
Om Purwanto dan Om Purnawan saling berpelukan dengan Tuan Sam, Brian kecil masih dalam gendongan Rubel. tidak lama semua masuk mengikuti Tuan Sam.
" Pa, ini rumahnya kembaran nih sama punya Tante wati.?" bisik Haikal.
" Iya, Rumah ini memang di desain seperti milik punya Opa, atas permintaan Tuan Sam." jelas sang Papa.
Mereka masuk kedalam, tak ada yang beda dengan rumah ini dengan yang di Indonesia. Rubel masih menggendong Brian kecil. semua orang duduk tiba-tiba Brian kecil mengajak Hana untuk ke dalam kamarnya.
" Aunty, please come to my badroom." ajaknya. Hana diam dia tidak mungkin masuk kedalam kamar tanpa si empunya Rumah. seseorang berjalan menuju ruang tengah.
" Eh, Ada Tamu." ucap Antonius.
" Come on Aunty Please come my badroom." seru Brian tak henti-hentinya sambil menarik ujung jilbab Hana yang panjang.
" Brian, jangan ganggu Aunty Hana." serunya lembut tapi Brian tetap merengek mengajak Hana.
" Maafkan anak ku." ucapnya tak enak hati.
Rubel tidak sampai hati membiarkan Brian terus merengek.
" Apakah uncle Rubel boleh menemani??" tanya Rubel pada Brian.
" Tentu saja." teriak Brian begitu riang, dan terburu-buru menarik tangan Hana. Rubel mengikuti mereka berdua masuk kedalam kamar Brian.
Mata Antonius tidak berpindah sedikit pun dari melihat Hana. Hana berpura-pura tidak tahu dia enggan menatap laki-laki itu.
Sebuah bingkai foto terpanjang di dalam kamar Brian. foto 2 orang yang terlihat jelas di situ ada Antonius dan Seorang perempuan yang sedang hamil Besar. Rubel dan Hana memandang foto itu sangat lama. Rubel membuka cadar Hana pelan menyamakan wajah Hana dengan perempuan yang ada di bingkai foto.
" Ah, apakah kamu punya kembaran??" tanya Rubel tak percaya sambil menutup kembali wajah Hana sebelum Brian melihatnya.
" Enggak ah." jawab Hana singkat.
" Pantesan." gumam Hana kecil namun terdengar Rubel.
" Maksudnya??"
" Dia selalu melihat mata Ana." cerita Hana pelan agar tidak ada yang mendengar.
" Siapa?" tanya Rubel penasaran.
" Antonius." bisik Hana ditelinga Rubel. tak berapa lama seseorang menghampiri mereka.
Hana segera menggenggam erat Rubel, dia merasa tidak nyaman jika Antonius didekat mereka. Antonius tidak menyadari sikap Hana , dia hanya ingin menyampaikan maksudnya pada Rubel.
" Bel, apakah lusa kamu punya waktu?" tanya Antonius tiba-tiba.
" Ada apa?" tanya Rubel.
" Jika kamu tidak keberatan lusa kita bisa langsung Observasi Brian, dan kamu bisa melakukan tugasmu." jelasnya.
Rubel dan Hana saling pandang. entah mengapa sejak Antonius sering menatap Hana diam-diam perasaan Hana berubah terhadap Antonius. hanya karena kasihan dengan Brian dia tetap berusaha baik, begitu juga Rubel setelah melihat frame foto itu, dia merasa gelisah.
" Apa tidak sebaiknya kita memberikan kesempatan untuk Brian lebih Rileks agar dia tidak terlalu terkejut." ucap Rubel beralasan.
" Aku percaya Brian sudah siap." ucapnya meyakinkan.
" Tapi--."
" Aku mohon, tolong anakku secepatnya,aku tidak ingin kehilangan dia." ucapnya dengan suara serak. dan memeluk Brian kecil.
" Uncle, bahagiakan Dady." ucapnya pelan.
Suasana haru itu mengobrak-abrik hati Rubel, dia terus menggenggam tangan Hana.
" Sayang kerjakan tugas Ino, setelah itu kita kembali ketanah air." bujuk Hana pelan seakan tahu kegelisahan Rubel. sedetik pun Rubel tidak ingin melepaskan genggaman tangannya. tiba-tiba Brian memeluk Hana dan menangis.
