Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 66


__ADS_3

Vierra masih penasaran, dia ingin sekali melihat Rubel, tapi Rubel tidak juga keluar. dia bingung harus berbuat apa karena setiap mata mengawasi gerak-gerik nya. dia pun berjalan ke arah meja yang tersedia Snack dan makanan berat. seseorang menghampiri nya dan berbicara sangat ketus padanya.


" Ngapain kesini?" tanya Mama Melisa geram.


" Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepada Mila, tidak lebih." ucapnya mencoba tenang, walaupun dia sekarang sangat ketakutan karena semua mata para bodyguard menatap tajam ke arahnya.


" Apa kamu punya niat buruk datang kemari?" tanya Mama begitu penasaran.


" Oh tidak ma." ucap nya terpotong melihat Mama Melisa yang hendak memukul nya.


" Jangan pernah memanggil aku dengan sebutan Mama." ucap Mama sangat ketus.


" Maaf Tante.." ucap Vierra canggung.


" Gak usah berbasa-basi aku tidak suka kamu memanggil dengan sebutan itu." elak Mama masih begitu benci.


" Terserah lah, aku hanya menghormati mu." ucap Vierra dan dengan wajah Tidak senang.


Mama segera pergi, dia semakin kesal melihat Vierra yang berbicara sangat tidak sopan baginya. jika tidak memikirkan Tuan Rumah dia ingin sekali menjambak Vierra.


Vierra berharap Rubel keluar dia ingin sekali bertemu Rubel, dari dulu dia selalu berusaha untuk mendapatkan cinta Rubel Sampai Rubel keluar dari Rumah Sakit Di Sydney.


Tidak hanya itu penyebab nya, dia juga iri karena Rubel menjadi dokter terbaik di Rumah Sakit di Sydney, dia dan Rubel sama-sama dokter bedah. Dia menfitnah Rubel telah melakukan mal praktek, hanya karena Rubel tidak membalas cintanya.


Namun orang Rumah Sakit Tidak percaya begitu saja kepada Vierra, dan Rubel tetap di terima di Rumah Sakit itu. walaupun Rumah Sakit Itu milik Papanya Vierra. karena merasa tidak sanggup Rubel segera mengambil langkah mengundurkan diri untuk menghindar dari Vierra. Sikap Sombong dan keras Vierra memang tidak disukai semua orang. sehingga hanya beberapa tahun dia bertahan di Rumah Sakit Sydney dan Kembali ke Indonesia yang notabene milik Papanya juga.


Karena Rubel tidak juga keluar, dan semua orang sudah banyak yang pulang, kecuali sahabat-sahabat Mila dokter Lila dan Zaena.


Vierra mulai bertingkah aneh, namun dia lupa bahwa para bodyguard masih mengamati tingkahnya. dia celangak-celinguk mencoba mencari kamar Rubel. seseorang menghampiri dia dengan kasar.


" Mau ngapain?" sambil menarik baju Vierra dari belakang. Vierra menatap lekat orang yang berbicara dengan nya.


" Maaf aku mau cari toilet." ucap nya berbohong. laki-laki itu segera menghardik nya dengan keras.


" Keluar sekarang!!!!"


Semua orang melihat ke arah suara, dan mereka menghampiri mereka berdua.


" Ada apa?" tanya ibu dengan tatapan kesal ke arah Vierra.


" Dia bilang mau ke toilet tapi berjalan ke arah kamar." ucap Diko menjelaskan.


Mama yang melihat segera menarik Vierra keluar, Lila dan Zaena terperanjat melihat mama begitu berani menarik Vierra.


" Keluar kamu!!!" usir mama lantang.


Vierra hanya diam tanpa perlawanan tapi didalam hatinya dia sangat mengutuk perlakuan Mama Rubel.


"Sialan, nenek lampir aku diam karena ada bodyguard itu jika tidak aku bunuh dia!!!"


******


" Tante, tidak apa-apa?" tanya Zaena.


" Tidak, Tante baik-baik saja."


Lia dan Dainan baru saja tiba, mereka semalam ada pertemuan dengan teman-teman dari Sydney.


" Assalamualaikum." salam Lia pada semuanya.


" Waa'laikum salam."


