
Setelah hampir 3 jam Rubel dan Dainan pun keluar.
" Bagaimana." Tanya om Purnawan harap cemas.
" Alhamdulillah om, untung kita bisa secepat nya mendapatkan donor darah itu kalo tidak..." ucapan Rubel terputus.
Om Purnawan tertunduk, karena keegoisan nya dia hampir saja menghilangkan nyawa anaknya Maria.
" Udah Om, sekarang waktunya Om melihat Maria." ucap Hana mengalihkan fikiran Om Purnawan yang terus merasa bersalah.
Om Purnawan ditemani Tante Merry masuk ke ruangan Maria, Maria belum juga sadar efek Anastesi total nya. Mereka berdua berpelukan. kemudian dokter Andre masuk keruangan itu juga.
Rubel melihat ke cadar Hana, ada bekas noda darah. dia baru menyadari bahwa Hana terluka. di raihnya tangan Hana dan mengajaknya keruangan nya. dan menyuruh Hana duduk di sofa, Rubel mengambil kain kasa dan alkohol untuk membersihkan luka Hana.
Dia membuka cadarnya Hana, nampaklah luka kecil di sudut bibir Hana. diapun mengompres luka itu. tak ada rengekan ataupun Rintihan. seakan Hana sudah lupa bahwa dia juga terluka.
" Sakit??" Tanya Rubel khawatir.
" Enggak, bahkan Ana sudah lupa." ucap nya sambil menyunggingkan senyuman kepada Rubel. Rubel mencubit hidung Hana pelan.
" Kenapa kalo kamu kepepet nolongin dirimu dan juga orang lain kamu bisa lebih kuat dan sehat yah??" Tanya Rubel sangat heran. sambil mendekap kepala Hana di dadanya.
Hana memeluk Rubel, dia sendiri bingung keberanian itu selalu saja muncul saat dia begitu bersemangat.
" Entahlah Ana sendiri bingung." ucapnya sambil mengelus dada Rubel yang bidang.
" Ino yakin, sebenarnya Ana bisa sembuh kalo Ana semangat." ucapnya dan menatap Hana dengan lembut.
" Apakah Ana tidak ingin sembuh??" tanya Rubel Mendesaknya.
" Sayang, impian orang sakit adalah untuk sembuh, tentu saja Ana ingin sekali bisa sembuh, biar tidak menyusahkan siapa pun." ucap Hana memegang dagu Rubel mereka berdua saling pandang. Rubel mencium bibir Hana lembut.
" Ino lihat kamu tidak mual-mual lagi.. mungkin kemarin memang Asam lambungnya kumat yah." ucapnya berasumsi.
" Mungkin." jawab Ana pendek. kemudian melingkarkan tangannya dileher Rubel.
" Kenapa sayang?" tanya Rubel melihat Hana begitu agresif.
" Ana Pengen peluk Ino lama-lama." ucap nya. Dia merasakan badannya lebih sehat dan bersemangat setelah kejadian tadi subuh.
" Apa karena tadi subuh?" tanya Rubel menebak-nebak.
Hana tersenyum kecil dia tidak menampik ucapan Rubel.
" Jika memang karena itu, ayok kita buat si EmPi Nembak Si Mis." ucap nya cepat. seraya membuka baju Hana.
" Jangan gitu ah, masa disini?" ucap Hana mendengus kesal.
Rubel begitu gemas melihat wajah Hana seperti itu. sedikit kekhawatiran nya hilang, melihat Hana lebih sehat.
Tiba-tiba perut mereka bernyanyi. hari sudah Siang Rubel lupa telah meninggalkan Dainan dan Lia di koridor Rumah Sakit.
" Sayang Ino lupa sama Dainan dan Lia." ucapnya menyesal. Hana memakai cadarnya dan membenahi pakaiannya, mereka berdua berjalan menuju Dainan dan Lia.
" Bro maaf tadi aku langsung pergi, baru selesai membersihkan luka Hana." ucapnya.
Tiba-tiba Lia menjawab.
" Kebiasaan lu Emang, kalo udah senang lupa deh sama kita." Ucap Lia kesal. Hana mendekati Lia.
" Sebagai permintaan maaf gimana kalo kita sholat dulu, kemudian makan siang dan selanjutnya berbelanja." ucap Hana membujuk nya.
Mata Lia berbinar-binar, dia tidak menyangka Hana masih mengingat nya untuk berbelanja.
" Benarkah?" tanya Lia tak percaya.
