
" Apakah memang tidak ada cinta dihati mu untuk Irfan?" tanya Hana penasaran.
" Tidak, aku bahkan sangat mual melihatnya." ungkap Claudia jujur.
" Kenapa kamu menerima perjodohan itu jika kamu sendiri tidak menerima irfan?"
" Demi orang tuaku saja." jawabnya lirih.
" Sebaiknya kamu mengatakan yang sejujurnya pada orang tuamu agar kamu tidak tersiksa." ucap Hana tegas.
" Tidak mungkin pasti Papa ku akan sangat marah kepadaku." ungkapnya sangat sedih.
" Kamu memikirkan kedua orang tuamu, tapi hatimu sendiri sakit??" desak Hana meyakinkan.
Claudia terdiam, ucapan Hana ada benarnya
tapi dia tidak ingin menyakiti kedua orang tuanya.
" Jika kamu sayang kedua orang tuamu, mengapa tidak kamu mencoba mencintai Irfan." ucap Hana membuat Claudia bingung.
" Apa bisa??" tanya dia tak percaya.
" Tentu saja cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, dia akan tumbuh dengan sendirinya dengan kebersamaan kalian." ungkap Hana menjelaskan.
" Entahlah aku tidak tahu." ucap Claudia pasrah.
" Aku akan membantu mu." ucap Hana berusaha baik.
" Terimakasih, maafkan aku sudah membuat mu kesal dengan sikapku." ucapnya merasa bersalah.
" Hahahaha, ternyata sikap dingin dan konyol mu itu hanya topeng, kamu sebenarnya orang baik." tebak Hana membuat Claudia tersipu.
" Kau sendiri bagaimana??" tanya Claudia antusias.
" Maksud mu??"
" Apakah kamu tidak risih dengan pakaianmu??" tanya Claudia penasaran.
" Tidak, aku merasakan sangat nyaman dengan pakaian ini, setidaknya tidak mengundang mata untuk berbuat jahat padaku." jelas Hana.
" Oh I see." jawab Claudia singkat.
" Kamu sendiri apa pekerjaan mu?" tanya Hana lagi.
" Aku model, untuk itu aku selalu berpakaian sedikit seksi." jelas Claudia.
" Apakah kamu senang dengan pekerjaan mu?" tanya Hana lagi.
" Yah dengan begini semua laki-laki datang padaku dan mengagumi wajah dan tubuhku." jawab Claudia bangga. Hana berfikir keras agar Claudia tidak tersinggung.
" Kamu sangat cantik, bahkan tubuhmu sangat seksi, tentu saja mata lelaki tergila-gila padamu, tapi pernah kah kamu menyadari bahwa mereka hanya ingin menikmati keindahan tubuh dan wajahmu." ucapan Hana sedikit menohok hati Claudia.
Claudia memikirkan semua kejadian yang selama ini dia alami, lelaki hidung belang itu datang dan pergi sesuka hati, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka mau, mereka pergi seperti hilang ditelan bumi.
" Tapi aku merasa senang jika ada orang yang Dengan senang mengatakan bahwa aku cantik dan sangat seksi." Ungkapnya dengan sedikit resah. tanpa terasa air matanya mengalir.
" Jangan bersedih, laki-laki yang baik, adalah laki-laki yang menjaga kehormatan perempuan nya, dia tidak akan pernah menyentuh perempuannya hingga mereka benar-benar sah Dimata Tuhannya." jelas Hana.
" Pujian bisa membuat mu terbuai dalam jurang yang sangat dalam, jangan mudah percaya dengan pujian sesaat, karena setelah apa yang mereka inginkan, dan dapatkan mereka akan meninggalkan mu." ucap Hana seperti petir disiang bolong.
" Kamu benar." ucap Claudia tertunduk malu.
Hana dan Claudia tidak menyadari bahwa Rubel dan Irfan sudah sejak tadi dibelakang mereka. mereka mendengar kan semua obrolan dua perempuan itu. Rubel tersenyum bangga, bahwa sang isteri mencoba meyakinkan Claudia untuk bisa mengambil keputusan yang bijak untuk hubungannya dengan Irfan. dan Irfan merasa sangat senang Hana membantu nya untuk bisa lebih dekat dengan Claudia.
Tiba-tiba seorang perempuan datang membawa pistol di dekat mereka berdua.
