
Tidak terasa sudah 4 hari Hana di Rumah Sakit, dokter sudah mengizinkan Hana untuk pulang, setelah segala pemeriksaan kondisi Hana sudah lebih baik. Sudah beberapa hari Hana tidak melihat si dokter Cool, ada kerinduan yang mendalam pada si jutek Rubel.
Dia mengalihkan pandangannya pada jam dinding . Jam 12 siang, jam segini biasanya Rubel itu sudah selesai dengan urusan di ruang kliniknya, Hana melirik Kesemua arah barang-barangnya telah dikemas oleh Ibu.
Tinggal mereka keluar dari kamar itu, semua administrasi telah diselesaikan oleh Seseorang.
“ Siapa yang membayar Semua ini?” tanya Hana pada ibu.
“ Ibu tidak tahu sayang.” Tapi sudah lah jangan dirisaukan yang penting Hana udah sehat.” Ujar ibu mengalihkan pembicaraan. Agar Hana tidak terlalu susah hatinya.
Hana didorong oleh Perawat cowok yang waktu itu menemaninya keluar jalan-jalan ditaman. Mereka telah saling mengenal sejak saat itu. Dia tidak segan-segan membantu Hana dan Ibu untuk bersiap pulang. Saat berjalan di depan ruang dokter Rubel, Hana berhenti, dia mencari sosok itu, tapi lagi-lagi gagal.
Dia bertanya pada asisten dokter Rubel.
“ Mbak dokter Rubel ada?” tanya Hana penuh harap.
“ Maaf Mbak dokter Rubel sedang ada jadwal bedah.” Asisten itu menjawab pelan.
Hana meminta Arya, sang perawat cowok untuk Segera beranjak dari situ.
Di ujung lorong, Seseorang sedang memperhatikan Mereka.
Ada perasaan aneh menyeruak kehati lelaki itu. Ada rasa sakit menusuk jantungnya yang paling dalam, rasa itu sangat sakit.
" Apa lagi ini?" ujarnya, dan berbalik melangkah kearah yang berbeda sambil memegang dadanya.
" Kenapa sakit seperti ini.?” Ujarnya pelan. Tiba-tiba Lila sudah berada didekatnya dan mendengar semuanya.
“ Kamu sakit?” tanya Lila heran.
“ Dokter bisa sakit hati juga yah???.” Sindirnya.
Ternyata Lila telah menyaksikan tingkah sahabatnya itu dari tadi saat Hana berhenti di ruangan Rubel.
“ Ya, iyalah. Secara kan aku manusia biasa punya rasa dan hati. Lagian kamu juga kepo, Udah kaya paparazi." Ujarnya kesal dan berlalu.
Lila memandangi sahabatnya itu, tidak biasanya Rubel seperti itu. Dia sangat kenal sahabatnya itu, mungkin ini kali pertama dia dekat dengan Seseorang.
Yah selama Rubel bekerja disini Lila tidak pernah melihat Rubel memperkenalkan seorang wanita padanya. Bahkan Rubel terlalu sibuk dan menikmati pekerjaannya sampai-sampai tidak pernah perawat-perawat menggosip tentang kehidupan pribadi Rubel.
Hana dan Ibu juga Perawat yang bernama Arya itu telah berada di halaman parkir Rumah Sakit Z.
Tiba-tiba berhenti mobil AV didekat Mereka. Seseorang keluar dari mobil itu.
“ Mbak Hana. Tujuan pulang ke kampung K. Ujarnya memastikan.
“ Iya pak, tapi Anda siapa? kok Anda tahu nama Saya?” tanya Hana bingung.
“ Tadi Seseorang memesan online car, dan sudah dibayar dengan aplikasi pay o pay." ceritanya jelas.
Hana terheran-heran, sejak tadi kejadian-kejadian diluar jangkauan sinyalnya terjadi.
Dia tidak menyangka akan ada orang baik dengan suka rela membantunya. Hana dan Ibu telah berada di mobil, hana melambaikan tangannya pada Arya.
“ Daa Arya.” Arya membalas lambaian itu. Dan mengingatkan Hana akan satu hal.
“ Mbak Hana, jangan lupa kontrol yah!.” Ucapnya. Hana mengangguk dan berlalu.
Lagi lagi seseorang sedang memperhatikan mereka dikejauhan. Ada apa dengan perawat KW itu, mengapa aku harus melihat ini semua, dan mengapa terasa begitu sakit..
