
Rubel dan Hana tiba di Rumah Mama Melisa. mereka kebingungan, terdengar suara yang sangat riuh dari dalam Rumah.
" Kok rame yah??" tanya Rubel pada Hana.
" Mana ku tahu??" ucap Hana seperti logat mama Ambon manise. Rubel gemas mendengar ucapan Hana dia pun mencubit pipi Hana lembut. Hana pun bingung sambil mengerutkan keningnya. mereka berdua pun berjalan mengendap-endap mengintip dari celah jendela dan melihat kedalam.
" Kok ada si jae???" ucap Rubel bingung dan kemudian melihat kearah orang yang sangat ramai.
" Jae, maksud Ino Haikal?" tanya Hana ikut bingung.
" ssssstttttt!" ucap Rubel memberi kode.
" Apa yang sedang mereka rencanakan?" tanya Hana penasaran. dan ikut mengintip.
" Wah gawat semua keluarga Agiawan pada ngumpul." ucap Hana sedikit berteriak dan dengan cepat Rubel menutup mulut Hana. Rubel kembali mengintip.
" Sini sayang kita lewat jendela kamar Ino aja." ucap Rubel dengan ide konyolnya.
" Tapi bagaimana masuknya?" Tanya Hana sambil menunjukkan bajunya yang sangat susah untuk naik ke jendela.
" Tenang Ino akan gendong Ana." jawab Rubel sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Terus kopernya gimana??" tanya Hana bingung.
" Biar aja disini nanti setelah semua rencana selesai Ino akan ambil koper kita." ucapnya dengan senyuman yang sangat lebar.
Mereka pun berjalan sambil mengendap-endap seperti maling, seseorang berdiri di depan mereka, Rubel tidak sengaja menabraknya.
" Kalian berdua mau maling yah??" ucapnya sangat keras membuat Rubel terkejut dan segera berdiri melihat siapa yang berdiri di depannya.
" Dasar Jae!!!" teriak Hana kesal karena ide mereka lebih dulu tercium oleh Haikal.
*****
Flash back on
Saat mereka tertawa seseorang memperhatikan Rubel yang sedang mengintip Dari jendela.
" Mas, dokter Rubel dan Mbak Hana lagi ngintip di jendela." bisik nya pelan ditelinga Haikal. tanpa memberi tahu yang lainnya Haikal segera keluar lewat pintu belakang untuk mengerjai Rubel dan Hana hingga mereka berdua ketahuan sedang berjalan sambil mengendap-endap.
Flash back off
*****
" Udah terciduk malah nyalahin orang." jawab Haikal kesal karena Hana memanggilnya dengan sebutan Jae.
" Loh, benarkan jae??" tanya Hana pada Rubel, dan disambut anggukan kecil Rubel.
" Emang dasar NYAMUK." teriak Haikal tak mau kalah. membuat Hana dan Rubel terkekeh menang.
Suara mereka terdengar hingga kedalam Rumah.
" Wah gagal deh buat kejutan nya." ucap Mama lemas. kemudian Haikal, Rubel dan Hana masuk dengan wajah tanpa dosa.
" Kok digiring kemari sih Haikal?" tanya om Purnawan bingung.
" Mereka berdua terciduk mau maling lewat jendela kamar om." jawab Haikal asal sambil terkekeh.
" Enak aja maling, lagian ini Rumah ku masak maling." jawab Rubel kesal, ingin sekali dia menoyor kepala Haikal tapi di urungkan niatnya, mengingat Hana yang sedang hamil, dia tidak ingin terlalu membenci Haikal.
" Kok gak jadi mukul nya??" ledek Haikal yang sadar Rubel membatalkan niatnya. Hana segera menutup mulut Haikal dengan telapak tangannya.
" Ish dah tanganya bau ikan asin." ucap Haikal asal, membuat Hana menarik tangannya dan mencium tangannya memastikan apa yang dikatakan Haikal. Padahal dia tidak makan ikan asin.
Sontak Haikal tertawa, Hana terhipnotis dengan ucapan Haikal padahal dia tidak makan ikan asin selama di Sydney. dia pun mencubit perut Haikal dengan cubitan mautnya. Rubel segera menarik Hana dan membisikkan sesuatu ketelinga Hana.
