Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 10


__ADS_3

Haikal mengantar Hana pulang kerumah.


" Baiklah Hana sampai jumpa lagi."


" bye."


Hatinya sangat senang bisa menemani Hana dan mendengar curhatan Hana. dia pun berlalu pergi meninggalkan Rumah Hana.


Haikal pulang ke rumahnya di perumahan Elite Raharja Kencana.


Dia teringat perlakuan Kirana yang sangat membenci Hana, Dia tidak habis pikir Kirana bisa secepat itu melupakannya dan berjalan dengan laki-laki lain yang hidup nya sangat Dekat Dengan Hana.


“ Kasihan Hana, hanya karena dia dekat dengan ku, Kirana memperlakukan nya semena-mena.”


“ Hana terlalu baik, tidak seharunya Gadis itu di hina, walaupun dulu Dia sering berkelahi dengan ku.” Kenang haikal.


“ Kenapa dokter Rubel, tidak menyelidiki terlebih dahulu latar belakang Kirana dan dengan mudahnya percaya pada Perempuan ****** itu." Batin Haikal tak habis pikir.


Dia mencari cara untuk bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Rubel, walaupun nanti pasti ada pertikaian antara Dia dan Rubel.


Haikal, menatap langit-langit kamarnya. Seseorang mengetok pintu dan memanggil namanya dengan sopan.


“ Den, dipanggil Bapak di ruangan nya.” Panggil Bibi si Asisten Rumah tangga Mereka. Haikal terhenyak, lamunannya buyar seketika.


Dia berjalan santai, masuk keruangan Papa nya. Ruangan itu sangat minimalis dengan tema monokrom.


Haikal duduk disofa berwarna putih. Dipinggir sofa terdapat 4 bantal cushion yang berjejer cantik, diambil bantal itu dan diapun bersandar untuk menghilangkan penatnya, papanya bernama Purwanto Agiawan seorang pengusaha jasa importir resmi dari Yiwu dan Guangzou Cina Untuk Indonesia.


Dia menghampiri Haikal dan duduk disebelahnya.


“ Papa, akan keluar Negeri untuk urusan bisnis Papa beberapa bulan kedepan.”


“ Terus.” Jawabnya tanpa ekspresi.


“ Papa mau Kamu, menghendel semua urusan di kantor Papa.”


“ Tapi Pa.” Haikal tidak sempat mengurusi itu semua. Papa kan tahu usaha Haikal sedang pesatnya.” Ujar Haikal menolak.


“ Papa sangat percaya anak Papa, Kamu pasti bisa menghendel semuanya.” Ujar Papanya sambil menepuk pundak haikal.”


Haikal diam, itu bukan lah alasan sebenarnya. Dia hanya ingin lebih rileks Tanpa ada beban berat dipundaknya.


Haikal Agiawan, pengusaha sukses muda dibidang cafe dan resto dia mempunyai 6 anak cabang di kota ini.


Dia sangat Low profile bahkan karyawannya sendiri tidak mengenal siapa Owner mereka. Haikal mempercayai manager-manager anak cabangnya.


Tentu saja urusan binsis nya tidak sangat berat baginya, karena semua telah di handel oleh para managernya, Dia sangat beruntung para manager itu bekerja sangat profesional.


Dengan berat hati, Dia menerima tawaran itu. Haikal menghela nafas panjang. Tugas ini pasti akan menyita waktunya, dan akan semakin berkurang kesempatan dia bertemu dengan Hana.


******


Hana mengambil mukenanya hendak sholat. Sungguh hari ini sangat meremukkan hati dan jiwanya. Dia sangat menyesal Telah menyembunyikan Identitasnya Dari Rubel, sebuah harapan rubyel akan mencari dirinya sirna sudah, saat seseorang yang mengaku bernama Ana datang dalam kehidupan Mereka.


Setelah melaksanakan sholat dan menutupnya dengan salam hana berdzikir dan berdo’a.


Ya Allah, Ampuni hambamu ini ya Allah..


Hamba Yang salah..


Hamba yang memulai sandiwara ini,


sudah seharusnya hamba menerima semua ini dengan ikhlas..


tapi kenapa hamba tak mampu melewati semua nya..


Ya Allah...


ya Rabbi tuntun hamba yang hina ini...


Sesungguhnya rezekiku adalah hakmu...


jodoh dan mautku juga hakmu...


Maka pertemukanlah hamba dengan jodoh yang telah engkau karuniakan kepada hamba.... Aamiin


Dia menyeka air matanya yang tumpah. Dia ingin menceritakan kejadian hari ini kepada Nyai Rubel, hanya cara ini yang bisa menyelesaikan jarak antara dia dan Rubel saat ini.


