Dokter Cool

Dokter Cool
Bab 14


__ADS_3

Rubel telah sampai di bandara Soekarno Hatta. Diantar oleh dion dan supir barunya yang merangkap Body guard hana.


“thanks yah bro,udah anterin aku." Ujarnya pada mereka berdua.


“Diko, aku titip Hana. Tolong jaga dia sebaik mungkin." ujar Rubel pada Diko sisupir sekaligus bodyguard hana.


“Jangan khawatir aku akan berusaha semampuku, ini sudah kewajiban ku.” Ujar diko jelas.


“jaga dirimu.” Ujar Dion perhatian sambil menepuk punggung Rubel.


“Jaga Hana dan nyai yah.” titip Rubel pada mereka berdua.


Dia menuju terminal 3, dan melangkah ke counter maskapai untuk check in dan memesan bagasi, melewati pintu X Ray dan masuk keruang tunggu.. setelah setengah jam menunggu akhirnya Rubel bisa masuk kedalam pesawat berjenis Airbuss A330 – 200.


Rubel transit di Denpasar Bali, tiba di bandara Ngurah Rai, Rubel bergegas mengambil wudhu untuk sholat magrib, dia memilih sholat di salah satu pojokkan ruang tunggu.


Jadwal penerbangan pukul 21.25 WITA. Dia memilih seat di dekat jendela. Kebetulan saat itu nomor kursinya A. Dia mencoba menyandarkan pada kursinya dan menarik selimut yang diberikan pramugari padanya. Matanya masih saja belum terpejam, hatinya masih gelisah mengingat Hana dan nyai. Waktu hampir tengah malam. Seorang Pramugari menyodorkan makanan dengan menu western. Selesai menyantap makanan itu Rubel pun terlelap.


Hari mulai subuh dia mengambil wudhu dan hendak solat di seatnya. Tak berapa lama. Sarapan pun diantar seorang pramugari dengan senyuman manis, menyodorkan sarapan itu, ada roti, sosis, pie dan menawarkan.


Kopi, tapi Rubel menolaknya dan meminta sebotol air mineral.


Jam 06.25 waktu Sydney pesawat mendarat di bandara kingsford Sydney. dia pun menunggu taksi pesanan nya, 39 menit perjalanan dari bandara kingsford menuju fairfield hospital Sydney. Sampai lah mereka dirumah sakit. Rubel membayar taxinya dan segera ke tempat informasi rumah sakit itu, dan segera keruangan mamanya dirawat.


Dia mengetuk pintu kamar ruangan dimana mamanya dirawat. Dia bingung kalo mamanya kena serangan jantung seharusnya mamanya di rawat di ruangan ICCU.


Perlahan dia masuk.. melihat mamanya sedang tidur. Perlahan dia keluar mencari informasi kebenaran tentang keadaan mama nya. Dia mendekati ruang jaga perawat.


“My I ask a patient by the name Melisa?” Tanya Rubel pada salah seorang perawat jaga.


“off course.” Jawab perawat itu sopan.


“What does madness Melisa?” Tanya Rubel lagi.


“Mrs. Melisa has a fever.” jelas perawat itu.


“Ok, thanks. Tahulah Rubel bahwa itu adalah akal-akalan mamanya agar dia segera berangkat ke Sydney. Tapi sepertinya ada sesuatu yang sedang direncanakan mamanya.


Dia masuk ke kamar mama nya dan mencoba tidur di atas sofa. Tapi matanya masih sulit terpejam. Akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan pesan chat kepada Lila, yah saat kemarin dia belum bertemu dengan sahabatnya itu jadi dia tidak sempat pamit dengan Lila.


“Hai Lila.”sapa Rubel pada Lila.


Tak berapa lama pesan pun dijawab.


“woy, pergi gak bilang-bilang. Aku tahunya dari dion.” Ujar Lila kesal.


“Maafya aku buru-buru berangkat ke sidney.” Jawab Rubel.


“ah aku malas chat sama kamu,kamu udah enggak menganggap aku sahabat.” Jawab nya kesal.


“kan setidaknya Dion udah bilang.. ngomong-ngomong Dion udah jadian ma kamu.?”tanya Rubel menyindir sahabatnya itu.


