Dokter Cool

Dokter Cool
Bab 24


__ADS_3

matahari telah meninggi, dan udara saat itu sangat panas.. Rubel kembali ke ruangan Hana dirawat, sejak pagi tadi dia meninggalkan Hana, dia pulang kerumah untuk mandi dan mengambil beberapa pakaian Hana yang berada di lemari kamar tamu.


dia meminta beberapa orang perawat untuk memindahkan Hana menggunakan troli bed, menuju kamar yang telah di boking nya tadi subuh. setelah dia mendapat info dari perawat bahwa pasien di kamar itu telah pulang.


"siang dok." sapa pasien-pasien dikamar itu.


"siang, maaf yah semuanya dari kami datang membuat bapak-ibu semua tidak nyaman beristirahat." ujar Rubel panjang.


"ah dokter, itu biasa namanya juga istri dokter lagi hamil. kami maklum." jawabnya salah seorang dari mereka.


para perawat mengernyitkan kening, merasa bingung. baru semalem lamaran kok udah hamil aja. ujar mereka dalam hati.


Rubel hanya tersenyum, tidak menanggapi serius ucapan itu. dia memberi tanda agar perawat bisa membawa Hana segera keluar dari ruangan itu.


"tunggu." pinta Rubel pada kedua perawat yang sedang mendorong troli bed Hana.


"dengar yah, saya tidak ingin kalian bergosip tentang kami berdua. Hana dan saya baru saja melakukan prosesi lamaran, mana mungkin dia bisa hamil. jadi tidak usah menjadi bahan gosip kalian soal bahasan ibu itu tadi." ucapnya tegas.


para perawat itu gelagapan, fikiran mereka terbaca oleh Rubel.


"baik dok." jawab mereka serentak sambil meneruskan mendorong Hana ke kamar VIP. setelah selesai mereka beranjak dari tempat itu meninggal kan mereka berdua di kamar.


Rubel menghembus nafas lega. dia bisa beristirahat dengan tenang disini tanpa harus menjadi pusat perhatian orang karena keadaan Hana yang tidak normal. jika orang mendengar Hana muntah orang akan berfikir bahwa dia hamil pada hal itu karena kondisi tubuhnya sedang tidak stabil.


terdengar suara pintu di ketok.


"masuk." ujar Rubel cepat.


Lila segera masuk, membawa seorang perawat untuk mengambil darah Hana untuk dicek lagi setelah hampir sebulan.


"gimana keadaan mu Hana?" tanya Lila pada Hana.


"aku masih pusing. bawaannya mual dan muntah." jawab hana. Lila memandang ke arah Rubel dengan tatapan tajam.


"apa yang telah kamu lakukan kepada Hana?" tanya Lila dengan tatapan menakutkan.


"hei kenapa jadi aku yang di interogasi, bukan kah itu hal yang wajar di alami penderita neutropenia. ucap Rubel tanpa sadar.


lila lupa Hana sedang sakit. mereka berdua terdiam. saat Hana menyambung.


"sakit apa itu?" tanya Hana bingung.


Rubel dan Lila saling pandang, untung Hana tidak tahu istilah-istilah kedokteran jadi dia tidak terlalu panik tentang sakitnya.


" oh itu asam lambung." jawab Rubel asal.


biar Hana tidak terlalu berpikiran yang aneh-aneh tentang sakitnya.


"oh, asam lambung yah.. pantesan bawaannya muntah-muntah." ujarnya sedikit tenang.


tiba-tiba ada seorang perawat menghampiri mereka. dia tahu hari ini Rubel ingin beristirahat tapi ada pasien yang harus segera ditangani.


"maaf dok, ada pasien gawat darurat dia mengalami cedera yang sangat parah di lengannya. kata orang tuanya karena percobaan bunuh diri." ujar perawat itu panjang.


Rubel menghampiri Hana.


"sayang, ana dengan Lila dulu yah, Ino harus menolong orang itu , karena kondisi nya sangat riskan." ucap Rubel pada Hana sambil mencium tangan Hana lembut.


Hana mengangguk kecil.


"iya sayang semoga lancar yah." ucapnya menyemangati.