Rubel berlalu menghampiri mobilnya. Dan melaju kan mobil nya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Dia melihat Nyai nya sedang becengkrama dengan akrab bersama seorang gadis, dia menghampiri Nyai nya.
Memandang gadis itu dengan teliti, dia mencium Nyai nya dan hendak berlalu, tapi gadis itu langsung mengulurkan tangannya hendak memperkenalkan diri.
“ Ana”. Ujarnya singkat. Dilihat gadis yang ada didepannya itu dari kepala hingga ujung kaki. Rubel ingat gadis itu Pernah bertemu di mushola. Rubel tidak membalas uluran tangan itu.
“ Rubel.” Jawabnya. dia hanya menyambut perkenalan itu dengan singkat dan berlalu meninggalkan Nyai dan Ana.
Lagi-lagi Dia dihadapkan dengan gadis yang bernama Ana. Dia bingung, tapi gadis itu sama sekali tidak dikenalnya.
“ Mana Mungkin itu Ana ku.” Ujarnya tak ingin ambil pusing.
Beberapa pesan masuk ke ponsel Rubel. Salah satunya dari temannya di Australia.
“ Hai, Rubel sudah lama tak terdengar kabar darimu. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik aja.
“ Hai Lia, Aku baik – baik aja. Bagaimana dengan mu?” balas Rubel pada Lia.
Lia adalah sahabat Rubel di Australia, Lia dan Rubel sangat dekat. Tapi Rubel menjaga persahabatan itu dengan baik. Rubel tetap menjaga jarak dengan Lia, walaupun perlakuan Lia kepada Rubel lebih dari Sahabat.
Rubel keluar kamar, di lihat tamu Nyai bernama Ana itu sedang makan siang bersama Nyai nya.
__ADS_1
Rubel melihat pada Ana dengan tatapan tak bersahabat.
“ Sini Ino, ayo makan siang bersama.” Ajak Nyai tanpa memperdulikan wajah Rubel yang sangat Tidak ramah.
Demi orang yang disayangi, Rubel menghampiri Nyai dan duduk disebelah Nyai, mengambil piring, nasi dan laok secukupnya.
Dia makan tanpa selera, dan hanya diam.
Setelah selesai dia langsung kembali ke kamar tak memperdulikan Nyai dan Ana.
Didalam kamar, dia teringat wajah Hana. Wajah cantik yang selalu menggemaskan.
Hidungnya yang mancung selalu jadi perhatiannya nya untuk mencubit. Kenapa selalu dia yang ada dibenaknya.
Perawat KW itu sekarang malah bukan jadi perawat untuk Nyai, tapi jadi orang yang harus dia rawat.
Dia, mencoba memejamkan matanya. Untuk beristirahat, tapi. Lagi lagi Ponselnya berbunyi. Panggilan gawat darurat dari Rumah Sakit. Dia akan menangani pasien kecelakaan. Rubel bergegas keluar kamar. Menyalami Nyai nya tanpa memperhatikan Ana. Ana bersungut kesal.
“ Maafin Rubel yah Ana. Dia emang seperti itu tapi hatinya baik kok”. Hibur Nyai pada Ana.
Ana mengangguk lesu. “ Nyai Ana pulang dulu yah.” Pamitnya dan bergegas pulang.
Setibanya dirumah.
“ Sial banget tuh cowok, soleh si soleh tapi pribadinya cuek gak ketulungan. aku paling gak suka di diemin."
Tunggu kamu Rubel, Aku akan buat Kamu bertekuk lutut padaku. Kamu harus mengakui Aku Ana kecilmu.
Aku akan mencari info tentang si Ana itu dari Nyai. Pikir nya begitu licik.
Rubel telah tiba di Rumah Sakit, dia telah mengganti pakaiannya dengan pakaian bedahnya.
Para Perawat telah mempersipkan semua peralatan bedah. Sekilas dia melihat pasien bedahnya, ada sedikit kerisauan melihat wajah itu.
“ Perasaan apalagi sih ini? kenapa Aku harus teringat dengan Perawat KW itu lagi.
" Mana mungkin Perawat KW itu mengingatku." kutuknya dalam hati.
Dia coba memfokuskan diri. Menenangkan hati dan fikirannya, dia tidak ingin membuat kesalahan karena akan berakibat fatal pada pembedahannya saat ini.
