
Rubel dan Hana benar-benar dibuat bingung dengan jalan fikir Alan, mereka tidak menyangka Alan dengan santainya menerima berita yang mereka sampaikan.
" Sayang, kalo rahim Mia benar-benar diangkat gimana? sayang kan masih muda gak bisa punya anak?" tanya Hana bingung.
" Gak apa-apa biarkan dokter melakukan tugas mereka, karena mereka lebih tahu kondisi pasien nya.". jawab Rubel menenangkan.
Hana terdiam, dia benar-benar merasa kasihan dengan Mia.
" Sayang, jangan difikirkan kamu harus kuat kalo kamu sakit kasihan sikecil loh!" ingat Rubel pada Hana sambil mengelus kepala Hana.
" Iya, cuma."
" Enggak ada cuma-cuma kebiasaan deh selalu aja mikirin orang lain kamu juga harus mikirin diri sendiri." ucap Rubel gemas sambil mencubit pipi Hana.
" Sayang kebiasaan deh, cubit Mulu entar pipinya jadi gak cabi lagi, enggak cantik lagi, entar...."
" Masya Allah, beneran yah kalo udah ngomong gak pake rem." celutuk Rubel dan ingin mencubit hidung Hana tapi Hana lebih dulu menghindar.
" Hehehe gak kena, gak kena." ledek Hana puas. tapi Rubel malah mengerjai nya. ditarik tangan Hana hingga Hana berada dalam pelukannya.
" Suka banget yah bikin ino kesel, awas yah entar malam Ino bikin kamu minta ampun." ucapnya Rubel sambil menyeringai genit.
" Lihat aja nanti, Ino pasti gak tega buat nyakitin Ana.
" Ih, kepedean deh pokoknya kamu akan Ino buat gak bisa jalan lagi." bisiknya genit sambil membuka cadar Hana dan mencium bib*r Hana dengan lembut.
" Sayang kalo orang tiba-tiba masuk gimana? jangan aneh-aneh deh ini kan kantor bukan dirumah." ucap Hana kesal.
" Terus yang bilang ini rumah siapa?" jawab Rubel menggoda.
" Sayang, jangan bercanda dong Ana lagi serius nih."
" Ih manisnya, cinta Ino lagi serius." goda Rubel lagi.
" Sayang beneran nih Ana udah 100 rius nih." ucap Hana kesal.
Rubel makin mengeratkan pelukannya, dan terus mencium Hana.
" Ini hukumannya buat kamu, karena udah gak nurut sama Ino." ucap Rubel.
" Ke enakan, nyosor Mulu." gerutu Hana kesal.
" Ya iyalah, orang udah halal kok kalo nyosor nya sama orang lain entar ada yang cemburu lagi." ledek Rubel tak mau kalah.
" Wah, si ganteng Ana udah pinter ngomong yah kirain masih dingin kaya es." ucap Hana membuat Rubel makin nekat mencium Hana tiba-tiba pintu ruangan diketuk.
" Dok, ada pasien kecelakaan." ucap seseorang dari luar. Hana dan Rubel segera merapikan pakaian, sedangkan Hana segera mengenakan cadarnya.
" Kita lanjutkan nanti yah sayang." goda Rubel lagi.
" Iya, awas yah gak bisa muasin Ana." ucap Hana dengan candaan.
Mereka berdua pun tertawa, dengan terburu-buru Rubel segera membuka pintu. seorang perawat laki-laki berdiri tegap sambil melihat ke arah Hana. tapi Rubel segera mengalihkan pandangannya.
" Ehm, maaf dok saya sudah menganggu dokter." ucap perawat itu malu.
" Enggak apa-apa, saya ganti pakaian dulu nanti saya menyusul tolong segera persiapkan semua keperluannya." ucap Rubel dan melihat ke arah Hana, sedangkan perawat segera pergi.
" Pergi lah sayang, ini adalah tugas kamu pengabdian mu, Ana disini sekalian belajar yah."
" Ya udah, tadi om Purnawan bilang kalo kamu mau belajar masalah pekerjaan bisa minta tolong sama Om Purnawan." ucap Rubel dan mengecup kening Hana.
