
Hari telah siang, tidak ada lagi Pasien yang mengantri. Rubel membuka ponselnya memandangi foto dia dan Hana.
****Cinta sungguh kau membuat gundah
Rindu yang membuncah tak lagi bisa dinaya
Kenapa kau cabik-cabik jiwa ku sedemikian rupa???
Bangunlah pengokoh ragaku
Senyummu bagai coklat yang meleleh
manis...
Tapi kerapuhan mu membuat aku tak berdaya.
Sambutlah cintaku...
Hibur mu adalah kebahagiaan untukku
Jangan berlarut dalam kedihanmu
Torehan luka itu terlalu menghukum ku
meronta-ronta membekukan sukmaku...
Kau bidadari surga ku.
Ku tunggu kau di singgasana Duniaku.
Dan kita akan menua Hingga maut memisahkan****.
Tanpa disadari 3 pasang telinga sedang mendengarkan puisi itu. Seseorang hanya berdehem membuyarkan lamunan Rubel.
" Ish, Romantis kali Kau Bel?? buat kami kaum wanita klepek-klepek jadinya." semua orang terkekeh mendengar Zaena berbicara.
" Astagfirullah, Zae emangnya gak bisa ketuk pintu dulu!!" Dengus Rubel kesal. sambil menutup layar ponselnya.
" Emang yah kau itu, panggil awak Zae-zae kirain orang nama awak Zaenal pulak." ucap nya bersungut-sungut. dan memalingkan mukanya sambil mendekap kan kedua tangannya di dada.
" Makanya kalo masuk ucap salam, atau ketuk pintu dulu, jangan main nyelong aja." ucap Rubel mengingatkan.
" Ya deh maaf yah, Bel.. kan pintunya gak di tutup." Ucap Zaena membela diri.
" Terus ngapain kalian kesini???" tanya nya masih dengan nada kesal.
" Mau tengok Kau lah..." ucap Zaena kemudian duduk di sofa di ikuti Lila dan Mila.
Rubel diam memandang mereka dengan wajah aneh.
" Kenapa Kau Bel? kok gitu kali wajah Kau?? gak senang apa kami kesini??" tanya Zaena heran melihat ekspresi wajah Rubel yang sulit di artikan.
" Gak apa-apa." Jawab Rubel pendek.
" Lil kamu gak keruangan Hana??" tanya Rubel .
" Kami barusan dari tempat Hana." jelas Lila. sambil menyodorkan hasil Rontgen Hana,
Rubel menerima nya dan melihat hasilnya.
" Alhamdulillah.
" Maksud mu??" semua orang bingung.
" Gak apa-apa do'ain aja yang terbaik."
" Semoga Hana bisa segera sembuh." ucap Lila menyemangati.
" Terimakasih untuk kalian semua."
" Tenang aja lah kau Bel, gak usah lah kau sungkan kek gitu, malu kami dibuat kau." ucap Zaena ge-er.
" Okelah, aku harus ke Ruangan Hana sekarang." ucap nya dan berlalu meninggalkan mereka bertiga di ruangan nya.
" Kok ada yah orang cuek kek gitu!!" ucap Zaena begitu jengkel.
" Rubel memang seperti itu, hanya dengan Hana dia bisa berubah menjadi lembut dan penyayang." ucap Lila meninggalkan Zaena yang melongo.
" Dok jangan kelamaan entar masuk lalat Ijo." Ucap Mila sambil menunjukkan mulut Zaena dan berlalu pergi.
" Bos sama anak buah sama aja, seenaknya pergi meninggalkan aku seorang diri." sambil menyenandungkan lagu dangdut. dan menutup pintu Ruang Poli Rubel.
" Tunggu!!!" teriaknya pada Lila dan Mila.
" Hush!!" Lila memberi kode pada Zaena.
" Kalo mau teriak Sono no di hutan biar challenge nan sama Simon." ucap Lila dengan intonasi di tekan.
" Ish sadis kali Kau masa awak di suruh challenge nan sama Simon." ucap nya sambil berpura-pura nangis.
Lila dan Mira terkekeh puas mengerjai Zaena.
" Sabar Zae... namanya juga ujian." ledek Lila membuat wajah Zaena seketika memerah bak udang rebus.
__ADS_1
" Gara-gara Dokter Cool itu lengket sudah nama awak jadi Zae." dumelnya pelan.