" Hai wanita **lang!!" teriak nya dengan bahasanya sendiri. membuat Hana bingung karena Hana tidak mengerti banyak bahasa Inggris. Irfan dan Rubel tak berani mendekat karena wanita itu mengancam akan menembaki 2 perempuan yang ada di hadapannya.
" Maaf nyonya bahasa saya sangat buruk, jadi saya tidak tahu apa yang anda bicarakan." ucap Hana terbata-bata.
" Diam kamu, aku tidak punya urusan dengan mu, aku hanya perlu dengan wanita **Lang ini karena dia, rumah tangga ku hancur." ucap wanita itu sangat keras. Hana hanya diam tapi sedikit-sedikit Hana mengerti maksud perempuan itu.
Claudia diam, dia sendiri tidak tahu wanita yang ada di depannya itu. seorang laki-laki menghampiri mereka. dan mencoba menengahi mereka.
" Ayolah sayang tidak baik seperti ini, ini semua salahku dia hanya meluangkan waktunya menghibur ku." ucap laki-laki itu membuat istri nya semakin kesal.
" Wanita penghibur, dasar Pela**r." teriaknya begitu geram. dan menampar Claudia dengan kasar. Hana mencoba mendekat dan berbicara dengan bahasa isyarat.
__ADS_1
" Tenangkan diri anda nyonya." jawab Hana pelan. Spontan wanita itu menarik pelatuknya dan dengan cepat Hana mengarahkan tangan wanita itu keatas sehingga wanita itu hanya menembak ke arah langit. semua mata tertuju kepada mereka semua. Hana masih berdiri menahan wanita itu berbuat lebih. dia mencoba menjatuhkan pistol yang ada pada wanita itu dengan cepat. Irfan menarik Claudia agar bisa melindungi nya. sedangkan Rubel menarik Hana.
Kejadian itu membuat Claudia sangat takut. tanpa Claudia sadari dia benar-benar membalas pelukan Irfan dengan kuat. wanita yang mengancam itu segera dibawa lari oleh suaminya sebelum polisi tiba. Irfan dan Rubel segera membawa Claudia dan Hana pergi dari tempat itu. orang-orang bertepuk tangan karena Hana berhasil menggagalkan aksi wanita itu.
Rubel mendorong Hana hingga ke mobil mereka mencari tempat yang aman untuk berlindung. Irfan dan Claudia mengikuti mereka. Rubel hanya bisa diam dia tidak ingin mengomentari aksi Hana karena dia sudah terbiasa melihat Hana. seperti itu.
Di mobil Irfan, Claudia begitu histeris dan sangat ketakutan. Irfan tidak melepaskan genggaman tangannya. dia merasa Claudia saat ini seperti bukan Claudia yang dia kenal. perempuan jutek, dan cuek itu seperti sedang kehilangan nyalinya untuk keras.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya irfan meyakinkan.
Claudia hanya diam, dia benar-benar ..kehilangan kekuatan nya.
" Tenanglah sayang aku tidak akan pernah meninggalkan mu." ucap Irfan begitu perhatian. mereka mengikuti mobil Rubel. Tibalah mereka di sebuah tempat yang begitu indah Royal Botanical Garden.
Rubel memilih tempat ini karena letaknya yang begitu strategis dan dekat sebelah timur Sydney Opera House. Rubel memarkirkan mobilnya dan menurunkan Hana. di ikuti Irfan dan Claudia. mereka membawa tikar dan memilih duduk di lautan rumput hijau yang terbentang.
Claudia masih memegang tubuh Irfan, dia seperti enggan jauh dari Irfan. Rubel menurunkan Hana untuk duduk di tikar mereka akan makan siang di situ sambil piknik.
" Apa tidak sebaiknya kita membawa Claudia ke hotel?" usul Hana.
" Sayang, makan lah dulu jangan menunda-nunda nanti asam lambung mu kambuh." ucap Rubel mengingatkan.
" Ya sudah, Claudia, makanlah dulu setelah itu kita kembali ke Hotel." ucap Hana menenangkan. Rubel hanya menggeleng kan kepala, seperti itu lah Hana selalu memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
Rubel menyuapi Hana, dan Irfan menyuapi Claudia. mereka berempat terlihat sangat romantis. Claudia sedikit luluh hatinya atas perhatian yang diberikan Irfan kepadanya.
