
Rubel menggendong Hana dan menurunkannya di sofa di ruangan kepala Bareskrim. botol infus Hana di gantung di standing Hanger. Dion membuka pintu penjara dan mengajak pak Purwanto Agiawan dan Kirana keruangan Kepala Bareskrim. Hana duduk menyandarkan tubuhnya kesadaran sofa, wajahnya terlihat pucat dan sangat lemah.
"Papa." panggil Haikal kepada Papa nya.
"Iya nak, bagaimana kabarmu." tanya nya pada Haikal.
"Haikal baik-baik aja Pa." jawab Haikal.
"Pa, ini Hana." ujarnya memperkenalkan Hana kepada papanya, selama ini papanya Purwanto Agiawan belum pernah sekalipun bertemu Hana.
Dia menatap Hana sangat lama. dia seperti melihat seseorang yang telah lama dia rindukan, dan dia pun menghampiri Hana.
"maafin om dan Kirana yah." ujarnya meminta maaf dan duduk disebelah Hana.
Kirana yang melihat papanya sangat baik kepada Hana, merasa cemburu. Haikal melihat Kirana dengan ekspresi wajah tak senang. dia paham betul arti wajah itu.
"sini dek." pintanya pada Kirana untuk duduk di dekatnya.
"maaf om, kami kesini ingin minta bantuan om." ujar Rubel langsung pada inti permasalahan.
"Bantuan saya?" tanya pak Purwanto Agiawan bingung.
"Pa, Rubel dan Hana akan mencabut laporan nya." ujar Haikal pada papanya.
"kenapa kok tiba-tiba?" tanya dia heran.
"Pa, om Purnawan ingin Rubel menikah dengan Maria." jelasnya pada papanya.
"apa?" Tanya papa nya tak percaya.
"ceritanya panjang om." ujar Rubel pada nya.
"iya pa, om Purnawan mengancam akan menghancurkan karir Rubel jika dia tidak menerima Maria menjadi istrinya Rubel. sambung Haikal.
"om ingin sekali membantu, tapi om sendiri sulit untuk meluluhkan hati Abang om itu." jelasnya pada Rubel.
"apa tidak sebaiknya kita coba dulu Pa." ujar Haikal meyakinkan.
"akan papa coba tapi papa tidak bisa berjanji." jelasnya.
"tidak apa-apa om, Kami akan sangat berterima kasih untuk usaha om." ujar Rubel pada papa Haikal.
"Ino, ana pusing." tiba-tiba Hana bersuara.
"sini nak berbaringlah di pangkuan om." ujarnya perhatian.
Kirana semakin memerah melihat papanya semakin menunjukkan sayang pada Hana. Entah mengapa dia begitu menyayangi Hana padahal ini pertama kalinya mereka bertemu.
Hana pun menurut, dia pun merasakan papa Haikal seperti bukan orang asing.
"om silahkan tanda tangan di sini. " pinta Dion padanya. dan Kirana di sebelah ini. dan Ana sebagai pihak yang melapor dibawah ini.
"pinta Dion kepada mereka bertiga.
semua telah di tanda tangani. dan gugutan ini dinyatakan telah di cabut.
"Om, bagaimana pendapat om untuk saat ini. apakah kami harus segera bersembunyi dari Abang om itu." tanya Rubel penuh harap.
"tentu saja, sementara kalian bersembunyi dirumah om saja yang di Ponorogo Residen." ujarnya menawarkan.
"Haikal akan menyiapkan segala keperluan kalian selama kalian tinggal di rumah om, insyaallah om akan menjamin keselamatan kalian." Ujarnya begitu yakin.
Mata Kirana terbelalak, bukan kah rumah itu akan diberikan kepadanya dan mamanya, kenapa sekarang malah Rubel dan Hana yang menempati rumah itu.
"Pa tapi kan kata papa rumah itu untuk mama dan Kirana." Ujar Kirana bersungut-sungut.
"Sayang, tidak akan lama mereka menempati rumah itu, hanya untuk berlindung dari ancaman Abang papa. kamu tidak tahu tentang Om Purnawan dia sangat Benci jika ada orang yang menentangnya dan akan menghancurkan siapapun yang menghalanginya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." jelas nya pada Kirana.
Kirana mendengus kesal, dia mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Kamu hana, kamu telah merebut semua nya yang aku punya dan sekarang kamu merebut hati papaku." gumannya dalam.hati.