" Semoga lancar yah sayang, ingat jangan lirik-lirikan sama dokter cewek dan perawat cewek nya kalo enggak biar Ana yang jadi asisten kamu." ancam Hana sambil menggoda.
" Sayang, percaya sama Ino kan?" tanya Rubel sambil memandang mata Hana.
" Ya sudah buruan entar pasien nya tambah parah." ucap Hana mengingat kan.
" Kamu sih ngegoda Mulu." ucap Rubel sambil mencium kembali kening Hana.
" Buruan." ucap Hana cepat.
Rubel segera beranjak dari ruangan itu, tinggal lah Hana sendiri. karena bosan dia pun ikut keluar dan berkeliling Rumah Sakit.
*****
Di ruang Poli Kebidanan. Mia merasa sangat takut wajahnya terlihat sangat pucat, Alan tetap di sampingnya dan terus memperhatikan Mia.
" Kenapa?" bisiknya pelan.
" Enggak apa-apa cuma agak gugup." ucap Mia serak.
Dokter Angga masih berbincang dengan dokter kandungan itu, atas temuan hasil ST scan. tidak berapa lama Mia masuk di dampingi Alan. Angga melihat ke arah Mia dengan tatapan iba. Alan yang melihat seakan-akan ada hal berat yang tidak bisa disampaikan oleh Angga kepada mereka berdua, Alan pun berinisiatif untuk berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
" Mia?" sapa dokter itu tak percaya.
" Maaf dok, saya izin beberapa hari." ucap Mia pelan dengan rasa bersalah.
__ADS_1
" Ehm, gak apa-apa kamu naiklah untuk USG yah." ucap dokter Lisa pada Mia. Mia pun naik ke bed.
" Maaf bang Alan, saya di periksa dulu bang Alan boleh keluar nanti kalo udah siap Abang boleh masuk."
" Huh, siapa juga yang mau ngintip lagian badan kurus gitu mana ada yang menarik." gerutu Alan pelan. Mia hanya menunduk malu atas ucapan Alan walaupun terdengar kecil namun cukup membuat orang lain terluka perasaannya karena ucapan Alan. Alan pun segera keluar.
" Ah aku mau pulang aja lagian dia sakit bukan karena kejadian malam itu. itu karena dia memang penyakitan." ucap Alan kesal karena di suruh keluar oleh Mia, tapi tiba-tiba perasaan aneh membuat nya mengurung kan niatnya, dia pun berdiri di depan pintu sambil menguping pembicaraan antara Mia dan dokter Lisa.
Dokter Lisa melakukan tugasnya, sambil mengobrol dengan Mia.
" Apakah kamu sering mengalami sakit saat haid?" tanya dokter Lisa pada Mia.
" Ehm, iya dok udah lama sejak saya baru mengalami haid." jawab Mia jujur.
" Boleh saya bicara dengan abangmu?" tanya dokter Lisa tiba-tiba.
" Maaf dok, apa tidak sebaiknya dokter bicara sama saya aja, saya tidak ingin menyusahkan orang lain." jawab Mia cepat dengan ekspresi wajah penuh harap.
" Maaf saya harus membicarakan semuanya dengan keluarga kamu, dan saat ini yang hadir hanya abang mu." ucap dokter Lisa serius.
" Tapi dok, dia bukan Abang kandung saya dia...."
" Ada apa dok?" tanya Alan yang tiba-tiba membuka pintu ruangan.
" Silahkan anda masuk dulu ada yang harus saya sampaikan." ucap dokter Lisa sambil membetulkan kaca matanya dan mempersilahkan Alan duduk di sebelah Mia.
" Apa ada hal yang serius?" tanya Alan dengan wajah sedikit penasaran.
" Kita akan melakukan biopsi, setelah hasil nya keluar jika jinak kita akan melakukan laser, tapi jika ganas maka kita harus.." ucap dokter Lisa terputus saat melihat wajah Mia sedih.
" Dok, apakah artinya saya tidak akan bisa punya anak?" tanya Mia serak.
" Maaf, hanya ada dua cara itu jika memang cara pertama tidak bisa maka kita harus melakukan cara kedua." jelas dokter Lisa.
Mia tersenyum kecut, dia benar-benar merasa kehilangan sebuah harapan dan impian.