" Aunty Brian tidak punya Momy, mau kah Aunty jadi Momy Brian." ucapnya begitu sedih. Rubel terkejut, dia tidak menyangka Brian berkata seperti itu. Brian tidak paham apa yang dia katakan.
" Baby please, kamu salah bilang." terang Antonius agar Rubel dan Hana tidak salah paham.
" Tidak, Aku mau Aunty Hana menjadi Momy ku." rengek nya semakin keras.
" Please jangan nangis sayang." lirih Antonius. dia tidak bisa melihat kesayangan menangis.
Rubel seakan tahu kegelisahan Hana, dan mencoba membujuk Brian.
" Brian, Aunty Hana akan selalu kemari tapi tidak bisa menjadi Momynya Brian, karena Aunty Hana istrinya uncle Rubel." Jelas Rubel agar Brian mengerti.
" Aku ingin Momy agar Momy bisa menemani aku tidur, menyuapi aku makan, memandikan Aku, karena Dady selalu sibuk tidak punya waktu untuk ku." terang Brian di ikuti Isak tangis nya.
" Jangan nangis sayang, nanti kamu sakit." ucap Antonius lirih.
__ADS_1
Rubel dan Hana serba salah. mereka juga tidak bisa melihat Brian menangis.
" Jadi Momy angkat aja boleh?" tanya Hana tiba-tiba. karena dia sendiri kebingungan mendiamkan Brian.
" Momy Angkat? tanya Brian dan Antonius bersamaan.
Rubel terkejut, dia tidak menyangka Hana sampai berfikir ke arah itu.
" Maksud Aunty, kamu tetap bersama Dady tapi kamu bisa memanggil Aunty Hana dengan panggilan Momy." jelas rubel
" Tidak." teriak Brian keras.
Hana meraih Brian dan memeluk nya.
" Jangan nangis sayang, kamu boleh memanggil Aunty dengan panggilan Momy, tapi Momy tidak bisa tinggal disini." jelas Hana, tapi Brian adalah anak kecil dia tidak paham apa yang ada difikiran Hana.
Tiba-tiba Brian mengerang kesakitan, wajahnya tiba-tiba pucat. tidak ada pilihan lain selain segera membawa Brian ke Rumah Sakit. Antonius segera menggendong Brian Rubel dan Hana mengikuti nya keluar kamar. semua orang bangun melihat Brian terus menangis memegang kepalanya.
" Ada apa ini??" tanya Sam bingung, namun mereka semua hanya diam.
Antonius segera membawa Brian di ikuti Sam, sedangkan Rubel, Hana dan yang lain naik mobil Rubel.
Tak berapa lama mereka tiba di Rumah Sakit XXX. Antonius meminta Rubel untuk segera observasi Brian. detik itu juga Rubel meraih pakaian yang sudah disediakan oleh perawat Rumah Sakit XXX. dengan lembut dia mencium kening Hana di hadapan semua orang. Hana memeluk Rubel seakan tidak rela. tapi Operasi harus segera dilaksanakan mengingat kondisi Brian yang semakin lemah.
Semua orang berjaga di depan pintu operasi. Antonius terlihat sangat terpukul. Sam mencoba menenangkan nya. sedangkan Hana menangis memeluk Om Purwanto, dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menuruti permintaan Brian.
" Ada apa ini?" Bisik om Purwanto. Hana mengajak om Purwanto ke tempat lain. mereka duduk di kursi panjang di dekat taman Rumah Sakit.
" Brian meminta Hana untuk menjadi Mama nya, dia ingin Hana bisa mengurusnya menjaganya, menyuapi layaknya seorang Mama, karena tidak mungkin, Hana bilang jadi mama angkat saja, tapi dia menolak dan menangis sangat histeris hingga sakit nya kambuh." ucap Hana sedih.
" Memangnya dia sakit apa?" Tanya om Purwanto bingung.
" Tumor otak." ucap Hana serak.
Om Purwanto terdiam, dia paham kegelisahan Hana.
" Do'a kan yang terbaik agar Operasi berjalan lancar. dan dia segera melewati masa kritis nya.
" Insyaallah om, mudah-mudahan." mereka berdua berdoa untuk Brian dan juga Rubel agar pekerjaan Rubel berjalan lancar.
