Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 86


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Rubel meminta departemen kebersihan untuk membersihkan Rumah Sakit, dan tim perawatan alat medis juga datang. Rubel bersama kedua Om, dan juga Haikal ikut datang berkunjung ke Rumah Sakit tepat pukul 10 beberapa sahabat Rubel, Zaena, Lila, dokter Andre dan beberapa orang yang sudah resmi keluar dari Rumah Sakit Z juga sudah di hubungi untuk bisa ikut pertemuan kecil. Rubel terlihat sangat bahagia walaupun ini baru permulaan baginya.


Pertemuan ini adalah awal bagi Rubel, kebijakan-kebijakan yang di putuskan dalam pertemuan membuat semua orang tertarik untuk ikut bergabung di Rumah Sakit. kedua om pun tak segan-segan untuk membantu menanamkan sahamnya di Rumah Sakit itu.


perencanaan demi perencanaan mereka buat agar Rumah sakit bisa segera beroperasi kembali. Kegiatan sosial pun tak luput mereka promosikan untuk membantu Rumah Sakit bisa dengan mudah dikenal oleh Masyarakat. beberapa program biaya rendah dan gratis bagi masyarakat yang kurang mampu pun sebagai prioritas Rumah Sakit. Rubel dan Hana juga mengganti Nama Srikandi menjadi Rumah Sakit RH. ini adalah keputusan mereka berdua agar suatu saat kelak tidak ada kericuhan.


Tibalah Saatnya Rumah Sakit Diresmikan untuk beroperasi kembali. keluarga Besar Agiawan, para sahabat, dan beberapa kolega, Keluarga Pak Hamid, dan juga Para pejabat setempat hadir untuk meresmikan Rumah Saki RH, sebelum di resmikan dan pengguntingan pita, Rubel dan Hana meminta ibu untuk menggunting pita tapi ibu menolak karena menunggu seseorang yang terpenting dalam hidup Rubel. Lima belas menit berlalu seseorang datang menggunakan busana muslimah dan mengenakan jilbab panjang datang dengan seorang laki-laki yang tampan. membuat Hana dan Rubel terkejut.


" Mama." teriak Hana tak percaya kedua mertuanya hadir dalam peresmian Rumah Sakit.


Mama segera menghamburkan pelukan pada Hana, Ibu dan Semua Tante. terakhir Mama memeluk Rubel, air matanya seketika tumpah. dia tidak menyangka Ibu memberikan kejutan yang sangat luar biasa baginya bagaimana tidak, Rubel dan Hana segera mempunyai Rumah Sakit Sendiri.


" Mama sangat cantik dengan busana ini." ucap Hana bersemangat.


" Terimakasih sayang, memang seharusnya seperti ini kewajiban muslimah harus menutup aurat, lagipula ini adalah keinginan Papa Joe." ucap Mama Melisa.


Papa Joe ikut menyalami Rubel dan semua keluarga.


Seseorang menatap Mama Melisa dengan gelisah. Mama terkejut dia benar-benar merasa sedikit kecewa, berhadapan dengan laki-laki yang sudah meninggalkannya puluhan tahun yang lalu. laki-laki yang mengkhianati nya demi sebuah ambisi untuk mendapatkan kekayaan. dia pun segera memalingkan pandangannya kemudian menggenggam erat tangan Papa Joe. berjalan meninggalkan pandangan yang sangat membuat dia kacau. Papa Hamid tertunduk lesu, dia benar-benar tidak berdaya walaupun dia sangat ingin berbicara dengan Mama Melisa walau sejenak. tapi mama lebih memilih untuk menghindari tatapan itu.


" Mbak Mel, kita sama-sama gunting pita ini yah." pinta ibu.


" Tapi, Rumah Sakit ini kan Mbak Wati yang be." ucap Mama terputus saat ibu memberi kan kode. mama bingung dia pun menuruti kemauan besannya.


Mereka berdua bersama-sama, Ibu yang memegang gunting, sedangkan Mama Melisa yang memegang pita. mereka berdua terlihat sangat senang.


" Alhamdulillah, akhirnya Rubel dan Hana bisa punya Rumah Sakit sendiri." Bisik mama di telinga Papa Joe.


