Dokter Cool

Dokter Cool
Bab 28


__ADS_3

Di kediaman Purwanto Agiawan Di Ponorogo Residen.


Hana beringsut bangun, dia bosen berlama-lama di ditempat tidur. dia mencari ponselnya, dia lupa sejak malam dia jatuh pingsan ponsel itu berada dirumah nya. dia rindu suara Rubel, rindu jutek Rubel. tak terasa air matanya mengalir.


Nyai mendorong kursi rodanya ke kamar Hana.


" Ana udah bangun sayang.?" tanya Nyai pada Hana.


" Iya nyai, ana udah bangun dan kepengen jalan-jalan gak enak badan nya tidur Mulu." ucap Hana, dan mencoba berdiri walaupun kepalanya masih terasa agak pusing.


Bibi membawakan sarapan, kedalam kamar Hana di ikuti Haikal.


"Pagi, nona." hibur Haikal pada Hana.


" He-he-he" Hana tertawa seperti melupakan semua kesusahannya. dia merasa canggung untuk memanggil Haikal dengan sebutan Abang. karena mereka adalah teman dari sejak SMP.


"Hana kamu ingat waktu SMP kita sering berantem seperti Tom dan Jerry." tanya Haikal mencoba mengulang memori sekolah mereka.


hana mengangguk.


" Tapi sekarang Tom dan Jerry sudah jadi sepupu an jadi gak boleh lagi berantem." Ujar Haikal menggoda.


Bibi dan nyai tersenyum melihat kedua sepupu itu begitu akrab.


" Ana makan dulu sayang." ucap nyai menyadarkan keduanya yang sedang reunian.


" Iya nyai." jawab Hana, sepontan Haikal mengambil sarapan yang di bawa bibi.


" Sini." ujar Haikal dan menyuruh Hana duduk di Ottoman. Hana menurut dan duduk disebelah Haikal. Haikal hendak menyuap Hana.


" Buka mulutnya." pinta Haikal.


" Enggak ah Hana gak mau?" Hana kan udah besar ngapain di suap. ujarnya menolak.


" Emang nya yang bilang kamu anak kecil siapa?" tanya Haikal gemes sambil mencubit pipi Hana.


" Ah, Haikal ganggu aja." ucap Hana kesal.


" Bukan Haikal tapi panggil Abang Haikal." ucap Haikal mengajari.


" Enggak bisa." ucap Hana cepat.


" Harus bisa aku kan Abang." ucap Haikal sok tua.


" Abang.. cuma beda 4 bulan. kita kan dulu sekelas mana mungkin kamu lebih tua." ledek Hana pada Haikal.


" Non, kalo berantem terus kapan makannya?" ucap Bibi menyadarkan mereka berdua.


" Tadi bilangnya Tom dan Jerry sepupu an sekarang malah balik lagi musuhan kapan akurnya." timpal Bibi lagi.


Mereka semua tertawa melihat Bibi sangat antusias menasehati keduanya. Hana pun perlahan menyuapkan sarapannya, sesendok demi sesendok. hingga selesai.


******


" Haikal apa sudah ada kabar dari Papa mu tentang Rubel?" tanya nyai pada Haikal.


" Belum nyai papa belum mengabari apapun soal Rubel. jawab Haikal.


" Haikal." panggil Hana pada Haikal.


" Abang Haikal." ucap Haikal kepada Hana.


" Ah Haikal aja yah, bibirnya gak bisa beradaptasi karena udah biasa ya...ya.... Haikal yah." bujuknya pada Haikal.


" Bawa Hana kerumah Om Purnawan yah." pintanya pada Haikal.


Haikal, Nyai dan Bibi terkejut mendengar Hana meminta Haikal untuk mengantarkan kerumah Om Purnawan. siManusia angkuh sombong dan dikenal sangat kejam.


" Enggak ah, takut dibunuh sama om Purnawan." ucap Haikal bergidik. walaupun dia adalah keponakan Om Purnawan tapi Haikal tidak begitu akrab dengan om nya.


" Tapi kan kita keponakannya." jawab Hana.


" Sebaiknya kita tidak pergi, Hana kan tidak tahu seperti apa sifat aslinya om Purnawan." jelas Haikal.


Hana diam, dan menatap Haikal kesal karena Haikal tidak mau membantunya.


" Apakah Hana tahu kenapa Rubel pergi?" tanya Haikal lagi. dan jawaban Hana hanya menggeleng kan kepala.


" Om Purnawan mengancam akan menutup paksa Rumah Sakit Z jika Rubel tidak segera menuruti kemauan nya."


