Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 83


__ADS_3

Rubel dan Hana berjalan kearah Lila, mereka berdua segera bangun dan bersalaman dengan Rubel Lila dan Mila memeluk Hana dan melepas kan kangen. suara mereka terdengar sedikit berisik membuat Zana segera mengayuh kursi rodanya meninggalkan Papa dan Mamanya.


" Sayang, pelan-pelan nanti juga ketemu sama Tante Hananya." ucap sang Papa mengingat kan.


" Ayok pa buruan." ucapnya cepat tanpa menghiraukan ucapan sang papa. tibalah dia dalam, sambutan hangat dari Hana membuat dia terlonjak girang.


" Tante." ucap nya sambil memeluk Hana begitu erat.


" Iya sayang." jawab Hana sambil mengelus rambut Zana yang panjang. Hana kaget melihat Maria dan Andre datang bersamaan.


" Mar." sapa nya tanpa melepaskan genggaman tangan Zana.


" Gimana kabar mu?" tanya Maria pada Hana dan memeluk sepupunya itu.


" Alhamdulillah aku baik-baik aja, kamu gimana?" tanya Hana sambil mengelus perut Maria yang mulai membuncit.


" Alhamdulillah, waktu kalian berangkat ke Sydney aku dan mas Andre segera melangsungkan pernikahan, acaranya hanya dihadiri keluarga saja."


" Oh ya, kenapa Om Purnawan tidak bilang kalo kalian sudah menikah?" tanya Hana bingung.


" Ehm, mungkin Papa lupa." jawab Maria.


" Ya sudahlah yang terpenting saat ini, dokter Andre harus siaga yah gak kak?" tanya Hana pada Zana.


" Iya, Tante kalo enggak kan kasihan Mama sendiri, untung kita tinggal di rumah Opa Purnawan jadi gak sepi lagi." ucap Zana menjelaskan.


" Wah asik dong jadi rumah udah rame yah? tanya Hana pada Maria.


" Iya, Zana ikut aku jadi kalo mas Andre sedang ke rumah Sakit dia gak perlu lagi di titipin di rumah sakit sama perawat-perawat dan juga Lila, kasihan juga Lila harus merawat Zana sendiri kalo Andre sedang ada tugas.


" Jadi sekarang Lila sendirian dong?"


" Enggak lah bentar lagi kan Dion akan melamar Lila." jawab Maria cepat.


Lila tersipu malu, semua mata memandangnya begitu bahagia.


" Wah, sebentar lagi si jomblowati bakal melepaskan masa jomblonya." ledek Rubel dan terkekeh.


" Huft, mentang-mentang udah duluan nikah sahabat sendiri dibilang jomblo."


" Hehehe, bukan jomblo cuma single." sahut Hana menimpali.


" Apa bedanya?"


" Enggak ada beda." jawab Rubel lagi.


Mereka semua pun tertawa, Zaena kembali tanpa mereka sadari Zaena berjalan sambil bergandengan tangan dengan Dedi. semua mata tertuju pada mereka berdua.


" Wah wah wah, kayanya bakal ada yang saling kejar-kejaran nih." ledek Rubel pada Zaena.


" Siapa yang main kejar-kejaran bel?" tanya Zaena dengan polosnya.


" Ada tuh sahabatku bakal kejar-kejaran sama Lila menuju pelaminan." jawab Rubel.


Sontak Zaena melepaskan tangan Dedi, Dedi hanya tersenyum melihat tingkah Zaena. yang lain merasa senang kekonyolan Zaena bakal segera terobati. nampak dia lebih banyak diam biasanya dia lah Ketua Geng nya. mereka semua duduk bersama, Bibi menyiapkan jus dan makanan kecil untuk mereka semua.


" Apa kalian tahu Rumah Sakit Srikandi?" tanya Rubel tiba-tiba.


" Itu kan Rumah Sakit milik Almarhumah Ibu Risa." Jawab Zaena menimpali.


" Kamu tahu dengan Ibu Risa?" tanya Rubel penasaran.


" Iya, dulu aku Pernah magang disana tapi dengar-dengar Rumah Sakit itu sekarang sudah tidak ada penghuninya alias Rumah Sakit Mati seperti pemiliknya yang sudah tiada." jelas Zaena.


" Apakah kamu tahu kenapa Rumah Sakit sebesar itu tidak beroperasi lagi?"