“apaan sih.” Jawabnya pendek.


“Jiah ngambek, aku nanya serius.” Tanya Rubel lagi.”


“Aku 2 rius lagi.” Jawab Lila masih marah.


“tumben sih kamu marah biasanya kamu yang paling bijak, dan selalu menasehati ku.” Ujar rubel menjelaskan.


Baru lah Lila sadar chat itu tidak seperti dirinya.


“Ops, maaf yah abis kesel sama kamu, pamit sama yang lain, masa sama aku kamu gak pamit. Itu aja Dion yang bilang.” Jawabnya lagi.


“ya udah aku minta maaf, tolong pantau Hana yah, sejak kemarin dia menginap di rumahku untuk menjaga nyai. Kamu kan tahu kondisi dia tidak stabil kadang-kadang masih suka ngedrop.” Pinta Rubel pada Lila.


“Ah telat, kamu. Dari kemarin aku dan Dion sudah kerumahmu, semalem aku cek tekanan darah Hana kondisi nya lumayan baik tapi tekanan darahnya Cuma 90/70 mmHg. Tapi kamu gak usah khawatir dia kan pasienku sekaligus kekasihnya sahabatku aku pasti membantunya.” Jawab Lila panjang.


“You are the best my friend.” Makasih yah sahabatku titip salam untuk cintaku.” Ujarnya menggoda.


“woi kamu yang pacaran masa titip nya sama aku, lagian kan Hana juga udah punya ponsel.” Jawabnya kesel.


“Ya udah aku chat sendiri.” Ujarnya mengalah .


“Bye.”rubel pun menutup chat itu. Kok aku lupa Hana udah punya ponsel sendiri ujarnya dalam hati dan terkekeh sendiri.


Seseorang memperhatikan nya. Kok anak mama senyum-senyum sendiri. Dia pun tersadar bahwa mamanya sudah bangun. Di beranjak dari sofa dan menghampiri mamanya.


“Gimana mama udah sehat?” tanya Rubel pada Mama.


“kamu kan udah lihat sendiri sambil menunjuk kan selang infus yang masih terpasang.” Jawab mama seakan menyembunyikan sesuatu.


“ Yah udah mama istirahat aja, Rubel mau tidur sebentar yah ngantuk banget.” Ujarnya pada Mama dan langsung baring di sofa.


“Emangnya rubel gak rindu mama?” tanya mama dengan nada sedikit kesal karena anak bungsunya itu lebih memilih tidur dari pada menemani dirinya mengobrol.


“Mama kan sakit ngapain ngobrol.” Ujarnya sambil memejamkan matanya.


Suara pintu dibuka, Rubel terbangun.


“oh Rubel udah sampei.” Tanya orang itu.


Dia pun duduk dari baring nya.


“iya pa.” Jawabnya pendek. Dia mencoba bangun dan mengajak papa tirinya keluar kamar.


“Pa... Rubel boleh nanya?” Tanya Rubel pada lelaki seumuran mamanya itu.


Tahulah dia pasti anak tirinya itu ingin mengetahui hal yang sebenarnya.

__ADS_1


“ Kita ke kantin yok.” Ajaknya pada rubel.


“ok.”


Mereka pun berjalan menuju kantin rumah sakit. Kantin rumah sakit itu layaknya cafe berbintang lima.


Mereka memilih duduk di dalam.


“pa, papa kan tahu Rubel banyak pasien. Dan lagi nyai sendiri. Ujarnya to the poin.


“ini semua karena mama. Papa sudah bilang untuk tidak mengatakan hal-hal yang aneh-aneh seperti ini. Tapi mama memohon agar dia bisa ketemu kamu. Jawabnya dengan nada menyesal.


“Ok,semua udah terlanjur. Papa jawab apa motif mama melakukan ini semua.” Tanya Rubel lagi.


“tapi, Kamu jangan marah yah.”


“memangnya marah kenapa.” Tanya Rubel heran.


“Mamamu ingin kamu segera menikah.” Jawabnya jelas.


