
Irfan dan Claudia kembali ke kamar, Irfan terlihat kesal dengan sikap Claudia yang curi-curi pandang ke arah Rubel. diapun memberanikan diri untuk menyatakan ketidak sukaan nya pada Claudia.
" Mengapa Kamu terus memandangi Rubel sedangkan kamu tahu bahwa Rubel adalah sahabatku, dan dia juga sudah punya isteri."
" Apa urusan mu?" sejak kapan kau begitu protektif terhadap ku? Kita, hanyalah pasangan yang dijodohkan tanpa ada ikatan cinta di dalam nya, jadi jangan terlalu sibuk mengurusi setiap urusan ku!" terang Claudia.
" Lalu, mengapa kamu menerima perjodohan ini jika kamu sendiri tidak pernah menyetujui nya." bentak Irfan.
" Agar perusahaan Papa ku tidak bangkrut dan aku tidak jadi miskin, Puas Kamu????." ucapnya sangat kesal. dan menarik kopernya berlalu pergi.
" Claudia !!! Berhenti!!" teriak Irfan begitu keras membuat Claudia berbalik badan menatap tajam ke arah Irfan.
" Apalagi????" ucap Claudia sangat marah.
" Kita batalkan saja pertunangan ini, kamu bebas menentukan hidupmu lagi pula tidak ada untungnya kita bertunangan." ucap Irfan tegas, membuat Claudia sedikit gelisah karena perlakuan nya yang sudah tidak bisa ditolerir oleh Irfan. Tapi karena sikap gengsinya dia enggan meminta maaf. Claudia berdiri mematung antara meminta maaf atau pun pergi, kini hatinya mulai gelisah, sewaktu-waktu apapun bisa terjadi dengan perusahaan Papanya.
" Sekali kamu keluar jangan pernah kamu kembali!!" ancam Irfan begitu tegas. membuat Claudia semakin keras berfikir antara meminta maaf atau segera pergi.
" Brengsek!!" umpat Claudia dalam ati.
Sesungguhnya Irfan hanya menggertak nya, dia adalah laki-laki baik. ini dia lakukan agar Claudia bisa mengambil keputusan yang bijak agar tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. karena akan ada banyak orang yang terluka karena sikapnya. walaupun sebenarnya Irfan sudah lebih dulu kecewa karena tingkahnya. Papa Irfan membantu Papa Claudia agar mereka bisa menyatukan keluarga mereka. jika Claudia pergi ini akan membuat kedua orang tua mereka kecewa, Irfan tidak ingin menyakiti Papanya walaupun dia tahu Claudia tidak pernah mencintai nya.
Claudia mengurung kan niatnya, dengan rasa kesal dan menatap Irfan penuh kebencian. tapi dia harus memikirkan Papanya. Seandainya papanya tahu pasti tidak akan memaafkannya karena Papa Irfan telah membantu perusahaan mereka menjadi lebih baik sekarang.
" Aku tidak akan mencegah mu, jika kamu mau pergi silahkan." ucap Irfan tegas, dengan rahangnya yang masih mengeras.
Claudia berjalan menuju tempat tidur kemudian menghempaskan tubuhnya ketempat tidur, lagi pula hari sudah malam dia memilih untuk tinggal malam ini.
Irfan membiarkannya untuk beristirahat sedangkan dia mengambil bantal dan memilih tidur di sofa.
*****
Pagi dini hari, Hana bangun dari tidurnya karena merasakan mual. dia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi terasa berat karena tangan Rubel memeluknya sangat erat.
" Sayang, Ana mau muntah." ucapnya pelan ditelinga Rubel. sontak Rubel bangun dari tidurnya. dan membawa Hana ke kamar mandi. Hana mual-mual saja.
" Udahan Yook! jangan lama-lama nanti pusing." ucap Rubel begitu perhatian. sambil mengelus lembut pundak Hana. dia pun menurunkan elusan nya di perut Hana.
" Anak Papa yang ganteng jangan bikin Mama sakit yah." ucapnya lembut.
" Kok nyalahin anak sih sayang, yang buat Ana hamil siapa??" Hana menyindir Rubel sambil menyipitkan matanya.
" Ino lah."
" Jadi siapa yang harus di marahin??."
" Ana." Ucap Rubel asal.
" Sayang!!!" teriak Hana kesal karena tak berhasil mengerjai Rubel.
