Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 81


__ADS_3

Pagi yang menyenangkan hari ini Bagi rubel dan Hana setelah beberapa hari mereka pulang dari Sydney. Rubel dan Hana segera keluar kamar untuk sarapan pagi. ibu telah menyiapkan makanan.


" Bu, Bibi kok gak kelihatan?" tanya Rubel pada ibu.


" Bibi ada dikamar nya katanya sedang tidak enak badan." jawab Ibu.


" Apa Bibi udah sarapan Bu?" tanya Hana khawatir.


" Tadi sudah Ibu antar sarapannya Bibi."


" Sayang, coba kamu periksa Bi Ifah Ana khawatir sama beliau karena beliau jarang sakit, dan gak biasanya Ibu sampai mengantar sarapan ke kamar."


Selesai makan mereka berdua segera ke kamar Bi Ifah.


" Bi." panggil Hana pada Bi Ifah.


" Iya mbak." jawabnya lemas.


" Kok gak dimakan sarapannya?" tanya Hana bingung melihat sarapan yang di bawa Ibu masih terlihat baik dan belum tersentuh sedikit pun di atas meja.


" Iya Mbak nanti saja, Bibi lagi gak enak badan." ucapnya pelan.


Rubel segera mendekat, dan memeriksa tubuh Bi Ifah. dia pun segera ke kamar mengambil obat di kotak P3K.


" Bi, makan sedikit dulu yah kemudian minum obat ini." ucap Rubel dan meletakkan obat di atas meja.


" Bi, Hana suapin yah." ucap Hana.


" Aduh, jangan repot-repot mbak Bibi gak kenapa-kenapa kok cuma demam sedikit, sebentar lagi juga sembuh?" ucap bibi menolak.


" Bangun, dan dengerin Hana yah kalo gak Hana gak mau lagi temenan sama bibi." ucap Hana setengah mengancam.


" Aduh, Mbak bibi jadi keenakan di urusin sama Mbak." ucap bibi menggoda. dan segera bangun dari baring nya.


Mata Bibi berkaca, dia merasa begitu diperhatikan oleh semua keluarga Hana.


" Bibi, bener-benar gak tahu gimana cara nya balas Budi sama Mbak Hana dan den Rubel juga semuanya yang ada."


" Loh, kok balas Budi sih Bi, seharunya kami yang ngomong ke Bibi kalo gak ada Bibi siapa dong yang ngebantu, Almarhumah Nyai dan juga Ibu selama ini." ucap Hana dan segera memeluk Bi ifah.


" Dengerin tuh Bi, jangan bandel lagi sekarang biarkan Hana yang menyuapi Bibi nanti kalo kami sudah punya anak, giliran bibi yang menyuapinya." ucap Rubel.


Setelah bisa Ifah selesai makan Rubel dan Hana segera keluar kamar agar Bi Ifah bisa istirahat lagi.


Hari ini Rubel dan Hana berencana mengunjungi Alan, mereka ingin mencari tahu Soal Rumah Sakit yang dijual oleh Alan, sembari menjenguk Papa. karena Rumah Alan cuma berjarak 2 km dari Rumah, mereka pun tiba hanya dalam hitungan menit.


Mobil mereka pun tiba di komplek Perumahan Kencana L. Rubel memutar membukakan pintu untuk Hana.


" Hem, baiknya suamiku makasih yah sayang."


" Silahkan turun tuan Putri."


Rubel memencet bel yang berada di pintu masuk. cukup lama mereka menunggu akhirnya penghuni Rumah keluar juga.


" Maaf ada apa yah? tanya seorang perempuan paruh baya.


" Maaf Bu, Alan nya ada?" tanya Rubel.


" Ada den, tunggu sebentar yah saya panggilkan dulu." ucapnya dan berlalu masuk tanpa mempersilahkan mereka untuk masuk.


" Beuh, parah emang kita apaan segitu aja gak dikasih masuk." celutuk Hana kesal.


" Sabar, mungkin memang seperti itu cara mereka menyambut tamu wajar aja mereka sudah terbiasa untuk tidak membiarkan orang yang tidak dikenal masuk." jawab Rubel menenangkan.


" Tapi kan..."


" Sabar sayangku farhanah binti Ghana bentar lagi juga disuruh masuk." goda Rubel.


