
Malam pun tiba, semua keluarga Agiawan datang menghadiri tahlilan hari kedua di Rumah Alan. Rubel dan Hana juga ikut menghadiri tahlilan itu. Alan terlihat sibuk membantu asisten Rumah tangga menyiapkan makanan untuk para tamu yang datang. dia terlihat sangat terampil ini adalah pemandangan yang tidak biasa bagi Rubel dan Hana.
" Apa ada kejadian aneh yah yang terjadi hari ini sehingga membuat Alan begitu cekatan?" tanya Hana begitu pangling dengan tingkah laku Alan yang sangat tidak biasa nya malam ini. berbeda dengan hari sebelumnya Alan yang biasanya sibuk menjamu tamu, hari ini terlihat sangat perhatian. padahal bisa dibilang CEO muda itu sejak papa sakit sebulan lalu Alan menerima banyak pekerja dirumahnya agar pekerjaan bibi terasa lebih ringan.
Setelah acara tahlilan selesai, Alan masuk ke kamar nya hendak beristirahat tapi Rubel mendatangi nya.
" Dek, kamu nggak ke Rumah Sakit?" tanya Rubel.
" Besok aja kak, hari ini Alan ingin tidur sepuasnya di rumah lagian gadis jutek itu banyak teman perawat dan sudah ada dokter jaga yang merawat nya, pasti dia gak akan kesepian." ucap Alan.
Rubel dan Hana saling pandang mereka mencari cara agar Alan bisa ke pergi ke Rumah Sakit.
" Ya Sudah kakak pulang dulu sama Mbak Hana, sekalian antar bibi ke Rumah Sakit kasihan Mia." ucap Rubel dengan nada lesu.
" Iya kak, makasih yah udah mau anterin bibi." ucap Alan tanpa rasa bersalah.
" Sayang, kalo Mia kenapa-kenapa gimana? kan kasihan sama bibi sendirian di rumah sakit, bibi gak ngerti apa-apa di Rumah Sakit." ucap Hana memanas-manasi.
" Kakak kan bisa minta dokter Danny untuk bantuin Bibi di Rumah Sakit lagi pula itu kan sudah tugas dia sebagai seorang dokter." jawab Alan mencari alasan.
" Oh iya-iya kenapa gak kepikiran yah, doker Danny kan orangnya baik, lagian kalo bibi ke Rumah Sakit siapa yang urusin Mang Maman yah beliau udah tua sakit-sakitan lagi." ucap Rubel.
" Bagus dong gak sia-sia punya dokter baik dia pasti akan patuh dengan permintaan kakak buat jaga Mia." jawab Alan cepat.
" Yah sudah kakak dan Mbak balik dulu yah." ucap Rubel dan berlalu meninggalkan Alan.
" Apa ini akan berhasil?" bisik Hana pelan dan terus berjalan menuju mobil. mereka berdua masuk kedalam mobil dan keluar dari halaman Rumah Alan. Rubel membelokkan mobil kearah kanan. dan berhenti di dipinggir jalan.
" kita lihat aja nanti." ucap Rubel dengan santai.
" Kayanya enggak deh." jawab Hana ragu-ragu.
" Taruhan yok!" ajak Rubel.
" Ayok siapa takut." jawab Hana cepat.
" Siapa yang kalah harus melayani yang menang semalam suntuk." ucap Rubel asal.
" Ih menang kalah sama aja hadiahnya itu." ucap Hana kesal.
" Untung buat Ino buntung buat Ana." gerutu Hana kesal. tanpa mereka sadari sebuah mobil LX keluar dari halaman Rumah Alan. feeling Rubel benar Alan benar-benar pergi dan untuk memastikan Alan benar-benar ke Rumah Sakit mereka menyusul Alan dari belakang.
Rubel tersenyum genit, dia terus menggoda Hana.
" Asek, bakal di manjain semalam suntuk." ucap Rubel begitu senang.
" Ih mesum kaya gak ada pikiran lain apa." gerutu Hana kesal karena kalah dari Rubel.
" Sayang, kan mesum nya sama kamu kalo mesumnya sama..."
