Dokter Cool

Dokter Cool
BAB 5


__ADS_3

Babak baru dimulai, pagi yang begitu cerah, Hana bersiap-siap menuju Rumah Rubel, sudah hampir seminggu di Rumah sejak kepulangannya dari rumah sakit. Ibu melihat begitu antusias.


Banyak perubahan setelah kepulangan itu, Hana lebih semangat mengawali hari-harinya. Tentu saja Dia akan lebih bersemangat hari ini akan bertemu sang pujaan kecilnya. Dia bersenandung kecil meraih tangan Ibunya.


“ Hana, pergi yah ibu.”


Menyalami Ibu nya dan berlalu keluar. Dia mencoba menunggu ojek dipersimpangan jalan. Tiba - tiba sebuah mobil berhenti didepannya.


“ Hana?”


Tiba-tiba kaca mobil di buka. Hana mengangguk dia tidak tahu siapa yang ada didalam mobil. Laki-laki itu turun dari mobilnya dan mencoba berbasa basi.


“ Kamu ingat Aku?” ujarnya meyakinkan.


“ Aku, Haikal. Apa Kamu tidak ingat kita pernah 1 SMP dulu.” Kenangnya.


Hana mengingat ingat nama itu. Tentu saja dia tidak lupa cowok itu. Mereka selalu adu mulut, dimana pun, dan kapan pun seperti tom dan jerry.


“ Tentu saja, aku ingat kita selalu jadi musuh bebuyutan.” Kenangnya.


“ Tapi ngomong-ngomong Hana dulu tidak secantik sekarang.” Spontan wajah hana memerah saat cowok didepannya menggombal.


“ Ah, kamu bisa aja.aku masih seperti yg dulu.” Tidak ada yang berubah hanya makin tua.” Ujar nya dan tersenyum.


Haikal memandangnya dari kepala hingga kaki, dia tak percaya Hana yang berkulit gelap itu sekarang nampak bersih, dan berkulit kuning langsat.


“ Kamu, makan apa kok bs jadi cantik.”


Ujarnya semakin menggombal. Hana melirik jam tangannya, dia tidak ingin melawatkan jam kerja nya. Karena ingatannya beberapa minggu lalu. Tiba-tiba dia ngendrop dan kontrak kerja dengan Rubel di tunda.


“ Maaf Haikal, Aku harus berangkat kerja, Nanti Aku terlambat.” Dan berlalu hendak mencari ojek.


“ Kamu dengan Aku aja, Aku akan mengantar Mu.” Haikal menawarkan diri.


Hana menimang-nimang waktu. Karena waktunya tinggal sedikit.


“ Banyak


Hana menerima tawarannya. Dan masuk kedalam mobil saat Haikal membukakan pintu mempersilahkan Hana masuk kedalam mobilnya. Hana tak berbicara, dia memilih diam.


“ Kok, diem?” Kamu malu yah sama Aku. Haikal membuka perbincangan.


Hana terlihat gelisah, ingin sekali Dia cepat-cepat keluar dari mobil itu.


“ Tidak, Aku hanya takut terlambat.”


“ Memangnya Kamu kerja dimana.” Haikal terus membrondonginya dengan pertanyaan.


“ Aku kerja di Rumah dokter Rubel, sebagai clening servis. Ujarnya pelan.


Dia tidak ingin mengatakan dirinya menjadi seorang perawat, takut haikal akan mentertawakannya, karena dia bukan lulusan perawat.


" Nanti aku akan dibilang perawat KW juga nih sm haikal." Bathinnya.


“ CS?? Memangnya kamu tamatan apa?"


" Kenapa tidak mencari kerjaan lain yang lebih baik??


Hana menunduk seakan tak berdaya.


“ Aku hanya lulusan SMU.” Suaranya terdengar sangat pelan.


Haikal mengalihkan ucapannya, nampak Hana tak bersemangat, Karena pertanyaannya.


“ Baiklah, dimana Rumah dokter Rubel itu?”


“ Di villa buana A. Terangnya pada Haikal.


Tibalah mereka di sebuah rumah besar. Dengan arsitektur sangat unik. Haikal membukakan pintu untuk Hana.


“ Terimakasih, sudah mengantarkan Aku.” Ujar Hana Dengan wajah datarnya.