" Enggak gitu juga kali, manggil nya." ledek Hana gemas.,


" Habis bibir kamu kaya rel kereta api panjang-panjang kaya iklan coki-coki."


" Deuh, ngeles aja bilangin aja males dengerin mulut imut nya Ana."


" Hehehe tuh tahu." ledek Rubel membuat Hana makin kesal dan ingin mencubit Rubel tapi Alan lebih dulu keluar membuat Hana mengurung kan niatnya.


" Oh, Kak Rubel dan Mbak Hana mari masuk, maaf yah rada tidak sopan membiarkan kalian diluar, maklum takut salah bawa tamu, karena sering masuk maling." ucap Alan menjelaskan.


" Tuh benerkan kata Ino." bisiknya pada Hana.

__ADS_1


" Heuh." jawab Hana pendek.


" Oh, maaf yah Alan kenapa gak pake penjaga pos aja." ucap Hana ikut menyambung.


" Papa gak mau, katanya sudah ada pak pos di simpang perumahan jadi gak perlu lagi pos di dalam pekarangan rumah." jawab Alan menjelaskan.


" Iya sih." jawab Hana pendek.


Mereka duduk di kursi tengah. papa berjalan ke arah mereka dan ikut bergabung bersama. Papa terus memperhatikan Rubel dan akhirnya mulutnya tak lagi sanggup dia tahan.


" Apakah kamu Rubelino anaknya Melisa?" ucapnya tiba-tiba. membuat Rubel dan Hana panik.


" Hehehe Bapak salah orang pak." jawab Rubel mencoba mengeles.


" Tapi hati ku tidak bisa kamu bohongi." ucapnya setengah memaksa.


" Pa, sudah lah itu hanya perasaan Papa saja, sebaiknya kita membicarakan masalah bisnis saja dulu." ucap Alan mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Gimana Kak, apa ada pertimbangan untuk Rumah Sakit?"


" Apakah Kakak boleh melihat keadaan Rumah Sakit itu?"


" Rumah Sakit Srikandi namanya Kak."


" Ehm, iya itu."


" Baiklah, kapan?"


" Hari ini bisa?"


" Bisa sih cuma, mau bawa Papa ke Rumah Sakit Z, untuk Cek Up."


" Tidak apa-apa bawa saja dulu Kak Rubel ke Rumah Sakit kita Papa bisa Cek Up besok." ucap Pak Hamid cepat dan segera berlalu masuk kedalam kamar tanpa pamit dengan Rubel dan Hana.


Rubel tahu Papa yakin bahwa dirinya Rubel anaknya, yang sekian lama dia tinggalkan. karena kecewa dia memilih segera masuk ke kamar.


Di dalam kamar Pak Hamid duduk di pinggir tempat tidurnya. teringat akan kejadian 20 tahun silam.


Flashback On


Pak Hamid lebih memilih Risa Mamanya Alan, yang saat itu sudah hamil. itu adalah kesalahan yang sangat fatal yang pernah dia lakukan karena saat itu dia mengincar perusahaan milik Papanya Risa. saat itu jabatan Pak Hamid sebagai manager Papa nya Risa.


Flashback off


" Apa mereka membenciku?" guman pak Hamid.


" Tentu saja, aku telah menyia-nyiakan mereka selama ini dan membiarkan Melisa berusaha sekeras mungkin untuk membesarkan anak-anak dan Mama nya."


" Maafin Papa yah nak." ucapnya bersedih.


*****


Rubel dan Hana mengikuti mobil Alan menuju Rumah Sakit Srikandi. benar apa yang dikatakan Alan, Rumah Sakit itu layaknya Rumah Sakit kumuh yang tak terawat. Rubel benar-benar tidak bisa berbuat banyak demi menyelamatkan Rumah Sakit itu. mereka berkeliling Rumah Sakit, sungguh pemandangan yang sulit di kategorikan sebagai Rumah Sakit. hanya beberapa orang saja yang bekerja dan mereka sebagai tukang bersih-bersih Rumah Sakit itu. mereka duduk di kursi panjang dekat Lobby Rumah Sakit.


" Berapa akan kamu jual?" tanya Rubel langsung.


" Entahlah, bagaimana pendapat kakak Rumah Sakit ini."