"Hahahaha." mereka tertawa. lagi-lagi mereka ditegur salah seorang dokter yang sedang lewat.
" Hush!!!!" seketika semua terdiam.
" Yah udah kalo gitu kita semua challenge nan sama Simon di hutan." ledek Zaena membalas keduanya, Lila hendak menoyor kepala Zaena namun secepat kilat dia melangkah meninggalkan keduanya menuju kantin Rumah Sakit.
" Zae..." Teriak Lila namun Zaena tidak menghentikan langkahnya.
Dikantin Rumah Sakit. Zaena memandang seseorang yang tidak asing baginya, dia ingin menegur nya tapi takut si empunya badan tidak mengenalinya. Akhirnya dia memilih diam dan duduk di meja belakang laki-laki itu. Lila dan Mila berjalan beriringan kemudian Mila berhenti di meja laki-laki yang hendak di tegur Zaena tadi.
" Udah lama mas?" tanya Mila berbasa-basi.
" Belum, duduk sini." ucap nya begitu perhatian, sambil menarik kursi untuk Mila.
Lila berjalan terus berpura-pura tidak melihat mereka dan duduk di dekat Zaena.
" Dok, gak duduk disini aja." Ucap Mila pada Lila.
" Gak apa-apa saya dan dokter Zae disini, kalian lanjut aja." ucap Lila dan tetap memanggil Zaena dengan sebutan Zae.
" Ish, dah Kau ini nama Awak bukan Zae tapi Zaena, dan Kau Mila gak peka kali lah, laki kau datang bukan mau duduk ma kami tapi mau duduk sama kau." ucap Zaena menyindir Mila.
Seketika wajah Mila memerah. Haikal segera mengalihkan pembicaraan.
" Kamu mau makan apa?" tanya Haikal pada Mila yang sesekali masih menoleh kebelakang.
" Apa aja mas..."
" Lil kita get out Yook dari sini malas awak jadi nyamuk." sindir Zaena dan berlalu pergi mencari meja lain yang masih kosong.
Haikal mencoba menahan tawanya, tiba-tiba dia ingat seorang yang sering bilang nyamuk.
" Jadi ingat Hana." ucap nya lirih.
Mila memandang Haikal lama, dia mengerti Haikal pasti merindukan Hana, secara mereka berdua begitu dekat walaupun sering berantem karena hal kecil.
" Do'ain yang terbaik buat Hana mas.. mudah-mudahan Hana bisa segera sembuh, Dan bangun dari tidur panjangnya." Ucap Mila memberi semangat.
" Udah kaya dongeng Putri Tiduryah... seandainya Hana seperti itu tentu akan mudah, hanya sekali ciuman Rubel, Hana bisa segera bangun dari tidur Panjangnya." Ucapnya menghayal ke alam dongeng.
Seseorang mendengar kan mereka begitu lama, Haikal terkejut melihat Rubel telah berdiri dibelakang nya.
" Ish dah kenapa sekarang kamu yang jadi Jae???" Ucap Haikal gemas.
" Gak apa-apa sekali-kali balas dendam." ucap Rubel sambil menyunggingkan senyuman puas.
Dan duduk di antara mereka berdua...
" Asik kaya nyah jadi lebah hanya dengan 1 sengatan bisa bikin kamu bengkak-bengkak dari pada nyamuk isap darah cuma bikin bentol-bentol." balas Rubel tak mau kalah.
" Jangan gitu." ucap Haikal memelas.
Dia sadar selama ini dia memang sering jadi nyamuknya Rubel dengan Hana, dan kini Rubel membalas perbuatannya.
" Seandainya Hana sehat dia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan." ucap Rubel, dan meninggalkan mereka berdua, berjalan menuju Lila dan Zaena.
Belum sempat Rubel menarik kursinya seseorang memanggil namanya.
" Dokter Rubel..." seseorang menghampiri mereka sambil menggendong anaknya yang masih kecil.
" Eh Mbak Sumiyem." jawab Rubel dan terdengar oleh Haikal.
Rubel menarik kursi sebelah nya dan mempersilahkan mbak Sumiyem duduk.
" Duduk mbak." ucapnya perhatian.
" Gak usah dok, saya kemari mau mengucapkan terima kasih sama dokter dan Mbak Hana, yang sudah memberikan kesempatan untuk anak saya bisa hidup normal lagi." ucapnya terharu. Zaena dan Lila menjadi pendengar Budiman merasa ikut terharu mendengar kebaikan Rubel dan Hana untuk orang-orang yang tidak mampu.
