
Dikediaman Purwanto Agiawan di Ponorogo Residen, Haikal menggendong Hana masuk kedalam kamar, di ikuti Ibu dan Ayah. kamar itu sangat luas berbeda dengan punya Hana dirumah yang hanya berukuran 3x3 m. ibu mengenang masa kecil nya di kamar itu, ruangan itu sudah banyak berubah, dari tempat tidur hingga lemari kamar. ibu hendak menangis tapi di tahannya, dia tidak ingin hana melihatnya menangis.
dari sejak tiba tadi botol infus Hana tidak di gantung semana mestinya, Haikal pun bingung bagaimana cara nya agar infus itu bisa mengalir. dia berinisiatif untuk menelpon Mila.
"halo."
"Ya halo ada apa mas?" tanya Mila pada Haikal.
"Mil, gimana cara pasang nih infus, dari tadi kami tiba, Hana belum juga mendapatkan cairan infusnya." ujar Haikal bingung.
"mas apa ada gantungan baju di situ? tanya Mila."
"ada tapi di lemari." jawab Haikal polos.
"maksud Mila botol infus itu di gantung." ujar Mila menerangkan.
"gak ada tempat buat pasang gantungannya." jawab Haikal lagi.
"kalo standing Hanger ada?" tanya Mila lagi.
"standing hanger?" tanya haikal.
"iya standing hanger jadi bisa gantung botol infus itu." ucap Mila menjelaskan.
"ok, terimakasih aku cari dulu nanti aku telpon lagi." ujar haikal.
"iya,"
"bye.
"bye." ucapnya menutup telepon itu.
ibu mendengar Haikal menyebut standing hanger, ibu teringat sesuatu, dulu pernah ada standing hanger dirumah itu. kalo memang barang itu tidak terpakai lagi, pasti di taruh di gudang.
"Haikal coba ke gudang, seingat Tante rumah ini dulu punya standing Hanger." ujar ibu menjelaskan. ibu duduk di dekat Hana sedangkan ayah duduk dikaki Hana. dan Haikal segera menuju gudang di belakang di rumah itu.
Haikal membuka pintu gudang yang tidak terkunci, dia masuk dan terkejut, banyak foto Tante Purwati di Gudang itu.. lemari pakaian, standing hanger bahkan spring bed yang terlihat sudah berumur puluhan tahun. Haikal mengambil standing hanger itu menutup pintu gudang dan membawa standing hanger itu ke kamar.
Dia menggantungkan botol infus hana.
dia tidak mengatakan kepada ibu Hana tentang pemandangan yang baru saja dilihatnya. dia tidak ingin tantenya itu bersedih. ibu bangun membuka cairan infus itu agar mengalir ke tubuh Hana.
"Tante bisa?" tanya Haikal heran.
" Sedikit." hanya itu saja tidak lebih.
"Sayang Tante dan om akan pulang dulu kerumah. nanti Tante dan om akan balik lagi." ucap ibu
"Haikal antar yah Tante." ujarnya menawarkan diri.
"Gak usah kami naik angkot aja." jawab ibu Hana.
"jangan Tante disini gak ada angkot, Tante dan om naik online car aja yah." ujarnya memohon.
"baiklah, Tante titip Hana yah sayang." ucap ibu Hana.
" iya Tante Haikal akan jaga hana Tante dan om gak usaha khawatir. Ujar Haikal.
Haikal mengantarkan ibu dan ayah Hana hingga ke pintu pagar. tak berapa lama online car pun tiba, ibu dan ayah masuk kedalam mobil.
seseorang sedang memperhatikan di belakang mereka, laki-laki itu terperanjat dengan apa yang dilihat nya. dia sangat kenal dengan dua orang yang baru saja masuk ke mobil di depannya. dia hendak turun untuk memanggil tapi mobil itu telah melaju dengan cepat. Haikal terkejut melihat mobil papanya berada di belakang mobil yang baru saja membawa Tante nya pergi.
dia membukakan pintu pagar agar mobil papanya bisa masuk ke halaman rumah.
dan buru-buru keluar dari mobil.
"siapa tadi?" tanya papanya.