“Masalah itu kan bisa dibicarakan di telpon tidak harus Rubel kemari.” Jawabnya dengan nada tinggi.


“Bukan itu masalahnya. Mama ingin kamu menikahi Lia sahabat mu itu.” Jawab papa tirinya itu cepat.


“apa? jangan main-main dong pa. Rubel gak mau.” Jawab nya tegas.


“tolong lah nak.” Turuti permintaan mamamu kali ini aja. Setelah itu Rubel bebas melakukan yang Rubel mau.” Ujarnya memohon.


Rubel terdiam, dia seperti sedang menghadapi buah simalakama. Di Satu sisi mamanya dan di satu sisi lagi dia telah berjanji mencintai Hana dan akan menikahinya. Padahal hanya tinggal selangkah lagi mereka akan menikah.


Dia berlalu meninggalkan papanya di tempat itu. Dia berlalu ingin rasanya dia berteriak dirumah sakit itu.


Dia mencari tempat untuk sholat duha. Di pojokkan lorong di ruangan kamar mamanya ada ruangan kecil tanpa sekat tempat itu biasa digunakan untuk beberapa orang penjaga pasien untuk beristirahat.


Dia mengambil sajadah kecil di tas ransel nya. Dan berlalu mengambil wudhu dan melanjutkan sholat. Dia melakukan sholat sunat dan melanjutkan sholat duha.


Selesai sholat dia berdo'a.


“Ya Rabbi, sesungguhnya mati dan hidupku adalah kepunyaan mu. Dan engkau lebih tahu apa yang aku rencanakan. Tolong hamba Ya Rabbi. Berikan petunjukmu. Jangan kau biarkan hamba dalam kegelisahan. Bantu hamba ya Rabbi. Bantu hamba. Hamba mohon padamu.. pertemukan lah hamba dengan Farhana (ana) dalam ikatan pernikahan, aamiin.” Do’a itu terdengar menyayat hati. Seseorang sedang memperhatikan nya dan mendengar semua do’anya Rubel.


“hai.” Sapa gadis itu pada Rubel yang sedang menundukkan kepalanya. Merasakan hatinya begitu pilu.


Dia menoleh ke arah suara.


“Eh, kamu Lia.” Balas nya setelah tahu Lia yang menyapa. Dia berharap Lia mendengar semua yang dia ucapkan saat berdo'a tadi.


“kapan sampai?” tanya Lia pada Rubel yang masih duduk disitu sambil melipat sajadahnya.


“tadi, subuh. Jawabnya datar tak bersemangat.


“kamu udah sarapan?” tanya Lia lagi.


Lia menyadari Rubel tidak bersemangat untuk berbicara dengan nya.


“Okelah, aku akan keruangan mamamu.” Ujarnya dan berlalu meninggalkan Rubel. Hatinya sangat pedih mendengar Rubel berdo'a tadi. “Ternyata dia sudah punya kekasih bahkan akan segera menikah.” Batinnya menelangsa.


Rubel mengambil ponsel di saku celananya. Dia membuka ponselnya dilihat foto Hana di wallpaper pembuka ponselnya.


Dia pun berinisiatif untuk menghubungi Hana. Jam menunjukkan pukul 10.25 waktu Sydney. Dan 06.25 WIB waktu Indonesia.


Hana sedang membantu bibi menyiapkan sarapan. Terdengar suara ponsel di dalam kamar tamu. Dia belum bisa mengatur ponselnya jadi suara ponsel itu sangat nyaring terdengar. Dia bergegas meraih ponsel itu.dan dilayar bertulis “Ino sayang”.


“Assalamualaikum.” Ujarnya mengangkat telpon itu.


“waa’laikumsalam.” Jawab Rubel. Kok lama angkat telpon e nya kamu lagi ngapain?” tanya Rubel dengan nada kesal.


“Maafin ana sayang ana lagi siapin sarapan kan disini baru jam setengah tujuh.” Ujarnya menjelaskan.


“Kamu sehat kan?” tanya Rubel begitu khawatir.


“alhamdulillah, ana baik baik aja kok semalem juga dokter Lila kemari sama Dion.” Jawabnya menjelaskan.


“Sayang, ana rindu sama Ino?” tanya Rubel penasaran.