" Iya sahabatku." ucap Hana sembari memeluk Lia.
" Thanks, sister." ucapnya sangat senang, dan membalas pelukan Hana. Dia merasa sangat diperhatikan oleh Hana.
" Are beautiful dan juga baik hati " ucapnya jujur membuat Hana tersipu. mereka berdua pun sibuk dengan obrolan para wanita pada umumnya.
" Makasih Dainan kamu sudah membantu ku tadi di Ruang Operasi." ucap Rubel dan duduk di dekat Dainan.
" Tidak masalah, bagaimana pun juga Maria adalah sepupu mu berarti dia juga teman ku sama seperti mu." ucapnya merasa senang.
" Baiklah, kita sholat kemudian makan siang dan temani para ladies ini shoping." ucap Rubel begitu bersemangat. sambil tersenyum menggoda ke arah Hana dan Lia.
Hana terbatuk-batuk, Rubel memang selalu antusias berbelanja, teringat waktu dia pertama kali membeli pakaian muslimah untuk Hana.
__ADS_1
" Kenapa sayang?" Tanya Rubel pura-pura bingung.
" Gak apa-apa cuma tenggorokan Ana agak sakit." jawab Hana berpura-pura.
" Ya udah, kalo gitu kita gak usah berbelanja, nanti saja kalo Ana udah sehat." ucap nya mengerjai Hana sambil mengedipkan sebelah matanya.
Hana menyipitkan matanya, Dia sangat kesal dikerjai Rubel. Hana segera menghampiri Rubel dan mencubit perut Rubel.
" Seneng yah ngerjain orang." ucap Hana kesal, Rubel meringis kesakitan. dia hanya mencandai Hana tapi tangan Hana lebih cepat dari perkiraan nya.
Lia dan Dainan ikut tertawa melihat kedua sejoli itu. kemudian mereka berjalan menuju Mushola Rumah sakit. Selesai sholat mereka mencari tempat makan yang enak.
Selama di dalam mobil Rubel hanya diam, senjatanya ini biasanya lebih ampuh dari apapun. Saat mobil terparkir di depan restoran pun dia tidak membukakan pintu untuk Hana.
Lia paham betul tingkah Aslinya Rubel. Dia hanya sedikit kecewa dengan Rubel yang bersikap tidak peka dengan kondisi Hana.
Lia membukakan pintu untuk Hana.
" Terimakaih Lia, seharunya kamu tidak usah repot-repot, Aku sudah terbiasa dengan ini aku mau lihat seberapa tahan dia marah padaku."
" Ternyata kamu juga tahu sikap dingin Rubel yah?"
Hana tersenyum mengiyakan ucapan Lia.
" Saluuut, mudah-mudahan kamu bisa sabar yah."
Hana menepuk dadanya berulang-ulang. dia memang tidak bisa sedikit pun merasa kecewa. perlakuan Rubel seperti awal dia bertemu. sejak mereka menikah ini pertama kali Rubel melakukan tingkah dinginnya lagi sama Hana.
Hana mulai merasakan dadanya begitu nyeri, tangan nya mulai dingin, dia mencoba menyibukkan dirinya memutar-mutar ponselnya.
Dia enggan menyapa Rubel dia ingin Rubel lebih dulu memanggilnya. perasan nya kian tersiksa. Saat Rubel memesan makanan. Dia hanya menawarkan Lia dan Dainan. Hana menahan sesaknya, air matanya mulai turun. Hatinya begitu sakit, dia mulai sulit mengontrol dadanya yang mulai terasa sesak.
Dainan memperhatikan cadar Hana yang mulai basah. Hana menunduk kan pandangannya. dia tahu Dainan melihatnya sedang bersedih.
Dia mencoba menahan tubuhnya yang mulai limbung, kondisi nya selalu saja ngedrop hanya dengan hentakan diamnya Rubel.
" Dasar Bodoh." dia memaki diri nya sendiri.
Bangun bergegas ke kamar mandi. kepalanya terasa pusing. dia merasa sangat tersiksa dengan kondisinya.
" Jangan cengeng Hana, Kamu kuat." ucapnya dalam hati. Hana mencari tempat duduk agar dia bisa menenangkan dirinya.
Dia bangun menyusul Hana ke kamar mandi, dia hanya berhenti di depan pintu, dan tidak menemukan Hana. Dia bertanya pada semua orang di sana tapi tidak ada yang tahu dan melihat Hana. Dia mencoba menerobos masuk kedalam kamar mandi, dia terkejut melihat Hana terbaring lemah di lantai dengan cadar yang penuh darah dari hidungnya.
