Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 87


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, langit begitu mendung. Rubel dan Hana telah bersiap-siap untuk berangkat kerumah Sakit. Mama dan Papa Joe sudah kembali Australia kemarin malam.


Tiba-tiba suara ponsel Rubel berbunyi, panggilan dari Rumah Sakit RH.


" Assalamualaikum." ucap Rubel


" Wa'alaikummussalam." jawab dari pihak Rumah Sakit.


" Dok, Bapak Hamid kondisinya semakin memburuk."


" Baiklah saya akan segera ke Rumah Sakit, tolong tangani terlebih dahulu beliau sebisa kalian."


" Baik dok, kami akan melakukan yang terbaik buat pak Hamid."


" Terimakasih." telepon pun ditutup.


Hana dan Rubel menyalami Ayah dan Ibu, dan mereka segera berangkat ke Rumah Sakit.


Baru saja mereka tiba di Rumah Sakit, tapi keriuhan terdengar dari Ruang Pak Hamid di rawat. Alan berteriak memanggil sang Papa tapi pak Hamid tak jua memberi respon positif. suasana pilu membuat Rubel dan Hana ikut terbawa arus. semua dokter yang berpengalaman di bidangnya telah berusaha semampu mereka tapi kondisi pak Hamid sudah tidak bisa lagi tertolong.


Tatapan nanar dari Alan, membuat semua penghuni Rumah Sakit merasa sangat bersalah. Rubel mendekati sang adik, memberikan kekuatan agar sang adik untuk tabah.


" Dek, sabar semua kehendak Allah kita hanya bisa berusaha, banyak beristighfar do'akan yang terbaik untuk Papa." ucap Rubel.


Alan terdiam, dia merasa tidak berguna karena tidak bisa menyelamatkan sang Papa, dia ingin membahagiakan sang Papa, tapi kondisi sang Papa sudah terlalu lemah, semua kekuatan telah dikerahkan, semua dokter telah membantu sebisanya. tapi kondisi pak Hamid tak ada perubahan sedikit pun malah kondisi beliau semakin memburuk.


" Alan." ucap pak Hamid serak, dengan nafas tersengal. sambil melambaikan tangannya. Alan pun mendekati sang Papa, Rubel dan Hana juga menghampiri.


" Iya Pa, Alan disini." ucapnya serak. sambil memegang tangan sang Papa.


" Nak, menikah lah segera papa ingin melihat kamu ada yang menemani, mendampingi mu, mengurusi semua kebutuhan mu, agar saat Papa tak ada kamu tidak akan kesepian." ucap pak Hamid terbata-bata.


" Tapi Pa, Alan tidak punya siapapun dan Alan tidak punya orang terdekat yang bisa Alan jadikan istri."


" Nak, tolong berjanjilah, setelah Papa pergi kamu harus segera mencari pendamping mu. walaupun usia mu masih muda, tapi masa depan mu sudah lebih baik, hidupmu juga sudah mapan."


" Pa, Alan janji tapi Alan tidak ingin terburu-buru, papa harus sembuh Alan akan menikah setelah Papa sehat.


" Alan, Papa mau pamit, ikhlas papa yah nak, Rubel maafin papa yah nak..."


" Papa, Rubel dan Mama juga sudah maafin Papa."


" Pa, papa jangan tinggalin Alan, Alan yakin papa bisa segera sembuh." ucap Alan terisak.


" Laa ilaaha illa Allah.." tiba-tiba pak Hamid berucap seketika jua nafas nya terhenti.


Alan tak lagi kuasa menahan tangisnya, dia tak lagi mampu bersuara. air mata seketika tumpah. Rubel dan Hana pun tak bisa membendung kesedihan mereka. pihak Rumah Sakit membantu prosesi pemakaman Pak Hamid hingga selesai. keluarga besar Agiawan segera hadir di pemakaman. Rubel berusaha memberikan support untuk sang adik. bagaimanapun Alan adalah satu-satunya adik Rubel satu Papa.


*****


Dikediaman pak Hamid, Alan mulai lebih ikhlas, dia meminta beberapa pekerja nya untuk membantu acara tahlilan dirumah. sang asisten rumah tangga nya juga sudah menyiapkan sajian untuk para tamu.