" Ada apa dengan Vierra? kok dia berani sekali datang kemari, dasar tidak punya malu." ucap Lia kesal. sebelum dia masuk kedalam rumah sempat Melihat Vierra keluar Rumah dan terburu-buru masuk kedalam mobil.


" Hello honey, jangan ribut orang lagi ada acara." ingat Dainan pada Lia yang begitu kesal.


" Gimana tidak kesal, sudah berapa kali dia nyakitin Rubel, hancurkan karir Rubel dan sekarang masih punya muka untuk datang kemari." ucap Lia semakin kesal.


" Please... orang lagi ada masalah kamu jangan ikut tambah masalah, seharusnya kamu jadi penghibur bukan jadi pengacau." ucap Dainan mengingatkan.


" Aku kesal." jawab Lia dan tersadar dia diperhatikan banyak orang.


" Sorry, aku tak bisa kendali esemosi." ucap Lia cepat.


" Emosi." ucap Zaena membenarkan ucapan Lia.


" Iya, apalah itu pokoknya itu lah." ucapnya asal. Spontan Mama tertawa.


" Jangan buru-buru ngomongnya jadi gak salah ngomong." ucap Mama lembut.


" Iya Tan, Lia kesal liat dia enggak di Sydney di sini buat ulah saja kerja nya."


Mama hanya tersenyum Lia, memang tahu benar kronologi Rubel, wajar saja dia kesal. Zaena dan Lila pun pamit pada semua nya, kemudian menghampiri Mama Rubel.


" Tante kami pulang dulu yah, titip salam buat Hana dan Rubel." ucap Lila.

__ADS_1


" Oh iya, maafin mereka yah karena kondisi Hana masih belum sembuh betul." ucap Mama merasa tidak enak.


" Oh gak apa-apa Tante, kami ngerti kok." ucap Lila.


" Terimakasih yah kalian sudah datang."


" Iya Tante, Ok Lia, dokter Dainan kami permisi." ucap Lila.


" Ok, hati-hati." Jawab Lia.


Dan mereka berdua diantar Mama sampai kedepan pintu.


" Wah jadi ngerepotin." ucap Lila segan.


" gak apa-apa."


" ya udah makasih yah Tante, Assalammualaikum." mereka berdua pun segera pergi.


Mama masuk kembali, mengajak Dainan dan Lia untuk makan.


" Ayok makan dulu, yang lain udah pada makan."


" Wah kebetulan kami baru sarapan roti aja tadi." ucap Lia sambil cengar-cengir.


Dainan diam saja. dia mengikuti Mama dan Lia ke meja makan. mereka berdua pun makan.


******


" Kurang aja tuh si nenek lampir!!!" ucap Vierra memaki-maki. dia begitu kesal atas perlakuan Mama Rubel padanya tadi. dia pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Dokter Lidya telah lebih dulu pulang beserta rombongan dokter lainnya.


Tibalah Vierra di rumah di kediaman Parkinson. Rumah itu di kelilingi para bodyguard nya Vierra. selama ini keluarga Parkinson tidak pernah punya masalah dengan siapapun, beliau adalah orang yang sangat pengertian dan sangat bijaksana, tapi sejak kepulangan Vierra semua berubah.


Vierra selalu saja membuat kekacauan dimana saja. sikapnya yg sombong dan arogan membuat semua orang yang berada di lingkungannya sangat membencinya. untuk melindungi dirinya dia menyewa bodyguard. papa nya tidak setuju atas sikap Vierra tapi kondisinya sudah sangat lemah jadi dia tidak bisa lagi mengatur anak bungsunya itu. Abangnya Vierra sekarang berada di Sydney untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh Vierra.


" Dari mana saja kamu?" tanya sang papa Tuan Parkinson kepada Vierra. Tingkah Vierra memang sudah bisa ditebak setiap dia melakukan kesalahan Papa nya seperti sudah tahu gelagat nya.


" Dari Acara Mila??" ucapnya tanpa rasa bersalah. Tuan Parkinson tahu Mila menikah dengan sepupunya isteri Rubel, dari dokter Lidya adiknya.


" Apa kamu sudah kehilangan akal mu datang ke acara itu??" tanya tuan Parkinson ketus.


" Papa gak usah ikut campur urusan Vierra, lagian juga Vierra tidak merusak acara itu, tanya saja sama Tante Lidya." Ucapnya dengan ketus.


Nyonya Parkinson mendengar kedua orang itu dan menghampiri nya.


