Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 63


__ADS_3

" Sayang." panggil Rubel lembut sambil berlutut di hadapan Hana.


Hana tak menyahut Rubel hanya matanya nya saja yang menatap Rubel kesal.


" Ana boleh tidak percaya sama Ino, tapi Mama dan Lia Sangat kenal dengan Vierra." ucap Rubel begitu pelan, dia tidak tahu harus berkata apa.


" Sayang, Dengerin Mama sama Lia yah.." pinta mama lembut. sambil memegang tangan Hana dan ikut berlutut di hadapan Hana. Mama tahu perasan Hana sangat sakit apalagi Vierra menghinanya sangat tidak wajar.


" Ma, jangan seperti ini." Mama gak punya salah sama Hana. bangun ma!" Pinta Hana lirih.


Lia ikut berlutut, agar Hana mau menerima pengakuan Rubel.


" Na dengerin Lia yah, Rubel orang baik, dia hanya korban dari semua ini. Vierra bukan siapa-siapa Rubel gadis itu yang mengejar-ngejar Rubel dan dia juga menghancurkan karir Rubel di Sydney."


" Iya sayang, Rubel dan Mama tidak suka dengan Vierra, karena cinta Vierra di tolak Rubel, makanya dia menghancurkan kebahagian Rubel." ucap Mama begitu sedih.


" Percaya sama kami sayang, Rubel tidak pernah berpacaran apalagi menikah dengan wanita lain selain Hana." ucap Mama tanpa mampu lagi menahan tangisnya.


" Mama bangun, maafin Hana yah." jangan berlutut seperti itu." Hana pun tak mampu lagi menahan tangisnya. dia memeluk Mama, dan juga Lia.


Hana masih marah dengan Rubel, bukan lagi masalah Vierra tapi dia kecewa dengan Rubel saat mereka di restoran, sebelum dia koma.


" Maafin Ino yah." ucap Rubel lirih dan mencium tangan Hana.


" Enggak mau...."


" Kenapa??"


" Gara-gara Ino diemin Ana, hati Ana begitu sakit.. sampe Ana koma dan sekarang Ana lumpuh!!! Ana gak bisa berjalan lagi!!!" seketika tangis itu meledak. Rubel tetap memaksa memeluk Hana sekalipun Hana menolaknya.


" Bawa Hana ke kamar nak!!" Pinta ibu pada Rubel.


" Selesaikan masalah kalian berdua, itu akan lebih baik dari pada disini." bujuk ibu pelan.


" Iya, sayang masuklah selesaikan masalah kalian dikamar." ucap Mama ikut menimpali.


Rubel memeluk Hana dan menggendongnya kedalam kamar. Hana tak berani menatap Rubel karena bagaimanapun Rubel adalah orang yang sangat dia cintai, tidak dipungkiri dia sangat rindu dengan kebersamaan mereka. walaupun mulutnya begitu kasar, hati Hana tidak seperti itu.


Rubel menurunkan Hana di tempat tidur, tidak lupa dia mengunci pintu agar dia dan Hana bisa leluasa berbicara.


Rubel menggantikan pakaiannya, dan juga mencoba melepas kan pakaian Hana. tapi Hana menolak.


" Jangan dibuka..." ucapnya masih dengan nada kesal.


" Jadi mau pake ini terus." ucap Rubel lembut dan matanya menatap Hana begitu lekat. Rubel begitu rindu dengan Hana.


" Iya." ucap Hana


" Ganti dong sayang biar istirahat nya enak."


" Bodoh amat."


" jangan gitu dong cinta."


" Gak usah sok ngegombal gak mempan." ucap Hana dengan tatapan masih sinis seperti tadi. Rubel mendekati Hana dan duduk disebelahnya, kemudian mendekatkan wajahnya dihadapan Hana.


Hana seperti salah tingkah, bagaimana pun dia masih sangat mencintai Rubel hanya dia kecewa dengan sikap Rubel yang mengacuhkan dia di restoran. Hana mengedarkan pandangannya ke arah lain.


" Apakah Ino tidak bisa dimaafkan lagi?? ucap Rubel pelan namun membuat hati Hana terguncang.


" Enggak."


" Sayang..."


" Enggak."


" Sayang, maafin Ino yah, Rubel menarik dagu Hana. dan menatap Hana begitu mesra.


" Jangan liat Ana seperti itu." ucapnya keras dan mencoba melihat ke arah lain.


" Ya udah, kalo gak bisa maafin....." Ucapan Rubel pun terputus, dia diam seribu bahasa. Lima menit telah berlalu tapi Rubel belum juga berbicara.


