Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 45


__ADS_3

Matahari terus beranjak, tiba-tiba Langit begitu mendung. suara petir bersahut-sahutan membahana seluruh pelosok negeri. Ihsan terus memandangi Hana, wajah Hana begitu pucat.


Bagaimanapun Hana, adalah orang yang pertama dia suka dan dia cintai. walaupun cinta nya hanya bertepuk sebelah tangan.


dia meraba kening Hana. suhu tubuh Hana panas dan dia meminta pelayan untuk mengambil handuk kecil dan air hangat untuk mengompres Hana.


Dia ambil kompres itu dan mulai mengompres Hana, Hana mengigau.


" Ino jangan tinggalin Ana sayang."


" Ino Ana kangen sama Ino."


Suara itu terdengar sangat lirih, air mata Hana terus mengalir, wajahnya sangat pucat. Ihsan mendekati Hana dan memeluknya. tangis itu mereda, dan Hana pun tertidur lagi.


Ihsan keluar kamar dan menuju Ruang kerjanya. seseorang sedang duduk termenung di meja kerja.


" Kenapa, lu???" tanya Ihsan dan menghempas tubuhnya ke sofa. dia terus memperhatikan wajah adiknya yang tanpa ekspresi. meraih sebuah kertas dia atas meja dan meremasnya dan melempar ke arah Adiknya.


Adiknya pun tersadar dari lamunannya.


" Kenapa, bang???" tanya dia, Dan meraih kertas itu dan melemparkannya kembali ke arah Abang nya Ihsan.


"Aku tanya kenapa? Kamu balik tanya kenapa? kamu waras?" tanya Ihsan sedikit kasar.


Adiknya kembali terdiam, dia tidak memperdulikan abangnya. dia termenung mengingat kembali kisah cintanya dengan Maria. awalnya dia hanya ingin menghancurkan keluarga Purnawan Agiawan dan berani meniduri Maria anak Purnawan Agiawan. kemudian meninggal kan Maria dan mencampakkan Maria. Dan dia pun lari dari tanggung jawab nya.


Tetapi setelah dia tahu Maria hamil dan mengandung anaknya dia merasa sangat tertekan. Entah mengapa kebencian yang di sulut kemenangan tender oleh Purnawan Agiawan membuat dia nekad meniduri Maria bukan karena cinta tapi dia ingin membalaskan dendam nya pada Purnawan Agiawan . tanpa di sadari ternyata dia begitu mencintai Maria.


" Ya elah dia ngelamun." tegur Ihsan kesal.


" Woi bangun udah siang!!!" ucap nya berteriak.


" Berisik aah." jawab adiknya ketus. dan membuka ponselnya dia melihat foto Maria dengannya. dia benar-benar menyesal telah menyakiti Maria dan meninggalkan nya. apalagi sekarang Maria sedang mengandung anaknya.


" Ya udah Abang ke kamar Hana dulu yah." ungkapnya dan berlalu.


" Eit tunggu, ngapain ke kamar nya Abang kan tahu Dia isteri orang." ungkapnya mengingatkan. walaupun sikap nya agak kasar dia tahu betul abangnya telah salah langkah. Dia pun bangun dan berjalan ke arah abangnya.


" Aku akan mengantarkan dia pulang." ucapnya membuat Ihsan tersentak kaget.


" Gila lu, mau cari mati lu sama Purnawan, emang lu lupa siapa Purnawan Agiawan." ucapnya mengingatkan.


" Dia bukan sasaran penculikan ku bang, ngapain lu yang sewot. masalah dengan Purnawan gak usah lu pikirin. aku akan cari cara agar perempuan itu pulang dengan selamat tanpa menyeret- nyeret kita. aku gak mau melibatkan dia karena ini. lihat saja media masa semuanya memberitakan penculikannya. apalagi anak buah ****** itu menggunakan mobil perusahaan. mungkin dengan segera mengembalikan nya masalah kita akan selesai." ucapnya begitu panjang lebar dan berusaha tetap tenang padahal dalam hatinya dia sangat pengecut.


Dia hapal betul siapa Purnawan Agiawan, laki-laki yang bisa saja menghancurkan perusahaannya dalam sekejap mata. bagaimana pun Purnawan telah mendominasi semua bisnis di negeri ini.


" Gila lu..." ucap Ihsan tercekat.