" Sayang, jangan benci sama Haikal inget Hana lagi hamil." ucapan Rubel membuat Hana tersadar. mereka pun memilih mengalah dari pada melanjutkan perdebatan dengan Haikal.
" Kok gak dilanjutkan lagi?" tanya Haikal bingung melihat Rubel dan Hana menyalami semua keluarga dan berjalan ke arah kamar.
" Enggak ah, enakan di kamar biar bisa honey moon." ucap Rubel iseng sambil menyindir Haikal.
Semua orang baru tersadar bahwa Hana berjalan tanpa kursi rodanya lagi.
" Kursi rodanya mana?" tanya Mama bingung.
" Ada ma di dalam mobil." ucap Rubel setengah berteriak dan berlalu masuk kedalam kamar.
Ibu baru saja keluar dari kamar mandi jadi tidak bertemu dengan Hana. Ayah keluar dari kamarnya menemui semua orang.
" Yah Telat." ucap Haikal mengerjai kedua om dan tantenya.
" Telat??" tanya ibu dan ayah bersamaan.
" Iya barusan aja Rubel dan Hana nya pergi lagi." jawab Haikal mengerjai keduanya.
" Pergi lagi??" tanya ibu dan ayah bersamaan lagi.
" Enggak kok Tan, Hana dan Rubel di dalam kamar." jawab Mila menjelaskan.
" Duh payah nih bini gua, gak bisa di ajak boong dikit." gerutu nya kesal. Mila segera memasang wajah juteknya, dan bersedekap kedua tangannya.
" Yah sudah tidur sendiri." ucap mila penuh ancaman dan berjalan ke arah kamar.
__ADS_1
" Yah apes dah telurnya udah hangus." Ucap Haikal lemas.
" Telor siapa hangus??" tanya ibu meledek Haikal.
" Telor dadarnya hangus." jawab Haikal manyun. dan menyusul Mila ke kamar.
" Sayang!" panggil Haikal lembut sambil mengusap lembut rambut Mila.
" Heuh." jawab Mila malas dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Kok sensi sih?" tanya Haikal bingung melihat istrinya tiba-tiba mudah tersinggung."
" Lagi palang merah. jawab Mila cepat. sambil memunggungi Haikal.
" Palang merah??" tanya Haikal bingung.
" iya." jawab Mila pendek dengan senyum puas tersungging di bibirnya.
" maksudnya??"
" Datang bulan mas." ucap Mila pelan dan tersipu malu.
" Ya Ampun apes deh, padahal udah ngebayangin bakal makan enak eh malah dapat telor Angus beneran, nasib-nasib." ucap Haikal manyun sambil menggelengkan kepalanya. Mila tertawa berhasil mengerjai suaminya.
Haikal keluar kamar dengan wajah tak bersemangat, Rubel dan Hana juga keluar kamar hendak menanyakan kedatangan keluarga besarnya kemari. Rubel dan Hana berpapasan dengan Haikal, mereka tidak berani mengerjai Haikal, Hana bertanya sangat sopan namun dianggap Haikal menyindir dirinya.
" Ada apa bang Haikal kok wajahnya kusut gitu?" tanya Hana dengan wajah serius.
" Kusut-kusut emang baju kusut." umpat Haikal kesal. Hana tidak menampik ocehan Haikal dia tetap berbicara apa adanya.
" Abang Haikal sakit??" tanya Hana lagi.
" Iya sakit hati." teriaknya kesal dan berlalu keluar Rumah tanpa memakai jaket tebal.
Semua orang di buat melongo dengan perilaku Haikal yang tidak biasanya. Hana dan Rubel mendekati semua keluarga. mereka berdua menyalami dan memeluk ibu dan ayahnya bergantian mereka pun duduk di meja tengah.
" Bu, kok gak bilang sih mau ke kemari??" tanya Hana penasaran.
" Tadinya mau buat kejutan tapi batal." jawab Ibu lemes.
" Hehehe habis pada ribut semua, jadi kita memutar lewat belakang eh tahunya udah keduluan digiring ma Haikal masuk." jawab Hana merasa lucu.
" Kapan sampe nya Bu?" tanya Rubel pada Ibu.
" Baru aja sampe." jawab Ibu cepat dengan dengus nafas kelelahan.