Tiga 3 jam berlalu. Pembedahan pun selesai. Dia beranjak dari kamar operasi itu keluar. Mengelap keringatnya yang bercucuran.
" Alhamdulillah operasi berjalan lancar." Hatinya ingin sekali bertemu Perawat KW itu, waktu telah menujukkan jam 5 sore.
Mobil Rubel telah terparkir di depan rumah Hana. dia membawa makanan untuk buah tangan, dia tidak tahu makanan kesukaan Hana. harapannya Hana akan suka brownies tabur almond yang dia beli di A&A Cake.
"Tok!! Tok!!" Suara pintu diketok dari luar.
“ Assalammu’alaikum.” Terdengar orang mengucapkan salam.
“ Waa’laikummussalam.” Jawab Hana dan melangkah keluar menghampiri sumber suara.
“ Eh, dokter Rubel.” Sapanya ramah. Tapi ucapan itu lagi-lagi dijawab dengan seenaknya oleh Rubel.
“ Hai juga Perawat KW.” Hana yang mendengar mengernyitkan dahinya tanda bingung.
“ Perawat, KW?” tanya Hana bingung.
“ Iya kalo perawat ori kan panggil nya suster.
" Kalo Perawat gak ada titel yah Perawat KW." jawab Rubel asal.
Hana masih bingung maksud Rubel, tanpa disadari dia lupa mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.
“ Jadi kamu mau membiarkan aku berdiri di depan pintu seperti deb kolektor.” Ujar Rubel kesal.
Hana tersipu, dia tidak bermaksud membiarkan tamunya diluar.
“ Maaf dok, Kalo dokter deb kolektor artinya aku punya hutang dong sama dokter, atau jangan-jangan biaya Rumah Sakit dan online car itu dokter yang bayar." Tebaknya asal.
Rubel terlihat kacau, rautnya sangat gusar.
“ Kenapa jadi ngarah kesitu sih, mana aku tahu yang membayar rawat inapmu dan juga online car itu."
"Lagian aku kesini mau ketemu ibu bukan mau jadi deb kolektor." Sambil menyelong masuk kedalam Rumah.
“ Ibu!!"
“ Ibu!!"
Panggilnya tanpa rasa malu.
“ Ibu gak ada barusan keluar, Mau beli bahan buat kue besok, kalo gak penting-penting amat dokter Rubel pulang aja, Hana mau istirahat.” Sambil mendorong Rubel keluar.
__ADS_1
“ Oke, Aku kesini hanya ingin menjengukmu.” Sekali ini Dia berkata jujur. Menyodorkan buah tanganya kepada Hana. Hana meraihnya dan tersenyum kecil.
“ Ehm, makanan orang kaya.” ucapnya.
“ Hana, biasanya makan ubi rebus pake ikan asin, kalo ini Hana gak pernah makan." Jawab Hana polos.
“ Yah sudah siniin kue nya Aku kasih ke Ibu-Ibu diluar aja, Mereka udah menunggu ku dari Aku datang.
Rubel membalikkan tubuh menuju pintu keluar.
“ Jangan dok, Hana kan bilang Hana gak pernah makan, bukan tidak mau makan.” ujar nya menjelaskan.
" Lagian dokter Rubel datang kesini mau menjenguk Hana kan?” Ucapnya Dengan wajah memelas. Senjata rubel mencubit hidungnya Hana.
“ Ini bayaranmu karena percobaan mu mengusirku.” Hana hanya meringis kesakitan. Hatinya gundah bercampur bahagia, Dia merasa Rubel memperhatikan nya walaupun tingkahnya begitu jutek padanya.
“ Ino, Apakah kamu rindu sama Ana.” Tanya nya dalam hati. Rubel bingung melihat Hana tersenyum-senyum sendiri. Rubel memegang kening Hana yang tidak panas.
" Kamu, demam??? Kok dari tadi senyum-senyum sendiri." Hana tersipu.
Pikirannya entah berlayar kemana. Tiba-tiba dia tidak sengaja menjatuhkan sebuah kertas kecil didalam sebuah buku yang tak sengaja disenggolnya. Hana tak memperhatikan kertas itu dia hanya fokus dengan buku yang disenggolnya.
“ Dokter Rubel, tunggu disini, Hana kedapur sebentar.”