******
Ditempat lain di rumah sakit Z. Bapak Purnawan bertanya kepada para perawat tentang Dokter Rubel.
"dokter Rubel nya ada?" tanya dia pada perawat-perawat itu.
"maaf pak dokter Rubel sudah pulang." jelas salah satu dari perawat-perawat itu.
"apakah kamu tahu alamat rumah dokter itu?" tanya nya ingin tahu.
Dia ingin sekali tahu lebih jauh tentang dokter yang telah menolong putrinya. istrinya terlihat sangat gusar.
"Ya Allah lindungilah anak itu, mudah-mudahan mereka telah pergi dari situ jika tidak aku tidak bisa menolong mereka." ujarny dalam hati.
suster memberikan alamat Rubel kepada Bapak Purnawan Agiawan, dia langsung mengajak istrinya untuk ikut dengan nya.
"Ma ayok!" ajaknya pada istrinya.
"Pa, siapa yang akan menjaga Maria?" ujarnya mencoba mengalihkan perhatian.
"mama tidak usah khawatir aku akan meminta perawat-perawat itu untuk menjaga Maria,bila perlu mereka akan kita gaji agar mereka selalu di dekat Maria." ujarnya sambil menunjukkan kearah perawat-perawat jaga.
seorang perawat mencoba menawarkan diri, karena dia sedang butuh sekali uang.
"bagaimana kalo saya saja pak." ujarnya kepada Pak Purnawan.
"Tuh lihat siapa sih yang gak mau uang, gak ditawarin aja datang sendiri." ujarnya merasa sombong.
perawat itu tersipu mendengar ucapan Bapak Purnawan.
"Maaf pak kebetulan saya sedang membutuhkan uang, jika tidak berkeberatan saya akan membantu bapak untuk menjaga putri bapak." ujarnya memberanikan diri.
"tentu, saja tapi ingat jangan sampai anak saya terluka." ancamnya pada perawat itu.
" Baik pak saya akan menjaga Anak bapak sebisa saya." ujarnya agak terbata-bata.
__ADS_1
Perawat itu bernama Anita, dia adalah perawat pendamping dokter Lila, sebelum dia masuk keruangan VVIP dimana Maria dirawat,
dia masuk keruangan Dokter Lila.
"Dok, saya mau minta izin sama dokter." ujarnya pelan.
"ada apa Anita." tanya Lila pada Anita.
"Dok, boleh kah saya merawat gadis yang dirawat di Ruangan VVIP atas nama Maria." ucapnya pada Lila.
"Maksud mu?" tanya Lila bingung.
"orang tua gadis itu mencari seorang perawat untuk menjaga putrinya." Ujarnya menjelaskan.
"memangnya dia sakit apa?" tanya Lila lagi.
" pasien itu baru masuk tadi siang dok, dia pasien dokter Rubel yang mengalami cedera di pergelangan tangannya." ujar Anita menjelaskan.
"siapa nama orang tuanya?" tanya Lila semakin penasaran.
"Purnawan Agiawan." jelasnya pada Lila.
"apa?" tanya Lila tak percaya.
"apa sudah kamu fikirkan baik-baik Anita?" tanya Lila meyakinkan.
" iya dok saya minta izin sama dokter beberapa hari saja."
"kamu tahu siapa dia?" tanya Lila lagi.
"tidak." jawab Anita menggeleng kan kepala.
"saya tidak memintamu untuk mengurungkan niatmu. tapi asal kamu tahu kamu berhadapan dengan orang yang sangat berkuasa di negara ini. dia bisa saja melakukan apapun kepada mu jika kamu melakukan kesalahan sedikit saja.!" ujar Lila dengan suara di tekan.
"iya dok, dia telah memberikan peringatan untuk saya tadi. tapi saya sangat perlu uang." ujarnya dengan wajah sendu.
"Saya tidak akan melarang mu, tapi jika terjadi sesuatu padamu saya tidak bisa membantumu." tegas lila lagi. dia berusaha menyembunyikan kesedihannya. didalam hatinya dia sangat kecewa tidak bisa menahan Anita untuk tidak mengambil keputusan menjadi perawat pribadi keluarga Purnawan Agiawan.
"iya dok, saya akan tanggung akibatnya." jawab Anita yakin.
dia pun berlalu meninggalkan Lila, diliburkan hatinya yang terdalam dia tidak ingin membantah dokter Lila, bagaimanapun dokter Lila selalu membantunya dalam keadaan apapun, tapi saat ini dia butuh biaya untuk membayar uang kontrakan rumahnya yang akan berakhir beberapa bulan lagi.