Hana memang tidak bisa di diamkan, dia terlanjur kecewa dengan sikap Rubel itu. dia pun mengusir Rubel dari kamarnya.


" Keluar!!"


" Silahkan pergi, bukan kah aku bisa seperti ini karena sikap acuh kamu!!" Teriak Hana begitu kesal. ucapan keras itu terlontar begitu saja.


Rubel terdiam, awalnya dia hanya ingin mencandai Hana, tapi tidak menyangka Hana begitu marah.


" Sayang..." Hana diam tak menggubris panggilan Rubel.


" Ya udah Rubel keluar jika itu membuat Hana bisa lebih baik." ucap Rubel pelan, Hana pun menangis sejadi-jadinya dia benar-benar sangat kacau.


Rubel kembali menghampiri nya dan memeluk Hana sangat erat.


" Maafin Ino yah cinta, maafin Ino buat Ana kecewa." ucapnya lirih. sungguh dia begitu rindu dengan Hana, begitu juga Hana tapi dia gengsi untuk mengatakan yang sejujurnya pada Rubel.


Hana menangis dia tidak tahu harus berbuat apa, apalagi saat ini Rubel sedang didera ujian. dia benar-benar sedih melihat Rubel, dan dia sendiri membuat Rubel semakin sedih.


" Ana maafin tapi ada syaratnya yah." ucap Hana pelan namun mampu mengejutkan Rubel.


" Benarkah, apa syaratnya??"


" Jangan Cuek kin Ana lagi, Ana gak suka di diemin, sakitnya tuh disini." ucapnya sedih sambil menunjukkan ke arah tengah dadanya. Rubel tersenyum.


" Kaya lagu aja..."


" Jangan ngeledek! orang gak lagi becanda juga."


" Ino gak yakin???" tanya Rubel tak percaya diri.


" Gak tahu yang tahu kan Ino sendiri."


Rubel diam, karena itu adalah sifatnya.


" Apa tidak ada pilihan lain?" ucapnya bernegosiasi.


" Enggak, sikap cuek itu harusnya di buang kelaut bukan jadi darah daging kek gitu bikin orang keki aja!!!" celutuk Hana sambil melotot ke arah Rubel.


Rubel mencium kening Hana, mencoba memeluk Hana, dan Hana tak menolak nya. Rubel merasa lebih tenang karena Hana mau dipeluknya.


" Maafin ino yah sayang."

__ADS_1


" Gak mau??? buang dulu cuek nya ke laut."


" Entar kita buang sama-sama aja yah." ucapnya penuh harap.


" Buang aja sendiri!!!"


" Ana masih marah???"


" Enggak...."


" Terus..."


" Cuma kesel.."


" Apa bedanya Marah dengan kesal???"


" Beda tulisan, Beda Ekspresinya lah."


" Buahahahahaha." seketika Rubel tertawa dia tidak pernah terpikir ke arah itu.


" Jangan ketawa terus Ana mau pipis." ucapnya masih kesal.


" Ganti bajunya dulu yah." ucap Rubel lembut.


Hana pun menurut, Rubel segera membantu Hana untuk berganti pakaian dengan baju daster kesayangan Hana.


" Buruan udah kebelet pipis." ucap Hana terburu-buru. dan tetap berusaha menggerakkan kakinya tapi nihil.


Rubel segera menggendong Hana, Hana pun melingkar kan tangannya ke leher Rubel. Rubel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia pun mencium pipi Hana, Hana mengalihkan pandangannya, merasa malu, selesai itu mereka kembali ke kamar.


" Sayang.." Panggil Hana pelan. Rubel melihat ke arah Hana.


" Siapa yang Ana panggil??" tanya Rubel berpura-pura bodoh. sambil melihat ke arah kanan dan kiri.


" Emangnya ada orang lain apa? tanya Hana kesal.


" Enggak."


" Terus."


" Jangan terus-terus nanti nabrak." ucap Rubel menggoda.


" iya kalo gak direm yah nabrak kan ini lagi ngerem." Ucap Hana membalas godaan Rubel.


" Emang lagi naik motor??" goda Rubel lagi


" Bukan lagi naik mobil." jawab Hana Asal.


" Udah dulu yah Ino laper nih." ucapnya mengeluh. tiba-tiba dia sudah merasa sangat lapar. Hana pun merasakan hal yang sama.


" Ya udah, kita berhenti dulu nanti sambung lagi." goda Hana gak habis-habis.


" Iya habis makan kita sambung di tempat tidur yah sayang."