Alan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih. tanpa di sengaja seseorang menyenggolnya dari arah dapur sedang membawa bungkusan sampah yang akan di buang keluar. seorang gadis dengan pakaian lusuh dengan rambut di kuncir segera bangun. meraih plastik sampah yang sudah berhamburan.


" Aduh maaf den saya tidak sengaja." ucapnya terbata-bata.


Alan sangat kesal karena pakaiannya terasa sangat bau karena sampah yang dibawa gadis itu.


" Hei, apa kamu buta? lihat baju ku kotor dan bau karena ketidak hati-hatian mu!" ucap Alan kesal.


" Maaf Den,saya bersihkan dulu sampah ini setelah itu saya akan segera mencucikan baju Aden." ucapnya dan segera berlalu keluar lewat pintu samping.


Dia kembali dengan tergesa-gesa membawa kain pel basah untuk mengepel lantai karena tumpahan sampah. Alan masih berdiri disitu dengan tangan terlipat di dada. dia sangat kesal karena keteledoran gadis itu.


" Maaf Den, sebaiknya Aden bersihkan badan Aden dulu, dan baju itu Aden berikan sama saya biar saya cuci." ucapnya dengan cepat.


" Hei, siapa kamu berani nya memerintah ku." ucap Alan kesal.


" Maaf den tapi saya tidak bermaksud memerintahkan aden, ya sudah kalo Aden bersikeras tidak bisa saya bilang, saya permisi dulu kasihan bibi gak ada yang bantu." ucap gadis itu dan segera berlalu.


Rubel melihat adegan itu, dia merasa Dejavu cara perlakuan Alan terhadap gadis itu. dia merasa tingkah Alan sama saat dia saat baru-baru bertemu dengan Hana kembali. tiba-tiba Hana muncul melihat Rubel yang tiba-tiba tersenyum melihat tingkah sang adik memarahi sang asisten rumah tangganya.


" kok senyum-senyum sendiri? jangan bilang kamu inget dulu sering marahin Ana yah?" ledek Hana membuat Rubel kikuk.

__ADS_1


" Ih, kepedean."


" Terus kenapa ketawa?" tanya Hana balik.


Rubel mencubit hidung Hana lembut, pelan-pelan di rangkul tubuh Hana. membuat Hana tersipu karena adegan itu di saksikan oleh sang adik.


" Kakak apa gak ada tempat yang lebih baik dari tempat ini untuk bermesraan?" tanya Alan mempergoki sang kakak dengan tatapan sedikit kesal karena kejadian barusan.


" kamu sih, gara-gara kamu marahin gadis itu membuat kakak bernostalgia dengan mbak mu yang jelek ini."


" Jelek yah!" ledek Hana sambil mencubit kecil perut Rubel. Rubel hanya meringis kecil, Alan bersikap cuek menghadapi sang kakak dan kakak iparnya.


" Ehm, oh tapi kayanya aku gak akan kaya kalian yang benci jadi cinta." ucap Alan cepat dan segera berlalu meninggalkan kedua.


" Adek sama kakak sama-sama memiliki sifat yang gak jauh beda, sama-sama dingin kaya es."


" Alan, jangan benci-benci nanti beneran bucin." ledek Hana sambil berteriak kecil.


" Enggak akan." ucap Alan dan terus berlalu menjauh dari mereka, dan masuk kerumah untuk mengganti pakaian.


" Sayang, orang lagi berduka kamu malah ngeladenin Alan buat berantem." ucap Rubel mengingatkan Hana.


" Tenang adikmu gak akan galak sama kakak iparnya, gini-gini kan ana kesayangan dia."


" huuuu kepedean, kok ada yah kakak ipar kepedean gini?"


" Ya iyalah Ana gitu loh." jawab Hana asal dan melepaskan rangkulan Rubel. Hana berjalan kearah luar dia melihat gadis itu sangat cekatan dan rajin.


" Benar-benar gadis yang rajin kalo dijodohkan sama Alan pasti cocok." guman Hana pelan namun masih terdengar oleh Rubel


" Hust, seenaknya main jodoh-jodohin orang." ucap Rubel.


" Terus kalo bukan Ana, emangnya kamu yang mau jodohin Alan?" tanya Hana dengan tatapan menggoda.