"oh itu ibunya Hana." ujar Haikal pelan tanpa memperhatikan wajah papanya.
wajah papanya berubah sedih, dia merasakan kerinduan di hatinya. dia melangkah dengan pelan, pikirnya melayang teringat akan adik yang sangat di cintanya. seandainya waktu itu Abangnya Purnawan tidak mengusir Adiknya mereka tidak akan berpisah seperti ini.
dia melangkah ke ruang keluarga, dia melihat foto besar keluarga nya, dipandangi adik yang sangat dia sayangi itu. Haikal mencoba mengikuti papanya, papanya menangis.
Haikal mencoba mendekat.
"ada apa pa?" tanya haikal.
"ah, gak apa-apa sayang." jawabnya mencoba tenang.
"Pa siapa Purwati Agiawan?" tanya Haikal begitu menghujam jantungnya. dia tidak bisa mengalihkan air matanya yang terus tumpah.
__ADS_1
"Pa jawab Haikal pa." ujarnya memohon.
dia memandangi anaknya.
"Apakah dia telah mengatakan semua nya kepada mu?" tanya Papanya.
"Siapa?" tanya Haikal berpura-pura tidak tahu.
"Ibunya Hana." ujar papanya.
Haikal diam, dia tidak menjawab. sebenarnya dia berusaha untuk menutupi nya tapi mulut nya terlanjut meluncur seperti Rollercoaster.
"Maafin Haikal pa.." ucapnya meminta maaf.
papa Haikal duduk di sofa, menghela nafas panjang. Haikal menatap nya sangat lembut.
dan duduk di sebelah papanya.
"maafin papa sayang, dia memang Tante mu adik bungsu papa dan om Purnawan. ujar papa mencoba melepaskan semua yang ada di hatinya.
"tapi semua menghilang begitu saja saat dia lebih memilih laki-laki biasa menjadi suaminya, mereka di usir oleh Om Purnawan, dan Om purnawan menghubungi semua perusahaan agar tidak menerima laki-laki bernama Ghana ayahnya Hana." ucapnya menjelaskan.
Haikal berang mendengar om Purnawan sangat arogan. tapi dia pun tak bisa berbuat banyak apalagi dia tidak begitu akrab dengan Abang papanya itu.
"Papa ingin bertemu Hana." ucapnya pada haikal.dan mereka pun berjalan menuju kamar Hana di dalam kamar itu ada Nyai dan bibi yang sedang menunggu Hana.
"Pa ini nyai nya Rubel, dan ini bibi asisten rumah tangganya Rubel." Ujar nya menjelaskan.
Dia segera menyalami nyai Rubel, dan meminta maaf.
"Maaf kan saya Bu." ucapnya pada nyai.
"sudahlah saat ini kita hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk keluarga kita." jawab nyai bijak.
Papa Haikal menghampiri Hana yang tertidur, dan mengelus rambutnya Hana dengan lembut. tiba-tiba Hana terbangun.
'Eh ada papa nya Haikal." ujar Hana.
papa Haikal menatap lembut keponakannya itu, pantas saja pertemuan pertama mereka dia merasakan sesuatu yang berbeda dan sangat menyayangi gadis yang ada di depannya itu. dia tak kuasa menahan tangisnya, kerinduan nya dengan sosok adiknya menjelma di wajah keponakan nya. Wajah Hana sangat mirip dengan ibu nya di waktu muda. dia memeluk gadis itu.
"maafin om yah sayang, sudah membiarkan keluarga kalian hidup dalam kesusahan. seharunya om mencari kalian dan memindahkan kalian ke tempat aman agar kalian bisa hidup dengan layak." ucapnya lirih.
Hana bingung, dia tidak mengerti apa yang di ucapkan papanya Haikal. nyai dan bibi juga bingung.
"Pa Hana belum tahu semua ini." ucapnya.
papa Haikal mengernyitkan keningnya.
"Maksud mu?"
"Tante memintaku untuk menyembunyikan semuanya." ucap Haikal.
"Apakah dia masih marah dengan papa dan om Purnawan sehingga dia menutupi semua ini dari Hana." tanya papanya.
"Bukan Pa, dia ingin Hana bisa lebih sehat. tanpa banyak fikiran." ucapnya lagi.
