Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 94


__ADS_3

Alan sampai di Rumah, dia benar-benar kesal dengan apa yang Mia ucapkan. Alan pun masuk kedalam rumah dengan langkah terburu-buru.


" Assalamu'alaikum." ucap nya pada bibi yang sedang berjalan ke arah dapur.


" Waa'laikum salam." jawab Bibi dan membalikkan tubuhnya melihat sang majikan.


" Tumben." guman bibi pelan karena melihat Alan yang berjalan dengan kasar menuju kamarnya. bibi pun berinisiatif untuk menghampiri sang majikan menanyakan soal Mia.


" Den, maaf apa bibi boleh nanya?" tanya bibi dari arah luar kamar.


" Iya bi mau nanya apa?" tanya Alan cepat dan membalikkan badannya menuju bibi.


" Gimana kabar anak bibi den?" tanya bibi dengan wajah penuh kekhwatiran.


" Mia gak apa-apa bi nanti juga sehat." jawab Alan mencoba menutupi masalah yang sebenarnya.


" Tapi perasaan bibi kok gak enak yah." jawab bibi pelan.


" Ehm, gak apa-apa bi Alan akan bantu sebisanya untuk kesembuhan Mia yah, sekarang bibi gak usah khawatir lagi Mia pasti segera sembuh."


" Iya den, makasih yah tapi ada hal lain yang harus bibi sampaikan sama den Alan, apa boleh bibi ceritakan sesuatu sama den Alan." ucap bibi begitu serius.


Alan berjalan menuju ruang keluarga, di ikuti sang bibi. Alan duduk di sofa sedangkan bibi duduk di karpet.


" Bibi, kok duduk dibawah sih bi bibi udah Alan anggap seperti keluarga loh kenapa masih seperti ini, lagian cuma bibi satu-satunya orang terdekat Alan yang masih ada." ucap Alan begitu perhatian.


" Den, bibi minta maaf udah menyusahkan den Alan untuk menjaga Mia di Rumah Sakit." ucap bibi pelan.


" Bibi, gak apa-apa jangan sungkan begitu Alan gak apa-apa kok." jawab Alan menenangkan.


" Den, sebenarnya bibi sama mamang bukan orang tua kandung nya Mia." ucap bibi terbata-bata.


Alan terdiam, begitu lama bibi menyimpan rahasia ini dia benar-benar bingung harus berkata apa.


" Terus??" tanya Alan penasaran.


" Dia anaknya majikan bibi yang dulu, sebelum bibi bekerja di rumahnya Aden Alan, Mama dan Papa nya Mia meninggal saat Mia baru berusia seminggu, mereka mengalami kecelakaan mobil saat perjalanan menuju Rumah Sakit untuk melakukan cek up kondisi nyonya pasca operasi melahirkan Mia." ucap bibi terbata-bata. tiba-tiba mamang datang melihat bibi begitu sedih dia pun merangkul sang isteri.


" Iya den, non Mia anak majikan nya kami yang dulu, setelah kejadian kecelakaan mereka sempat dilarikan ke Rumah Sakit tapi sang isteri telah lebih dulu meninggal, sedangkan tuan masih sempat berwasiat agar kami bisa menjaga anaknya hingga non Mia dewasa." cerita mamang panjang.


" Den kalo terjadi sesuatu sama non Mia, bibi benar-benar gak bisa menjaga amanah majikan bibi yang terdahulu." ucap bibi.


Alan menghela nafas panjang, dia benar-benar tidak pernah membayangkan kehidupan Mia lebih buruk dari kehidupan nya. kondisi mereka berdua saat ini benar-benar sama, sama-sama anak yatim-piatu.


" Apakah Mia tidak punya saudara lain?" tanya Alan.


" Seingat bibi gak ada den, tapi Papanya Mia punya adik tiri laki-laki dan saat ini yang menguasai Rumah Peninggalan Papa nya Mia.


" Ehm, begitu bibi gak usah khawatir Alan akan bantu bibi buat Carikan pasangan buat Mia." ucap Alan.


Alan pun bangun dan meninggalkan kedua suami isteri itu. berjalan menuju kamarnya. sambil memandang langit-langit kamarnya.


" Hadeuh-hadueh kok hidup gadis jutek itu rumit banget yah." gumannya.