"iya sayang, makasih Do'anya." dan Rubel pun berlalu menuju IGD.


seorang laki-laki dan seorang wanita berpenampilan sederhana sedang mencemaskan anaknya. Rubel belum menggunakan pakaian dinasnya. dia menghampiri kedua orang itu.


"bagaimana sus apa dokternya bisa menolong anak saya?" tanya ibu itu sangat panik.


"saya akan coba sebisanya Bu." terang Rubel mendekatinya.


laki-laki dan wanita itu menatap tak percaya bahwa laki-laki yang sedang berdiri dekat mereka adalah dokter yang dimaksud oleh perawat tadi.


"baiklah tolong bantu anak saya secepatnya, masalah uang bagi saya tidak masalah.selamatkan dia segera, berapa pun anda minta akan saya berikan karena telah menganggu waktu libur anda." ujar laki-laki itu cepat.


seorang gadis terbaring lemah tak sadarkan diri di troli bed dengan nadi terluka dan bersimbah darah di pakaiannya. semua perawat yang membantu segera menyiapkan ruang operasi dan Rubel pun segera melakukan tugasnya. karena cepat di ambil tindakan operasi itu berjalan lancar tidak harus menunggu lama. Rubel telah menjahit tangan gadis itu.


dia pun keluar, dan menghampiri kedua orang tua gadis itu.


"bagaimana dok?" tanya mereka serempak.


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar. karena ibu dan bapak segera membawa nya kemari.


"Syukurlah dok, terimakasih banyak. saya tidak tahu harus membalas kebaikan anda, karena telah mengorbankan waktu libur anda demi menyelamatkan putri saya." ujar laki-laki itu.


"sudah kewajiban saya membantu siapapun. termasuk putri bapak." jawab Rubel menjelaskan.

__ADS_1


laki-laki itu melihat Rubel sangat antusias.


laki-laki yang bertanggung jawab, tampan dan sangat toleransi.


"apakah anda sudah menikah.?" tanya laki-laki itu pada Rubel.


"Rubel tersenyum, Alhamdulillah pak saya sudah lamaran semalem." ucap rubel jujur.


ibu itu memandangi suaminya, ada sesuatu yang mereka fikirkan.


"Anda baru lamaran kan? pasti bisa dibatalkan?" tanya laki-laki itu sedikit mengikis luka dihati Rubel.


"maksud bapak?" tanya Rubel sedikit kesal.


"tenang dulu kita akan bicarakan nanti." ujar laki-laki itu berlalu meninggalkan Rubel dengan rasa penasaran dan kesal.


Rubel pergi dengan luka dihati yang sangat mendalam. dia. tidak menyangka kebaikan nya dimanfaatkan oleh orang tua gadis yang telah dia tolong.


Dia pergi ke kamar ana. dia berusaha terlihat baik-baik saja. dia takut hal-hal yang tidak dia inginkan terjadi. dia menghampiri Hana dan memeluknya sangat erat. mereka tidak berhak mengatur hidup ku, aku dan Hana akan segera menikah.


Hana bingung melihat Rubel yang tiba-tiba memeluknya.


"ada apa sayang?" tanya Hana bingung,melihat Rubel begitu erat memeluk nya.


"gak apa-apa cinta Ino. Ino kangen sama ana." ujar nya berusaha menghibur diri.


dia enggan melepaskan pelukan nya pada Hana. tak terasa Air matanya mengalir walaupun dia berusaha untuk menahannya. segera dia seka air mata itu agar Hana tidak melihat dirinya sedang menangis.


******


Ditempat lain di ruangan VVIP, laki-laki dan wanita itu sedang memperhatikan putrinya yang tertidur sangat pulas efek anastesi total.


wanita itu belum paham yang dimaksud suaminya tentang ucapan suaminya pada dokter yang menolong putrinya.


"Pa, apa maksud papa ingin membatalkan pernikahan dokter itu?" tanya wanita itu ada suaminya.


laki-laki itu memandangi putri kesayangannya.


