Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 54


__ADS_3

" Baru beberapa Minggu dok." Ucap Hana malu-malu.


" Suaminya kok gak dampingi?" Tanya dokter Lidya penasaran.


" Lagi ada pasien bedah dok."


" Bedah?? suami kamu dokter bedah?"


" Iya, Rubel kan dokter bedah." jawab ibu menjelaskan.


" Eh, tunggu-tunggu maksudnya gimana nih??? kok aku...."


" Iya Tante, Hana nikahnya sama dokter Rubel." ucap Hana menjelaskan.


" Oh alah, jadi tawaran perawat itu berujung pernikahan?"


" Cerita nya panjang Tante, kapan-kapan Hana ceritain yah." ucap Hana menerangkan.


" Alhamdulillah yah namanya jodoh."


" Jadi sekarang kita periksa dulu yah." ucapnya dan meminta Hana untuk naik ke atas tempat tidur. Asisten dokter Lidya membantu Hana naik ketempat tidur kemudian membuka baju Hana.


Dengan cepat dokter Lidya menuangkan gel dan mulai memutarkan tranduser di atas perut Hana.


" Sudah telat berapa hari?" tanya dokter Lidya ingin tahu.


" Seminggu dok."


" Untuk sementara kita belum bisa lihat perkembangan janinnya, sekitar 3 Minggu lagi kita USG lagi yah." Ucap dokter Lidya mejelaskan.


" Tapi dok, dia udah muntah-muntah terus gimana tuh?" tanya Mama begitu khawatir.


" Enggak apa-apa Mbak, nih aku resepin obat mual nya yah. kalo masih penasaran coba testpack deh biar rasa penasaran nya hilang, nanti setelah 3-4 Minggu balik lagi buat USG ulang." ucapnya menyarankan.


Mama dan Ibu saling pandang, mereka sangat khawatir dengan Hana yang kondisi nya sangat lemah.


" Apa ada vitamin?" Ucap Mama dan Ibu serempak. dokter Lidya pun tertawa melihat mereka terlalu khawatir dengan Hana.


" Tentu aja, sekalian aku resepin."


Barulah wajah mama dan ibu terlihat lebih tenang.


" Ok Lidya kami pulang dulu." ucap Ibu dan memeluk sahabatnya itu, di ikuti Hana dan Mama Rubel.


" Kamu tinggal dimana sekarang Ti?"


" Aku udah balik ke Rumah Papa di Ponorogo Residen.


" Serius Ti???"


" Gimana dengan Abang-abang mu??"


" Alhamdulillah mereka semua baik, ceritanya panjang. Entar kapan-kapan Aku ceritain yah."


" Ok lah, kapan-kapan kita ngobrol yah."


" Iya, jangan lupa telponan yah nomor ponselku masih yang lama." Ucap Ibu.


" Ok, lah... Aku masih penasaran kok bisa yah Hana sama Rubel nikah." Ucap dokter Lidya pada ibu dan Mama Rubel.


Mereka semua tertawa, tiba-tiba Hana terkulai lemah, dengan sigap mama menangkap menantunya itu. dibantu Ibu dan Asisten dokter Lidya mengangkat Hana naik ke atas tempat tidur.


Dokter Lidya segera memeriksa nadi Hana, sedangkan Asisten dokter Lidya mengangkat kaki Hana.


" Apa dia sering seperti ini?" tanya dokter Lidya kepada Ibu. Ibu mengangguk tapi bingung mengatakan keadaan Hana di depan Besannya.


" Hana mengalami Neutropenia Imun." ucap ibu pelan.


" Serius Ti?" Tanya dokter Lidya.


" Iya."


" Gimana yah... kasian dong Hana kalo dia benar-benar hamil dengan kondisi seperti ini." Ucapnya Lirih.


" Memangnya berbahaya dok?" tanya Mama tidak tahu sakit yang di derita Hana.


Ibu mengedipkan sebelah matanya ke arah dokter Lidya.


" Enggak cuma kasihan kan kalo sering pingsan tiba-tiba." ucap dokter Lidya menjawab sebisanya.


Mama hanya diam, dia merasa sangat kasihan dengan menantunya.


" Mudah-mudahan sehat yah dok.." ucap nya penuh harap.


" Insya Allah mudah-mudahan Hana sehat, yang terpenting jaga pola makannya, kandungan gizi dan protein nya. dan satu lagi suasana hati nya harus tetap baik." ucap dokter Lidya menjelaskan.


