
Renzi sedang duduk di teras Rumah, tiba-tiba sebuah mobil masuk dengan paksa walaupun security sudah mencegah nya. Dua orang turun dari mobil, dan menutup pintu mobil dengan kasar.
Renzi terbangun dia merasa sangat kenal dengan sosok yang sedang berjalan angkuh ke arahnya.
" Maaf ada perlu apa Anda kemari?" tanya Renzi penasaran. Dia tidak menyangka laki-laki itu Sekarang berdiri dihadapannya dengan wajah kasar.
" BUK !!!!"
Om Purnawan memukul nya sangat keras, tepat di pipinya. Renzi bergaduh kesakitan. Dia tidak menyangka Pemilik Properti yang memenangkan tender Real Estate itu memukulnya dengan sangat keras.
" Maaf Pak silahkan duduk dulu." ucapnya berusaha tenang.
" Jangan sok akrab Kamu!! kamu sudah menghancurkan masa depan anakku dan berani nya kamu meninggalkan Dia." Ucapnya begitu lantang. dan hendak memukul Renzi lagi, tapi dengan sigap om Purwanto menarik tangan Abangnya itu. Dia tidak ingin Abangnya melakukan kesalahan yang akan menjebloskan dirinya kedalam penjara.
" Lepaskan Aku!!" ucap nya keras kepada adiknya.
" Bang, Kita selesaikan baik-baik." ucapnya pelan, Dia berharap abangnya mengerti maksudnya.
*****
Om Purnawan mencoba mengendalikan dirinya, walupun dia sangat kesal. tadi siang Maria mengatakan yang sebenarnya siapa laki-laki yang telah menghamili nya.
" Siapa yang menghamili kamu?" tanya Om Purnawan penuh selidik, saat Dia mendapatkan informasi dari anak buahnya bahwa Maria lah target penculikan BZ Properti.
" Renzi Pa pemilik BZ properti." ucapnya kesal dan menangis tersedu-sedu.
Dia tidak ingin mendesak Putri semata wayangnya bagaimana pun Maria sedang mengandung cucunya. Dia memeluk Maria dengan erat.
" Papa akan meminta nya untuk bertanggung jawab." ucapnya lembut.
" Tapi pa, kita sudah menerima lamaran dokter Andre." ucap Maria makin sedih. dia sangat menyukai Andre dan berusaha mencintai Andre dan menerima Zanna.
" Maria gak mencintai Renzi lagi Pa!!!" Ucapnya sedih.
Dia terdiam, melihat Maria terus menangis, hatinya begitu pilu. Bagaimana pun Dia ingin Maria bahagia. tapi dia sangat kesal dengan Renzi, karena dia telah menyia-nyiakan Maria dan meninggalkan nya. Rasanya belum puas jika dia belum menghajar Renzi dengan tangannya sendiri. Dengan segala informasi yang dia dapat akhirnya Mereka berdua langsung mendatangi Rumah Renzi.
" Kau beruntung karena adikku, sangat perduli dengan mu, jika tidak aku akan mematahkan tulang mu, sampai kau tidak bisa lagi bangun.
Renzi tertunduk lesu, dia tahu bagaimana pun ini adalah kesalahannya. karena dendamnya dia tega merusak Maria.
" Maaf Om."
" Maaf kan saya, izinkan saya menebus semua kesalahan saya untuk menikahi Maria." ucapnya sangat lirih.
" Tidak akan semudah itu, menerima mu. Maria Tidak akan menikah dengan Mu, dia telah mempunyai pasangan, dan dalam Minggu ini dia akan menikah dengan dokter yang telah melamarnya." ucap Om Purnawan lantang.
Renzi tertunduk malu, mau di taruh dimana mukanya, Dia tidak menyangka Maria dengan mudah berpaling darinya. ini membuat Dia semakin membenci keluarga Purnawan. Dia menatap Om Purnawan dengan tatapan tajam.
" Jangan ulangi lagi kesalahan mu, jika kamu membenciku cukup kau membalasnya padaku!!!" ucap om Purnawan tegas dengan nada menghakimi Renzi.
Renzi gelagapan, dia tidak menyangka Purnawan Agiawan mampu membaca fikiran nya. tapi dia masih belum menyerah.
" Baiklah, jika tidak ada keperluan lagi silahkan anda pergi dari sini!! ucap Renzi dengan nada tegas.