" Vierra!!!" Teriaknya begitu lantang.


" Siapa suruh terlalu ikut campur urusan Vierra!!" jawabnya tanpa rasa takut. Nyonya Parkinson sudah habis kesabarannya, dia pun menghampiri Vierra.


 


***PLAK!!! PLAK!!! PLAK***!!!


 


Tidak tanggung-tanggung dia menampar Vierra dengan sangat keras dan berulang-ulang.


" Aku dan Papamu tidak pernah mendidik mu seperti itu, seharusnya kejadian Rubel di Sydney menjadi acuan untuk mu merubah sikap mu, karena kamu memang salah, sekarang kamu malah menambah beban kami berdua, dengan sikap arogan dan bodoh mu itu, dan sekarang kamu malah membuat Rubel keluar lagi dari Rumah Sakit Z, padahal dia adalah dokter terbaik di Rumah Sakit kita.!!"


Vierra menatap tajam pada Mamanya dia sangat kesal karena Mama dan Papa nya selalu saja membela Rubel.


" Siapa suruh dia menolak cinta Vierra?!?!?" ucapnya lantang.


" Kamu terlalu naif, seharusnya kamu bisa menerima itu semua dan segera Move on dari itu semua bukan bertingkah di luar jangkauan seperti ini, seperti orang yang tidak punya pendidikan."


Vierra tak memperdulikan Mama dan Papanya dia terus berjalan kearah kamarnya dan membanting pintu kamar sekuat-kuatnya.


Papa dan mama nya hanya bisa mengelus dada, mereka sudah tidak tahu harus berbuat apa agar Vierra bisa menjadi gadis yang baik dan bijaksana.


" Maaf kan Aku pa.." Ucap Nyonya Parkinson sambil mencium Penggung tangan suaminya.


" Sayang ku honey bunny Swety." panggilnya untuk sang istri.


" Hem, dirimu walaupun sudah tua selalu saja bikin hatiku berbunga-bunga, padahal ini kepala rasanya udah mau pecah gara-gara anak gadis itu." ucap sang isteri dan membelai lembut kepala suaminya.


" Kita berdua sama-sama bersalah, sama-sama tidak pernah punya waktu untuk memberikan kebahagian untuk Vierra makanya dia seperti itu." ucap Tuan Parkinson bijaksana.


" Apakah Vierra bisa berubah??" ucap Nyonya Parkinson sangat sedih.


" Sekarang kita hanya bisa mendukung Vierra yang bagus menurut kita, dan berdo'a kepada Allah." jawab sang suami membuat sang istri sedikit bersemangat.


Mereka berdua pun berjalan ke arah kamar, hendak melakukan sholat Dzuhur.


*****


Dikediaman Agiawan, Haikal dan Mila hendak beristirahat dikamar tapi Papa nya melarang mereka berdua.

__ADS_1


" Sebaiknya kalian beristirahat dikamar masing-masing dulu, Mila ajak nenek dan adik mu ke kamar Atas untuk beristirahat." Ucap Om Purwanto tanpa melihat ke arah Haikal yang bersungut kesal karena tidak dibolehkan berduaan dengan sang isteri.


" Papa, Haikal kan hanya istirahat masa berdua aja gak boleh kan kita udah Sah." ucapnya kesal sambil menarik Mila ke arah kamar nya.


" Hei, apa kamu tidak mendengar apa yang Papa katakan?" ucap Om Purwanto keras, sambil menyunggingkan senyuman kearah Haikal, dia ingin sekali menggoda anak laki-laki nya itu.


" Pa Please!!!" Haikal memohon, sang Mama yang melihat segera menghampiri mereka.


" Gak boleh siang-siang berduaan di dalam kamar ntar orang ketiganya setan." ledek sang Mama membela Papa nya Haikal.


" Ya Ampun Mama, Haikal ini sudah sah menjadi suaminya Mila masak gak boleh istirahat berdua dikamar, lagian yang jadi setannya palingan si Rubel dan Hana." ucap Haikal asal. Ibu segera menghampiri Haikal.


" Enak aja bilang Rubel dan Hana setan, lagian waktu mereka menikah tempo hari yang jadi biang setannya siapa." sindir Ibu pada Haikal membuat wajah Haikal memerah apalagi ketiga orang itu berbicara di depan Nenek dan Adiknya Mila.