" Makasih dok, akan kami usahakan." ucap mama. kemudian mengelus kepala Hana dengan lembut. dokter Lidya meminta beberapa perawat untuk memindahkan Hana ke Ruangan VIP .


" Kita Rawat sebentar yah sampai dia benar-benar pulih."


Ibu dan Mama mengangguk.


Mereka pun mengikuti Hana yang di dorong oleh beberapa perawat. dengan troli bed. tanpa di sengaja mereka lewat di depan Lila dan Zaena. kedua sahabat itu kemudian mengikuti mereka hingga keruang VIP.


" Hana kenapa Bu?" tanya Lila pada Ibu.


" Tadi barusan dari poli nya dokter Lidya, waktu kita mau pulang Hana nya pingsan." ucap Ibu.


" Hana Hamil Bu??" tanya Zaena tiba-tiba.


" Waktu USG belum ada nampak janin, dokter Lidya nganjurin untuk testpack dulu." terang Ibu.


" Kami khawatir karena dia muntah-muntah terus jadi bawa kemari." Ucap Mama Melisa menjelaskan.


Sekitar setengah jam, Rubel diberitahukan oleh Lila dan Zaena bahwa Hana sedang di Ruang VIP. Rubel pun bergegas menemui Hana.


" Gimana Ma?" tanya Rubel pada Mama."


" Gak apa-apa cuma perlu istirahat sebentar."


" Hasil pemeriksaan gimana?" ucapnya penasaran.


" Belum ada tanda-tanda ada janin tapi dokter Lidya bilang coba testpack dulu. sekitar 3 Minggu lagi balik lagi untuk USG ulang."

__ADS_1


" Dokter Lidya udah pulang???"


" Loh kamu sendiri satu Rumah Sakit gak tahu dokter Lidya udah pulang??"


Rubel tersenyum malu, karena kesibukannya Dia tidak tahu apa-apa tentang keadaan di Rumah Sakit.


" Kayanya bakal di omelin habis-habisan nih sama dokter Lidya." Dumelnya pelan.


" Tadi aja dia kaget waktu Hana bilang suaminya Rubel." Ungkap Mama.


" Soalnya Dia juga jauh, Rubel gak sempat kabarin apa-apa ke dokter Lidya."


Tiba-tiba Hana bangun dari pingsan nya, dan seseorang mengetuk pintu, kemudian masuk keruangan.


Rubel terkejut, dia tidak menyangka dokter Lidya yang masuk ke ruangan Hana.


" Dok." sapa Rubel pada dokter Lidya. dan tersenyum.


" Masih ingat yah sama Aku???" tanya dokter Lidya sedikit kesal.


" Maaf dok, semua terlalu cepat jadinya gak ingat buat ngabarin dokter." ucap Rubel sedikit gusar.


Dokter Lidya menghampiri Hana.


" Gimana sayang???"l


" Masih pusing Tante.."


" Dengerin yah, kalo sampe Aku denger Kamu nyakitin Hana Aku ulek-ulek Kamu pake ulekan sambel." Celutuk nya kesal. Hana Ibu dan Mama tertawa mendengar dokter Lidya.


" Ih dokter segitunya, Hana dan Rubel kan dari kecil udah suka masa Rubel tega nyakitin Hana."


" Maksud mu???"


" Rubel udah janji buat nikahin Hana waktu kami kelas 3 SD."


" Bushet, beneran nih Kamu udah lama kenal??" Ucap dokter Lidya tidak percaya.


" Berarti perantara doang yah kasih kerja Hana ditempat Kamu, MasyaAllah emang udah jodoh yah." Ucapnya begitu luar biasa.


" Tapi Tante, waktu baru-baru jadi perawat nya Nyai, Rubel jutek banget sama Hana." kenang Hana.


Rubel terlihat salah tingkah atas pengakuan Hana.


" Itu kan kemaren tapi kan sekarang enggak lagi." ucapnya membela Diri. ingin sekali dia mencubit hidung Hana tapi ditahannya nanti diserang oleh 3 Emak-emak Rempong yang yang begitu sayang sama Hana.


******


Hari semakin senja, matahari sedikit lagi tergelincir di ufuk barat, burung-burung telah pulang kesarangnya. bergantian dengan kelelawar yang mulai sibuk mencari makan menjelang malam. Mereka semua sudah Kembali pulang ke Rumah.


