Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 60


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 5 lewat, hana mengedarkan pandangan ke sekeliling nya. mencari sosok putih ganteng milik Rubel.


" Kemana dokter itu??" Tanya nya dalam hati.


Dia ingin sekali ke kamar mandi tapi entah mengapa dia seperti ketakutan untuk berjalan sendiri.


" Ya Rabbi, ada apa Dengan hamba kenapa hamba seperti ini? kenapa hamba seperti orang yang tidak punya nyali?" ucapnya begitu lirih. dia mencoba bangun hendak berjalan ke kamar mandi, tapi entah mengapa lutut nya terasa lemas.


Ceklek terdengar suara pintu di buka dari arah luar, Hana terkejut ingin rasanya dia melompat tapi sungguh kakinya tak sanggup digerakkan.


" Dok."


" Kenapa panggil Ino dokter lagi?" tanya Rubel.


" Maaf Ino Ana mau ke kamar mandi tapi...."


" Kenapa sayang?" tanya Rubel dan mendekat.


" Kaki Ana...."


" Iya kenapa dengan kaki Ana?"


" Kaki Ana begitu lemas..."


" Bilang aja mau digendong." goda Rubel genit.


Hana diam dengan ekspresi wajah tak bisa diartikan.


" Baiklah, Ino gendong yah..." Hana berusaha menggeser. tubuhnya ke tepi tempat tidur.


" Apakah dia benar-benar tidak bisa menggerakkan kakinya?" ucap Rubel dalam hati. membuat Rubel semakyain merasa bersalah.


Dan dengan sigap Rubel menggendong Hana membawa Hana ke kamar mandi. Rubel tidak beranjak dari situ. tapi Hana tidak bisa menyelesaikan niatnya karena dia merasa Rubel bukan siapa-siapa.


" Ino keluar dulu yah... Ana gak bisa pipis tolong yah.." ucapnya pelan seraya memohon. dengan langkah gontai Rubel menuruti permintaan Hana.


" Kenapa jadi seperti orang lain? aku kan suaminya..." gumannya lirih.


Sudah setengah jam Hana masih di kamar mandi. Rubel pun memanggil nya.


" Sayang..."


Hana hanya diam tak menyahut panggilan Rubel. Rubel sangat takut terjadi sesuatu pada Hana lagi, dia pun membuka pintu dan melihat Hana yang sedang membuka bajunya.


" Jangan masuk!!!" teriaknya keras.


Hana hendak mengusirnya tapi dia tidak bisa menggerakkan kakinya. dia hanya duduk diatas closed. Rubel tetap mendekati nya walaupun Hana mengusirnya.


" Sayang." Rubel merangkulnya. dia tetap tidak mau pergi bagaimanapun mereka sudah menikah tidak ada penghalang bagi nya untuk melihat tubuh istrinya.


Hana menatap Rubel begitu lama, jantungnya serasa mau copot melihat Rubel begitu dekat, dengan tubuh tanpa pakaian.


" Kamu mau apa?" tanya Rubel lembut.


" Mandi." jawabnya pendek.


" Ino bantuin yah." ucapnya meminta izin, sungguh ini semua membuat Rubel sedih.


Hana diam, dia sungguh tidak tahu harus menjawab apa. dia benar-benar tak bisa berfikir apapun.


Dia diam melihat Rubel mulai memandikan nya, menggosokkan sabun keseluruh tubuh Hana. sungguh perlakuan ini membuat Hana malu. Rubel menatap Hana lama. dia ingin sekali mandi bersama-sama. tapi Hana sendiri tidak siap untuk menerima perlakuan Rubel yang berlebihan.


Tiba-tiba Hana menangis melihat Rubel begitu perhatian padanya. bahkan sampai memandikannya. hatinya tak sanggup berkata-kata dia benar-benar merasa sedih karena tidak bisa sedikit pun mengingat masa-masa indahnya bersama Rubel.


" Sayang, jangan nangis yah, Ino disini untuk Hana." ucap nya menenangkan.


Rubel meraih handuk dan mengelap tubuh Hana hingga kering, kemudian dia melilitkan handuk itu ke tubuh Hana. dan menggendong Hana ke ruangan nya lagi.


Rubel mengunci pintu agar tidak ada yang masuk secara tiba-tiba.


" Kenapa di kunci?" tanya Hana bingung.


" Takut ada yang masuk, Ana kan belum pakai baju." ucapnya menjelaskan.