"Dokter itu akan kita jodohkan dengan putri kita Maria, agar kita bisa segera menutupi aib keluarga kita tentang kehamilan Maria." ujar laki-laki itu pada istrinya.


"jangan pa, dia sudah menolong putri kita, seharunya kita memberikan imbalan yang pantas untuknya, bukan melibatkan dia dalam masalah kita." ujar wanita itu tidak terima rencana suaminya.


"aku tidak melibatkan dia, justru aku ingin membalas kebaikan dia dengan menikahkannya dengan Maria. aku akan memberikan segalanya untuk dia asalkan dia mau menikahi putri kita, dan jika dia tidak mau maka aku akan membuat dia kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan nya, dimana pun itu." ucapnya begitu egois.


istrinya hanya bisa diam, dia sangat paham betul jika suaminya sudah menginginkan sesuatu maka semua itu harus dia dapatkan.


"apakah saya bisa bertemu dengan dokter Rubel? tanya wanita itu cepat.


"dokter Rubel sedang berada di ruangan VIP Bu, dia sedang berada diruangan calon istrinya." jelas perawat itu kepada wanita itu.


perawat itu menunjukkan kamar dimana Hana dirawat. dan mengetuk pintu.


"maaf dok ada yang mencari anda." ujarnya pada Rubel.


wanita itu segera masuk, dia takut suaminya tahu bahwa dia menemui Rubel. Rubel terkejut dia bingung menghadapi wanita itu di depan Hana.


"apa ibu bisa bicara sebentar dengan dokter." tanya wanita itu pada Rubel.


rubel mengangguk pelan.


"boleh, tapi bisa kah kita berbicara diluar." jawab Rubel pelan.


ibu itu paham, dia juga tidak ingin mengatakan itu semua di hadapan calon istri dokter itu.


"maafkan ibu mengganggu nak Rubel. ibu kesini mau minta maaf atas ucapan suami ibu soal tadi." ucapnya lirih.


"gak apa-apa Bu." jawab Rubel pelan dengan wajah lesu.


"nak, sebaiknya nak Rubel dan calon istri nak Rubel segera pergi dari sini." ibu tidak ingin kalian terlibat dalam masalah keluarga kami.


"tapi Bu, calon istri saya sedang sakit. dan saat ini rumah sakit ini tempat saya mengabdi, tidak mungkin saya meninggalkan rumah sakit ini begitu saja." jawab Rubel agak kecewa.


"dengarkan ibu nak, karena ibu sayang dengan kalian berdua, cari lah tempat aman untuk kalian, karena suami saya purnawan Agiawan akan melakukan apapun untuk mendapatkan yang dia inginkan." bahkan bisa menghancurkan karir mu sebagai dokter." ujarnya tegas.


Rubel tertegun, apa yang harus dia lakukan.


tidak mungkin dia membawa Hana pergi dengan keadaan nya yang sangat lemah seperti ini.


"ibu akan membantu nak Rubel keluar dari sini, sebagai imbalan nak dokter telah menyelamatkan putri ibu." jelasnya panjang.


"ibu, calon istri saya sedang dirawat dan dia menderita sakit neutropenia. ujarnya pada wanita itu.


wanita itu terdiam, dia bingung harus melakukan apa.


"tidak ada cara lain nak, secepatnya kalian harus pergi dari sini. ucap nya cepat.

__ADS_1


Rubel berlalu meninggalkan kan wanita itu, dia menelpon Haikal, Dion dan Diko. tak berapa lama mereka tiba di depan ruangan VIP dimana Hana di rawat.


"aku sedang ada masalah besar." ujarnya pada mereka bertiga.


"masalah." tanya Haikal bingung.


"tenangin dirimu dulu bel, ceritakan pada kami. mungkin kami bisa membantumu mencari jalan keluar." sambung Dion.


"ada seorang ibu meminta ku dan Hana segera pergi dari sini."


"masalahnya?" potong Haikal cepat.


"suaminya ingin menikahkan putrinya denganku. dan mengancam akan menjatuhkan karir ku bila aku tidak ingin menikahi putrinya."


"apa?" tanya mereka bertiga tak percaya.


"siapa dia berani-berani nya memaksakan kehendaknya padamu." ujar Haikal berang.


