
Mereka berdua berpelukan sangat erat, karena rasa penasaran nya dengan adik iparnya Tasya memberanikan diri untuk masuk ke kamar Rubel. dan di ikuti sang Mama.
" Gimana keadaanmu dek?" tanya Tasya pada Hana yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. sedangkan Rubel sedang berjalan ke arah dapur untuk membuatkan coklat susu hangat untuk Hana.
" Alhamdulillah kak, Hana emang selalu seperti ini." ucap Hana pelan namun masih terdengar oleh Tasya. wajah Hana terlihat sangat pucat. Tasya penasaran dengan kondisi Hana. dia pun segera memeriksa adik iparnya itu. mencoba memeriksa nadi dan jantung Hana dan juga perlahan-lahan memeriksa perut Hana.
" Apa kamu sudah terlambat haid?" tanya Tasya pada Hana yang terlihat sangt lemas. Hana mengangguk pelan pada Kakak iparnya itu.
" Tidak salah lagi, dugaan aku benar." ucapnya begitu yakin membuat sang Mama bingung.
" Apanya yang benar nak?" tanya Mama pada Tasya.
" Hana sedang hamil ma." ucap nya lembut dan membuat mata mama terbelalak tak percaya, karena beberapa Minggu lalu dokter Lidya mengatakan bahwa rahim Hana bersih dan belum ada tanda-tanda kehamilan.
" benarkah?" tanya Mama tidak percaya.
" Iya, insyaAllah ma." ucap Tasya meyakinkan.
" Alhamdulillah." ucap Mama begitu bahagia, Rubel masuk sambil membawa gelas coklat susu untuk Hana dan bingung mendengar ucapan mamanya.
" Alhamdulillah apa ma?" tanya Rubel bingung. sambil menyodorkan gelas coklat susu ke pada Hana.
" Duh bocah ingusan bentar lagi jadi Papa." ucap Tasya begitu bersemangat.
" Serius Kak??" tanya Rubel meyakinkan. Tasya adalah dokter SpOG, tentu saja dia akan sangat percaya dengan ucapan kakak nya.
" Iya dek." ucapnya sangat bahagia dan tersenyum.
Awalnya Rubel terlihat sangat bahagia tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tentang sakit Neutropenia nya Hana.
" Loh kok gak semangat?" tanya sang kakak bingung melihat reaksi Rubel yang tiba-tiba berubah tidak bersemangat. Rubel berjalan ke luar kamar di ikuti sang kakak. Mama Melisa menemani Hana di dalam kamar.
" Kak... Hana sakit dia mengidap penyakit Neutropenia Imun." ucap Rubel sedih.
Kakaknya terdiam memandang sang adik begitu lekat. dan kemudian menerbitkan senyum yang sangat bahagia.
" Don't sad baby." ucapnya pelan.
" Gimana gak sedih, dia lumpuh karena kondisinya tiba-tiba tidak stabil." ucap Rubel begitu lirih.
" Asal kamu bisa menjaga mood nya selalu baik, Hana akan sehat insyaallah dia akan segera sembuh." ucap nya menyemangati.
" Tapi kak???"
" Tidak ada tapi-tapi."
" Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, semua tergantung dari sini." ucap sang kakak sambil menunjuk ke arah tengah dadanya.
" Nawaitu bin niat, selama niatnya baik dan selalu berfikir positif kalian akan baik-baik saja, dan satu hal lagi jangan lupa banyak-banyak bersedekah."
Deg, jantung Rubel seakan mau copot, dia lupa bahwa dia belum sempat melepaskan niatnya untuk bersedekah.
" Astagfirullah, makasih Kak Rubel benar-benar lupa." ucapnya merasa bersalah, dia benar-benar terlalu fokus dengan kesehatan Hana sampai lupa niatnya.
Rubel memeluk sang kakak seperti adik kecil yang sedang bermanja-manja. Rubel kembali ke kamar, setelah dia melihat mama keluar sambil membawa gelas kosong. Tasya kembali memeluk sang mama, dia Sangat rindu pada Mamanya, dia kemari karena dia ada pertemuan di Rumah Sakit Di Sydney. Mama duduk di dekat Tasya yang sibuk menggulung rambutnya.