" Kakak memang tidak banyak uang, tapi jika harganya terjangkau akan kakak usahakan untuk membeli nya."


" Baiklah, akan Alan bicarakan sama Papa."


" Jangan terlalu lama karena Rumah sakit ini harus segera ditangani." ucap Rubel mengingatkan.


" Kakak tenang saja, Alan akan usahakan harganya bisa serendah mungkin, karena dulu pernah Alan tawarkan beberapa orang mereka langsung angkat tangan sekalipun Alan menjual dengan harga murah." ucap nya menjelaskan.


Hana menyenggol tangan Rubel.


" Ino yakin sayang?" tanya Hana.


" Iya sayang, cuma saat ini kita tidak punya banyak uang." ucap Rubel berbisik.


" Apa perlu kita meminta tolong ibu?"


" Jangan sayang, Ibu sudah banyak menolong Ino, Ino gak mau menjadi beban Ibu atau kedua om Ana."


" Kalo Haikal?"


" Jangan, Ino gak mau nanti akan kita fikirkan lagi, jika memang Rumah Sakit ini rezeki kita dan anak kita kita akan mendapatkan Rumah Sakit ini secepatnya.

__ADS_1


Alan sedang berjalan kesebuah Ruangan Operasi, di ikuti Hana dan Rubel.


" Kak coba kakak periksa apakah alat ini masih berfungsi?" tanya Alan pada Rubel. menunjukkan alat Electrosurgical Unit, Rubel mencoba menghidupkan nya, dan alat itu masih berfungsi dengan baik.


Tapi karena Alan tidak mengerti dia pun bertanya pada Rubel.


" Bagaimana kak?"


" Bagus bahkan alat nya masih berfungsi dengan baik." jawab Rubel jujur.


" Hehehe kakak bercanda mereka bilang bahwa semua alat disini rusak semua." ucap Alan tak percaya.


" Baiklah." jawab Rubel pasrah..


" Alan benar-benar tidak tahu masalah alat Rumah Sakit jadi wajar saja dia tidak mengerti cara kerja alat ini semua." batin Rubel. karena penasaran, Rubel kembali mengecek, alat yang lainnya, mesin anestesi, monitor pasien, Defibrilator, meja operasi, lampu operasi, suction pump, dan mengejutkan semua alat itu masih berfungsi dengan baik.


Hana benar-benar tidak percaya, apa yang sudah Rubel lakukan. sedangkan Alan sudah keluar untuk menunjukkan ruang ICU. dengan terburu-buru Rubel menekan tombol off pada semua alat itu dan segera menyusul Alan.


Mereka sudah berkeliling Rumah Sakit, dan semua alat yang di periksa Rubel semuanya bisa beroperasi dengan baik.


" Sepertinya ada sesuatu yang telah di rahasiakan dari para tim medis disini, sehingga mereka semuanya pergi dari sini."


Rubel dan Hana mencoba mencari tahu, tapi tidak ada seorang pun yang ada di rumah sakit itu kecuali para tukang bersih-bersih. Alan mengunci kembali semua ruangan dan Rubel segera mencari tahu pada tukang bersih-bersih yang kebetulan sedang membersihkan taman.


" Maaf pak, kenapa dokter dan perawat ini tidak ada satu pun yang bertahan."


" Hehehe, maaf den saya cuma tahu bahwa gaji mereka sangat kecil, setelah Ibu Risa meninggal dan Rumah Sakit ini dikelola oleh Adiknya Ibu Risa, karena Bapak Hamid tidak paham masalah Rumah Sakit, dan lambat laun Adik Ibu Risa juga menyerah dan berhenti untuk mengurusi Rumah Sakit Ini, hanya kami saja yang dipekerjakan untuk membersihkan Rumah Sakit ini ucapnya cepat dan segera berlalu meninggalkan Rubel dan Hana.


" Pantas saja." ucap Hana.


" Baiklah, kita harus bangkit lagi sayang." ucap Rubel bersemangat.