Om Purwanto menarik Abang nya, mereka kembalii ke mobil dan berlalu meninggalkan kediaman Renzi.
*****
Om Purnawan dan Om Purwanto berkunjung ke Rumah Adiknya Purwati. keadaan Rumah sangat lengang. Tak ada suara apapun, sepi seperti tak ada orang. terdengar suara tangisan di kamar ujung. mereka pun segera ke sumber suara.
Suara tangisan pecah, Hana terkulai tak berdaya melihat Nyai Rubel memejamkan mata sambil memeluk Al-Qur'an di dadanya. tak ada jawaban dari sang Nyai. Ibu pun tak bisa berkata. Masih terngiang ucapan Nyai pada Hana.
" Sayang, titip Ino yah, Nyai sudah waktunya pulang. Ana harus kuat dan sehat terus, agar bisa melahirkan dan membesarkan anak-anak." ucap Nyai sangat lirih dan kemudian perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhirnya dan mengucapkan dua kalimat syahadat dan pergi.
Nyai meninggal dalam keadaan bersuci.
Ibu pun tak tahu harus berbuat apa, air matanya tumpah walau tak bersuara, melihat Hana tak berdaya. bagaimana pun anak semata wayangnya itu sangat dekat dengan Nyai Hafso. Bibi telah menghubungi Rubel untuk segera pulang tapi Bibi tidak mengatakan bahwa Nyai telah berpulang.
Rubel telah tiba dirumah, keadaan Rumah sudah sangat Ramai dan beberapa pengunjung datang dari perumahan di mana mereka tinggal. semua yang datang berpakaian serba hitam dan putih polos. perasan gelisah, dan sedih bercampur aduk jadi satu.
" Ada apa ini???"
Rubel melihat Diko dan Leo sedang sibuk. diapun masuk kedalam Rumah, dia melihat orang-orang sedang duduk di dekat jenazah. dan jenazah itu ditutupi dengan kain panjang. Rubel pun mendekat. ucapan belasungkawa meluncur dari mulut mereka yang bertakziah. Rubel mengedarkan pandangannya, dia tidak melihat Hana di dekat situ. dia pun berinisiatif untuk membuka kain penutup itu.
Mata nya terbelalak, dia tidak punya firasat apapun soal berpulang Nyai, dia mendo'kan Nyai, orang yang sangat dia cintai setelah Ibunya. orang yang selalu ada dikala senang dan sedihnya, wanita hebat yang selalu memberikan wejangan-wejangan untuknya, yang memberikan semangat hingga Dia berhasil menjadi seorang dokter bedah yang berprestasi. Dia berusaha tegar menghadapi musibah yang menimpanya, sesungguhnya inilah jalan terbaik yang Allah berikan untuk Nyai nya. dia menutup kembali kain penutup itu dan berjalan ke arah kamar.
__ADS_1
Dia melihat Hana yang terduduk lesu di atas tempat tidurnya.
" Sayang." Panggilnya pada Hana.
Hana tersadar dari lamunannya, dia segera memeluk sang pujaan hatinya. mencoba menahan isak nya, karena dia tahu tak berhak menangis kepergian Sang Nyai.
" Sabar yah sayang, semua adalah kehendak Allah, kita hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk Nyai, mudah-mudahan dengan kita Ridho dan Ikhlas semua urusan Nyai dipermudah." Ucap Rubel begitu bijak.
Hana memakai cadarnya, Rubel menggandeng kan tangan Hana dan berjalan menemui pelayat yang bertakziah. tetangga mereka yang di Villa Buana A juga hadir untuk mengucapkan belasungkawa. Ada yang membawa makanan. Ibu Maemunah dan anak-anak di jemput oleh Om Purwanto bagaimana pun Mereka telah dianggap keluarga Oleh keluarga Agiawan.
Ibu-Ibu fardu kifayah di dekat komplek telah datang mereka membantu semua keperluan jenazah. Ketika memandikan jenazah Hana dan Ibu ikut memandikan Nyai.
Tak ada lagi tangis, yang ada hanya do'a yang baik untuk Jenazah Sang Nyai.
Mama Melisa sudah dikabari, dia akan segera mencari penerbangan secepatnya Ke Indonesia. untunglah ada jadwal penerbangan ke Indonesia. Tapi Jenazah Nyai harus segera di kebumikan. Mama Melisa mengerti dia tidak akan menahan Nyai untuk dikebumikan.
