadi pagi sebelum dia berangkat kerumah sakit ibu meminta Rubel untuk membelikan sebuah ponsel untuk ibu Mae. agar memudahkan mereka untuk saling berkomunikasi.
" Aduh mas Rubel saya jadi gak enak nih."
" Gak apa-apa Bu.. biar anak-anak bisa ngobrol sama Hana atau ibu dengan mudah. ucap Rubel.
Ibu Hana hanya tersenyum, dia sangat bahagia bisa melihat anak-anak ibu Mae tersenyum bahagia.
Semua orang masuk ke dalam Rumah. decak kagum tak henti-hentinya keluar dari mulut Ibu Mae dan anak-anak nya. mereka mengucap syukur atas rezeki yang luar biasa mereka dapatkan.
" Mbak Hana, Ibu..." panggilnya terbata-bata.
" Bu jangan panggil Mbak... panggil aja Hana." ucap Hana menjelaskan.
" I-iya Hana... makasih banyak yah.. mas Rubel dan Ibu juga." ucapnya terharu.
" iya Bu.. sama-sama Ibu jangan sungkan sama kami yah." ucap Rubel.
" Iya, ..... Hana makasih banyak yah." ucap ibu mae lagi kepada Hana. Hana pun memeluk ibu Mae. dan ikuti anak-anaknya. suasana haru terus menyelimuti. kebahagiaan terus terpancar dari wajah ibu dan anak-anak nya. mereka semua menyalami, Ibu, Rubel, Om Purnawan, Om Purwanto dan Hana. dan mereka kembali kerumah.
*****
Hana berjalan ke kamarnya, entah mengapa kepalanya tiba-tiba sangat pusing, dan perutnya seperti begah. dia masuk ke kamar mandi mencoba membasuh wajahnya.
" Uek."
" Uek."
Dia memuntahkan semua yang di makannya. Rubel yang dari tadi masih di ruang tengah segera menyusul masuk kedalam kamar.
" Kenapa sayang?" tanya Rubel khawatir.
" Mungkin Asam lambungnya kambuh lagi.." ucap Hana cepat. dan segera membasuh mulutnya.
Kemudian Hana masuk, dia menggantikan pakaiannya. dia memilih pakaian yang agak longgar.
Dia tiduran di ranjang, Rubel pun ikut berbaring di dekatnya.
sambil memijit kepala Hana.
" Enak nggak Ino pijitin?"
" Iya enak kaya makanan enak." ceplos Hana asal. Rubel mencubit hidung Hana yang mancung.
" Di tanya baek-baek malah jawabnya asal-asalan." ucapnya dan mulai ikut ngambek. Rubel diam dan membalikkan tubuhnya membelakangi Hana.
" Yah ngambek deh..." ucap Hana kecewa. tapi Rubel tidak juga membalikkan tubuhnya menghadap Hana. Hana pun berinisiatif memeluk Rubel dari belakang dan mencium lehernya, Rubel merasa geli dan ada sedikit getaran yang membuat si EmPi bangun karena tiupan Hana dilehernya. tapi dia tetap diam sengaja membuat Hana semakin penasaran dengan tingkahnya.
" Ya udah deh ngambek aja... " ucap Hana mengalah dan membalikkan tubuhnya membelakangi Rubel. mereka berdua saling diam berharap ada salah satu dari mereka mengalah dan membujuk. tapi keduanya tetap diam.
Hana bangun, perasaan mual lagi-lagi membuat nya merasa tidak nyaman. dia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang tinggal sedikit.
Rubel bangun dia merasa kasihan dari sejak tadi Hana muntah. dia pun menggosok lembut punggung Hana.
" Sayang udah Yook jangan di paksa." ucap Rubel lembut. Hana membasuh mulutnya dan masuk kembali kedalam kamar.
Rubel mengambil minyak kayu putih dan hendak membalur ke kening Hana dan perutnya.
" Jangan bau nya gak enak!!!." ucap Hana menolak. dan menjepit hidungnya dengan jari.
__ADS_1
Rubel heran biasanya Hana sangat suka bau minyak kayu putih.
" Kamu gak apa-apa sayang?? tanya Rubel meyakinkan.
" Enggak mungkin asam lambungnya lagi kumat." jawab Hana cepat. dan Kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
" Sayang pijitin badan Ana yah!!" pintanya manja. Rubel pun mendekat dan memijit nya.
Rubel memijit dari kepala leher dan punggung Hana. entah mengapa perasaannya agak lain melihat Hana muntah tidak seperti biasanya.
" Nanti kita ke Dokter yah." ajak Rubel pada Hana.
" Dokter kok pergi ke dokter." jawab Hana terkekeh. dia merasa lucu aja Rubel kan dokter kenapa harus membawanya ke dokter.
" Bukan itu sayang Ino gak yakin... sepertinya Ana hamil." ucapnya langsung.