"maksudmu?" tanya Hana semakin bingung.
mereka berdua diam, tapi papa Haikal tak bisa menunggu lagi.
"sayang dengerin yah. om yakin Hana bisa terima semua ini. dan om akan berusaha menebus semua kesalahan om yang dulu, dan membahagiakan keluarga Hana." ucapnya pada Hana. sambil mengusap kepala Hana lembut.
"Om adalah Abangnya ibu Hana." ucapnya menjelaskan.
"tapi ibu tidak punya keluarga. ibu bilang orang tuanya telah lama meninggal dan tidak pernah bercerita tentang apapun tentang Abang nya.
Papa Haikal menatap lembut gadis di depannya, dia paham mengapa adiknya melakukan itu, karena dia dan Abang nya Purnawan Juga melakukan hal yang sama untuk menutup konflik keluarga itu.
"sayang, siapa nama ibu mu?" tanya nya pada Hana.
"Purwati A." jawab Hana cepat.
"apakah kamu tahu apa kepanjangan A?" tanya nya pada Hana. Hana menggeleng kan kepala.
" A adalah Agiawan." ujar papa Haikal menjelaskan.
"Purwati Agiawan, anak dari Agiawan, dan adik dari Purnawan Agiawan dan Purwanto Agiawan. ibu Hana adalah adik om." ucapnya menjelaskan begitu detil.
Nyai, bibi dan Hana terkejut. mereka tidak tahu masalah itu.
Hana menangis ibu nya selama ini menyembunyikan identitas dirinya.
__ADS_1
"jangan menangis sayang. ada om disini, ibu mu pasti ingin yang terbaik untukmu, sehingga dia menyimpan semua tentang masa lalunya. tidak ada orang tua yang ingin hidup anaknya menderita. buktinya ayahmu berusaha sebisa nya agar kalian bisa hidup lebih baik." Ujarnya menenangkan. di dalam hatinya terdalam dia sangat sedih, apalagi Hana terlihat lemah. dia mengusap lembut rambut Hana.
"om gak akan membuat Hana sedih lagi, om janji akan memberikan kebahagian untuk semua keluarga kita. om janji sayang." ucap om Purwanto.
Nyai, bibi dan Haikal memandang penuh haru, tak terasa mereka juga ikut menangis.
******
Keesokan harinya di sebuah rumah mewah nan megah. Rubel dikurung di sebuah kamar kecil, dia terlihat sangat pucat dari kemarin dia belum makan, walaupun para pengawal itu telah meletakkan makanan di meja. tapi Rubel enggan menyentuhnya. dia sangat bingung harus berbuat apa. jalan satu-satunya hanya keluar dari tempat itu. tapi rumah itu sangat besar.
Pikirannya melayang, dia teringat dengan Hana. dia sangat merindukan Hana. ingin dia menelpon tapi ponselnya di ambil oleh pengawal-pengawal Om Purnawan.
tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk ke kamar itu. dengan lantangnya berkata.
"kenapa kamu tidak makan? apa makanan itu tidak enak atau butuh orang untuk menyuapi mu." ucap laki-laki itu dengan berkacak pinggang.
Rubel diam, dia tidak ingin meladeni manusia sombong nan arogan di depan nya. dia bisa saja memukul laki-laki di depan nya itu, tapi dia khawatir imbas dari perlawanan nya orang itu akan menyakiti keluarganya.
Rubel hanya bisa diam, karena kegelisahan nya semakin membuat dia tidak bisa berfikir positif. dia meninggalkan laki-laki itu berjalan ke kamar mandi. dia merasa bersalah karena sejak kemarin dia dikurung dia tidak sholat.
dia segera mengambil wudhu dan keluar dari kamar mandi. dia mengambil selimut di atas tempat tidur dan menjadi kan alas untuk dia sholat. dia melihat matahari dari arah jendela sebelah kanan kamar jadi dia mengarahkan kiblat nya ke sebelah kiri.