Nyai di Sholat kan di Mesjid terdekat kemudian di kebumikan di Perkuburan masyarakat setempat. sahabat-sahabat dokter pun ikut ke kuburan mengantar Nyai ke peristirahatan terakhir nya. Rintik hujan membasahi bumi, mengantarkan kepergian Rahimullah.
Semua Orang telah kembali kerumah masing-masing, Rubel, Hana dan juga para sahabat dokternya kembali ke kediaman Agiawan.
Mira kecil menyambut mereka dengan riang. gadis kecil itu belum paham apa yang sedang terjadi. Namun celoteh kecil Mira membuat mereka terhenyak.
" Tante Hana, Nyai nya udah di antar yah?"
Hana mengangguk kecil menjawab pertanyaan si kecil Mira, dan memangku gadis itu duduk di atas sofa.
" Nyai orang baik, jadi dapat Tiketnya ke surga nya Allah kan." ucap nya lembut. sambil mengelus pipi Hana.
Hana mencium gadis kecil itu dengan lembut.
" Iya sayang Nyai udah dapat tiket ke Surga NYA Allah, Karena Allah sayang dengan Nyai."
" Iya, Nyai orang baik, Solehah, sering mengaji dan gak pernah ninggalin Sholat." Ucap nya lembut.
Hana meneteskan air mata, ucapan Gadis kecil itu mengingatkan pada Sang Nyai. Nyai yang selalu memanjakan Dia, dan selalu membuat Dia tersenyum, menasehati jika dia salah.
Rubel menggenggam erat tangan Hana, agar Hana bisa tegar menghadapi kepergian Sang Nyai.
Ibu Maemunah menggendong Mira, dia tidak ingin gadis kecilnya mengingat kan Hana pada Nyai.
" Semangat lah Kau Hana, cukup kirimkan do'a untuk Nyai agar beliau tenang di Alam sana." Ucap nya menyemangati. Hana mengangguk pelan. Dia berusaha menghentikan tangisnya.
" Minum dulu." ucap Lila sembari menyodorkan Air mineral kepada Hana.
Hana menerima air itu dan segera meneguk nya pelan. Cadarnya telah basah karena air matanya.
Haikal dan Mila membantu Bibi membawakan kue untuk para pelayat yang masih terus berdatangan. Mereka menyuguhkan air dan kue. Mila mendatangi meja dimana dokter-dokter itu sedang duduk.
" Silahkan, diminum teh nya dan dimakan Kuenya dok." Ucap Mila mempersilakan dokter-dokter itu.
" Tau aja Kau Mila kalo awak lagi haus." Guyonnya agar sahabat-sahabat nya bisa melupakan kesedihannya.
Mila tersenyum, melihat Zaena yang ceplas-ceplos. semua orang ikut tersenyum mendengar celoteh Zaena.
" Kalo masih ada di dalam bawakan saja keluar semua biar awak makan." ucapnya makin keras. Lila menepuk pundak Zaena mengingatkan bahwa mereka sedang berduka.
" Maaf ya bel, mulut Awak emang gak bisa berhenti, niatnya pengen buat kau dan Hana tertawa."
Rubel dan Hana benar-benar terhibur kehadiran Zaena memang membuat mereka melupakan sejenak kesedihan Mereka.
" Gak apa-apa Zae..."
" Jangan lagi lah kau singkat nama Awak Bel nanti laki-laki pada menjauh dari awak dikira awak banci nyasar pulak." ceplosnya sambil menyunggingkan senyuman kecil.
Kali ini tak ada lagi yang bisa menahan tawa, ucapan Zaena manjur bikin semua orang melupakan kesedihannya.
Matahari telah tergelincir di ufuk barat, disambut suara adzan Magrib. semua orang bergegas mengambil wudhu mereka melakukan sholat berjamaah. Ini adalah pertama kalinya mereka sholat tanpa Nyai bersama mereka.
Sebuah tangisan kecil mengakhiri sholat, Isak tangis itu lagi-lagi tak sanggup ditahan oleh Hana. Tubuhnya terasa sangat lemas dan dia pun terkulai tak berdaya di atas sajadahnya. Rubel menggendong Hana dan membawa nya kekamar.
Lila dan Zaena menghampiri Hana dan Rubel dikamar. mereka merasa sangat prihatin, kondisi Hana belum stabil.
