
Pagi ini Rubel dan Hana sedang bersiap-siap bertemu dengan Alan dan Pak Hamid, tanpa mereka sadari ibu dan Om Purwanto sudah lebih dulu bersiap-siap untuk bertemu Alan dan Pak Hamid. sebelum itu mereka pergi kerumah om Purnawan.
Hana bercermin mengenakan jilbabnya. tanpa di sadari Rubel terus memperhatikan nya. dia pun tersenyum kecil menghilangkan kecanggungan nya, padahal mereka sudah menikah beberapa bulan. Hana duduk di pinggir tempat tidur sambil menunggui Rubel yang sedang merapikan pakaiannya.
" Apa sih lihat-lihat nanti matanya bintitan loh?" ledek Hana. Rubel segera mendekat kan dirinya ke Hana.
" Masa suami sendiri lihat istri bisa bintitan?" balas Rubel sambil mencium bibir Hana dengan mesra.
" Katanya mau pergi, nih malah mau romantis-romatisan."
" Habis Ana tambah cantik bikin Ino pengen nempel terus." bisiknya seraya menggoda.
" Ah gombal, bilang aja ada maunya."
" Iya Ino lagi pengen."
" Pengen apa?"
" Pengen bertamu ke rumah si miss."
" Yeee, katanya mau kerumah Papa Hamid, kenapa sekarang malah mau kerumah si miss." sindir Hana dengan tatapan menggoda.
" Eh, lain di mulut lain di hati, padahal dalam hati pengen juga kan." balas Rubel cepat. dan terus mendorong Hana ke tempat tidur.
" Sayang, udah dong kita mau pergi. lagian ini sudah siang kita kan udah janji kerumahnya Papa kamu." ucap Hana mencoba mengalihkan kegugupan nya, entah kenapa perasaannya seperti baru-baru bertemu Rubel.
" Kenapa sayang, kenapa Ana terlihat sangat gugup, jangan bilang kamu sedang jatuh cinta untuk ke sekian kalinya yah sama Ino?" Goda Rubel.
" Enggak kok." ucapnya begitu canggung.
" Masa coba deh bercermin wajah Ana jadi berwarna pink-pink gitu." ucap Rubel sambil menangkupkan pipi Hana dan Kembali mencium nya.
" Itu kena perona pipi Ino." elak Hana dan mencoba mendorong Rubel.
" Kamu makin cantik deh." puji Rubel.
" Ah gombal."
" Kan gombalnya cuma sama kamu, kalo sama orang entar kakinya cemburu."
" Ya iyalah, kan kamu......"
" Kok berhenti, mau bilang Ino pangeran tampan yah."
" Kepedean."
" Gak apa-apa lah kan cuma sama kamu." godanya tanpa henti.
Hana terdiam dia tiba-tiba teringat bagaimana dia dan Rubel bisa dipertemukan kembali. mengingat begitu jauhnya jarak, dan tiba-tiba mereka dipertemukan kembali saat Hana menjadi seorang perawat untuk mengurus Sang Nyai. ujian demi ujian mereka lewati, membuat mereka tetap dipertemukan oleh Sang Maha Pencipta dengan cara yang tidak biasa.
" Kenapa kita bisa berjumpa lagi yah, padahal jarak sudah memisahkan kita, dengan rentang waktu yang cukup lama. dan rasanya tidak mungkin kita bisa bertemu." ucap Hana sambil memandang Rubel yang makin men*ndih tubuhnya dan mengeratkan pelukannya. mereka terus saling pandang. seakan tidak ingin melepaskan satu dengan yang lainnya.
" Karena Ana memang tercipta buat Ino, tulang rusuk Ino, jadi gak akan pernah ketuker bahkan rintangan yang datang pun hanya sebagai ujian sesaat kemudian kita benar-benar bersatu." kenang Rubel panjang.
Mereka berdua terdiam sesaat, benar-benar ujian yang mereka hadapi tidak mudah, bahkan saling mengorbankan satu dengan yang lainnya. sungguh inilah sebuah perjuangan yang tidak ada akhir.
" Kalo nanti Ana sudah tua dan peyot apa ino masih mau?" tanya Hana, bergantian sambil memegang kedua pipi Rubel.