" Emang nya Purnawan anak kecil yang bisa kita ****-begoin. ucapnya melempar buku tebal yang berada di atas meja ke arah adiknya.


Renzi menunduk mengambil buku itu dan melemparkannya Kembali ke arah Ihsan.


" Entahlah, aku hanya ingin menyelesaikan semuanya.mungkin dengan begini kesalahan kita akan diringankan." ucapnya setengah hati. Dia menghela nafas panjang dan berlalu meninggalkan Ihsan di ruangan itu.


Renzi berjalan menuju kamar Hana. Dia berdiri dan memperhatikan Hana di depan pintu kamar. kegelisahan begitu mencekam, dia tidak menyangka kesalahan yang di buat oleh anak buahnya bisa berimbas fatal untuk dia dan perusahaan nya. kecerobohan itu akan membawa petaka baginya.


Dia ingin mempertanggung jawabkan semuanya. dia akan segera mengantarkan Hana ke kediaman Agiawan. walupun akan berisiko. dia berjalan mondar-mandir bagai setrikaan di depan kamar Hana. hatinya benar-benar bingung bagaimana caranya dia mengantar kan Hana pulang.


tiba-tiba Hana bangun, dia merasa perut nya sangat lapar. di atas meja hanya ada air minum.


" Tolong!" ucap nya lembut. Renzi masuk ke dalam kamar.


" Ada apa??" tanya Renzi sambil mendekap kedua tangannya di dada. dia sebenarnya mudah iba melihat orang tapi dia juga mudah tempramen. wajah Hana begitu pucat.


" Aku boleh makan??" tanya Hana pelan. dia benar-benar tidak bisa menahan laparnya kondisinya sudah sangat lemah. dia ingin segera sehat agar dia bisa keluar dari sini.


Ihsan sudah dulu tiba dan membawa makanan ke kamar Hana. Renzi tidak ingin abangnya terlalu perhatian dengan Hana, bagaimanapun Hana adalah isteri orang tidak seharunya dia mencintai Hana.


" bang ,Tarok aja nasi nya di meja." ucap Renzi cepat. dia tidak memperdulikan wajah abangnya. dia tidak ingin membuat abangnya memupuk Cinta Hana. karena bagaimanapun Hana sudah punya suami.


Ihsan tidak perduli ucapan Renzi,, dia bersikeras ingin menyuap Hana. dan Renzi segera menarik piring itu.


" Sini aku saja yang suap." ucap nya cepat. dan menghampiri Hana. tapi Hana menolaknya dengan lembut.


" Aku bisa makan sendiri." ucap Hana dan berusaha duduk.

__ADS_1


" Abang aku akan mengantarkan Hana pulang." ucap Renzi begitu yakin.


" Udah gila lu." emangnya dengan begitu Purnawan Agiawan akan melepaskan kita begitu aja." ucap Ihsan begitu keras. dan menatap tajam ke arah adiknya.


" Aku tidak ingin melibatkan Hana bang,aku hanya ingin Maria, jika aku bisa mendapatkan Maria aku akan membawa nya pergi dari sini." ucapnya penuh harap, walaupun itu sangat mustahil.


" Enggak aku bilang enggak yah enggak."


" Dia manusia paling kejam yang bisa melahap mu hidup-hidup."


" Dia bisa menghancurkan perusahan kita hanya sekejap matanya. apa kamu lupa." ucap Ihsan begitu kesal.


Hana meletakkan piring nya ke meja rias dan meraih air minum dan meneguknya pelan-pelan. dia menyadari 2 orang yang Ada didepannya ini bukan lah manusia jahat dan kejam. mereka berdua hanya ingin membalas kan dendamnya tapi mereka salah sasaran.


" Aku akan membantu kalian." ucap Hana begitu yakin. dia berusaha tenang dan membuat mereka sedikit khawatir.


" Aku janji Aku akan melepaskan kalian jika kalian melepaskan Aku." ucapnya terus menekan keduanya. mereka berdua terlihat ragu-ragu.


" Kalian tidak kenal siapa Om ku." ucap Hana membuat mereka semakin bingung.


" Manusia kejam seperti dia mana mungkin dengan mudahnya mau melepaskan kami. setelah apa yang kami lakukan padamu." ucap Ihsan tidak yakin dengan ucapan Hana.