" Itu terus yang dipikirin, lagian Alan udah besar biarin aja dia memutuskan sendiri jalan hidupnya, kalo emang mereka jodoh pasti lama-lama juga Alan akan luluh hatinya."


" Pinter banget wejangannya, Ana percaya deh karena Ino emang laki-laki yang luar biasa buat Ana." goda Hana membuat wajah Rubel bersemu merah.


" Sayang, kok mukanya kaya kepiting rebus?" tanya Hana semakin menggoda.


" Siap bos, entar kita lanjutin di kasur yah." ledek Hana dan berjalan menghampiri para tamu.


" Beraninya disini, entar sampe Rumah kita di cuekkin." gerutu Rubel pelan.


Lima jam kemudian Para tamu sudah kembali pulang, acara tahlilan sudah dilaksanakan. hari kian malam Hana terlihat sangat lelah dia tertidur di sofa karena sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya. Rubel segera menghampiri.


" Sayang tidur dikamar yuk." bisik nya pelan tapi Hana tak jua bangun. Rubel pun segera menggendong Hana membawanya ke kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh asisten rumah tangga Alan.


Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memperhatikan mereka.


" Duh romantis nya, kakaknya Den Alan emang laki-laki idaman kapan yah aku punya pasangan yang baik kaya gitu." guman gadis itu pelan tiba-tiba seseorang mendekatinya.


" Ehm." Alan berdehem melihat kelakuan Asisten rumah tangganya, dia melemparkan baju kotor yang terkena sampah itu ke arah asisten rumah tangganya.


" Aduh, pelan-pelan den emangnya aku apaan main lempar segala, biar gini-gini aku juga punya harga diri, walaupun posisi ku cuma anak pembantu." ucap gadis itu kesal.


" Hei, bawel."


" Aku punya nama jangan seenaknya panggil orang hei!!!" teriak gadis itu.


" Bodo'. balas Alan tanpa memperdulikan raut wajah gadis itu yang sangat kesal karena perlakuan Alan.


" Aku Mia, kalo Aden masih panggil aku hei aku gak akan cuci pakaian Aden." bentaknya tak mau kalah.


" Enak aja, kan kamu yang duluan ngotorin baju aku, jangan bilang kamu mau lari dari tanggung jawabmu yah." ucap Alan dan ingin memberi pelajaran kecil buat Mia. tapi dengan sigap gadis itu pergi meninggalkan Alan dia segera berlalu menuju kamar mandi belakang untuk mencuci baju Alan.


Mia, baru saja memberikan sedikit sabun tiba-tiba mati lampu, dan terdengar suara aneh. Mia benar-benar ketakutan tubuhnya lemas tak berdaya dia merasa sangat sesak karena suasana itu membuatnya trauma.


" Ibu..." ucapnya pelan nyaris tak terdengar. tiba-tiba Alan segera menghidupkan lampu itu. Mia sudah jatuh lunglai di kamar mandi.


" hei bocah, jangan bilang main drama kamu gak akan ada orang yang menolong mu, lagian ibu mu udah balik dari tadi." ucapnya berbohong. tapi Mia tak jua bangun. karena panik Alan segera mengangkat tubuh Mia dan membawanya ke kamar pembantu.


" Kak tolong ada yang pingsan!!" teriaknya memanggil Rubel.

__ADS_1


Karena suara Alan terdengar sangat keras Rubel segera mencari tahu apa yang terjadi.


" Ada apa dengan dia?" tanya Rubel bingung.


" Jangan interview, tangani bocah menyusahkan ini dulu!" teriaknya kesal.


" Segitunya, panik si panik gak gitu juga kali." ledek Rubel membuat wajah Alan memerah.


" Udah deh, urusin dulu nih bocah kalo mati gimana?" ucapnya asal.


Rubel pun berekting, dia benar-benar ingin melihat reaksi sang adik pada gadis itu.


" Nadinya lemah, sepertinya dia tidak akan bertahan." ucap Rubel berbohong.


" Akh, aduh gimana nih kak Alan beneran cuma gangguin dia matiin lampu di kamar mandi gak nyangka dia sampe kek gini." ucap Alan merasa bersalah. tiba-tiba sang empunya kamar muncul dia sangat terkejut melihat kamarnya didatangi kedua tuannya. dan lebih terkejut dia melihat anak kesayangan nya pingsan.