Haikal menghampiri mereka semua, dia pernah berjanji sama Hana akan memberikan pekerjaan untuk Mbak Sumiyem.
" Rubel, apakah ini mbak Sumiyem yang anaknya operasi bibir sumbing?" tanya Haikal meyakinkan.
" Iya." ucap Rubel pendek dan merasa bingung melihat Haikal yang tiba-tiba menghampiri Mereka.
" Begini Mbak Sumiyem, sebelum Hana sakit dia pernah menjanjikan mbak Sumiyem untuk bisa bekerja di restoran saya." ucap Haikal langsung tanpa basa-basi.
" Maksudnya gimana den??" tanya mbak Sumiyem bingung.
" Hana merekomendasikan bubur ayamnya mbak Sumiyem kepada saya, kebetulan Restoran saya lagi butuh koki untuk sarapan pagi, seperti bubur ayam." Ucap Haikal menjelaskan.
" Waduh apa bisa yah, kan saya cuma jualan buburnya pake gerobak dorong, apa pantes saya masak di restoran nya Aden." ucapnya begitu merendah.
" Jika memang bubur ayamnya Mbak Sumiyem enak tentu saja mbak Sumiyem bisa jadi koki di restoran saya." ucap Haikal menyemangati, dia yakin pilihan Hana bukan hanya sekedar penjual bubur ecek-ecek terbukti Hana begitu percaya sehingga berani merekomendasikan bubur ayam nya Mbak Sumiyem kepada nya.
" Tapi ngomong-ngomong mbak Hana nya mana yah??" tanya dia begitu ingin melihat Hana.
Rubel Memandang mbak Sumiyem, dan menundukkan kepalanya.
" Apa salah ngomong yah mas??" ucapnya merasa bersalah. Rubel menggelengkan kepala dan berusaha menyambut pertanyaan itu dengan bijaksana.
" Do'ain Hana bisa segera sehat yah Mbak." ucap Rubel begitu pelan namun masih terdengar oleh Mbak Sumiyem. semua orang melihat kearah Rubel. Pernyataan Rubel memang tidak mudah, tapi dia ingin orang terdekat Hana tidak ikut prihatin dengan keadaan Hana saat ini.
__ADS_1
" Iya mas, semoga Mbak Hana segera sehat." jawabnya mencoba memberi semangat walaupun dia sendiri tidak tahu keadaan Hana yang sebenarnya.
" Baiklah mbak, saya boleh minta nomor ponselnya. nanti kalo mbak udah bisa beraktivitas lagi saya tunggu di restoran." ucap Haikal sambil menyodorkan kartu nama.
" Iya den, nanti secepatnya mbak kabari." ucapnya begitu senang.
" Alhamdulillah, semoga membawa keberkahan buat Mbak dan Anak mbak yah." Ucap Rubel bahagia.
" Makasih buat Aden dan mas Rubel, saya permisi yah Bu dokter." ucapnya berusaha sopan dengan Lila dan Zaena. kemudian berlalu meninggalkan mereka semua.
Zaena dan Lila mengangguk kecil. mereka merasa suprise dengan Rubel, banyak hal luar biasa yang tidak mereka tahu dari Rubel dan Hana.
Haikal kembali duduk di dekat Mila, dan menyantap makan siangnya.
Rubel tiba-tiba teringat sesuatu. mamanya tadi pagi membawa bekal untuknya. dia pun beranjak dari situ kembali ke ruangan nya. mengambil bekal itu dan membawanya ke kantin.
" Kalian sudah pesanan makanan?" tanya Rubel pada sahabat-sahabatnya.
" Udah bentar lagi di Anter." jawab Zaena.
Rubel melekatkan rantang makanan itu ditengah-tengah mereka semua.
" Wah makan enak nih." ceplos Zaena.
Sambil menunggu si empunya membuka rantang itu.
Rubel hanya mengambil sedikit nasi dan laok, walaupun makanan itu terlihat berselera tapi tidak untuk nya, dia tidak bersemangat. seakan dia trauma, gara-gara dia tidak menawarkan makanan pada Hana, sehingga Hana ngalamin Koma seperti saat ini.
Seseorang perawat berteriak memanggil nama Rubel.
" Dokter Rubel!!" Panggilnya. Semua orang memandang ke arahnya.
Rubel segera bangun dan menghampiri nya.
