
Pagi ini rintik hujan temani pagi yang mendung. Rubel melihat keluar jendela kamarnya. setelah kemarin dia meninggalkan Hana dirumah kediaman Hana yang baru. dia sangat gelisah entah mengapa bayangan Hana selalu hadir didalam mimpinya seakan Hana sedang membutuhkan bantuannya.
Hari ini hari pertama dia kembali bekerja dirumah sakit. dia masih melamunkan mimpi-mimpi itu. Kegelisahan trus mengganggu nya. dia ingat baru-baru bertemu hana kembali ketika Hana menjadi perawat nyai nya. Dia selalu terbayang bayang pada Hana ternyata benar Hana dalam keadaan sakit.
" Ya Rabbi Lindungi lah ana ku."
" Sesungguhnya kami hanya memohonkan pertolonganmu."
" Lindungilah dia dimana pun dia berada."
" Tolong hamba mu ini yah Rabbi."
" Hamba tidak selalu berada didekatnya."
" Aamiin"
Rubel bergegas ke luar kamar, dengan buru-buru dia mencium Nyai nya. dia tidak ingin terlambat ke rumah sakit. dia langsung masuk ke mobilnya menerobos hujan yang semakin deras. bayangan Hana terus muncul di fikiran nya. Rubel tetap berusaha untuk berfikir positif.
Tak berapa lama tibalah dia dirumah sakit. dia tidak ada payung, area parkir rumah sakit berjarak 20 meter ke pintu masuk.
" Ah gak apa-apa lah sekali-kali main hujan." ucapnya dan berlari ke pintu masuk. orang-orang melihat kearah Rubel. perawat-perawat itu tersenyum padanya. ada yang berbisik-bisik.
" Dokter Rubel memang ganteng yah."
" Sayang udah punya calon istri."
" Kita bukan tipenya, Dia lebih suka gadis sederhana seperti Mbak Hana." ujar seseorang dari mereka.
Rubel menjauh dari kerumuman perawat-perawat itu berjalan ke Ruang Poli bedahnya. setelah hampir seminggu dia tidak kerumah sakit, pagi itu antrian pasien nya sangat panjang.
Dia sangat bersyukur walaupun kejadian hari itu sedikit menggores trauma di hati kecilnya.
" Pagi dok." sapa Mila kepadanya.
Rubel hendak mengerjai asistennya itu tapi teringat antrian di depan polinya, dia langsung menyuruh Mila untuk melakukan tugasnya.
Satu persatu pasien itu masuk dan berkonsultasi dengannya. ada yang membuat janji bedah. bermacam-macam keluhan, dengan pasien yang berbeda-beda.
Dia ingin cepat-cepat beranjak dari situ. fikirannya trus kepada Hana. dia mulai sangat menghawatirkan Hana.
******
Di kediaman Hana, Ibu dan Ayah telah pergi sejak pagi mengantar kan kue ke warung-warung di dekat rumah nya yang lama. Hana sedang duduk di ruang santai sambil menonton TV. Haikal menghampiri nya.
" Na, Haikal pergi dulu yah mau ke resto ada pekerjaan sedikit, nanti kalo cepat Haikal bakal pulang secepatnya. ok." sambil tos ke pada Hana. Haikal sedikit khawatir keadaan Hana. apalagi hana sering tiba-tiba sakit.
" klKalo ada apa-apa teriakin Diko yah. atau telpon dia langsung." ujarnya mengingatkan.
" Siap bos." ucap Hana padanya. Haikal pun pergi menerobos hujan yang semakin deras.
Hujan masih saja turun dengan lebatnya. Hana teringat dengan ibu dan ayahnya.
" Kasian Ibu dan Ayah, pasti mereka singgah dulu kerumah yang lama." bathinnya.
Pagi itu dia menonton drama Korea, sesekali dia berteriak karena geram dengan adegan film itu, sesekali dia menangis dan baper. ada adegan romantis, membuat dia teringat dengan Rubel.
" Kalo ada Rubel pasti udah nyosor aku." gumannya.
di depan rumah itu, ada sebuah mobil berhenti Diko segera memeriksa siapa tamu nya. seseorang membuka pintu kaca nya.