Rubel dan Hana segera pulang, begitu juga Alan, sebelum pulang tadi mereka sempat bertukar nomor ponsel. Hari ini adalah pelajaran berharga bagi mereka berdua, pentingnya sebuah ilmu agar mereka tidak mudah dibodohi. Rubel bersyukur walaupun hanya sebagai dokter bedah dia tidak terlalu cupu untuk bisa mengoperasikan semua alat yang ada di Rumah Sakit, biasanya hanya orang-orang tertentu saja yang mengerti.


Hari sudah malam baru saja Rubel dan Hana masuk kedalam kamar untuk beristirahat sebuah panggilan telepon dari Alan.


" Ada apa yah?" tanya Rubel dan segera menyambut panggilan itu.


" Assalamu'alaikum." salam Rubel.


" Waa'laikum salam Kak,maaf mengganggu tapi apakah kakak bisa kemari Papa begitu sesak." ucap Alan cepat.


" Baiklah kami akan segera kesana." jawab Rubel cepat dan mereka berdua segera pergi, Rubel berhenti di sebuah apotik untuk membeli Oksigen portable. karena stok di Rumah habis."


Tibalah mereka berdua di Kediaman Pak Hamid. bibi segera membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk, sikap Bibi kali ini lebih bersahabat ketimbang pagi tadi.


" Silahkan masuk den, sudah ditunggu den Alan di kamar Bapak." ucap Bibi si asisten Rumah Tangga Pak Hamid. mereka berdua ikut kedalam kamar Pak Hamid.


Rubel segera memasang kan oksigen portabel nya pada Pak Hamid. ada ke khawatiran diraut wajah Rubel, bagaimanapun pak Hamid adalah Ayah kandungnya. Ayah yang hebat kala itu, lelaki yang begitu menyayangi mereka semua, tapi sejak kehadiran Risa, semua itu hilang tak berbekas.


Nafas Pak Hamid mulai teratur, Rubel berinisiatif untuk mengecek kondisi sang Papa. Mulai dari periksa nadi, cek tensi darah, dan memberikan infus agar pak Hamid bertenaga.


Nafasnya mulai teratur, dan dia melihat kearah Rubel. tanpa bersuara, Rubel tahu pak Hamid terus memperhatikan nya, Rubel berusaha tetap tenang, dia tidak ingin statusnya diketahui oleh sang Papa.


" Alan, ada yang mau Papa bicarakan dengan dokter Rubel dan Mbak Hana." ucap pak Hamid pada Alan.


" Iya pa, Alan keluar dulu yah kak." pamitnya.


Rubel dan Hana saling pandang, sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan oleh Pak Hamid.


" Maaf, Papa tahu kamu Rubel." ucapnya serak .


Rubel hanya diam tak menggubris ucapan Pak hamid.


" Papa tahu Kesalahan Papa 20 tahun lalu tidak bisa di maafkan, tapi berikanlah kesempatan papa untuk menebus kesalahan Papa sebelum ajal menjemput."


" Maaf Pak, bapak salah orang." ucap Rubel Serak.


" Apakah kamu tidak mau memberikan kesempatan sedikit pun untuk Papa?"


Rubel terdiam, dia memang tidak ingin membahas masalah apapun yang menyangkut masa lalu yang begitu menyakitkan bagi Mama Melisa, Dia, dan sang kakak. bagaimana sang Mama harus berjuang sendiri untuk bisa memberikan yang terbaik untuk mereka berdua.


Tapi melihat kondisi Pak Hamid yang sudah sangat lemah, membuat Rubel sedikit luluh hatinya. dia mencoba memberikan titik cerah untuk Pak Hamid sekalipun dia tidak menjelaskan secara detail tentang kehidupan pribadinya pada sang Papa.


" Istirahat lah Pa, tapi maaf Rubel tidak bisa berlama-lama karena Hana sedang hamil." ucap nya serak. walaupun hanya secuil kata Pa, membuat wajah sang Papa merona bahagia.


" Iya nak, pulanglah."


Rubel dan Hana segera keluar dari kamar itu meninggalkan pak Hamid. Alan mengantarkan Rubel dan Hana hingga ke luar.

__ADS_1


Alan tiba-tiba memeluk Rubel seakan tahu suatu hal. Rubel tidak menolaknya walaupun dia hanya adik tirinya dari wanita yang sudah menyakiti Sang Mama. bagaimana pun darah mereka mengalir darah Sang Papa. mereka berdua segera pamit pulang.


__ADS_2