" Ehm, tau waktu itu adalah terakhir aku bertugas di situ, para perawat dan dokter disitu mengeluh sejak meninggalnya Ibu Risa Rumah Sakit itu di tangani adik nya Ibu Risa, sebenarnya suaminya Ibu Risa sudah memberikan Dana untuk membiayai gaji para karyawan Rumah sakit itu tapi gaji mereka di sunat Oleh Pak Sanjaya Adiknya ibu Risa untuk kepentingan dia sendiri, alhasil semua nya pada kabur meninggalkan Rumah Sakit itu." cerita Zaena panjang.


" Apakah kamu tahu kemana pak Sanjaya itu?"


" Entahlah tapi desas-desus nya dia lari karena sudah ketahuan korupsi, suami dan anaknya Ibu Risa menuntut nya untuk membayar semua kerugian modal yang mereka tanamkan."


" Oh." jawab Rubel pendek.


" Memang nya ada apa?"


" Aku berencana membeli Rumah Sakit Itu."


" Ehm, pilihan yang sulit.


" Tidak sulit, aku akan berusaha semampu ku untuk membuat Rumah Sakit itu berjalan sebagaimana mestinya walaupun itu tidak mudah."


" Makanya aku bilang sulit Ru-bel." timpal Zaena lagi."


" Slow, aja."


" Oh ya, kok kamu bisa tahu Rumah Sakit itu?" tanya Zaena baru ngeh.


" Panjang ceritanya, tapi yang jelas Rumah Sakit itu akan aku perjuangkan untuk masa depan kami."


" Mudah-mudahan diberikan kemudahan buat kamu, jika butuh tim medis aku siap membantu." ucap Zaena dengan candaan.

__ADS_1


" Kalo bercanda mendingan gak usah aku butuh orang yang serius."


" Ish dah kau meragukan niat ku bel." ucap Zaena keluar logat aslinya.


" Kita lihat saja nanti, Sekarang Sarjana kedokteran itu berlimpah, tapi wadah yang menerima mereka tidak banyak, jadi kalo untuk mencari tim medis sepertinya tidak sulit." Ucap Lila menyambung.


" Iya, aku juga sependapat dengan mu, tapi untuk dokter Spesialis aku butuh yang memenang ahli di bidang itu."


" Tenang saja kau bel, dokter sekarang bisa dimana aja mereka mau asal mereka bisa mengatur waktu mereka bisa bekerja di dua tempat dalam satu hari, itulah faktanya sekarang, iya enggak Lil?" Ucap Zaena dan dijawab anggukkan oleh Lila.


" Tapi tidak untuk Rumah Sakit Z, milik Tuan Parkinson." Ucap Rubel.


" Dulu bisa kenapa sekarang tidak." tanya Lila.


" Apakah kalian lupa sekarang Vierra yang punya kendali di Rumah Sakit itu."


" Astaga aku lupa nenek lampir itu." balas Zaena.


" Kok Nenek lampir?" tanya Hana dengan polosnya.


" Tentu saja gara-gara dia banyak dokter dan perawat di pecat dengan seenaknya." cerita Zaena.


" Bagus itu." jawab Rubel.


" Lah kok bagus kan kasihan mereka, jika tidak segera di ingatkan nenek lampir itu, Rumah Sakit Z akan seperti miliknya Ibu Risa."


" Ehm, ide yang menarik."


" Kok menarik."


" Aku akan merekrut mereka yang dipecat oleh Vierra untuk menjadi karyawan di Rumah Sakit Srikandi." ucap Rubel tiba-tiba.


" Wah benar juga, kamu memang dokter jenius." puji Lila.


" Jangan di puji nanti kupingnya lebar kaya gajah." ucap Hana tiba-tiba bersuara.


" Gak apa-apa kuping gajah kan enak dijadiin cemilan." ledek Rubel pada Hana. yang lain hanya tersenyum melihat keduanya saling sindir. Tiba-tiba Andre ikut bersuara.


" Enggak gitu juga khales." ucap Hana membalas jawaban Rubel.


" Udah deh ributnya, yang terpenting saat ini kita akan mendukung apapun yang akan kamu lakukan." ucap Andre senang.


" Aku hanya butuh modal, walaupun Rumah Sakit itu punya Papa ku aku tetap harus membelinya karena itu adalah hak adik ku."


" Apa?" tanya yang lain tak percaya.