Rubel membuka handuk Hana, sungguh dia merindukan tubuh itu. tapi segera ditepisnya pikiran itu. dia tidak mau menjadi laki-laki egois dengan kondisi Hana yang belum pulih benar. apalagi dengan kondisi Hana yang masih amnesia tidak mengingat apapun tentang pernikahan Mereka.


Selesai memakaikan baju Hana, Rubel hendak keluar mencari sarapan pagi.


" Sayang Ino cari makan dulu yah." ucapnya lembut.


" Ana ikut yah??" ucap Hana pelan.


" Tunggu disini yah sayang, Ino hanya sebentar." ucapnya dan hendak pergi namun tangan Rubel di genggam erat oleh Hana.


" Ana tidak mau sendiri." ucapnya lirih Seakan ketakutan di dalam kamar sendiri. sambil melihat sekeliling nya.


" Apa yang Ana fikirkan???"


" Ana takut, sangat takut Ana melihat kegelapan itu begitu nyata." ucapnya sedih.


Rubel segera memeluk Hana. sungguh membuat hati Hana merasa tenang atas perlakuan Rubel padanya.


" Ino gak akan biarkan Hana sendiri lagi sayang, Ino janji." ucap Rubel dan mengambil kursi roda di balik pintu yang masih terlipat.


Diapun membuka kursi roda itu kemudian menggendong Hana duduk di kursi roda itu.


Mereka pun keluar kamar berjalan pelan-pelan agar Hana mengingat semua kondisi rumah sakit ini. seseorang gadis kecil menggunakan kursi roda sedang berjalan ke arah mereka.


" Tante Hana.." panggilnya pada Hana.


Hana meliriknya bingung, dia benar-benar tidak mengenal Gadis itu.


Rubel membisikkan nama gadis itu ditelinga Hana agar Zanna tidak kecewa.


" Namanya Zanna sayang dia adalah gadis kecil yang sangat Hana sayang." gumannya pelan di telinga Hana.

__ADS_1


" Zanna." panggil Hana pelan. membuat Hana sedih dan ingin memeluk Zanna. dan Rubel mendekatkan kursi roda mereka hingga mereka bisa saling berpelukan.


Seseorang sedang memperhatikan kejadian itu dan segera menghampiri mereka.


" Sayang, panggil nya pada Zanna."


" Iya Tante, Zanna kangen sama Tante Hana." ucapnya pada Lila yang memanggilnya.


" Kalian mau kemana?" tanya Lila pada Rubel dan Hana.


" Mau cari sarapan." jawab Rubel.


" Ana mau makan bubur." jawab Hana pelan.


" Bubur??" tanya Rubel tak percaya.


" Iya bubur ayam." jawab Hana cepat.


" Di kantin ada bubur ayam." sela Lila. dan membuat Hana tersenyum senang, mendapatkan apa yang dia inginkan.


" Baiklah, Zanna kami ke kantin dulu yah." ucap Rubel dan mendorong kursi roda Hana ke arah kantin.


Hana melambaikan tangannya ke arah Zanna. dan dibalas oleh gadis kecil itu.


" Tante kenapa Tante Hana seperti orang asing melihat Zanna." ucap Zanna yang sadar melihat Hana yang berbeda dari biasanya.


" Tante Hana lagi sakit sayang."


" Sakit apa?" desak Zanna bingung.


" Amnesia??"


" Maksud Tante Amnesia yang hilang ingatan itu?" tanya Zanna tak percaya.


" Jadi Tante Hana gak ingat yah sama Zanna, tapi kenapa dia menyebutkan nama Zanna."


" Om Rubel yang bisikkan nama Zanna." ucap Lila, membuat Zanna mengerti.


*****


Rubel dan Hana tiba dikantin. rame pengunjung dari kalangan keluarga penjaga pasien dan juga perawat dan dokter yang kena sift malam. pagi ini mereka beristirahat sebelum pulang, meluangkan waktu sejenak untuk bercengkrama dengan sesama mereka.


" Tunggu di sini sayang." ucap Rubel dan berjalan ke arah stand jualan bubur.


Hana mengangguk pelan. dua orang menghampiri Hana yang satunya lagi sedang memakai kursi roda.


" Hana." sapa gadis itu pada Hana.


Hana melihat dan tersenyum. dia bingung harus menjawab apa.