" Hana Terimakasih telah menolongku." ungkap Claudia pelan.
" Jangan fikirkan apapun, yang terpenting saat ini kita bersenang-senang. aku ke Australia dengan Rubel untuk berlibur." ucap Hana begitu tenang. Rubel sangat tahu bagaimana Hana.
" Claudia sebaiknya kamu dan Irfan kembali ke Hotel kami berdua masih ingin jalan-jalan." jelas Rubel. tapi Claudia menolaknya.
" Tidak, aku akan ikut bersama kalian izinkan aku menemani Hana berlibur." jawab Claudia mulai lebih tenang.
Irfan hanya bisa memandang lembut ke arah Claudia, dia tidak menyangka Claudia begitu cepat hatinya melunak karena sebuah pertolongan dan perhatian. dia mulai menyadari bahwa Claudia bukan perempuan yang keras, dan cuek. mungkin selama ini Irfan terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sehingga kurangnya waktu mereka bersama.
Rubel dan Hana tidak menyia-nyiakan momen terindah di tempat itu, mereka berempat berfoto bersama. sesekali Rubel berfoto dengan Hana begitu mesra membuat Claudia merasa sangat bersalah pada Irfan, karena selama ini dia tidak pernah berlaku baik pada Irfan. tiba-tiba dia mencium pipi Irfan tanpa Irfan sadari.
Rubel dan Hana tertawa melihat perubahan Claudia. Irfan merasa sangat malu wajahnya merona merah karena baru kali ini Claudia bersikap sangat manis padanya.
" Apa yang kamu lakukan?" tanya Irfan terkejut.
" Apa yang kau lakukan Rubel??" tanya Irfan sambil menutup kedua matanya.
" Apa kamu tidak pernah melakukan nya?" tanya Rubel penasaran.
" Tidak." jawab Irfan cepat. membuat Claudia merasa sangat malu mempunyai tunangan yang sangat polos seperti Irfan.
" Wah masih segel dong." ledek Rubel pada Irfan.
" Emang nya paket masih di segel." Hana ikut-ikutan meledek.
" Jangan gitu dong, aku kan jomblower sejati, dan ini adalah pengalaman pertama ku dan pertunangan ini pun baru berjalan satu tahun." ungkap Irfan malu-malu.
" Apa satu tahun? dan kalian berdua belum pernah ciuman sekalipun??" tanya Rubel dan Hana tidak percaya.
Irfan mengangguk pelan, dia merasa sangat gugup di ganggu oleh sahabatnya itu.
" Maafkan kami yah, kamu memang laki-laki baik dan menjaga pasangan mu." ucap Hana bangga. namun disisi lain Claudia merasa sedih karena dia sendiri bukan perempuan baik-baik.
" Hiks, Hiks!!" Claudia menangis haru.
" Kenapa menangis?" tanya Irfan bingung melihat Claudia tiba-tiba menangis
" Aku tidak pantas untuk mu, aku bukan perempuan baik-baik, aku sangat hina." ungkap Claudia sedih. Irfan memeluk Claudia membuat perempuan itu merasa sangat nyaman di dekat nya.
" Sudahlah, jangan bersedih masih ada waktu untuk kamu berubah. jika kamu ada kemauan pasti akan dimudahkan segala urusan." ucap Irfan menenangkan. sambil mengelus lembut pucuk kepala Claudia. dan dia mencoba mencium kening Claudia.
Rubel menggendong Hana menjauh dari kedua orang yang sedang kasmaran itu. mereka berjalan keliling taman. mereka berjalan menyusuri sungai Parramatta yang mengitari Kota Sydney dengan gagahnya.
" Sayang, apa Ana nggak takut di tembak??" tanya Rubel tiba-tiba mengingat kejadian tadi.
" Ehm, takut sih tapi akan lebih menakutkan jika tadi Claudia ditembak di hadapan Ana." ucap nya santai.
Rubel menggigit hidung Hana.
" Sayang turunin Hana yah, Ana mau jalan." ucap Hana pelan. Rubel menuruti keinginan Hana. Hana berjalan tertatih-tatih, Rubel membiarkan nya. dia mencoba menjauh agar Hana berjalan ke arahnya. setelah dekat Rubel segera memeluk Hana dan menggendong nya. semua orang melihat kearah mereka. sungguh pemandangan yang sangat haru dan bahagia.
