
" Boleh Rubel bicara dok?"
" Bicara aja..." ucap dokter Lila.
" bisa kita ngobrol ditempat lain?" tanya Rubel agar tidak menyinggung perasaan Hana.
" Gak apa-apa disini aja." jawabnya tenang.
" ini tentang kondisi Hana dok."
" Cerita aja, insyaAllah Hana baik-baik aja iya kan sayang??" ucapnya santai.
Hana mengangguk pelan, dia sendiri tak tahu harus berbuat apa.
" Setelah Hana Koma kemarin dia mengalami Amnesia temporar." ucap Rubel.
" Maksudmu, Amnesia?" ucap dokter Lidya terkejut.
" Iya."
" Serius??" Tanya dokter Lidya tak percaya.
" Iya dok, Amnesia temporar,, Dia hanya ingat kejadian beberapa bulan lalu saat anda merekomendasikan dia jadi perawat untuk Nyai, dan untuk hari berikutnya sampai hari ini Dia tidak ingat sama sekali."
" Astagfirullah, maaf banget saya benar-benar prihatin, saya juga lupa Hana baru saja koma, maklum saya terlalu sibuk." ucap dokter Lidya merasa bersalah
" iya, dok."
" Kasihan kamu sayang." ucapnya sambil mengelus lembut kepala Hana.
" Gak apa-apa Tante, Hana baik-baik aja kok." ucap Hana berusaha tenang.
" Ya udah, jangan banyak fikiran yah,." ucap dokter Lidya dan tersenyum ke arah Hana.
" iya Tante." jawab Hana pendek.
" Ok Hana Tante harus bersiap-siap karena jam 10 semua dokter ada rapat dengan ketua Yayasan Rumah Sakit." ucap nya sambil memeluk Hana.
" Iya Tante, Terimakasih."
" Masya Allah, untung dokter ingatkan, hampir saja Rubel lupa."
" Ya sudah saya duluan yah." ucap dokter Lidya dan berlalu.
Rubel segera menghubungi Mama, dia meminta Mama untuk bisa menemani Hana.
" Assalamualaikum."
" waa'laikum salam, ada apa sayang?" tanya Mama.
" Ma, Rubel mau minta tolong jam 10 Rubel ada rapat dengan ketua Yayasan Rumah Sakit, mama dan ibu temani Hana yah." pinta Rubel.
" Sayang sebentar lagi Dainan dan Lia akan ke Rumah Sakit."
" Oh, syukurlah setidaknya Hana tidak sendiri di Ruangannya."
" Ya Sudah, nanti siang Mama dan ibu akan menjaga Hana.
" Iya Ma, makasih yah Ma.
" Assalamualaikum." telepon di putus.
Rubel mendorong kursi roda Hana kedalam kamar. dan menggendong Hana ketempat tidurnya.
" Sayang Ana istirahat dulu yah, Ino mau mandi dan bersiap-siap keruang poli setelah itu Ino harus mengikuti rapat dengan ketua Yayasan Rumah Sakit." ucap Rubel panjang, dan mencium kening Hana. Hana mengangguk pelan mengiyakan apa yang Rubel katakan. Rubel telah menggantikan pakaiannya.
Wajah tampannya terlihat sangat menarik, Hana melihatnya sangat lama. sungguh dia tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah Rubel. membuat Rubel sadar sedang diperhatikan Hana.
" Kenapa sayang?" tanya Rubel dan membuka cadar Hana.
" Enggak apa-apa." ucapnya malu-malu. Rubel mendekat kan dirinya ke Hana hingga wajah mereka sangat dekat. Rubel tidak menyia-nyiakan waktu yang singkat itu. dia pun mencium Hana hingga wajah Hana memerah. Tak ada penolakan dari Hana.
Dia memeluk Hana sangat erat.
" Cepat sehat yah sayang, Ino rindu dengan Ana yang Jutek, ceria, dan menggemaskan." ucapnya lembut dan membuat Hana salah tingkah.
" Tok!!! tok!!!! tok!!!!
Rubel menutup cadar Hana kembali, dan berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya.
" Hei." sapa Rubel.
" Assalamu'alaikum." sapa Dainan.
" I'm sorry Waa'laikum salam." jawab Rubel membenarkan salam Dainan.
" Gak apa-apa."
" Kalian masuk aja, maaf aku gak bisa menemani kalian, aku ada rapat, nanti siang kita jumpa lagi setelah kerjaan aku selesai."
" Ok, see u." ddjawab Dainan.