" Sama siapa hayo!!!" ucap Hana kesal sambil mencubit perut Rubel.
" Sayang jangan di mobil dong kamu kok gak sabaran banget." ledek Rubel begitu puas membuat Hana makin kesal.
Tibalah mobil di Rumah Sakit RH, Rubel begitu senang, tapi wajah Hana seketika muram. dia benar-benar kalah telak dari Rubel.
" Awas yah sampe Rumah Ana bikin si EmPi jadi pecel beneran." ucap Hana kesal.
" Ish segitu nya, yang lembut dikit dong sayang jangan kaya harimau." goda Rubel tak henti-hentinya.
Selama perjalanan pulang Hana hanya memasang wajah cemberut. dia benar-benar kesal karena harus melayani Rubel semalaman. padahal dia sudah punya rencana untuk beristirahat dengan tenang tanpa gangguan, tapi mau gimana lagi sudah kewajibannya untuk melayani sang suami. Rubel senang karena berhasil mengerjai Hana, padahal di lubuk hatinya hanya ingin mencandai sang istri. Rubel tidak mungkin membiarkan Hana melayani semalam suntuk apalagi kondisi Hana sangat lemah. tak berapa lama mereka tiba di rumah.
Keadaan Rumah terlihat sangat sepi, padahal waktu baru menunjukkan jam 10 malam. lampu di dalam ruang tamu pun tidak dihidupkan tidak biasanya ibu dan ayah mematikan lampu kecuali hari sudah sangat larut.
" Kok lampunya udah dimatikan, apa Ibu dan Ayah sudah tidur yah?" tanya Hana bingung.
" Mungkin ibu dan ayah sudah beristirahat, karena kelelahan." jawab Rubel berfikir positif.
" Em, iya-iya mudah-mudahan ibu sehat-sehat aja yah." semakin mereka kedalam suasana semakin sunyi lampu di dalam rumah benar-benar tidak dihidupkan. tiba-tiba terdengar teriakan.
" Happy milad Hana sayang." ucapan itu terdengar sangat riuh dan meriah.
Hana dan Rubel terdiam, karena selama ini mereka memang tidak pernah merayakan acara milad Hana kecuali di saat Hana masih TK dulu.
" Ya Allah, sudah tua begini masih ada acara milad segala." ucap Hana dengan nada malu.
" Hehehe Ino kok lupa yah." ucap Rubel dengan wajah tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
" Ah, jangan dibesar-besarin Ana juga gak berharap Ino mengingat hari yang spesial ini." jawab Hana.
" Ehm, maafin yah sayang Ino benar-benar Lupa." ucap Rubel merasa bersalah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. semua orang menyerbu Hana, keluarga besar Agiawan semua hadir bahkan para sahabat.
" Makasih yah semuanya, tapi kayanya ini terlalu berlebih-lebihan, seandainya acara ini kita mengundang anak-anak panti asuhan akan lebih baik lagi karena bisa membahagiakan mereka." ucap Hana lirih.
Tiba-tiba seorang gadis kecil datang membawa sebuah kado.
" Mey milad yah Tante Hana." ucap Mira kecil,dan di susul ke tiga kakaknya.
" Aduh, kesayangan Tante juga datang. makasih yah sayang kalian semua udah bela-belain buat ngeraian milad Tante." ucap Hana dan memeluk ke Empat anak ibu Maemunah.
Rubel masuk kedalam kamar, membuat Hana bingung.
" Sayang ini buat Ana." ucap Rubel lembut.
" Sayang, katanya lupa tapi kok masih nyiapin kado." setelah di buka masih ada sebuah kotak kecil dan disebelahnya terdapat payung hijau kecil. Hana berteriak kegirangan sungguh pemandangan ini mengingatkan akan masa kecil mereka berdua.
" Maaf yah, payungnya gak sama persis kaya 20 tahun yang lalu, maklum payung sekarang udah mulai langkah." ucap Rubel menyemangati.
" Sayang, ini aja bikin Ana deg - degan gak karuan."