__ADS_1
Seorang anak kecil berlari kearah mereka, dengan tawa khas anak kecil. membuat Hana turun dan mendekatkan diri pada anak kecil itu.
" Hai jagoan!!" sapa Hana lembut pada anak kecil itu.
" Hai Aunty." sapa nya pada Hana. Hana mengelus lembut kepala anak itu. tanpa sengaja dia menyentuh sebuah benjolan di kepala anak itu.
" Sayang lihat lah." panggil Hana pada Rubel. dan Rubel pun mendekat. seseorang berjalan ke arah mereka dia memanggil anak laki-laki itu dengan lembut.
" Brian!"
" Yeah Dady."
" Come here baby." ucap sang ayah lembut.
" I want play with Aunty." ungkap nya cepat.
Rubel mencoba beramah-tamah dengan lelaki Yang ada dihadapannya.
" Apakah anakmu sakit??" tanya Rubel pelan dan sangat hati-hati.
" Oh itu, yah dia sakit tumor otak." ucapnya sedih.
" Mengapa kamu membiarkan dia berlari?" tanya Rubel bingung.
" Aku membiarkan nya agar dia bisa senang, aku tidak tega melihat dia murung dan hanya menangis." ungkapnya sangat sedih.
" Oh maafkan aku."
" Apakah kamu tidak mencoba untuk mengambil tindakan operasi?" tanya Rubel lagi.
" Aku tidak ingin anak ku meninggal lebih cepat, karena bisa saja operasi itu gagal." ucapnya lirih.
" Kamu salah teman, jika kamu mempercayai sebuah keajaiban maka anak mu akan segera sembuh hanya dengan melakukan operasi lebih cepat, dan itu lebih baik, serahkan semua nya kepada Tuhan." ucap Rubel meyakinkan.
" Aku tidak yakin." ucapnya benar-benar tak berdaya.
" Apakah kamu sudah mempunyai dokter untuk menangani anakmu??" tanya Rubel lagi.
" Aku punya sebuah Rumah Sakit Swasta Di Sydney." jelasnya.
" Terus, mengapa kamu tidak mempercayai dokter Rumah Sakit mu??" tanya Rubel bingung.
" Aku mencari dokter bedah yang dulu pernah merawat Mamaku, dia sangat baik dan begitu telaten merawat Mama ku, aku ingin dia yang melakukan operasi itu." ungkap nya sedih.
Tiba-tiba Irfan dan Claudia datang menghampiri mereka semua. dan memanggil laki-laki itu.
" Antonius." panggil Irfan.
" Hai, apa kabar kamu fan?" tanya Antonius.
" Aku baik, bagaimana kabar anakmu Brian?" tanya Irfan perhatian.
" itu." tunjuk Antonius pada anak laki-laki yang bermain bersama dengan Hana.
" Hai Brian how are u boy? Sapa Irfan.
" Hello Uncle Irfan, Aku sehat." ucapnya dengan bahasa Indonesia yang sangat lucu.
" Oh yah, apakah kamu sudah menemukan sahabatmu itu yang keluar dari Rumah Sakit Tuan Parkinson." tanya Antonius begitu antusias. Seketika Irfan teringat bahwa Antonius sedang mencari sahabatnya yang saat ini sedang berdiri di hadapan mereka semua.
Rubel mengernyit kan dahinya. dia bingung ucapan Antonius.
" Siapa yang kau cari?? tanya Rubel penasaran.
" Dia mencari mu dokter Rubelino." jawab Irfan begitu semangat.
" Benarkah?" tanya Antonius tak percaya dengan apa yang ada di depannya. seorang dokter yang hampir 2 tahun ini di carinya, dan saat ini berdiri di hadapan nya.
Rubel merasa sangat malu, dia tidak menyangka bahwa dia sangat di kagumi oleh banyak orang. Hana terkejut karena Rubel sedang dicari orang untuk mengobati Anaknya. antara sedih dan bahagia, tanpa sadar Hana berlari memeluk Rubel. sungguh pemandangan yang sangat sedih sekaligus bahagia.
"
"
"
"
__ADS_1
" Hai sahabat dokter Cool,dukung Author terus yah, jangan lupa Vote Like dan komennya yang banyak terimakasih 😍 🤗"