Rubel segera menggendong Hana kembali ketempat tidur. Hana menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur Rubel membaringkan kepalanya di pangkuan Hana
" Kita kikuk-kikuk yok?" ajak Rubel sambil menciumi perut Hana.
" Enggak mau." tolak Hana cepat.
" Dosa loh menolak ajakan suami untuk kikuk-kikuk."
" Siapa bilang??"
" Pak Ustadz dong, kan juga ada hadis nya." ucap Rubel menerangkan.
" Apa iya ada dosa menolak kikuk-kikuk??" tanya Hana memastikan kata-kata nya dan menekankan kata kikuk-kikuk.
" Hehehe ternyata isteri Ino udah pintar yah sekarang."
" Ya iyalah siapa yang mau kikuk-kikuk kaya jam dinding Woody Wood peker."
" Ki-kuk ki-kuk." jelas Hana memperagakan suara jam.
" Eum, bikin gemes aja. kalo bercinta mau???" tanya Rubel baik-baik tapi Hana malah diam saja.
" Hey, hello any body home??" ledek Rubel membuyar kan lamunan Hana.
" Astagfirullah, ngagetin aja." ucap Hana kesal hingga mencubit hidung Rubel.
" Kok kaget sejak kapan Ana melamun??"
" Tadi." jawab Hana tanpa rasa bersalah.
" Apa yang sudah mengganggu fikiran Ana?"
" Enggak, cuma ke inget masalah tadi malam." ucap Hana spontan.
" Tadi malam??"
" Iya tadi malam, kok bisa yah Kawan kamu datang dengan perempuan genit itu." ucap Hana.
" Oh Itu??, sepertinya perempuan itu tunangan nya. " ucap Rubel menjelaskan.
" Apa iya??"
" Iya, memangnya kenapa??" tanya Rubel.
__ADS_1
" Entahlah, Ana gak suka sama perempuan itu." ungkap Hana jujur.
" Biarkan saja, dia kan bukan tunangan Ino, lagian bukan urusan kita." jawab Rubel mengingatkan.
" Masalahnya dia genit, suka godain suami orang." jawab Hana kesal sambil memanyunkan mulutnya.
" Yeah, cemburu nih."
" Enggak siapa yang cemburu." ucap Hana mengelak padahal wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus.
" Kayanya bakal seru nih, kalo bikin kamu setiap hari cemburu." goda Rubel membuat Hana semakin kesal.
" Coba kalo berani?!?!?!" tantang Hana kesal.
" Hahahaha, tuh kan cemburu." ucap Rubel dan tangannya mulai mengganggu konsentrasi Hana.
" Jangan lagi gak mood." tolak Hana pelan.
" Masa iya lagi gak mood??" tanya Rubel meyakinkan dengan tangannya memainkan bukit kembar Hana. Hana menahan gejolaknya, dia berusaha agar tidak terlihat menikmatinya.
" Enggak, beneran lagi gak mood." ucap Hana berbohong tapi wajahnya tidak bisa mengelak.
" Ya udah kamu diam aja biar Ino yang kerjain." ucapnya berpura-pura. membuat Hana merasa bersalah. dia pun menyambut tangan Rubel dan mereka pun menghabiskan waktu hingga subuh.
*****
Hari ke tiga, tepat pukul 9 pagi Rubel dan Hana bersiap-siap untuk turun, mereka akan berkeliling kota Sydney. kondisi Hana sudah lumayan baik Rubel ingin Hana juga menikmati liburannya. mereka berdua memakai jaket dan turun menuju ruang makan utama Hotel untuk sarapan pagi.
mereka berdua sangat menikmati sarapannya tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang terlihat sibuk melihat pakaian Hana. saat selesai makan, dua orang menghampiri mereka dan menegurnya.
" Kalian sarapan juga?" tanya laki-laki itu dan suaranya tidak asing bagi Hana dan Rubel dia pun melihat kearah suara.
" Eh, Kamu fan, kalian sudah sarapan?" tanya Rubel berbasa-basi.
" Sudah, kami duduk di sebelah sana." jawab Irfan sambil menunjukkan arah mereka duduk barusan.
" Apa rencana kalian hari ini?" tanya Rubel lagi.
" Aku mau keliling Sydney kebetulan besok aku sudah harus kembali ke Rumah Sakit."