" Mama sehat??" tanya tasya baru sadar sejak pulang tadi dia tidak menanyakan kabar sang Mama. spontan sang Mama mencubit hidung anak sulungnya itu.
" Bukannya dari tadi tanya kabar Mama." ucap Mama sedikit menggoda.
" Maaf yah Ma, Tasya benar-benar lupa yang Tasya ingat hanya pernikahan Rubel dan keadaan Nyai." ucapnya sedikit bersedih.
" Ya sudah, gimana kabar cucu Mama?" tanya Mama lembut dan mengalihkan pembicaraan tentang Nyai, sambil mengelus lembut kepala Tasya. Tasya pun berbaring dan menyandar kan kepala nya di pangkuan sang Mama.
" Alhamdulillah anak-anak sehat Ma, nanti saat liburan Tasya akan membawa mereka kemari." ucapnya bersemangat.
" Bagaimana dengan Endro?" tanya mama lagi.
" Endro juga baik-baik aja ma cuma sekarang dia sangat sibuk, sehingga kami jarang bertemu.
" Jarang bertemu??" tanya Mama begitu penasaran.
" Iya ma.. dia sedang kebanjiran job, sehingga dia jarang pulang." ucap nya agak lirih.
" Kalian baik-baik saja kan?" tanya mama.
" Insyaallah Ma, Tasya percaya dengan Endro." ucap nya pelan.
" Kamu tidak menyembunyikan apapun dari Mama kan?
" Tidak ma, Kami hanya jarang bertemu sehingga sedikit dis komunikasi aja." ucapnya meyakinkan.
__ADS_1
" Mudah-mudahan kalian baik-baik aja yah sayang. ucap Mama lembut sambil mengelus pipi Tasya.
" Iya, ma Tasya yakin ini hanya sebentar dan kita akan seperti dulu lagi." ucap Tasya berfikir positif.
" Baiklah, segeralah beristirahat hari sudah larut malam, mama juga ingin istirahat." ucap Mama pelan dan Tasya pun bangun, mencium pipi sang mama dan berjalan ke arah kamarnya.
******
Rubel berbaring dan melingkarkan tangannya ke pinggang Hana, kemudian mendekatkan mukanya ke arah perut Hana yang masih rata. dia pun mencium perut Hana.
" Love u baby." ucap nya sangat lembut.
Hana hanya menggeliat geli. kemudian mencubit lembut hidung Rubel.
Rubel duduk disamping Hana mencium Hana dengan mesra.
" Sayang, sehat terus yah jangan berfikir negatif biar Ana bisa sehat.
" Iya sayang, makasih yah sudah meluangkan waktu untuk menjaga Ana dan berusaha sabar ngadepin tingkah laku Ana." ucap Hana lirih.dan matanya mulai berkaca-kaca.
" Ya sudah, gak usah difikirkan sekarang waktunya kita tidur hari udah larut, gak baik buat ibu hamil." ucap Rubel sambil mendekap erat tubuh Hana. kemudian Hana berbaring di lengan Rubel. mereka tidur saling berpelukan.
******
Pagi yang dingin Hana merasa sangat dingin padahal AC di kamar itu tidak dihidupkan kan, dia melirik kearah jam dinding waktu menunjukkan pukul lima dini hari waktu
Sydney.
Hana membangunkan Rubel untuk sholat subuh.
" Sayang" panggil Hana lembut ditelinga Rubel.
"Eum." sahut Rubel pelan.
" Sholat dulu yah." ajak Hana halus, sambil mengusap lembut kepala Rubel. Rubel mengeratkan pelukannya pada Hana sehingga Hana sulit untuk bergerak.
" Sebentar lagi." ucap Rubel dengan manja.
" Udah jam 5 nih." ucap Hana cepat.
" Apa??" Rubel terkejut dan segera bangun.
" Bener-benar dingin jadi bawaannya ngantuk" ucap Rubel beralasan. Rubel pun meraih tangan Hana dan menggendong nya ke kamar mandi.
" Ya Allah, Alhamdulillah." dia mencoba bangun perlahan-lahan dan dia bisa berdiri lagi. Hana pun mencoba menyeret kakinya berjalan satu satu. emang tidak mudah untuk dia bisa segera keluar dari kamar mandi tapi Hana tetap berusaha untuk terus berjalan.