Hana terkekeh geli mendengar ucapan Rubel.
" Mana mungkin???? kita kan belum ada sebulan menikah???" tanya Hana tak percaya.
" Ingat gak sebelum kita tunangan??? Hana lagi datang bulankan. tanya Rubel yakin.
" iya terus apa sangkut pautnya?? tanya Hana bingung.
" Waktu kita nikah Hana dalam keadaan masa subur, bisa jadi kehamilan lebih cepat." ucap Rubel menjelaskan.
" Tapi kayaknya enggak deh.. enggak tahu ah gelap." ucap Hana asal dan memang dia gak ngerti soal masa subur.
Rubel mengerjai Hana, dia meniup telinga dan leher Hana. Hana merasa merinding.
" Ah, jangan gitu ah jadi parno merinding tiba-tiba." ucap Hana asal.
Rubel terkekeh, dia terus memijit Hana hingga terdengar suara nafas kelelahan dari mulut Hana yang telah terlelap tidur.
Rubel membiarkan Hana tidur, dan memilih pergi keluar kamar. Dia melihat nyai sedang duduk sambil baca buku.
" Nyai, lagi baca apa??"
" Nyai lagi baca buku fikih." ucap Nyai, Rubel pun duduk di dekat nyai.
" Nyai, kalo orang hamil selain mual ada tanda-tanda lain?" tanya Rubel penasaran.
Nyai menatap Rubel sangat lama, Nyai merasa aneh bukankah terlalu cepat untuk pernikahan mereka yang belum lagi genap 1 bulan.
" Siapa yang hamil???"
" Enggak Ino cuma ingin tau aja."
" Bawaan orang hamil itu semua beda-beda, ada yang mual, muntah, terus gak sanggup bau-bauan wewangian. ada yang ngidam ada juga yang biasa-biasa aja seperti orang biasa." ucap nyai menerangkan.
Rubel diam, dia belum yakin apakah Hana memang sedang hamil atau hanya asam lambungnya kumat. tapi seharunya dari hitungan terakhir Hana datang bulan seharunya dia sudah halangan lagi.
" Makasih yah Nyai." ucapnya lembut dan berlalu ke kamar.
Dia berbaring di sebelah Hana, ada perasaan iba, sayang dan juga gemas melihat Hana yang tertidur pulas. wajah Hana yang polos tanpa make up membuat Hana terlihat pucat.
Sesekali Rubel mencium kening Hana.. Entah kenapa dia tidak ingin jauh dari Hana. dia memeluk Hana dari belakang. dia hampir saja tertidur tapi ponselnya berbunyi. Rubel melihat ke layar ponselnya telpon dari Rumah Sakit Z.
Rubel menerima telepon itu, kemudian bersiap-siap kerumah sakit. tiba-tiba saja Hana bangun dan kembali muntah.
" Uek"
" Uek"
Kali ini belum sampai kamar mandi dia muntah.. kepalanya benar-benar pusing. dia mencoba bangun hendak membersihkan muntahnya.
Rubel melihatnya sangat iba. dia segera mendekati Hana.
" Tunggu, disini yah sayang..." Rubel segera menarik selimut yang terkena muntah ke kamar mandi, membersihkan nya dengan air dan merendamnya dengan detergen.
" Sayang, Ana pengen makan apa??" tanya Rubel perhatian.
" Gak ada, Ana gak mau makan apa-apa, Ino udah rapi.. mau ke Rumah Sakit yah???"
" Iya sayang ada pasien." ucapnya lembut. Rubel meraih tisu basah di meja rias dan menarik selembar kemudian membersihkan sisa muntahan Hana di mulutnya.
" Kamu istirahat aja yah sayang... nanti selesai bedah Ino langsung balik kerumah."
Hana mengangguk pelan, Rubel pun mencium keningnya. dia sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi Hana.
" Apa kita sekalian kerumah sakit???" tanya Rubel cepat.
" Enggak apa-apa sayang, Ana baik-baik aja nanti juga sehat." ucap nya menenangkan.
" Iya udah Ino gak akan maksa, nanti kalo kepengen makan apa-apa panggil Bibi yah." ucapnya dan berlalu kembali ke kamar mandi mengambil baskom kecil.
" Jangan bangun-bangun, kalo muntah di baskom ini aja nanti Ino yang bersihin." ucap nya panjang, kemudian mencium kening Hana dan beranjak keluar.
Dia mengatakan kepada semua penghuni Rumah. bahwa Hana sedang tidak enak badan. dia pun menitipkan Hana pada semua nya karena dia ada pasien bedah.
__ADS_1
" Hai sahabat Dokter Cool, maaf yah atas keterlambatan Up nya, pihak Novel Toon meminta Author untuk kembali mereview semua Bab ini karena kekurangan dan keterbatasan Author dalam menulis. terimakasih untuk support nya.. dukung terus karya Author yah 🤗😍"