" Rezeki anak kita, Rubel memang beruntung punya keluarga seperti keluarga besar Agiawan. makanya jangan suka ngejudge orang dari katanya cuma tukang Rumah, lihat tuh biar gitu-gitu rezeki nya nampol." ledek Papa Joe dengan bahasa Indonesia nya yang pasif, membuat Mama Melisa tersipu malu, dia benar-benar merasa sangat bersalah pernah mengatakan kehidupan yang buruk menantu dan besannya.


" Iya Honey maafin Mama yah." ucap Mama Melisa disambut pelukan hangat Papa Joe, tanpa mereka sadari seseorang sedang memperhatikan kemesraan mereka berdua.


Rubel dan Hana juga sangat bahagia. ini adalah kehidupan baru bagi mereka, dimana mereka berdua harus berusaha memberikan yang tebaik untuk keluarga besar Agiawan yang turut membantu untuk keberhasilan Rumah Sakit agar beroperasi kembali.


semua para tamu undangan segera dipersilahkan oleh om Purnawan untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan.


Papa Hamid berjalan dengan lesu, Alan menyadari tingkah Papa nya yang tiba-tiba berubah sejak kehadiran seseorang yang baru saja tiba. dia mencoba mendekati sang Papa tanpa disadari sang papa jatuh pingsan.


" Papa bangun pa!!" teriak Alan.


Rubel yang mendengar teriakan Alan segera menghampiri.


" Perawat, tolong ambil trolly badnya!" pinta Rubel pada para perawat nya. yang notabene adalah perawat-perawat lama di Rumah Sakit Z, mereka tidak lagi canggung dengan permintaan Rubel karena sebelum nya mereka pernah bekerjasama dengan Rubel. beberapa perawat cowok mengangkat Papa Hamid. mereka segera membawa papa Hamid keruang rawat darurat. beberapa perawat dan tim dokter segera memberikan pertolongan pertama pada papa Hamid. Rubel mencoba menenangkan Alan.


" Jangan sedih dek, Papa akan segera siuman." ucap nya begitu bijak. Alan mendengar perkataan kakaknya. Mama Melisa tetap menggenggam tangan Papa Joe, tapi matanya terus menuju ke Ruang Gawat Darurat. Papa Joe mencoba menerka apa Yang ada di fikiran sang isteri.


Hana dan beberapa sahabatnya memilih menjamu para tamu. mereka terlihat sangat bahagia hari itu.


" Na, gak nyangka klean bisa punya Rumah Sakit sendiri." ucap Zaena tiba-tiba. dan duduk di dekat meja makan.


" Alhamdulillah Na, Ini semua karena ada ibu dan kedua Om aku, dan juga karena keluarga Pak Hamid." ucap Hana. sambil meraih sepotong cake dan memakannya.

__ADS_1


" Apakah Pak Hamid, benar-benar begitu dermawan bisa memberikan harga yang relatif murah seperti itu." ucap Zaena mencoba berfikir negatif.


" Ssssstttttt, jangan suudzhon, kita harus hargai niat baik orang." ucap Hana mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Ya sudah lah, yang penting klean baik-baik terus akur-akur terus kalo enggak nanti aku sabet Rubel jadi Lakiku." sindir Hana, dan seketika mereka tertawa riuh.


" Na, apa perlu aku bilang sama si ganteng atas kelakuan kamu di luar seperti itu." ucap Lila yang tiba-tiba muncul.


" ish dah, telat kali kau datang jangan bilang kau dan Dion pergi pacaran dulu baru mampir ke sini yah." balas Zaena tak mau kalah. tiba-tiba.


" Kalo iya kenapa, iri bilang boss." ledek Lila lagi.


" ish dah gara-gara si ganteng ku ada rapat sama si Bos Haikal jadinya aku gak ada partner." gerutu Zaena.


" Hehehe, kasian deh lu." ucap Haikal tiba-tiba, Haikal muncul bersama Mila dan beberapa manager HK Cafe.


Zaena segera mencari sosok yang sangat dia inginkan.


" Kal, si ganteng ku mana?" tanya Zaena tanpa malu-malu.


" Gak tahu, tuh kadang nyasar sama cewek lain." goda Haikal. Zaena tetap lah Zaena ucapan Haikal cuma dianggap angin lalu.