" Dokter bercanda kan?" tanya Mia bingung.
" Hehehe dokter cuma ngeprank saya kan?" tanya Mia lagi tanpa ada jawaban yang meluncur dari mulut dokter Lisa.
Alan melirik Mia, dia bingung melihat ekspresi wajah Mia yang terlihat santai, bahkan Mia tertawa kecil sehingga Alan benar-benar tidak mengerti apa yang difikirkan Mia.
Alan memegang kening Mia yang tidak panas.
" Apaan sih, aku gak sakit dokter cuma ngeprank aku." ucap Mia sedih dan berlari keluar.
Dokter Lisa hanya bisa diam, dia mengerti bagaimana keadaan Mia. seorang gadis harus diangkat rahimnya pasti adalah pilihan yang sulit.
" Pergi sana apa perduli mu, lagian ini bukan urusan kamu kamu gak usah pura-pura baik sama aku, kamu cuma majikan ku." ucap Mia sedih. dan berlari tertatih-tatih karena merasa perut nya sangat sakit.
" Dasar gadis bodoh, siapa juga yang baik sama kamu aku cuma kasihan aja sama kaki kamu yang berlari gak pake sendal." ucap Alan dengan nada serius.
Mia terus berlari tanpa memperdulikan ucapan Alan. dia terus memegang perutnya seakan ada sesuatu yang tajam menusuk perutnya dengan keras.
" Argh, ya Allah kuatkan hamba ya Allah." ucap Mia sedih sambil memegang perutnya. tiba-tiba Mia Pingsan. Alan segera meraih tubuh lemah Mia. dia pun menggendong Mia membawa Mia kembali ke Ruang rawat Mia.
Alan mencoba membangunkan Mia, dengan memberikan minyak kayu putih di pelipis Mia, hidung dan tangan Mia. tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ruangan itu.
" Assalamualaikum." sapa Hana sebelum masuk kedalam ruangan.
" Wa'alaikummussalam." jawab Alan cepat.
" Dek, Mbak boleh masuk?" tanya Hana ragu. karena melihat Alan yang sibuk menggosok telapak tangan Mia.
" Boleh Mbak."
" Mia kenapa?" tanya Hana bingung.
" Dia pingsan Mbak, hasil USG membuat dia syok." jelas Alan.
Hana mendekat, dia mencoba membantu membangunkan Mia.
" Mia, bangun sayang kamu harus sehat jangan terus bersedih ada mbak disini, ayok bangun sayang ibu mu." ucap Hana sambil mengelus pelan tangan Mia.
Hana membuka baju Mia sedikit kemudian menggosokkan minyak kayu putih di dada Mia. Alan tidak sengaja melihat tubuh mulus gadis itu. dia pun memalingkan wajahnya kearah lain.
" Astagfirullah, dek Mbak lupa kamu keluar dulu deh." ucap Hana mengusir Alan buru-buru. dengan wajah sedikit kesal Alan keluar ruangan, dan duduk di kursi yang ada di depan ruangan.
Seorang gadis cantik sedang menatap Alan dari kejauhan. karena penasaran dia pun menghampiri.
" Alan!" panggil gadis itu.
" Ehm, kamu siapa?" tanya Alan bingung sambil mengingat wajah cantik gadis itu.
" Apakah kamu gak ingat sedikit pun sama aku?" tanya gadis itu.
" Maaf soalnya saya..."
__ADS_1
" Apa karena kamu benci sama aku jadi kamu ngelupain aku?" tanya gadis itu.
" Eh, tidak aku beneran lupa." jawab Alan jujur.
" Masa sih, padahal kamu dulu adalah penggemar berat aku loh." goda gadis itu sambil tersenyum. senyuman itu membuat Alan ingat gadis itu.
" Via, kamu via kan?" tanya Alan tak percaya, dengan suara sedikit berteriak.
Gadis itu pun mengangguk, sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. tapi tiba-tiba Hana berteriak.
" Dek, bantuin Mbak bentar." ucap Hana.
" Eh bentar yah Via, aku masuk dulu." ucap Alan.
" Emangnya siapa yang sakit?" seingat ku kamu gak punya kakak deh." tanya Via.