" Ya sudah semuanya istirahat aja dulu, kebetulan kamar atas kosong cocok buat buat Om Purnawan dan Om Purwanto. Haikal kan sudah di kamar nya Kak Tasya, Ibu dan Ayah dikamar tamu." ucap Rubel berbasa-basi.
" Telat??" tanya Rubel bingung.
" Barang-barang mereka semua sudah di susun rapi oleh Bibi ke kamar atas." jawab Mama menjelaskan.
Hana dan Rubel pikir Bibi Imas yang bekerja di rumah Rubel. tiba-tiba Bibi Ifa turun dari lantai atas sambil melemparkan senyuman bahagia.
" Loh, Bibi juga ikut." ucap Hana tersenyum bahagia dan memeluk orang yang begitu berarti dalam kehidupan Rubel dan Nyai.
" Jadi si tukang sayur di tinggalin nih?" ledek Rubel tiba-tiba, membuat wajah Bibi Ifa bersemu merah.
" Iya den, Ibu ngajakin Bibi buat ikut liburan kemari lagian Bibi juga kangen sama Bi Imas." jawab Bibi sumringah.
" Kalo di tinggal kasian juga Bi Ifa di Rumah Segede Istana tidur sendirian, kan gak mungkin ditemani Diko dama Leo." Sindir ibu membuat semua tertawa.
" Terus kenapa semua pada kemari?" tanya Hana masih penasaran.
" Mama ngabarin kehamilan mu sama Ibu, terus kita merencanakan mau buatin selamatan kehamilan mu, kata Om Purnawan kamu gak akan balik ke Indonesia secepat mungkin, apalagi ibu hamil muda di larang naek pesawat jadinya kita berinisiatif buat ke kemari. awalnya kita mau nginap di hotel tapi Mama gak izinin katanya Rumahnya juga gede kamar kosong banyak, jadinya kita kemari." jelas Ibu panjang lebar.
" MasyaAllah kenapa jadi ngerepotin gini." ucap Hana terharu.
" Sekalian liburan." jawab om Purnawan cepat.
" Ya Alhamdulillah, kan gak mungkin di tolak trus suruh pulang" seloroh Mama pada Rubel dan Hana.
" Mama bisa aja." ucap Hana bahagia. sambil memeluk sang mertua dengan manja.
" Mang Angin pake di tolak segala." ucap Haikal tiba-tiba muncul.
" Astagfirullah, benar-benar deh bang Haikal bikin jantung kita mau loncat." ucap Hana begitu kaget.
" loncat aja." jawab Haikal asal dengan wajah masih seperti tadi.
" Kayanya ada yang salah minum obat yah?" ucap Om Purwanto ikut nimbrung, sambil matanya melirik ke arah Haikal dengan tatapan menggoda.
" Papa juga ikut-ikutan bikin jengkel, orang lagi kesel juga." ucap Haikal sewot. dan menghempas tubuhnya ke atas sofa.
" Istirahat dikamar gih." ucap Hana perhatian.
" Males ah, mau tidur di sini aja." jawab Haikal cepat. dan segera memejamkan matanya.
" Masuk sana." ucap Om Purwanto kesal melihat Haikal yang begitu manja menurut nya.
" Pa Haikal gak mau dikamar." jawabnya terburu-buru.
" Kenapa?" tanya sang Papa ingin tahu, karena Haikal begitu aneh dari pada biasanya.
__ADS_1
" Karena Mila lagi palang merah." ucap Haikal malu-malu. membuat semua tertawa.
" Jadi kalo dia lagi palang merah kamu gak bisa tidur di kamar?" tanya Papanya menggoda.
" Papa kaya gak pernah muda aja." ucap Tante Lyra ikut menimpali. wajah om Purwanto ikut memerah.
" Jangan buka kartu dung." bisik om Purwanto malu. membuat semua orang ikut tertawa.
" Tuh kan, Papa." jawab Haikal merasa dibela sang Mama.
" Mama sih ikut belain Haikal jadi besar tuh kepalanya." ucap om Purwanto sedikit kesal.
" Papa sama anak sama aja." tanggap Tante Lyra cepat dan berjalan meninggalkan semua orang naik ke kamar atas.
" Dih pada ngambek semua, mertua ma menantu sama aja." sungut om Purwanto lemas. Hana dan Rubel hanya diam saja melihat kedua ayah dan anak itu ditinggal para istri-istrinya ke kamar. mereka sebenarnya merasa lucu, tapi Rubel dan Hana lebih memilih diam. Haikal yang suka jahil mulutnya mulai ember.