Hana tersenyum, dia ingin membuat keduanya semakin kesal dengan sikapnya yang begitu tenang.


" Aku janji pada kalian aku akan melepas kan kalian." ucap Hana menjamin mereka.


" Enggak mungkin, aku tidak percaya Dengan mu." ucap Ihsan tajam.


" jika kamu tidak percaya dengan ku mengapa kamu masih mencintai ku dan mempertahankan aku disini, karena tidak akan menguntungkan bagimu." ucap Hana begitu menusuk jantung Ihsan.


Ihsan kesal dengan jawaban Hana. dia merasakan Hana begitu menyudut nya berulang-ulang.


" Diam kamu, aku tidak akan melepaskan kamu." ucapnya keras membanting pintu dan pergi.


Tinggal Renzi yang akan membuat harapan Hana menjadi nyata. bayang-bayang Rubel telah hadir dipelupuk matanya.


" Dengar kan aku Renzi aku janji aku akan menyelamatkan mu dan perusahaan mu." ucap Hana lembut dan berusaha membuat Renzi percaya akan Ucapannya.


"Percaya lah aku tidak akan menghancurkan mu." ucap Hana memohon.


Renzi begitu terenyuh hatinya. tapi dia masih bingung bagaimana caranya untuk mengantarkan Hana pulang. dia sendiri masih begitu takut berhadapan dengan Purnawan Agiawan. walaupun dia ingin menghancurkan Purnawan Agiawan tapi sejatinya mereka hanya lah orang-orang yang lemah.


Dia pun beranjak dari kamar itu dan berlalu.


Hana menangis tersedu-sedu, dia begitu rindu keluarganya terlebih lagi dengan orang yang sangat dia cintai Rubelino.


" Ana kangen sama ino sayang."


" Ya Rabbi pertemukan kami secepatnya nya ya Allah."


" Ana rindu Ino sayang.. sangat rindu."


Tanpa di sadari nya seseorang mendengar rintihan Hana . Dia merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. perasaan tak menentu menyelimuti hatinya. dia memegang dadanya terasa begitu sakit.


Dia pun pergi meninggalkan Hana yang terus merintih sedih. dia memukul tanggannya ke dinding berulang-ulang hingga terluka. Impiannya untuk mendapatkan Hana hanya sia-sia belaka. Hana terlalu mencintai Rubel.


Dia terduduk lesu. dengan tangan penuh luka.


Apakah tidak ada sedikit pun harapan untuk nya untuk mendapatkan cintanya Hana. dia termenung sangat lama. pikirannya hanya ingin Hana menerima cintanya.walaupun dia tahu Hana tidak pernah mencintai nya.


Tanpa terasa dia pun menangis, air mata itu terus mengalir tanpa bisa dia tahan. dia sangat sedih, sejak kedua orang tuanya meninggal mereka hanya tinggal berdua. walaupun ayahnya meninggalkan banyak harta dan perusahaan. tapi mereka tidak pernah merasakan ke bahagiaan.


Hana mencoba bangun, dan perlahan berjalan, dia ingin mencari jalan keluar dari rumah itu. tapi dia malah mendengar seseorang menangis di sebuah ruangan. tak ada Seorang penjaga, perlahan dia menghampiri suara itu. dia melihat seseorang sedang tertunduk dengan tangan terluka dan Isak tangis yang begitu memilukan.


Hana hendak berlalu dari tempat itu, tapi Ihsan melihat nya.


" Tunggu!!!" ucapnya pelan dan bangun.


Hana membalikkan badannya.


" Sedang apa kamu disini?" tanya Ihsan heran.


" Aku hanya mendengar suara tangisan dan menghampiri, ternyata itu kamu." ucap Hana berusaha tenang.


" Untuk apa Kamu memperdulikan Aku?" ucap Ihsan kesal.

__ADS_1


Hana pun berlalu tak menjawab pertanyaan Ihsan. tiba-tiba Ihsan menarik tangan Hana Dengan kasar.


" Auh... sakit."


" Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan ini." ucap Ihsan sambil menunjuk ke ke dadanya.


Hana berusaha melepaskan tangannya. tapi Ihsan mencengkam Hana begitu keras hingga tangan nya terasa semakin sakit.


" Lepaskan aku!!!!" teriak Hana kesal.