" Ih maunya."


" Ya iyalah orang udah beberapa hari libur, Si EmPi nya mau main tembak-tembakan." ucap Rubel membuat Hana tersipu.


Hana berpura-pura tidak mendengar dan memalingkan wajahnya.


" Ya udah kita makan dulu, Ino gendong lagi." ucap Rubel lembut.


" Sayang..." panggil Hana


" Iya."


" Emangnya Ino gak capek gendong Ana terus??" tanya Hana pelan.


" Enggak kalo capek nanti Ana pijitin Ino yah." ucap Rubel.


" Ih maunya."


" Iyalah pijit plus-plus." Goda Rubel dan membuat wajah Hana memerah.


" Pake kursi roda Nyai aja yah " ucap Hana.


" Ya udah tapi sekarang gendong dulu yah." ucap Rubel dan menarik jilbab panjang untuk Hana.


" Cadarnya???"


" Gak apa-apa."


" Nanti dilihat Dainan." ucap Hana tidak enak.


" Ya udah makan dikamar aja mau?"


" Enggak Ana kangen sama semua orang."


" Ya udah cadar ini aja biar enak makannya." Rubel memasangkan slayer agar memudahkan Hana makan. mereka berdua ke meja makan.


Semua keluarga sedang duduk membicarakan masalah Rubel.


" Eh ada tamu." ucap Rubel mencoba menyapa.


" Kalian makan aja dulu nanti kita ngobrol." ucap Om Purwanto perhatian. karena Rubel dan Hana sudah berada di dekat meja makan.


Ibu dan Mama tersenyum melihat anak dan menantunya sudah berbaikan.


" Dainan Lia, ayok kita makan." ajak Rubel pada kedua sahabat nya yang juga sedang duduk dengan keluarga besar Hana.


" Kamu berdua makan dulu, kami sekalian dengan yang lainnya aja." ucap Lia.


Bibi menyiapkan minum untuk Rubel dan Hana.


" Gimana kabar Mbak Hana?" tanya Bibi tiba-tiba.


" Alhamdulillah Baek Bi, Hana udah lumayan sehat."


" Cuma kaki aja."


" Maaf yah Mbak soalnya Bibi kangen banget sama Mbak Hana." ucap bibi merasa bersalah.


" Gak apa-apa Bi, Bibi kan udah Hana anggap saudara, sejak kita ketemu dulu."

__ADS_1


" Makasih yah mbak, semua keluarga Mbak juga baik banget sama Bibi, hanya kalian lah yang Bibi punya sekarang, setelah Nyai gak ada." ucap Bibi tiba-tiba bersedih.


" Wah kenapa jadi banjir bandang sih Bi, biasanya Bibi itu ceria banget, Bibi jangan sedih lagi yah." ucap Hana menghibur dan merentangkan kedua tangannya untuk bibi dan mereka pun berpelukan.


" Mbak, juga jangan sering-sering baper kalo sakit kan kasian Bibi liat nya."


" Wow, Bibi udah tahu baper nih??" tanya Hana sedikit menggoda.


" Iya iyalah gara-gara si bujang lapuk." ceplos Bibi.


" Apa?? coba ulangi ??" tanya Rubel penasaran.


" Gak jadi den, Bibi kebelakang dulu yah.


" Bibi, Rubel ini orang pertama yang dekat dengan Bibi setelah Nyaikan? Masa Bibi gak percaya dengan Rubel??"


" Malu den... "


" Kapan-kapan Bibi cerita yah ini waktunya den Rubel dan Mbak Hana makan siang." ucap bibi bersemangat.


" Iya udah, Bibi udah makan?" tanya Hana pada Bibi.


" Bentar lagi mbak sekalian sama Ibu aja." ucap Bibi dan berlalu pergi.


Rubel dan Hana melanjutkan makannya, Hana tidak menghabiskan makanannya.


" Kok cuma makan sedikit?" tanya Rubel.


" Kenyang."


" Kenyang??" tanya Rubel heran.


" iya, kenyang.


" Sayangkan nasinya mubazir." ucap Rubel dan meraih piring Hana hendak menyuapi Hana.


" Sayang, nanti Ana muntah, ini aja udah mual." ucap Hana pelan.


" Ya udah, biar Ino yang abisin." ucapnya dan meraih piring Hana.


Selesai makan, Rubel meraih kursi roda Nyai di belakang. begitu banyak kenangan dengan kursi roda itu, Hana terlihat sedih, sekarang dia yang duduk di kursi roda peninggalan Nyai.


Semua orang melihat kearah Hana dan Rubel.