" Oh, itu adik sepupu aku." jawab Alan cepat. dan berlalu meninggalkan Via masuk kedalam ruangan Mia.
" Apa iya sepupu kok panik gitu yah." ucap via pelan dan mencoba mencari tahu dari. Via mengintip dari pintu yang terbuka sedikit.
" Ah, ngapain sih aku bukannya aku mau ketemu si Angga kenapa jadi mikirin si miskin itu lagi sih." guman Via dan dia pun pergi dari situ.
" Kenapa mbak?" tanya Alan bingung.
" Tolong Panggilin perawat Mia nya gak bangun-bangun." ucap Hana panik. Alan mengernyitkan dahinya.
" Aduh Mbak Alan baru aja ketemu sama..."
" Sama siapa? jangan bilang kamu lagi asik pacaran yah, kita lagi susah dia malah enak-enakan." sindir Hana.
Alan hanya menepuk jidatnya, dia benar-benar kehilangan kata-kata menghadapi sang kakak.
" Ya ampun Mbak kok suudzhon sih." jawab Alan tak mau kalah.
" Terus!!" ucap Hana tak mau kalah.
" Ya udah Alan ngalah deh, mbak tungguin Mia aku panggil perawat." ucap Alan dan berlalu
Tiba-tiba ponsel Hana berbunyi, sebuah panggilan dari Om tersayang.
" Astagfirullah Ana lupa tadi janjian sama om." ucap Hana dan menyambut sambungan telepon.
" Assalamualaikum, Aduh om, maafin Hana yah beneran Hana lupa sekarang lagi ditempat Mia, kalo Alan udah balik Hana langsung nemuin om yah" ucap Hana merasa bersalah.
" Wa'alaikummussalam, yah gak apa-apa om tungguin yah." jawab Om Purnawan.
" Siap Bos." jawab Hana dan telp pun ditutup.
" Mia, maafin mbak yah mbak tinggalin dulu sekarang tugas Alan buat jagain kamu, cepet sadar yah sayang." ucap Hana lembut dan segera meninggalkan Mia.
Alan mencoba mencari perawat, tapi para perawat sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. seorang perawat laki-laki sedang memperhatikan Alan.
" Ada yang bisa di bantu mas." tanya perawat itu pada Alan.
" Iya, pasien di ruangan VIP atas nama Mia pingsan. jawab Alan cepat.
Perawat itu bergegas menuju ruangan Mia. di ikuti Alan. betapa terkejutnya Alan karena Hana tidak ada di ruangan itu.
" Mia??" ucap perawat setengah tak percaya, membuat Alan bingung.
" Kamu kenal?" tanya Alan pada perawat itu.
" Kenal mas, dia teman sewaktu kuliah dulu dia anak yang berprestasi dan gadis yang paling baik." jelas perawat itu.
" Mia, maafin aku yah aku pegang perut mu dikit aja." ucap perawat itu sambil mengatup kedua tangannya seraya memohon maaf.
Alan tersenyum, tidak menyangka seorang laki-laki bisa begitu penakutnya, padahal dia adalah seorang perawat.
Perawat itu pun melakukan kompresi, dan tak berapa lama Mia pun siuman. tapi perawat itu langsung terburu-buru pergi.
" Aneh, kenapa dia lari." gerutu Alan.
Mia memandang Alan kemudian memejamkan matanya lagi.
" Hei, jangan bercanda dong baru aja siuman udah mau pingsan lagi gak lucu tau." ucap Alan kesal.
" Kamu keluar deh,aku lagi gak mood ngomong sama kamu, sekarang kamu bisa pulang gak usah ngurusi aku aku bisa ngurusin diri aku sendiri, palingan sebentar lagi juga bakalan mati." ucap Mia ketus dan membalikkan tubuhnya membelakangi Alan.
Alan keluar dengan perasaan kesal. dia benar-benar tidak menyangka Mia bisa berkata sekasar itu padanya yang notabene adalah majikannya. Alan pun memilih pulang ke rumahnya.
"
"
"
"
__ADS_1
" Makasih yah yang udah fast respon untuk karyaku, maaf belum bisa up banyak-banyak karena kegiatan makin padat."