Dainan dan Lia baru saja dari jalan-jalannya mereka berdua sangat menikmati liburannya. walaupun hanya naik angkot dan ojek.


" Hai, dari mana kalian?" Tanya Rubel pada Mereka berdua.


" Kami dari jalan-jalan naik angkot keliling Ibu Kota rencana nya besok mau ke Pantai." Cerita Lia.


" Wah maaf yah, Aku gak sempat nemanin kalian holiday, maklum Aku sibuk." Ucap Rubel merasa tak enak hati.


Lia memandang Hana, dengan pakaian gamis nya yang cantik berwarna biru muda.


" Bajunya cantik." ucap nya pelan namun masih terdengar oleh Hana.


" Kamu mau coba???" Tanya Hana cepat.


Lia tersipu malu, ternyata ucapannya di dengar oleh Hana. Hana menariknya ke kamar.


" Pilihlah yang baju yang kamu mau..." Ucapnya begitu perhatian.


" Serius?"


" Iya."


Rubel dan Dainan duduk di Ruang tengah. selama ini mereka belum sempat ngobrol satu sama lain. pertama jumpa juga hanya kebetulan saja.


" Pekerjaan kamu apa?" tanya Rubel penasaran.


" Aku dokter dan sering menangani pasien transplantasi sumsum tulang belakang."


" Deg"


Jantung Rubel berdegup tak karuan, dia merasakan sangat senang. karena ada orang yang lebih ahli untuk menangani penyakit Hana.


" Aku ingin ngobrol banyak masalah transplantasi sumsum tulang belakang, nanti habis sholat magrib kita lanjut boleh kan??" Ucap Rubel begitu antusias.


" Tentu saja.. Apakah aku boleh ikut belajar sholat??" Tanya Dainan penasaran.


" Oh, tentu ayok aku ajari kamu berwudhu." Ajak Rubel.


Mereka berdua segera mengambil wudhu, Rubel mengajari Dainan tahap demi tahap dengan begitu sabar. Alhamdulillah dengan mudah Dainan sudah mengerti. dia pun ikut ke dalam Mushola walaupun dia belum paham betul bacaan do'anya dia tetap berusaha untuk mengikuti semua oratng yang sedang sholat.


Lia tertegun melihat tunangannya, dia hanya memperhatikan semua orang. dan dia benar-benar kagum melihat pemandangan itu. walaupun hanya di dalam rumah mereka semua masih bisa melakukan sholat. tidak dengan Mereka yang hanya melakukan ibadah di saat tertentu.


Dia kembali ke kamar meraih baju yang diberikan Hana untuknya. dia pun mencobanya menggunakannya dan meraih jilbab nya. dia sampai terharu melihat perubahan dirinya di cermin.


" Cantik dan anggun." Gumannya pelan.


Diapun keluar kamar menggunakan pakaian itu, dia ingin menampakkan pakaiannya pada Dainan.


" Wow, beautiful." ucap Dainan terpesona.


" Thanks honey."


" Saya suka kamu pake itu jangan dibuka lagi tutup auratnya kaya Hana." Pintanya lembut.


" Tapi baju aku cuma 1 ini.."


" Besok kita beli lagi beberapa buat Kamu." ucap Dainan perhatian.


" Serius??? "


" Iya."


" Thanks honey."

__ADS_1


Rubel dan Hana sangat bahagia bisa membuat orang lain bahagia. waktu makan malam tiba, Rubel menarik kursi untuk Hana dan kemudian duduk disebelah nya.


Malam ini Hana terlihat biasa saja, Rubel mengambil nasi dan laok nya kemudian menaruhnya di depan Hana. porsinya tidak terlalu besar dan juga tidak sedikit. Hana paham maksud Rubel.


Sebelum makan Hana terlebih dahulu minum obat mual. selang beberapa menit barulah dia menyantap makanan nya. tak ada keluhan kali ini dan diapun melanjutkan makannya dengan santai.


Semua mata tertuju pada Hana, terlebih lagi Mama dan Ibu. Mereka sangat lega melihat Hana menyelesaikan makannya tanpa ada drama muntah - muntahan.


Rubel merasa sangat senang, Hana berhasil menghabiskan makannya. Hana berusaha menahan gejolak mual nya. Hana minum air hangat dan kemudian minum vitamin.