Haikal hanya memandang nya bingung.


“ Maafkan perkataan ku ya Hana”. Aku gak bermaksud menyinggungmu. Hana hanya mengangguk pelan dan berlalu meninggalkan Haikal.


Nyai sedang duduk diteras rumah, wajahnya terlihat sumringah melihat kedatangan Hana. Hana memeluk nyai rubel.


“ Gimana kabar nyai?” sambil mencium punggung tangan orang tua itu.


“ Nyai baik-baik aja sayang. Gimana dengan Ana?” Hana tersenyum.


“ Ana baik Nyai.. Nyai Ana boleh meminta sesuatu sama nyai?"


“ Nyai, simpan identitas Ana dari rubel yah... Ana tidak mau rubel tahu. Nanti ada waktunya Ana akan memberitahukan kebenarannya. Nyai merasa sedih.

__ADS_1


“ Kenapa harus ditutupi sayang, bukan kah Ana rindu dengan Rubel." tanya Nyai pada Ana.


" Ana ingin melihat bagaimana perjuangan Rubel untuk mencari Ana.” Nyai terdiam, selama ini Rubel terlalu asik dengan kesibukannya sampai dia lupa memikirkan kehidupannya sendiri.


“ Ya sudah kita masuk yuk." ujar Nyai mencairkan suasana.


Hari ini Hana sangat bahagia, Dia bisa menemani semua kegiatan Nyai nya Rubel. Tidak lupa mengenakan masker agar alerginya tidak kambuh. Nyai paham kondisinya. Mereka lebih memilih beraktifitas di luar kamar.


Hari menjelang sore, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Rubel. Hana bertanya kepada Nyai.


“ Kapan ino akan pulang yah nyai?” sambil memijit kaki nyai yang diselonjorkan diatas sebuah kursi.


“ Entahlah, namanya juga dokter kadang pulang tepat waktu kadang gak pulang-pulang.”


Hana hanya tersenyum kecil, tidak dipungkiri hati kecilnya memikirkan Rubel. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, langsung masuk sebelum dipersilahkan, gadis itu berkulit putih, wajahnya bersih.


Hana bingung dengan tamu itu. Tapi dia tetap sopan dan berpura-pura tak ada masalah.


“ Nyai, sehat?” tanya nya sambil cupika cupiki. Nyai, menjawab dengan singkat.


“ Sehat.” jawab Nyai, Nyai mulai merasakan tidak kesukaan nya terhadap tamu nya ini. Sepertinya gadis ini makin hari semakin berlaku kurang sopan. Dan terlalu berlebih-lebihan. Nyai memperkenalkan Hana.


“ Kenalkan, ini Ana orang terdekat Rubel.” Ujarnya menekankan.


Hana mengulurkan tangannya, tapi tak digubris oleh Ana didepannya.


“ Ana, ini Ana nama kalian sama.” ucap Nyai, Hana tersenyum. Tapi tidak dengan Ana didepannya. Dia memandang Hana sinis. Dia merasakan Hana akan jadi penghancur rencananya untuk merebut Rubel. Dia tidak ingin berlama-lama.


“ Ana balik yah Nyai.” Langsung keluar rumah dengan wajah tampak kesal.


Dia mengumpat memaki Hana, kenapa harus datang gadis itu. Orang kampung seperti dia tidak cocok dengan Rubel. Aku akan membuat Rubel membencimu, Jangan menghalangi rencana ku. Sambil mengepalkan tangannya dengan murka.


Seseorang memperhatikan tingkah lakunya.


“ Kenapa sayang, siapa yang telah membuatmu begitu marah.” Seorang paruh baya datang menghampirinya.


“ Seseorang telah merebut orang yang Kirana suka Ma.”


Mamanya terbelalak.


“ Siapa, orang yang kirana suka?” Mamanya mendesak.


“ Rubel ma, tetangga rumah kita.” Mama kirana menatap serius. Karena selama ini Kirana selalu berganti-ganti kekasih. Tak sampai seminggu putus dan semuanya hanya menjadi atm berjalannya, Dia tidak pernah serius dengan lelaki.