" Ngomong itu yang keren dikit napa lagian alasan-alasan konyol buat Jelekin Anak buah sendiri apa itu baik?" balas Zaena tak mau kalah.


" Udah-udah gak usah di ambil hati Bos Haikal cuma godain kamu aja kok, lagian aku telat karena ambil pesanan kamu." ucap Dedi yang baru saja datang. sambil menyodorkan sebuah paper bag warna hitam.


" Ehm, tunggu isi nya apa?" tanya Zaena.


" Jangan bilang ini baju buat acara tunangan kita yah." ucap Zaena Polos.


" Astaga, yang suruh ambilkan kamu masa lupa?" tanya Dedi semakin kesal.


" hehehe, ternyata sedikit aja kamu udah kesal dengan tingkah laku aku, bagaimana kalo kita udah nikah pasti kamu akan segera ceraikan aku." ucap Zaena tanpa rasa bersalah.


Dedi benar-benar merasa gelisah dikerjain oleh Zaena, dia tidak menyangka calon istrinya bisa berbuat aneh seperti itu. mereka semua akhirnya tertawa, untuk mencairkan suasana yang sangat tegang bagi Dedi.


******


Ditempat lain, Mama Melisa sedang termenung, membuat papa Joe bingung.


" Comen Honey, what happened? kenapa kamu begitu khawatir?" tanya Papa Joe bertubi-tubi.


" Tidak apa-apa." ucap Mama Melisa mencoba tenang. tapi bayangan masa lalu yang indah tiba-tiba melintas, wajah Mama Melisa seketika mendung. bulir-bulir bening luruh di sudut matanya. kesedihan kian menjajaki ruang hatinya. yang ada hanya kebencian akan kehidupan nya yang telah lalu. namun disisi lain laki-laki itu pernah menjadi laki-laki yang luar biasa dulunya, tapi semua sirna sejak tumbuh ego di hati nya untuk sebuah kejayaan dan kekayaan. benar sebuah kekayaan bisa membutakan mata siapa saja yang dia kehendaki.


" Don't be Sad honey, ada aku disini bukan kah kita sudah bahagia?" ucap nya begitu lembut berharap sang pujaan cinta menyunggingkan senyuman indahnya.


" Makasih sayang, aku hanya..."


" Tak usah dibahas, biarkan Rubel mengerjakan tugasnya sebagai seorang dokter."


" Ngomong-ngomong kamu tahu apa yang aku fikirkan?" tanya mama Melisa.

__ADS_1


" Kamu memikirkan Rubel kan?" tanya Papa Joe berpura-pura tidak tahu. dia mencoba mengalihkan kesedihan hati sang istri menjawab pertanyaan secara asal.


" i-iya Rubel." ucap Mama Melisa terbata-bata.


" Ya Sudah mari kita makan, bergabung dengan ibu dan ayahnya Hana." ajaknya pada Mama Melisa.


Mama Melisa segera menghapus air matanya, dia tidak ingin menyakiti hati cintanya yang begitu tulus, laki-laki yang hampir puluhan tahun menemani suka dukanya. walaupun mereka tidak dikaruniai anak tapi cinta Papa Joe pada Mama Melisa sangat besar, jatuh bangun mereka lalui bersama. sehingga kesulitan apapun bukan lah Alasan untuk mereka berpisah bahkan semakin kokoh cinta mereka.


Para tamu undangan satu persatu meninggalkan acara syukuran peresmian Rumah Sakit RH. Ibu menceritakan kebenaran yang ditutupi, soal Rumah Sakit, mereka bercerita sangat lama, mama tercengang saat tahu Rumah Sakit ini adalah milik keluarga mantan suaminya. dan dia tidak menyangka ibu membeli dengan harga kekeluargaan, dan ibu juga menceritakan bahwa Rumah Sakit ini sebenarnya pemberian Papa Hamid, tapi karena tidak ingin terjadi kesalah pahaman dikemudian hari sehingga ibu mendesak untuk membeli dengan harga yang ditentukan oleh pihak Alan, anak dari istri kedua papa Hamid.


Mama hanya bisa tersenyum, dia tidak ingin memuji kebaikan keluarga mantan suaminya, bagaimana pun ini akan menyakiti hati sang suami. Papa Joe pun tidak mengomentari untuk menjaga hati sang Istri.