" Sayang, ini Maria dan Tante Merry, Istri Om Purnawan. ucapnya menjelaskan. Hana bingung.


" Siapa Om Purnawan?" tanya Hana.


" Maaf Tante, Hana tidak bermaksud melupakan


kalian semua tapi...."


" Gak apa-apa sayang kita maklum, Ibu dan Mama Rubel sudah cerita semuanya sama kami semua.


Hana menangis dia benar-benar merasa tak berdaya, begitu banyak yang dia lewati sehingga dia benar-benar tidak ingat apapun tentang keluarga ibunya.


" Jangan sedih sayang." ucap Tante Merry dan memeluk Hana. Maria ikut sedih melihat Hana yang diam dalam kebingungannya.


" Na, boleh Maria peluk Hana." ucapnya pelan.


Hana hanya mengangguk sungguh dia tak tahu harus berbuat apa. dari jauh Rubel melihat mereka, Rubel ikut merasakan apa yang Hana rasakan.


Rubel datang dengan 2 mangkok bubur ayam.


dan meletakkan nya di meja.


" Maria dan Tante mau makan bubur ayam?" tanya Rubel menawari mereka.


" Maaf yah Rubel, Maria gak suka bubur ayam..." balasnya.


" Oh."


" Makasih yah." ucap Tante Merry.


" Tante dan Maria duduk disini aja." pinta Rubel.


" Gak apa-apa kita duduk disebelah sana aja." ucapnya sambil menunjukkan ke pojok sebelah kiri mereka.


" Kita lagi nunggu dokter Andre dan Zanna, Kebetulan mereka mengajak sarapan bersama, eh itu mereka." sambil menunjuk kearah Andre yang sedang mendorong kursi roda Zanna.


Mereka melewati Hana dan Rubel, Zanna melambaikan tangannya pada Hana dan dibalas nya. dengan lambaian dan senyuman. mereka berdua duduk didekat Tante Merry dan Maria.


" Maria dan Mama mau makan apa?" tanya dokter Andre pada mereka berdua.


" Maria, mau mie pangsit??" jawab Maria tiba-tiba.


" Mie pangsit???"


" Iya." jawabnya dengan manja."


" Tapi belum ada sayang... nanti siang baru ada mie pangsit, nanti aja boleh?"


Maria terdiam, dan kemudian meminta makanan lainnya.


" Boleh deh, aku mau bakso." ucap nya lagi.


Andre semakin bingung, mana ada pagi-pagi seperti ini orang jualan bakso.


" Sayang baksonya juga belum ready, kalo yang lain gimana??"

__ADS_1


" KFC aja."


" Ternyata ngidamnya kamu emang makanan junk food semua yah." ucap Andre kebingungan karena permintaan Maria memang tidak tersedia pagi ini.


Maria tersenyum malu, dia sendiri emang tidak pernah makan seperti orang-orang biasanya.


" Yah udah MC Donald Aja..."


" Apa ada yang lain yang kamu suka?" tanya Andre yang semakin bingung. dan menggaruk kepala nya yg tidak gatal, dia seperti kehabisan akal untuk menawari Maria.


" Mie goreng aja." jawab Maria asal padahal dia sendiri tak pernah makan mie goreng.


Tente Merry tersenyum, dan membela Andre.


" Sayang mintanya jangan yang gak ada dong? kamu harus bisa maklum, apalagi ini di Rumah Sakit. gak ada makanan siap saji seperti itu." terang Tante Merry. Maria tertawa geli karena dia sendiri biasanya hanya sarapan salad, roti dan makanan western lainnya.


" Maafin Maria yah Andre, Maria terbiasa makan-makanan western jadi memang belum terbiasa dengan makan-makanan kita.


" Ya udah kalo Andre yang pilihin boleh??"


" Silahkan.


" Nasi Uduk sama sambel terasi yah." ucapnya . dan berlalu memesan nasi uduk.


Maria terdiam, dia teringat makan-makanan yang pernah Hana sajikan untuk keluarga besar saat mereka mengunjungi Hana dirumahnya.


Dia melihat ke arah Hana, dan seketika air matanya tumpah. dia begitu sedih, Hana selalu bisa mengerti dan berusaha mendekati nya walaupun dia pernah jutek pada Hana. bahkan, Hana lah orang yang pertama berusaha menolongnya, walaupun kejadian itu dia yang menjadi korbannya.