Ini adalah awal Kirana menjadi orang yang serius. Dia bosan dengan ritual petualangannya. Dia ingin merubah ritualnya. Menemukan pasangan sejatinya. Tapi lagi-lagi seseorang telah hadir dan akan merusak semua rencana dan impiannya.


Dikediaman rubel.


“ Nyai, kenapa Nyai ceritakan tentang Ana pada Ana itu.” Nyai memandang gadis itu.


“ Nyai tidak suka dengan perilakunya, lama-lama seperti ada hal yang ingin Dia rencanakan.” Jelas nyai. Hana tersenyum.


“ Mungkin hanya perasaan Nyai, Ana lihat Dia orangnya cantik.” Ujarnya mengalihkan.


“ Iya cantik, tapi hatinya kita gak tau.” Nyai menggamit tangan Hana.


“ Dengar, kan Nyai sayang, kita tidak bisa melihat orang karena kecantikannya, ana tetap harus waspada.” Gelagat Ana itu tidak baik. Pokoknya Ana harus jaga diri.


“ Tenang, nyai ada manusia super.” Ujarnya menghibur. Nyai memandang Hana begitu sayang, diya kecewa karena Hana berusaha menutupi identitasnya dari Rubel.


Tapi Nyai sadar Hana didepannya bukan Hana yang matre. Gadis ini tetap berjuang menjadi perawat nya agar bisa mendapatkan gaji untuk mencukupi kebutuhannya.


Jika dia matre dia dengan mudahnya mengatakan bahwa diri nya Ana kepada Rubel. Tentu ruybel akan langsung melamarnya. Tanpa harus bersusah payah.


Hana terlihat mengantuk, dia menyandarkan diri nya di sofa. Tadi dia mau izin pulang, tapi Nyai melarangnya. Nyai memintanya untuk menunggu Rubel mengantarnya. Nyai ingin mereka lebih dekat dan akrab. Waktu telah menunjukkan jam 11 malam.


Seseorang membuka pintu rumah dengan perlahan, dia terkejut melihat Perawat KW itu telah tertidur dengan pulasnya. Didekati nya Hana, entah mengapa dia merasakan hatinya sangat bahagia. Karena dari sejak pagi hatinya ingin melihat perawat KW nya itu, tapi jadwal bedah hari ini sangat padat. Nyai keluar kamar, berdehem melihat cucu nya sedang memandang gadis didepannya tanpa berkedip. Rubel tersadar. Bahwa Nyai sedang memperhatikannya.


“ Nyai” tatapnya tersipu.


“ Bawa Dia kedalam kamar tamu. Biarkan dia beristirahat. Tadi Nyai memintanya untuk menunggumu. Agar kamu bisa mengantarkannya pulang. Tapi ternyata kamu terlambat pulang.”


Ino menggendong Hana dan membawa kekamar tamu. Dilihat wajah polos itu, timbul keisengannya ingin mencubit hidung Hana.


Hana terkejut dari tidurnya. Mengucek ngucek matanya dan melihat orang yang telah mencubit hidungnya, setengah sadar. Dia duduk dipinggir tempat tidur.


“ Maaf dok Hana ketiduran. Hana menunggu dokter dari tadi sore. Tapi dokter gak pulang-pulang."


Terangnya sambil mengelus hidungnya yang memerah. Dia sedang tidak ingin membalas perlakuan Rubel. Dia terlihat sangat mengantuk. Rubel merasa bersalah. Awalnya dia berharap Hana akan membalas perlakuannya, dia rindu dengan wajah jutek si perawat KW itu, Tapi dia sadar, Hana harus banyak beristirahat.


Kondisi nya tak sepenuhnya pulih.


Gadis itu bisa saja kembali ngedrop. Hana kembali tidur, dia benar-benar seperti kehilangan tenaga. Rubel menarik selimut, menutupi tubuh gadis itu. Dia masih belum ingin beranjak dari situ. Tiba-tiba Ponselnya berbunyi, sebuah chatingan masuk.


“jangan percaya pada gadis yang mengaku dirinya Ana.” Dia bukan Ana yang kamu cari. Dia hanya ingin merebutmu dari Ana yang asli. Dan satu hal Ana kampungan itu hanya ingin hartamu.”