Waktu terus berjalan hingga matahari terus bergeser. suara azan Ashar berkumandang jelas, di Rumah Sakit XXX Om Purwanto dan Om Purnawan segera bergegas menuju Mesjid yang tidak jauh dari Rumah Sakit itu. Haikal, Mila dan Hana segera mengikuti mereka berdua, mereka pun sholat bersama-sama dengan jamaah yang lain, setelah selesai mereka kembali ke Rumah Sakit.
Antonius melihat ke arah mereka semua.
" Kami sholat dan berdo'a untuk Brian." jelas om Purnawan.
Antonius terdiam, dia tidak menyangka mereka semua pergi berdo'a untuk anaknya.
Hana terlihat sangat lemas, dia mulai berkeringat dingin. mereka semua gelisah menunggu Rubel keluar membawa kabar gembira. Hana sudah sangat lemas. dia terus memeluk Om Purwanto.
" Kamu kenapa sayang?" tanya om Purwanto.
" Hana gak enak badan." ucapnya pelan. Antonius terus melihat kearah Hana. entah apa yang ada dibenak nya, dia seperti kesal melihat Hana, karena menolak Brian. Semua perasaan nya tercurah pada Brian sehingga dia tidak berfikir jernih lagi. dia berjalan kearah Hana.
" Jika terjadi sesuatu pada anak ku kamu harus bertanggung jawab." bisik nya dan berlalu.
Om Purwanto tidak bisa berbuat apa-apa karena Antonius sendiri sedang susah hatinya.
Karena perkataan Antonius Hana tidak bisa menopang tubuhnya lagi, dia langsung pingsan. Antonius berbalik dan melihat Hana terkulai di pelukan Om Purwanto, Haikal hendak membantu tapi Antonius segera meraih Hana dan menggendong Hana ke dalam ruangan yang berada tidak jauh dari sana. tiba-tiba cadar Hana terlepas saat Antonius membaringkannya di tempat tidur. om Purwanto dan Haikal terkejut melihat sikap Agresif Antonius mereka semua segera melihat Hana. Haikal segera meraih cadar Hana dan menutup wajah Hana dengan cepat saat Antonius melihat wajah Hana begitu lama.
Antonius terduduk lemas, wajah Hana begitu mirip dengan istrinya. Sam yang sempat melihat wajah Hana seketika terkejut.
" Siapa dia?" tanya Sam keras.
" Dia keponakanku." jelas Om Purwanto.
" Kenapa wajahnya sangat mirip dengan adik ipar ku yang sudah meninggal.
Mereka semua saling pandang, mereka tidak menyangka sampai seperti ini. Antonius seperti terbius, dia seakan melihat istrinya yang terbaring di tempat tidur itu.
Dia segera bangun, mengelus lembut wajah Hana, tapi Haikal segera menepisnya.
' Jangan sentuh Adik ku, dia bukan muhrim mu." ucap Haikal kesal.
" Dia isteri ku." teriaknya kesal seperti orang yang kehilangan akal. Sam segera menarik adiknya berusaha menyadarkan Antonius.
" Dia bukan isteri mu." bisik nya pelan. membuat Antonius segera tersadar.
Antonius segera keluar dari ruangan itu, pikirannya sangat kacau. dia tidak tahu harus berbuat apa. wajah Hana mengingat dia dengan isterinya. semua orang sibuk mengipas Hana. seseorang perawat datang mencoba memberikan pertolongan pada Hana.
Antonius kembali ke depan ruang tunggu Operasi. tidak berapa lama Rubel keluar. dia membawa kabar baik.
__ADS_1
" Bagaimana dengan Anakku?" tanya Antonius khawatir.
" Alhamdulillah berjalan lancar, mudah-mudahan dia segera siuman." jelas Rubel."
" Apa maksudmu Alhamdulillah." tanya Antonius bingung.
" Bersyukur Brian sudah melewati masa kritis nya kita tinggal menunggu dia sadar." terang Rubel dan terukir senyuman di bibir Antonius.
Sam ikut senang melihat Antonius tersenyum.
Om Purnawan keluar dia segera memberi tahu keadaan Hana pada Rubel. Rubel segera keruangan Hana. Haikal terlihat kesal.
" Ada apa?" tanya Rubel bingung.