Jam 8 pagi, hari ini ia akan kerumah Rubel. Dengan mengenakan tunik berwarna biru muda, dipadu celana pensil berna hitam, rambutnya dia biarkan tergerai..


Saat menunggu ojek di simpang jalan, sebuah mobil berwarna hitam dengan kaca rebennya, berhenti di depan Hana. Seseorang turun, menghampirinya, dan mengajaknya berbicara.


“ Hana?”


Tanya laki-laki itu.


“ Iya, mas apa ada yang bisa saya bantu.” Tanya Hana heran karena orang itu mengenalinya.


“ Mbak Hana sudah ditunggu dengan dokter Rubel di rumah sakit.” Katanya dia ingin sekali berbicara dengan Mbak Hana.” Jelas orang itu.


Hana merasa heran, tidak biasanya Rubel menyuruh orang untuk menjemputnya, setahunya Rubel akan segera kerumahnya jika dia ingin berbicara.

__ADS_1


Orang itu meyakinkan Hana dengan sikap santunnya, dia tidak sedikitpun mencurigai laki-laki itu.


Hana telah masuk kedalam mobil dia duduk dibelakang sopir.


Tibalah mereka disebuah rumah sakit tapi rumah sakit itu bukan tempat rubel bertugas, bangunan itu seperti sudah lama tidak ditempati.


Hana mengernyitkan keningnya perasaan tidak enak menyergapnya. Tiba-tiba seseorang membuka pintu mobil dan membekapnya dengan sapu tangan, dengan cepat hana sudah tidak sadarkan diri.


Hana di bawa kesebuah besmen. Besmen itu tidak ada yang mengoperasikannya lagi.. Tangan hana di ikat dengan kabel ties. Matanya masih berkunang-kunang dia mencoba bangun.


Dia melihat keSekelilingnya tak ada siapapun disana. Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu menghampirinya.


Hana mencoba berpura-pura tertidur, dia ingin mengetahui siapa dalang penculikan itu.


Terdengar suara seorang perempuan tertawa melihat hana meringkuk tak berdaya dengan tangan terikat dibelakang.


“ Hahaha, kasian sekali kamu Hana, makanya jangan bermain-main dengan Kirana!!!” Suara itu tidak asing ditelinga Hana, suara itu suara Ana yang berpura-pura menjadi dirinya.


Hana tetap diam. berpura-mura belum sadar. Tiba-tiba wajah Hana dicengkam dengan kasar oleh Kirana, jari kuku perempuan itu sangat panjang hingga melukai wajah Hana.


Hana ingin menjerit tapi dia berusaha tetap diam. Kirana belum puas menyiksa Ana, dia mengambilkan rantai, Hana tersadar bahaya mengancamnya, dia mencoba bangkit, tapi sangat susah dirinya untuk bergerak dengan tangan terikat dibelakang.


“Mau kemana kamu Hana?” tanya kirana Sambil mengayunkan rantai ditanganya berputar putar. Dan diputar sangat kencang.


“ Aku masih ingin bermain-main denganmu.”


“ Wanita kampungan seperti mu bisa merebut hati 2 laki-laki sekaligus.” Apa yang telah kamu berikan kepada mereka sampai mereka membelamu!!” Ujarnya geram.


" Bisa kah kita bicara dengan hati." ujar Hana mencoba tenang.


" Apa katamu dengan hati."


tidak kah Kamu mendengar ucapan haikal padaku menyebut diriku wanita ******. dan rubel ikut menghinaku dengan sebutan munafik." bentaknya begitu berapi-api.


" Tapi aku tidak menyangka mereka akan berkata seperti itu padamu. tolong maafkan Aku." ujar Hana mencoba mengemis hati.


" Maaaf katamu, setelah apa yang mereka ucapkan tanpa hati kepadaku!!!!" ujarnya nanar dengan mata penuh kebencian.


Dia mulai memainkan rantainya melemparkan ujungnya kesana kemari, membuat Hana bagai pengecut.


Hana tak tahu harus membela diri.. Dia mencoba lari.... Dari seorang psikopat seperti kirana.


Tapi malang ujung rantai itu dilempar oleh kirana mengenai kakinya sebelah kiri, Hana meringis kesakitan, kepalanya sangat pusing.


Dia tetap mencoba bangun dengan kaki yang sudah terluka, dia berlari tersoak-soak.. Lagi-lagi kirana Melemparkan ujung rantai itu mencambuk tubuh hana tanpa belas kasihan.