" Tapi, bagaimana nasib Ino jika dia menolak menikah dengan Maria." tanya Hana.


" Entahlah, aku tidak tahu." jawab Haikal bingung.


Hana menatap keluar kamar, ingin rasa nya dia berlari menemui Rubel tapi dia tidak punya kekuatan super seperti yang selalu dia ucap kan kepada Rubel.


" Aku kan manusia super." ujarnya selalu bila Rubel bertanya " kamu manusia apa sih?" air matanya seketika tumpah. rasa rindu mengusik relung hatinya.


Perjuangan cintanya dengan Rubel sedang di uji. perjalanan cinta yang akan segera dikukuhkan dalam tali pernikahan itu tiba-tiba harus terjedah oleh orang-orang Egois.


Nyai mendekati Hana, pilu rasanya melihat Hana dengan tatapan tak berdaya.


" Sayang kita do'akan agar Ino baik-baik saja ya." ucap nyai seraya memeluk Hana.


Haikal diam, dia sendiri tak tahu harus berbuat apa. membayangkan nama om Purnawan saja dia sudah takut apalagi harus menghadapi laki-laki yang punya kuasa besar di negara ini, bisa-bisa bisnis kecil-kecilan nya dihancurkan tak bersisa.


******

__ADS_1


Ibu sedang menyiapkan rantangan laok, cemilan dan menyiapkan beberapa pakaian ganti untuk Hana. dia mengambil ponsel Hana di atas meja beserta charger nya. ibu melihat kearah sebuah kotak merah. di raih kotak itu dan dibukanya. sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk love berwarna pelangi. ibu meraihnya dan segera memasukkan semua kepunyaan Hana kedalam travel bag berukuran sedang.


" Ayah kita berangkat sekarang yah." ucap ibu Hana kepada Ayah. mereka mengendarai motor antik bewarna kuning. satu-satunya pusaka peninggalan kakek dari ayah nya Hana.


Setelah hampir 45 menit di jalan tibalah mereka di perumahan Ponorogo Residen. ibu turun dari motor dan memencet bel di pintu pagar. di pos jaga ada Diko.


Diko pun berjalan kearah mereka dan membuka pintu pagar, ibu dan ayah Hana pun segera masuk.


" Makasih yah Diko." ucap ibu pada Diko.


" Iya Bu, silahkan masuk."ucapnya mempersilahkan Ibu dan Ayah.


Haikal yang mendengar suara bel berbunyi segera membuka kan pintu.


" Assalamualaikum." salam ibu pada Haikal.


" Wa'alaikum salam." jawab Haikal.


" Gimana kabar Tante." tanya Haikal sambil menyalami Tante dan om nya.


" Alhamdulillah kami baik baik aja." ucap Ibu pada Haikal dan menyodorkan rantangan makanan serta cemilan kepada Haikal.


"Apa nih Tan?" tanya Haikal seraya mengambil rantangan itu.


"Ini ada Laok untuk makan dan juga cemilan kampung." jawab ibu Hana.


Haikal langsung membuka rantangan itu, ada tumis kacang botor dengan teri. oseng-oseng kerang mercon, lalapan dan sambal terasi.


seketika jiwa pecinta cabenya meronta-ronta untuk mencicipi.


"Tante Haikal makan dikit yah." pintanya pada ibu Hana.


"iya sayang Tante bawain itu buat semua yang disini." ucap ibu Hana.


Haikal berjalan menuju ruang makan, dia meletakkan rantang itu di meja makan. bibi melihat Haikal bingung karena belum lagi waktu makan siang Haikal telah me nyendokkan nasi ke Rice cooker.


"Den Haikal laper ? apa ke sambet?" tanya bibi dengan ekspresi kening di kerut.


" Bukan laper bi tapi ke sambet." jawab Haikal asal.


" Waduh, kalo kesambet mau jampi-jampiin den Haikal gimana tuh." jawab bibi asal.


" Gak usah dijampi, obatnya cuma makan ini ." jawabnya mengalihkan ucapan Bibi yang mulai gusar.


" Bibi tahu, cuma bibyi heran baru aja den Haikal sarapan tapi udah mau nyosor lagi tuh makanan." jawab Bibi jujur.


" hahahaha bibyi bisa saja, biasa Bi bawaan orang gak ada kerjaan jadi pengen makan Mulu." jawab Haikal sambil mencicipi makanannya.