" Bulek itu sudah gila menganggap Hana istrinya yang sudah meninggal." umpat Haikal kesal. Om Purwanto menenangkan Haikal.
" Sudah-sudah.
" Haikal gak suka pa." jelas Haikal.
" Rubel, jaga Hana." pinta Om Purwanto, dan dia segera membawa Haikal keluar di ikuti Mila.
Rubel mencium kening Hana, dia merasa sangat khawatir. keadaan berbanding terbalik. mereka tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya. tiba-tiba Antonius datang. membawa sebuah cek untuk Rubel.
" Bawa segera isteri mu pulang, dan ini adalah imbalan untukmu." ucap Antonius serak. pelan-pelan dia masih melirik kearah Hana.
" Pulanglah sebelum aku berubah fikiran." ucapnya sedikit keras. Rubel segera menggendong Hana. dan berjalan keluar, tiba-tiba Antonius mengancam.
" Jika kamu tidak bisa mengurus istrimu, aku akan mengambil nya darimu." ucap nya sangat licik. Haikal yang mendengar ucapan Antonius sangat berang. ingin sekali dia memukul bulek gila itu tapi Om Purwanto segera menahannya.
" Ayok kita pulang sekarang." ucap Haikal kesal. Om Purwanto dan Om Purnawan berpamitan dengan Sam mereka segera berjalan menuju parkiran. Hana di baringkan di ditengah di pangkuan Mila. om Purnawan duduk bersebelahan dengan Rubel sedangkan Om Purwanto dan Haikal di belakang.
Mereka tiba di Rumah, semua panik melihat Hana yang pingsan.
" Kenapa sayang?" tanya Ibu dan Mama bersamaan.
" Gak apa-apa Hana hanya kelelahan." terang Rubel agar semua tidak panik.
Rubel segera membawa Hana ke kamar. dia segera menggantikan baju Hana. dipandanginya wajah Hana sangat lama. ancaman Antonius membuat hatinya sangat gelisah.
Dia mencoba memberikan nafas buatan, agar Hana segera sadar. tak berapa lama Hana sadar. Rubel segera mencium Hana tanpa Jedah membuat Hana kewalahan.
" Ada apa, kenapa Ino seperti orang kemasukan." ucapnya kesal.
Rubel tertawa tidak mengambil hati ucapan Hana barusan.
" Iya kemasukan jin cinta." goda Rubel membuat Hana tersipu.
" Apaan sih."
" Ino kangen sama kamu." ucap Rubel mengalihkan pembicaraan.
" Orang pingsan sebentar aja udah kangen."
" Iyalah, takut kamu tidur panjang lagi." Ungkap Rubel gelisah. Hana terdiam dia lupa pernah koma.
" Maafin yah sayang." ucap Hana pelan. Rubel mengusap wajah Hana dengan lembut. mencium bibir Hana pelan.
" Maafin Ino juga yah." bisik nya lembut. Rubel terus memeluk Hana. karena kelelahan dia tertidur. Hana menatap lekat wajah laki-laki yang sedang memeluknya itu.
" Mudah-mudahan kita bisa melewati semua ini yah sayang." bisik Hana. Hana terus melihat wajah Rubel tanpa Hana sadari Rubel sudah terbangun dari tadi karena tangan Hana tak henti-hentinya mengelus wajah Rubel.
" Kita akan melewati semua ini sama-sama dalam suka maupun duka." balas Rubel dan mereka saling pandang. Rubel tidak menyia-nyiakan waktu dia segera menghujani Hana dengan ciuman. mereka terus bercanda menghabiskan waktu ditempat tidur hingga waktu magrib tiba. Wajah Rubel tiba-tiba bersedih, dia teringat ancaman Antonius padanya.
" Ada apa sayang?" tanya Hana.
Rubel menatap Hana sangat lama, membelai pipi Hana.
" Ino gak akan membiarkan siapapun merebut kamu dari Ino." bisik Rubel.
" Siapa yang mau merebut Ana dari Ino?" tanya Hana bingung.
" Siapapun itu." ucap Rubel tegas.
Hana mengalihkan pembicaraan, dia segera menyadarkan Rubel untuk segera sholat magrib dan mereka sholat di dalam kamar.
"
"
"
__ADS_1
"
" Hai sahabat Dokter Cool Jangan lupa Vote Like dan komennya terimakasih 😍🤗."