" Oh, bagaimana kalo kita pergi sama-sama." Ajak Rubel pada Irfan.
" Boleh juga ide mu apalagi kita sudah lama tidak hang out bersama." ucap Irfan bersemangat. begitu juga dengan Claudia dia merasa seperti ada asupan suplemen bisa melihat wajah Rubel, sedangkan Hana hanya diam dan kesal melihat Claudia yang sibuk tersenyum sendiri.
" Awas yah kamu, kalo sampai ganjen sama laki ku ku buat kamu jera mendekati nya." umpat Hana dalam hati. Rubel seperti tahu kegelisahan Hana, dia pun menggenggam tangan Hana sangat erat membuat Hana semakin kuat untuk mengerjai Claudia yang genit.
Rubel dan Irfan sepakat akan pergi bersama-sama membawa pasangan masing-masing. Rubel bersama Hana naik mobil sendiri begitu juga dengan Irfan dan Claudia.
Rubel tidak sedikitpun memisahkan diri dari Hana, apalagi Hana masih menggunakan kursi roda untuk berjalan. membuat Claudia kesal karena Rubel begitu memperhatikan Hana.
" Dasar perempuan penyakitan menyusahkan saja." umpatnya dalam hati. Raut wajah Claudia seperti terbaca oleh Hana. membuat Hana semakin semangat untuk terus membuat Claudia kesal.
Mereka berempat duduk berpasang-pasangan. Irfan membuka suara.
" Kenalkan ini Claudia tunangan ku." ungkap Irfan pada Hana dan Rubel.
" Yaya, kita sudah melihatnya beberapa hari lalu saat isteri ku sakit." jawab Rubel tanpa membalas uluran tangan Claudia, membuat claudia kesal.
" Oh ya, siapa nama isteri mu?" tanya Irfan masih penasaran.
" Nama isteri ku Farhana, biasa di panggil Hana, tapi panggilan kecil nya Ana." ungkap Rubel panjang.
" Segitunya." celutuk Claudia kecil namun masih terdengar oleh ketiga orang tersebut.
" Maafkan dia." ucap Irfan untuk menjernihkan suasana.
" Tidak apa-apa." jawab Rubel.
" Oh ya, apakah kamu akan lama di Sydney?" tanya Irfan ingin tahu.
" Liburan hanya 10 hari saja, kemudian kami akan balik ke Indonesia, karena aku harus mencari pekerjaan di Rumah Sakit lain." cerita Rubel panjang.
" Loh, Kenapa apa kamu punya masalah di Rumah Sakit tempat mu bekerja?"
" Iya aku mengundurkan diri karena..."
" Karena siapa?" tanya Irfan penasaran.
" Karena Vierra." ucap Rubel sedikit lesu.
" Vierra??"
" Iya Vierra Parkinson."
" Loh kok bisa??" tanya Irfan tak percaya.
" Rumah Sakit tempat aku bekerja punya Tuan Parkinson, dan sekarang digantikan oleh Vierra."
" Kenapa hidup mu bisa seperti ini, kenapa dia selalu menjadi Boomerang bagi kehidupan mu." ucap Irfan begitu kesal.
" Sudah lah, mungkin sudah seharusnya aku keluar dari tempat itu, apalagi kondisi Hana yang belum stabil, jadi aku bisa mengurus Hana agar bisa segera sembuh." Jelas Rubel panjang.
" Ya ada baiknya juga kamu bisa mengurus isteri mu." Ucap Irfan.
__ADS_1
" Ya, ini semua salahku, karena ku Hana harus duduk di kursi roda ini." ucap nya lirih sambil memandang Hana dengan sedih.
" Ah udah gak usah dibahas, lagi pula ino kan sudah meminta maaf dan Ana sudah memaafkan semuanya." ucap Hana tegar.
Ucapan Hana membuat Irfan terpanah, tapi dia tidak berani memandang istri sahabatnya itu.
" Makasih yah sayang." ucap Rubel sambil menciumi punggung tangan Hana.
Claudia sedikit kesal, dia sendiri seperti orang yang dilanda cemburu.
" Kok bisa yah gadis itu menikah dengan Rubel?" tanya nya dalam hati.
" Bagaimana ceritanya kalian bisa menikah?" tanya Irfan masih penasaran.
" Hana cinta masa kecil ku, kita bertemu saat dia melamar kerja menjadi perawat untuk Nyaiku." cerita Rubel.