Bibi hanya membalas dengan senyuman semanis coklat kemudian berlalu meninggalkan Haikal yang asik melahap makan siangnya yang kepagian.


" Hana udah sarapan nak?" tanya Ibu pada Hana.


" Udah Bu, tadi di bawain Bibi kekamar." jawab Hana.


" Mak." sapa Ibu pada Nyai.


" Iya ti." jawab Nyai.


" Wati ada bawa kue kroket ubi isi pepaya tumis." ucap Ibu pada Nyai.


" Ya ampun Ti, tahu aja kalo emak udah lama gak makan tuh kue." jawab Nyai yang mengingat begitu lama sejak dia bersama Rubel ke Australia mereka tidak pernah lagi makan kue itu, dulu Nyai sering pesen sama Ibu.


" Ntar yah Mak Wati Ambilkan buat Emak." ucap Ibu pada Nyai.


" Bu Hana juga mau. perutnya masih pengen makan." ucap Hana sambil mengelus perutnya yang rata. ibu berlalu ke belakang hendak mengambil kue kroket. Ibu kaget melihat Haikal begitu bersemangat makan dengan Laok yang dibawanya.


" Enak?" tanya ibu pada Haikal.


" Enak Tan, tahu aja kalo Haikal suka." jawab Haikal malu-malu.


" Ya udah Tante tinggal dulu yah." sambil membawa rantangan dengan isi kue kroket ubi.


Haikal menyelesaikan makannya, takut kebablasan nanti orang lain gak kebagian makan. dan segera membawa piring ke dapur meletakan di dalam wastafel. dan ke mudian mencuci tangannya. bibi muncul di belakang Haikal.


" Den." panggil bibi dan membuat Haikal terkejut.


" Ah bibi bikin kaget orang aja kirain..." ucap Haikal terputus.


"Kirain hantu yah." jawab bibi asal.


"hehehe bibi tahu aja." jawab Haikal malu-malu.


"Den persediaan makan udah habis." kulkas emang gak ada isi. tadi pagi bibi minta tolong sama mas Dion buat belanja untuk masak sarapan aja karena pasar tradisional jauh dari sini." ucap bibi.


"i-iya lah bi ini kan perumahan Elite gak ada pasar tradisional, yang ada mini market itu pun gak lengkap." ucap Haikal pada bibi.


"Terus." tanya bibi pendek.


"jangan terus-terus ntar nabrak." ucap Haikal asal.


"jadi gimana den." tanya bibi lagi.


"gak apa-apa bibi catat aja yang mau bibi beli. entar Haikal belanja sama Tante Wati aja." ucap Haikal menenangkan.


"iya den terimakasih." jawab bibi.


"gak usah terimakasih, seharusnya Haikal yang bilang terimakasih karena udah di ingatin." ucap Haikal pada bibi. dan berlalu kedalam kamar Hana. di dalam kamar nyai dan Hana sedang santai makan kue kroket.

__ADS_1


"Bagi dong!" pinta Haikal pada Hana.


"Enak aja bagi... Beli dong." jawab Hana asal. tapi tangannya tetap menyodorkan rantang berisi kue itu ke arah Haikal.


"Hana baik deh." ucap Haikal menggoda.


Hana hanya diam, dia asik mengunyah kue nya. mood booster nya lagi naik jadi dia malas meladeni sepupunya itu.


"Tan, temani Haikal belanja yah." pinta nya pada Tante nya.


"Boleh." jawab tantenya tanpa penolakan seperti yang Hana lakukan kepadanya.


"Ibu sama anak emang beda yah." tiba-tiba Haikal menyelutuk. Hana melihat Haikal dengan wajah melotot.


"ibu nya baik banget anak nya bawel banget." ucap Haikal lagi. Hana hanya mencebik.


******


di luar pagar sebuah mobil berhenti, dan si empunya mobil langsung mengeluarkan tubuhnya lewat jendela melambai-lambai kan tangannya ke pos jaga.


Diko yang melihat langsung segera membuka pintu pagar.


"makasih yah Diko." ucapnya dan terus berlalu memarkirkan kendaraan nya di halaman rumah. tidak ada yang tahu kedatangan laki-laki itu. dia melangkah masuk kedalam tanpa harus minta izin.


tak ada orang di ruang tamu, dia pun bergegas masuk kedalam mencari seseorang matanya tertuju pada sebuah kamar yang sangat riuh.


"Assalamualaikum." laki-laki itu mengucap salam. matanya memandang kaku ke arah seorang wanita dengan pakaian tertutup mengenakan kerudung panjang.