Hana merasa dirinya tak sanggup lagi.. Dia berbalik menatap kirana tubuhnya sudah sangat lemah tak berdaya. Matanya sudah berkunang-kunang dia hanya memohon kepada Allah diberikan jalan keluar.


Dia terus berlari walau tubuhnya tak mampu lagi bertahan, menaiki setiap anak tangga dengan bersusah payah, hingga berhasil keluar dari besment itu.


Dia tak ingin melihat kearah belakang dia terus berusaha berlari walaupun tangannya masih terikat dibelakang.


Dia tak tahu arah jalan. Sayup-sayup Kirana menyumpah serapah dirinya, Hana semakin lemah.


Dia berlari kesebuah semak-semak berharap kirana tak akan mencarinya.


Hari semakin malam, pikiran hana tak karuan, dia sangat takut dengan gelap, dia keluar dari semak itu berjalan tersoak soak dengan kaki berdarah, dia menyusuri jalan....


Tubuhnya yang kena cambukan itu terasa sangat sakit, dia tetap berjalan dengan kaki yang terluka.


Sebuah mobil patroli lewat.. Dia tak sanggup bersuara. Dia ambruk dibibir jalan.


Mobil itu pun berhenti, Seseorang keluar dari mobil, mencoba memastikan apa yang baru saja dilihatnya. Sesorang sedang terkulai tak berdaya dengan wajah luka cakar dan kaki yang berdarah...


Dion menghampiri gadis itu, dia menengadahkan wajah Hana, dan melihatnya begitu lekat.


“ Hana?” dia tercengang. Dan segera menggendong Hana masuk kedalam mobil patrolinya.


“Bertahanlah Hana, aku akan membawamu ke Rumah Sakit!!” ujarnya.


Dion melaju kendaraan patrolinya menghidupkan sirene patroli. Agar kendaraan didepannya segera menepi..


“ Tibalah di Rumah Sakit Z. Suara sirene itu mengejutkan para tim medis, dan beberapa security mengamankan lokasi.


Rubel merasakan hatinya tidak karuan mendengar suara sirine Polisi itu. Dia bergegas keluar untuk melihat sumber suara, Dion keluar dari mobil dengan menggendong seseorang yang terkulai tak berdaya.


Matanya tak ingin bekedip sedetikpun.. Dia menyuruh tim medis untuk mempersiapkan troli bed.


Dia bingung melihat Dion, dan segera menghampirinya.


“Ada apa dengan gadis ini? tanya Rubel penasaran tanpa melihat wajah sang gadis.


Dion bingung menjelaskan kepada Rubel.


“ Korban penculikan dan penganiayaan.” Ujarnya cepat. Dan mencoba mendekapkan wajah Hana di dadanya.


Tim medis menyambut Hana dan mengangkat gadis itu keatas troli bed.


Rubel melihat lekat wajah yang tak berdaya itu. Dia mematut diam lututnya tiba-tiba sangat lemas.


Lila melihat kearah Rubel dan segera menghampiri sahabatnya itu. dia pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


“ Hana.” Ucapnya tak percaya.


Rubel tertunduk lesu, melihat gadis yang sangat dia rindukan itu penuh luka.


Mereka telah berada di ruang steril, Lila dan para tim medis membantu membuka baju hana, terlihat luka lebam dipunggungnya dengan ukuran 30 cm, lila menyadarkan Rubel menujukkan luka itu pada Rubel.


Rubel tak sanggup melihatnya, tapi dia adalah dokter. Dia kuatkan hatinya untuk bisa menolong Hana.


Seorang operator melakukan anatesi lokal. Luka dikaki itu sangat dalam sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu baru dijahit.. Rubel tidak menyangka dia akan menjahit luka kekasih kecilnya itu. Air matanya tak bisa dia bendung, tidak ada yang melihat, karena dia menggunakan masker. Kekhawatirannya beberapa hari Ini terbukti, tapi dia mencoba menepis semua nya dan berharap Hana baik-baik saja.


“ Siapakah yang telah menyakiti Ana kecilku.. Sungguh orang itu sangat biadap.” Pertanyaan demi pertanyaan berputar - putar dibenaknya.


Pekerjaan selesai, Hana segera dibawa keruang dimana biasa dia menginap. Rubel sungguh merasa tak berguna karena telah menyia-nyiakan Hana.


“ Seharusnya aku tidak membiarkan dia sendiri.” Sejak kejadian beberapa minggu lalu Hana memang sudah terancam hidupnya. Tapi aku membiarkannya tanpa memberikan pengamanan untuknya.” Dion dan Lila hanya bisa diam melihat sahabatnya mengutuk diri.


" Sabar, semua adalah kehendak yang Maha Kuasa."