" Udah jatuh ditimpa tangga lagi." Alan pun tertidur.


Waktu terus berlalu, suara azan terdengar sangat dekat. Alan terkejut dari tidurnya karena bermimpi sesuatu.


" Astagfirullah, Alhamdulillah cuma mimpi tapi kenapa wajah Mia begitu pucat seperti mayat hidup." ucap Alan.


Diapun bangun dan segera mandi kemudian melanjutkan untuk sholat Magrib. tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


" Den, kalo Aden ke Rumah Sakit tolong bawain Mia makanan yah. bibi taruh di meja ini karena bibi harus menyediakan makanan buat orang-orang yang masih datang.


" Ehm, iya bi nanti saya antar." jawab Alan cepat. dia segera melipat sajadah nya. dan mengganti kan pakaian Sholat nya dengan pakaian kasual.


Alan keluar dari kamar meraih sebuah rantang. dan berjalan keluar rumah. waktu menunjukkan jam setengah delapan malam, tiba-tiba hujan gerimis Alan pun terburu-buru masuk kedalam mobil. di perjalanan yang ada bayangan mimpinya soal Mia.


" Apa terjadi sesuatu dengan gadis jutek itu?" batinnya terus bertanya.


dengan kecepatan sedang Alan pun tiba di Rumah Sakit. seseorang datang menghampiri Alan yang tiba dengan mobil mewah.


" Hai ganteng ngungjungin siapa sih kok perhatian banget?" tanya gadis itu.


" Ehm, dia sepupu aku. gimana kabar mu via maaf tadi siang kita gak sempat ngobrol." ucap Alan. sambil meraih rantang di dalam mobil.


" Boleh juga nih si miskin apa iya dia sekarang udah kaya, atau jangan-jangan ini mobil majikannya kali yah." batin Via.


" Hei kok melamun, apa kita bisa makan malam bersama?" tanya Alan.

__ADS_1


" Pengen sih, cuma aku sudah janji sama dokter Angga buat makan malam bareng." ucap via malu-malu.


" Ya sudah lah, aku lupa kalo kamu sudah punya Angga lagi pula mana mungkin orang miskin seperti aku bisa jalan dengan anak orang kaya seperti kamu." ucap Alan tegas dan berlalu meninggalkan via.


" Sial miskin aja belagu, beneran kan yang aku fikirkan pasti itu mobil mewah majikannya." gerutu via kesal.


Alan masuk kedalam tanpa mengetuk pintu, betapa terkejutnya Mia karena dia baru saja keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk.


" Dasar mesum, keluar kamu." teriak Mia keras.


Alan segera keluar, benar-benar dia tidak menyangka akan di usir oleh Mia.


" Sepertinya aku memang salah udah berbaik hati sama kamu, lihat aja gak akan ada yang ngurusin kamu lagi." gerutu Alan, dia hendak beranjak tapi tiba-tiba terdengar suara benturan keras di dalam kamar.


" Apa sih maunya, gak ada kerjaan banget sih dia." ucap Alan jengkel dan bergegas masuk melihat keadaan Mia.


Mia terpeleset, hingga kepalanya membentur ranjang. Alan tertawa terbahak-bahak. sungguh pemandangan yang sangat lucu baginya. Mia berusaha bangun tapi dia merasakan perutnya sangat sakit.


" Emangnya dengan meringis seperti itu aku akan mempercayai kamu?" ucap Alan dengan nada mengejek.


Mia memilih diam, mencoba bangun dengan pelan-pelan berpegang di sisi ranjang. sambil mengusap kepalanya yang benjol. Alan tidak memperdulikan nya dia bahkan menganggap iti hanya akal-akalan Mia saja.


Alan berdiri melihat Mia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbalik menghadap tembok tanpa berkata sedikit pun.


Alan pun memilih pergi karena tidak seharusnya dia berada di ruangan itu. ketika Alan keluar Mia segera meraih pakaiannya dan memakai nya. dia merasakan kepalanya terhuyung-huyung dan hampir jatuh seseorang datang tepat waktu dan menolongnya. betapa terkejutnya Mia laki-laki itu adalah teman semasa kuliah nya dulu.