__ADS_1


Dia melihat nomor itu, tapi tidak mengenalnya. Dia mengingat-ingat gadis yang mengaku dirinya bernama Ana. Seseorang yang dengan tiba-tiba terlihat akrab dengan Nyainya tempo hari.


“ Benar saja, gadis itu sepertinya hanya ingin berpura-pura menjadi Ana, Aku ingat aku pernah berdo’a di mushola, dan menyebutkan nama Ana. Sepertinya dia mendengar semuanya. Tapi apa yang direncanakannya??? Baiklah sepertinya chatingan yang kemarin juga akal-akalannya. Ana tidak mungkin memanggil ku dengan sebutan Rubel. Dia pasti gadis yang diceritakan dalam chatingan itu.


Rubel membalas chatingan itu.


“ Terimakasih telah mengingatkan ku, tapi kamu siapa?”


“ Dia hanya mengirimkan emoticon 😇.” Menganggap dirinya seperti malaikat. Rubel memandang chatingan itu dengan seksama. Apa dia juga Ana KW itu ujarnya dalam hati.


Rubel memandang Hana, dan berlalu kekamarnya untuk beristirahat.


Subuh-subuh Hana telah bangun setelah mandi dan sholat Dia, bergegas kedapur membantu bibi menyiapkan sarapan. Hari ini Dia memasak nasi goreng ikan teri nasi. Nasi goreng ini benar-benar membuat nya lapar, tapi dia tidak mungkin makan dulu.


Dia memanggil nyai dan mencoba mengetuk pintu kamar Rubel. Gadis itu terkejut ternyata Rubel telah duluan membuka pintu kamar. Dia berbalik berpura-pura mengalihkan rencananya mengajak Rubel sarapan.


Rubel memandang hana dengan tatapan bingung. Hana berjalan menuju meja makan. Dia melihat sarapan kali ini berbeda dari biasanya. Bibi tidak pernah membuat nasi goreng.


“ Ayo sayang, kita sarapan hari ini Hana memasak nasi goreng.” Rubel melihat piringnya. Nasi goreng itu berwarna pucat, dia tidak yakin untuk memakannya, tapi dia sudah sangat lapar.


Dicicipi nasi goreng itu, dia teringat sesuatu tentang nasi goreng itu. Ya waktu TK Ana kecil sering membawa bekal nasi goreng ini, dia melahap sarapannya tanpa melihat sekelilingnya. Nyai terheran-heran dia tidak menyangka Rubel akan memakan nasi goreng itu dengan lahapnya.


“ Besok buat lagi yah perawat KW.!” Pinta nya tanpa memperhatikan sang empunya badan.”


Nyai dan yang lain tertawa melihat Rubel begitu antusias. Rubel hanya berujar dalam hati.


“ Kamu memang tau seleraku Hana, Seakan kau mengerti apa yang Aku inginkan, kenapa lama-lama kau seperti Ana ku. Gumannya dalam hati sambil memandang perawat KWnya.


Hana membalas pandangan Rubel. Mereka seperti orang yang sedang jatuh cinta. Nyai terbatuk-batuk mengagetkan kedua nya yang sedang beradu pandang. Rubel dan Hana tersipu malu, mendengar kode keras nyainya.


Jam menunjukkan jam 8 pagi, Rubel telah bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia melihat Hana sedang membantu Bibi menyiram bunga, dia menghampiri Hana.


“ Hana, nanti siang temani Aku ke suatu tempat, Kamu kan lebih hapal jalan-jalan di kota ini, Aku yakin jika pergi dengan Mu. Aku akan segera bertemu dengan Seseorang.” Bisiknya dan berlalu pergi.


Hana termenung mendengar ucapan Rubel. Dia merasakan Rubel ingin mencari gadis bernama Ana itu.


“ Baiklah, Aku akan menerima ajakanmu.” Kita akan lihat seberapa besar perjuanganmu untuk mencari gadis itu.” Dia tersenyum-senyum sendiri.


Dari balik Pintu pagar sebelah kiri, seseorang sedang memperhatikannya.


“ Kurang ajar, dia mendekati Rubelku.” tunggu saja kejutan dari Ku untuk Mu Ana. “ kau akan memohon ampun padaku. Ujarnya begitu murka.