“ana gak rindu kalo jauh tapi kalo Deket ana rindu.” Jawabnya asal.


“jiah kok gitu, ana bohong deh. Masa rindu kalo Deket kalo jauh gak rindu.”celetuknya menimpali.


“lagian mana ada dokter rindu sama perawat KWnya.” Ujar hana menyindir Rubel.


“hei, udah deh gak usah bahas perawat KW lagi.”ujarnya ketus.


Hana terkekeh dia senang mendengar Rubel cerewet seperti itu. Ingat jutek Rubel waktu belum tahu siapa dia.


“sayang sepertinya Ino akan sedikit lama di Sydney.” ujar rubel pelan.


Hana terhenyak mendengar ucapan itu. Walaupun mereka sering berantem, tapi Rubel adalah laki-laki kedua yang sangat dia cintai setelah ayahnya.


Dia diam, tanpa menjawab ucapan Rubel.


“Ana dengerin Rubel sayang.” Ana diam dia merasa sangat sedih seperti dia akan kehilangan Rubel. Ada perasaan aneh menyeruak dalam hati dan jiwanya.


“Ok, kalo gitu Ino balik sekarang ino gak akan perduli kan mama apapun itu.” Jawabnya kesal.


“Maafin ana sayang.. maafin ana. Kita baru saja dipertemukan sejak belasan tahun lalu kita berpisah. Ana seperti merasakan hal yang sama.. Ino pahamkan maksud ana. Ujarnya menjelaskan.


“Maafin Ino sayang, Ino janji setelah urusan di Sydney selesai Ino akan segera ke Indonesia. Jawabnya menyemangati.


“Ya udah ana jangan telat makan, kalo mau pergi minta antar sama supir, jangan lelah kalo gak sanggup kerja bilang sama bibi. Ino gak mau ana ngedrop lagi,dengerin Ino yah!!pintanya penuh harap.

__ADS_1


“Iya bawel.” Jawab ana cepat.


“ah terserah deh mau bilang bawel.” Itu juga untuk ana.” Emuach.” Ucapannya terakhir itu membuat Hana diam.


“Hei jangan diam aja. Balas dong ciuman Ino.” Pintanya pada ana.


“em..” jawab ana pendek.


“Lagi,yang serius dong.” Ujar Rubel gemes.


“emmuach. Puas.” Jawab Hana kesal.


“Nah gitu dong.” Jangan nakal yah, jangan genit-genit. Ujar Rubel lagi seperti enggan berhenti menutup telepon.


Tut. Telpon diputus sepihak oleh Hana. Dia merasa hatinya tidak karuan. Ada perasaan pedih di lubuk hatinya yang terdalam.


Hana membiarkan air matanya mengalir di pipi. Dia tidak ingin terlalu memikirkan sesuatu yang jauh, nanti malah nyai yang mengurus dia ujarnya membatin. Diseka air mata itu dan berjalan ke meja makan. Nyai telah menunggu nya.


“siapa yang menelpon? Tanya nyai pada Hana.


“Ino nyai.” Jawabnya cepat.


“kita sarapan dulu.” Ujar nyai pada ana.


Tiba -tiba seseorang mencoba menerobos masuk. Dia berteriak memanggil nyai.


“nyai,ana mau masuk.” Teriak gadis itu di pintu pagar. Diko tau gadis ini sewaktu dia dan dion menjemput Kirana tempo hari.


“Pergi!!” gak ada tempat.buat kamu disini. Ujar Diko tegas.


“Hei banci beraninya sama perempuan.” Jawab Kirana ketus.


“Nyai Aku mau ketemu nyai. Jangan percaya dengan gadis kampungan itu dia pembohong.” Ujar Kirana seperti orang gila. Nyai dan Hana melihat dari dalam tanpa berani keluar.


Kirana mengambil batu dan hendak melempar kearah Hana. Tapi keduluan di tendang oleh Diko dan terlempar jauh masuk ke got.


“ hei banci, yang Lo lawan itu perempuan bukan laki-laki. Jadi gak usah sok membela gadis kampungan itu. Dia udah merebut pacar aku.” Ujar nya tak malu.