" Aku tidak akan melepas kan mu." ucapnya keras.


Air mata Hana pun tumpah, dia benar-benar ingin segera pergi dari sini.


" Dasar cengeng dikit aja nangis." ucapnya kesal.


" bukannya yang cengeng tadi kamu." jawab Hana membalas ucapan Ihsan.


Ihsan terdiam, ucapan Hana membuatnya sangat kesal. tapi dia tidak ingin menyakiti Hana. dan dia pun melepaskan tangan Hana.


Hana berjalan menjauh dari Ihsan, dia kembali ke kamar. tiba-tiba dia teringat ponselnya.


Dia mencoba menarik selimutnya dan mencari ponselnya.


" Kemana yah ponselku." ucap Hana begitu panik. tinggal ponsel itu harapan satu-satunya untuk dia segera keluar dari tempat itu.


" Kamu mencari ini." ucap Ihsan sambil menggoyang kan ponsel Hana. dia berusaha membuat Hana kesal tapi perempuan itu malah diam membisu.


" kamu pikir kami bodoh membiarkan tahanan kami memegang ponselnya." ucap Ihsan dengan nada ditekan. dia menggoyangkan ponsel itu dan hendak melemparkan nya.


" Aku mohon jangan hancurkan ponsel itu. itu satu-satunya milik aku yang paling berharga saat ini." ucap Hana pelan dan memohon dengan sangat.


" Emangnya aku bodoh apa?" ucapnya kasar tanpa memperdulikan wajah Hana yang kian memerah dan kesal.


" Tolong aku mohon!!!" ucap Hana makin lirih. dia menggigit bibir bawahnya merasa kehilangan akal untuk memohon.


" Jika kamu mau ponsel ini, lakukan apa yang aku mau!!!!!" ucapnya dengan kesal.


" Apa ??? tanya Hana bingung.


" Kamu harus menikah dengan ku." ucap Ihsan menghujam jantung Hana begitu keras.


" Tidak mungkin itu tidak akan bisa, status ku masih istri orang." dan itu tidak akan sah secara hukum agama." ucap Hana lirih. dia sudah kehabisan akal untuk menjawab Ihsan yang begitu tergila-gila mencintai nya.


" oke kalo begitu ponsel ini akan aku lempar dan kamu tidak akan pernah keluar dari sini ucapan ikhsan membuat Hana kesal.


Hana diam, dia mencari ide untuk bisa mendapatkan ponselnya. Hana mendekati Ihsan. dia mencoba menarik paksa ponsel itu. tapi Ihsan dengan cepat memindahkan ponsel itu ke tangan sebelahnya. Hana diam, dia benar-benar tak tahu lagi bagaimana mendapatkan ponsel itu.


" Ihsan." panggil Hana pelan berharap Ihsan melunak.


" jangan sok akrab." ucapnya kesal. ponsel itu segera disimpan kedalam saku celananya.


Hana tak berani mengambil nya. dia pun membalikkan tubuhnya dan berlalu menuju tempat tidurnya dan memunggungi Ihsan.


Terdengar sayup-sayup suara azan, Hana bergegas bangun dia melirik jam setengah 4 sore.


" ini sudah sore??" tanya nya dalam hati.


" Pinjam kan aku mukena." ucap Hana pelan kepada Ihsan.


" Aku gak pake mukena." ucap Ihsan cepat. dan berlalu dari kamar itu. dia berjalan ke arah dapur bertanya kepada pembantu nya.


" Bibi ada mukena?" tanya dia cepat.


" Untuk siapa den?" tanya bibi bingung.


" Untuk perempuan yang ada dikamar tamu." ucapnya lembut.


" Bentar yah den Bibi ambilkan." ucap Bibi dan berlalu kekamarnya. kemudian kembali membawa mukena yang masih terlihat cantik dan bersih.


" ini den." ucap Bibi dan menyerahkan mukena itu kepada Ihsan.


Ihsan pun tersenyum dan segera pergi ke kamar Hana. entah mengapa dia merasa kan sesuatu yang sangat bahagia, bisa mewujudkan permintaan Hana walaupun hanya sebuah mukena.


"Hai sahabat Dokter Cool terimakasih suportnya.. jangan Lupa Vote, like dan komennya yang banyak yah. terimakasih"🤗😍

__ADS_1


__ADS_2