Lila memeriksa nadi Hana. Zaena membantu mengangkat kaki Hana. mereka berdua sangat perhatian dengan istri sahabatnya itu apalagi Hana adalah Pasien Lila. tiba-tiba suara ponsel Rubel berbunyi. Panggilan dari Australia.
" Assalamu'alaikum."
__ADS_1
" Waa'laikum salam"
" Iya Ma"
" Sayang Mama akan tiba di Indonesia Jam 5 subuh." jawab Mama Melisa cepat.
" Iya Ma nanti Rubel akan minta tolong sama Diko dan Leo untuk menjemput Mama di Bandara." Jawab Rubel.
" Iya sayang." Jawab Mama.
" Mama pergi dengan siapa?" Tanya Rubel, berharap Papa Joe bisa ikut.
" Mama sendiri sayang Papa Joe nggak bisa pulang." Jawab Mama dengan nada sedikit kecewa.
" Ya Udah Ma, semoga perjalanan Mama lancar dan selamat sampai Indonesia."
" Assalamu'alaikum." Telpon pun di tutup.
Hana terbangun dari pingsan nya, setelah kedua sahabat itu membantunya sadar dari pingsannya.
" Alhamdulillah, syukurlah kau bangun. kalo tidak payah lah aku gantiin kau jadi istrinya Rubel." Ceplos Zaena asal.
Hana tersenyum mendengar Zaena berceloteh.
" Kau dengan Rubel memang sudah Allah takdir kan berjodoh. Rubel dokter kau pasien jadilah pasien cintaku." Ledek Zaena.
" Kau emang ditakdirkan untuk jadi dokter Cinta bel. Kenapa bisa klop kali kalean berdua ?" Hibur Zaena.
Semua orang tertawa mendengar Zaena, ada saja bahan pembicaraan untuk dia menghibur semuanya. Zaena memang selalu membuat suasana jadi lebih hidup karena kehadiran nya. Zaena sebenarnya gadis cantik tapi cara bicaranya yang unik, dan terlalu ceplas-ceplos membuat dia agak disegani para pria.
" Awak jadi iri lah liat kalean, kapan lah Awak ketemu jodoh Awak, gak mungkinlah Awak terus menjomblo." Ucapnya sambil melirik ke arah Lila.
" Kenapa kau lirik-lirik Aku." Ucap Lila sambil meniru ucapan Zaena.
" Sama kita sama-sama jomblo sejati." Ucap Zaena asal.
" Jangan kek gitulah buka kartu saja kau ini." Ucap Lila tersipu.
Mereka dikejutkan suara Bariton seseorang mengucapkan salam.
" Assalamu'alaikum."
" Waa'laikum salam." Jawab mereka serempak.
" Ih pedih kali lah hati awak." Ucap Zaena kesal.
" Kok pedih, emang kena pisau?" Tanya Lila asal.
" Sudah senang lah awak ada kawan Jomblo, eh taunya datang pulak laki nya." ledek Zaena kesal.
Seketika wajah Lila memerah bagai udang rebus. Rubel segera menghampiri sahabatnya itu.
" Maaf ya, Bro Aku baru bisa kemari."
" Gak apa-apa, santai aja namanya juga kita punya tugas masing-masing."
" Ada siapa aja disini?"
" Ada Zaena dan mila." Jawab Rubel membuat Dion penasaran.
" Lila mana?" Tanya Dion penasaran.
" Gak tahu." ucap Rubel berpura-pura tidak tahu.
" Aku pikir Dia kesini sama Zaena." ucap nya penuh harap.
" Aih, apa pulak kau sebut-sebut nama Awak" Ucap Zaena menyambung dan menghampiri keduanya.
" Aku pikir kamu kemari dengan Lila."
" Mana lah Awak tahu, kalean yang pacaran kenapa awak yang pusing." Ceplos Zaena.
Dion memerah mendengar ucapan Zaena. Tiba-tiba Lila muncul dan melemparkan senyuman semanis madu ke arah Dion. kini Dion yang nampak kikuk, Dia sangat rindu dengan Lila karena telah hampir seminggu mereka tidak bertemu.
Mereka semua di ajak Ibu Hana untuk makan malam, kemudian melanjutkan untuk Tadarusan.
__ADS_1
" Hai Sahabat Dokter Cool, maaf yah Author belum bisa janji banyak-banyak buat Up, insyaAllah setelah selesai merevisi Bab yang lama Author akan Up semampunya. Terimakasih untuk terus mendukung karya Author 🤗😍."