Rubel kembali lagi ke arah Hana, dia benar-benar merasa susah untuk meninggalkan Hana.
" Sayang, tunggu Ino yah." ucapnya dan mencium kening Hana. entah apa yang difikirkan Hana.
" Jangan lama-lama yah." ucap Hana semakin membuat Rubel Merasa sedih harus meninggalkan Hana.
" Iya sayang, gak akan lama. tapi jangan mikirin apa-apa yah cinta, Ino akan segera balik kemari." ucap nya dan kembali memeluk Hana.
Tanpa terasa air mata Hana jatuh, Rubel melihatnya.
" Kok nangis??"
" Gak apa-apa sayang pergilah nanti Ino terlambat." ucapnya lembut. Lia menghampiri Hana.
" Pergilah Bel, Aku akan menjaga Hana." ucap Lia mencoba mengajak ngobrol Hana.
" Gimana keadaan kamu?"
" Alhamdulillah, walaupun aku gak ingat apa-apa tentang kalian semua." ucap Hana begitu lirih.
" It's okay. nanti juga ingatan mu pulih." ucap Dainan dan bersandar di sofa. Lia menarik kursi dan duduk didekat Hana.
" Lia...." kamu siapa? tanya Hana Tiba-tiba.
" Aku dan Dainan sahabat Rubel, kebetulan kami sedang berlibur ke Indonesia."
" Pakaian yang aku pakai ini adalah pakaian pemberian mu." ucap Lia menjelaskan.
" Benarkah? kamu sangat cantik Lia."
__ADS_1
" Ehm terimakasih." ucap Lia malu-malu."
" Maafkan jadi merepotkan kalian untuk menjaga aku." ucap Hana merasa sedih.
" jangan sungkan kami berdua sangat senang bisa membantu kamu." ucap Lia.
Tiba-tiba seseorang mengetok pintu kamar.
" Tok..."
" Tok..."
" Tok..."
" Hana, ini Haikal." panggil dari luar.
Dainan segara bangun dan membuka pintu.
Haikal ditemani seorang gadis kecil menghampiri Hana.
" Tante Hana." teriaknya pada Hana dan segera berlari ke arah Hana.
" Maafkan Aku, si kecil Mira ingin sekali bertemu dengan mu jadinya aku bawa dia kesini." jelas Haikal.
" Gak apa-apa." jawab Hana. sambil mengelus lembut pucuk kepala Mira.
" Tante, Mira kangen sama Tante."
" Iya sayang." jawab Hana.
Lia berpindah duduk di sofa, agar Mira bisa leluasa berbicara dengan Hana.
" Tante, kata ibu Tante lagi sakit yah?"
" Tante sakit apa?"
" Kok cuma tiduran aja ditempat tidur?" tanya Mira bertubi-tubi.
" Eit, tadi janjinya apa sama Om Haikal?" tanya Haikal mengingatkan. sambil menggerakkan jari telunjuk nya .
" Gak boleh banyak tanya." ucap Mira.
" Terus..." Tanya Haikal.
" Tante harus banyak istirahat." ucap Mira lagi.
" Jadi...." Tanya Haikal lagi.
" Mira diam aja yah Om??"
" Anak Pintar."
" Kapan Mira ngomong nya???" tanya Mira mulai kesal.
" Gak boleh ngomong." ledek Haikal.
" Yah Om Haikal kalo gitu ngapain bawa Mira kemari." dengus nya kesal. Hana, Dainan dan lia tertawa melihat Haikal dan Mira adu mulut.
Hana mengelus kepala Mira, dia memang tidak ingat apapun tentang Mira tapi dia yakin Mira bukan gadis biasa.
" Sayang.." panggil Hana pada Mira, dan Mira memandangnya dengan memiringkan sedikit kepalanya.
" Kamu, sekarang udah sekolah?"
" Kok tante tanya nya gitu?" tanya Mira bingung
" Emangnya kenapa?" tanya Hana.
" Tante lupa yah kalo Mira belum sekolah?
" Ehm, bukan lupa cuma Tante gak ingat?
" Beda nya lupa sama dengan gak ingat apa Om?" tanya Mira pada Haikal.
" Haduh bocah ada-ada aja pertanyaan nya..." gerutu Haikal.
" Om Haikal marah yah???" ledek Mira.
" Enggak bukan marah cuma kesal." ketus Haikal.
" Terus beda kesal sama marah apa yah???" goda Mira gak kehabisan akal untuk mengerjai Haikal. Haikal hendak mencubit hidung Mira tapi lagi-lagi dia berlari keluar ruangan. Haikal terlihat ngos-ngosan mengejar Mira.