Hana mebersihkan tangannya, bersiap membantu Bibi di dapur. Nyai menghampirinya.


“ Ana bisa buatkan Nyai tekwan?" Tanya nyai tiba-tiba. Nyai sepertinya rindu dengan masakan Ibu. Hana tersenyum.


“ Nyai mau mau Ana buatkan tekwan?” tentu saja nyai, Ana kan anaknya Ibu Ana sudah biasa membantu Ibu membuat makanan itu, apalagi kalau ada pesanan orang untuk acara-acara pernikahan." Jelasnya panjang.


Bibi telah pergi kepasar untuk membeli ikan giling, dan pelengkap membuat tekwan. tinggalah Hana dan Nyai dirumah.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Lagi-lagi tamu itu langsung masuk tanpa dipersilahkan terlebih dahulu. Hana ingat tamu itu, dia hanya menyapa nya dengan senyuman. Namun senyuman itu dibalas dengan senyuman Tersinis oleh gadis yang mengaku dirinya Ana.


Nyai melirik gadis itu dengan tatapan dingin, Nyai semakin tidak suka melihat keangkuhan gadis itu. Dia merasa dirinya lebih baik dari orang lain.


Ana itu, berpura-pura mengakrab kan dirinya dengan Nyai, memperlihatkan kepada Hana bahwa dia sangat dekat dengan Nyai. Hana merasakan kebencian Ana itu sangat mendalam padanya.


Hana mengacuhkan sikap Ana yang jutek, dia menyambut Bibi yang baru pulang dari pasar.


“ Sini bi, biar Hana bantu."


Sambil mengambil keranjang belanjaan. Mereka pun melakukan pekerjaan mereka. Bibi membantu mengulek bumbu, Hana telah mengadon tekwannya, membentuknya kecil-kecil dan mencemplungkannya kedalam air yang telah mendidih. Tak berapa lama pekerjaan itu pun selesai.


Mereka menyiapkan sajian itu dimeja makan. Gadis bernama Ana itu menghampiri meja makan. Melihat hidangan itu membuat selera makannya naik.


“ Nyai apakah boleh Ana minta sedikit?” nyai mengernyitkan kening, ingin rasanya menolak tapi Nyai merasa bersalah. Tak ada pilihan lain selain mempersilahkannya. Agar gadis itu bisa segera pergi.


Gadis yang mengaku Ana itu menyuapkan tekwannya, dia memakannya dengan lahap tapi tiba-tiba dia memuntahkannya. Berpura-Pura sakit.


“ Hai Ana kamu ingin meracuniku yah.” Wajahnya langsung memerah. Mulutnya terus memaki maki Hana menyalahkan semua kekesalannya pada Hana. Nyai dan Hana tidak memikirkan hal itu akan terjadi. Tapi Nyai tahu sepertinya gadis itu telah merencanakan semua itu dari tadi.


Hana malah tertawa.


" Orang keracunan kok bisa marah-marah yah." Sindir Hana membuat gadis itu semakin marah. Dia berpura-pura memegang perutnya. Hana tidak tahu rencana gadis itu. Nyai menyuruh bibi mengantarkan Ana. Tapi Ana itu menolak dia ingin Hana mempertanggung jawabkan kesalahannya karena telah meracuninya.


“ Hei Ana, kamu harus bertanggung jawab dengan semua ini.”


"Aku akan melaporkan kamu ke pihak yang berwajib."


Tiba-tiba Rubel datang, dia melihat Ana sedang memarahi perawat KWnya. Dia merasakan pendengarannya ada yang salah, kenapa gadis itu memanggil Hana dengan sebutan Ana.


Si Ana KW berpura-pura muntah didepan Rubel, tapi lagi-lagi Rubel tak memperdulikan tingkah konyol tetangga nya itu.


Ana berpura-pura meringis kesakitan, mengaduhkan sakitya kepada Nyai. Nyai hanya menyuruh Bibi untuk mengantarkan Ana kerumahnya.


“ Gagal sudah rencannya untuk membatalkan kepergian Ana dan Rubel. “huft dengusnya kesal. “ Hana tertawa melihat pemandangan itu.

__ADS_1


“senjata makan tuan.” Ujar Hana, Nyai dan Rubel ikut tertawa.


__ADS_2