" Tugasmu sekarang, merawatnya, menjaganya dan tak perlu berlarut-larut menyalakan diri." ujar Lila bijak.


“ Sudahlah.” Saat ini yang terpenting, buang egomu jangan bercanda dengan hidup. Ujar Dion yang tahu sandiwara Rubel.


Lila dan Dion memberikan waktu agar Rubel bisa lebih tenang, mereka berdua keluar dan mencoba mengakrab kan diri satu dengan yang lain.


Rubel memegang tangan Hana yang sangat di rinduinya, dia mencium punggung tangan gadis itu.menggenggamnya dengan sangat erat.


“ Maafin Ino, yah sayang. Maafin Ino membalas sandiwara Ana.” Ino tidak menyangka akan terjadi seperti ini."


Hana terbangun dia melihat laki-laki yang dia cintai itu telah berada didepannya. Sedang mengutuk dirinya atas kejadian itu.


“Ino gak salah sayang, Ana yang salah karena menyembunyikan segalanya dari Ino.”


ujar Hana dan mencoba duduk.


Hati Rubel tak kuasa dia memeluk gadis itu. Tapi tangannya mengenai luka lebam dipunggung hana.


“ Au sakit.” Ucap Hana sedikit berteriak.


“ Maafin Ino yah sayang.”


Hana mendorong Rubel pelan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“ Ngomong-ngomong siapa yang telah memberitahukan Ino, soal Ana?” tanya Hana penasaran.


" Ino mendengar sendiri dari mulut Ana."


" kapan?" tanya Hana heran.


" Ana selalu memanggil Ino dalam igauan Ana beberapa kali ketika Ana dirawat."


" Benarkah?" tanya Hana belum yakin.


Rubel mengangguk membenarkan pertanyaan Hana (ana).


" Terus, kenapa Ino tak pernah mengatakan semuanya kepada Ana kalo Ino tahu kalau Hana--- ." ucapan itu dipotong Rubel.


" Inoo, ingin Ana jujur dan mengatakan terlebih dahulu identitas Ana pada Ino."


" Ino telah lama mencurigai Ana." sejak kunjungan Nyai kerumah sakit tempo hari. Ino tahu, Ana menyembunyikan semuanya dari Ino, walau Nyai tetap bungkam dan ikut diam tak mengatakan yang sebenarnya." jelasnya panjang, sambil menggenggam erat tangan Hana. Hana diam, mengingat semua sandiwara yang dia lakukan.


" Ino, tahu kenapa Ana melakukan itu." tanya Hana kepada Rubel.


Rubel menggelengkan kepala tanda tak mengerti mengapa gadis didepannya sampai melakukan ini.


" Ana ingat janji Ino, akan datang menemui anya bak cerita dongeng sang pengeran mencari Cinderella." ungkap hanta dengan segala hayalannya.


Rubel diam, mengakui kesalahan nya. dia menatap gadis itu dengan wajah penuh haru.


" Jika Ana mengakui Ana, adalah ana kecil, ini adalah hal yang instan bagi ana."


" Ana bisa saja mengatakan semua nya kepada Ino, tapi Ana ingin tahu seberapa besar perjuangan Ino mencari keberadaan Ana."


"Untuk itu Ana meminta Nyai, Bibi dan juga Ibu untuk menyembunyikan semuanya" ungkap Hana dengan air mata yang tak lagi bisa dibendungnya. Perasaannya sangat sedih harus mengatakan yang sejujurnya kepada Rubel.


Rubel diam mendengarkan semua keluh kesah Hana. dia mencoba menenangkan Hana dan berusaha memeluk Hana lagi. tapi Hana mendorongnya pelan.


" Jangan pegang-pegang bukan muhrim." tolak Hana pada Rubel.


" Lah tadi kok boleh." jawab Rubel kecewa.


" Tadi kan spontan, sekarang kesempatan." ucap Hana asal.


Di pandanginya wajah lelaki di depannya itu, berusaha menyembunyikan kerinduannya. tapi dia takut tak mampu mengontrol hati dan jiwanya.


" Kata pak Ustadz, dilarang berdua-duaan karena orang ketiganya adalah setan." Rubel tersenyum mendengar penjelasan Hana. tanpa disadari diantara mereka ada Dion yang sedang memperhatikan keduanya.


Dion berdehem menyadarkan keduanya. Hana dan Rubel memandangi dion dan mereka tertawa bersama.


" Jadi maksud kalian Aku setannya??" ucap dion menyambung maksud mereka berdua.


Mereka bertiga pun tertawa bersama, dan Hana pun lupa bahwa dirinya sedang sakit.

__ADS_1


__ADS_2