Selesai sholat Rubel segera kembali ke kamar mandi. untuk menemui Hana. tapi sebelum dia membuka pintu kamar mandi terdengar suara pintu di buka dari arah dalam. ini membuat Rubel sangat terkejut.
" Sayang??" panggil Rubel tak percaya melihat Hana mencoba menyeret kakinya pelan-pelan. Rubel hendak membantunya tapi Hana tidak mau.
" Gak usah Hana mau jalan sendiri, ini sangat menyenangkan." ucap Hana dan jalan begitu bersemangat. walaupun dia berjalan begitu lambat seperti keong. Rubel setia menunggunya dia tidak ingin membuat Hana patah semangat. sesekali dia hanya menggoda Hana.
" Sayang, pake sepatu roda yah." ucap rubel.
Hana menjulurkan lidahnya ke Rubel, dia sangat kesal Rubel menggodanya. Tapi Hana tidak menyerah dia tetap melangkah perlahan-lahan hingga dia bisa sampai di sisi tempat tidur kemudian dia memilih duduk di pinggir tempat tidur. kakinya masih terasa lemas, walaupun seperti itu tidak menyurutkan semangat Hana untuk segera sholat.
Rubel sangat bahagia, karena Hana begitu antusias untuk bisa berjalan walaupun hanya dengan menyeret kedua kakinya secara bergantian. dia pun menunggu Hana menyelesaikan sholatnya.
Setelah selesai sholat Hana menghampiri Rubel dengan kembali menyeret kedua kakinya. Rubel berdiri sambil melebarkan kedua tangannya untuk memeluk Hana. walaupun sangat lama tapi Rubel sangat senang, mereka berdua pun berpelukan.
" Ana senang?" tanya Rubel bersemangat sambil membelai pipi Hana.
" Iya, Ana gak ingin terus bergantung sama Ino, apalagi Ino harus segera mencari pekerjaan lagi." ucap Hana bersemangat dan mencium kilat bibir Rubel. tiba-tiba perut Hana dan Rubel bernyanyi bersamaan. sontak mereka berdua tertawa.
" Kita memang belum makan dari semalam." ucap Rubel.
" Ayok, kita kedapur membuat sarapan." ucap Hana. spontan Rubel segera menggendong Hana dan Hana segera mengalungkan tangannya di leher Rubel.
Di didapur Mama Melisa sedang sibuk membuat sarapan khas Indonesia, selama di Indonesia mama belajar banyak masak bersama ibu dan Bibi.
" Masak, apa ma??" tanya Rubel lembut sambil menurunkan Hana di kursi dekat meja makan.
" Mama, masak bubur ayam." jawab Mama dan melemparkan senyuman manis ke arah Hana.
" Wah serius ma?" tanya Hana tak percaya.
" Tentu saja sayang, Mama buatkan spesial untuk Hana." jawab Mama senang.
" Jadi buat Rubel gak ada??" tanya Rubel sedikit cemburu.
" Enggak, mama hanya buat untuk calon cucu Mama aja." jawab Mama sambil tersenyum mengerjai Rubel.
__ADS_1
" Ish dah, kek gitu kali lah Mama." ucap nya meniru ucapan Zaena.
" Buahahahahaha." sontak Mama dan Hana tertawa. membuat wajah Rubel memerah seketika. Tasya yang mendengar keributan di meja makan segera menghampiri.
" Apa sih subuh-subuh sudah ribut?" Tanya Tasya bingung.
" Biasa habis gangguin Rubel." ucap Mama asal. dan terus tertawa kecil. sedangkan Hana memilih diam ketika matanya bertemu dengan mata Rubel yang Memandang kesal ke arahnya. Tasya yang melihat segera menegur Rubel.
" Bel, Matanya kenapa sinis gitu lihat Hana, apa semalam gak dapat jatah." ledek Tasya keras. membuat Rubel semakin kesal.
" Kok pada belain Hana sih?" gerutunya kesal.
" Jadi Ino gak sayang sama Ana yah?" Tanya Hana pelan, sehingga tanpa terasa mengalir bulir bening di sudut mata Hana.