" Insyaallah kita serahkan sama Allah, ino pengen kita seperti ibu dan ayah yang menua bersama." ucap Rubel berbisik membuat Hana salah tingkah.
" Udah ah main-main nya kita harus kerumah Papa Hamid." ucap Hana sambil mendorong tubuh Rubel pelan.
__ADS_1
" Tapi ino pengen bertamu dulu kerumah si Miss." desaknya dan tidak melepaskan tind*hannya.
" Sayang badan Ino kok berat banget yah, jangan lama-lama badan Ana pegel semua."
" Uh ngeles aja, bilang aja kamu suka." ledek Rubel dan tangan nya mulai membuka pakaian Hana.
" Ini nih, kelamaan dirumah jadi isi otaknya mesum terus." ucap Hana menggoda.
" Mesum-mesum gini kan cuma sama kamu sayang." ucap Rubel dan terus menghujani Hana dengan ciuman.
" Udah cantik gini jadi berantakan lagi, yah sudah Ana gak jadi pergi." ucap Hana. sambil memonyongkan bibirnya.
" jangan jutek-jutek nanti anaknya jutek juga." ucap Rubel dan segera bangun. dia pun merapikan pakaiannya yang kusut.
" Biarin aja jutek dari pada diam-diam kaya itu-itu." ucap Hana sambil memonyongkan bibirnya kearah Rubel.
" Ya udah maafin Ino yah, bangun dong sayang, Ino gak jadi deh bertamu ke rumah si miss nya kita kerumah Papa aja ya." ucap nya berusaha membujuk Hana yang sudah mulai kesal.
Hana memasang wajah datarnya, dia pun berusaha tidak memberikan senyumannya pada Rubel, membuat Rubel semakin merasa bersalah dibuatnya.
" Ngambek Mulu." guman Rubel pelan.
Didalam hati Hana tertawa, dia ingin sekali membalas perlakuan Rubel yang sering mendiamkan dirinya.
" Sayang kita kerumah Papa Hamid yah!" ucapnya lembut sambil merapikan jilbab Hana dan memakaikan cadarnya.
" He-eh." ucap Hana pendek.
Kali ini Rubel tidak komplain atas sikap Hana, dia pun mencoba bersikap baik dan lembut menghadapi sang isteri. mereka pun segera pergi kerumah Papa Hamid. Rubel dan Hana terkejut mendapati mobil om Purwanto dan Om Purnawan di rumah Papa Hamid.
Rubel dan Hana mengetuk pintu dan mengucap salam. kali ini mereka disambut sangat ramah oleh bibi asisten rumah tangga papa Hamid.
" Ibu, kok ada disini?" tanya Hana pada sang ibu.
" Kan kemarin om janji akan membantu kalian untuk membeli Rumah Sakit Srikandi." jelas Om Purnawan.
" Oh iya, ternyata ibu sama om selangkah lebih cepat dari kami yah, emang ibu sama om yang terbaik." ucap Hana dan mendekat dan memeluk sang ibu.
" Sayang kami semua akan berusaha semampu kami untuk kebahagiaan kalian berdua."
" Terimakasih ibu ku sayang." ucap Hana dan kembali memeluk dan mencium sang ibu.
Alan dan Pak Hamid keluar sambil membawa berkas, dan sertifikat Rumah Sakit Srikandi. transaksi sudah selesai sebelum Rubel dan Hana tiba.
" Kak Rubel dan Mbak Hana kapan datang?" tanya Alan. dan mempersilahkan kedua tamunya itu untuk duduk.
" Bapak sehat?" tanya Hana mencoba berbasa-basi kepada Pak Hamid.
" Alhamdulillah, papa sehat nak gimana kalian berdua?" tanya pak Hamid balik kepada Rubel dan Hana.
" Alhamdulillah kami berdua baik pak." ucap Hana sedikit canggung.
" Apa kalian masih marah dengan papa sampai kalian tidak berencana memanggil saya dengan sebutan papa?" Sindir Pak Hamid dan duduk di sofa. Rubel dan Hana saling pandang, mereka sebenarnya tidak bermaksud untuk berlarut-larut dalam kebencian. hal ini dilakukan untuk tetap menghargai Sang Papa. tapi tidak disangka Pak Hamid sangat ingin mendengar dari anak dan mantunya sebuah panggilan sederhana yang menyatakan bahwa dia adalah Papa nya orang yang pernah menjadi pendamping hidup sang Mama, dan laki-laki yang pernah menjadi lelaki yang terbaik di mata Rubel disaat kecilnya.