" Duh so sweet." ucap Zaena dan di ikuti Lila. mereka berdua memeluk Hana dan memberikan kado kecil untuk Hana.
" Duh kok repot-repot sih ini aja udah buat aku bahagia." ucap Hana terharu, mendapat perlakuan yang sangat baik dari keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Ibu dan ayah juga mencium kening dan memeluk anak semata wayangnya. ini adalah kejutan yang sangat istimewa bagi Hana, betapa tidak di usianya yang terbilang tidak lagi muda, semua orang malah merayakan miladnya.
Om Purnawan dan Om Purwanto beserta istri mereka juga hadir, begitu juga istri kedua om Purwanto.
Tak berapa lama Haikal dan Mila datang membawa bungkusan kado yang sangat besar. semua keluarga jadi penasaran oleh Haikal.
" Kal, gede amat kadonya, jangan-jangan isinya manusia yah." ucap ibu menggoda.
" kok tahu si Tan." ucap Haikal dengan ekspresi terkejut.
" Ah yang bener, masa isinya manusia, jangan bilang kamu melakukan perdagangan manusia yah kal." ucap Hana ikut menggoda.
" Apa kadonya boleh dibuka?" tanya hanya iseng.
" Buka aja biar gak penasaran." jawab Haikal cepat.
" Ino yang buka yah." pinta Hana pada Rubel.
" Enggak ah takuuuut !!!" jawab Rubel asal.
" Ah gitu aja takut." ledek Haikal dengan sengaja.
" Apaan dong jangan bikin penasaran." seru yang lain membuat Hana semakin penasaran.
" Apa jangan-jangan mayat yah." ucap Hana menakut-nakuti.
" Busyet, gini-gini Haikal masih manusia normal loh masa kasih kado mayat." ucapnya kesal.
" Ya udah dari pada penasaran, gimana kalo Haikal sendiri yang buka." ucap Om Purwanto mengusulkan.
" Ih masa yang kasih kado bukan kado Sendiri, ini sih gak surprise lagi namanya." gerutu Haikal kesal, dia merasa semua orang memojokkan dia.
" Jangan-jangan ular." ucap Zaena tiba-tiba.
" Ini lagi main tebak-tebakan emangnya aku mau celakain sepupu aku sendiri apa." ucap Haikal makin Kesal.
" Sini deh biar Tante yang buka." ucap ibu dan mendekati kado pemberian Haikal.
" Jangan dong Tan!!" seru haikal.
" Wah beneran deh kayanya ada sesuatu yang membahayakan buat Hana deh." seru Om Purnawan.
" Hadeuh, jangan gitu dong Haikal beli kadonya dengan ikhlas banget tapi kalian semua malah main tebak-tebakan gini."
" Ayok Hana ku sayang bukain deh kadonya, Haikal janji gak akan bikin kamu terluka." ucap Haikal sambil mengangkat 2 jarinya.
" Beneran nih?" tanya Hana masih ragu.
" Iya, masa' gak percaya sedikit pun sama orang ganteng kaya gini." goda Haikal membuat semua orang tertawa.
Hana membuka kotak itu, ternyata masih ada satu kotak lagi.
__ADS_1
" Hadeuh, bener-benar dikerjain nih sama si Jae." ucap Hana mengeluh.
" Semangat sayang!!" ucap Rubel tiba-tiba.
" Lah kok jadi sekongkol sama Haikal sih sayang." ucap Hana sambil memanyunkan bibirnya.
" Enggak sekongkol cuma jadi cheerleader." ucap Rubel dan tersenyum begitu sumringah.
*****
Ditempat lain, di Rumah Sakit RH, Alan berjalan terburu-buru menuju kamar Mia. dia benar-benar terusik karena ucapan kedua kakaknya. Alan masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Nampak Danny sedang mengecek tekanan darah Mia. dan didampingi seorang perawat perempuan, mereka terkejut karena Alan masuk tanpa berbasa-basi.
" Eh, Ada mas Alan." ucap dokter Danny untuk mencairkan kecanggungan.
" Ehm." jawab Alan pendek tanpa ekspresi.