" Jangan lari-lari nanti jatuh." ingat Haikal pada Mira. baru saja Haikal mengingatkan, Mira benar-benar terjatuh dia berlari tanpa melihat ke arah depan dan menabrak Seseorang.
" Hei, anak siapa ini?" tanya wanita itu sedikit keras. karena terkejut.
" Maaf Bu dokter Mira dikejar-kejar sama penjahat." ucap nya asal. dan segera bangun.
Haikal berhenti mendengar Mira mengatakan dirinya penjahat. wanita itu pun tertawa karena penjahat itu tidak lain calon suaminya Mila.
" Mana penjahatnya? biar Bu dokter suntik." ucapnya sedikit menggoda.
" Tu!!! ucap Mira sambil menunjuk dan memonyongkan bibirnya kearah Haikal.
Haikal membulatkan kedua matanya menatap gemas ke arah Mira.
" Liat tuh Bu dokter mata om Haikal nya bulet kaya bola pingpong." ucapnya tanpa rasa bersalah.
" Ayok, Bu dokter suntik biar mata om Haikal gak bulet lagi kaya bola pingpong." ledeknya dan terkekeh.
" Zae!!" seseorang memanggil wanita itu dengan sebutan Zae. sekarang giliran wanita itu yang membulatkan matanya ke arah suara yang memanggil.
" Zae???" tanya Haikal bingung. dan hendak memutar otaknya mengerjai wanita itu. tapi aksinya dikalahkan oleh bocah kecil.
" Bu dokter Zaenal yah???" tanya Mira polos.
" Hadoh Lil, kenapa pulak kau panggil awak Zae." seketika Mira terkejut mendengar suara asli Zaena. Lila dan Haikal tak lagi bisa menahan tawanya.
" Puas Klean yah." ucap nya kesal kepada Lila dan Haikal.
" Bu dokter suaranya kok bisa berubah jadi gledek." ucap Mira benar-benar polos.
" Aduuuh, salah pulak awak." ucapnya benar-benar kesal.
" Ops, Maaf yah Bu dokter Mira udah gak sopan." ucapnya memelas. Seketika wajah Zaena yang tadi kesal menjadi tersenyum.
Zaena berjongkok mensejajarkan dirinya Dengan Mira.
" Baiklah Anak pinter, Bu dokter maafkan jadi sekarang kita temenan yah." Ucap Zaena dan mengulurkan jari kelingkingnya kearah Mira. Haikal dan Lila benar-benar takjub melihat Mira begitu pintar.
" Jadi sekarang, anak pintar juga harus minta maaf sama om Haikal." Bujuk Zaena lembut pada Mira.
__ADS_1
Mira berdiam sejenak, dia agak ragu untuk maju, takut Haikal mencubit hidungnya.
" Kenapa gak maju?" tanya Zaena. dan mengelus lembut kepala Mira.
" Takut..." ucapnya pelan. dan belum berani melihat ke arah Haikal.
" Sini sayang." panggil Haikal dengan lembut.
barulah Mira berani menatap Haikal. Mira berjalan pelan-pelan takut Haikal kembali mengejarnya.
Haikal pun berjongkok merentangkan kedua tangannya agar Mira mau memeluk nya. akhirnya Mira pun menghamburkan pelukannya ke arah Haikal.
" Maafin Mira yah om, kalo ibu tahu pasti ibu marah sama Mira." ucapnya merasa bersalah.
" iya om Haikal maafin tapi Mira harus janji, gak boleh lagi lari-lari kaya tadi, untung yang ditabrak oleh Mira Bu dokter Zae, coba kalo orang lain pasti Mira udah dihukum oleh orang itu." jelas Haikal membuat wajah Zaena seketika memerah.
" Zae-zae nama Awak cantik kek gini klean panggil pulak Zae, payah potong kambing lagi awak." sungut Zaena kesal.
" Cantik-cantik kok ngambek." Ucap Haikal tiba-tiba.
" Apa kau bilang? cak ulangi aku gak dengar tadi." ucap Zaena penasaran.
" Gak ada siaran ulang."
" Ish dah sama aja mulut kau kek si Rubel pengen nya ku remas-remas kaya kertas abis tuh ku lempar ketempat sampah." ucap Zaena habis kesabarannya.
" Kalo mau berantem, di hutan, ini rumah Sakit." teriak Lila dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.
Haikal tak membalas serapah Zaena, dia malah senang melihat Zaena yang terus bersungut-sungut kesal.