Mila segera berjalan, dan membopong sang nenek menaiki tangga, naik ke kamar atas, diikuti sang adik.


Mila juga merasa malu jika harus berduaan di dalam kamar dengan Haikal apalagi ini adalah pengalaman pertama baginya. dia masih takut untuk menghadapi malam pertama nya, walaupun nanti dia akan tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


" Mil!!" panggil Haikal.


" Aku bawa Nenek istirahat dulu mas, kasihan Nenek ." ucap nya memberi alasan. Haikal berdiri mematung ke arah Mila yang terus berjalan hingga bayangan tubuh Mila menghilang.


" Kok gini-gini amat yah hidup Haikal, kapan dong bahagia nya." ucap nya kesal.


" Kamu harus di plonco dulu biar tahu gimana rasanya di gangguin." ucap Ibu menggoda Haikal.


" Jangan balas dendam dong Tan." ucap Haikal lemas.


" Bukan balas dendam, cuma lagi kasih kamu pelajaran." elak ibu sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Haikal kan bukan anak kecil lagi Tante yang harus dikasih pelajaran."


" Bukan pelajaran sekolah tapi belajar sabar."


" Ini udah bagian dari sabar, kalo enggak ngapain nunggu nikah buat malam pertama ucapnya begitu ceroboh.


" Bagus dong anak Papa bisa menjaga kesucian anak gadis orang." ucap sang Papa bangga.


seketika wajah Haikal memerah


" Makasih pa."


" Makasih apa??


" Makasih udah percaya dengan Haikal.


" Tentu dong, walaupun kamu suka ke klub malam Papa tahu kamu buka orang yang suka mempermainkan perempuan."


" Ya iyalah, mana berani Haikal, nanti di gorok leher Haikal sama Orang tua tuh perempuan.


" Untung aja gak jadi kalo enggak pasti Haikal jadi bulan-bulanan laki-laki itu." ledek Haikal pada sang Papa.


" Untung aja, si perempuan matre dan Haikal berhenti mengejar cintanya, sehingga Haikal bisa bebas terjerat cinta saudara sendiri." ucap Haikal mengenang masa pacaran nya dengan Kirana.


" Maksud mu??" tanya sang Mama bingung.


" Haikal sempat pacaran sama Kirana, semua kan karena Mama dan Papa menyembunyikan identitas Kirana dari Haikal." ungkap Haikal.


" Kasihan anak Mama sampai suka dan jatuh cinta sama adik sendiri." ucap Mama sedih.


" Maafin kami yah nak."


" Tante juga sama Papa, kenapa selama ini sembunyi-sembunyian, kalo enggak ada Rubel, Haikal sudah benar-benar jatuh cinta sama Hana." kenang nya begitu sedih.


" Ha!!" Ibu terperanjat mendengar semua ucapan Haikal.


" Serius?? tanya ibu tak percaya.


" Serius Tante, Haikal udah lama kenal sama Hana sejak SMP, dulu kami sering berantem, tapi sejak ketemu lagi beberapa bulan yang lalu Haikal terkejut melihat perubahan Hana yang semakin cantik, dan Haikal sempet suka sama Hana, tapi Rubel lebih dulu nemplok di hati Hana." ucap Haikal jujur.


Seketika semua orang tertawa, mereka tidak pernah menyangka Haikal bisa suka dengan saudara dan sepupunya.


" Kok bisa yah???" tanya ibu masih penasaran.


" Namanya juga alur kehidupan, kita tidak pernah tahu pertemuan mereka menjadi perantara kita untuk bertemu." ucap Om Purwanto pada Mama.


" Benar juga bang, semua karena takdir Allah agar kita bisa berkumpul Lagi." ucap ibu sangat terharu. mama Haikal pun memeluk adik iparnya itu.


" ini namanya takdir dek, bagaimana pun kalian adalah saudara kandung, walaupun kalian sempat berpisah tapi Allah masih ingin kalian bersatu.


Haikal merasa bahagia, karena pertemuan dia dan Hana adalah rencana Allah SWT, untuk mempertemukan mereka semua.


"


"

__ADS_1


"


" Hai sahabat Dokter Cool Jangan lupa untuk terus mendukung karya Author yah jangan lupa vote like dan komennya terimakasih 😍🤗."


__ADS_2