" Oh ya, apa kabar Nyai?" tanya Irfan lagi.
Rubel terdiam, Hana mencoba tegar dan mengatakan yang sebenarnya pada Irfan.
" Nyai sudah tiada." ungkap Hana pelan, dan tanpa terasa air mata membasahi pipinya.
" Oh maaf aku tidak bermaksud membuat kalian berdua bersedih."
" Tidak apa-apa." jawab Rubel pelan sambil menyeka air mata Hana dengan sapu tangannya.
" Baiklah, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Irfan mengalihkan pembicaraan.
" Aku belum tahu pasti, karena semua keluarga Hana merencanakan aku untuk bekerja di Rumah Sakit Swasta, tapi aku ingin mengabdikan diriku di Rumah Sakit umum saja." ucap Rubel panjang.
" Itu adalah pilihan mu, semoga yang terbaik untuk kalian berdua.
" Terimakasih atas dukungan mu."
Hana memperhatikan Claudia begitu gelisah, membuat Hana tersenyum sendiri. tidak ada yang tahu apa yang fikirkan oleh Hana dan Claudia.
" Seperti nya menarik bisa mengerjai perempuan genit itu." batinnya.
Rubel dan Irfan meninggalkan Hana dan Claudia berdua. mereka mencari makanan untuk makan siang mereka.
" Claudia, kamu sangat cantik." puji Hana membuat Claudia begitu senang.
" Wah ternyata kamu memperhatikan ku juga, Apakah kamu fans ku?" Tanya Claudia membanggakan diri.
" Bisa jadi." jawab Hana kurang masuk akal.
" Jika kamu saja bisa memuji aku cantik, pasti suamimu juga akan mengatakan hal yang sama padaku." ungkapnya bangga.
" Mungkin." jawab Hana membuat Claudia bersemu merah.
" Terlalu pede kamu perempuan genit." batin Hana kesal.
" Kamu sendiri punya tunangan bisa seganteng dan lembut seperti itu, kenapa kamu sia-siakan?" tanya Hana penasaran, membuat wajah Claudia seketika berubah masam.
" Ganteng dari Hongkong." jawab nya kesal.
" Wah ternyata kamu tidak menyukai tunanganmu yah?" ledek Hana lagi.
" Iya aku sangat membencinya, hanya demi perusahaan Papa ku saja aku menerima nya menjadi tunangan ku."
" Jangan benci nanti jadi cinta." ledek Hana membuat Claudia terdiam.
" Mana mungkin aku mencintai nya, si cupu itu bukan tipeku." jawab Claudia kesal.
" Apakah kamu tahu bahwa Rubel dan aku sempat saling membenci??" tanya Hana membuat Claudia penasaran.
" Mana mungkin."
" Iya, awalnya kami berdua tidak saling tahu bahwa kami sahabat kecil, Rubel sangat dingin dan juga jutek padaku."
" Tapi setelah tahu pun dia masih jutek padaku." ungkap Hana agar Claudia mengerti.
" Segitunya kah??? tanya Claudia tak percaya.
" Masa sih ada laki-laki dingin seperti itu??
" Adalah buktinya Rubel seperti itu." jelas Hana membuat Claudia kesal.
" Tapi dia begitu menyayangi mu." ungkapnya masih tidak percaya.
" Aku seperti ini karena sikap cuek dan juteknya." cerita Hana sambil menunjukkan kakinya yang hanya duduk diam di kursi roda.
" Iya sih, kok ada yah laki-laki seperti itu." ucapnya kesal membuat Hana tersenyum puas melihat Claudia merubah fikirannya.
Karena Rubel dan Irfan belum juga tiba Hana mencoba membuat merasuki Claudia dengan hal-hal yang bisa merubah fikirannya pada Irfan. mereka berdua mulai terlihat sangat akrab dan itu membuat Hana merasa tenang.
"
"
"
" Assalamualaikum semuanya bagaimana dengan lebarannya kali ini??" maaf lahir batin yah. terimakasih buat semuanya yang masih terus mendukung Author, tidak di pungkiri tulisan Author masih jauh dari kata sempurna tapi berkah kalian semua Author masih meneruskan karya ini, jangan lupa Vote Like dan komennya yang banyak yah Terimakasih 🤗😍"
__ADS_1