" Kenapa sayang?" tanya Tante Merry pada Maria.


" Maria inget sama Hana waktu makan nasi dengan Laok sayur asem, dan lalapan terasi." ucapnya lirih.


" Sayang jangan sedih yah, do'ain Hana segera sembuh yah sayang."


Ini adalah pertama kalinya Maria iba dengan seseorang, Gadis itu biasanya paling cuek, jutek, dan sombong. tapi sejak dia kenal Hana dia menjadi gadis yang baik dan sangat perhatian.


Andre dibantu seorang pelayan, membawakan 4 piring nasi uduk dan ayam goreng plus lalapan sambel terasi.


Seketika itu jiwa mood Booster Maria meronta-ronta. sejak dari rumah Hana dia ingin sekali makan pake sambel terasi tapi mamanya tidak pernah masak, mereka selalu saja makan di luar.


" Bagaimana?" tanya Andre yang begitu antusias melihat Maria makan begitu lahapnya.


" Alhamdulillah, enak." jawab Maria cepat dan terus menghabiskan makannya. kali ini Maria terlihat sangat menikmati makannya.


" Nanti jangan lupa minum obat nya yah, biasanya agak sedikit sakit di tempat operasinya, kalo makan terasi." ucap Andre mengingatkan.


" Maaf Maria sampe lupa kalo baru aja operasi." ucapnya malu-malu. mereka berempat pun ikut tertawa.


" Pa.. kalo Tante Maria nanti menikah sama Papa, papa harus jadi papa yang siaga."


" Tentu dong sayang." jawabnya berusaha meyakinkan Zanna.


" Bagus itu, karena Tante Maria ngidamnya beraneka ragam, Zanna salut sama Papa." ucapnya bangga. padahal dia sangat paham, karena kesibukan papanya, Zanna sendiri di titipkan dirumahnya sakit ini dengan Perawat-perawatnya dan juga Lila adiknya.


Seketika wajah Andre memerah, dia benar-benar merasa tersindir ungkapan bangga Zanna padanya.


" Do'ain yah sayang." ucapnya. membuat tanda tanya di fikiran Maria.


" Kok minta do'a? emangnya selama ini kamu gak siaga?" tanya Maria bingung.


" Siaga kok Tante, papa hanya sibuk maklum dokter." jawab Zanna masuk akal.


" Iya, yah." Maria memikirkan bagaimana Andre bisa memenuhi permintaan nya, saat ini saja Andre tidak punya waktu banyak.


" Ah gak apa-apa lah, harus banyak sabar." ucapnya pelan dan mencoba mengalah.


****


" Gimana buburnya?" tanya Rubel pada Hana.


" Lumayan, tapi gak seenak bubur ayamnya.... Siapa yah???" ucapnya mengingat-ingat.


Rubel sedang memikirkan Mbak Sumiyem.


" Apa bubur mbak Sumiyem?" tanya Rubel.


" Entah lah, Ana sendiri tidak tahu, tapi bubur itu memang sangat enak, tapi siapa yah yang jualan?" Hana mencoba mengingat-ingat tapi dia benar-benar tidak ingat apapun.


" Siapa yah? dan dimana yah bubur ayam itu, pokoknya enak."


" Ya sudah nanti Ino anterin Hana makan bubur yang enak itu yah.." ucap Rubel.


" Memang nya Ino tahu?"


" Iya sayang baru beberapa hari lalu Hana makan bubur ayam itu. "


Hana terdiam, pikirannya memang Benar-benar blank. mereka berdua selesai makan, dan pamit pada Tante, Maria, Andre dan Zanna.


Rubel mendorong kursi roda Hana, mereka hendak kembali keruangan. tiba-tiba ada yang memanggil Mereka.


" Rubel." Rubel dan Hana melihat ke arah belakang.


" Eh dokter Lidya." ucap Rubel dan memutar kursi roda Hana.


" Gimana kabar Hana sayang." tanya dokter Lidya.


" Alhamdulillah baik Tante?"


" Syukurlah, nanti 2 Minggu lagi jangan lupa USG yah. ucapnya.


" USG??" tanya Hana bingung.


Rubel terdiam, dia bingung menyampaikan kondisi Hana pada dokter Lidya.


" hai sahabat Dokter Cool terimakasih atas dukungan nya, jangan lupa vote like dan komennya yang banyak biar makin semangat, 😍🤗"

__ADS_1


__ADS_2