" Apa itu??" rasa penasaran menggelayuti pikirannya. Sebuah foto mirip dengan nya. Foto itu saat dia masih kelas 3 sd. Diraihnya dan disimpan didalam saku bajunya. dia berpura-pura tidak tahu. Hana kembali dari dapur membawa beberapa potongan kue brownies dan teh hangat.
“ Silahkan dok, Hana gak punya apa-apa.” Silahkan diminum teh nya. Rubel meneguknya dan terbatuk-batuk.
“ Dokter, kenapa?.”
“ Kamu, mau meracuniku? kenapa teh ini sangat pahit.
Hana melirik kearah Rubel. “ dicicipi tehnya dengan sendok.”
Hana tertawa, Dia lupa memberikan gula pada teh yang disedunya sangat pekat itu..
“ Maafin, Ana yah Ino.. " dan berlalu masuk membawa teh pahit itu dan memasukan 1 sendok makan gula dan mengaduknya.
Rubel menyelidik pendengarannya.
" Ana? Ino? Kenapa dia memanggilku Ino dan mengaku dirinya dengan sebutan Ana."
Rubel masih penasaran dengan apa yang didengarnya. Waktu pun berlalu dia berpamitan pulang. Setiba dirinya dirumah, diraihnya foto didalam saku bajunya.
“ Kenapa Hana menyimpan fotoku.” dan kenapa dia memanggilku dengan sebutan Ino dan Ana pada nya.
Teka – teki apa yang dia sembunyikan dariku.
Pikirannya melayang, mengingat hal remeh yang terus membayanginya dari tadi.
“ Apa dia mengambil foto itu dirumah ini?” kan kemarin dia memegang foto kecil ku dengan Ana, Atau jangan-jangan Hana teman sekolahku waktu SD Sambil mengingat-mengingat nama teman - teman SD nya, dari a sampai z kenapa aku harus memikirkan si perawat KW itu, toh dia juga sepertinya tak perduli padaku. tadi saja dia berusaha mengusirku." kenangnya mengingat kejadian dirumah Hana.
Tiba-tiba, sebuah pesan chat masuk ke ponselnya, dilihat layar ponselnya itu. nomor itu tidak tersimpan di memori nya.
" Rubel, Aku Ana. kamu kemana aja." deg, ada perasaan tak menentu melihat chatingan itu.
dia hanya diam mengamati chatingan itu.
" Rubel, kenapa kamu tidak mencariku.? apa kamu tidak rindu padaku??"
" Aku Ana teman kecilmu. chatingan itu seperti lelucon baginya.
Dia hapal betul panggilan Ana untuknya.
" Apa mungkin Ana telah lupa dengan panggilan kecilku." bathinnya bertanya-tanya. tapi dia masih ingin memastikan dengan siapa dia berchating.
" Maafkan Aku Ana." aku telah mencarimu. tapi aku tidak tau kamu sekarang berada dimana." balasnya berpura-pura.
" Kamu tidak mencintaiku, apa Kamu telah melupakan semua kenangan Kita." ujar si Ana KW.
Rubel menggelengkan kepalanya.
" kenapa chatingan ini seperti sebuah paksaan yah, apa maunya? dan siapa dia? ok Aku akan ladeni Kamu." bathinnya bergejolak.
" Baiklah Ana, Aku akan menemuimu." kapan kita bisa berjumpa." balasnya telah terlanjur basah.
Rubel menghela nafas panjang. hari ini hari yang melelahkan, dia merasa penuh kejutan dan teka-teki yang harus dipecahkan. tapi dia bingung harus meminta siapa untuk menelusuri tentang masa lalunya.
Dia mengingat nama teman nya ketika SD,
Adi, Arya, Angga, Budi, Radi, Lala, Eka, Eko, loli, Popi, Andi, Dedek, Muna, Rika, Dola, Doli, Nopi, Ika, Dwi.. dan diapun terlelap dengan sejuta PR teka teki yang sedang dihadapinya.
" Ino, jangan pergi! jangan tinggalin Ana." Rubel terbangun dari tidurnya. mimpi itu sangat mirip dengan kejadian 15 tahun lalu. kenangan itu terlalu nyata hingga sulit dilupakannya. dia mencoba memejamkan matanya. namun suara itu terus terngiang-ngiang ditelinganya. dan akhirnya dia pun terlelap dan sangat terlelap.
__ADS_1
" hai sahabat bantu vote, like dan komennya yah biar aku semakin semangat belajar berkarya.."