" Sayang Ana mau ke kamar." ucap Hana lembut. perlahan Hana berjalan dan Rubel menggandeng tangan Hana menuju kamar.


Hana duduk sambil menyandarkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rubel mendekati nya dan duduk disebelahnya. Hana meminta Rubel untuk membantunya melepaskan cadar dan jilbabnya.


" Mau ganti baju??" tanya Rubel pada Hana.


" iya. jawab Hana pendek.


Rubel mengambil baju daster yang sedikit longgar agar Hana bisa lebih rileks. Rubel membantu Hana menggantikan bajunya.


Rubel mencium kening Hana sangat lama. dia ingin sekali melepaskan hasrat nya. tapi dia takut Hana tidak siap melayani nya.


" Sayang, main tebak-tebakan yok." ucap Hana tiba-tiba.


" Main tebak-tebakan?"


" Iya, siapa kalah dia harus mijitin yang memang."


" Hadiahnya boleh request nggak?" tanya Rubel.


" Boleh deh, biar adil." Ucap Hana semangat.


" Ok pertanyaan pertama."


" Hewan apa yang paling sederhana?


" Ayam, abis dia nyeker kemana-mana gak pake sandal." jawab Rubel asal.


" Hahaha salah." ucap Hana membantah jawaban Rubel.


" Terus yang bener apa??"


" Hewan Ala kadal nya."


" Ah curang."


" Suka-suka dong." Ejek Hana puas.


" Ya udah sekarang Ino yah."


" Pemain bola yang beratnya 3 kilo."


" Anak bayi main bola." jawab Hana cepat.


" Salah yang bener Bambang tabung gas."


" hahaha seri yah." ucap Rubel senang.


" Ah aneh deh." celutuk Hana kesal.


" Ular berbisa yang gak pake bra?"


" Ular Cobra."


" Mendekati."


" Lah jadi apa dong.


" Ular gak pake bra lah." jawab Hana usil.


" ye... apa sih." Dengus Rubel kesal


" Ular kan emang gak pake bra." Jawab Hana sekena nya.


" Ya udah sekarang Ino."


" Buah apa yang paling enak??"


" Buah anggur."


" Salah."


Rubel pun mendekat ke telinga Hana dan berbisik.


" Buah dada sayang."


" Ah curang. masa pake anggota badan gak seru ah." ucap Hana kesal.Rubel mendekati Hana lagi.


" Inget nggak janji tadi pagi?" Desak Rubel.


" Janji?"


" Iya janji mau nyenengin Ino malam ini." tagih Rubel langsung ke inti nya.


Hana memandang Rubel sangat lama.


" Maafin yah sayang... Ana hampir lupa." Ucap Hana malu-malu.


" Kamu mau?" Izin Rubel. Dia ingin Hana melakukannya bukan karena terpaksa.


Hana mengangguk tanda setuju.


Rubel memeluk erat tubuh Hana kemudian mencium bibir Hana lembut. Dia tidak ingin terburu-buru, menghabiskan hasrat nya sesaat. Dia ingin Hana benar-benar nyaman agar mereka bisa menghabiskan malam yang panjang.


Sentuhan-sentuhan Rubel membuat Hana terbuai. dia merasakan tubuhnya sangat rileks. buaian itu membuat dia seakan mengantuk tapi dia berusaha untuk menunaikan kewajiban nya.


Akhirnya hasrat yang terpendam terbayar sudah. mereka melakukannya sangat lama hingga Hana kelelahan dan tertidur di pelukan Rubel. Rubel memindahkan hana, kemudian menutupi Hana dengan selimut, dan dia beranjak ke kamar mandi, mensucikan diri.


Hari baru jam 10 malam, Rubel keluar kamar berharap dia masih punya kesempatan ngobrol dengan Dainan. Rubel terkejut melihat Dainan yang duduk bersila di atas sajadah di dekat Mushola. dia pun menghampiri Dainan.


Rubel kaget melihat Dainan yang diam-diam menangis. Entah apa yang membuat dirinya terlihat begitu rapuh. Air matanya terus mengalir, tanpa bisa dia tahan. Rubel melihat ke sekeliling nya, semua orang telah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Rubel ragu menyapa Dainan dia pun membiarkan Dainan mengeluarkan keluh kesahnya di hadapan Allah.


" Hai dukung terus karya Author yah jangan lupa Vote like dan komennya yah 🤗😍"

__ADS_1


__ADS_2