Nadi Hana begitu lemah, jantungnya kian lemah. Dia menggendong Hana keluar. memanggil Dainan dan Lia. makanan telah tersaji, Dainan meminta pelayan untuk membungkusnya dan Mereka segera membawa Hana ke Rumah Sakit. Hana dibaringkan di kursi belakang bersama Lia. dan Dainan duduk di depan.
Rubel terus memaki dirinya, bagaimana dia mengatakan kepada Ibu dan Mamanya.
" Sayang bangun." Ucapnya begitu lirih. dan sesekali melihat kearah belakang.
" Maafin Ino sayang, Maafin Ino, bangun cinta."
Rubel membuka pintu mobil dan menggendong Hana ke IGD Rumah Sakit Z. kepanikan nya membuat semua orang di Rumah Sakit melihat kearahnya. Lia dan Dainan pun dibuat bingung dengan keadaan Rubel yang seperti amnesia bahwa dirinya seorang dokter.
" Cepat!!!!!, teriaknya benar-benar buntu. Dia seakan hanya orang biasa yang meminta pertolongan orang untuk menyelamatkan istrinya.
Lila terkejut dengan sikap Rubel, Hana terlihat sesak. para tim medis segera memasang masker oksigen pada Hana.
Sesak Hana semakin berat, Rubel terduduk lesu. bathinnya terasa sakit. dia begitu kesal dengan sikapnya.
" Kenapa Kau kek gitu bel." tanya Zaena yang ikut bingung melihat Rubel.
" Kau itu dokter jangan lah kau menyerah." Ucap Zaena menghibur.
Dainan mendekati dan membisikkan kata-kata semangat ditelinga Rubel.
" Bangun sembuhkan lah cintamu dia membutuhkan mu." ucapnya pelan namun membangkitkan semangat Rubel.
Dia menghampiri Hana, nafas Hana tersengal. jantungnya mulai lemah. Rubel meminta Perawat-perawat nya memasang EKG dan holter monitor. dia tidak bisa berbuat banyak selain berdo'a dan membisikkan sugesti positif untuk Hana agar segera sadar.
" Sayang bangun, Maafin Ino yah." ucapnya sedikit tercekat. Matanya mulai berkaca-kaca, dadanya terasa perih melihat Hana tak berdaya. Lila dan Zaena mencoba mengecek kondisi Hana. mereka berdua meminta Perawat-perawat untuk mengambil Sempel darah. dan juga daftar riwayat Hana.
Setelah beberapa jam nafas Hana mulai stabil tapi kondisi Hana belum juga sadar. Lila bingung mengatakan yang sebenarnya kepada Rubel. mereka berdua mengatakan keadaan yang sebenarnya pada Dainan dan Lia.
" Dokter Dainan." panggil Lila dan Zaena.
Dainan dan Lia mendengar kedua dokter itu berbicara.
" Bagaimana aku mengatakan keadaan Hana, Pada Rubel." Ucap Lila dengan wajah begitu gelisah.
__ADS_1
" Ada apa Lila?" Dainan bingung melihat Lila yang begitu gelisah.
" Hana Koma." ucap Lila dan Zaena begitu sedih.
Mereka berdua tak lagi sanggup menahan air matanya. mereka berdua menutup wajahnya. Lia terperanjat ucapan kedua dokter itu bagaikan petir di siang bolong. bagaimana tidak Hana yang dari pagi begitu bersemangat, menolong sepupunya. hanya karena sikap dingin Rubel dia langsung down dan mengalami Koma.
Dainan terdiam, dia juga bingung untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Rubel. mereka semua memang dokter tapi bukan berarti dokter tidak bisa sedih melihat kondisi orang yang di cintai nya menderita dan sakit.
Rubel terus memanggil-manggil Hana, dia terus menyalahkan dirinya yang egois. dia lupa kondisi Hana yang sering ngedrop hanya dengan hentakkan kecil sikap acuhnya. dia lupa bahwa Hana bukan gadis biasa yang kuat dan tangguh. Dia lupa gadis itu hanya mengharapkan kebahagiaan yang seharusnya dia bisa sabar menghadapi tingkah manjanya.
Dokter Lidya mendapatkan informasi tentang kondisi Hana. dia juga terlihat panik tapi dia tetap berusaha kuat agar Rubel juga bisa sabar menghadapi kenyataan kondisi Hana saat ini.
" Rubel." Panggilnya lembut.