" Eh bukan gitu, kan tadi kita lagi becanda." ucap Rubel membela diri. tapi air mata Hana terus mengalir tanpa bisa dia tahan.
" Makanya hati-hati kalo ngomong bumil itu orangnya sedikit sensitif." ucap Tasya mengingatkan.
Rubel segera menghampiri Hana, dan menyeka air mata Hana yang terlanjur tumpah.
" Siapa bilang ino gak sayang sama Ana??" tanya Rubel sambil menyunggingkan senyuman manisnya.
Hana diam tak menjawab Rubel, dia merasa Rubel Tidak sayang dengannya. wajahnya mulai datar.
" Sayang, jangan cemberut gitu dong?" ucap Rubel dan berusaha membuat Hana tertawa. tapi Hana tidak menunjukkan wajah ramahnya kepada Rubel, membuat Rubel semakin merasa bersalah.
" Sayang, jangan sedih lagi Ino minta maaf yah." ucap Rubel sedikit memohon. namun Hana masih dengan diamnya. Mama dan Tasya mulai menggoda Rubel lagi.
" Kamu sih, pake acara ngambek segala, kan kasian cucu Mama ikutan sedih." sindir sang Mama. Rubel bingung dia tidak tahu kalau perempuan hamil begitu sensitif. dia pun memegang kedua tangan Hana dan menciumnya.
" Sayang, maaf yah Ino janji gak akan bikin Ana sedih lagi." ucap nya terus memohon. Hana merasa sedikit luluh melihat Rubel terus meminta maaf. dia sebenarnya tidak tega melihat Rubel memohon seperti itu tapi air matanya tak bisa lagi dia cegah.
" Ya, Ana maafin tapi jangan kaya tadi lagi yah." ucap Hana lirih. membuat Rubel langsung berlutut memeluk Hana.
" Iya sayang, janji." ucap Rubel sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Rubel ingin sekali mencium Hana tapi dia tidak mungkin melakukan nya di depan Mama dan kakaknya.
" Ayok makan." ajak mama yang sudah menyiapkan bubur ayam di hadapan Hana. Rubel pun bangun dari berlutut nya dan segera meraih bubur itu untuk Hana dan menyuapnya, dengan suka rela Hana pun membuka mulutnya menerima suapan bubur itu.
" Gimana rasanya??" tanya Mama penasaran reaksi menantunya.
" Rasanya kurang....." ucap Hana terputus.
" Yah, padahal Mama udah minta resepnya sama Bibi waktu di Indonesia." ucap Mama lirih.
" Maaf ma maksud Hana kurang banyak." ucapnya cepat dan menggoda Mama Mertuanya.
" Serius??" tanya mama tak percaya.
" Cobain deh ma." ucap Hana.
Mama segera meraih bubur yang ada di hadapannya dan mulai mencicipi nya.
" Wow very delicious." ucap Mama memuji bubur masakannya.
" Gak sia-sia dong belajar nya sampe nyebrang belahan Dunia." ucap Tasya bangga dan melemparkan senyuman manis ke arah Mama. Hana dan Rubel ikut tersenyum merasa sangat senang Mama begitu antusias menyediakan makanan kesukaan Hana.
" Makasih banyak yah ma." ucap Hana begitu bahagia.
" Jangan sungkan-sungkan yah sayang, Mama kan kaya Ibu nya Hana juga." ucap Mama lembut. dan mereka semua menghabiskan sarapa bubur ayamnya
Tak berapa lama papa Joe keluar dan duduk meja makan.
" Apa ini?" tanya Papa Joe menunjuk mangkok berisi bubur.
" Bubur." jawab Mama pendek.
" Bubur??"
" iya ini nasi juga cuma agak lembut." ucap Mama menjelaskan. karena rasa penasaran papa Joe pun mencicipi nya.
" Eum, enak." ucap papa Joe memuji bubur buatan Mama.
" Oh thanks honey." ucap Mama senang.
Mereka semua pun larut dalam obrolan yang sangat panjang, sedangkan papa Joe sibuk menghambiskan bubur yang ada di mangkok nya.
"
"
"
__ADS_1
" Terimakasih atas Suport sahabat dokter Cool,dukung terus dengan menvote, like dan komennya agar terimakasih semuanya 🤗😍."