Dokter Danny dan perawat itu segera berpamitan karena wajah Alan terlihat tidak senang.
" Ya sudah, Mia kalo ada apa-apa kasih tahu kami yah." ucap Perawat itu lembut.
" Makasih ya Una dan dokter Danny." ucap Mia. dokter Danny dan Una segera berlalu meninggalkan ruangan Mia.
Alan, mengambil bantal yang ada di kaki Mia, dan berjalan ke arah sofa.
" Kalo ada apa-apa panggil aku jangan pergi ke kamar mandi sendiri." ucap Alan.
Mia hanya mengangguk pelan, dia tidak menyangka Alan akan berbicara seperti itu. karena dari awal mereka memang tidak akrab.
Karena kelelahan tidak berapa lama Alan pun tertidur. pelan-pelan Mia melihat ke arah Alan. dia benar-benar bingung akan sikap Alan yang benar-benar sangat cuek.
Mia kaget tiba-tiba listrik padam, dia benar-benar berteriak histeris. sungguh pemandangan yang menakutkan baginya.
Alan terkejut, dia benar-benar merasa sangat pusing karena baru saja dirinya terlelap, dia harus terbangun karena suara teriakan Mia.
" Aduh, pake mati lampu segala, apa memang Rumah Sakit ini belum sepenuhnya di rehab oleh kakak, kenapa bisa mati lampu sih." gerutu Alan kesal. dan mengambil ponselnya menghidupkan senter ponselnya.
Mia benar-benar ketakutan, Alan mengarahkan sinar ponsel pada Mia, wajah Mia terlihat sangat pucat. dia segera mendekat dan memegang tangan Mia.
" Aduh tangannya dingin banget kaya es, kok bisa dia takut gelap, seorang perawat bisa takut gelap kan aneh." batin Alan.
" Udah, gak apa-apa bentar lagi lampu nya juga hidup, lagian kamu kan di dalam ruangan jadi jangan takut." ucapnya mencoba menenangkan Mia. karena Refleks Mia memeluk Alan.
" Den, jangan tinggalin Mia yah, Mia benar-benar takut." ucap nya lirih.
Tiba-tiba Alan merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Mia mendengar suara detak jantung itu membuat Mia merasa canggung.
" Kok jantungnya den Alan bisa secepet gini yah." batin Mia, sambil memegang dadanya yang terasa sangat gugup, degup jantungnya juga tak kalah cepat membuat wajah Mia memerah.
" Em, maaf den maaf kalo saya lancang." ucap Mia malu-malu. dia hendak melepaskan pelukannya tapi Alan menahannya.
" Aku, akan duduk disampingmu,tidurlah." perintah nya pada Mia.
Alan sendiri bingung atas perlakuan nya pada Mia.
" Huft, kenapa bisa gini yah, kenapa aku sulit bersikap tak perduli padanya." batin Alan. mia menggeser tubuhnya, dan Alan duduk di samping Mia.
Mereka berdua beradu pandang dalam cahaya ponsel yang mengarah ke tempat lain.
" Apakah kamu enggak keberatan aku duduk disini?" tanya Alan.
" Sebaiknya den Alan istirahat aja di sofa." ucapnya menolak dengan halus.
" Tidurlah, aku akan pindah dari sini kalo kamu sudah tertidur dan lampu sudah hidup kembali." ucapnya menenangkan.
Mia memejamkan matanya, dia merasa sangat nyaman berada di dekat Alan, walaupun begitu dia sebenarnya merasa canggung karena Alan adalah majikannya.
" Makasih den." bisiknya pelan.
Alan mendengar perkataan Mia, dia hanya menyahut dengan pelan.
" Tidurlah biar besok kamu sudah bisa pulang kerumah." ucap nya dengan lembut. Mia benar-benar tertidur Alan memandangi wajah Mia begitu lama tanpa dia sadari dia mengelus wajah gadis itu, satu jam pun berlalu lampu sudah menyala, karena mengantuk Alan pun ikut terlelap disamping Mia.
"
"
__ADS_1
"
" Dukung terus Author yah biar tambah semangat update nya, 😍🤗"