" Iya, Pak Hamid adalah Papaku.


" Bukan dunianya yang sempit tapi kota kita terlalu kecil." ledek Rubel.


" Terserah Kau lah Rubel yang penting saat ini apapun niat Kau, kami semua akan mendukungmu, apapun segera kamu kabari pada kami."


" Senang berkenalan dengan anda semua." ucapnya dan disambut tawa para sahabatnya.


" Na, sejak kapan si Rubel bisa jadi Tim nya Srimulat?" tanya Zaena.


" Sejak bergelut dengan Kau lah Zaena.


" Huh, kenapa klean jadi menular kek gini, tak enak lah aku, seakan aku sumbunya kompor terus menyambar kemana-mana."


" Biar aja mulut mu kek gitu, aku tetap cinta pada kau." tiba-tiba Dedi ikut menyambung.


" Ish, dah ngapain kau ikut-ikutan dah kayak Corona saja cepat kali menularnya gak perlu sepuluh menit, dalam hitungan detik saja kau langsung tertular, untung saja kau tak kejang-kejang."


Semua orang tertawa melihat Zaena, pertemuan itu adalah hal yang paling bahagia bagi mereka semua, berita gembira bak gayung bersambut. pertemuan singkat itu hanya bertahan 2 jam, karena Lila, Zaena dan dokter Andre harus segera kembali keranah kerja Rumah Sakit Z.


Berita kepulangan Rubel dan Hana sudah sampai ketelinga kedua omnya, Haikal yang memberi tahu mereka. Ibu Maemunah juga hadir bersama ke empat anaknya. setelah anak-anak pulang sekolah, mereka di jemput oleh Diko.


Hana sangat senang kediaman Agiawan yang dari tadi sepi sejak pulangnya para sahabat, seketika riuh dengan anak-anak ibu Maemunah.


" Tante Hana!!!" teriak Mira kecil histeris. bagaimana tidak rindunya tak lagi bisa dia tahan, dia sangat merindui pasangan baik itu, dimatanya mereka adalah orang yang dia cintai setelah keluarganya. Mira dan kakak-kakaknya pun segera menghampiri dan menghamburkan pelukan pada Hana.


" Tante, sehat?" tanya Mira begitu riangnya.


" alhamdulillah, Tentu saja sayang.. gimana kabar kalian semua."


" Kabar kami semua baik Tante."


" Oh ya, gimana sekolah kalian?" tanya Hana lagi sambil mengelus rambut anak-anak itu bergantian. Mira bergelayut manja di lengan Hana.


" Kakak Alhamdulillah bisa mengejar kekurangan kakak selama ini, karena Ibu Wati sudah kasih kakak Private les tambahan di Rumah." jelas sang kakak tertua, dan di susul kakak yang lain.


" Kami juga Tante."


Mira tak mau mengalah dia pun mengambil pensil dan buku tulis, di dalam tas yang di hubawa nya.


" Tante Mira juga udah sekolah di TK merpati putih, Bu gurunya baik banget sama Mira, ditemani belajar, di ajarin menulis, mengenal huruf, bernyanyi dan juga belajar memasak." celoteh Mira panjang. mereka semua asik dengan temuan-temuan belajarnya di sekolah baru.


Disisi lain Rubel bersama Om Purnawan dan Om Purwanto membahas masalah serius tentang Rumah Sakit Srikandi.


" Om, Tahu Rumah Sakit Srikandi?"

__ADS_1


" Oh Tahu itu punya Risa Adik letingnya Om waktu kuliah, om denger-denger sih Rumah Sakitnya sudah lama tidak terurus sejak Risa Meninggal." Jawab Om Purwanto cepat.


" Rubel berencana membeli Rumah Sakit itu om." jelas Rubel.


" Apa sudah kamu fikirkan baik-baik Rubel?"


" Sudah Om, mudah-mudahan kami dan Hana dikasih kemudahan untuk bisa mendapatkan apa yang kami impikan."


" Ya Om tidak akan melarang kamu, cuma om dengar-dengar Rumah Sakit itu sudah beberapa kali ada yang mau membelinya tapi tidak jadi dibeli karena minimnya alat canggih di Rumah Sakit itu."


" Isu yang beredar memang Rumah Sakit itu bermasalah, tapi Rubel dan Hana sudah ke Rumah Sakit itu dan mengecek kembali peralatan Rumah Sakit itu, tidak ada yang salah bahkan kondisi nya masih bisa digunakan."