"Namanya Purnawan Agiawan. jawab Rubel pelan.


"Hah?" apa Purnawan Agiawan?" tanya Haikal tak percaya.


"tidak mungkin. kita tidak akan bisa melawan laki-laki itu." ujarnya menjelaskan.


"kenapa?" tanya Rubel bingung.


"Dia Abang papaku. sifatnya sangat egois, dia akan melakukan apapun yang dia mau." Bahkan menghancurkan lawan-lawan nya.


dia punya kekuasaan di negara ini, perusahaan nya dimana-mana. tidak ada celah untuk bisa lari dari nya. jika tidak dari sekarang kalian pergi." jelasnya panjang.


"papa adalah adik kesayangannya, tapi saat ini papa masih dipenjara." jawab Haikal lagi.


"satu-satunya cara mengeluarkan papa agar papa membujuk abangnya untuk membatalkan rencana ini." jelas Haikal meyakinkan.


"Apakah bisa mencabut gugatan untuk pak Purwanto Agiawan dan Kirana?" tanya Rubel pada Dion


"kamu bisa saja mencabut semua gugataan tapi tidak semudah itu, semua ada prosesnya." jelas Dion.


"kita harus melakukan mediasi damai, dan Hana harus hadir sebagai pelapor dan mencabut semua laporan dan surat perdamaian antara Hana dan bapak Purwanto Agiawan beserta Kirana. jelas Dion.


"Rubel, untuk masalah Hana. kita akan mencoba pengobatan tradisional agar kamu dan Hana tidak berada dirumah sakit untuk saat ini." timpal Diko cepat.


"aku setuju usulan Diko." ucap Lila cepat.


tanpa mereka sadari Lila telah mendengar semua percakapan mereka mulai dari ancaman Purnawan Agiawan, dan mencabut laporan Purwanto Agiawan.


"kamu?" tanya Rubel bingung.


"kamu lupa,dengan sahabatmu ini?" tanya Lila sedikit kesal.


"bukan itu, aku tidak ingin menyusahkan mu." ujar Rubel pada Lila.


"Diko, tolong bawa Hana keluar dari sini sesegera mungkin." bawa dia kerumah nyai ku.


"apakah aku bisa mewakili Hana untuk mencabut laporan itu.?" tanya rubel pada Dion.


"sebaiknya Hana kita bawa agar proses bisa segera dilaksanakan. tapi untuk menghindari bapak Purnawan Agiawan kita berangkat nya terpisah. jelas Dion.


"rubel kau ikut dengan ku." ajak Dion pada rubel.


Lila memberikan masker dan topi agar Rubel tidak dikenali.


"Terimakasih banyak untuk kalian semua." ucap Rubel pada mereka.


"Diko tolong bawa Hana langsung ke kantor untuk segera menyelesaikan pencabutan laporan." ujar Dion tegas.


"baik pak." jawab Diko cepat.


mereka segera pergi dari rumah sakit, diko segera menemui Hana di ruangan dia dirawat.


"maaf mbak saya diminta Rubel untuk membawa mbak Hana keluar dari sini. izinkan saya menggendong mbak hana."ujar Diko cepat.


"baiklah." Hana tidak ingin bertanya banyak. pasti semua ini demi kebaikan dia.


Diko meraih botol infus dan menutup selangnya sementara. dan mereka segera pergi dari rumah sakit.


Diko dan Hana tiba di kantor polisi lebih awal, tak berapa lama Rubel Dion dan Haikal tiba.


Rubel langsung menyambut Hana dan menggendong nya. Hana bingung dengan kejadian ini.


"ada apa sayang? kenapa kita kesini?" tanya dia heran.


"kita harus mencabut laporan Papa Haikal agar kita bisa terbebas dari ancaman abangnya Papa Haikal." jawab Rubel tanpa di tutupi.


"maksudnya?" tanya Hana makin bingung.

__ADS_1


"nanti Ino akan ceritakan semuanya pada ana. sekarang kita hanya ada waktu sedikit.". terang Rubel cepat. dan mereka segera masuk kedalam kantor.


__ADS_2