Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 53


__ADS_3

Haikal tiba-tiba muncul menjentikkan jarinya kehidung Hana yang sedang melamun di Ruang Keluarga Agiawan, ia menerawang jauh melihat foto Oma dan Opanya yang belum pernah dia lihat sama sekali.


" Au sakit." ucap Hana begitu lirih.


" Jangan ngelamun nanti ke sambet." ujar Haikal mengingatkan. dan duduk disebelah Hana.


" Nggak ngelamun cuma ngebayangin kalo Oma sama Opa masih ada pasti kita semua bahagia."


" Haikal sama kaya kamu, kita belum pernah sekalipun ketemu Oma sama Opa."


" Opa ganteng yah mirip aku." ucap nya memuji dirinya sendiri.


" Iya ganteng, monyet aja kalah." ucap Hana membandingkan Haikal dengan monyet.


" Ish sadis amat, hati-hati loh kalo ngomong entar anaknya mirip monyet gimana?"


Tiba-tiba Hana mengutuk dirinya sendiri.


" Ya Allah Amit-amit, Astagfirullah."


" Tapi kan Hana belum hamil."


" Tapi kok ngidam bubur terus sama muntah-muntah." tanya Haikal penasaran.


" Entahlah, mana mungkin Hana kan belum sebulan nikah masa hamil???" ucapnya tak percaya.


" Tapi Hana udah seminggu gak mens." ucap nya dengan polos.


" Eits keceplosan..." spontan dia menutup mulutnya dengan tangannya.


" Nah tuh kan." ucap Haikal mengingatkan.


" Gak tahu deh gelap." ucap Hana tak mau ambil pusing.


Haikal duduk di samping Hana, sambil mengelus kepala sepupunya dengan lembut.


" Mulai sekarang kalo ngomong itu hati-hati, lagian juga periksa kandungan kenapa?"


" Suami dokter, tapi bawa istri periksa aja males." ucapnya mengomel.


" Bukan males bang Haikal, tapi Hana nya gak mau." ucapnya sambil memandang wajah Haikal yang jutek.


" Jangan malas-malasan kondisi kamu itu gak sama dengan orang. sebulan kalo bisa 10 x tuh ke dokter." ucap Haikal sok perhatian.


" Wow, emang nya Hana sakit apaan sampe 10 x Sebulan ke dokter, yang ada dokternya malah kabur bosen liat Hana." ledeknya pada Haikal.


" Ah ngeyel aja dibilangin." ucap nya kesal. dan hendak mencubit hidung Hana, tetapi gagal dilakukan saat dia melihat Tante Purwati dan mama Rubel memperhatikan mereka berdua.


" Eh Tante." ucap Haikal malu-malu. Ibu Dan mama Melisa mendekat.


" Sayang, beneran Hana udah gak mens?" tanya Mama Melisa penuh selidik. dan menghampiri mereka berdua.


Hana mengigit bibirnya merasa takut untuk menjawab nya, apalagi pernikahan mereka belum lagi genap satu bulan.


" Gak apa-apa, Mama gak akan marah. berarti Hana subur, jadinya langsung isi." ucap Mama mencoba menenangkan.


" Tokcer dong." Ledek Haikal spontan.


" Hus." ucap Tante Purwati mengingat kan Haikal untuk diam.


" Peace Tante keceplosan, kebiasaan nih mulut." ucapnya dan menyentil mulut nya sendiri. semua orang tersenyum melihat ulah Haikal.


" Nanti sore, Mama temanin Kamu ke Poli Kandungan yah." ucap Mama perhatian. sambil melirik ke arah Ibu.


" Iya sayang nanti sore Mama sama Ibu temenin Hana." Desak ibu menerima lirikan Mama Melisa.


" Tapi Ma, Rubel ada jadwal bedah pasien bibir sumbing sore ini." ucap Hana mencoba mengelak.


" Ya, gak apa-apa Hana kan ditemani Mama sama Ibu, Jadi Rubel gak perlu khawatir sama Kamu." ucap Mama bersikukuh.


Hana mengangguk kecil tak berani membantah kedua wanita yang sangat mencintai nya.


" Oh ya Tan, aku lagi cari orang untuk koki sarapan pagi di resto ku, Tante mau??" tawar Haikal pada Ibu.