*****


Pak Hamid baru saja melewati masa kritis nya, beberapa perawat membantu seorang dokter spesialis jantung untuk menangani pak Hamid. Alan dan Rubel duduk di depan ruangan ICU, dimana Pak Hamid dirawat. Alan benar-benar gelisah, dia sangat menyayangi papa nya, bagaimana tidak sejak mamanya meninggal, hanya Sang Papa yang dia punya. suka duka mereka lalui bersama.


" Kak, apakah Papa akan sehat seperti sedia kala?" tanya Alan. sambil menatap intens sang kakak.


" InsyaAllah, Papa akan sembuh asalkan kita bisa menjaga kondisi nya tetap stabil, setidaknya tidak membuat dia sedih atau pun kesal." ucap Rubel menjelaskan. dia berusaha meyakinkan sang adik agar Alan bisa berfikir yang baik-baik kondisi Sang Papa.


" Jika terjadi sesuatu dengan Papa, Alan tidak tahu harus berharap kepada siapa lagi, karena hanya Papa lah satu-satunya keluarga yang Alan punya." ucapnya lirih, dengan kepala menunduk seakan semua harapan tak ada lagi baginya.


" Alan, kamu masih punya kakak, bagaimana pun kita adalah saudara, kakak akan berusaha semampu kakak untuk menjaga mu dan Papa." ucap Rubel meyakinkan. sambil merangkul pundak Alan dengan lembut.


Rubel mencoba merenungi ucapan yang baru saja dia katakan. baginya ini adalah perkataan yang harus di pertanggung jawabkan sekalipun ini tidak mudah baginya. dia menatap wajah Alan, berharap dia bisa mengobati kesedihan sang Adik. walaupun mereka terlahir dari rahim yang berbeda.


sepasang mata sedang memperhatikan mereka berdua, sepasang mata yang penuh kekecewaan dan kesedihan. seseorang segera menyadarkan nya, merangkul nya dengan lembut, dan mengajaknya untuk mendekati Rubel dan Alan, awalnya dia ragu tapi dukungan kuat dari laki-laki yang menemani nya puluhan tahun itu membuat dia berani mendekati Rubel.


" Rubel, Mama dan Papa akan pulang dulu ke kediaman Agiawan." ucap Mama Melisa pelan. Rubel dan Alan melihat ke arah sang Mama.


" Iya Ma, mama dan papa Joe sebaiknya istirahat Rubel dan Hana akan menemani Alan disini setelah makan siang kami akan pulang."


" Iya nak, mama dan papa Joe balik dulu yah." Mama Melisa segera membalikkan badannya tapi tak disangka Alan tiba-tiba berdiri di hadapannya.


" Ibu, apakah Alan boleh menyalami mu?" tanya Alan tiba-tiba membuat Mama Melisa canggung.


" Eh, baiklah." ucap Mama Melisa. sambil mengulurkan tangannya. Alan mencium punggung tangan Mama Melisa dan bergantian menyalami Papa Joe.


" Terimakasih i-."


" Jangan Panggil Ibu, panggil saja Mama." ucap Rubel tiba-tiba membuat Mama sedikit bingung.


" Eh, i-iya nak kamu bisa memanggil saya Mama Melisa." jawab mama terbata-bata. dia tidak ingin membuat Rubel kecewa. walaupun dia tidak ingin perduli dengan anak dari mantan suaminya itu. tapi karena Rubel dia mencoba berbaik hati pada Alan. Alan sangat bahagia, ternyata dia bisa di terima baik oleh Mama dari sang kakak. dia merasa sangat bahagia karena keluarga Rubel sangat perduli dan sayang padanya. Papa Joe ikut senang, dia hanya ingin yang terbaik untuk orang yang di cintai nya.


"


"


"


" Haikal sahabat Dokter Cool Jangan lupa Vote Like dan komennya, maaf kan author yah karena kesibukan di dunia nyata karya Author sempat tertunda dan terbengkalai, terimakasih untuk suport sahabat semua, mampir juga ke Novel Manusia Batu Cintaku yah terimakasih 😍🤗"

__ADS_1


__ADS_2