Rubel masih ragu untuk menyebutkan kata Papa, sedangkan Hana Hanya diam seribu bahasa. ibu dan kedua Om nya pun tak bisa memaksa karena mereka tidak punya wewenang untuk menyakiti perasaan Rubel.
" Kakak Alan harap kakak bisa melonggarkan sedikit perasaan untuk Papa. Alan tahu Papa dan Mama Alan adalah orang yang tidak bisa di maafkan, tapi tidak kah Kakak tahu selama ini Papa dan Mama sudah berusaha untuk mencari kalian semua untuk menebus kesalahan mereka berdua, hingga mama jatuh sakit karena tidak bisa memenuhi janjinya untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dimasa lalunya."
Rubel terdiam, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, perjuangan sang Mama yang sendiri membuat dia sangat sedih, disisi lain, ketika Papa Joe mengejar cinta sang Mama, itu adalah sebuah kebahagiaan untuk mereka. Papa Joe yang bijak, yang sabar menghadapi mereka yang susah untuk beradaptasi. tapi bagaimana pun papa Joe adalah laki-laki baik yang pernah ada untuk mereka bertiga.
Ibu mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
" Pak Hamid terimakasih atas kebaikan nya, terimakasih juga sudah memberikan kemudahan untuk kami bisa membeli Rumah Sakit Srikandi, mudah-mudahan dengan kita kembali membuka Rumah Sakit Srikandi kita akan bisa berbuat banyak untuk membantu orang yang tidak mampu." ucap ibu sambil menyindir kepada Rubel agar bisa luluh kepada Sang Papa.
Rubel mencoba membuka mulutnya, tapi lagi-lagi Hana mengerjai nya.
" Jangan gede-gede buka mulutnya nanti masuk lalat. kalo ribet ngomongnya biar Hana yang wakilin." sindir Hana dengan ucapan menggoda.
Tanpa ragu Rubel berusaha menguatkan hati dan fikiran nya, memberikan sedikit peluang untuk sang Papa di sisa hidupnya. dukungan Hana dan ibu juga sebagai motivasi agar dia bersikap ikhlas dan menerima bahwa darah lebih kental dari apapun juga. kerinduan yang terlalu dalam, mengalahkan kebencian yang terlanjur mengunci mata hatinya. Rubel menghela nafas panjang melepaskan segala resah di dadanya. dan mencoba menggantikan dengan sebuah cinta walaupun hanya secuil.
" Papa." ucapnya serak, dan disambut senyuman dari semua mereka yang ada. Alan pun mendekat dan mendekatkan Abang dan papanya. mereka bertiga berpelukan sangat erat. air mata kebahagian tumpah seketika. Pak Hamid tidak lagi kuasa menahan kebahagiaan nya.
" Terimakasih nak, si bontot papa yang imut, dan menggemaskan dulu, kini sudah dewasa bahkan sudah menjadi laki-laki hebat yang bertanggung jawab untuk istrinya." ucap pak Hamid pelan.
" Maafin Rubel Pa, Papa pasti tahu bagaimana Mama berjuang sendiri untuk membiayai kami semua, dan orang yang paling berjasa untuk membahagiakan kami adalah laki-laki yang sekarang menjadi suami Mama." ucap Rubel, sambil mengeratkan pelukannya pada sang Papa.
Pak Hamid tidak pungkiri, dia benar-benar sangat jahat dan laki-laki yang tidak berguna untuk keluarga demi sebuah ambisi di masa lalu nya. setelah dia mendapatkan semua yang dia inginkan, justru sang istri yang dia nikahi demi sebuah perusahaan itu, terus-menerus jatuh sakit. bahkan untuk menebus kesalahan mereka pada Melisa mereka mencari hingga keseluruh Indonesia tapi nihil.
Alan sangat senang, akhirnya pembatas antara Kakak dan sang Papa telah hancur karena bagaimanapun anak dan orang tua tidak akan pernah jadi mantan anak dan mantan Papa.