" Dok, mbak Hana." ucapnya tersengal-sengal karena berlari.
" Kenapa dengan Hana??" Ucap Rubel panik.
" Mbak Hana sudah sadar." teriaknya begitu bersemangat. Rubel segera keruangan Hana dan melupakan makan siangnya. Zaena dan Lila kembali dibuat bingung. begitu juga Haikal dan Mila. mereka berinisiatif untuk menghabiskan makan siangnya terlebih dahulu baru menghampiri Hana.
" Lil kita makan dulu yah, aku sudah lapar." ucap Zaena jujur.
" Ya sudah, setelah itu kita menyusul Rubel." ucap Lila dan memulai makannya.
*****
Rubel Memandang tak percaya, Hana bisa sadar secepatnya.. dia terpanah melihat Hana sudah membuka matanya walaupun masih dalam keadaan berbaring. Dokter dan perawat yang menangani Hana juga terkejut. dan mereka menghampiri Rubel.
" Dokter, Semua atas izin Allah...." ucap dokter itu pada Rubel.
" Rubel diam ingin rasanya dia memeluk sang istri." tapi alat 2 itu terlalu menghalangi niatnya dan menunggu alat bantu itu di lepaskan oleh perawat-perawat Hana.
Hana diam, dia bingung melihat begitu banyak alat medis menempel ditubuhnya dan sedang di lepaskan oleh perawat. Dia menatap Rubel begitu lama, dia merasa bingung kenapa Rubel begitu perhatian memperhatikan nya. hingga mau menunggu nya begitu lama.
" Kenapa dokter disini?" tanya dia heran.
Rubel dan para tim medis terbelalak mendengar Hana berbicara.
" Sayang kenapa ngomong seperti itu?" tanya Rubel ikut bingung.
" Sayang????" sejak kapan ?? tanya dia begitu ketus. dan mencoba bangun. tapi kepalanya masih pusing.
" Apa ini tanya Rubel kecewa? dan terduduk di lantai. seketika bathinnya begitu sakit. melihat orang yang dicintainya tidak mengenal dia. bahkan Hana hanya mengingat dia sebagai dokter.
Tibalah Lila dan Zaena muncul, dan memandang aneh kearah Rubel yang yang terduduk lesu di lantai.
" Gimana kabar kamu Hana? tanya Lila ramah." Hana mengingat-ingat sesuatu dan kemudian memanggil Lila dengan sebutan yang sama dengan Rubel.
" Alhamdulillah Baik, dokter Lila." jawabnya lepas tanpa beban. Lila dan Zaena pun ikut bingung. tapi bagaimana pun Hana tidak bisa dipaksakan untuk mengingat semua masa lalunya.
Haikal dan Mila menghampiri Hana, terkejut mereka melihat Rubel duduk di lantai dengan wajah sedih.
" Hana." panggil Haikal lembut.
" Kamu siapa? tanya Hana, hingga membuat Haikal ikut terkejut.
" Dek ini bang Haikal sepupu kamu??" Hana semakin bingung.
" Sepupu???" gimana bisa ada sepupu ibunya Hana gak punya saudara." ucapnya merasa aneh dan tak perduli dengan ucapan Haikal. kini giliran Haikal di buat shock oleh Hana.
Zaena sadar, sekarang dialah yang harus maju untuk membantu kondisi Hana.
" Maaf kalo aku mendahului kalian semua, izinkan aku yang membantu Hana." ucapnya dengan perkataan yang begitu lembut dan bijaksana tidak seperti biasanya yang ceplas-ceplos. semua ikut heran melihat perubahan Zaena yang begitu berubah drastis.
" Baiklah Hana, sekarang aku akan menangani mu." ucap nya bijaksana.
" Baik, nama dokter siapa?" tanya Hana begitu Ramah.
" Panggil aja Zaena, jangan panggil dokter yah biar kita bisa akrab." Hana tersenyum melihat Zaena yang begitu akrab dan ramah padanya.
" Makasih dok." ucapnya sedikit gugup.
" Jangan panggil dokter tapi panggil aku Zaena aja." ucap Zaena lagi. Hana terlihat lebih baik dia begitu senang dengan teman barunya. Dia tersenyum melihat Rubel yang terduduk lesu.
__ADS_1
Rubel bingung mengartikan senyum Hana.
" Hai sahabat Dokter Cool, terimakasih untuk terus mensuport Author 🤗😍."