Om Purnawan mendengus kesal, dia meninggalkan Rubel menunaikan sholat nya.
entah mengapa dia merasa risih melihat rubel melakukan sholat, selama berpuluh-puluh tahun lamanya sejak papa dan mamanya meninggal dia tidak pernah lagi sholat.
dia merasa Tuhan tidak adil telah mengambil kedua orang tuanya dengan begitu cepat.
dan dia pun merasa hebat karena hartanya sangat berlimpah seakan tidak akan pernah habis sehingga dia begitu kufur dan angkuh.
Entah mengapa pemandangan sholat itu membuat hatinya gelisah, dia seperti sedang diberi peringatan oleh laki-laki bergelar dokter itu. tiba-tiba dia teringat masa kecilnya bagaimana kedua orang tuanya yang begitu sayang Dengan ketiga anaknya, di ajarkan sholat, mengaji, dan belajar bersedekah. walaupun ke dua orang tuanya seorang Mualaf.
"Pa - ma aku rindu. rindu masa kecil itu, rindu dengan Wati si bungsu. kenapa kalian semua meninggalkan aku dan Purwanto." ucapnya lirih. istrinya bingung, sebelumnya dia tidak pernah melihat suaminya bersedih.
"pa papa menangis?" tanya istrinya.
"siapa yang menangis mana mungkin Purnawan Agiawan menangis pantang bagi ku menangis." ucapnya berusaha keras.
dia pun pergi ke kamarnya, entah perasaan apa yang begitu merasuknya. mengikis keangkuhan di hatinya. dia menutup pintu kamar dengan pelan dan dikuncinya.
dia berjalan ke kamar mandi dan mencoba berwudhu. perasaan lega menelusup jantung nya. perasaan yang begitu damai mengikis keangkuhannya. dia masih berdiri menghadap kiblat tapi dia tidak melaksanakan sholatnya. dia diam kemudian dia bersujud menangis dihadapan sang Maha pencipta, sungguh dia begitu kufur nikmat sehingga dia lupa siapa zat yang Maha sempurna.
"Jangan lah lupe dengan Allah macam manapun dielah yang telah berikan rezeki, Rahmat, serte nikmat nye untuk kite semue. ingat itu." terngiang dia akan ucapan papanya di waktu mereka kecil.
"iye ayah." jawab ketiga bersaudara itu.
tangis Pak Purnawan seketika pecah. dia tidak pernah merasakan sakit seperti itu.
"Ya Rabbi. Ampunilah hamba mu ini,karena keangkuhan ku Aku lupa siapa yang menciptakan ku."
"Ya Rabbi, begitu banyak dosa yang aku perbuat,begitu banyak kecurangan yang aku lakukan agar aku bisa hidup mewah dan bergelimpangan harta.
"Ya Rabbi tuntun aku kembali."
"ampuni hamba Ya Rabbi.
"ampuni hamba." tolong hamba.
jangan biarkan hamba terombang-ambing tanpa arah.
"bantu hamba ya Rabbi, hamba ingin sekali bertemu dengan Adik Hamba Purwati Agiawan.
perasaan lega menyergap nya, dia seperti merasakan hidup yang lain, laki-laki yang dipaksanya untuk menikahi putrinya itu telah mencairkan hatinya yang beku. dia hendak ke kamar Rubel tapi dia malu, malu karena telah bersikap sombong dan arogan. tiba-tiba suara ponselnya berbunyi.
panggilan dari adik laki-laki nya Purwanto Agiawan.
"Assalamualaikum." sapa nya pada adiknya itu.
"wa'alaikum salam." jawab adiknya pelan. dia merasakan tidak seperti biasanya. sudah sangat lama abangnya itu tidak pernah lagi mengucapkan salam, sholat pun tidak pernah lagi.
"bang, aku membicarakan sesuatu sama Abang." ujar adiknya.
"apa." tanya abangnya dengan suara berat.
"Abang ada masalah? tanya adiknya kepada abangnya. dia merasakan suara itu tidak biasanya.
"tidak." ucapnya pendek.
"baiklah, Abang dirumah kan? tanya dia lagi.
"iya."
__ADS_1
"ya udah sebentar lagi aku kesana." ujarnya menjelaskan. dan menutup telepon.
Hai, jangan lupa Favorit, Follow, Vote, Like dan Komennya yang banyak terimakasih 😍🤗