Om Purnawan, tante Merry, Maria, Om Purwanto berserta Tante Lyra dan Tante Virna mereka datang untuk mengunjungi Hana dan Rubel, setelah ibu memberitahukan kabar pengunduran diri Rubel dari Rumah Sakit Z.


" Kemarilah sayang." ucap om Purnawan pada Hana.


" Iya om." jawab Hana pendek. Rubel mendorong kursi roda itu ke arah mereka semua. Rubel hendak memindahkan Hana dari kursi roda itu ke sofa. tapi Hana menolaknya.


" Ana disini aja sayang, dari tadi Ino udah capek gendong-gendong Ana terus." ucapnya merasa tak enak. Rubel menuruti ucapan Hana. semua orang merasa senang melihat kedua orang itu terlihat akur dan baik-baik saja.


" Rubel, Om udah bicara dengan Mama dan juga Ibu, mereka sepakat agar Kamu dan Hana segera ke Sydney." Ucap Om Purnawan tiba-tiba.


" Tapi Om, Rubel harus segera mencari Rumah Sakit lain untuk melamar kerja." ucap Rubel merasa tak enak. dia diam memikirkan ucapan Om Purnawan.


" Jangan difikirkan, setelah kalian balik dari Sydney Om dan yang lain sudah punya rencana yang terbaik buatmu dan Hana, tapi sebelum kalian berangkat, kita akan segera melangsungkan pernikahan Haikal dan Mila, kasihan juga mereka berdua selalu saja ada halangan." ucap om Purnawan begitu memikirkan Haikal.


Tiba-tiba Haikal muncul bersama Mila, wajah Mila bersemu merah mendengar ucapan yang baru saja di ucapkan om Purnawan. seperti biasa Haikal datang tanpa di undang, dan masuk tanpa memberi salam. tapi Mila malah sebaliknya, Dia mengucapkan salam dihadapan semua orang membuat semua orang terpanah karena kesopanannya.


" Assalamu'alaikum." ucap Mila, membuat Haikal malu. semua orang menjawab salam Mila.


" Dasar Jae." tiba-tiba om Purnawan menyeletuk pada Haikal.


" Jae???" tanya Hana bingung.


" Kok Om Purnawan bisa tahu Haikal Jae??"


" Rubel dan Om Purwanto yang bilang.


" Jae apaan den?? tiba-tiba Bibi muncul sambil membawa minuman dan cemilan untuk semua tamu.


" Kira-kira Jae apaan Bi?" tanya Hana balik kepada Bibi. Bibi segera menempelkan jari telunjuknya di dagu nya sambil memikirkan apa yang dibilang Hana.


" Jaenab." ceplos Bibi Asal. semua tertawa mendengar ucapan bibi


" Ya ampun Bibi, ganteng-ganteng gini dibilang Jaenab." ucap Haikal sedikit kesal.


" Hehehehe maaf den namanya juga asal nebak masih mending Bibi bilang Jaenab, coba kalo Bibi bilang Aden Jaengkol pasti baunya gak sedap." ucap Bibi usil dan berlalu pergi. Semua orang tertawa, Hana seperti mempunya semangat melihat Bibi yang selalu membuat orang terhibur.


" Haikal." pannggil Hana.


" Iya." Jawab Haikal pendek.


" Jadi kapan nikahnya??" tanya Hana lagi.


" Besok."


" Gak lucu ah."


" Siapa yang lagi ngelucu?? emang Haikal badut apa??" ucap Haikal dengan nada sedikit ditekan.


" Jadi betulan nih besok?? apa benar Om?? tanya Hana penuh selidik.


" Iya sayang." ucap Om Purwanto sambil tersenyum melihat Haikal dan Mila.


" Wow Express dong yah."


" Ih, kaya Hana enggak aja.." ledek Haikal membalas Hana.


" Kita mah gak Express, kita stok lama jadi langsung kirim paket Express kilat." kilahnya membuat semua tertawa.


" Terserah deh, yang waras ngalah" ucap Haikal dan tersenyum puas. membalas Hana.


" Haikal!!!" teriak Hana. seandainya dia bisa berjalan sudah dari tadi dia memukul Haikal, Tapi semangat nya mulai Up lagi. semua keluarga melihat Hana sangat bahagia.


"


"


"


" Sahabat Dokter Cool Terimakasih udah mensuport Author, semoga kita selalu dalam kesehatan dan keberkahan Rahmat Allah SWT, aamiin. Jangan lupa Vote, Like dan komennya, terimakasih 😍🤗"

__ADS_1


__ADS_2