" Dok." jawab nya pendek. dan kembali melihat ke arah Hana. Dokter Lidya sudah seperti ibu bagi Rubel, apalagi dia adalah teman dari Ibu nya Hana.
" Kamu harus kuat... biarkan Hana beristirahat. sekarang pergilah untuk makan Dainan dan Lia bilang kamu belum makan. cukup Hana yang sakit, kamu tidak boleh ikut sakit." ucap dokter Lidya mengingatkan.
Rubel mengangguk pelan menuruti ucapan dokter Lidya. Rubel berjalan keluar Ruangan Hana. Betapa terkejutnya Dia semua keluarga telah hadir disitu. mereka datang ingin menjenguk Maria, tapi Mereka terkejut mendengar Hana juga dirawat.
Ibu dan Mama menatap khawatir ke arah Rubel. mereka ingin mendengar langsung dari mulut Rubel tentang keadaan Hana.
" Gimana sayang??" Tanya mama penuh harap.
Rubel berusaha tegar, dia mencoba menutupi keadaan Hana. Dia tidak ingin melihat kedua wanita itu terlalu khawatir.
" Gak apa-apa Ma.. sebentar lagi Hana juga sadar." Ucap nya mencoba tenang.
" Sayang... jangan membohongi kami." ucap Mama dengan intonasi ditekan.
Rubel menatap bingung, dia sendiri tak tahu keadaan Hana yang sebenarnya.
" Apa maksud Mama?"
" Kamu pura-pura atau memang tidak tahu? tanya Mama semakin keras. Ibu tak kuasa menahan tangisnya. Dainan berusaha menenangkan Mama. dan Lia menenangkan Ibu.
" Tenang Tante, Rubel memang tidak tahu." Ucap Dainan pelan dan membuat semua orang terperanjat.
" Apa maksud mu??" tanya Mama tidak percaya.
" Dia dokter seharusnya dokter lebih tahu bagaimana menangani pasien nya, dan dia lebih tahu bagaimana kondisi Pasiennya? Teriak Mama semakin kesal.
Rubel menatap ke arah Dainan dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia tidak mengerti maksud Dainan, dan Mama. Dia heran kenapa semua orang menyerang nya.
" Apa yang telah kau katakan Dainan." tanya nya keras.
" Maafkan aku Rubel, Lila dan Zaena tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepadamu." ucap Dainan begitu pelan. dia ingin Rubel paham maksudnya.
" Hana Koma." ucap Dainan pelan namun membuat Rubel terkejut dan spontan berteriak.
" Apa maksud mu Dainan??"
" Tenangkan dirimu bel." ucap Dainan menenangkan.
" Tidak!!! sandiwara apa ini??" tanya Rubel tak percaya.
" Jangan bohongi aku!!!" teriaknya semakin keras. seketika air matanya tumpah. Dia menangis histeris.
" Tenang Rubel Please." Pinta Dainan penuh harap. Rubel menatap Daenan sangat tajam.
" Ok, katakan padaku." Desak Rubel dengan sejuta perasaan berkecamuk di dadanya.
" Hana benar-benar mengalami Koma." ucap Dainan pelan namun mampu menembus ruang hati Rubel.
" Kamu bohong???" tanya Rubel tak percaya.
" Tenang, kamu tidak perlu seperti itu. ucap Dainan menenangkan.
Rubel menatap Mama dan ibunya, air matanya terus mengalir, begitu banyak hal yang dia sendiri tidak tahu.
Mama memeluk nya, dia sungguh tidak berdaya mendengar ucapan Dainan. hatinya begitu sakit seakan-akan teriris-iris. Rubel membalas pelukan itu. Dia mencoba menenangkan dirinya dan juga kedua wanita yang begitu menyayangi Hana.
" Hana akan sembuh ma." Ucapnya begitu tenang, namun mampu membuat semua orang terenyuh hatinya.
" Semangat yah nak, Hana membutuhkan Rubel, Rubel harus. kuat dan sehat. jangan menyiksa diri Rubel." ucap mama optimis.
Rubel memeluk mamanya sangat lekat. dia mencoba menenangkan dirinya.
Dia pun pergi makan bersama Dainan dan Lia, walaupun hanya sedikit, setidaknya dia harus sehat menghadapi semua ujian yang Allah berikan untuknya.
__ADS_1
" Sahabat Dokter Cool terimakasih supportnya nya dukung terus dengan menvote, like dan komennya yang banyak terimakasih 😍🤗."