Seseorang mendekati kirana. “Sayang, malu dilihat orang.” Ayook kita pulang.”Ajak wanita itu pada Kirana.


“Mama gak lihat gadis kampungan itu telah merebut semua yang aku punya!!” teriak Kirana sambil menunjuk ke arah nyai dan Hana.


“mama mencoba menarik Kirana dengan paksa.” Diko yang melihat merasa iba pada Mama Kirana.. dia mencoba memegang Kirana dan mengantarkan Kirana pulang dan kembali ke pos jaga.


Hana seperti trauma, dia langsung terkulai lemas jatuh di ruang tamu.


Nyai langsung berteriak.


“Tolong!!!tolong!! Bibi, Diko tolongin Hana pingsan. Ujar nyai cepat.


Diko langsung masuk kedalam rumah menggendong Hana dan membawanya kedalam kamar. Nyai begitu khawatir, Diko yang melihat segera menghubungi Dion.


“Pak, Hana pingsan.” Sebelum dia pingsan Kirana datang memaki-maki nya. Aku sudah mencegah kirana bahkan menangkapnya dan mengantar Kirana pulang.” Jelasnya panjang.


“ok tolong jaga sebentar. Aku akan menghubungi Lila.” Jawab Dion cepat.


Bibi mengambil minyak angin menempelkan pada hidung Hana agar gadis itu segera sadar. Nyai hanya bisa melihat tak mampu berbuat apapun karena terlalu panik.


Tak berapa lama Lila dan dion tiba dirumah Rubel.


Dia langsung memeriksa nadi Hana. Mengangkat kaki Hana dan mengganjalnya dengan bantal. Dia meminta bibi untuk melonggarkan pakaian Hana. Tak berapa lama Hana pun sadar.


“bi tolong ambilkan teh manis hangat.” Pinta Lila pada bibi.


Tak berapa lama bibi kembali dengan teh manis hangat di tangannya.


“ini non.” Ujarnya sambil memberikan teh itu pada Lila.


Bibi telah menyiapkan sedotan agar Hana bisa meminumnya tanpa harus duduk.


“Gimana Hana?” tanya nya agar Hana menjawab.


“Aku gak apa-apa.” Jawab Hana pelan.


Nyai dan bibi keluar kamar meninggal kan Lila dan Hana. Dion duduk di teras rumah ditemani Diko.


“Pak seperti nya Kirana itu stress. Bicaranya seperti orang gak waras.” Ujarnya bercerita.


“selalu waspada kita tidak tahu akan terjadi apa lagi kedepannya.” Jawab Dion tegas.


“Baik, pak laksanakan.”jawab Diko cepat.


“dokter Lila, jangan bilang sama Rubel yah.” Ucapnya pada Lila.


“udah Hana gak usah mikirin apa-apa yang penting Hana sehat.” Jawab dokter Lila menenangkan.


“Kalo kamu gak kuat, kasih tahu biar kita rawat dirumah sakit.” Ujar Lila.


“jangan dok, Hana gak apa-apa kasian nyai kalo Hana di rawat.” Pinta nya pada Lila.


Baiklah Hana aku dan Dion harus kembali kerumah sakit. Kasian zanna ujar Lila pada Hana.


“Lila sampaikan salam ku untuk zanna.” Nanti aku akan kerumah sakit untuk mengunjungi nya. Ujar hana pada lila.


Lila menghampiri Dion di teras rumah, mereka berpamitan dengan nyai Rubel.


“Makasih yah kalian udah bantuin nyai...ujar nyai pada mereka berdua.


“Iya nyai, ini adalah tugas Lila dan Dion. Rubel telah memberikan amanah untuk kami berdua. Jadi kami akan lakukan semampu kami untuk menolong hana. Dan mereka pun berlalu meninggalkan perumahan itu menuju Rumah Sakit Z.

__ADS_1


hai semuanya terimakasih yang udah mampir ke Novel ku, jangan lupa vote like dan komennya. maaf kan masih banyak kekurangan dalam tata bahasa.. karena Author hanya lulusan SMU.. terimakasih buat yang udah singgah 😍


__ADS_2