" Maaf mbak saya tidak sengaja saya cuma ingin menolong mbak." ucap Abi sambil melihat wajah Mia dengan lama.


" Ya aku gak apa-apa kok." ucap Mia dengan malu-malu dan segera melepaskan tangan Abi.


" Maaf kepalamu kenapa?" tanya Abi.


" Eh ini cuma kejedot ranjang." jawab Mia cepat. sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


" Tunggu yah aku olesin sesuatu supaya benjolannya bisa segera sembuh.


" Enggak apa-apa bi, nanti juga sembuh lagian ini cuma benjol dikit aja kok gak usah repot-repot." ucap Mia merasa segan.


Tapi Abi segera berlalu dengan cepat dengan membawa sebuah botol kecil minyak kayu putih. tanpa bertanya lagi dia segera mengoleskan minyak itu ke kening Mia. tiba-tiba pintu di dorong dengan keras. Alan terkejut karena melihat wajah Abi dan Mia begitu sangat dekat.


" Maaf-maaf aku..." ucap Alan cepat.


" Baru aja di tinggal sebentar udah asik-asikan sama cowok lain." gerutu Alan kesal.


Mia hanya diam, dia malas meladeni Alan. sambil meraih rantang yang di bawa Alan.


" Hei, siapa yang menyuruh mu mengambil makanan itu? itu makan malam aku." teriak Alan.


Tapi Mia tetap kekeuh untuk membuka rantang itu. dan mengambil makanan secukupnya. Alan hanya tersenyum kecil karena dia tidak menyangka Mia akan berbagi makanan untuknya. tapi karena Mia lebih memilih diam, Alan pun mengambil makanan itu tanpa bersuara.


Mereka berdua asik dengan piring masing-masing. Alan dan mia menyelesaikan makannya bersamaan. tiba-tiba muncul keisengan Alan terhadap Mia. dia meraih rantang itu dan merapikannya menaruhnya di atas meja. kemudian berjalan ke arah stop kontak. mematikan lampu kamar. membuat Mia terkejut.


" Astagfirullah, gak bisa yah lihat aku beristirahat sebentar aja udah mulai lagi." gerutu Mia kesal.


" Kan enak gelap-gelapan biar bisa kikuk-kikuk sama mas perawat." ucap Alan menggoda.


Mia berjalan ke tempat tidur cahaya dari luar ruangan membuat Mia tidak merasa cemas.


" Hei, emang dasar ular habis makan malah tidur gak ada kerjaan lain apa?" teriak Alan kesal.


Mia tetap pada pendiriannya memilih diam dari pada meladeni Alan. dia tidur membelakangi Alan.


" Kok bisa cuek gini yah, seharusnya yang cuek itu aku bukan Dia." batin Alan.


" Ya udah malam ini kamu tidur sendiri aku mau pulang." ucap Alan cepat. dan melangkahkan kakinya menuju pintu. terlintas dibenak nya semalam mereka tidur bersama.


" Bentar lagi juga kamu bakal panggil aku, kamu kan takut sendiri." batin Alan.


Tapi Mia masih juga diam, tanpa Mia sadari Alan berjalan ke arahnya perlahan-lahan. Mia merasa sangat sedih, Alan merasa mulutnya sudah keterlaluan, akhirnya dia pun duduk di sofa. waktu terus berlalu Mia merasa ingin buang air kecil dia pun menghidupkan lampu, betapa terkejutnya dia melihat Alan tertidur di sofa.


Mia meraih selimut yang ada didekat sofa dan menyelimuti Alan pelan-pelan. saat dia ingin berjalan tiba-tiba Alan meraih tangannya.


" Terrnyata diam-diam kamu suka ma aku yah??" tanya Alan asal.


Mia tetap diam, dia berusaha tidak mempedulikan Alan. membuat Alan semakin kesal.


" Apa seperti ini cara mu memperlakukan majikannmu?" tanya Alan kesal.


" Maaf den, sebaiknya Aden pulang saja biarkan saya sendiri." ucap Mia tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


" Sudah malam begini kamu malah mengusirku, dasar..."


" Iya, aku cuma anak pembokat sudah seharusnya aku mengurusi semua urusan ku sendiri jadi den Alan gak usah repot-repot menjaga aku." ucap Mia kasar.