" Tumben yah nyamuknya pada diem." ledek Haikal namun Hana dan Rubel lebih memilih memainkan ponselnya dari pada menggubris Haikal, kelakukan dua pasangan itu benar-benar menguras pikiran Haikal.
" Woi, diem-diem Bae? tumben apa ada yang salah?" tanya Haikal benar-benar penasaran melihat Rubel dan Hana tanpa reaksi yang menjengkelkan.
" Kangen yah?" celutuk Hana menggoda.
" Aneh?"
" Jadi kalo kita gak ngerespon menurut bang Haikal aneh.
" Iya, Aneh." jawabnya sekena.
Om Purnawan dan Tante Merry berjalan meninggalkan mereka.
" Melisa, kami ke atas dulu yah." ucapnya, mohon izin pada mama Melisa. Tante Merry memeluk Hana.
" Kami istirahat dulu yah sayang." ucapnya pada Hana dan Rubel.
" Duh kok pada narsis semua yah." ketus Haikal kesal, karena om Purnawan ikut pergi.
" Selesaikan masalah kalian dikamar jangan ngumpet disini trus koar-koar." ucap om Purnawan tegas. membuat Haikal sedikit ciut, karena kalo om Purnawan sudah mulai serius tandanya dia tidak ingin ikut campur urusan apapun.
Haikal menyenggol sang Papa berulang-ulang dengan sikunya.
" Apa sih." ucap om Purwanto kesal, karena Haikal mengganggu istirahat nya yang sudah selonjoran kaki di sofa.
" Papa gak denger yang dibilang sama bos Besar." bisik Haikal pelan.
" Heuh." jawab papanya pendek.
" Ayok pa kita ke kamar." ajaknya tapi sang papa malah berfikiran lain.
" Ngapain ngajak Papa ke kamar mu!" ucap om Purwanto ketus.
" Ya elah Papa maksud Haikal, kita masuk ke kamar masing-masing nyusul para nyonya-nyonya dikamar." terang Haikal mulai serius.
" Tumben bener." sindir sang Papa.
" Mang selama ini Haikal gak bener?" gerutu Haikal kesal. tingkah kedua orang itu membuat Hana dan Rubel yang berusaha diam akhirnya pun tawa mereka meledak.
" Woi, enggak lucu." ucap Haikal dan memasang wajah masam.
" Ma, kami masuk kamar yah." ucap Hana tiba-tiba sambil menarik tangan Rubel. mereka berdua pun meninggalkan Haikal, Om Purwanto dan juga Mama.
" Yah pada bubar." gerutu Haikal semakin kesal.
" Bang Melisa ke kamar dulu yah." ucap Mama Melisa tiba-tiba, dan beranjak meninggalkan mereka berdua.
" Silahkan." jawab Om Purwanto.
" Semua pada aneh." ucap Haikal bingung.
" Bukan aneh, mereka lagi gak mood ngeladenin kamu." ucap sang Papa dan juga ikutan berangkat menuju kamar untuk beristirahat.
" Yah di tinggalin deh." akhirnya Haikal pun ikut bangun. berjalan dengan gontai menuju kamar. dia segera masuk melihat Mila yang sudah kedinginan padahal AC di dalam kamar tidak hidup.
" Kenapa?" tanya Haikal bingung.
" Dingin." ucap Mila pelan. Haikal segera menghampiri Mila dan naik ke atas ranjang. mendekatkan tubuhnya memeluk Mila. dan menarik selimut.
" Masih dingin?" tanya Haikal perhatian.
" Dikit." jawab Mila dengan tersenyum manis. Haikal jadi merasa bersalah. tadi dia begitu cepat marah padahal Mila juga butuh perhatian dari nya.
" Dasar bodoh." umpatnya menyalahkan dirinya sendiri. dia pun mengelus lembut kepala Mila, dan mencium kening Mila berulang-ulang.
" Maafin mas yah." ucapnya pelan. membuat Mila tersipu-sipu dan membalas pelukan Haikal. mereka pun tidur hingga sore tiba.
"
"
"
"
" Hai sahabat Dokter Cool Jangan lupa Vote Like dan komennya yah terimakasih 😍🤗"
__ADS_1