'Wa-a'lai-kum-sa-lam." jawab ibu Hana terbata-bata. mulut nya seketika kelu. ada perasaan aneh menyeruak ke dalam hati nya. sesuatu yang hendak meledak, membuncah relung sukmanya. betapa tidak puluhan tahun lama nya sejak kejadian dia di usir dari rumah itu dia belum sekalipun bertemu kembali dengan laki-laki itu. dia pun berlari menghamburkan pelukan rindu nya.


"Abang, Wati rindu." ucapnya pada sang Abang.


laki-laki itu menyambut pelukannya. mereka menangis meluapkan kerinduan. sejak berpuluh tahun yang lalu.


"kamu baik-baik aja kan dek?" tanya abangnya.


"iya bang, Wati baik-baik aja bang. maafin Wati yah bang pergi ninggalin Abang." ucapnya sendu.


"udah yah kita gak usah membahas tentang masa lalu. yang berlalu biarlah berlalu. sekarang kita bina kekeluargaan ini kembali." ucap abangnya. semua terharu melihat pemandangan itu, ayah Hana menghampiri Abang iparnya dan menyalaminya tapi abang iparnya merangkul nya sangat erat.


"maafin kami bang." ucap ayah Hana.


"yah sudah jangan di bahas lagi." yang terpenting saat ini. kita bisa berkumpul lagi." ucap abangnya bijak.


sebenarnya Om Purwanto, masih banyak yang ingin dia ceritakan kepada adiknya tapi melihat suasana bahagia itu dia tidak ingin menggantikan nya dengan tangisan lagi.


"Haikal, papa mau bicara." ucapnya pada haikal.


"iya, pa." jawab Haikal dan mengikuti langkah papanya ke ruang keluarga. papa menutup pintu ruangan itu agar orang lain tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


"papa baru saja dari rumah Om Purnawan." ucapnya.


"trus, bagaimana keadaan Rubel?" tanya haikal.


"Rubel baik-baik saja tapi dia enggan makan apapun, saat ini kondisinya sangat lemah." ucap papanya.


"jadi bagaimana respon Om Purnawan." tanya haikal.


"Dia tetap bertahan agar Rubel bersedia menikahi Maria. tapi ucapannya sedikit lebih bijak dari pada sebelumnya."


"Serius pa?" tanya Haikal tak percaya. papa nya hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


"apa tidak sebaiknya papa ceritakan sama Tante Wati." usul Haikal.


"Papa tidak ingin Om Purnawan menjadi berang." takut dia akan mencelakai Tante mu." jawab papa sedikit masuk akal mengingat om Purnawan sangat arogan.


"jadi bagaimana?" tanya Haikal, dan mereka berdua pun terdiam. tiba-tiba suara pintu diketuk.


"Haikal." panggil Tante Wati dari luar ruangan.


"iya Tante." jawabnya cepat mereka berdua gelagapan takut pembicaraan mereka di dengar oleh adik papanya itu. haikal segera membuka pintu agar tantenya tidak curiga dengan apa yang sedang mereka bicarakan.


"jadikan pergi belanja nya?" tanya nya pada Haikal.


"jadi tante." jawab Haikal cepat tiba-tiba abangnya bersuara.


"Abang ikut." ujarnya pada mereka. dan berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Ghana." Panggil Abang iparnya.


"ayok ikut kami belanja." ajaknya pada adik iparnya.


"Om Hana ikut." pintanya pada Om Purwanto.


Haikal menghampiri nya dan mencubit hidung Hana dengan gemes. tiba-tiba Hana terkejut. dia teringat Rubel Sering mencubit hidungnya bila dia gemes.


"Orang sakit kok ikut." ucap Haikal pada Hana.


Hana meneteskan air mata, dia menangis bukan karena sakit di cubit Haikal tapi karena dia merindukan Rubel.


Ibu melihat Hana bersedih, dia segera menghampiri anak gadisnya itu, menyodorkan travel bag yang dibawa tadi pada Hana. Hana menerima dan membuka segera tas itu. dia segera mengambil ponsel dan kotak kalung berwarna merah yang ada di dalam tas.


"makasih yah Bu." ucapnya pada ibu. tiba-tiba wajah Hana merasa sangat bahagia. menemukan barang-barang kesayangannya pemberian Rubel.


Jangan Lupa Favorit, Follow, Vote, like dan komen nya yang banyak yah... terimakasih.


suporter kalian membuat ku akan terus memperbaiki diri dan berkarya terimakasih 😍🤗.

__ADS_1


__ADS_2