" Gak ah, Tante mau jadi chef di rumah aja. pengen menikmati hidup, selama ini Tante terlalu sibuk cari uang buat kebutuhan hidup, dan sekarang udah gak mau capek-capek lagi cari uang. Alhamdulillah Rezeki udah Allah atur." ucap ibu menolak tawaran Haikal.


" Kamu gimana Na??" tanya Haikal.


" Eit, Hana lagi ditawarin mau dibunuh kamu sama Rubel." Teriak Mama sambil menjewer telinga Haikal.


" Ampun ma." teriaknya meringis sambil memegang telinga nya.


" Lupa kamu Hana baru aja di Culik??" Tanya Ibu kesal.


" Iya Tante Haikal lupa."


" Kamu mau chef apa? tanya Hana penasaran.


" Serius nih??" tanya Haikal ikut penasaran.


" Kebetulan tadi pagi Hana cari bubur, dan dapat nya di pinggiran jalan di sebuah gang kecil, bubur ayamnya enak banget, tapi sayang dia di sini berdua dengan anaknya yang cacat bibir sumbing, suaminya pergi meninggal kan dia saat tau sang anak dilahirkan dalam keadaan cacat." Cerita Hana panjang.


" Yang bener?" tanya Haikal tak percaya.


" Iya, nanti sore Rubel akan observasi anaknya mbak Sumiyem dan membebaskan biaya operasinya." Ceplos Hana.


" Ops, Keceplosan lagi." wajah Hana seketika terlihat kikuk, dia tidak bermaksud pamer akan kebaikan Rubel.


" Maksudmu Rubel membantu anak itu?? tanya Mama tak percaya.


Hana mengangguk pelan, ada perasaan malu menyergap relung hatinya.


" Masya Allah, Mama terharu anak Mama bisa sebaik itu. Mama gak nyangka dia lebih mementingkan orang banyak yang kurang mampu."

__ADS_1


" Iya Ma, Rubel emang Baek banget." ucap Hana, sambil mengacungkan kedua jempol nya. Mama tersenyum bahagia anaknya tidak hanya menjadi dokter yang berprestasi tapi juga dokter yang dermawan hatinya.


" Nanti setelah anaknya sembuh, kamu bisa jadiin Dia chef kamu hitung-hitung beramal."


" Sip, jadi aku gak usah repot cari orang lagi.


" Ya terserah kamu, nanti sore kalo mau bertemu dengan Mbak sumiyem sekalian aja, Aku Mama dan Ibu juga akan ke Rumah Sakit." Terang Hana pada Haikal.


" Ya udah entar pergi nya bareng yah, sekalian mau jemput Mila." ucap Haikal terang-terangan.


" Cie-cie yang mau manten." Ledek Hana hingga Haikal tersipu.


" Haikal kami pergi nya sama Diko aja, entar jadi nyamuk gangguin orang pacaran." sindir Hana.


" Jiah nyamuk, kenapa gak sekalian bakteri aja kan kecil tuh jadi gak nampak sekalian." ucapnya gemas. spontan ibu mencubit lengan Haikal. keponakan nya itu selalu saja memperpanjang masalah.


" Jangan dong Tan, Haikal kan bercanda." ucapnya memelas.


Mereka semua pun tertawa, Hana mencium bau masakan Bibi di dapur. masakan yang selalu buat nafsu makannya bertambah. dia pun bergegas ke arah dapur.


" Bi, masak apa?" tanya Hana berbasa-basi, padahal dia tahu betul aroma yang dimasak sang Bibi.


" Sambal terasi, non." jawab bibi cepat. sambil menyodorkan lalapan dan sambal ke arah Hana. Hana pun membawa makanan itu ke meja makan. dan dia langsung mengambil nasi tanpa menawarkan orang-orang disekitar nya.


" Kamu laper apa kesambet?" ucap Haikal cepat.


" Lagi pengen jadi makan terus." ucap Hana dan melanjutkan makannya.


Mama dan ibu memperhatikan Hana.


" Apa Dia selalu seperti itu??" Tanya Mama penasaran.


" Dia emang suka sambal dan lalapan, tapi gak pernah makan seperti itu." Ucap ibu bingung karena belum waktunya makan siang Hana sudah makan lagi.


" Hari ini kita gak boleh menunda lagi bawa dia ke klinik kandungan, biar semua jelas." ucap Mama begitu yakin.


Ibu menghampiri Hana, makannya hanya sedikit dia tidak sanggup menghabiskan nasinya padahal hanya 1 centong nasi.