" Om Haikal, kasian kan Bu dokter nya, gih minta maaf." pinta Mira seperti orang tua yang sedang menasehati anaknya.
" Hadeuh, nih bocah kok bisa ketuaan yah emang emaknya makan apa yah waktu ngidam.." ucapnya pelan namun terdengar oleh Mira.
" Asam garam Om." celutuk mira cepat.
" Ih bawelnya, ketuan kamu." ucapnya sambil mencubit pipi Mira dengan gemas.
" Au... Sakit Om, ya deh maafin Mira yah Om Haikal.
" Ok, om maafin." mereka berdua pun tersenyum.
Haikal meraih ponsel nya melihat ke arah jam
" Sayang, om ada janji dengan teman-teman om Haikal, kita pulang dulu yah " ucapnya lembut, agar Mira paham maksudnya.
" Tapi Om Haikal belum minta maaf sama Bu dokter Zaena." ucap Mira.
Sekarang Zaena yang merasa malu dengan ucapan Mira.
" Ya udah, Maafin aku yah Zae." ucap Haikal dan berlalu meninggalkan Zaena.
" Haikal!!!" suara Zaena menggelegar meneriaki Haikal tanpa sadar.
" Hei berisik." ucap orang-orang yang lewat.
wajah Zaena memerah, dia benar-benar lupa bahwa dirinya sedang di Rumah Sakit.
Dia pun beranjak dari tempat itu menutupi wajahnya dengan kertas yang diambil nya dari kantong baju prakteknya.
Haikal dan Mira kembali ke kamar Hana,mereka berdua berpamitan.
" Tante, Mira dan Om Haikal mau pulang dulu yah, karena Om Haikal ada janji dengan teman-teman nya." jelas Mira,sambil mengulurkan tangannya kepada Hana.
Hana membalas uluran tangan itu.
" Tante cepat sembuh yah, Mira kangen banget kita bisa kumpul lagi." ucap Mira panjang.
" Iya sayang, insyaallah makasih yah do'anya Mira.
" Ya udah, Na Haikal pulang yah cepat sembuh yah dek." sambil mengulurkan tangannya kepada Hana, tapi Hana bingung menyambut uluran tangan itu.
" Tangannya kenapa?" tanya Hana.
" Ya Ampun na ciumin tangan Haikal kenapa?? kan Haikal lebih tua." ucap Haikal kesal.
" Masa??"
" Jadi maunya Hana yang lebih tua?? ledek Haikal.
" gak tahu."
" Grggrg." dengus nya kesal.
" Amnesia ma gak amnesia sama aja."
" Maksudnya?!?!!!
" ya udah deh yang waras ngalah." ucapnya kesal.
" Perasaan yang gak waras Haikal deh dari tadi ngomel Mulu." ledek Hana membuat Haikal tersipu-sipu. sontak semua yang mendengar tertawa.
" Ya udah deh Nyerah..." ucap nya mengalah, tanpa disadari Hana mencium tangan Haikal.
" Nah gitu dong, sepupu terbaik emuaach."
" Gombal." ledek Hana.
" Becanda juga." ucap Haikal membuat Hana kesal.
" Kapan pulangnya kalo gitu." ucap Hana keras membuat Haikal menarik Mira dan segera berlalu.
" bye semuanya." dengan nada menggoda.
Hana menggeleng kan kepala. Dainan dan Lia pun tersenyum melihat kedua sepupu itu saling mengerjai satu sama lain.
" Kok ada yah sepupu seperti dia, kaya nya kalo gak amnesia kita berantem terus yah." gumannya pelan.
" Sekali-kali nah buat penyegaran, dengan seperti itu lama-lama ingatan Hana akan segera pulih." Jelas Lia.
" Banyak-banyak do'a dan dzikir biar Hana bisa segera sembuh." ucap Dainan ikut menimpali.
" Hehehe, jadi gak enak hati. makasih yah perhatiannya. dengan begini Hana juga bisa lebih bersemangat ternyata Hana itu gak sendiri." ucapnya bersemangat.
" Aku istirahat dulu yah."
" Silahkan." ucap Lia.
Dia pun menerus kan istirahat nya melupakan keriuhan yang baru saja terjadi. Dainan dan Lia bercanda berdua menghabiskan waktu. menunggu Rubel kembali.
"Hai Sahabat Dokter Cool maaf yah Updatenya telat maklum ada kerjaan yang harus diselesaikan, mudah-mudahan kedepan fikiran lebih fresh, dukung terus bantu vote, like dan komennya yang banyak terimakasih 😍🤗"
__ADS_1