" Kok, bisa??"


" Sebenernya, masalah nya ada pada pengelola Rumah Sakit itu, Bapak Sanjaya adiknya Almarhumah Ibu Risa. dialah biangnya kehancuran Rumah Sakit yang di alami Keluarga Ibu Risa, dia menyalah gunakan uang gaji karyawan untuk kepentingan dia sendiri, alhasil satu persatu-persatu karyawan, maupun dokter yang bertugas di situ pergi dari Rumah Sakit itu."


" Wah, kamu tahu benar kondisi Rumah Sakit Itu?"


" Kebetulan Zaena pernah Magang di Rumah Sakit itu dan dia tahu persis masalah yang sebenarnya, dan isu yang beredar masalah alat rumah sakit yang rusak dan juga minimnya alat adalah strategi agar mereka bisa keluar dari sana."


" Kasihan, juga Risa sejak dia meninggal semua orang yang berbakti padanya pergi, syukur dia punya suami yang sangat sayang padanya." ucap om Purwanto iba.


" Uhuk, Uhuk, Uhuk!!" Rubel terbatuk-batuk mendengar ucapan Om Purwanto.


" Kamu kenapa bel?"


" Ehm, gak apa-apa Om cuma keselek aja."


" Ada-ada aja keselek." tiba-tiba Haikal muncul.


" Dasar Jae, benar-benar bikin kita kaget." sentak Rubel terkejut.


" Hahahaha, puas banget.


" Untung gak kena serangan jantung, kalo enggak kasihan kan Hana lagi hamil jadi janda kembang." ucap Rubel lemas.


" Segitunya,masa dokter kena serangan jantung?"


" Dokter juga manusia, kalo emang udah waktunya sakit, atau ajal, apapun gak bisa menundanya, kalo sampe Rubel kenapa-kenapa Haikal Hana tuntut sampe ke liang lahat."


" Aish dah keliang lahat emangnya Haikal udah modar apa??"


" Makanya, ngagetin orang jangan keterlaluan kalo beneran tadi Rubel kena serangan jantung, Hana bisa ikut beneran meninggal." ucap Hana sedih.


" Duh kok jadi gini sih, ah lebay deh Na."


" Udah-udah gak usah di ambil hati namanya juga bercanda, kamu juga kal orang lagi sensitif gitu di goda terus." ucap om Purwanto.


" Terus, kapan rencana kamu membeli Rumah Sakit itu?" Tanya Om Purnawan mengalihkan pembicaraan antara keponakannya.


" Secepatnya nya Om, do'a in Om diberikan kelancaran dan kemudahan."


" Apa kamu ada uang?"


" Alhamdulillah ada om, uang Kontrakan Rumah Yang di Villa Buana A." ucap Rubel cengengesan.


" cukup???"


" Hehehe mudah-mudahan cukup om."


" Bagaimana kalo om kasih kamu pinjaman, yah hitung-hitung bantu ponakan lah." ucap om Purnawan bijak.


" Alhamdulillah, terima aja bel mumpung om lagi Baek." ucap Haikal antusias.


" Emang nya om selama ini om gak baik apa?" ucap om Purnawan sambil menoyor kepala Haikal.


" Peace Om, selama ini om bukan gak baik cuma menakutkan." sindir Haikal.


" Dasar ponakan tengik, gini-gini kan om kamu."


" Ya maaf Om, tapi beneran loh om, sekarang om itu baik dan berubah 90°.


" Syukurlah kamu sadar."


" Eu, payah orang tua memang gak mau ngalah." sindir Haikal lagi.


" Bang Haikal ini udah tua juga, gayanya masih kaya anak-anak bentar lagi udah mau jadi Papa, lagian yang di ajak berantem kan Om sendiri."


" Bela terus-terus." sungut Haikal kesal. karena dia tidak akan menang melawan Hana dan gengnya.


Mereka semua sepakat untuk bisa membantu Rubel, tak ada imbalan apapun yang diminta om Purnawan dia murni membantu Rubel dan Hana untuk bisa melanjutkan perjuangan nya.


"


"


"


"


" Hai Sahabat Dokter Cool Jangan lupa Vote Like dan komennya, mampir juga ke novel Manusia Batu Cintaku yah terimakasih 😍🤗."

__ADS_1


__ADS_2