" Kok gak di habisin?" tanya ibu bingung.


" gak mau lagi."


" Sayang dong Mubazir."


Hana pun memaksa kan makannya, tapi dia sudah tak sanggup, dia berlari ke dapur menuju wastafel.


" Uek."


" Uek."


Semua yang dimakan dia muntahkan kembali. Mama menggosok pundak Hana lembut.


" Mungkin Udah morning sickness yah." ucap Mama menduga-duga. dan membopong Hana yang sudah sangat lemas.


Jam makan siang Rubel telah sampai dirumahnya. Mama sedang berada di kamar Hana menggosok lembut punggung Hana.


" Kenapa Ma?"


" Hana muntah-muntah terus, nanti sore Mama sama Ibu akan temani Hana ke poli kandungan yah."


Rubel memandang Hana sangat lekat, bisa jadi Hana memang bukan asam lambung tapi Hana memang sudah mengandung.


Mama meninggalkan Rubel dan Hana berdua, bagaimana pun Mama tidak berhak mengganggu Privasi anak dan menantunya.


" Sayang.." Panggil Rubel pada Hana.


" Iya sayang." jawab Hana pelan, sambil membuka matanya perlahan-lahan.


" Minum Vitamin dulu yah, untuk meredakan mualnya." ucap Rubel, dan bergegas mengambil vitaminnya di dalam kotak obat.


Air minum telah tersedia di atas meja di dalam kamar. Rubel meraih gelas air minum itu dan memberikan nya kepada Hana.


" Sayang minum dulu yah." Hana pun bangun, dan segera meminum vitamin yang diberikan Rubel.


Rubel duduk di dekat Hana dan mendekap kepala Hana di dadanya. Hana merasa sudah lebih baik, dan dia merasa sangat nyaman berada di dekat Rubel. Rubel mengelus pelan kepala Hana.


" Kalo emang Ana hamil, gimana?" tanya Rubel agak khawatir.


Hana menatap Rubel sangat lama.


" Nikmati aja sayang, mudah-mudahan Ana sehat." ucapnya bersemangat sambil melirik Rubel dengan tatapan bahagia.


" Kamu Siap sayang???"


" Insya Allah sayang."


Rubel meluk Hana erat, dia berharap Hana bisa segera sehat menimbang kondisi Hana yang belum lagi stabil.


" Ngomong-ngomong Ana belum mens kan?"


" iya."


" udah berapa hari."


" Seminggu."


" Seminggu???"


" Kok gak bilang-bilang."


" Hana pikir mungkin telat, kalo hamil kan kayanya gak mungkin apalagi kita baru aja menikah."


Rubel terdiam, dia mengerti maksud Hana. Rubel mengajak Hana makan siang tapi Hana menolak nya.

__ADS_1


" Tadi makan nasi sama lalapan sambel terasi tapi semuanya keluar lagi." Ucap Hana mengenang kejadian tadi.


" Ya udah, jadi mau makan apa?"


" Mau makan roti sobek di celupin ke susu." ucap Hana cepat.


Rubel membuka bajunya, dan menunjukkan perutnya kepada Hana.


" Nih roti sobeknya." ucapnya menggoda.


" Akh, serius nih Hana maunya roti beneran bukan perut Ino." Rengek nya manja.


" Ya udah Ino beli dulu yah." ucapnya cepat dan segera mengancing kan baju nya lagi.


" Gak mau???


" Terus Siapa yang beliin."


" Minta tolong sama Diko yah... Hana pengen di pijitin sama Ino." ucapnya manja.


Rubel keluar Rumah menemui Diko. dia meminta Diko untuk membelikan roti dan susu untuk Hana. dan kemudian dia segera masuk ke kamar menunggu pesanan Hana datang.


Rubel mengganti pakaiannya dan bergegas sholat Dzuhur. kemudian menghampiri Hana yang telah terlelap dengan wajah begitu pucat. tak berapa lama terdengar suara pintu diketok dari luar.


" Mas Rubel ini pesanan nya." terdengar suara Diko pelan. Rubel segera membuka pintu kamar dan meraih Roti dan susunya.


" Sayang makan dulu ya." ucapnya lembut. Hana membuka matanya pelan. Rubel menuangkan susunya ke dalam gelas. kemudian memberikan nya kepada Hana. Hana terlihat sangat menikmati roti dan susunya.