"Mbak Kirana." sapa Diko padanya.
dia pun membuka pintu itu Kirana pun melaju dengan cepatnya ke area halaman rumah itu.
"Diko pintu pagar nya jangan di tutup biar aku bisa segera pulang tanpa harus berteriak memanggilmu untuk bukain pintu." ujar nya pada Diko.
" Iya mbak." ucapnya dan membiarkan pintu pagar terbuka setengah.
Kirana langsung nyelonong masuk ke dalam Rumah itu. tanpa mengucap salam. dia melihat Rumah itu sangat mewah banyak barang-barang antik menghiasi setiap sudut rumah itu.
Dia terus masuk ke rumah itu, dan melihat Hana yang sesekali menangis karena baper lihat Film Drama Korea itu.
" Um." gumannya seperti serigala yang ingin memangsa. Dan dia pun menyapa Hana.
" Hai." sapa nya dengan sedikit canggung karena selama ini dia tidak pernah berbaik hati pada Hana.
" Eh Kirana kapan datang." tanya Hana padanya.
" Barusan." jawab Kirana pendek. Dan duduk disebelah Hana. tak ada gerak gerik yang mencurigakan. Hana tetap bersikap ramah kepada Kirana. karena Kirana adalah sepupunya.
" Kamu lagi ngapain?" tanya dia berpura-pura ramah. padahal dia tahu Hana sedang nonton film drama Korea.
" Nonton drama Korea dengan judul emergency couple." jawab Hana ramah.
" Ayah dan iAu mu kemana." tanya Kirana lagi.
" Ayah dan Ibu lagi anterin kue ke warung-warung, seharunya jam segini mereka sudah pulang, mungkin berhenti dulu karena hujan." ucap Hana.
" Oh." jawab Kirana dengan wajah datar. di dalam hatinya dia bergumam. orang miskin seperti kalian gak pantas tinggal di rumah ini.
Hana nonton sambil makan kripik pangsit buatan Ibunya. dia pun menawarkan kripik itu kepada Kirana.
__ADS_1
" Na cobain nih keripik pangsit buatan ibu. pasti kamu bakal ketagihan." ucapnya pada Kirana.
Kirana mencibir, tapi Hana sedang asik dengan filmnya jadi tidak begitu memperhatikan Kirana yang trus mengejeknya.
" Aku haus mau minum." ujar Kirana pada hana.
" Oh iya tunggu disini yah biar aku ambilkan." ucap Hana dan berjalan ke arah dapur.
" Besok-besok minta ayah beliin air mineral kecil aja jadi aku gak harus repot bolak-balik ke dapur menyediakan minum untuk tamu." bathinnya nya.
Hana mengambil botol sirup di kulkas, dia pun membuat segelas Sirup untuk Kirana.
Hujan masih sangat deras. Kirana melihat ke pos security. ada sesuatu yang telah dia rencana kan. sesuatu yang begitu berapi -
api menyulut kebenciannya pada Hana. dia memegang sebuah tali tambang kecil di saku celananya dan Terburu-buru pergi ke dapur.
Hana tidak melihat kehadiran Kirana, tapi dia mendengar suara langkah kaki mendekati nya.
" Maaf yah udah buat Kamu lama nunggu, maklum dapurnya jauh." ucap Hana pada Kirana.
Tiba-tiba Kirana menjerat leher Hana dengan tali yang dia bawa. Hana terkejut dan gelas yang hendak dia berikan kepada Kirana terlepas dan jatuh pecah berserakan di tempat itu.
Kirana membabi buta, mengencangkan ikatan itu.
Hana mencoba melepaskan dirinya.
" Kirana kamu kenapa?" dengan suara tertahan.
" Aku benci sama kamu, sangat-sangat benci!"
" kamu mengambil semua yang aku punya."
" Haikal, Rubel, Papa,dan semuanya sayang sama Kamu!" Hana berusaha sekuat nya tapi karena kondisinya sangat lemah dia tidak bisa berteriak memanggil Diko karena suara hujan mengalahkan semua nya.
" Sekarang kamu juga mengambil satu-satunya Rumah yang sudah papa berikan untuk Aku dan Mamaku."