Alan terdiam, awalnya dia hanya ingin mencandai Mia, tidak menyangka Mia bisa begitu marah padanya. Alan menarik tangan Mia hingga Mia terjatuh di atas tubuhnya.


" Apa mau mu sih?" tanya Mia kesal.


Alan menatap wajah Mia, dia merasakan sesuatu yang akan meledak dari dadanya. seketika wajah Mia memerah karena Alan menatap nya begitu intens. dia ingin berlari tapi Alan terus memeluknya dengan sangat erat.


" Den."


" Siapa yang menyuruhmu memanggil ku dengan sebutan itu lagi?" tanya Alan.


" Maaf aku mau ke kamar mandi mau pipis." ucap Mia malu-malu.


" Buruan bangun, entar malah..." ucap Alan menggoda.


Mia berusaha bangun tapi Alan lupa melepaskan pelukannya.


" Lepasin dulu tangan kamu biar aku bisa bangun." ucap Mia malu-malu.


" Eh, maaf tangannya kenapa ngelem yah jadi susah lepasnya." ucap Alan menggoda.


" Serius dong, aku mau pipis nih."


Dengan segera Alan melepaskan tangannya, membiarkan Mia bangun. dia pun tersenyum karena berhasil menggoda Mia. Mia pun terburu-buru masuk ke kamar mandi dengan wajah bersemu merah.


" Wajahnya imut juga yah." guman Alan pelan.


Mia keluar dari kamar mandi dan segera duduk di ranjang. dia membalikkan tubuhnya membelakangi Alan. dia benar-benar merasa malu dan bingung menghadapi Alan. bagaimana pun Alan adalah majikannya.


" kamu marah yah?" tanya Alan.


" enggak." jawab Mia.


" Kenapa munggungin aku?" tanya Alan lagi.


" Ngantuk." jawab Mia singkat.


" kalo ngantuk kenapa masih jawab."


" Kan di tanya." jawab Mia tak mau kalah.


" kan bisa diemin aja." ucap Alan lagi.


" Entar bilangnya aku gak sopan." jawab Mia lagi.


" Oh, udah pinter yah." ledek Alan lagi.


Akhirnya Mia mengalah, mendiami Alan untuk beberapa saat. tapi entah mengapa Alan menjadi semakin tertarik untuk terus menggodanya.


" Aku matiin lampu yah karena susah tidur?" tanya Alan. sambil mematikan stop kontak.


Mia tidak menyahut bahkan dia hanya diam, dia mengalah dari pada malam-malam harus ribut dengan sang majikan. Alan berjalan ke arah tempat tidur Mia. dan tiba-tiba duduk di samping Mia. terdengar suara ranjang berdenyit. membuat Mia semakin tak karuan. tanpa di sengaja Alan menyentuh kaki Mia yang terasa dingin.


" Kamu takut?" tanya Alan.


" E-enggak." jawab Mia terbata-bata.


" Terus kenapa kakimu begitu dingin?" tanya Alan lagi.


" Maaf aku..." ucap Mia terputus.


" Tidur lah, aku hanya ingin menemani mu nanti kalo kamu sudah tidur aku akan segera pindah ke sofa." ucap Alan perhatian.


Detak jantung Mia berdetak semakin kencang, Alan merasakan Mia benar-benar aneh.


" Apakah aku semenakut itu?" tanya Alan. sambil memegang tangan Mia yang semakin dingin.


" Maaf den, tapi ini kali kedua kita dekat dan membuat aku merasa canggung." jawab Mia jujur.


" Ya sudah lah, anggap saja aku ini abang mu jadi kamu gak usah takut aku gak akan macam-macam sama kamu." jawab Alan. dia pun meraih selimut menutupi tubuh Mia, tanpa terasa mereka kembali tidur bersama. waktu terus berjalan hingga waktu subuh tiba, seseorang masuk kedalam kamar dan tiba-tiba berteriak membuat Alan dan mia terkejut bersama.


"


"


"

__ADS_1


" Kira-kira siapa yang berteriak yah?" hehehe penasaran kan pantengin terus yah novelnya,maaf kalo telat selalu update nya 😂, terimakasih buat semua yang selalu bersama author 🤗😍"


__ADS_2