" Ino mau?" tanya Hana sambil menyodorkan roti ke arah Rubel.


Rubel menerima suapan Hana dan memakannya. Dia bingung makanan Hana memang ada karbohidrat nya tapi apakah perut Hana akan kenyang jika hanya makan roti dan minum susu itu.


" Sayang Ino makan nasi gih, Ana gak sanggup temanin yah. ucap nya lirih


" Jadi Ino makan sendiri nih??" tanya Rubel meyakinkan. Hana diam memandang Rubel sedikit kasihan.


" Ana temenin yah, tapi Ana gak makan.


" Iya sayang, makasih yah udah mau nemenin Ino makan." ucap Rubel senang. mereka berdua pun berjalan ke meja makan.


Hana hanya memandangi Rubel, dia sendiri gak sanggup makan.


Selesai makan Rubel segera membawa Hana Kembali ke kamar.


" Sayang, Ino balik ke rumah sakit yah, hari ini jadi observasi nya anak mbak Sumiyem dan kemungkinan operasi nya juga hari ini." jelas Rubel pada Hana, dan segera bangun menggantikan pakaiannya. Hana mengangguk pelan. sebelum berangkat di mencium kening Hana, dan berlalu pergi.


*****


Hari telah sore, Mama, Hana dan Ibu sudah siap berangkat ke Rumah Sakit Z. setibanya mereka di lobi rumah sakit. Ibu mendaftar kan Hana dan Mama menemani Hana yang terlihat sangat lemah.


tidak lama ibu pun berjalan ke arah mereka berdua dan mereka pun menyusuri lorong Rumah Sakit, menuju Ruang Poli Kebidanan dan Kandungan.


Tertulis nama dokter di depan pintu masuk.


 


" **dr. Lidya SpOG**."


 


Ibu tidak terlalu memperhatikan nama tersebut, tidak berapa lama asisten dokter kandungan tersebut segera mengambil kertas status Hana, dan menyuruh nya masuk.


Kedua besan itu ikut masuk, Asisten itu pun tidak bisa mencegah kedua wanita itu.


" Siapa yang hamil." tanya dokter itu pada ketiga nya sambil membenarkan kacamata nya. dan melihat ke arah tiga orang itu.


Ibu terbelalak melihat dokter itu, begitu juga dokter itu, mereka berdua berteriak histeris.


" Ya ampun Wati, Purwati Agiawan sahabat ku apa kabar nya kamu?" tanya dokter itu dan bangun menghampiri Ibu.


" Alhamdulillah baik Lidya.. gimana dengan kamu?" tanya Ibu.


" Alhamdulillah juga baik, terus siapa nih yang mau periksa?" tanya dia bingung karena ada 2 perempuan yang duduk berdampingan.


Hana bangun dan membuka cadarnya, kemudian memeluk sahabat Ibunya itu.


" Eh, Hana sehat kamu sayang? gimana kerja jadi Perawat Nyai nya dokter Rubel?" tanya dia antusias.


Hana tertunduk lesu, dia sangat tidak bersemangat mendengar nama Nyai disebut. perasaan nya langsung Melo.


" Loh kenapa sayang?"


" Nyai Rubel udah berpulang kemarin." ucap ibu menjelaskan.


" Eh, MasyaAllah aku baru aja balik jadi gak tahu kabar itu."


" Iya gak apa-apa dok." Ucap Mama tiba-tiba.


" Oh, iya Lidya ini Mama nya Rubel." Ucap ibu memperkenalkan Mama Melisa.


" Loh, ada apa ini aku kok jadi bingung?" Tanya nya penasaran. dan mengulurkan tangannya kepada Mama Melisa.


" Saya Lidya."


" Melisa."


" Terus Siapa yang mau periksa?"


" Hana Tante."


" Kapan Hana nikah?" tanya Lidya bingung.


Karena selama, 1 tahun ini dia melakukan studi di luar Negeri dan baru kemarin kembali. Waktu menawarkan Hana pekerjaan itu juga hanya melalui telepon menghubungi Ibunya Hana, semuanya berlalu begitu cepat. sehingga tidak sempat mengabari dokter Lidya.

__ADS_1


" Hai sahabat Dokter Cool terimakasih untuk suport nya, jangan lupa, vote, like dan komennya yang banyak terimakasih 😍🤗"


__ADS_2