******
Bapak Purnawan Agiawan dan istrinya kini sudah berada di depan pintu pagar rumah Rubel.
Leo security rumah itu keluar hendak menemui tamu tuannya.
"Cari siapa pak?" tanya Leo sopan pada Bapak Purnawan yang membuka pintu kaca mobil.
"Apa ini rumah Dokter Rubel?" tanya dia meyakinkan."
"iya pak ini rumah Dokter Rubel." Ujar Leo meyakinkan.
"saya ingin bertemu dokter Rubel." ujarnya cepat.
"jangan menipuku." ujarnya mulai kasar.
"maaf pak saya tidak menipu bapak, tapi memang dokter Rubel sedang tidak ada di rumah." ujar leo masih dengan nada sopan.
"Pa, jangan marah-marah security itu menjelaskan apa adanya." ujar istrinya mencoba menenangkan.
"tidak mungkin, dia pasti menyembunyikan dokter rubel, tadi kan kamu dengar sendiri kata perawat-perawat itu bahwa dokter Rubel sudah pulang kerumahnya." ujarnya dengan nada kesal.
"buka pintu pagarnya saya mau masuk!!" ujarnya memaksa.
"maaf pak saya tidak di izin kan membuka pintu jika ada orang yang tidak saya kenal." Ujarnya mejelaskan.
"Apa? bisa-bisanya dia melawan ku, dia tidak kenal siapa aku." ujarnya semakin angkuh.
"pa tolong jangan mencari keributan di rumah orang." ujar istrinya mencoba menenangkan suaminya.
dia mencoba menerobos pintu masuk dan berteriak.
"Rubel keluar kamu!" ujarnya berang.
nyai dan bibi terkejut mendengar orang berteriak-teriak memanggil nama Rubel. mereka mencoba mencari tahu, bibi mendorong nyai keluar rumah.
"ada apa ini?" tanya nyai bingung."
"maaf nyai Bapak ini memaksa untuk masuk, dia ingin bertemu dokter Rubel. tapi saya bilang dokter Rubel belum kembali." uajr leo menjelaskan.
"maaf tuan, anda siapa?" tanya nyai dengan bijak.
"Saya Purnawan Agiawan." jelasnya Dnegan ketus.
"ada keperluan apa anda datang kemari?" tanya nyai lagi.
"Aku perlu dengan cucumu." ujarnya sedikit melemah.
"Leo bukakan pintu, biarkan dia masuk." pinta nyai pada Leo.
"Baik Nyai." jawab leo sopan sambil membukakan pintu pagar.
"nah gitu dong jangan nunggu diteriakkan baru nurut." ujarnya angkuh.
Leo hanya diam, dia tidak ingin memperpanjang masalah dengan laki-laki yang sombong itu.
istri nya hanya bisa diam, dia tidak bisa melawan kemauan suaminya. mereka berdua pun berjalan menuju rumah Rubel.
tapi nyai tidak mempersilahkan mereka masuk, hanya mempersilahkan mereka duduk di teras rumah.
"Bi, tolong siapkan minum untuk tamu kita." pinta nyai pada bibi.
"iya nyai." jawab bibi cepat dan berlalu masuk kerumah.
"saya ingin menagih janji cucu anda." ujarnya bohong.
__ADS_1
"janji?" tanya nyai bingung."
"dia berjanji akan menikahi putri kami Maria." ujarnya semakin menjadi-jadi.
"maaf pak mungkin anda salah orang." jawab nyai mencoba membantah.
" cucu saya tidak pernah pacaran dengan orang lain selain Hana yang baru saja dilamarnya." ujar nyai menjelaskan.
"iya, dia berjanji baru siang ini kepada saya." bahwa dia akan membatalkan pernikahannya dengan calon istrinya." ucap pak Purnawan seenaknya.
nyai terdiam dia kenal siapa cucunya, dan dia tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh seperti itu.
"Sebaiknya anda pergi. cucu saya sedang tidak.ada ditempat." ujarnya mulai kesal.
"wah-wah ternyata Anda juga pandai berakting yah." ujarnya semakin kurang ajar.
Leo yang mendengar segera mendekat.
"bibi bawa masuk nyai." pintanya cepat.
"dan anda silahkan anda keluar, nyonya saya tidak senang anda berada disini." ujar Leo semakin tegas.