" Aduh den, anak saya kenapa?" tanya bibi panik. dia segera meraih minyak kayu putih dan membalurkan ke tubuh anaknya dan juga menaruh di hidung anaknya agar segera siuman.


" Gini bi, anak bibi pingsan di kamar mandi belakang, kebetulan Alan melihat dan segera membawa dia ke kamar bibi." ucapnya Rubel berakting wajah Alan seketika berubah pucat dia benar-benar tidak enak pada asisten rumah tangga nya.


" i-iya bi begitu ceritanya." ucapnya terbata-bata. Alan benar-benar merasa bersalah dia tidak bermaksud menyakiti anak asisten rumah tangganya.


" Kakak gimana keadaannya?"


" Kamu harus merawatnya sampai dia sadar." bisik Rubel pada Alan.


" Tapi kak..."


" Kamu mau kakak ceritain semuanya sama bibi?" Ancam Rubel pelan.


" Jangan Kak, Alan akan coba rawat gadis ini." ucapnya pelan.


" Bibi, izinin saya ngerawat anak bibi bagaimanapun bibi adalah asisten rumah tangga saya kali terjadi sesuatu sama anak bibi saya juga akan merasa sangat bersalah." ucap Alan pelan.


" Aduh den ngerepotin Aden, gak apa-apa biar bibi yang jagain dia, lagian Aden belum istirahat." jawab bibi dengan halus.


" Ya sudah, kalo ada apa-apa bibi bangunin saya yah." ucap Alan lagi agar bibi merasa diperhatikan.


" Iya den terimakasih banyak udah nolongin anak saya." ucap bibi.


" Bibi jangan sungkan, udah kewajiban saya membantu bibi dan anak bibi." ucap Alan lagi.


Rubel dan Alan segera berlalu dari kamar bibi, mereka berjalan ke teras Rumah. Alan benar-benar sangat menyesal, karena ke isengan nya gadis itu sampai pingsan.


" Kakak, apa tidak sebaiknya kita bawa dia ke Rumah Sakit." ucap Alan gelisah.


" Gak apa-apa sebentar lagi dia siuman." ucap Rubel dengan santainya.


" Beneran??" tanya Alan tak percaya.


" Iya." jawab Rubel meyakinkan dia benar-benar puas membuat Alan masuk keperangkap nya. Alan harus bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. setidaknya dia bisa melihat keseriusan Alan pada gadis itu.


" Ah syukurlah, bikin Alan jantungan aja, dasar gadis bodoh cuma menyusahkan saja." gumannya pelan.


Rubel salah besar, ternyata adiknya belum sepenuhnya bisa dikatakan baik dan mau bertanggung jawab atas kejahilan nya.


" Hei, jangan senang dulu besok pagi kita harus membawa dia ke rumah sakit siapa tahu gadis itu geger otak karena jatuh di kamar mandi." ucap Rubel kembali menakuti. Alan.


Wajah Alan kembali pucat, dia benar-benar merasa gelisah.


" Ah, kenapa jadi gini sih." ucapnya kesal.


Rubel benar-benar puas bisa mengerjai sang adik, kali ini Alan benar-benar tidak bisa lega. dia merasa sangat bersalah.


" Kak, kalo dia kenapa-kenapa bantuin Alan yah, buat sembuhin dia." ucap Alan sedikit serak. Rubel terkekeh dalam hatinya. dia merasa mereka berdua sangat mirip dari wajah hingga sifatnya.


" InsyaAllah, kakak akan bantu sebisanya sisanya kita hanya bisa pasrah sama Allah, dan ingat kamu harus bertanggung jawab untuk merawat gadis itu hingga dia sembuh." ucap Rubel membuat Alan merasa semakin gelisah.


"


"


"

__ADS_1


" Hai sahabat dokter Cool setelah sekian lama harus berkelana di dunia nyata, dunia novel terpaksa harus di tinggalkan sesaat, terimakasih buat semuanya yang selalu mendukung karya Author, jangan lupa Vote Like dan komennya yah terimakasih 😍🤗."


__ADS_2