" Na to..long kalo kamu mau rumah ini aku akan mem.. be... ri... kan.. nya padamu." ucap Hana terbata-bata dengan menahan sakit dilehernya. dia mencoba menarik tali itu agar tidak terlalu menjeratnya.
" Kamu memang perempuan rakus, semua nya kamu ambil dari ku!!." teriak Kirana semakin gila.
" Na kita ini sepupu, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan tapi jangan membunuh ku, kamu akan dipenjara."
" Ua ha ha hha ha ha hah." Kirana tertawa sangat keras.
"gak akan ada yang bisa menghalangi ku. aku benci kamu Hana... benci. sangat benci!!!!
Hana tetap berusaha semampunya walaupun tenaga nya sudah sangat lemas.
" Tapi-tolong." Hana mencoba berteriak tapi sia-sia siapa yang akan mendengar suaranya yang beradu dengan deras nya air hujan.
Dia semakin berang melihat foto itu nampak di matanya gadis itu seperti Hana.
******
Rubel semakin gelisah dia tidak fokus lagi dengan pekerjaannya.
"Mila sementara di stop dulu yah." pintanya pada Mila. Dan melepaskan baju dokternya dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit. perasan takut itu terus membayangi nya. dia tidak ingin sesuatu terjadi pada gadis yang di cintainya.
Dia melaju mobilnya dengan sangat kencang tanpa memikirkan keselamatan nya. dalam lima belas menit dia telah berada di depan rumah Hana. Dan segera masuk kedalam halaman rumah karena pintu pagar yang dibuka oleh Diko. dia bingung melihat sebuah mobil terparkir di situ.
" Mobil siapa itu?" tanya nya dalam hati.
dia terus berlari masuk kerumah dia mendengar suara jeritan perempuan mengatakan benci sebenci bencinya pada Hana.
" Aku benci sama kamu, kamu udah ambil semua milikku." Hana telah terkulai lemah. Kirana tidak menyadari bahwa Rubel telah berada di ruangan itu.
Rubel memukul Kirana dengan keras.
" Buk!!" hingga Kirana tersungkur dan melepaskan tali yang menjerat Hana.
Rubel segera menelepon Diko, Diko segera masuk kedalam rumah.
Dia terperanjat melihat Hana sudah kelelahan dan terkulai tak berdaya dengan nafas tersengal. Diko segera mengamankan Kirana memborgol tangan Kirana.
" Aduh mas Rubel maafkan saya. saya benar-benar tidak menyangka bahwa Kirana akan melakukan hal ini lagi pada Hana."
" Kamu segera hubungi dion, dan semua nya kemari biar mereka tahu apa yang telah dilakukan Kirana kepada Hana."
Diko segera menelpon Dion agar Kirana bisa secepatnya di tangani
" Sayang bangun sayang maafin Ino udah ninggalin Ana."
" Sayang bangun jangan tinggalin Ino sayang."
" Ino mohon bangun sayang." dia mencoba memberikan pertolongan pertama pada Hana.
Dia mencoba dudukan Hana didekatnya, mencoba menyadarkan Hana yang masih tersengal. dia berusaha untuk tidak panik lagi. jika tidak dia tidak akan bisa menyelamatkan Hana.
Nafas Hana perlahan mulai teratur.
" Sayang dengerin Ino yah."
__ADS_1
" Ambil nafas pelan-pelan dan hembuskan."
" Ana harus kuat sayang. Ino disini gak akan ninggalin Ana lagi." ucap Rubel mencoba menenangkan Hana yang ber angsur bisa bernafas walaupun masih sangat lemah.
Tidak berapa lama polisi tiba disitu. Dion dan team nya segera mengamankan Kirana.
Kirana makin menampakkan wajah kebencian nya pada semua Yang ada disitu.
Tibalah om Purnawan dan Om Purwanto kerumah itu, mereka sangat heran banyak polisi berada dirumah itu.
" Ada apa ini?"
" Apa yang terjadi?"
tanya mereka bingung, karena Diko hanya menelpon agar mereka segera kemari tapi tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.
mereka terkejut melihat Hana yang yang terkulai lemas di gendong Rubel. Dan Om Purwanto sangat terkejut melihat Kirana yang diborgol tangannya kebelakang oleh polisi.