" Ngomong-ngomong siapa yang membeli Rumah Sakit Srikandi?" tanya Hana yang sedari tadi masih memikirkan kenapa sang ibu bisa bersama-sama dengan kedua Om nya.
Ibu dan kedua om saling lirik, mereka bertiga benar-benar tidak memprediksikan waktu, dan juga tidak menyangka Hana benar-benar teliti untuk ini.
" Kami berdua yang beli, tapi ibu ikut menjadi donatur." ucap Om Purnawan cepat.
" Udah jangan di fikirkan, setelah Rumah Sakit Srikandi beroperasi kembali kalian berdua bisa menyicil pada kami." timpal om Purwanto agar Rubel dan Hana tidak mencurigai siapa donatur sebenarnya.
" InsyaAllah Om, mudah-mudahan kami bisa segera mengembalikan uang kalian semua." ucap Rubel.
Hana hanya bisa diam dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Sang Ibu, tapi dia tidak ingin menyakiti hati bidadari nya yang selalu membantu mereka. dan dia juga tidak ingin Rubel merasa dikasihani walaupun tujuan ibu sangat baik demi masa depan anak-anak nya.
Pak Hamid dan Alan tersenyum senang, mereka berdua tidak menyangka Rubel bisa menjadi bagian dari Keluarga Agiawan yang notabene Orang baik dan milyuner yang sangat dermawan. dia juga benar-benar sangat bahagia mendengar Melisa sang mantan isteri sudah menemukan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab membahagiakan dia dan kedua anaknya.
Hari itu mereka mengobrol sangat lama, hingga Pak Hamid mengajak mereka semua untuk makan siang bersama. suasana haru dan bahagia mewarnai hari yang cerah. mereka semua makan dengan hikmad nya tak ada suara yang keluar dari mulut mereka hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang beradu begitu mesra nya. setelah makan mereka kembali duduk di Ruang tamu.
" Terimakasih untuk pak Hamid atas jamuan makan siangnya." ucap om Purwanto.
" Ah, sama-sama saya juga sangat berterimakasih untuk semuanya, karena kalian begitu baik pada anakku Rubel, Terimakasih sudah menerima dia apa adanya, terimakasih juga telah menjadi bagian dari keluarga kami." ucap Pak Hamid dengan mata berkaca-kaca. pak Hamid memeluk om Purnawan dan Om Purwanto. dan menyalami ibu.
Kemudian dia mendekati Rubel memeluk nya sangat erat.
" Allah memang punya rencana indah mempertemukan kita, diwaktu yang tepat. jadilah ayah yang baik untuk anak mu kelak, jadilah suami yang sabar, penyayang, saling melengkapi, saling mengasihi, saling bekerja sama, sekali lagi maafin Papa yah nak." ucapnya serak sambil menahan air matanya yang dari tadi meluncur tanpa bisa ditahan.
Hana memberikan tisu pada Rubel agar Rubel menyeka air mata sang papa, Alan kembali memeluk sang Abang.
" Terimakasih sudah memberikan peluang untuk kami menjadi bagian dari keluarga, Alan senang kakak bisa menerima Papa dan Alan, terimakasih juga buat ibu dan kedua om yang sudah berusaha memberikan yang terbaik, mudah-mudahan tidak ada yang bisa memisahkan kami lagi." ucapnya sendu.
" Hai, ganteng jangan menangis kalian berdua dan Rubel adalah anak ibu yang ganteng." ucap ibu membuat Alan tersenyum.
" Terimakasih Ibu, terimakasih sudah menerima Alan menjadi anak ibu. Alan dan Papa akan menebus semua kesalahan kami untuk menemui mama Melisa, dan meminta maaf pada mereka." ucap Alan.
Hana dan Rubel tidak berhak melarang mereka, bagaimana pun mereka adalah keluarga bahkan darah yang ada adalah darah yang sama yang mengalir ditubuh mereka. Hari kian merangkak, Rubel dan Hana dan juga ibu dan yang lainnya berpamitan pulang. hari ini adalah hari yang mengharu biru buat mereka.
"
"
"
"
" Hai sahabat Dokter Cool, jangan lupa Vote Like dan komennya yang banyak yah, Jangan lupa juga mampir' ke Novel Manusia Batu Cintaku, terimakasih semuanya 🤗😍"
__ADS_1