"kamu!" jangan bermain-main dengan ku." aku akan menghancurkan kalian semua. ujarnya begitu kasar. dan menarik tangan istrinya segera beranjak dari rumah Rubel. istrinya merasa sedih melihat tingkah suaminya, dia memberikan kode meminta maaf kepada nyai Rubel.
Leo segera menghubungi Diko.
"halo, Diko." panggilnya pada Diko.
"iya Leo, ada apa?" tanya Diko.
"Mas, ada tamu kemari berteriak-teriak memanggil nama mas Rubel dan membentak nyai nya mas Rubel." ujar Leo cepat.
"Siapa?" tanya Diko.
"Nama nya Pak Purna.. saya lupa mas." jawab Leo tidak begitu ingat nama tamunya barusan.
"Purnawan Agiawan?" tanya Diko meyakinkan.
"i-iya mas Pak Purnawan Agiawan." ujar leo yakin.
"baiklah tolong jaga nyai sebentar lagi kami pulang.
******
"Mas Rubel, Pak Purnawan baru saja kerumah mas Rubel, kata Leo dia sempat berkata kasar pada Nyai anda." terang Diko pada Rubel.
semua yang berada ditempat itu terkejut, mereka tidak menyangka akan secepat ini.
"Haikal, tolong kamu antarkan Papa dan Kirana pulang.setelah itu kamu antar Rubel dan Hana langsung kerumah kita yang di Ponorogo Residen. dan Diko tolong kamu urus nyai Rubel dan siapa pun yang ada dirumah itu selanjutnya kamu bawa mereka semua kerumah saya yang di Ponorogo Residen. Jelasnya panjang.
Diko segera berangkat menuju rumah Rubel.
di dalam mobil Haikal. Kirana hendak duduk di belakang agar bisa dekat dengan Rubel, tapi Haikal segera menggandeng nya untuk duduk didepan.
"ah, ganggu aja." Ujar Kirana kesal dan menatap sinis ke arah Haikal.
Haikal tersenyum, dia merasa puas telah mengerjai adiknya itu.
Rubel, Hana dan Pak Purwanto Agiawan duduk dibelakang.
tak berapa lama mereka pun sampai dikediaman Pak Purwanto Agiawan Di Elite Raharja Kencana.
Kirana terbelalak melihat rumah itu sangat besar dan begitu mewah.
"Pa kenapa gak dari dulu papa ngajak kita kesini." Ujarnya pada papanya.
"kamu suka?" tanya nya pada Kirana."
"Suka pa." jawab Kirana cepat.
"Rumah ini besar, kamu bisa pilih kamar mana yang kamu suka." ujarnya pada Kirana.
"makasih papa." Ujar Kirana begitu senang.
"Rubel,Hana om dan Kirana masuk dulu. nanti om dan Tante akan mengunjungi kalian." ujarnya begitu perhatian.
"terimakasih banyak ok, kami tidak tahu membalas nya dengan apa." Ujar Rubel sungkan.
"gak usah sungkan, anggap saja kita keluarga." jawab nya santai.
Haikal pun segera melajukan mobilnya, diperjalanan rubel meminta Haikal untuk kerumah orang tua Hana.
"Kal, kita kerumah Hana dulu yah." pintanya dengan raut begitu khawatir.
"OK, tapi jangan lama-lama kita harus segera mengasingkan diri." ujar Haikal mengingatkan. tak berapa lama mereka tiba dirumah Hana. Rubel turun dari mobil dan segera kerumah hana.
"Bu, ibu!" panggilnya terburu-buru.
Ibu keluar dengan wajah khawatir.
"ada apa nak?" tanya ibu bingung.
"Bu, Rubel akan membawa Hana pergi dari sini." ucap Rubel langsung.
"kemana?" tanya ibu bingung."
"ayah mana bu?" tanya Rubel lagi.
"ayah ada Rubel." panggil ibu pada ayah Hana yang berada di dalam rumah. tak lama ayah pun keluar.
"Ibu dan ayah ikut Rubel dulu yah." mohonnya pada ayah dan ibu Hana.
"kemana?" tanya ayah bingung.
"Ibu dan ayah ikut Rubel dulu nanti kita jelaskan setelah sampai di tempat tujuan.
ibu dan ayah tidak bertanya lagi mereka pun bersiap untuk ikut. setelah mengunci rumah mereka segera berangkat.
__ADS_1
Bantu Vote, Like, dan Komennya yang banyak dan jangan lupa follow aku yah. terimakasih