" Ada apa ini?" tanya dia bingung.
dia melihat luka jerat di leher Hana. barulah dia sadar anak perempuan nya itu yang telah melakukan semua ini.
" Ternyata dugaan ku benar, kamu memang iri dengan Hana." ucap Om Purnawan kepadanya.
Seketika wajah Kirana memerah. Om Purwanto Tidak lagi bisa mengontrol emosinya dia pun melepaskan tamparan ke pipi anak perempuan semata wayangnya.
" Plak!" tamparan itu sangat keras.
" Papa jahat!! Papa hanya menyayangi Hana.
" Papa memberikan semua nya untuk Hana, padahal Papa janji akan memberikan Rumah ini untuk Kirana dan mama." teriak nya semakin menjadi-jadi.
Om Purwanto merasa bersalah, tapi bagaimana pun ini adalah rumah peninggalan papanya yang telah dijanjikan sebagai warisan untuk adiknya Purwati.
Om Purwanto dan Om Purnawan merasa sangat malu.
Mereka tidak bisa mendidik anak-anak nya dengan baik. Mereka merasa terlalu memanjakan anak-anaknya.
Ibu dan Ayah masuk tergopoh-gopoh melihat rumah sangat ramai.
mereka bingung melihat polisi membawa Kirana keluar rumah dengan tangan terborgol.
Kirana menatap tantenya dengan tajam.
" Kamu kenapa sayang?" tanya ibu padanya. Dan hendak memegangnya.
" Jangan pegang-pegang Aku dasar wanita kampung gak tahu diri. ucapnya sangat kasar.
Ibu bingung dia tidak menyangka keponakan yang baru saja dikenalnya itu berkata sangat kasar padanya.
Om Purwanto hendak memukul Kirana. tapi ibu segera mencegahnya.
Kirana pun berlalu pergi di giring polisi masuk ke mobil. Dan mobil itu pun pergi menjauh dari rumah Hana.
" Maafin Abang yah dek." ucap om Purwanto lirih.
" Apa-apa bang. tapi kenapa Kirana digiring sepekrti itu." ucapnya bingung.
" Maafin Kirana yah dek...." ucapnya semakin tidak kuasa.
" Ada apa bang?" tanya dia semakin bingung. akhirnya dia dan ayah ma2suk ke Rumah hendaknya mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi dirumah itu.
Ibu terbelalak melihat anak gadisnya terbaring lemah di sofa di depan TV. Rubel sedang memangku Hana. dia sangat-sangat terpukul ketika melihat luka di leher Hana.
" Ya Allah, anakku kamu kenapa sayang."
" Bang kenapa Kirana begitu membenci Hana."
" Kenapa bang?" tanya ibu begitu sedih.
Perasaan hatinya sangat tercabik-cabik. om Purwanto memeluk adiknya.
" Abang tidak menyangka dia akan melakukan ini semua, Abang pikir dia akan menjadi gadis yang baik dan penurut setelah kejadian penangkapan itu."
" Tapi kenapa dia sangat membenci Hana,apa salah anakku bang."
semua merasa iba melihat ibu.
" I-ibu." panggil Hana dengan suara tertahan.
" Ha.. na ... gak apa-apa Bu."
" Ibu jangan nangis lagi yah." pintanya pada Ibu. dengan nafas masih sedikit tersengal.
" Maafin ibu yah sayang, karena ibu telat pulang seharusnya ibu pulang terus dengan ayah dan menerobos hujan."
" Ibu gak salah, Hana gak apa-apa kok Bu."
iybu menangis memeluk anaknya. Rubel segera bangun. agar ibu bisa dengan leluasa, memeluk Hana.
Om Purnawan menghampiri mereka.
__ADS_1
" Sabar yah dek, semua sudah kehendak Allah." ujarnya menenangkan. dia pun merasa segan karena dia juga pernah menyakiti hati adiknya.
Hai terimakasih buat semua yang udah mampir ke novel ku, jangan lupa favorite, vote, like dan komennya. yang banyak..😍🤗